REVIEW - THE TESTAMENT OF ANN LEE
Kita cenderung terlampau ringan menghakimi suatu perihal berdasarkan perspektif hasil bentukan norma umum. Misal kala melabeli ritual suatu sekte dengan cap "sesat" namun mewajarkan ibadah agama-agama yang "diakui". Bila mengupasnya lebih jauh dari ini, niscaya saya pun bakal dianggap menistakan ajaran.
The Testament of Ann Lee menampilkan kisah hidup figur pemimpin dari sekte Shakers yang berkembang di abad 18. Dipresentasikan bak hikayat dengan segala "konon" yang terucap dari mulut naratornya, alih-alih upaya menyebarkan kesesatan, film ini bertujuan memotret bagaimana paham religius lahir dari keresahan umat manusia.
Ann Lee (Amanda Seyfried) menemukan pencerahan spiritualnya kala menghadiri pertemuan kelompok Shakers yang dipimpin oleh pasutri Jane (Stacy Martin) dan James (Scott Handy). Nama aneh tersebut diambil dari cara beribadah yang mengharuskan penganutnya menggetarkan tubuh mereka sembari mengeluarkan teriakan liar selaku cara detoksifikasi dosa.
Di kursi sutradara, Mona Fastvold mempresentasikan jalannya ibadah kelompok Shakers dalam bentuk musikal yang tampil bak ritual sakral. Setiap gerakan dan nyanyian adalah wujud katarsis atas emosi-emosi yang tak diberi ruang untuk meletup di luar lingkup sekte, dan pengadeganan musikal dari Fastvold memastikan penonton dapat menangkap emosi yang karakternya lepaskan. Hasilnya menghipnotis.
Melalui pertemuan kelompok Shakers pula Ann Lee bertemu suaminya, Abraham (Christopher Abbott). Pernikahan keduanya tidak berlangsung mulus. Ann Lee terganggu dengan kesukaan Abraham pada sadomasokisme, yang membangkitkan lagi trauma masa kecil kala menyaksikan sang ayah menyetubuhi ibunya secara kasar. Baginya, hubungan badan semacam itu adalah dosa. Ditambah lagi, Ann Lee kehilangan empat anak yang semuanya meninggal sebelum menginjak usia setahun.
Duka tersebut yang mendorong Ann Lee makin aktif menyusuri jalan religi, bahkan menjadi salah satu pentolan Shakers, hingga sempat dijebloskan ke penjara akibat dianggap mengganggu ketertiban. Di tengah pengurungan, Ann Lee memperoleh penglihatan yang membuat anggota Shakers percaya bahwa ia merupakan mesiah yang telah lama dinantikan.
Penglihatan itu Ann Lee dapat tatkala ia melakukan aksi mogok makan dan minum. Bisa jadi semuanya cuma halusinasi bukan? Benar, tapi filmnya enggan menghakimi secara instan. Timbul sebaris pertanyaan provokatif: Apa yang membedakan pengalaman spiritual Ann Lee dengan penglihatan yang didapat para figur agama?
"Mother Ann", begitu ia dipanggil sejak peristiwa tadi. Ajaran Shakers pun semakin gencar disebarkan, termasuk soal penolakan atas aktivitas seksual yang dipandang selaku dosa terbesar. Memang aneh, pun penonton dipersilakan berpikir demikian. The Testament of Ann Lee menjabarkan alasan di baliknya, yang tidak pernah bermuara pada penyimpulan benar/salah.
Semua kembali pada trauma masa lalu Ann Lee, yang entah sadar atau tidak, memandang seks sebagai medium para lelaki memamerkan kendali mereka. Itulah keresahan yang Ann Lee beserta banyak anggota perempuan Shakers rasakan. Mereka mendambakan kesetaraan, baik seputar gender maupun ras (Ann Lee menentang keras perbudakan terhadap kulit hitam, dan menjalin kekerabatan dengan suku Indian). Bukan agama lain yang ingin Ann Lee lawan, melainkan kemapanan.
Penampilan Amanda Seyfried begitu piawai menyedot atensi. Sosoknya tak seberapa karismatik, tapi saya rasa itulah citra yang ingin dibangun oleh Mona Fastvold. Berbeda dengan banyak pemimpin sekte laki-laki, Ann Lee enggan menggunakan metode manipulasi, tapi meyakinkan para pengikutnya bahwa ia berbagi keresahan dan luka yang sama dengan mereka, dan mungkin juga kita.
(Disney+)
REVIEW - GOWOK: KAMASUTRA JAWA
"Gowok" adalah sebutan bagi perempuan yang bertugas mengajari laki-laki yang belum menikah perihal rumah tangga, terutama cara memuaskan hasrat sang istri. Ketika dua karakter film ini terlibat aktivitas seksual dalam adegan yang tak terlalu jinak untuk ukuran film lokal arus utama, saya mendengar beberapa penonton cekikikan. Mungkin penonton zaman sekarang lebih membutuhkan edukasi seks dibanding karakternya yang hidup di tahun 1950-an.
Andaikan Gowok: Kamasutra Jawa menghabiskan 132 menit durasinya (versi uncut) guna menyoroti perjalanan seksual secara total, saya akan menyebutnya salah satu film lokal terpenting dalam beberapa waktu terakhir. Sayangnya tidak. Naskah yang ditulis sang sutradara, Hanung Bramantyo, bersama Aci dan ZZ Mulja Salih, bertualang terlampau jauh meninggalkan persoalan seksualitas.
Kisahnya bermula di Bumirejo tahun 1950, ketika Ratri (Alika Jantinia) masih menimba ilmu pergowokan dari Nyai Santi (Lola Amaria). Inilah fase terbaik filmnya, sebab penonton pun diajak mempelajari seluk-beluk tradisi yang telah punah tersebut. Kita memahami ritualnya, kita pun tahu bahwa istilah "Gowok" berasal dari nama Goo Wook Niang, perempuan Tionghoa yang memperkenalkan tradisi itu pasca tiba di tanah air bersama Laksamana Cheng Ho.
Seksualitas bukan hal jorok di sini. Daripada memperlakukannya sebagai pokok bahasan tabu (alasan mengapa masyarakat kita miskin edukasi hingga mudah menertawakan adegan "panas"), Gowok: Kamasutra Jawa memandang seks layaknya ritual suci nan agung, di mana sanggama merupakan wujud penyatuan suci antara dua manusia yang saling cinta. Tapi seksualitas pun menyimpan sisi gelapnya, yang disulut oleh nafsu tak terkendali.
Suatu ketika, datanglah Kamanjaya (Devano Danendra), putra seorang camat yang hendak digowok oleh Nyai Santi sebelum berkuliah. Lalu timbul masalah: Kamanjaya dan Ratri justru saling jatuh cinta. Bahkan keduanya melanggar aturan kala nekat mengintip ritual Nyai Santi di bawah air terjun, dalam sebuah adegan yang meniupkan nuansa magical realism ke dalam kisahnya.
Penceritaan Gowok: Kamasutra Jawa mulai mengembang terlampau besar hingga keluar jalur sewaktu kisahnya melompat ke tahun 1965. Di luar seksualitas dan romansa ala Romeo & Juliet yang telah muncul sedari awal, elemen-elemen lain turut memenuhi alurnya, dari cerita pemberdayaan, konflik pelik sarat konspirasi seputar keluarga bangsawan, dan tentunya konflik politik. Seorang Hanung Bramantyo takkan melewatkan latar 1965 tanpa menyinggung soal PKI bukan?
Proses bercerita ibarat guliran sebuah roda. Supaya bisa berputar, ia memerlukan angin sesuai takaran. Tapi jika diisi secara berlebihan, alih-alih berjalan, roda itu bakal meledak. Demikianlah kondisi film ini. Bukannya mengerucut, kisahnya justru terus dan terus membengkak. Sulit untuk menaruh kepedulian, apalagi saat karakter minor yang baru diperkenalkan di paruh kedua, mendadak diberi porsi besar pada konklusinya.
Nantinya dikisahkan bahwa Ratri tak lagi ingin mewarisi ilmu gowok milik Nyai Santi. Didasari saran Kamanjaya, dia bergabung ke dalam organisasi perempuan yang jadi cikal bakal Gerwani demi menggapai mimpinya sendiri. Apa pastinya mimpi Ratri? Entahlah. Sebelum berambisi mendukung keinginan Ningsih (Annisa Hertami) mendirikan sekolah perempuan, Ratri terus menyebut kata "mimpi" tanpa pernah mengelaborasinya.
Setidaknya paruh kedua film ini memberi suntikan daya melalui akting para pemainnya. Raihaanun (Ratri dewasa) dengan martabat tinggi di tiap tutur katanya, serta Reza Rahadian (Kamanjaya dewasa) yang kembali bertransformasi dan secara mulus melafalkan dialek ngapak, berhasil jadi penawar tatkala filmnya makin hilang arah.
REVIEW - THE DEVIL'S BATH
The Devil's Bath adalah salah satu horor paling segar dalam beberapa waktu terakhir. Kengerian milik wakil Austria di Academy Awards 2025 ini bukan berasal dari perihal supernatural, melainkan jurang kultural yang penonton rasakan tatkala mengamati hal-hal yang dianggap normal lebih dari tiga abad lalu.
Alkisah, perempuan bernama Agnes (Anja Plaschg) baru saja menikahi laki-laki dambaannya, Wolf (David Scheid). Pesta berlangsung meriah, kerabat dari kedua belah pihak nampak berbahagia, dan senyum bak menolak luntur dari wajah Agnes. Dia bakal menghuni rumah baru yang Wolf beli dengan seluruh tabungannya plus sedikit pinjaman, tanpa sepengetahuan Agnes. Tanda bahaya pertama pun muncul.
Tapi yang kita tengah saksikan adalah tahun 1750-an. Gagasan feminisme masih jauh dari konsepsinya. Keputusan Wolf mengganggu Agnes, tapi siapa yang menganggap itu kekeliruan? Hal tersebut belum seberapa. Di sela pesta pernikahan, Wolf dan teman-teman bersenang-senang dengan memukuli ayam, sementara Agnes memperoleh hadiah jimat keberuntungan dari kakaknya. Agnes amat bahagia dan menggenggamnya dengan penuh syukur. Jimat itu adalah sepotong jari pelaku pembunuhan bayi yang dihukum pancung.
Naskah buatan dua sutradaranya, Veronika Franz dan Severin Fiala (Goodnight Mommy), memakai buku Suicide by Proxy in Early Modern Germany: Crime, Sin and Salvation karya Kathy Stuart sebagai patokan terkait gambaran masyarakat masa lalunya. Sekali lagi, tidak ada hantu, penyihir, atau kambing yang bertingkah bak kerasukan setan. Kengerian bersumber dari perspektif serta kepercayaan yang dianut pada masa itu.
Inilah masa di mana depresi dianggap sebagai ulah setan, sementara melankoli dalam hati disingkirkan dengan cara menjahit rambut kuda ke tengkuk, lalu menarik rambut itu berulang-ulang hingga bekas jahitan mengeluarkan nanah, yang dipercaya dapat "mengeluarkan racun". Sinematografi garapan Martin Gschlacht, juga musik gubahan Anja Plaschg, berjasa mencuatkan nuansa horor folk dari ragam situasi yang dirasa janggal oleh masyarakat modern tersebut.
Tapi horor paling menyeramkan bagi Agnes dihadirkan oleh si ibu mertua (Maria Hofstätter), yang amat sering berkunjung, dan tak pernah lelah mengkritik si menantu dengan segala bentuk komentar menyakitkan. Bahkan lokasi menggantung panci saja ia permasalahkan. Seiring waktu Agnes semakin tertekan, dan Anja Plaschg menggambarkan kehancuran batin tersebut dengan amat menyakitkan. Tawa bercampur teriakan dan ratapan yang ia perlihatkan di penghujung durasi sungguh meremukkan perasaan.
Usai menonton The Devil's Bath, saya berujar dalam hati, "Apakah kelak bakal terjadi hal serupa, di mana orang-orang dari tahun 2300-an memandang kita sebagai masyarakat terbelakang nan menyeramkan tatkala menonton film mengenai era 2000-an?" The Devil's Bath ibarat pengingat untuk memperbaiki diri supaya sejarah tak merekam (terlalu banyak) sisi kelam kita.
(Klik Film)
REVIEW - THE GIRL WITH THE NEEDLE
The Girl with the Needle, yang jadi perwakilan Denmark di Academy Awards 2025 (berhasil menyabet nominasi), merupakan drama sejarah yang dibungkus layaknya horor arthouse. Tidak ada hantu dalam definisi konvensional di dalamnya. Hantu di sini tak bisa kita lihat namun dapat dirasakan, sebagai manifestasi kesendirian karakternya yang jatuh ke jurang terdalam akibat terus-menerus mengalami pembuangan.
Kopenhagen, 1919: Karoline (Vic Carmen Sonne) baru diusir dari apartemen akibat 14 minggu lalai membayar uang sewa. Suaminya, Peter (Besir Zeciri), sudah setahun tak memberi kabar dari medan perang. Hubungannya dengan Jørgen (Joachim Fjelstrup), bos pabrik tempatnya bekerja, berawal indah. Tapi niatan menikahi si lelaki selepas mendapati dirinya hamil ditentang keras oleh ibu Jørgen.
Sekali lagi, Karoline merasakan sakitnya dibuang. Magnus von Horn selaku sutradara kerap menempatkan si protagonis di tengah layar seorang diri. Terkadang figur Karoline dibingkai oleh objek di sekelilingnya, atau diselimuti kegelapan yang ditangkap dengan begitu cantik dalam tata kamera arahan Michał Dymek. Semuanya mewakili kondisi psikis Karoline.
Sampai di satu titik Karoline memutuskan untuk berbalik melakukan hal yang selama ini menyiksanya. Dia ingin membuang. Targetnya adalah janin yang ia kandung. Tapi sebelum sempat melakukan itu (memakai jarum raksasa yang dibawa ke pemandian umum), Karoline ditolong oleh Dagmar (Trine Dyrholm), perempuan yang sekilas nampak baik hati. Tapi karena karakternya terinspirasi dari Dagmar Overbye, pembunuh berantai yang dari tahun 1913-1920 konon telah merenggut nyawa 25 korban, kita tahu kalau kebaikan tersebut hanya ilusi belaka.
Ditemani sinematografi hitam putih remang-remang yang menjelaskan betapa kegelapan senantiasa menaungi karakternya, kita pun turut diajak mengobservasi lingkungan tempat Karoline menghabiskan keseharian. Semuanya kotor, jauh dari kesan higienis, bahkan tidak jarang menjijikkan.
Bersama tempo lambat yang digerakkan secara presisi, Magnus von Horn berhasil menjadikan The Girl with the Needle sebagai perjalanan mengarungi kekacauan batin Karoline, yang meski dipenuhi ketidaknyamanan, nyatanya juga terasa menghipnotis. Apalagi Vic Carmen Sonne tampil luar biasa merepresentasikan ketersesatan Karoline, terutama melalui permainan ekspresi wajahnya.
Karoline tengah hilang arah. Tidak tahu harus melangkah ke mana, bahkan tidak benar-benar yakin akan wajah asli dirinya maupun orang-orang di sekitarnya. Sebagaimana ditampilkan oleh sekuen pembukanya yang begitu mencekam bak sebuah mimpi buruk absurd, The Girl with the Needle menunjukkan bahwa individu cenderung menyembunyikan wajah asli mereka. Wajah asli yang lebih buruk rupa, dan tak jarang, merupakan wajah yang sangat mengerikan.
(Klik Film)
REVIEW - NICKEL BOYS
Daya tarik terbesar Nickel Boys tentu berasal dari tata kameranya, yang dipresentasikan lewat sudut pandang orang pertama. Tapi alih-alih seorang saja, ada perspektif dua individu yang ditampilkan, sehingga selain kesan personal, adaptasi novel karya Colson Whitehead ini juga menjadi kisah yang merangkum memori (atau lebih tepatnya "trauma") kolektif.
Elwood (Ethan Herisse) adalah sosok yang kita ikuti perspektifnya. Seorang remaja Tallahassee yang hidup berdua bersama sang nenek, Hattie (Aunjanue Ellis-Taylor). Dia tak hanya cerdas, pula aktif turun ke jalan menyuarakan hak asasi manusia. Elwood yang tumbuh di awal 60-an jadi saksi bagaimana figur-figur seperti Martin Luther King Jr. tengah memerangi rasisme terhadap kaum kulit hitam di Amerika Serikat. Walau keadilan sosial masih jauh dari jangkauan, kecerdasan serta ketekunan si remaja membuat masa depannya, nampak cerah.
Sampai takdir berputar ke arah tak terduga, yang membuatnya dikirim ke reform school bernama Nickel Academy. Cita-citanya melanjutkan studi di universitas ternama pun mesti ia kubur. Di Nickel, siswa kulit putih dan kulit hitam hidup terpisah. Ketika siswa kulit putih memperoleh perhatian lebih dari tenaga pengajar, Elwood dan teman-teman (termasuk bocah yang bahkan belum menginjak 10 tahun) dipaksa bekerja di ladang, lalu mendapat hukuman fisik bila membuat kesalahan. Nickel Academy bukan berupaya mendidik. Mereka hanya memperbudak.
Di sanalah Elwood berkenalan dengan Turner (Brandon Wilson). Berlawanan dengan pola pikir berlandaskan semangat perjuangan yang Elwood bawa, Turner cenderung bersikap skeptis. "Daripada mengambil risiko untuk melawan, lebih baik diam sambil menundukkan kepala karena takkan ada yang berubah", begitu pola pikir Turner.
