REVIEW - GHOST IN THE CELL

Tidak ada komentar

Ghost in the Cell adalah persembahan yang menunjukkan kepercayaan diri seorang sineas sekaligus bentuk pendewasaan. Bukan dikarenakan hadirnya ketenangan pikir atau kontrol diri. Sebaliknya, kontrol itu justru dienyahkan, sebab sang sineas, setelah bertahun-tahun ditempa proses berkarya, sampai pada kesadaran penuh bahwa sinema tidak terjebak dalam pakem saklek apa pun. 

Joko Anwar merobohkan kurungannya. Enggan memusingkan keruwetan sensor perihal kevulgaran (bahkan sempat menjadikannya candaan), pula secara lantang meneriakkan keresahan terhadap figur-figur bangsa yang polahnya memang semakin meresahkan. 

Penjara sebagai latar pun merupakan pilihan masuk akal. Dikepalai oleh Sapto (Kiki Narendra) dengan Jefry (Bront Palarae) selaku tangan kanan, alih-alih pembinaan, lapas tersebut malah melahirkan lumbung kriminalitas baru. Pelecehan, penghilangan nyawa, hingga bisnis narkoba berjalan bebas. Di kalangan napi, Rendra (Yuhang Ho) si mafia menancapkan kuasanya, dibantu nama-nama seperti Tokek (Aming Sugandhi) dan Bimo (Morgan Oey) yang amat ditakuti. 

Napi yang tak punya kuasa menggantungkan keselamatan mereka di pundak Anggoro (Abimana Aryasatya), figur karismatik yang tidak pandang bulu mengulurkan pertolongan, kendati itu membuatnya dihajar sipir, dijebloskan dalam sel isolasi, atau paling parah, urung diberi remisi. 

Eksistensi perempuan nihil di sini. Beberapa napi diceritakan memiliki istri atau pacar namun wajah mereka tak pernah ditampakkan. Joko bak hendak memotret wajah dunia tanpa perempuan yang bermuara pada kekacauan, sebab pertumpahan darah rutin jadi solusi permasalahan. 

Lalu datanglah Dimas (Endy Arfian) si napi baru. Seorang jurnalis yang dituduh membunuh bosnya secara sadis. Setibanya di lapas, Irfan (Dimas Danang Suryonegoro), salah satu kawan Anggoro, bertugas menangani masa orientasi Dimas, dengan memperkenalkannya pada seluk-beluk penjara. Terpecah dalam kelompok apa saja napi di sana? Siapa yang mesti diwaspadai? Hal-hal semacam itu.

Momen tersebut jadi salah satu medium Joko menumpahkan keluh kesah yang terlampau berisiko bila diutarakan di media sosial. Tidak satu pihak pun luput ia sentil, dari politikus dan koruptor (perlukah dibedakan?) busuk, selebritas bermasalah, kegemaran warganet terhadap keributan, kaum ekstrimis yang mabuk agama, dan masih banyak lagi. Banyak penonton berbagi keresahan serupa, terbukti dari keriuhan di studio tiap film ini melempar sindirannya. Joko memanfaatkan potensi sinema sebagai wadah bersuara secara maksimal.

Nantinya diperkenalkan pula karakter Prakasa (Arswendy Bening Swara), salah satu penghuni blok koruptor yang selnya bakal membuat hotel mewah nampak minim fasilitas. Nama lengkapnya Prakasa Kitabuming. Semasa muda ia adalah aktivis penentang rezim otoriter, yang di salah satu aksinya turun ke jalan, terlihat memiliki rambut agak panjang dan mengenakan kemeja biru. Tidak sulit menerka siapa saja sosok dunia nyata yang karakter Prakasa parodikan. 

Anehnya, pasca kedatangan Dimas, penjara mulai dihadapkan pada serangkaian peristiwa mencekam. Satu demi satu napi ditemukan tewas mengenaskan. Mayat mereka dipotong-potong, lalu disusun layaknya instalasi seni buatan seniman sakit jiwa. Benarkah pelakunya hantu? Apakah masing-masing TKP mewakili simbol tertentu? Tujuh dosa besar mungkin? Atau elemen-elemen penyusun alam (air, api, udara, dll.)?

Teori niscaya akan beredar, yang mana merupakan rutinitas tiap karya terbaru Joko rilis. Tapi semua sebatas spekulasi. Satu hal pasti, kreativitas sang sutradara mencapai puncaknya di sini. Bukan sekadar menggelar parade kekerasan tanpa arti serta cita rasa, Joko seolah menginisiasi pameran seorang seniman yang tak lagi kuasa menahan segala luka batinnya. Unik, menyakitkan, mencengangkan, namun tidak lalai menyulut rasa kagum. 

Terasa betul Joko sedang bersenang-senang. Selain sadisme over-the-top yang mengembalikan ingatan akan betapa menyenangkannya menikmati b-movie (tidak mengejutkan jika Joko termasuk penggemar judul-judul seperti Riki-Oh: The Story of Ricky), humor juga dijadikan amunisi. 

Humornya luar biasa konyol. Karakternya kerap tiba-tiba berkelakuan bodoh di tengah polemik serius, situasi mencekam bisa mendadak banting setir ke arah kejenakaan absurd. Joko meninggalkan tuntutan bermain aman khas arus utama. Kebakuan pola bercerita yang kadang terlalu memuja logika turut dikesampingkan. Kendati penuh momen bodoh, Ghost in the Cell bukan wujud kedunguan, melainkan kebebasan dari kekangan.  

Tidak ada komentar :

Comment Page: