Tampilkan postingan dengan label Cukup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cukup. Tampilkan semua postingan

REVIEW - KUNG FU SOCCER

Menonton babak pertama Kung Fu Soccer sungguh menyiksa. Tanpa basa-basi, penonton dipaksa seketika masuk ke tengah konflik, yang terasa seperti sekuel dari cerita imajiner. Berbeda dengan caranya menggarap Shaolin Soccer (2001), di sini Stephen Chow hanya memedulikan spektakel, yang untungnya masih bekerja secara efektif. 

Bertindak selaku sekuel spiritual, film ini membuang segala elemen narasi yang membuat Shaolin Soccer demikian dicintai. Ketimbang perlahan menyusun dinamika antar tokoh, Chow langsung menempatkan jajaran protagonisnya di tengah turnamen sepak bola dengan tim yang telah terbentuk. 

Saya ingat betul betapa serunya menyaksikan Sing (Stephen Chow) satu demi satu mengumpulkan kakak-kakak seperguruannya. Di sini, adegan pembukanya sudah menampilkan tim bernama Emei, dengan Shuangshuang (Zhang Xiaofei) dan Yu Long (Dilraba Dilmurat) sebagai pentolan, yang menghebohkan media sosial lewat keikutsertaan mereka dalam turnamen sepakbola perempuan. 

Secara beringas dan sambil lalu, anggota tim lain mulai diperkenalkan: Xu Feng (Lay Zhang) yang jadi mentor Shuangshuang, Xueye (Xue Ye) yang susah diatur, Sangbiao (Hu Yu'an) yang kehilangan rasa percaya diri pasca putus cinta, Ziba (Sisley Choi) si fisioterapis buta, dan masih banyak lagi, yang mayoritas takkan meninggalkan kesan berarti. 

Bagaimana bisa Kung Fu Soccer menyulut kepedulian penonton kepada segerombolan manusia yang kurang kita kenal? Jawabannya "tidak bisa". Sesekali kilas balik seputar masa lalu tokoh-tokohnya diselipkan, namun semuanya terkesan numpang lewat. Chow bukannya sama sekali tidak berusaha membangun penokohan, hanya saja usaha itu bak dilakukan sambil malas-malasan. 

Spektakel, spektakel, spektakel. Itu saja yang film ini pedulikan. Tapi Chow bahkan tidak cukup giat untuk memberi perbedaan unik nan signifikan dalam kemampuan masing-masing anggota Emei, yang mana merupakan amunisi penting untuk menguatkan daya hibur spektakelnya. Shuangshuang punya tendangan super keras. Yu Long punya tendangan melengkung yang super keras. Xueye bisa melompat luar biasa tinggi sebelum melontarkan tendangan super keras. Polanya generik.

Penceritaannya membaik selepas Emei hancur oleh satu kekalahan menohok. Dari situ, naskahnya mulai menerapkan formula zero to hero, yang kendati konvensional terbukti efektif berkat penguasaan Chow akan pakem tersebut, sembari menggiring tokoh-tokohnya dalam proses menemukan kekuatan sekaligus menerima kelemahan mereka. Klise, tapi bergerak dengan ritme yang jauh lebih tertata ketimbang babak pertama yang sangat kacau. 

Seiring membaiknya narasi, Kung Fu Soccer pun menemukan pijakan yang memudahkannya melempar hiburan. Banyolan mo lei tau absurd sarat kejutan khas Chow menemukan pasangan sejatinya dalam diri jajaran pemain film ini. Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, Lay Zhang, Hu Yu'an, hingga Sisley Choi membantu penulisan jenaka Chow mencapai potensi maksimalnya. Sederhananya: Kung Fu Soccer luar biasa lucu!

Deretan pertandingan (atau lebih tepat disebut "perkelahian") di atas lapangan hijau pun mampu dibawakan secara menyenangkan, terutama kala babak puncak. Jurus-jurus yang tadinya generik perlahan bertambah daya tariknya seiring batasan logika yang makin ditiadakan (pemain-pemain yang menggabungkan tubuh bak Megazord, kiper yang bisa membikin tubuhnya sekokoh lonceng, lensa kontak dengan kemampuan "hipnotis", dsb.). 

Tim-tim dari beragam negara sempat ditemui Emei: Ada Ehwa dari Korea Selatan dengan "K-beauty" manipulatif yang penuh kepalsuan, Coral dari Australia yang tangguh bak robot, hingga tim dengan dandanan ala ninja dari Jepang, Taiga, dibawah pimpinan Takeru Satoh sebagai pelatih yang gemar berbicara lirih layaknya sosok-sosok misterius khas sinema Negeri Sakura. Stereotipikal? Saya lebih suka menyebutnya "satir pinggir jurang". 

Banyak pula yang mengkritisi buruknya CGI film ini. Saking buruknya, timbul tudingan atas penggunaan AI, yang mana tidak sanggup saya konfirmasi. Andai tudingan itu keliru, kesan murahan dalam efek visualnya bukanlah persoalan berarti, karena ia justru sejalan dengan pendekatan serba bodoh yang Chow pakai. Kung Fu Soccer memang bodoh, dan di situlah letak pesonanya. 

REVIEW - MAJU (JEJAK PAHIT SI KEMBANG GULA)

Visi besar Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula) guna mempersembahkan warna baru di dunia film anak masih tersandung oleh keterbatasan kompetensi serta sumber daya. Tapi toh saya dengan senang hati mengapresiasi upaya para pembuatnya, mengingat orang-orang berkompetensi tinggi pemilik sumber daya tanpa batas masih menyibukkan diri memenuhi industri dengan horor medioker dan drama penguras air mata soal derita kaum jelata. 

Disutradarai Franklin Darmadi yang kali terakhir mengarahkan film panjang di Medley hampir dua dekade lalu (2007), Maju membuka penceritaannya dengan long take sederhana, yang merepresentasikan ambisi besar di antara keterbatasan mereka. Dipotretnya rutinitas pagi  murid-murid SMP yang petualangannya bakal segera kita simak. 

Empat anak memegang peranan sentral: Bagas (Aradhana Rahadi), Kirana (Princeza Leticia), Hanna (Bebe Gracia), dan Gerald (Axandro Juliano). Mereka tergabung dalam kelompok pramuka di bawah bimbingan Pak Wira (Bukie B. Mansyur), yang hendak melakukan survei ke desa lokasi jambore. Pak Kades (Unang Bagito) dan Bu Kades (Sarah Sechan) merupakan pemimpin desa tersebut.

Judul eksentriknya merujuk pada kembang gula yang dikisahkan, sedang populer di kalangan siswa. Bagas menggandrunginya, bahkan di saat jajanan manis itu membuatnya pusing, mual, bahkan berhalusinasi. Adegan beraroma psikedelik sesekali dipakai untuk menggambarkan gelagat janggal yang Bagas alami. Sebuah penegas kecil soal ambisi besar sineasnya kendati dihantui keterbatasan.

Efek samping mengkhawatirkan di atas adalah kewajaran, sebab si kembang gula rupanya narkoba yang disamarkan agar dapat dipasarkan ke anak-anak. "Berani juga", begitu pikir saya mendapati fenomena kelam yang film ini pakai sebagai konflik utama. 

Singkat cerita, Bagas mendadak hilang. Besar kemungkinan ia diculik, dan penonton pun diajak bertualang bersama tiga anak lain guna mencari keberadaannya. Adit (Alby Ersani), bocah dari kampung setempat yang kerap dirundung akibat punya masalah perkembangan, turut mengulurkan bantuan. 

Tidak sulit menyadari keterbatasan eksekusi filmnya, ditinjau dari resolusi gambar yang tidak selalu tinggi, maupun kinerja inkonsisten departemen penyuntingan. Ada kalanya adegan berpindah secara buru-buru, tapi di kesempatan lain, transisi malah tak kunjung datang hingga mencuatkan kecanggungan dalam peristiwa yang bergulir terlalu lama.

Aset terbesar terkait elemen petualangannya terletak pada penokohan para tokoh utama, yang digambarkan sebagai anggota pramuka cerdas nan terampil. Sayang, naskah buatan Dedey Natalia luput menyediakan suplai memadai perihal keunggulan itu, yang berpotensi menciptakan tontonan unik. Sepanjang 98 menit mereka jarang menerapkan ilmu kepramukaan guna mengatasi rintangan. Baru di klimaks bocah-bocah ini unjuk gigi, pun dalam takaran ala kadarnya. 

Pengarahan Franklin Darmadi turut menyisakan keluhan. Di saat naskahnya kerap melucuti keseruan petualangan akibat narasi yang terlalu betah menghabiskan waktu di momen minim signifikansi alih-alih menggerakkan alur dengan lincah, permainan tempo sang sutradara juga kekurangan energi, membuat progresi kisahnya makin terasa berlarut-larut. 

Kesan serupa terpancar lewat cara Franklin membungkus fase resolusi, yang bukannya seru dan bertenaga, hanyalah montase yang serba tergesa-gesa. Setidaknya ia cukup berhasil menyulap kenekatan Pak Wira dan murid-muridnya menyusup ke markas penculik jadi rangkaian sekuen yang lumayan efektif menyulut ketegangan. 

Ulasan ini lebih banyak mencantumkan kekurangan daripada kelebihan? Mungkin, tapi setidaknya ada perasaan tenang kala menonton Maju (Jejak Pahit Si Kembang Gula), kemudian mendapati bahwa di luar sana masih banyak "sineas kecil" yang menolak latah meramaikan tren industri yang semakin membosankan. 

REVIEW - MOANA (2026)

Menonton adaptasi live action dari Moana (2016) ibarat sedang menikmati sajian lezat yang dimasak dengan sepenuhnya mengikuti resep sampai ke detail terkecil. Tentu empunya resep layak dibanjiri pujian lebih deras, namun tidak mengubah fakta bahwa makanan tersebut memang enak disantap. 

Hati saya masih tergerak menyaksikan petualangan orang-orang Motunui melayari perairan luas sembari menyuarakan lagu We Know The Way, kesakralan dari nomor An Innocent Warrior, juga kala sang protagonis melantangkan "I Am Moana" kala pencarian identitasnya mencapai titik resolusi. 

Tapi segala sisi terang Moana (2026) memang berasal dari keidentikan dengan materi aslinya. Baik lagu, dialog, pengadeganan, hingga cerita yang masih menyoroti upaya Moana (Catherine Laga'aia), putri kepala suku Motunui, mengarungi samudera guna mencari Maui (Dwayne Johnson) si manusia setengah dewa, untuk mengembalikan hati Te Fiti yang dipercaya bakal mengusir penderitaan rakyatnya.

Apakah kinerja Thomas Kail selaku sutradara beserta timnya pantang diapresiasi karena hanya sebatas menyajikan kopian? Rasanya perspektif tersebut kurang bijak. Sebab serupa alegori resep masakan di atas, keserakahan industri yang jadi alasan utama eksistensi filmnya, juga kemalasan memodifikasi racikan bumbu, tidak mengubah fakta kalau film ini sarat akan pesona. Di tangan sineas medioker, Moana bisa berujung bencana yang lebih parah, sebagus apa pun materi aslinya. 

Kendati demikian, tidak sukar mendeteksi minimnya ketulusan dari para peramu kisahnya. Alih-alih bersuara dari hati, baik pengadeganan sang sutradara maupun penulisan Jared Bush dan Dana Ledoux Miller terkesan cuma dilandasi tujuan tunggal: menciptakan ulang momen-momen film orisinalnya. Tidak lebih dari menuntaskan daftar periksa, yang acap kali mengalir buru-buru bak tak sabar mencapai garis akhir. 

Penggunaan medium live action juga mengandung plus-minus sama kuat. Setiap elemen fantasinya muncul ke permukaan, sebutlah dalam pertemuan dua protagonis dengan Tamatoa (Jemaine Clement) si kepiting raksasa, atau konfrontasi mereka melawan Te Kā, saya dibuat rutin mempertanyakan signifikansi peralihan mediumnya, akibat gaya CGI yang masih kental nuansa animasi ketimbang menjajal bentuk fotorealisme. 

Di lain pihak, terselip daya pikat tersendiri sewaktu menyaksikan para manusia sungguhan menari secara ekspresif sambil menyanyikan syukur gembira atas anugerah dari semesta. Catherine Laga'aia sempurna menerjemahkan kompleksitas Moana yang mencampuradukkan sisi keras kepala, penyayang, penuh harap, terkadang naif, juga menyisakan ruang bagi kejenakaan. Dwayne Johnson adalah Dwayne Johnson seperti biasa, meski agak janggal melihatnya mengenakan kostum prostetik yang jauh dari kata "natural". 

"Who needs a new song? This old one's all we need." Demikian bunyi sepenggal lirik lagu Where You Are. Ironis. Tatkala pemujaan berlebih terhadap kekolotan budaya lama tersebut merupakan sesuatu yang dienyahkan oleh tokoh utamanya, Moana versi live action justru membuktikan jika ada kalanya lagu baru tak diperlukan, apalagi bila ia lahir prematur. Seumpama dirilis satu sampai dua dekade ke depan ketika publik mulai haus akan nostalgia dunia Moana, bisa jadi reputasi film ini bakal jauh lebih positif. 

REVIEW - SUPERGIRL

Menilik upaya segerombolan laki-laki kulit putih konservatif Amerika Serikat untuk menyabotase Supergirl karena dipandang tak memuaskan dahaga bejat mereka, sungguh ingin saya, seusai menonton, secara lantang menyuarakan betapa memukaunya film ini. Sayang, adaptasi dari seri komik Supergirl: Woman of Tomorrow punya satu masalah besar yang menyulitkan lahirnya argumen balasan: filmnya memang tidak sebagus itu. 

Kali pertama kita bertemu Kara Zor-El alias Supergirl (Milly Alcock), ia sedang berkeliling galaksi bersama anjingnya, Krypto, dalam rangka merayakan ulang tahunnya yang ke-23. Planet dengan matahari merah jadi kesukaannya, sebab di situ kekuatan Kara sebagai Kryptonian dinetralkan, sehingga ia bisa menikmati sensasi memabukkan alkohol. 

Menjadi pahlawan super bak bukan jalan hidup Kara, setidaknya sampai takdir mempertemukannya dengan Ruthye Marye Knoll (Eve Ridley), bocah yang berambisi membunuh Krem of the Yellow Hills (Matthias Schoenaerts), sebagai bentuk balas dendam setelah si penjahat keji membantai keluarganya. 

Dimulailah road trip berlatar luar angkasa yang mengalir selama sekitar 108 menit tanpa banyak daya tarik. Daripada menyuplai cerita dengan rangkaian friksi trengginas atau petualangan yang menyulut rasa cemas, naskah buatan Ana Nogueira sekadar melakukan tarik-ulur terhadap misi dua protagonisnya meringkus Krem. 

Sebagai antagonis, Krem kaya akan potensi. Filmnya tak ragu membuat beberapa warga tanpa dosa kehilangan nyawa demi menandaskan kebiadaban sang penjahat. Tapi di luar itu, karakternya mudah dilupakan karena tak memiliki daya tarik lain. Fakta seputar bagaimana ia rutin menculik perempuan guna dijadikan alat berkembang biak pun luput dikembangkan, baik sebagai modal narasi kuat mengenai gender maupun pondasi untuk mengokohkan mitologi semestanya. 

Untunglah, Craig Gillespie selaku sutradara tak membiarkan penonton melalui perjalanan generik ini tanpa ditemani daftar putar apik, di mana selain jadi asupan energi, lagu-lagu bernuansa alternatif seperti catch these fists milik Wet Leg hingga (I've Got) a Trouble in Mind dari The Limiñanas, turut mencerminkan sisi pemberontak dalam diri Kara. 

Saya suka bagaimana Supergirl memotret sosok Kara Zor-El. Jauh berbeda dibanding interpretasi Helen Slater empat dekade lalu, Milly Alcock, dengan tindak-tanduk bak bintang rok yang ogah terikat pada cara bertutur normatif, menjembatani perspektif bahwa pahlawan perempuan tidak melulu identik dengan keanggunan ala dewi. Individu kacau yang secara sembrono keluar dari zona nyaman (baca: planet bermatahari kuning) sebagai cara mematikan rasa yang penuh sesak oleh luka pun pantas diberi gelar kepahlawanan. Konklusi filmnya turut menegaskan jika Supergirl adalah pahlawan yang menyelesaikan misinya sampai tuntas. 

Pesona serupa sayangnya tak kuasa film ini tampilkan kala memaparkan koneksi antara Kara dan Ruthye, dua individu yang semestinya bertindak selaku obat bagi bilur hati masing-masing. Jangankan kehangatan, dinamika keduanya justru amat melelahkan akibat ketidakcakapan naskahnya mengolah penokohan Ruthye, sehingga ia berakhir sebagai bocah doyan merengek yang minim fungsi. 

Di tengah perjalanan, Kara turut bersinggungan jalan dengan Lobo (Jason Momoa) si pemburu hadiah sinting dari Planet Czarnia, yang kebetulan punya target serupa. Momoa mampu menularkan kegembiraannya berakting secara semaunya kepada penonton, hanya saja, kebingungan departemen naskah yang tidak tahu bagaimana cara menjustifikasi kemunculan si pemburu hadiah betul-betul kentara. Alhasil eksistensi Lobo tak punya signifikansi. 

Bagaimana dengan perkara baku pukul yang cenderung jadi menu utama sinema pahlawan super? Craig Gillespie rupanya belum memiliki daya imaji yang cukup tinggi untuk bisa mempresentasikan ketangguhan makhluk Krypton yang eksplosif. Generik, tidak jarang sukar diikuti gerak-geriknya, pula minim money shot selaku penegas kekuatan bombastis Kara. Klimaks yang jauh lebih masif berhasil menutupi ragam kekurangan tersebut, tapi sekali lagi, kendati bukan sebuah bencana, secuplik keunggulan yang sesekali tersebar belum cukup menghasilkan argumen balasan guna membungkam para penentang filmnya. 

