REVIEW - MUNKAR
Saya tidak menganggap "aji mumpung" di film sebagai dosa besar. Sebuah industri yang eksis dengan tujuan cari uang, memilih mengikuti tren untuk mendatangkan keuntungan tidaklah bisa dipersalahkan. Karena itulah saya menolak mengkritik Munkar dengan alasan filmnya ingin memanfaatkan popularitas horor religi yang tengah naik daun, ditambah embel-embel "terinspirasi dari urban legend Jawa Timur".
Saya mengkritik Munkar karena para pembuatnya tidak menambahkan value apa pun dalam upaya aji mumpung mereka. Horor keempat Anggy Umbara (tanpa menghitung Jin & Jun yang lebih dekat ke komedi fantasi) dalam tiga tahun terakhir ini sebatas produk asal jadi yang bak dibuat secara autopilot.
Bahkan naskah buatan Evelyn Afnilia (Teman Tidur, Pamali: Dusun Pocong) tidak berusaha menyertakan adegan pembuka, yang perannya sangat esensial untuk menggaet atensi penonton. Kita langsung diajak melihat keseharian di Ar-Rahim, sebuah pondok pesantren khusus putri, yang baru saja kedatangan santri baru bernama Herlina (Safira Ratu Sofya).
Herlina yang dipaksa mondok oleh sang ayah kesulitan beradaptasi, dan itu menjadikannya korban perundungan oleh beberapa santri. Hanya Ranum (Adhisty Zara) yang mau berteman dengannya. Hingga film usai, saya gagal memahami kenapa karakter Ranum harus ada, selain agar Munkar bisa memasukkan Zara di jajaran cast untuk menambah star power. Ranum hanyalah "middleman" antara pelaku dan korban perundungan. Tanpanya, cerita tetap dapat bergulir dengan normal.
Singkat cerita, perundungan terhadap Herlina makin parah hingga membuatnya mengalami kecelakaan fatal. Selang beberapa waktu, pasca ia kembali ke pondok dalam kondisi aneh, satu per satu santri pelaku perundungan mulai tewas secara mengenaskan.
Kesan bahwa Munkar dibuat asal-asalan nampak betul ketika filmnya mulai menebar teror. Buildup-nya selalu sama. Seorang santri hilang, temannya mencari di tengah kegelapan pondok yang itu-itu saja dengan tempo yang seolah dipanjang-panjangkan, lalu hadir jump scare generik di mana sang hantu sekadar setor muka, yang senantiasa diawali dengan kalimat "Assalamualaikum + nama santri yang hendak dibunuh". Sungguh hantu yang santun nan sopan.
Pengarahan Anggy dan penulisan Evelyn sungguh malas, sampai ekspresi creepy Safira Ratu Sofya (poin terbaik film ini) gagal dimaksimalkan. Sekalinya kreativitas coba diperas, yang muncul justru salah satu adegan paling konyol di horor lokal dalam beberapa waktu terakhir. Saya menyebutnya "adegan salat fast-forward". Jika oleh pembuatnya momen itu dianggap unik, saya tidak heran kualitas horor kita cenderung stagnan.
Di ranah penceritaan, Munkar sejatinya menyimpan potensi melempar kritik pada pondok pesantren, yang alih-alih berhasil mendidik moral santri, justru menutup mata soal kasus perundungan demi menjaga nama baik institusi.
Sayang, eksplorasi naskahnya masih dangkal. Bahkan di satu titik, sewaktu korban makin banyak berjatuhan, filmnya menaruh simpati terlalu besar kepada pelaku perundungan dengan menyoroti bagaimana mereka, sebagai sahabat dekat, enggan meninggalkan satu sama lain. Munkar seolah membela para pelaku. Saya yakin itu ketidaksengajaan, yang mana membuktikan betapa lemah naskahnya.
Memotret perundungan sebagai isu kompleks yang tidak hitam putih sah saja dilakukan. Tapi ketimbang berusaha mengeksplorasi hal-hal pemicu fenomena itu secara mendalam (kegagalan institusi pendidikan, pola asuh buruk dari orang tua, dll.), naskahnya lebih memilih memutar otak untuk melahirkan berbagai twist bodoh yang menumpuk di penghujung durasi.
REVIEW - KUTUKAN CAKAR MONYET
Kalian suka monyet? Kalian suka siluman monyet? Kalian suka melihat siluman monyet bernyanyi? Kalian suka siluman monyet bernyanyi sambil menari? Kalau jawabannya "tidak", berarti kalian harus pikir ulang untuk menonton Kutukan Cakar Monyet. Tapi kalau jawabannya "iya", kalian harus pikir ulang jawaban tersebut.
Filmnya diadaptasi dari The Monkey's Paw buatan W. W. Jacobs. Tidak ada adegan musikal siluman monyet di sana. Bahkan tidak ada penampakan siluman monyet, karena cerita pendek itu lebih kental elemen psikologis ketimbang horor mistis. Beginilah nasib sebuah karya yang masuk domain publik. Ada kalanya kebebasan mengadaptasi melahirkan karya baru dengan kreativitas tinggi, tapi tidak jarang yang hadir justru kengawuran tinggi seperti Kutukan Cakar Monyet.
Menurut jadwal, filmnya diputar pukul 17:15. Saya menunggu agak jauh dari pintu studio. Sampai pukul 17:20 tidak ada pemberitahuan. Karena penasaran, saya pun mendekat, dan ternyata pintu sudah dibuka. Seolah pihak bioskop sendiri tidak tega menyuruh orang menonton film buatan Ferry L. ini.
Film pun dimulai. Sosok yang pertama muncul adalah Arswendy Bening Swara, disusul Unique Priscilla. Keduanya berkelahi memperebutkan cakar monyet, menabrak kaca yang dibuat memakai CGI berkualitas monyet, lalu jatuh dari lantai atas sebuah rumah. Arswendy tewas, Unique nantinya bakal muncul lagi sebagai sesosok mumi. Semua terjadi dalam 30 detik, dan dalam 30 detik itu saya langsung tahu Kutukan Cakar Monyet bukan horor biasa.
Rumah pasutri tragis itu berpindah jadi milik Roy (Oka Antara) dan Amara (Aurelie Moeremans). Roy sedang mengejar proyek besar, sedangkan Amara tengah hamil. Amara adalah yatim piatu. Kini, setelah sukses menikahi pria sukses (kita tidak diberi tahu pekerjaan Amara), dia dipanggil untuk memberi motivasi pada anak-anak panti asuhan tempatnya tinggal dulu. Kejadian tersebut sama sekali tidak punya pengaruh apa pun pada ceritanya.
Intinya, Roy menemukan cakar monyet yang terselip di sofa, kemudian sadar bahwa cakar itu bisa mengabulkan tiga permintaan. Dari mana ia tahu? Suatu malam Roy menonton televisi, dan yang muncul di layar adalah video klip siluman monyet menari sambil menyanyikan lagu tentang kesaktian cakarnya.
Semakin banyak permintaan seseorang dikabulkan, hidupnya akan semakin hancur. Sebuah premis menarik yang W. W. Jacobs pakai untuk menghantarkan teror psikologis mengenai sisi kelam manusia. Kutukan Cakar Monyet menggantinya dengan rangkaian kemunculan siluman monyet berwajah mirip pantat hitam dengan dua mata merah yang bersinar.
Penampakan sang siluman seringkali terasa asal. Bahkan sebelum tahu apa kegunaan cakar itu, Roy sudah dihantui. Jika tujuan siluman monyet adalah mendorong korbannya agar mengucapkan permintaan, bukankah perbuatannya tadi bakal berujung sebaliknya? Mungkin siluman monyet satu ini kurang cerdas. Beruntung, Roy jauh lebih tidak cerdas dan tetap nekat ingin permintaannya dikabulkan.
Kenapa Roy sempat menyuruh sang mantan (Fergie Brittany) meminta ke cakar, padahal dia masih punya jatah dua permintaan? Kenapa seperti ada beberapa menit adegan yang hilang di tengah teror yang terjadi saat Roy menggelar pesta di rumahnya? Kenapa Oka Antara dan Aurelie Moeremans mau menerima tawaran bermain di sini? Apakah bayaran yang diterima sepadan dengan keharusan melakoni adegan-adegan konyol seperti saat Amara diperkosa siluman monyet? W. W. Jacobs mungkin sedang menangis di dalam kuburnya.
REVIEW - TEMAN TIDUR
Teman Tidur adalah horor lokal paling aneh tahun ini. Bukan karena ceritanya, mengingat ia punya alur klise mengenai perundungan berlatar SMA. Keanehan terletak pada aspek teknis, baik audio maupun visual. Antara pembuatnya memang punya visi "nyentrik", atau terdapat kerusakan data selama lima tahun penantian rilis (film ini diproduksi pada 2018).
Karakter utamanya adalah Amanda (Givina Lukitadewi), siswi pindahan yang tinggal di asrama supaya fokus mempersiapkan diri jelang olimpiade biologi. Sewaktu Amanda jadi korban perundungan, bantuan datang dari Claudia (Gesya Shandy), yang merupakan anggota geng Adam (Baskara Mahendra), putera ketua alumni sekolah. Amanda pun berteman dengan Adam dan kawan-kawan, tanpa tahu bahwa mereka dicurigai sebagai penyebab di balik keputusan bunuh diri seorang siswi bernama Kelly (Mutiara Sofya).
Harus saya akui, keputusan naskah buatan Evelyn Afnila (Keluarga Tak Kasat Mata, Pamali), Gea Rexy (Dear Nathan, Qodrat), dan Asaf Antariksa (Qodrat, Iblis dalam Kandungan), untuk membuat Amanda berteman dengan geng Adam alih-alih menjadikannya korban mereka, cukup unik. Pun di luar satu dosa besar di masa lalu, mereka bukan sosok "pengganggu" bagi siswa lain. Bahkan mereka sendiri jadi korban penindasan oleh tuntutan-tuntutan orang tua. Misal Adam yang dipaksa masuk IPA, atau Claudia yang mengubur cita-cita sebagai atlet renang.
Sayang, naskahnya mengembangkan elemen-elemen di atas guna melahirkan penelusuran kompleks mengenai isu perundungan. Tapi apa pun kekurangan terkait penceritaan, tidak ada apa-apanya dibanding kejanggalan departemen teknis.
Ray Nayoan (Jelita Sejuba: Mencintai Kesatria Negara) selaku sutradara gemar betul menerapkan gerak lambat, termasuk di momen yang tak memerlukan itu. Di beberapa adegan dengan gerak lambat, suara dihilangkan, digantikan oleh musik yang lagi-lagi tujuannya patut dipertanyakan. Saking tidak jelas intensinya, saya curiga ada fail audio yang hilang di pasca produksi, lalu untuk mengakalinya, pilihan nyeleneh tadi pun dipakai.
Atau jangan-jangan sang sutradara memang bercita-cita menjadi Zack Snyder? Karena selain gerak lambat, Teman Tidur sempat secara tiba-tiba memakai lens flare, serta pewarnaan yang cenderung mute di beberapa titik. Pewarnaannya inkonsisten. Kadang normal, dengan warna-warna sebagaimana di dunia nyata, sebelum mendadak (baca: di shot berikutnya) warna itu memudar.
Di babak kedua, karakternya memutuskan mengunjungi dukun karena teror arwah Kelly telah merenggut nyawa beberapa dari mereka. Sesampainya di kediaman si dukun, saya kaget melihat latarnya yang dibuat menggunakan CGI berkualitas butut. Ini rumah dukun. Bukan gubuk tani Thanos. Apa perlunya CGI?
Setidaknya Teman Tidur menolak membohongi penonton. Judulnya adalah bentuk kejujuran. Diisi penampakan hantu tak mengerikan, shot demi shot yang berlangsung lebih lama dari kebutuhan, hingga klimaks absurd minim intensitas, membuat film ini pantas dijadikan teman tidur. Walaupun judul "Obat Insomnia" rasanya lebih cocok.
REVIEW - TANPA AMPUN
Bagaimana bisa ada orang membaca naskah Tanpa Ampun lalu berkata, "Ya, ini layak diproduksi"? Sebuah naskah film aksi tanpa kreativitas dalam rumusan aksinya. Lebih mendasar lagi, sebuah naskah yang tak mampu menentukan sudut pandang penceritaan.
Bagaimana bisa naskah seburuk itu merupakan hasil tulisan seorang M. Yusuf? Benar bahwa beberapa tahun terakhir kurang bersahabat baginya. Setelah dikenal sebagai salah satu sutradara horor paling underrated pada awal hingga pertengahan 2010-an, The Curse (2017) menandai penurunan bertahap dalam kualitas karyanya. Tapi tetap sulit dipercaya ia membidani karya seburuk Tanpa Ampun. Film ini adalah titik nadir.
Kisahnya terinspirasi dari kasus perampokan money changer oleh warga negara Rusia di Bali pada tahun 2019. Bisa ditebak, Tanpa Ampun punya tujuan menggambarkan heroisme kepolisian. Tapi tugas sederhana itu gagal dilakukan. Saya dibuat bertanya-tanya, "Siapa protagonis film ini?". Sungguh aneh saat pertanyaan tersebut sampai muncul pada kisah dengan sisi "hitam-putih" sejelas ini.
Sepanjang 90 menit durasinya, Tanpa Ampun malah lebih sering mengajak penonton menghabiskan waktu bersama keempat perampok, menyaksikan mereka berpesta, menari dengan konyol, sembari membicarakan uang, uang, dan uang. Menurut hasil penyelidikan polisi, para perampok jarang berkumpul demi menghindari kecurigaan, namun lucunya mereka selalu bersama di tiap kemunculannya.
Sedangkan dari pihak kepolisian ada sebuah tim yang terususun atas lima sahabat, masing-masing tanpa kepribadian jelas, bahkan mengingat nama mereka pun sulit. Kita melihat mereka berlatih sekali, merayakan ulang tahun salah satu anggota yang secara tidak langsung meneriakkan, "Look, the birthday boy's gonna die!", lalu kelimanya lebih banyak absen dari penceritaan.
Jangankan mengenali apalagi menjalin ikatan emosi, sebatas membuat lima karakter utamanya tidak nampak bodoh saja naskahnya kesulitan. Menurut jajaran "prajurit spesial" ini, pelaku perampokannya amat cerdas. Alasannya? Tidak ada sidik jari tertinggal di TKP. Bukankah itu prinsip dasar kejahatan terencana?
Barisan kalimat di naskah M. Yusuf memang luar biasa ajaib. Didukung akting kaku para aktor, otak saya pun makin berguncang hebat. Kenapa pula memberi jatah kalimat terbanyak, termasuk monolog panjang di sebuah adegan pengarahan misi, untuk si kapten yang bukan diperankan aktor sungguhan (Endang Tri Purwanto adalah Kasubdit Polda Bali)?
Tapi kesampingkan kekacauan penceritaan. Tanpa Ampun dijual sebagai sajian laga seru. Selama poin itu berhasil dicapai, filmnya bakal baik-baik saja. Sayangnya, bersama duo sinematografernya, Didi Komaladi dan Satya Ginong (langganan sang sutradara), M. Yusuf melahirkan deretan aksi dengan tata kamera canggung sekaligus koreografi yang seolah asal jadi. Belum lagi membahas kualitas CGI mentah untuk membuat luka tembak, juga beberapa upaya tampil stylish yang tidak pada tempatnya (apa fungsi lens flare di tengah latihan tinju?).
Perlukah saya meneruskan catatan keburukan aksinya? Perlukah saya membahas secara detail sekuen perampokannya yang lebih banyak menampilkan teriakan "Come on! Let's go!" ketimbang bangunan intensitas memadai? Bagaimana dengan banyaknya pejalan kaki dan pengendara motor yang begitu santai melintasi jalanan padahal baku tembak tengah berlangsung? Atau klimaks berisi kejar-kejaran repetitif yang disusun secara acak?
Rasanya tidak perlu. Kalian pasti sudah menangkap poinnya. Setidanya pujian pantas disematkan bagi Franky Darmawan dan Verdy Bhawanta, yang berkat pengalaman tinggi keduanya melakoni laga, berhasil tampil meyakinkan kala beradu jotos. Selain itu, Tanpa Ampun benar-benar minta ampun jeleknya.
REVIEW - TASBIH KOSONG
"Kosong adalah isi, isi adalah kosong", ucap Biksu Tong. Sebuah petuah bijak tentang bagaimana segala sesuatu dalam hidup sejatinya bersifat relatif, sehingga mesti dipandang melalui banyak sisi. Tapi mau dilihat memakai perspektif apa pun, Tasbih Kosong tetaplah kosong.
Sebelum film dimulai, muncul kalimat peringatan. Bukan soal "kisah ini fiktif belaka" atau "tidak ada hewan yang dilukai", tetapi kurang lebih berbunyi, "PERHATIAN! Dilarang keras melakukan ajaran sesat seperti pesugihan". Ribuan film sudah saya tonton, dan baru Tasbih Kosong yang terpikir mencantumkan kalimat tersebut. Sungguh religius. Kalau James Cameron menonton ini, niscaya beliau segera bertobat, memeluk Islam, lalu mengganti nama jadi Hamas Kamran.
Kisahnya dibuka di tahun 2020, sebelum mengajak penonton mundur ke tahun 1995. Anehnya adegan berlatar masa kini itu tak pernah dikunjungi lagi dan dijelaskan maksudnya. Tapi biarlah. Mungkin sutradara dan editor lupa menyertakannya. Tak apa. Manusia tempatnya salah.
Di tahun 1995, dua pegawai Badan Pusat Statistik, Umar (Fritz Frederich) dan Asti (Riskyana Hidayat), mengunjungi desa terpencil di Sulawesi guna melakukan pendataan ulang penduduk. Di sana mereka tinggal di rumah Pak Kades (Muhammad Taufik Achmad), yang meski dari luar nampak baik, sejatinya mempraktikkan pesugihan. Tasbih yang selalu digenggam bukan dipakai menyebut asma Allah, melainkan benda keramat. Dia rutin salat, namun sambil bertelanjang dada alih-alih menutup aurat. Gerakan salatnya pun berbeda. Lebih seperti yoga.
Tasbih Kosong mampu tampil memuaskan, dengan syarat kita melihatnya sebagai komedi. Filmnya jago memancing tawa. Jangankan penonton, dalam 90% kemunculannya, Pak Kades pun selalu tertawa. Mungkin dia sendiri geli mengingat pose yoganya. Deretan kalimat dalam naskah buatan sang sutradara, Arie Achmad Buang, juga tak kalah menggelikan. Simak obrolan berikut:
Rasanya jika Umar ditanya, "Apa kamu sudah sehat", dia bakal menjawab, "Belum pak, mungkin saya masih sakit". Jenius!
Bagaimana tiap pengadeganan dirumuskan, akting jajaran pemain, sampai gaya penyuntingan yang sengaja dibuat berantakan pun makin efektif memancing tawa. Tapi saya agak mengasihani Riskyana Hidayat yang menyandang gelar Miss Aura 2022 (kreditnya turut menyertakan itu). Sepanjang durasi ia terlihat seperti enggan terlibat dalam film ini dan tak sabar menanti syuting usai.
Jangan kira Tasbih Kosong cuma menghadirkan komedi berkedok horor. Romansa tidak ketinggalan diselipkan, ketika Umar jatuh hati pada Rajeng (St Ardiana Arifin), puteri dukun di desa. Arie Achmad Buang sendiri bak lebih tertarik pada elemen drama serta romansa, yang terlihat dari tendensinya menggulirkan pengadeganan melodrama secara berlama-lama. Sedangkan horornya cuma mengandalkan beberapa penampakan dengan trik super malas.