Pasca Turner diperkenalkan, kamera pun mulai rutin berpindah sudut pandang guna menampilkan apa yang ia saksikan. Bagaimana naskah yang dibuat oleh sang sutradara, RaMell Ross, bersama Joslyn Barnes, memakai gaya bertutur radikal dengan terus memindahkan perspektif antara Elwood dan Turner membuat Nickel Boys terasa seperti rekaman dari memori kolektif orang-orang yang berbagi pengalaman, serta luka yang sama.
Ross menunjukkan talentanya sebagai sineas yang mengawali karir sebagai kreator dokumenter, saat sesekali ia menyelipkan beragam footage, dari cuplikan film, berita di televisi, hingga rangkaian dokumentasi. Sekilas terkesan tak berkaitan, namun seluruhnya sama-sama jadi gambaran wajah sebuah negara pada suatu masa. Ketika publik terpukau oleh teknologi yang melesat maju hingga memungkinkan manusia pergi ke luar angkasa, di sekeliling mereka penegakkan keadilan sosial malah berjalan mundur.
Harus diakui gaya eksperimental filmnya yang mengutamakan eksplorasi teknik bertutur membuat "rasa" di beberapa titik terkesan jauh, termasuk montage dengann sebuah twist besar di konklusi, yang seperti memperumit hal sederhana, yang bakal jauh lebih emosional bila sorotan diletakkan pada penampilan pemainnya. Aunjanue Ellis-Taylor tampil luar biasa di momen tersebut. Teriakan dalam tangisnya akan sukar dihapus dari hingatan.
Tapi pendekatan radikal Nickel Boys tetap sebuah pencapaian hebat. Meski durasi 140 menit rasanya masih bisa dirampingkan, kolaborasi sutradara dan penata sinematografinya memastikan bahwa perjalanan panjang itu tak pernah tampil monoton. Filmnya begitu kreatif perihal menata apa saja yang penonton saksikan di layar (dari bocah yang mendadak meluncur di bawah kursi bus, hingga sinkronisasi gerak kaki dua orang asing yang kebetulan terjadi).
Terkadang kita diajak melompat ke masa depan untuk bertemu Elwood dewasa (Daveed Diggs). Menariknya, ketimbang memakai sudut pandang orang pertama seperti biasa, kita melihat sosoknya dari belakang, tak ubahnya hantu tak kasat mata yang mengikuti si tokoh utama. Bersama Elwood dewasa itulah kita menyadari bahwa penyiksaan di Nickel bukan cuma menghancurkan para siswa di masa itu, pula masa depan mereka.
(Prime Video)
REVIEW - GLADIATOR II
Sempat melalui berbagai gagasan termasuk ide gila Nick Cave mengenai Maximus (Russell Crowe) yang hidup kembali lalu berpartisipasi dalam Perang Salib, Perang Dunia II, dan Perang Vietnam, sebelum kemudian bekerja di Pentagon, Gladiator II akhirnya eksis selepas bertransformasi menjadi wujud yang lebih "aman". Sebuah legacy sequel dengan kisah yang mengedepankan pengulangan atas nama penghormatan. Tapi di tangan Ridley Scott, film ini bukan sebatas repetisi atas nama nostalgia, melainkan blockbuster yang tampil sekokoh prajurit Roma.
Sekitar dua dekade selepas peristiwa pertama, hiduplah pria bernama Hanno (Paul Mescal) di Numidia, yang menjadi target terkini invasi pasukan Roma yang dipimpin oleh Marcus Acacius (Pedro Pascal). Kedua pihak bertempur, Numudia berhasil ditaklukkan, dan Hanno yang kehilangan sang istri dalam peperangan pun ditangkap untuk dijadikan budak. Hanno menyembunyikan sebuah rahasia: nama aslinya adalah Lucius, putra Lucilla (Connie Nielsen) sekaligus mantan pewaris tahta Kerajaan Roma.
Selanjutnya, Hanno/Lucius bakal bertempur sebagai gladiator di bawah kepemilikan Macrinus (Denzel Washington), dengan tujuan membalas dendam kepada Marcus. Kondisi Roma sendiri tidak jauh lebih baik dibanding film pertama, akibat kepemimpinan dua kaisar kakak beradik haus darah, Geta (Joseph Quinn) dan Caracalla (Fred Hechinger).
Roma yang terancam kehancuran akibat pemimpin sinting yang tak kompeten, figur gladiator selaku jawara rakyat yang dikuasai amarah akibat kematian istrinya, hingga Lucilla yang kerap menyelinap di malam hari guna merumuskan rencana kudeta bersama para senat, merupakan beberapa contoh poin cerita film pertama yang kembali dipakai dalam naskah buatan David Scarpa.
Gladiator (2000) memang punya alur menarik yang membuat dua setengah jam durasinya tidak terasa lama. Tapi pengulangan terhadap alur menarik tersebut, secara otomatis bakal mengurangi daya tariknya. Efeknya pun berbeda. Setidaknya, sebagai legacy sequel, pengulangan itu dapat dijustifikasi karena bertujuan menempatkan si "protagonis baru" di jalur yang dilewati "protagonis lama", kemudian membawanya menyelesaikan misi yang belum sempat dituntaskan sang pendahulu.
Sebagai bintang utama, Paul Mescal memang belum memiliki karisma sekuat Russell Crowe, namun cakupan emosinya lebih luas, membuat Lucius tetap menjadi penerus yang layak bagi Maximus. Tapi tiada yang lebih memikat daripada Denzel Washington. Sosoknya yang flamboyan namun berwibawa bak memberkati layar di tiap kemunculannya lewat gerak-gerik sederhana. Langkahnya menampakkan kepercayaan diri, seolah Kerajaan Roma telah berada di bawah cengkeramannya.
Dibarengi musik buatan Harry Gregson-Williams, Denzel melahirkan momen paling epik di film ini tatkala para senat membungkuk di hadapannya. Tanpa pedang, tanpa kekuatan fisik. Karakter Macrinus mengingatkan bahwa peperangan sesungguhnya justru berlangsung di arena politik.
Walau demikian, menu utama Gladiator II tetaplah gelaran aksinya. Nampak bahwa di luar penggunaan formula alur yang serupa, Ridley Scott ingin menghasilkan karya yang sama sekali berbeda. Ketika film pertama merupakan drama politis sejarah berbumbu aksi, maka sekuelnya ini sebaliknya. Skala aksinya lebih besar, dengan pendekatan yang juga lebih campy.
Lupakan keseriusan baku hantam antar gladiator. Di sini mereka diharuskan melawan monyet yang bersikap liar bak monster sinting, sampai menghindari terjangan hiu di tengah koloseum yang terendam air layaknya samudera. Lebih konyol, pula lebih banyak memanfaatkan efek komputer. Alih-alih jadi kelemahan, kesan campy tersebut justru menghadirkan kelebihan berkat kepiawaian Sir Ridley Scott mengarahkan aksi. Di usia yang segera menginjak 87 tahun, Scott nyatanya masih memiliki semangat juang seorang gladiator.
REVIEW - UPRISING
Teks mengenai bagaimana filsuf Jeong Yeo-rip menyuarakan kesetaraan antara semua manusia, termasuk bangsawan dan budak, membuka Uprising. Penonton seolah digiring untuk berasumsi kalau film yang tengah ditonton adalah kisah inspiratif tentang perjuangan sang filsuf menghapus jurang kelas. Kemudian kamera bergerak ke bawah, memperlihatkan sosok Jeong Yeo-rip dari belakang, dengan pedang terhunus di leher. Dia bunuh diri saat pasukan kerajaan hendak menangkapnya atas tuduhan pengkhianatan.
Hanya dalam waktu sekitar 10 detik, Uprising sudah berhasil melempar twist cerdik. Wajar saja, mengingat Park Chan-wook terlibat dalam proses penulisan naskah (bersama Shin Cheol). Sedangkan kursi sutradara ditempati Kim Sang-man, yang pernah beberapa kali bekerja di bawah Park Chan-wook, termasuk sebagai penata artistik di Joint Security Area (2000).
Alurnya mengambil latar pada masa pemerintahan Raja Seonjo (Cha Seung-won) di akhir abad 16, ketika perbudakan masih jamak terjadi. Jika salah satu orang tuanya adalah budak, maka seorang anak otomatis juga menjadi budak. Cheon Yeong (Gang Dong-won) bernasib serupa. Uniknya, Cheon Yeong menjalin pertemanan dengan Lee Jong-ryeo (Park Jeong-min), putra dari bangsawan yang memperbudak dirinya.
Pertemanan tersebut menghadapi ujian seiring keduanya tumbuh dewasa. Cheon Yeong mengharapkan kebebasan, Jong-ryeo mulai mendapat posisi tinggi di kerajaan. Suatu peristiwa yang terjadi berdekatan dengan invasi pasukan Jepang terhadap Joseon akhirnya membuat mereka bermusuhan. Cheon Yeong dengan jubah birunya, Jong-ryeo dengan seragam kebesaran merahnya. Keduanya berlawanan sekaligus saling melengkapi, layaknya konsep taegeuk yang terpampang di bendera Korea Selatan.