REVIEW - GARUDA DI DADAKU

Garuda di Dadaku adalah film anak yang memadai. Selama 78 menit durasinya, para bocah di studio tempat saya menonton berulang kali tergelak, beberapa bahkan turut bersorak ketika sang protagonis memenangkan pertandingan. Tapi apakah ia bakal menyulut ketertarikan mereka terhadap cabang olahraga yang diangkat? Rasanya tidak. 

Debut penyutradaraan Ronny Gani yang sudah malang melintang di perfilman dunia sebagai animator (termasuk di banyak judul populer MCU) ini mengambil latar di semesta yang sama dengan versi orisinalnya (2009), saat membuat tokoh utamanya, Putra (Keanu Azka), bercita-cita menjadi pemain sepakbola karena mengidolakan Bayu (Emir Mahira) yang kini telah menjadi andalan timnas. 

Supaya lebih bersahabat bagi penonton anak, selain menggeser format presentasi menjadi animasi, naskah buatan Makbul Mubarak dan Sofia Lo menaburkan bumbu fantasi. Diceritakan, para dewa berwujud burung garuda rutin menyambangi dunia manusia (tepatnya Indonesia) guna memilih calon atlet sepakbola berbakat, kemudian memberkatinya dengan beragam keunggulan. 

Mitologinya menarik. Garuda di Dadaku mengejawantahkan anekdot soal bagaimana deretan pemain terbaik memperoleh kehebatan mereka karena diberkati dewa sepakbola. Mungkin semasa kecil, Lionel Messi pernah disambangi oleh dewa berbentuk burung rufous hornero.

Hidup Putra yang terancam mesti mengubur cita-cita akibat penyakit asma seketika berubah sejak kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), garuda kecil pembawa jersei sakti yang secara ajaib memperbaiki kondisi fisik Putra, pula mengatrol kemampuan olah bolanya. 

Tercetuslah ide membentuk tim untuk berlaga di turnamen junior, namun tersisa satu persoalan: Apa jadinya 11 orang di lapangan tanpa pelatih? Datanglah Naya (Quinn Salman), putri seorang pelatih terpandang yang bersedia menggembleng Putra dan teman-temannya. Naya adalah karakter favorit saya. Cerdas, tegas, pun eksistensinya relevan di tengah seksisme yang masih menyelubungi kultur sepakbola modern. Tengok reaksi media sosial kala Marie-Louise Eta ditunjuk menangani tim Union Berlin untuk sementara. 

Menarik pula mengamati karakter Ayah (Ibnu Jamil), yang mewanti-wanti supaya Putra tidak memforsir fisiknya, tanpa harus terkesan mengekang kebahagiaan sang anak. Ketimbang memenjarakan mimpi, Ayah memilih membuka ruang diskusi. Kendati utamanya ditujukan bagi penonton anak, Garuda di Dadaku tak lalai mengajak para orang dewasa supaya turut belajar. 

Terkait departemen animasi, saya rasa tiada hal signifikan yang layak dikeluhkan. Pergerakannya mulus, pilihan warna cerahnya pun efektif memancing antusiasme bocah. Masalah terletak tiap adegan pertandingan mengambil alih sentral penceritaan. Keseruan di lapangan hijau sama sekali tak nampak akibat eksekusi ala kadarnya. 

Muncul pertanyaan. Jika sudah kadung dibumbui unsur fantasi demi menghibur penonton anak, mengapa tidak sekalian menggila? Memakai ragam jurus absurd serupa Captain Tsubasa misal? Lagipula penggunaan entitas dewa garuda sudah jauh lebih absurd dibanding kemunculan alien/mutan di seri Inazuma Eleven, jadi kenapa harus menahan diri? Ataukah keterbatasan biaya menyempitkan ruang eksplorasi?

Tapi jika dipandang selaku cerita sepakbola realis pun, Garuda di Dadaku kekurangan satu elemen esensial, yakni perihal daya tarik cabang olahraga itu sendiri. Bagaimana bisa di dunia nyata, tanpa tendangan-tendangan super, sepakbola terasa seru? Filmnya luput menjawab itu. Apa perlunya membuat Naya membuat tim Putra memainkan tiki-taka kalau detail taktiknya sendiri lalai ditelusuri? 

Garuda di Dadaku memang punya banyak pesan bermakna, tapi beberapa di antaranya gagal diutarakan dengan mulus. Contohnya tentang "berusaha dengan kekuatan sendiri." Kelak Putra tidak lagi bergantung pada jersei ajaib pemberian Gaga, namun proses yang ia dan timnya lalui terlampau instan. Tidak sampai sebulan, segerombolan bocah yang awalnya tak memahami aturan sepakbola ini mendadak bertransformasi jadi sehebat Ronaldinho di puncak kejayaannya. 

Filmnya mengajarkan supaya menjauhi kecurangan, namun di partai puncak, Gaga yang tidak terlihat di mata orang selain Putra dan rekan-rekannya, merecoki aksi tim lawan. Tapi setidaknya anak-anak akan pulang dengan perasaan senang (dan ini bukan pencapaian yang bisa dianggap remeh). Saya kira itu saja hal yang dirasa penting oleh para pembuat Garuda di Dadaku. 

REVIEW - COLONY

Melalui Colony, untuk pertama kalinya sejak Train to Busan (2016), Yeon Sang-ho yang kembali menyusuri semesta per-zombi-an, akhirnya melahirkan film live action berkualitas memadai yang tidak membuat penonton garuk-garuk kepala sembari mengajukan pertanyaan, "Apa sih yang hendak si sutradara perbuat?!"

Mungkin pasca kesuksesan besar satu dekade lalu Yeon Sang-ho terlalu buru-buru beranjak dari teritori amannya. Di sini ia kembali ke akar, dan kendati Colony takkan diingat sebagai satu lagi "instant classic" sebagaimana Train to Busan, pun filmnya digerogoti oleh penuturan dangkal, Colony memperlihatkan seorang sineas yang tahu betul arah tujuannya. 

Kali ini zombinya bersumber dari senjata biologis yang dikembangkan oleh ilmuwan bernama Seo Young-Cheol (Koo Kyo-hwan). Sebagai bentuk balas dendam karena merasa risetnya dikangkangi oleh Chains Bio tempatnya bekerja, Young-Cheol melancarkan aksi bioterorisme dengan mengubah orang-orang dalam gedung tempat diadakannya seminar menjadi zombi. 

Sesuai pakem klasik genrenya, para penyintas pun segera bersatu: Kwon Se-jeong (Jun Ji-hyun) si profesor bioteknologi beserta mantan suaminya, Han Gyu-seon (Go Soo); Choi Hyun-seok (Ji Chang-wook) si anggota sekuriti gedung dan kakaknya, Choi Hyun-hee (Kim Shin-rok), yang duduk di kursi roda; So-eun (Lee Dam-hee), siswi SMA yang jadi korban perundungan; juga beberapa individu lain yang eksistensinya tak seberapa signifikan. 

Naskah yang Sang-ho garap bersama Choi Gyu-seok berharap bisa menjalin koneksi emosional antara penonton dengan para penyintas, hanya saja penulisannya terlampau dangkal. Sulit memedulikan mereka. Saya bahkan tidak ingat kapan si pembuat sushi dan karyawannya tewas dilahap zombi. 

Cuma dua karakter manusia yang mengundang daya tarik di sini: Se-jeong yang digawangi karisma Jun Ji-hyun selaku jagoan yang lebih mengutamakan otak ketimbang otot, dan Young-Cheol. Koo Kyo-hwan luar biasa apik menghidupkan antagonis yang memandang manusia lain bak serangga rendahan, di mana kebodohan serta ketakutan mereka ia pandang layaknya humor konyol yang patut ditertawakan. Terselip beberapa detail mikro yang saya percaya adalah hasil improvisasi sang aktor guna memperkaya karakternya. 

Justru pasukan zombi yang lebih dieksplorasi. Diperankan jajaran pelakon dengan fleksibilitas di atas rata-rata untuk menggerakkan badan secara tidak manusiawi, Yeon Sang-ho menginjeksi zombinya dengan sebuah elemen unik, yakni kemampuan mereka berbagi kecerdasan kolektif. 

Tanpa harus bertegur sapa, mereka sanggup berbagi informasi bak sedang bertukar telepati, kemudian melewati proses belajar secara gradual, sebelum akhirnya berevolusi. Awalnya zombi-zombi ini tiada beda dengan hewan buas yang berjalan menggunakan empat kaki, lalu belajar berdiri memakai dua kaki, membedakan mana foto mana manusia sungguhan, bahkan kelak mampu berbicara dan menembakkan senjata. 

Sekali lagi, Colony punya naskah dangkal. Pengembangannya atas konsep kecerdasan kolektif lebih sering terkesan bodoh daripada sebaliknya. Selain tampak keren di kamera, apa substansi dari membuat para zombi saling menggendong? Mengapa selepas berevolusi sedemikian jauh zombinya masih terkecoh saat si protagonis menyamar menjadi salah satu dari mereka dengan mengenakan kaos bernoda darah? Daftar kejanggalannya masih cukup panjang. 

Tapi kesampingkan setumpuk kejanggalan di atas, dan elemen kecerdasan kolektif tersebut nyatanya efektif memberi tokoh-tokohnya lebih banyak tantangan, sehingga memaksa mereka lebih keras pula memeras otak dibanding barisan penyintas di film zombi generik. Hasilnya cukup segar. 

Sebagai spektakel, Colony nyaris tak menyisakan ruang untuk melempar keluhan. Selama 122 menit, sang sutradara konsisten menggerakkan aksinya dengan tempo setinggi terjangan beringas pasukan zombinya. Cepat, tangkas, minim basa-basi. Adegan saat salah seorang karakternya membantai zombi seorang diri hanya dengan bersenjatakan pisau, akan memperkuat argumen bahwa di luar kegagalan demi kegagalan belakangan ini, Yeon Sang-ho tetap sineas yang punya kecakapan mengarahkan horor-aksi. 

REVIEW - SEKAWAN LIMO 2: GUNUNG KLAWIH

Mungkin pernyataan ini terkesan bias, tapi saya selalu merasa bahwa bila dilontarkan memakai bahasa daerah, umpatan cenderung terdengar sebagai ungkapan keakraban yang tak jarang menggelitik ketimbang murni hinaan. Itulah mengapa Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang notabene dipenuhi umpatan, masih menyenangkan diikuti kendati kekacauan penceritaan hadir selaku batu sandungan. 

Running joke-nya ada di seputaran muka Benidictus "Beni" Siregar sang "tulang punggung sinema Indonesia" yang kemungkinan bakal muncul dalam (minimal) delapan judul tahun ini. Mengolok-olok tampilan visual sang komedian sudah jadi rutinitas di tiap film, tapi toh mendengar karakter lain memanggilnya "rai codot" tetap terdengar lucu. Setidaknya lebih lucu daripada "muka kelelawar". 

Tiga tahun pasca peristiwa di Gunung Madyopuro, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Andrew (Indra Pramujito), Dicky (Firza Valaza), dan Juna (Benidictus Siregar) si arwah penasaran, kembali berkumpul setelah Andrew sekeluarga mendapat serangan klenik yang mengancam nyawa mereka. Keputusan nekat pun diambil. Mereka harus mendaki Gunung Klawih guna mencari pertolongan dukun setempat yang konon sakti mandraguna. 

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah film yang serba buru-buru. Progresi cerita melaju bak mobil yang dipacu di jalan bebas hambatan, sedangkan penyuntingannya seolah tak membekali diri dengan kerangka pasti, bukan cuma bergerak cepat, pula luar biasa liar hingga tak jarang memusingkan. 

Minimal di paruh awal, ketergesaan tersebut tak sampai meruntuhkan fokus penceritaan. Keluarga Andrew dalam bahaya, Bagas mendapati hubungannya dengan Lenni merenggang akibat ketidakjelasannya dalam menapaki hidup, Dicky pun tengah kesulitan merebut hati putri kekasihnya, tapi babak pertama Sekawan Limo 2 praktis berstatus "filmnya Juna". 

Juna menjadi figur sentral yang perspektifnya berfungsi sebagai pintu bagi penonton untuk memasuki alurnya. Bersama Juna, kita pun diajak mengunjungi kerajaan demit, kemudian bertemu Wisang (Joshua Suherman) si kepala keamanan beserta asistennya, Kina (Elsa Japasal), yang menjabarkan bangunan dunia unik dari filmnya. 

Bagaimana demit diklasifikasikan dalam beberapa jenis, hingga perbedaan antara mereka dan arwah penasaran macam Juna, seluruhnya membentuk semesta absurd yang senada dengan gaya komedik filmnya. Tatkala banyak horor lokal terlalu malas memikirkan lore, berbekal "seni menertawai memedi" serupa film pertama, naskah buatan Nona Ica justru berani bereksplorasi. 

Tentu semuanya dipaparkan dengan tawa. Satu hal yang paling mengagumkan terkait humornya adalah bagaimana jajaran pemain Sekawan Limo 2 seolah tak pernah kehabisan selorohan Bahasa Jawa untuk dilontarkan. Mereka saling sindir, melempar hinaan, yang sekali lagi, lebih memancarkan keguyuban daripada kebencian. Di luar para "sekawan limo", Cak Kartolo dan Ning Tini melahirkan duet maut yang bertukar kata bak berondongan senapan otomatis. 

Barulah seiring naskahnya memberi sorotan lebih terhadap karakter selain Juna, kesan berantakan filmnya semakin terasa mengganggu. Daripada berbagi dengan rapi, para protagonisnya saling berebut titik fokus dengan cara yang amat semrawut. 

Pun tidak semua karakter punya proses semenarik Juna. Bayu Skak yang juga kembali duduk di kursi sutradara memang (seperti biasa) tampil memadai memerankan lelaki yang meratapi nasib menyedihkan miliknya. Hanya saja, karakter Bagas beserta romantika klisenya bersama Lenni, ditambah selipan cinta segitiga dengan Aruna (Jihane Almira) yang dipaksa masuk di pertengahan durasi, tidaklah seberapa menarik. 

Upaya menyulut dampak emosi, termasuk kesulitan Bagas beranjak dari bayangan kesuksesan semu pasca peristiwa di Gunung Madyopuro menjadikannya bintang dunia maya pun gagal dicapai akibat kacaunya aliran penyuntingan. Cara bercerita Sekawan Limo 2: Gunung Klawih sangat tidak nyaman diikuti. Untungnya saya tidak keliru menata ekspektasi. Saya cuma berharap dibuat tertawa, dan filmnya mampu memenuhi itu. 

REVIEW - BADUT GENDONG

Hantunya tampak unik sekaligus mengerikan, pengarahan aksi Charles Gozali masih bertenaga seperti biasa, akting jajaran pemainnya pun tepat sasaran. Sayangnya Badut Gendong terjerembab akibat naskah yang tanpa arah. Film ini ibarat rumah besar penuh perabot mewah serta teknologi modern, tapi karena pondasinya ringih, terlihat bisa roboh kapan saja. 

Idenya dilandasi eksplorasi terhadap budaya menarik dari Solo yang (setahu saya) belum pernah diangkat ke layar lebar. Bukti betapa kaya budaya negeri ini, baik yang bersifat mistis maupun yang berpotensi terkoneksi ke sana. Badut gedong sebutannya, di mana sesuai nama tersebut, si seniman menari sembari mengenakan kostum badut, untuk menghasilkan ilusi seolah ia sedang digendong oleh benda mati itu. 

Darso (Marthino Lio) jadi pelakon badut gendong yang kita ikuti kisah hidupnya. Dia memilih pulang kampung pasca suatu tragedi merenggut nyawa istrinya, Darsi (Dayinta Melira), yang tengah hamil muda. Alih-alih kedamaian, kepulangan Darso justru menempatkannya di antara konflik antara warga dengan korporasi yang berniat mengambil alih lahan secara paksa. 

Serangkaian gesekan pun terjadi. Kendati Arini (Clara Bernadeth) selaku pengacara perusahaan berniat menempuh jalan damai, Billy (Khiva Rayanka) lebih menyukai cara yang menampik kemanusiaan. Ketika amarah Ki Kamboja (Barry Prima) si dukun sakti desa membuncah, turunlah kekuatan jahat haus darah yang turut menyeret Darso dan badutnya ke pusat permasalahan. 

Kemudian filmnya melangkah ke teritori slasher, ketika Darso yang tubuhnya dikendalikan oleh si boneka badut mulai membunuh satu per satu penghuni kampung, dari mereka yang pernah bersalah padanya, anggota perusahaan yang bersikap kasar, hingga warga tak bersalah. Iblis tidak pandang bulu dalam menumpahkan amarahnya, dan para penyuka horor brutal bakal puas menyaksikan anggota tubuh manusia berceceran di sepanjang durasi. 

Charles beberapa kali menyusun shot yang berhasil memotret sisi angker sang badut, terutama setiap ia mengambil alih tubuh Darso yang terlelap, kemudian menggerakkannya secara perlahan di sela-sela keheningan.

Saya kagum pada bagaimana teknis "gendong-menggendong" ini dieksekusi. Marthino Lio seperti benar-benar ada dalam kondisi tak berdaya dan bergerak di bawah pengaruh badutnya. Ada adegan di mana Darso dikejar-kejar oleh Billy beserta anak buahnya, yang saya asumsikan melibatkan kombinasi antara akting meyakinkan dengan trik kamera apik. 

Gelaran aksi Badut Gendong juga sama mengagumkannya. Didukung koreografi tangkas dan tata kamera yang menari lincah, Charles membuat (badut) Darso bak jagoan laga dengan refleks tingkat dewa yang sanggup begitu cekatan menghindari desingan peluru. 