Bukankah warna biru di taegeuk menyimbolkan energi negatif? Di situlah perspektif film ini menampakkan daya tariknya. Kelak Cheon Yeong bergabung dengan kelompok militan yang tak hanya berperang melawan tentara Jepang, pula berusaha meruntuhkan sistem perbudakan. Bagi pemerintahan Seonjo tentu eksistensinya bersifat negatif. Pertanyaannya, apakah sesuatu yang buruk di mata penguasa juga buruk bagi rakyat jelata?
Film ini menolak sedikitpun menjustifikasi kebobrokan monarki yang begitu mendewakan sang raja. Tidak ada kata "tapi", tidak ada romantisasi. Uprising adalah suguhan yang mengubah perspektif konservatif genre sageuk menjadi sebuah karya progresif. Maka tidak heran ketika musik gubahan Cho Young-wuk pun menolak pakem konvensional kala meleburkan nada-nada tradisional khas genrenya dengan distorsi rock yang lebih modern, dan sedikit bumbu noir.
Naskahnya gemar memunculkan komparasi. Salah satu teknik yang paling sering dipakai adalah saat beberapa kali, dua peristiwa yang terkesan berlawanan dijahit secara bergantian. Sewaktu sang raja memusingkan pembangunan ulang istana supaya lebih megah, rakyatnya bingung mencari cara bertahan hidup. Tatkala pasukan budak berjuang membantai penjajah, prajurit kerajaan malah sibuk membantai rakyat.
Di satu titik, rakyat yang sudah jengah terhadap sikap sewenang-wenang raja yang kabur meninggalkan mereka di tengah serangan Jepang, melampiaskan amarah dengan membakar pusat kota. Dari kejauhan, Raja Seonjo melihat kobaran api tersebut lalu berujar, "Kenapa rakyatku melakukan itu?". Bagi sang raja ia tidak berdosa, walau pada kenyataannya, si penguasa lalim sama saja dengan para penjajah.
Kekuatan penceritaan Uprising disempurnakan oleh pengarahan Kim Sang-man yang penuh gaya. Selain gelaran aksi yang tak ragu membanjiri layar dengan kekerasan berdarah, sang sutradara pun berulang kali melempar kejutan (mayoritas adalah kejutan yang menyakitkan) secara cerdik, entah dengan bantuan gerak kamera dalam sinematografi garapan Ju Sung-rim, maupun departemen penyuntingan yang ditangani Han Mi-yeon.
(Netflix)
REVIEW - 12.12: THE DAY
12.12: The Day melengkapi trilogi tidak resmi mengenai gejolak politik Korea Selatan pada tahun 1979. Selepas The Man Standing Next (2020) yang menyoroti detik-detik penembakan Presiden Park Chung-hee, kemudian Land of Happiness (2024) yang memotret proses persidangan bagi kasus tersebut, film garapan Kim Sung-su (Asura: The City of Madness, Musa, City of the Rising Sun) ini memang terasa seperti klimaks. Puncak dari kekacauan suatu negeri yang membawa penonton tepat ke pusat peperangan.
Pasca pembunuhan terhadap presiden dan diberlakukannya darurat militer, Mayor Jenderal Chun Doo-gwang (Hwang Jung-min) bersama para pengikutnya yang tergabung dalam organisasi militer tidak resmi bernama Hanahoe, berniat melakukan kudeta. Langkah awalnya adalah memfitnah lalu menculik Jenderal Jeong Sang-ho (Lee Sung-min) selaku pimpinan angkatan darat Korea Selatan pada 12 Desember 1979.
Berlawanan dengan Yoo Jae-myung di Land of Happiness yang minim kata-kata, interpretasi Hwang Jung-min terhadap Chun Doo-hwan cenderung banyak bicara. Bukan monster dingin yang diam-diam menyengat dari balik kegelapan, melainkan laki-laki tanpa hati yang rela melakukan apa saja agar tak menerima penghinaan. Alhasil, merebut tampuk kekuasaan pun jadi pilihan.
Di kutub berlawanan ada Mayor Jenderal Lee Tae-shin (Jung Woo-sung), yang terinspirasi dari Jang Tae-wan, komandan garnisun di Seoul yang menolak tunduk pada kudeta Hanahoe. Walau situasi menyudutkannya tatkala divisi lain berhasil dipukul mundur, atau memang enggan mengulurkan bantuan akibat tindak pengecut para petinggi, Tae-shin tetap berdiri tegak. Jung Woo-sung membawakan sisi heroik karakternya dengan baik.
Keberhasilan 12.12: The Day menjadi film Korea Selatan dengan jumlah penonton terbanyak keenam sepanjang sejarah (lebih dari 13 juta) salah satunya dipicu oleh tren media sosial, di mana penonton mengunggah angka denyut jantung mereka. Wajar saja. Filmnya memang efektif mengobrak-abrik perasaan.
Penonton dengan pemahaman mengenai peristiwa sejarah yang terjadi tentu tahu hasil akhir dari konflik ini, lalu menyadari bahwa mereka sedang menyaksikan proses menuju kehancuran. Tapi serupa sang protagonis, naskahnya enggan menyerah begitu saja. Berbekal sorotan terhadap taktik Lee Tae-shin dan segelintir prajurit yang berada di pihaknya, penonton dibuat tanpa sadar melupakan pemahaman mereka akan fakta sejarah, kemudian berharap bahwa mungkin saja ada hasil berbeda.
Di kursi sutradara, Kim Sung-su mampu membangun intensitas lewat beragam situasi, dari konflik bersifat fisik seperti baku tembak di lapangan, hingga adu taktik dan mental yang bertempat di balik layar. 12.12: The Day adalah perjalanan menggedor jantung selama 140 menit yang bakal menyadarkan kita tentang seberapa mengerikannya ketika kekuatan dan kekuasaan digenggam oleh sosok yang menutup mata pada kemanusiaan.
(Catchplay, Vidio)
REVIEW - LAND OF HAPPINESS
"Negara sialan ini penuh dengan bajingan", ucap salah satu karakternya, menegaskan bahwa Land of Happiness merupakan kisah mengenai amarah akibat ketidakadilan para penguasa yang menempatkan rakyat jelata di posisi tidak berdaya. Sayangnya Choo Chang-min selaku sutradara juga tidak berdaya untuk melahirkan tontonan yang benar-benar menggigit, meski dibekali materi mumpuni serta jajaran pemain yang menghadirkan performa terbaik mereka.
Masalahnya satu: filmnya tidak pernah yakin ingin menjadi apa. Kisahnya diangkat dari penembakan terhadap Presiden Korea Selatan ketiga, Park Chung-hee, pada 26 Oktober 1979. Peristiwa tersebut telah beberapa kali diangkat ke layar lebar dalam beragam bentuk. Komedi satir di The President's Last Bang (2005), shakesperean kelam di The Man Standing Next (2020), dan 12.12: The Day (2023) yang mengambil jalur drama sejarah konvensional.
Park Tae-ju (Lee Sun-kyun dalam penampilan terakhirnya sebelum meninggal), anggota militer yang juga tergabung dalam KCIA (Korean Central Intelligence Agency) termasuk satu dari beberapa tersangka pembunuhan terhadap presiden, yang konon direncanakan oleh sang direktur, Kim Young-il (Yoo Seong-ju). Sebagai tentara yang patuh, atau lebih tepatnya kaku, Tae-ju mengaku hanya menuruti perintah atasan, yang baginya haram ditentang.
Jung In-hoo (Jo Jung-suk) ditunjuk sebagai pengacara Tae-ju yang mengemban tugas berat membebaskannya dari hukuman mati di pengadilan militer, yang persentase keberhasilannya amat kecil. Belum lagi adanya intervensi dari Mayor Jenderal Jeon Sang-doo (Yoo Jae-myung) selaku kepala tim investigasi gabungan yang senantiasa mengendalikan gerak-gerik hakim. Karakter sang jenderal dibuat berdasarkan Chun Doo-hwan, yang pada 12 Desember 1979 memimpin kudera militer dan menjadi Presiden Kora Selatan kelima.
Pengarahan Choo Chang-min, juga akting kedua aktor, terutama aura intimidatif Yoo Jae-myung, menciptakan hawa menyesakkan dalam interaksi perdana antara In-hoo dan Sang-doo, yang membuatnya tersaji begitu intens. Menilik momen tersebut, Land of Happiness seperti hendak menjadi drama politis serius nan kelam.
Tapi rupanya tidak. Penokohan In-hoo yang ada kalanya menyenggol ranah komedi (dibawakan dengan begitu baik oleh Jo Jung-suk), serta masuknya keluarga Tae-ju dalam lingkup cerita, menyematkan citra melodrama arus utama yang ringan dan bertujuan menguras air mata penonton kepada filmnya.