Semua terdengar memuaskan? Memang. Karena seperti telah disinggung di awal tulisan, hanya satu departemen di Badut Gendong yang meninggalkan kekecewaan. Departemen yang semestinya merupakan tulang punggung, yakni naskah. Sewaktu deretan keunggulan di atas absen dari layar guna memberi waktu bagi ceritanya mengalir, daya tarik filmnya pun turut absen. Badut Gendong terasa hampa kala aroma kematian tidak sedang menyeruak.

Diceritakan, gara-gara bencana alam yang mendadak menyerang, akses menuju desa terputus, sehingga saat pembantaian terjadi, mereka tidak bisa mengandalkan pertolongan pihak luar. Tapi naskahnya gagal membangun kesan bahwa penonton sedang terjebak bersama tokoh-tokohnya. Semua berjalan nihil urgensi. Belum lagi ketiadaan misteri yang mesti dipecahkan atau problematika mendalam untuk ditelusuri.

Marthino Lio tampil efektif memerankan laki-laki berhati rapuh yang hanya mengenal kepiluan akibat rasa kehilangan, tapi penokohan Darso luput dieksplorasi oleh naskahnya. Darso mesti berbagi sorotan dengan duo Arini dan Jamil si Babinsa (Derby Romero) dengan investigasi miskin daya tarik mereka, yang didominasi adegan berboncengan motor. Badut Gendong tidak buruk, hanya saja naskahnya gagal menjalankan peran menggendong penceritaan.

REVIEW - SALMOKJI: WHISPERING WATER

Sebagian alasan mengapa Salmokji: Whispering Water terasa menonjol dibanding sesamanya adalah perihal latar (berdasarkan legenda urban sebuah lokasi nyata bernama Waduk Salmokji) yang tidak diperlakukan sebagai tempat angker biasa, melainkan seperti karakter tersendiri. Kita dibuat memahami medannya, juga apa yang mampu ia perbuat terhadap para tamu tak diundang. Sederhananya, kendati menguarkan aroma kematian, Salmokji terasa hidup. 

Pondasi ceritanya memang tidak jauh beda dibanding banyak horor bertema tempat angker. Sekelompok kru perusahaan penyedia street-view yang dikepalai Han Su-in (Kim Hye-yoon), mendatangi Waduk Salmokji guna merekam kondisi di sana. Rekaman sebelumnya tidak bisa digunakan akibat kemunculan sosok misterius dalam salah satu foto. Ada kekhawatiran, tapi toh mereka mesti bersikap profesional.

Begitu pengambilan gambar dimulai, rangkaian fenomena di luar nalar pun segera terjadi, termasuk kedatangan mendadak Woo Gyo-sil (Kim Jun-han) si produser senior yang sempat berhari-hari hilang. Yoon Ki-tae (Lee Jong-won), salah satu produser sekaligus mantan pacar Su-in, kelak turut menyusul. Saya mengapresiasi bagaimana masa lalu Su-in dan Ki-tae hanya dipaparkan tersirat selaku pondasi bagi dinamika karakternya, alih-alih dibiarkan mendistraksi konflik utama.

Waduk Salmokji memiliki pesona misterius yang perlahan mengaliri tubuh kita dengan sensasi kecemasan yang sukar dijelaskan. Perlahan kita dibuat mengakrabi lokasinya, sembari berusaha menguraikan rahasia kelam yang terbenam jauh di dalamnya. Ada rasa tidak nyaman kala mengamati waduk penuh air di malam hari yang seolah membentang tanpa mengenal batasan dimensi. 

Sayang, walau mampu memberi lokasinya karakteristik kuat, naskah buatan Lee Sang-min, belum seberapa piawai mengeksplorasi mitologi yang bersemayam di sana secara menarik, untuk dapat lebih jauh menyulut keingintahuan penonton. Tidak banyak subteks, tiada pula jejak sejarah guna ditelusuri. 

Tapi sebagai sutradara, Lee Sang-min berhasil menjalankan tugasnya menjauhkan film ini dari kemonotonan visual. Deretan karakternya merupakan orang media yang sedang bertugas, sehingga mereka pun membekali diri dengan berbagai peralatan. Ada kamera pendeteksi gerakan, kamera 360 derajat, sampai kamera ransel perekam street-view. Visualnya variatif.

Selain membantu terciptanya setup menarik menuju tiap teror, karena ragam peralatan di atas belum sejamak itu dimanfaatkan oleh film horor lain, kesan familiar pun lenyap. Kita tidak tahu dari mana teror bakal muncul, sehingga kecemasan dalam proses mengantisipasinya pun dibangun secara efektif. 

Di luar beberapa desain visual mengerikan (adegan "barisan kepala mengambang" jadi favorit saya), sejatinya payoff yang Salmokji berikan untuk berbagai setup menarik tersebut masih berkutat di pemandangan-pemandangan yang cenderung generik, seperti penampakan muka hantu, penampakan tangan hantu, dll. 

Eksekusinya menjadi solid berkat kejelian sang sutradara mengatur timing, supaya seklise apa pun wujud terornya, jantung penonton tetap berhasil digedor. Komposisi musiknya turut berperan. Penggunaan musik yang riuh memang berujung mengeliminasi kengerian, namun ia bak injeksi adrenalin yang mengatrol intensitas. Salmokji Whispering Water bukan tontonan menyeramkan, melainkan tipikal horor arus utama yang mengutamakan keseruan, dan berhasil mencapai tujuannya. 

Di jajaran penampil, Kim Hye-yoon menyalurkan teror melalui olah ekspresinya, yang seolah menghipnotis penonton supaya turut mencurigai ketidakberesan Waduk Salmokji. Misteri berkutat di tiap sorot mata sang aktris. Misteri yang seiring waktu lebih banyak melempar pertanyaan baru ketimbang jawaban penghilang rasa ragu.

Ada kalanya Salmokji Whispering Water terasa melelahkan karena bak berusaha terlampau keras bersikap ambigu, tapi lewat ambiguitas itulah filmnya bisa terus menetap di benak penonton, bahkan jauh selepas pemutaran berakhir. Entah lewat diskusi bersama, maupun perumusan teori-teori. 

Termasuk perihal konklusi sarat enigma yang bagai peleburan dua horor legendaris: The Shining (1980) dan The Descent (2005). Sayang, dampak emosi yang berpotensi amat menusuk dari konklusi itu, dilucuti kekuatannya oleh repetisi berlebihan terhadap elemen ilusi dalam alurnya. Penonton sudah berulang kali mengalaminya. Alhasil, kita takkan dikuasai keterkejutan sebesar protagonisnya tatkala film ini memamerkan ilusi pamungkasnya.

REVIEW - MOTHER MARY

Pondasi Mother Mary sesungguhnya tersusun atas kisah klasik (kalau tak mau disebut "usang") tentang pergumulan bintang pop dengan belenggu ketenaran. Tentang masalah personal sebagai manusia biasa yang tersembunyi di balik pemujaan para penggemar, yang memandangnya bak figur religius macam Bunda Maria. Tentang kegelapan yang bersemayam dalam kulit luar penuh pendaran cahaya.

Keberadaan David Lowery selaku sutradara sekaligus penulis naskah, dengan pengalamannya melahirkan sejumlah karya yang menantang narasi konvensional seperti A Ghost Story (2017) dan The Green Knight (2021), menjadi pembeda. Ibarat musisi, Lowery memakai Mother Mary sebagai medium bereksperimen untuk membawa musik pop ke arah yang lebih artistik. 

Mother Mary (Anne Hathaway) adalah bintang pop yang bakal mengingatkan ke nama-nama seperti Beyoncé, Taylor Swift, atau Lady Gaga di dunia nyata, namun dengan barisan lagu elektropop atmosferik ala Charli XCX dan FKA Twigs (keduanya turut menyumbang lagu, FKA Twigs bahkan muncul dalam peran kecil). 

Karya-karyanya memang menghipnotis. Lowery mengarahkan tiap aksi panggung Mother Mary dengan kemegahan sebagaimana mestinya tur stadion musisi nomor satu, sementara kostum-kostum eksentrik buatan Bina Daigeler bukan cuma cantik, pula mendefinisikan ketegasan si protagonis mengenai identitas personanya. 

Tapi akibat suatu peristiwa yang baru akan diungkap di paruh akhir, karir Mother Mary berada dalam titik nadir. Dia berniat kembali, namun tak jua merasa cocok dengan kostum yang timnya sediakan. Dari situlah ia mencari Sam Anselm (Michaela Coel), desainer sekaligus mantan sahabat dan kolaboratornya di awal karir. 

Konflik membuat hubungan keduanya kini teramat asing, namun ikatan di antara mereka masih sekuat dulu. Begitu kuat hingga nyaris terasa magis. Tanpa harus melempar kabar, Sam dan Mary dapat merasakan keberadaan satu sama lain dari jarak jauh. Pertalian batin dengan seorang manusia ini lebih substansial dalam hidup Mary ketimbang dengan jutaan pemujanya. 

Mary meminta Sam mendesain kostum untuk konsernya. Sam sempat menolak. Sakit hati membuatnya bertahun-tahun menghindari mendengarkan lagu-lagu Mary. Kemudian mereka bicara, bicara, dan bicara, mengenang setumpuk peristiwa lalu sambil sesekali meraba-raba posibilitas masa depan yang masih begitu samar. 

Michaela Coel menampilkan performa yang kaya akan eksplorasi ekspresi. Raut wajahnya mampu sedemikian cepat beralih rupa, dari yang bersifat "besar" ke arah yang lebih subtil. Sedangkan Anne Hathaway punya karisma panggung yang meyakinkan selaku bintang pop pujaan jutaan manusia. 

Sejatinya menarik untuk menyelisik makna-makna yang bersembunyi di antara kalimat dalam baris dialog hasil tulisan Lowery, yang menuntut Mary dan Sam terus saling bicara dalam ambiguitas. Tapi proses mendengarkan obrolan dua orang yang seolah ingin sok misterius dalam berkomunikasi selama nyaris dua jam memang cukup melelahkan. "These metaphors are exhausting", ucap Sam. Saya pun mengamini. 

Mother Mary perlu tambahan injeksi olah visual khas David Lowery, di tengah presentasinya yang mengedepankan ungkapan verbal. Untung babak keduanya memfasilitasi kebutuhan tersebut, tatkala Mary dan Sam mulai membagi pengalaman aneh masing-masing saat melihat sosok hantu berwujud kain merah yang melayang dalam gerak lambat. 

Lowery kembali memposisikan "hantu" bukan selaku makhluk supernatural yang mampu diusir memakai mantra atau doa, melainkan entitas abstrak yang mewakili ketidaktuntasan problematika manusia. Mungkin dilandasi tendensi industri musik arus utama untuk bermain aman di hadapan publik, Mary memilih  menutup jati dirinya sebagai queer, yang secara otomatis membuat Sam terasing. 

Lowery membawa hantu itu kembali ke depan dua tokoh utamanya, lalu menghantarkan breakup story (juga sebuah kisah usang) yang diangkat nilai estetikanya, guna mempercantik proses protagonis mengangkat luka di hati mereka. Kalimat "Your song is the greatest song in the history of song" yang filmnya perdengarkan sebagai penutup pun menjadi ungkapan indah nan emosional mengenai pemujaan terhadap sesosok manusia yang tidak melulu dibarengi obsesi berlebihan untuk memiliki. 

REVIEW - SUZZANNA: SANTET DOSA DI ATAS DOSA

Tepat sebelum klimaks film ini pecah, Pramuja (diperankan Reza Rahadian yang di dunia nyata cukup vokal menyuarakan keresahan atas isu sosial) menyuarakan penolakan atas penindasan oleh tangan besi penguasa, guna menggerakkan perlawanan warga. Momen itu saja sudah memberi Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa relevansi. Sebuah horor yang mewakili ketakutan terbesar masyarakat Indonesia, yang tidak melulu bersinggungan dengan dunia klenik.

Alkisah, Suzzanna (Luna Maya) beserta seluruh penduduk Desa Karang Setan dipaksa tunduk pada kekuasaan Bisman (Clift Sangra) si juragan bengis yang membuat warga terlilit utang dengan jumlah di luar nalar, sembari menebar ketakutan melalui tindak kekerasan barisan preman miliknya. 

Bukannya mereka cuma berdiam diri, tapi bahkan laporan ke pihak berwajib juga tidak kunjung digubris. Segenap warga Karang Setan adalah orang kecil yang tak punya daya untuk melawan. Ayah Suzzanna (El Manik) yang hendak menggagalkan niat Bisman mencalonkan diri sebagai kepala desa berujung tewas disantet, sedangkan ibunya (Yatti Surachman) jadi korban opresi. 

Bisman ingin mempersunting Suzzanna. Bukan karena cinta sejati, sebab di satu kesempatan, si juragan mengirim santet yang membuat Suzzanna hilang ingatan sehingga bersedia patuh padanya. Naskah buatan Jujur Prananto, Ferry Lesmana, dan Sunil Soraya memotret kedangkalan akal lelaki bejat yang hanya mendambakan tubuh perempuan tanpa memedulikan jiwanya. 

Terciptalah gambaran realita perempuan yang hidup dalam "dunia laki-laki". "Pulangkan suami saya ke Gusti Allah!", pinta seorang istri pada dukun bernama Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu), kerabat Pramuja yang ditemui si pemuda kala mengunjungi Karang Setan demi memecahkan misteri soal keberadaan ayahnya. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memberi suara serta kuasa bagi perempuan tertindas macam itu, tidak terkecuali Suzzanna, yang akhirnya mempelajari ilmu santet sebagai murid Nyi Gayatri.

Banteng (Budi Bima), Lawu (Iwa K.), dan Kawi (Restu Triandy aka Andy /rif) merupakan tiga anak buah Bisman yang paling kejam. Satu per satu dari mereka pun jadi target balas dendam Suzzanna, yang oleh Azhar Kinoi Lubis selaku sutradara, dipresentasikan lewat rentetan serangan teluh brutal, yang kendati masih cenderung minim variasi, sudah cukup mendatangkan kepuasan bagi para penikmat gore.

Menariknya, film ini tak serta merta menjadikan Suzzanna (baca: perempuan) sebagai makhluk barbar yang mengutamakan otot di atas otak. Sebelum menghabisi penyiksa hidupnya, Suzzanna lebih dulu memecah belah mereka dengan menyulut ketidakpercayaan satu sama lain. Giliran para pemegang kuasa yang merasakan teror dari adu domba. Ketika laki-laki hanya bisa berujar "bunuh, bunuh, bunuh!", perempuan menjadikan mereka pion di atas papan catur yang ia mainkan. 

Sayang, selipan momen-momen non-esensial, ditambah beberapa pengadeganan berlarut-larut, membuat durasinya membengkak sampai 135 menit. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa pun sempat tiba di titik saat suguhan audiovisual megah di atas rata-rata horor lokal atau parade santet brutal tak lagi cukup menjaga intensitas. 

Humornya juga sempat memunculkan distraksi tatkala terlampau asyik menertawakan "kopi kencing kuda" sehingga menggiring alurnya keluar jalur. Tapi saya mengapresiasi keputusan cerdik menunjuk Azis Gagap guna memerankan salah satu linmas, yang ciri khas lawakannya dimanfaatkan untuk mengeksplorasi kesaktian Suzzanna di luar ragam santet mematikan.

Sebagai Suzzanna, pelototan mata serta senyum janggal Luna Maya kembali berhasil menghidupkan kembali sang Ratu Horor di layar lebar. Begitu mirip, sampai saya mulai mempertanyakan keperluan mengenakan riasan prostetik yang masih membatasi ruang gerak mimik wajah sang aktris. Nilai lebih patut disematkan kepada Reza Rahadian yang memberi filmnya lebih banyak bobot emosional dibanding mayoritas horor Indonesia. Azhar menyadari itu, lalu beberapa kali memakai close-up guna mengeksploitasi (in a good way) performa aktornya. 

Ada satu poin penting: film ini menolak menghakimi balas dendam protagonisnya. Benar bahwa Pramuja bertindak selaku penyeimbang moral saat beberapa kali membujuk Suzzanna bertobat, namun ia pun tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan si perempuan. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memahami betapa karakternya berhak melawan. 

REVIEW - THE BRIDE!

Di Bride of Frankenstein (1935), meski namanya terpampang di judul, "sang pengantin perempuan" hanya muncul sekitar lima menit di penghujung cerita. Dia tak ubahnya alat bagi si monster laki-laki untuk merasakan cinta kemudian patah hati. Dari situlah eksistensi The Bride! buatan Maggie Gyllenhaal memiliki makna, yakni mengubah "The Bride" dari entitas nihil identitas menjadi makhluk yang utuh. 

Film orisinalnya membawa elemen meta ketika mengawali durasi dengan menampilkan Mary Shelley menarasikan ide untuk kelanjutan dari novel Frankenstein; or, The Modern Prometheus buatannya. Ada sekat antara fiksi dan realita. The Bride! hadir lewat pendekatan kreatif yang memburamkan batasan keduanya, tatkala memposisikan Mary Shelley layaknya arwah yang merasuki jiwa tokoh utamanya. 

Sebelum kematiannya, Ida (Jessie Buckley) mendadak bertingkah aneh di hadapan para laki-laki yang memandangnya selaku objek hiburan. Kepatuhan serta sopan santun lenyap, kata-kata manis dari mulutnya pun digantikan celotehan tajam. Semua terjadi pasca "hantu" Mary Shelley (juga diperankan Buckley) tiba-tiba memasukinya. Di mata Maggie Gyllenhaal, Mary Shelley bukan sebatas novelis, namun personifikasi dari gagasan feminisme. 