Masalahnya, supaya berhasil mengaduk-aduk perasaan, penonton harus dibuat terkoneksi lebih dulu dengan tokoh-tokohnya, yang mana gagal film ini lakukan. Sekali lagi, semua pelakon tampil solid. Hanya saja, naskahnya lemah dalam mengeksplorasi. Penelusuran terhadap sisi personal Tae-ju cuma dilakukan di permukaan, begitu pula hubungannya dengan In-hoo. Land of Happiness ingin menggambarkan kalau ikatan mereka berdua tak hanya relasi profesional belaka, namun luput menghadirkan interaksi yang lebih bermakna.
Tanpa eksplorasi memadai, air mata pun sulit ditumpahkan. Apalagi saat sang sutradara sendiri nampak ragu membungkus babak ketiganya sebagai melodrama mengharu biru, lalu memilih presentasi yang "less-dramatic", walaupun selama durasi filmnya yang menyentuh dua jam, musik dramatis hampir selalu mengiringi. Setidaknya, di balik krisis identitas tersebut, Land of Happiness masih efektif membuat kita mengutuk para penguasa lalim yang mengontrol masyarakat lewat rasa takut.
REVIEW - THE ZONE OF INTEREST
Layar hitam membuka The Zone of Interest, dan selama dua menit ke depan hanya itulah yang mata kita lihat, sementara musik atmosferik garapan Mica Levi terdengar menghantui. Mungkin ini semacam latihan sensoris bagi penonton, supaya terbiasa untuk membuka telinga lebar-lebar sepanjang 105 menit durasi filmnya.
Adaptasi novel berjudul sama karya Martin Amis ini memang proses latihan, baik bagi Jonathan Glazer selaku sutradara sekaligus penulis naskah yang ingin mengasah teknik bertuturnya, maupun penonton yang disuguhi cara berbeda dalam menikmati sinema.
Alkisah hiduplah Rudolf Höss (Christian Friedel) bersama sang istri, Hedwig (Sandra Hüller), beserta kelima anak mereka. Kebun yang terawat indah menghiasi sekeliling rumah Keluarga Höss. Di pagi hari sang ayah berangkat kerja, sang ibu mengurus rumah dibantu beberapa asisten, sedangkan para bocah berlarian di alam sekitar. Sewaktu sang ayah berulang tahun, anak dan istrinya memberi kejutan berupa kano.
"Sungguh hidup yang sempurna" adalah reaksi yang bakal hadir jika kita cuma berfokus pada indera penglihatan. Tapi The Zone of Interest adalah suguhan yang "menipu". Kisah sesungguhnya justru tidak pernah penonton saksikan langsung. Semua terjadi di belakang sebagai latar, dan kita hanya mendengarnya.
Rudolf Höss adalah komandan di kamp konsentrasi Auschwitz. Bukan cuma itu, rumahnya terletak tepat di samping kamp. Segala tawa menunjukkan kebahagiaan Höss sekeluarga terjadi bersamaan dengan teriakan penderitaan orang-orang Yahudi yang disiksa lalu dibakar hidup-hidup. Kita mendengar teriakan-teriakan tersebut. Sesekali lesatan peluru senapan turut terdengar. Entah apa (atau siapa) yang menjadi target, tapi besar kemungkinan satu nyawa melayang saat itu.
Tata suara garapan Tarn Willers dan Johnnie Burn diganjar nominasi Oscar, yang mana pantas mereka dapatkan. Suara-suara dari kamp konsentrasi terdengar menghantui, namun tetap dalam kapasitasnya sebagai "latar". Karena memang itulah poin utama dari suara teriakan tersebut. Sesuatu yang acap kali cuma sayup-sayup terdengar, tetapi mustahil dilewatkan oleh telinga.
Tentu Keluarga Höss mampu mendengarnya. Mereka hanya tidak peduli. Rudolph membahas desain krematorium baru bagi para tahanan seolah itu tak lebih dari obrolan bisnis biasa, sementara Hedwig dengan santai menjajal baju milik korban yang telah tewas.
Di satu titik, ibu Hedwig, Linna (Imogen Kogge), datang berkunjung. Berulang kali diucapkannya rasa syukur melihat kediaman sang puteri yang bagaikan taman surga. Di malam hari, Linna melihat asap keluar dari cerobong krematorium. Pemandangan itu amat mengguncang Linna yang buru-buru pergi sebelum pagi menjelang. Jika bersedia membuka mata, telinga, dan tentunya hati, mudah untuk menyadari betapa tidak manusiawinya Rudolf dan Hedwig.
Christian Friedel dan Sandra Hüller tampil meyakinkan sebagai manusia yang kehilangan kemanusiaan. Keserakahan dan ego menguasai keduanya, sampai luput menyadari lingkungan yang tak ideal itu pelan-pelan menggerogoti psikis anak-anak mereka. Si anak sulung sempat mengurung adiknya di rumah kaca. Dia tersenyum, menikmati rasa takut "si korban", sebagaimana ayahnya menikmati pembantaian yang ia lakukan.
Gaya bercerita Glazer yang menjauhi pakem standar bernarasi menjadikan The Zone of Interest sebuah presentasi yang tidak gampang dinikmati. Letupan emosi khas kisah holocaust dihapuskan, pun poin utama filmnya telah tersampaikan hanya dalam beberapa menit (format film pendek rasanya bakal jauh lebih efektif). Tapi selaku seniman yang sedang bereksperimen, Glazer sukses mencapai tujuannya.
The Zone of Interest berhasil membungkus cerita yang sejak pertama dikupas oleh Night Train to Munich (1940) entah sudah berapa ribu kali diangkat secara unik. Sewaktu formula visualnya mendadak berbalik 180 derajat dalam sekuen mengenai gadis cilik yang menyelundupkan buah ke kamp yang ditangkap memakai kamera thermal, Glazer membuktikan keliaran eksplorasinya.
Di paruh kedua, konflik internal keluarga meruncing ketika Rudolf naik pangkat dan mesti pindah ke Oranienburg. Hedwig menolak pergi meninggalkan rumah mereka di Auschwitz, sembari secara emosional membicarakan soal cita-cita dan impian. Hedwig memikirkan perihal kehidupan tatkala di dekatnya jutaan manusia mengakrabi kematian. Biarpun mengambil latar 80 tahun lalu, The Zone of Interest ternyata lebih relevan dari kelihatannya.
REVIEW - KILLERS OF THE FLOWER MOON
Sekuen pembuka Killers of the Flower Moon menggambarkan ritual suku Osage yang tengah resah menatap masa depan. Mereka berdoa seraya menengadah ke langit. Beberapa waktu berselang, muncul semburan kencang minyak dari tanah gersang. Di salah satu shot, Scorsese memakai low-angle untuk menangkap langit biru yang melatari peristiwa ajaib itu. Seolah dari atas sana Tuhan sedang mengulurkan bantuan.
Aroma religi dan spiritualitas memang selalu erat di karya sang sineas. Berikutnya kita berkenalan dengan Ernest Burkhart (Leonardo DiCaprio), yang sepulangnya dari medan perang, coba mencari peruntungan di Osage, dengan menjadi sopir bagi wanita setempat bernama Mollie (Lily Gladstone). Di tengah obrolan, Ernest melempar candaan dengan menyebut dirinya sebagai "handsome devil".
Killers of the Flower Moon adalah kisah tentang para iblis (baca: orang kulit putih), yang didorong keserakahan, berambisi merebut anugerah Tuhan dari tangan yang berhak. Aksi iblis tentunya penuh tipu daya, dan itu pula yang nampak dari sosok William King Hale (Robert De Niro), paman Ernest yang memposisikan diri selaku sahabat suku Osage, namun diam-diam berencana mengeruk harta mereka.
De Niro tampil sarat karisma dalam menghidupkan Hale. Kata-kata manisnya bak bisikan setan yang jago memanipulasi hati manusia. Dia piawai memutarbalikkan fakta, memainkan trik psikologis, kemudian mengadu domba, bahkan di antara kaumnya sendiri.
Mengadaptasi buku nonfiksi berjudul sama karya David Grann, naskah hasil tulisan Scorsese bersama Eric Roth mampu menjustifikasi durasi yang mencapai 206 menit. Tanpa durasi panjang tersebut, kita takkan secara utuh menyaksikan proses berkala saat kejahatan kulit putih yang diprakarsai oleh Hale terus berkembang. Diawali penipuan serta perampokan, pada akhirnya terjadi pembunuhan.
Satu demi satu nyawa suku Osage melayang. Mollie bahkan kehilangan seluruh anggota keluarga. Killers of the Flower Moon bukanlah whodunit. Filmnya tak menutupi jati diri si pelaku. Bahkan si pelaku sendiri tak berusaha terlalu keras menyembunyikan aksinya. Sewaktu Ernest membaca buku mengenai sejarah Osage, ia sampai pada kalimat "Can you find the wolves in this picture?". Tidak sulit menemukan barisan serigala di film ini, sebab mereka pun tak berusaha sembunyi.