Sayang, Ida mesti membayar pemberontakan kecil tersebut dengan nyawa, karena ucapannya menyinggung Lupino (Zlatko Burić) si bos mafia. Kemudian kisahnya mengalihkan fokus pada monster buatan  Victor Frankenstein, yang setelah hidup ratusan tahun, mengadopsi nama sang pencipta. Kini dia dipanggil "Frank" (Christian Bale). 

Frank yang kesepian, meminta bantuan Dr. Euphronious (Annette Bening) supaya dibuatkan "teman". Mayat Ida pun mereka gali, lalu coba dihidupkan kembali untuk dijadikan calon pengantin bagi Frank. Jika Jacob Elordi dalam versi Guillermo del Toro tahun lalu maupun Boris Karloff di judul klasiknya memotret sang monster sebagai figur tragis, Bale memberi interpretasi yang sedikit berbeda. 

Sang aktor mengedepankan sisi yang lebih canggung, cenderung ramah, pula manusiawi. Wajar. Frank bukan lagi monster kemarin sore. Dia telah mengitari dunia selama lebih dari seabad. Ketimbang anomali dunia, Frank tak ubahnya pemuda dengan kecanggungan sosial yang bergulat dengan insekuritas akibat terlalu sering dihakimi masyarakat. 

Di sisi lain, Ida yang sekarang menyandang identitas "The Bride" justru lebih liar. Masih dirasuki arwah Mary Shelley yang piawai merangkai kalimat, The Bride bicara layaknya mesin kosakata. Ucapannya tak terkendali, mewakili hasrat perempuan untuk bebas berbicara setelah sekian lama terpenjara. Jessie Buckley tampil 1000% dalam tiap situasi, mengeksplorasi ragam gestur dan ekspresi khas seni peran panggung, yang bakal dicap "berlebihan" oleh segelintir penonton yang gagal memahami cabang keilmuan itu. 

Tidak butuh waktu lama bagi dua protagonisnya guna mengobrak-abrik tatanan ibarat Bonnie dan Clyde versi monster. Kepanikan massal pun pecah setelah wajah keduanya terpotret di TKP sebuah pembunuhan. Hubungan The Bride dan Frank merepresentasikan konsen. Mereka menggila bersama, bukannya secara sepihak tanpa persetujuan si pasangan, yang semasa hidupnya, jadi rutinitas pahit yang Ida kerap saksikan bahkan alami sendiri. 

Kemunculan The Bride memercikkan api perlawanan. Banyak perempuan mengenakan riasan serupa dirinya, kemudian menyulut perlawanan secara terang-terangan terhadap persekusi oleh laki-laki. Sayang, naskah buatan Maggie Gyllenhaal mengolahnya dengan kurang matang. Alih-alih dikembangkan sebagai salah satu menu utama, perihal perlawanan ini sekadar remah-remah bumbu yang ditaburkan sekenanya. 

Bicara tentang penceritaan, The Bride! memang kacau balau: Alurnya menggelembung tak terkendali seiring meluasnya cakupan yang ditandai munculnya dua karakter detektif, Jake Wiles (Peter Sarsgaard) dan asistennya yang kurang dihargai akibat seksisme dalam sistem kepolisian, Myrna Mallow (Penélope Cruz); struktur narasinya berkeliaran bak seseorang yang didera kecemasan kala tersesat dalam labirin; fokusnya pun kesulitan menentukan apakah hendak menyajikan romantika atau membuat The Bride berdiri mandiri tanpa memerlukan belahan hati. 

Tapi prinsip filmnya yang menomorsatukan keliaran dan penolakan terhadap norma lama (isu gender yang diangkat pun mengarah ke sana) memang sukar ditolak. Visi tersebut paling sempurna diwakili oleh sebuah duet dansa dua tokoh utamanya di tengah suatu pesta, di mana para hadirin lain mendadak turut serta seolah tengah kerasukan. Tidak ada alasan logis dibutuhkan, karena fenomena itu merupakan wujud ledakan ekspresi emosi.

REVIEW - IRON LUNG

"Gamers tahu apa tentang pembuatan film?" Ungkapan merendahkan macam itu kerap menuntun film adaptasi game menuju malapetaka. Pihak studio yang sebatas memandang game selaku properti pengeruk uang, sehingga bukan mustahil ogah repot-repot memainkannya, secara arogan memercayai superioritas mereka, kemudian berujung menghancurkan dunia imajinatif tersebut daripada membuatnya bertransformasi. 

Lalu tibalah Mark "Markiplier" Fischbach lewat Iron Lung, debutnya sebagai sutradara yang mengadaptasi game berjudul sama buatan David Szymanski. Dia mungkin belum menjadi sineas berkompetensi tinggi, namun sebagaimana materi aslinya, Markiplier hadir bermodalkan kobaran jiwa indi, dengan mengedepankan semangat dan niat yang berakar dari cinta.

Selain sutradara, Markiplier turut mengisi posisi produser eksekutif, penulis naskah, editor, serta aktor utama. Diperankannya Simon, seorang narapidana yang dikirim untuk mengeksplorasi sebuah bulan yang terendam dalam lautan darah. Simon mengendarai kapal selam seorang diri, tanpa diberi arahan pasti mengenai apa yang mesti dicari, kecuali bahwa ia perlu mengambil foto memakai kamera sinar-X. Tapi Simon yakin ada sosok misterius yang diam-diam mengintainya di balik remang-remang lautan darah. 

Alkisah, dunia dalam film ini baru mengalami kiamat yang dinamai "Quiet Rapture", di mana seluruh planet dan bintang tiba-tiba lenyap. Umat manusia pun nyaris seluruhnya punah, kecuali mereka yang berada di stasiun serta pesawat luar angkasa. Misi Simon bertujuan mencari kunci kelangsungan hidup para penyintas. 

Mayoritas informasi di atas tersebar acak melalui ragam bentuk suara: narasi voice over, instruksi via radio untuk Simon, sampai bisikan misterius di kepala si tokoh utama. Keengganan Iron Lung menyuapi informasi, termasuk tendensi naskahnya mengemas dialognya seambigu mungkin, berpotensi menyulut frustrasi penonton awam yang kurang familiar dengan permainannya. 

Tapi harus diakui, bila mampu menyusun keping teka-teki tersebut, filmnya menyediakan bangunan dunia menarik, selaku latar bagi ceritanya yang menyoroti persoalan spiritualitas, trauma, degradasi psikologis, dan upaya manusia menjaga eksistensi di tengah mortalitas mereka. 

Wajah Simon mendominasi 125 menit durasi, yang otomatis menuntut kapasitas akting sang pelakon. Markiplier punya kemampuan mengolah raut wajah, juga kapasitas menampilkan beberapa emosi dasar secara memadai, namun dinamika rasa yang masih cenderung berkutat di permukaan belum cukup untuk membuatnya mampu mengemban beban seorang diri selama lebih dari dua jam. 

Apalagi sebagai sutradara, Markiplier cenderung membiarkan beberapa momen mengalir berlarut-larut. Acap kali adegan masih berjalan jauh setelah poinnya tersampaikan, sehingga alih-alih intensitas, penonton justru kerap dihadapkan pada kehampaan. Setidaknya sebelum mencapai paruh kedua yang terasa lebih penuh karena Simon yang terdampar keluar jalur dituntut memeras otak di tengah keterbatasan sumber daya guna menemukan jalan keluar. 

Tapi Markiplier bukan sutradara buruk. Sangat jauh dari itu. Dia hadir dengan ragam pilihan shot yang membawa Iron Lung berhasil menghindari kemonotonan. Belum lagi, didukung kualitas mumpuni timnya kala meleburkan efek praktikal dan komputer, sang sutradara debutan sanggup menyulap biaya cekak (tiga juta dolar) jadi tontonan yang tidak nampak murahan. 

Penceritaan yang enggan mencekoki penonton dengan informasi, tempo lambat, juga keberanian mengeksplorasi horor kosmik sarat imagery beraroma sureal yang cenderung jarang disentuh sinema arus utama. Walau belum maksimal, aspek-aspek tadi membuktikan keberanian sang pembuat film untuk tidak tunduk pada pakem. Tengok babak ketiganya yang jadi puncak keliaran horor kosmik. Markiplier tahu apa yang ingin ia ciptakan, juga apa yang ia perlukan guna merealisasikan visinya. 

REVIEW - WUTHERING HEIGHTS (2026)

Layar hitam, sementara erangan laki-laki terdengar, sambil sayup-sayup diiringi suara berderit bak tali yang tengah meregang. Apakah ia sedang orgasme atau menanti ajal di tiang gantungan? Ternyata keduanya terjadi secara bersamaan. Tidak salah ketika orang Prancis mendeskripsikan sensasi orgasme sebagai "la petite mort" atau "kematian kecil". 

Wuthering Heights karya Emerald Fennell, selaku adaptasi layar lebar ke-17 (setidaknya menurut Wikipedia) dari novel berjudul sama buatan Emily Brontë, menampakkan dua sisi hasrat yang dapat membawa nikmat yang menghidupkan sekaligus luka yang mematikan. 