Betapa mengerikan sebuah dunia di mana serigala haus darah maupun iblis licik melancarkan aksi di bawah terangnya cahaya matahari. Scorsese pelan-pelan mengikat emosi penontonnya. Secara bertahap kita dibawa memahami modus operandi para maling kulit putih. Semakin banyak pemahaman didapat, semakin hati ini terasa dicabik-cabik. Sekali lagi, proses di atas memerlukan waktu tidak sebentar untuk dipaparkan. Durasi nyaris tiga setengah jam pun kembali menunjukkan fungsinya.
Kengerian dunianya diperkuat oleh kepiawaian Scorsese, yang dibantu tata kamera garapan Rodrigo Prieto, kerap menghantarkan momen heartbreaking. Tiap nyawa tak berdosa melayang digambarkan sebagai mimpi buruk. Tragedi mengiris. Bukan sebatas "satu lagi kematian" tanpa arti. Musik ritmis gubahan Robbie Robertson turut membangun atmosfer mencekam, layaknya detak jantung yang terus berpacu.
Di jajaran pemain, Di Caprio dan Gladstone membawa dinamika menarik. Gladstone membuat karakter Mollie selaku korban tetap berdiri kokoh. Kadang matanya memancarkan amarah, ada kalanya giliran kesedihan yang terpantul dari situ, namun satu yang tak pernah lenyap adalah harga diri.
Sebaliknya, Ernest adalah pecundang yang dikuasai rasa takut. Lihat saat Ernest dikunjungi oleh Tom White (Jesse Plemons) si agen FBI. Di Caprio menampilkan kecemasan lewat segala tindak tanduknya. Gesturnya tidak beraturan, matanya enggan menatap sang lawan bicara. Ernest menyayangi keluarganya, tapi itu tak membuat sosoknya lebih baik. Justru sebaliknya. Dia terlampau bodoh (dan serakah) untuk menyadari betapa tindakannya malah mendatangkan dampak yang bertolak belakang dari "melindungi".
Jika Killers of the Flower Moon membuka penceritaan dengan harapan, penutupnya menampilkan pilihan narasi unik mengenai penyesalan. Lewat sekuen tersebut, sebagai kulit putih, Scorsese mengkritisi dosa sesamanya. Proses penyesalan kerap dijadikan motif dalam karyanya. Begitu pula di film ini. Bedanya, kali ini bukan si protagonis yang dihantui penyesalan, melainkan Scorsese sendiri.
REVIEW - BABYLON
"A love letter to cinema". Sebutan tersebut bakal banyak disematkan ke Babylon. Tapi karya terbaru Damien Chazelle ini sejatinya lebih rumit. Surat yang Babylon persembahkan bernuansa "love/hate". Ada cinta untuk sinema, ada pula kebencian bagi wajah kelam industrinya. Kedua sisinya mustahil dipisahkan. Sebatas menyoroti sebelah sisi adalah wujud cinta yang terlalu naif.
Apalagi filmnya mengambil latar 1920-an, tepatnya masa transisi film bisu menuju suara. Masa di mana rasisme, homofobia, kelalaian berbahaya di proses produksi, maupun hal-hal problematik lain masih amat mengakar di industri. Kita mengikuti perjalanan Manny Torres (Diego Calva), imigran asal Meksiko yang melakukan berbagai pekerjaan kasar bagi petinggi studio Hollywood. Membawa seekor gajah ke pesta misalnya. Di pesta tersebut Manny bertemu Nellie LaRoy (Margot Robbie), gadis yang percaya bahwa ia ditakdirkan menjadi bintang layar lebar.
Malam itu Manny langsung jatuh cinta pada Nellie. Saat sang gadis menari di bawah pengaruh kokain, tatapan Manny dipenuhi kekaguman. Dia sadar Nellie memiliki pesona bintang. Kesan yang hanya dapat muncul karena Margot Robbie sendiri punya pesona serupa. Robbie ibarat pusat gravitasi yang otomatis menarik atensi semua orang ke arahnya.
Malam itu pula yang menandai titik balik hidup dua karakternya. Sebuah tragedi justru membawa berkah bagi Nellie, yang mendapatkan peran perdananya. Sementara kebetulan lain menggiring Manny bersinggungan dengan Jack Conrad (Brad Pitt) si megabintang, yang membukakan pintu masuk ke industri untuknya.
Kemudian secara simultan, Babylon menggambarkan pengalaman perdana keduanya di lokasi syuting. Di situlah Chazelle kembali memainkan simfoni khasnya, berupa pengadeganan bertenaga yang mencerminkan progresi berapi-api musik jazz kesukaannya. "Movie set is the most magical place in the world", kata Jack, dan sekuen di atas menggambarkan betul rasa magis tersebut. Ajaib, indah, menggugah.
Ditemani lagi oleh dua kolaboratornya, Linus Sandgren sebagai penata kamera dan Justin Hurwitz selaku penggubah musik, Chazelle seperti menerapkan tiap ilmu yang didapat di La La Land, lalu menggandakannya. Semuanya lebih masif. Tracking shot dalam sekuen bacchanal yang menumpahkan keliaran pesta pora penuh seks dan kokain, berhasil menangkap pencapaian departemen artistiknya, dari kostum sampai kemeriahan desain produksi yang akan membuat Baz Luhrmann iri.
Beberapa lagunya terdengar bagai modifikasi nomor-nomor ikonik milik La La Land, yang terasa tepat menemani alurnya. Jangan tertipu oleh materi promosinya (yang berakhir jadi bumerang menilik perolehan pendapatan film ini), sebab Babylon bukan cuma selebrasi liar. Sesungguhnya ia tersaji lebih sensitif. Lebih intim. Serupa La La Land, ini juga jalinan romansa dua individu, yang tidak peduli ke mana pun kisahnya bermuara kelak, sudah saling mengabadikan kenangan kebersamaan di memori masing-masing.
Romansanya merangkum curahan cinta sekaligus benci terhadap industri yang Chazelle tuangkan dalam naskah. Industri memberi Manny dan Nellie kesuksesan, tapi industri juga mengubah mereka, pula menghancurkan kebahagiaan-kebahagiaan sederhana.
Pengarahan dinamis membuat durasi yang melebihi tiga jam terasa jauh lebih singkat, walau harus diakui, efektivitas cerita akan meningkat bila Chazelle bersedia menekan ambisinya. Alurnya begitu luas. Selain tiga nama yang telah disebut sebelumnya, masih ada Sidney Palmer (Jovan Adepo), pemain trompet di grup musik jazz yang menembus Hollywood dan harus bersenggolan dengan rasisme, juga Lady Fay Zhu (Li Jun Li) si penyanyi kabaret lesbian.
Ketika konflik yang dihadapi Sidney dan Lady Fay masih esensial, lain halnya dengan kemunculan James McKay (Tobey Maguire) si bos gangster eksentrik yang melandasi babak ketiganya. Di situ Babylon melangkah terlampau jauh dalam menyusuri ruang gelap Los Angeles, menyentuh area yang tak diperlukan terkait paparannya mengenai industri perfilman.
Beruntung Babylon berhasil menemukan kembali pijakannya di fase konklusi. Fase yang menegaskan, sebesar apa pun kejengahan Chazelle pada wajah suram industri, takkan mengungguli cintanya. Dia, dan para pecinta sinema lain, akan terus setia duduk di ruang gelap, menatap khidmat ke arah layar perak tempat kenangan diabadikan. Sebab di sana, selain menonton para pelakon, seringkali kita pun melihat diri kita sendiri. Melihat wajah yang mungkin hanya kita seorang yang tahu. Sungguh magis bagaimana layar sinema dapat menjadi ruang publik sekaligus ruang intim secara bersamaan.
REVIEW - THE WOMAN KING
Mengangkat soal Agojie, prajurit wanita dari kerajaan Dahomey, The Woman King adalah spektakel yang peduli pada cerita dan karakter, sebagaimana ia peduli pada kemampuan menghibur lewat aksi. Proses realisasinya melalui berbagai penolakan. Sebelum Black Panther (2018) datang dengan Dora Milaje yang merupakan versi fiktif dari Dahomey, suguhan 50 juta dollar berlatar kerajaan Afrika dengan cast kulit hitam dianggap kurang menguntungkan bagi banyak studio. Proses berliku itu nyatanya tidak sia-sia.
Pada 1823, Jenderal Nanisca (Viola Davis) memimpin pasukan Agojie guna membebaskan wanita-wanita Dahomey yang diperbudak oleh Kerajaan Oyo. Dahomey pun sebenarnya berpartisipasi dalam bisnis perbudakan (menjual pasukan musuh yang tertangkap misalnya), dan Nanisca menentang itu. Dia vokal meyakinkan Raja Ghezo (John Boyega) agar beralih ke penjualan sawit sebagai cara menyokong perekonomian. Bagi Nanisca, meraup keuntungan dari menjual manusia membuat Dahomey tak ubahnya orang-orang kulit putih yang memperbudak rakyat Afrika.