Bentangan lanskap yang seolah enggan melepas genggaman mendung jadi latar, sementara gemuruh musik gubahan Anthony Willis membawa atmosfer gotik untuk membuka pertemuan dua tokoh utamanya: Cathy (Charlotte Mellington), putri Mr. Earnshaw (Martin Clunes), bangsawan pemilik manor Wuthering Heights; dan Heathcliff (Owen Cooper), anak miskin yang dibesarkan oleh si bangsawan. 

Keduanya bersahabat, menghapus kesepian masing-masing sembari memendam cinta bagi satu sama lain. Bertahun-tahun setelahnya, Cathy dewasa (Margot Robbie) menarik perhatian tetangga barunya, Edgar (Shazad Latif), yang hidup bermandikan harta kendati bukan berdarah bangsawan. Edgar mengundang Cathy untuk menetap di kediamannya selama sekitar dua minggu. Heathcliff dewasa (Jacob Elordi) pun dikuasai api cemburu. 

Sekembalinya ke Wuthering Heights, Cathy yang kentara tak menyimpan ketertarikan pada Edgar dan hanya memedulikan kerinduan terhadap "si sahabat" justru mendapat penolakan tatkala Heathcliff mengusirnya. 

Fennell enggan memandang kecemburuan Heathcliff selaku wujud cinta luar biasa. Sebaliknya, maskulinitas rapuh laki-laki disentilnya. Mengapa laki-laki sebegitu getol mempertahankan harga diri sarat gengsi, biarpun itu berpotensi melukai mereka? Bukan cuma Heathcliff, Mr. Earnshaw yang menenggelamkan diri dalam alkohol pun serupa. Fennell mengubah jalur Wuthering Heights menjadi kisah relevan tentang bagaimana maskulinitas laki-laki merusak hidupnya sendiri, juga orang-orang di sekitarnya. 

Heathcliff memutuskan pergi, sedangkan Cathy terpaksa menikahi Edgar demi menyelamatkan finansial keluarga. Latar pun berpindah menuju kediaman si laki-laki kaya yang berisi ragam gaya arsitektur eksentrik, juga setumpuk gaun unik nan cantik yang Edgar siapkan untuk istrinya. Sinematografi arahan Linus Sandgren membingkai tiap shot-nya bak lukisan indah yang memancing kekaguman.

Masalahnya, ada kalanya film ini mengemis rasa kagum penonton secara berlebihan. Tengok montase berisi rutinitas Cathy pasca menikah, yang didesain tak ubahnya video klip musik bervisual menawan namun terkesan artificial, pula tanpa rasa. Fennell seperti mengarahkan Robbie untuk berpose semata alih-alih berakting.

Walau harus diakui, pilihan membungkus materi klasik ini dalam sampul pop modern menghadirkan daya tarik. Barisan lagu elektropop garapan Charli XCX ditempatkan di latar tahun 1800-an, menciptakan anakronisme guna mewakili penolakan tunduk pada kekakuan moralitas masa lampau. Fennell menghapus segala sopan santun khas drama period, menggantinya dengan sensualitas yang mengintip di segala sisi. Telur yang pecah, adonan kue, bahkan siput yang merayap perlahan, seluruhnya menguarkan aroma seksual. 

Singkat cerita, Heathcliff kembali dengan identitas baru. Seorang laki-laki tampan yang telah merengkuh sukses besar. Terjadilah perselingkuhan, tapi alih-alih saling mengisi sebagaimana kala mereka kecil, Cathy dan Heathcliff kini saling menghancurkan. Seiring menguatnya rasa bersalah di hati Cathy, Heathcliff justru makin menggila. 

Fennell mengemas perselingkuhan keduanya serupa opera sabun yang efektif menyulut rasa geregetan penonton. Konyol, namun daya hiburnya sukar ditampik, biarpun sangat disayangkan, naskahnya sekadar memedulikan spektakel guna memuaskan hasrat penonton menyaksikan kenakalan dua karakternya, tanpa dibarengi dampak emosi memadai, bahkan tatkala jajaran pemainnya tampil apik.

Bakal banyak yang mengeluhkan lemahnya chemistry, Margot Robbie dan Jacob Elordi, namun saya memandangnya sebagai kesengajaan, sebab filmnya memang bukan berniat menggambarkan penyatuan hati dua tokoh utama, melainkan kerenggangan mereka akibat obsesi tak sehat. Secara individual keduanya bermain kuat. 

Di antara pemeran pendukung, Hong Chau (memerankan Nelly, pelayan Cathy sejak kecil) tampil memukau lewat kemampuannya menyiratkan luka terpendam melalui pengolahan ekspresi, sedangkan Owen Cooper membuktikan bahwa performa kuatnya di serial Adolescence (2025) bukanlah kebetulan. 

Pada akhirnya, apa yang Wuthering Heights sebenarnya incar memang terasa ambigu. Sebagai hiburan pop, naskahnya tetap dipenuhi kalimat puitis khas literatur klasik. Dia ingin menampilkan atmosfer gotik, tapi musik modern serta berbagai visual kaya warnanya jelas berasal dari spektrum berlawanan. Fennell seolah dirasuki jiwa Cathy. Sama-sama ingin memiliki sesuatu tanpa mau melepaskan hal lainnya. 

REVIEW - CHECK OUT SEKARANG, PAY LATER

Check Out Sekarang, Pay Later adalah tontonan menyenangkan, yang secara sengaja terlihat, terdengar, dan terasa murahan. Justru dari situlah filmnya memperoleh identitas kuat. Sayangnya hadir batu sandungan berupa ambisi untuk menjadi suatu hal lain yang memiliki "warna" luar biasa berbeda. Sederhananya, ada krisis identitas.

Ada dua cabang cerita yang awalnya berjalan sendiri-sendiri. Pertama tentang Tina (Amanda Manopo) yang terjerat utang pinjol akibat ketagihan belanja. Rumahnya pun disatroni Sintong (Sastra Silalahi) dan Yopie (Arnold Kobogau), dua penagih utang dari perusahaan Duit Darurat. Cerita kedua adalah soal Mail alias DJ Smile (Devano) yang mendapati adiknya, Adam (Richard Derick), telah ketagihan judol.

Naskah yang ditulis sang sutradara, Ardy Octaviand, bersama Widya Arifianti mengupas peliknya kehidupan manusia urban korban keganasan setan bernama "konsumerisme". Lagu koplo jedag-jedug dan visual "bling-bling" dipakai untuk mencuatkan kenorakan estetika yang sempurna mewakili narasinya. Murah, ringan, kaya warna. 

Sampai terjadi tragedi yang saking kelamnya, seolah mengkhianati estetika tadi. Filmnya pun mulai berupaya menyeimbangkan dua tone berseberangan, yang berisiko memancing kebingungan penonton. Saya bingung mesti merasakan apa, saat selepas menumpahkan lelucon bodoh, filmnya segera melempar insiden bernuansa serius. 

Caper (begitulah judulnya disingkat atas nama marketing) ibarat dua film yang dipaksa menyatu: komedi farce ringan dan drama humanis yang ingin memotret beratnya hidup generasi masa kini. Benar bahwa alurnya menyimpan relevansi kala membicarakan konsumerisme, juga bagaimana kelas pekerja terjebak skema licik para lintah penguasa. Filmnya lupa bahwa untuk menjadi relevan tidak melulu perlu ada keseriusan. 

Cukup disayangkan, sebab begitu memasuki babak kedua, Caper mulai tancap gas dalam menghantarkan hiburan. Kisahnya telah mencapai menu utama tatkala jajaran karakter di atas mulai menemukan persamaan nasib, komedinya pun tak lagi ragu menampilkan peristiwa-peristiwa absurd. 

Para pelakonnya paham betul performa seperti apa yang mesti mereka tampilkan. Amanda Manopo sepenuhnya menanggalkan citra glamor demi totalitas berkomedi, Devano di perannya yang paling berwarna, hingga Arnold Kobogau yang tampil berlawanan dengan figur antagonis intimidatif di Timur, semua piawai memancing tawa. 

Penonton serial Pay Later (2024), yang kendati punya judul, cerita, pemain, serta kru mirip, tak punya koneksi apa pun dengan Caper, mungkin bakal kecewa mendapati Fajar Sadboy (memerankan Umsky, adik Tina) hanya diberi porsi seadanya, tapi toh si komedian muda mampu memanfaatkan ciri khasnya untuk mencuri perhatian di tiap kemunculan. 

Klimaksnya membawa para protagonis melangsungkan misi nekat untuk membajak stasiun televisi yang eksekusinya terlampau disederhanakan, padahal usaha susah payah yang karakternya mesti lalui justru berpeluang diubah jadi wujud hiburan tersendiri. 

Setidaknya, seperti yang para pembuatnya harapkan, konklusi Caper kental akan relevansi, kala menyentil kebenaran pahit perihal penguasa yang sampai kapan pun bakal menemukan celah untuk mencurangi rakyat jelata. Tapi di sisi lain, rakyat jelata juga akan selalu mendapatkan jalan guna melawan penguasa.