Di waktu bersamaan, Agojie tengah melatih calon prajurit baru. Salah satunya Nawi (Thuso Mbedu), yang diserahkan sang ayah kepada raja akibat selalu menolak perjodohan. Nawi berlatih di bawah bimbingan Ajogie veteran bernama Izogie (Lashana Lynch). Satu hal yang mesti ia latih adalah keengganannya dikontrol. Di satu sisi, itu kelebihan. Nawi rela berjuang demi kebebasan. Tapi tanpa kendali diri, hasrat itu bisa berubah jadi kelemahan berupa ketidakdisiplinan.
Aksi The Woman King bersumber dari pertikaian antara Dahomey dengan Oyo, yang telah bertahun-tahun menguasai mereka. Penolakan Nanisca atas jual-beli pudak praktis menyulut gesekan dua belah pihak. Di bawah pengarahan Gina Prince-Bythewood (Love & Basketball, Beyond the Lights, The Old Guard) dengan pengalamannya di berbagai bidang olahraga terutama tinju, The Woman King punya aksi hard-hitting yang tampak meyakinkan di depan kamera. Pilihan shot sang sutradara menangkap jelas rangkaian koreografi uniknya. Agoije bersenjatakan parang dan tombak, namun saat diperlukan, menghunuskan kuku ke wajah lawan pun dapat dilakukan.
Satu yang perlu dibenahi adalah penempatan aksi dalam naskah buatan Dana Stevens (City of Angels, Safe Haven, Fatherhood). Ketimbang menumpuk di 30-45 menit akhir, intensitas bakal lebih terjaga bila disebar secara merata. Pun ada kalanya progresi alur berlangsung kurang mulus, yang makin terasa akibat terbata-batanya departemen penyuntingan.
Tapi di luar hal-hal di atas, naskah milik Stevens unggul dalam upayanya melempar kisah empowerment. Agojie adalah pasukan pemberani. Ya, sebagaimana prajurit kerajaan lain, mereka dituntut berani turun ke medan perang, namun risiko yang dihadapi lebih besar. Bila tertangkap, pasukan pria akan dibunuh atau diperbudak. Pasukan wanita mengalami semuanya, tapi risiko lain turut menanti. Pemerkosaan. Dijadikan alat pemuas nafsu pria. Sebelum itu terjadi, Agojie yang tertangkap memilih bunuh diri.
Karakterisasi yang Stevens tampilkan juga kompleks. Nanisca adalah jenderal yang mau berkorban demi kerajaan, tapi bukan patriot buta. Dia melindungi, namun tak ragu bersikap keras. Pergulatan dengan trauma masa lalu membuat langkahnya kerap terganjal, psikisnya terguncang, tapi keberhasilan mengatasi itu jadi alasan figurnya mengagumkan. Viola Davis di usia 57 tahun nyatanya tetap meyakinkan sebagai jenderal tangguh, dan seperti biasa, sang aktris piawai mengatasi kompleksitas emosi.
Pilihan latar tempat dan waktu memungkinkan departemen artistiknya ikut bersinar. Kostum, desain produksi, hingga musiknya muncul dengan identitas unik yang jarang kita temui di blockbuster Hollywood. Beberapa aktivitas kultural sempat ditampilkan. Kadang nampak sakral, ada kalanya meriah, tapi pastinya, selalu indah. Lalu sejenak kita diajak mampir ke pemukiman orang kulit putih yang percaya dirinya lebih beradab. Apa yang terlihat? Ruang-ruang kumuh, pakaian dekil, serta individu yang menggila akibat alkohol. Jadi siapa "orang-orang liar" yang sesungguhnya?
REVIEW - THE BOOK OF FISH
Film atau drama saeguk identik dengan nuansa glamor. Tata artistik serta busana mewah dengan warna cerah seolah jadi kewajiban. Tengok saja The King and the Clown (2005) buatan sutradara Lee Joon-ik yang sampai sekarang bertengger di posisi 10 daftar film Korea Selatan paling laris sepanjang masa. Selang 17 tahun, The Book of Fish membawa Joon-ik menyambangi genre tersebut untuk kali keempat.
Tapi kali ini mewahnya kerajaan diganti area pantai Heuksando (Pulau Gunung Hitam), sedangkan ragam warna ditukar dengan sinematografi hitam putih (warna lain cuma muncul di tiga adegan) hasil tangkapan kamera Lee Eui-tae (kolaborator Joon-ik di Sunset in My Hometown). Karena The Book of Fish bukan mengenai keglamoran. Bukan juga soal gelimang harta. Tapi proses belajar yang membawa karakternya makin merunduk, seiring bertambahnya ilmu yang mengisi kepala mereka.
Berlatar Joseon tahun 1801, seorang cendekiawan bernama Jeong Yak-jeon (sosok sejarah asli, diperankan oleh Sol Kyung-gu) diasingkan ke Heuksando akibat memeluk Katolik. Di masa itu, orang-orang Katolik dipersekusi karena dianggap mengkhianati kepercayaan konfusianisme yang jadi landasan bangsa.
Meski berstatus "orang pandai", justru Yak-jeon yang menemukan banyak ilmu baru di Heuksando. Salah satunya tentang ikan, yang ia dapat dari Chang-dae (karakter fiktif, diperankan oleh Byun Yo-han), nelayan yang biarpun memiliki perspektif konservatif perihal kepercayaan, sejatinya tekun belajar. Dia jauh lebih berpengetahuan dibanding warga desa lain.
Cendekiawan tua liberal, nelayan muda cerdas konservatif. Kombinasi menarik, yang masing-masing penokohannya penuh kontradiksi bila dilihat memakai stigma publik (Bagaimana bisa yang tua liberal sedangkan yang muda konservatif? Bagaimana bisa rakyat jelata gemar menenggelamkan diri dalam literatur?). Naskah buatan Kim Se-gyeom seolah menantang arogansi penonton dan karakter, yang merasa serba tahu.
Awalnya, kedua protagonis masih dikuasai arogansi masing-masing. Yak-jeon berjalan dan bicara sebagaimana bangsawan di tengah para jelata, Chang-dae mencap Yak-jeon "pengkhianat sesat". Seiring bertambahnya interaksi, pertukaran ilmu pun terjadi. Chang-dae minta dijadikan murid, Yak-jeon minta diajari tentang ikan guna menulis ensiklopedia kehidupan laut.
The Book of Fish adalah film tentang "belajar". Jika mengacu ke anggapan "film bagus bisa membawa penonton berada di posisi karakternya", maka film ini bagus. Serupa dua tokoh utama, kita dibuat merasa tidak tahu apa-apa, kemudian tertarik ikut belajar. Belajar tentang ikan, tentang sistem yang mencekik rakyat (orang mati dan tunas pinus yang tumbuh secara liar dikenai pajak), hingga tentang tujuan dari proses belajar itu sendiri.
Walau sekilas tampak seperti arthouse, baik dari premis maupun pilihan artistik, nyatanya The Book of Fish amat ringan. Selipan humor efektif, interaksi renyah dua protagonis, sampai kepiawaian sutradara bermain rasa dibantu iringan musik garapan Bang Jun-seok yang memperkuat dramatisasi, semua mencerminkan sensitivitas khas sineas Korea Selatan dalam melahirkan karya bergizi yang tetap bisa dinikmati kalangan luas.
Mengingat sentral ceritanya adalah soal belajar, kesan berproses pun wajib filmnya munculkan. Akting Sol Kyung-gu dan Byun Yo-han berperan besar dalam tercapainya hal itu. Terutama Yo-han, yang mampu menangani pendewasaan Chang-dae. Di paruh akhir, walau batin masih bergejolak, ia bukan lagi nelayan muda naif. Departemen artistiknya turut membantu. Sinematografi dan tata riasnya melebur amat baik, sehingga proses penuaan karakter berjalan natural. Pilihan warna hitam putih mengurangi kemungkinan kejanggalan tata rias terekspos.
Penceritaannya memang tidak sempurna. Subplot seputar pemberdayaan wanita tampil bak pernak-pernik yang mampir sejenak untuk kemudian dilupakan. Pun ada kesenjangan antara paruh awal dan akhir. Sejam keduanya tidak buruk, tampil layaknya drama inspirasional generik yang mengandung hati, tapi sejam pertamanya merupakan pencapaian luar biasa. Hangat, menyenangkan, mencerahkan.
(Klik Film)
REVIEW - SPENCER
"A fable from a true tragedy" adalah bagaimana Spencer mencap dirinya. Bukan biopic, melainkan drama sejarah spekulatif tentang Diana Frances Spencer alias Puteri Diana. Tragedi yang dimaksud pun bukan kematian Diana. Jauh sebelum ia kehilangan nyawa, tapi saat itu, jiwanya yang pelan-pelan mati, di tengah kemegahan yang mengubur kemanusiaan.
Latarnya tahun 1991, di mana keluarga kerajaan Inggris berkumpul selama tiga hari di Sandringham House untuk merayakan Natal. Diana (Kristen Stewart) datang terlambat, yang mana sudah semua orang duga. Bagi keluarga kerjaan, Diana bak biang masalah. Mayor Gregory (Timothy Spall) selaku kepala staf Sandringham bertugas mengawasi sang Putri Wales.
Figur intimidatif Gregory kadang tampak seperti sosok misterius dari film horor, yang mengawasi dari jauh dengan tatapan tajam, kemudian bisa muncul tiba-tiba. Dia cocok jadi salah satu karakter The Shining (1980). Pablo Larrain (Jackie) selaku sutradara pun rasanya banyak mengambil inspirasi dari karya Kubrick tersebut. Dapat dilihat dari nuansa atmosferik dalam suatu bangunan megah, hingga beberapa sekuen mimpi (stylish, walau tak jarang mendistraksi keintiman rasa). Jadilah sebuah drama psikologis yang menggambarkan kemelut batin karakter layaknya teror di film horor.
Karya Kubrick lainnya, Barry Lyndon (1975), tidak ketinggalan memberi pengaruh bagi departemen artistik. Bangunan set megah maupun deretan baju mewah nyatanya tidak menghadirkan kebahagiaan untuk Diana. Pasca 10 tahun menikahi Pangeran Charles (Jack Farthing), kejengahan atas tetek bengek tradisi hingga perselingkuhan sang suami justru makin menggerus kondisi psikisnya. Dia menderita bulimia, pula kerap melukai diri (Diana "mencubit" lengannya memakai tang jadi pemandangan paling menyakitkan di sini).
Larrain mengurung penonton bersama Diana di bangunan glamor nan luas yang ironisnya terasa begitu sempit dan menyesakkan bagi si protagonis. Kepenatan Diana, yang cuma mendapat kebahagiaan dari kedua buah hati, Pangeran William (Jack Nielen) dan Pangeran Harry (Freddie Spry), ikut kita rasakan. Sementara Maggie (Sally Hawkins) si royal dresser jadi satu dari sedikit orang yang bisa disebut "teman" oleh Diana. Kunjungan bersama Maggie ke pantai terasa menyentuh juga karena alasan serupa. Kita bisa merasakan kebahagiaan Diana yang akhirnya menghirup udara segar, terbebas dari kurungan rutinitas.
Selain tampil cantik lewat efek grainy hasil tangkapan kamera Super 16mm (format 35mm turut dipakai di beberapa adegan minim cahaya), sinematografi arahan Claire Mathon (Portrait of a Lady on Fire, Petite Maman) pun berperan dalam proses transfer emosi. Sesekali shaky cam diterapkan, tatkala kamera mengikuti kegundahan karakternya. Musik garapan Jonny Greenwood pun substansial mewakili kecemasan Diana. Kadang terdengar bagai noir, kadang thriller, kadang horor. Sedangkan kesan "horor dalam kemewahan" dihidupkan oleh bunyi-bunyian yang terdengar seperti kristal yang saling bersinggungan.
Tentu semua takkan berarti tanpa akting Stewart. Kemunculan awalnya saat Diana tersesat di pedesaan memang bak karikatur, tapi setelahnya, ia melesat. Stewart selalu piawai memunculkan ketidaknyamanan, dan itulah mengapa sang aktris sempurna memerankan Diana dalam naskah milik Steven Knight (Dirty Pretty Things, Locke). Stewart adalah perwujudan kecemasan individu atas hilangnya jati diri, seiring lenyapnya kebebasan menjadi manusia.
(Klik Film)
REVIEW - THE LAST DUEL
The Last Duel diangkat dari buku non-fiksi The Last Duel: A True Story of Trial by Combat in Medieval France karya Eric Jager. Latarnya tahun 1386, tapi ini bukan pengingat mengenai masa lampau, melainkan tamparan, bahwa dibanding enam abad lalu, cara masyarakat menyikapi kasus pemerkosaan, termasuk pendefinisian terhadapnya, belum mengalami perkembangan signifikan.
Sebelum menyelami isunya, satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah tata artistik. Desain produksinya melahirkan latar medieval kelas satu, yang mana makin jarang kita temui, pada era di mana film medieval berbiaya ratusan juta dollar mendekati kepunahan (situasi yang sejatinya bisa dipahami melihat remuknya pendapatan The Last Duel).
Naskah buatan Nicole Holofcener bersama Matt Damon dan Ben Affleck, yang kembali berduet menulis sejak Good Will Hunting (1997), tampil bak Rashomon (1950), membagi kisah menjadi tiga babak, guna mengolah konsep "perspektif". Tapi berbeda dengan karya Akira Kurosawa tersebut, di sini penonton diberi tahu mana kebenaran sesungguhnya.
Tiga figur utamanya adalah Jean de Carrouges (Matt Damon), Jacques le Gris (Adam Driver), dan Marguerite de Carrouges (Jodie Comer). Kerap terjun ke medan perang bersama, Jean dan Jacques adalah kawan baik. Setidaknya sampai perbedaan nasib merenggangkan keduanya. Karir Jacques moncer pasca jadi orang kepercayaan Count Pierre (Ben Affleck), sebaliknya, Jean terlilit masalah finansial.
Konflik meruncing setelah Marguerite, istri Jean, mengaku diperkosa oleh Jacques. Melalui tiga babak yang masing-masing menyoroti sudut pandang ketiga karakternya, kita dibawa menelusuri kebenaran. Benarkah Jacques memerkosa Marguerite?
Apabila Rashomon menilik relativitas kebenaran lewat ketiadaan jawaban pasti, maka The Last Duel sebaliknya. Semua versi merupakan kebenaran, dipisahkan oleh perbedaan sudut pandang yang diciptakan misogini. Bagi satu karakter, perkosaan tak terjadi sebab memang itu yang ia percaya. Di mata karakter lain, ia tengah membela martabat wanita, karena begitulah isi kepalanya. Tidak ada kebohongan. Hanya ada kebodohan.
Bukankah perihal serupa masih kerap terjadi hari ini? Pria merasa sudah meninggikan wanita walau sejatinya tengah merendahkan mereka. Di ranah seksualitas, pria mengesampingkan consent, menutup mata atas penolakan dengan anggapan "Dia mau tapi malu", atau "merupakan tugas istri melayani suami". Alhasil, pertanyaan sesungguhnya bukan "Apakah ada pemerkosaan?", melainkan, "Ada BERAPA pemerkosaan?".
Segala hal di atas, ditambah penyalagunaan sisi agama yang meringankan pelaku sekaligus memberatkan korban, menghadirkan paralel dengan era sekarang. Sungguh keterlaluan saat manusia modern seperti kita masih bersikap seperti mereka, yang hidup saat pemerkosaan dilihat sebagai aksi kriminal terhadap suami selaku "pemilik properti".
Naskahnya tidak asal membagi babak. Siapa pertama, kedua, dan ketiga, memiliki maksud. Bukan saja demi twist, pula menyampaikan, bahwa kita harus selalu memercayai korban terlebih dahulu. Setiap babak pun tampil efektif berkat akting kuat jajaran pemain. Comer, Damon, dan Driver memberi perbedaan bagi karakter masing-masing, tergantung bagaimana si "pemilik babak" memandang karakter mereka.
Salah satu contoh terbaik adalah ketika Jacques mendadak mengunjungi Marguerite. Comer dan Driver melakoni dua interaksi berisi baris kalimat yang kurang lebih sama, tetapi dengan penanganan berbeda terhadap karakter masing-masing. Perubahannya subtil namun pasti.
Judul The Last Duel merujuk pada tantangan Jean pada Jacques untuk berduel sampai mati sebagai bentuk pengadilan resmi, yang jadi judicial duel terakhir sepanjang sejarah (masih ada duel sampai 1547, namun bukan dalam rangka pengadilan legal). Filmnya mengandung beberapa sekuen peperangan berdarah, yang membuktikan masih piawainya Ridley Scott menyutradarai genre ini, namun "duel terakhir" adalah yang paling intens.
Sebab di situ kita terlibat secara emosional. Bukan pada dua pria yang sedang beradu fisik, melainkan si wanita yang batinnya bergejolak, kala lukanya justru dijadikan ajang pembuktian maskulinitas. Ibaratnya seperti para aktivis berstandar ganda, yang daripada benar-benar memedulikan korban, lebih mementingkan peningkatan citra.
(DISNEY+ HOTSTAR)



%20(1).png)

.png)

.png)

.png)

%20(1).png)

.png)

.png)

%20(1).png)

.png)





.png)