Tasbih Kosong juga punya dua hobi aneh. Hobi pertama: menampar karakter wanita. Ada tiga wanita muda di film ini, dan semuanya pernah ditampar. Hobi kedua baru muncul di menit-menit akhir, yakni menumpuk twist bodoh. Disebut bodoh karena datang mendadak, serta membuat tindakan-tindakan yang karakternya lakukan sebelum twist tersebut jadi (makin) bodoh.
Film ini bukannya tanpa potensi. Di dalam naskahnya tersimpan peluang menampilkan perspektif menarik tentang, well, "tasbih kosong". Betapa tampilan luar seseorang tak menjamin kealiman hatinya, serta bagaimana perbuatan musyrik tidak hanya dilakukan secara individu, tapi sudah menjangkiti seisi kampung. Sayang, potensi-potensi itu akhirnya tetap terkubur jauh di dalam kelucuan-kelucuan yang timbul tanpa disengaja.
REVIEW - ARGANTARA
Argantara adalah film yang berbahaya. Lebih berbahaya dari horor paling kancut, komedi paling garing, atau drama paling hambar. Jumlah penonton hari pertamanya mencapai 101 ribu. Jika target market utamanya mengisi 60% saja dari keseluruhan angka tersebut, maka sekitar 60 ribu remaja Indonesia sudah menyaksikan romantisasi nikah muda. Bukan mustahil jika banyak dari mereka pulang sambil bercita-cita mengikuti jejak dua karakternya.
Persoalan nikah muda bukan perbedaan prinsip semata. Bukan pula propaganda para "woke". Pemerintah kita cenderung konservatif, tapi mereka tetap membuat program untuk mengurangi jumlahnya. Karena ditinjau dari cabang keilmuan mana pun, baik kesehatan mental maupun psikis, pernikahan di usia remaja amat berisiko. Hanya demi mengeruk pundi-pundi rupiah dari muda-mudi polos yang belum tentu memperoleh edukasi memadai, Argantara meromantisasi isu tersebut.
Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Falistiyana, filmnya berpusat pada dua remaja 16 tahun, Argantara (Aliando Syarief) dan Syera (Natasha Wilona). Keduanya satu SMA, namun perangainya berlawanan. Syera seorang siswi teladan, sedangkan Argantara dikenal begajulan dengan statusnya sebagai pemimpin geng motor.
Alkisah ayah Argantara pernah menyelamatkan nyawa ayah Syera (Rendi Khrisna). Sebagai bentuk balas budi, ayah Syera menandatangani surat perjanjian yang mengatur perjodohan anak masing-masing. Ingin melihat contoh orang tua egois sekaligus bodoh? Tonton film ini. Kenapa anak mesti membuang hidupnya demi membayar utang orang tua? Kenapa harus di usia 16 tahun? Tidak bisakah perjodohan dilakukan di usia yang lebih layak?
Kedua keluarga akhirnya bertemu. Ayah Argantara telah meninggal, dan di pertemuan itu, ibu Argantara (Endhita) secara halus menyatakan bahwa pemenuhan janji tadi bukanlah kewajiban. Tapi ayah Syera bersikukuh. Argantara pun menyetujui, dengan alasan ingin jadi anak berbakti. Tidak bisakah wujud bakti anak disalurkan melalui hal yang tak merugikan orang lain?
Ibu Syera (Putri Patricia) berkata bahwa keputusan akhir ada di tangan sang puteri. Pernyataan itu dilontarkan kala Syera berdiri di hadapan ayahnya yang terbaring di kasur rumah sakit. Dia pun baru mendengar cerita soal bagaimana nyawa ayahnya diselamatkan ayah Argantara. Apakah Syera sampai hati untuk menolak? Apa yang kita lihat adalah bentuk guilt trip alih-alih kebebasan menentukan pilihan.
Di luar persoalan nikah mudanya, Argantara memang tidak buruk-buruk amat. Naskah buatan Riheam Junianti tampil klise mengikuti pakem romansa remaja, tapi chemistry Aliando dan Natasha (dua pelakon bertalenta yang patut mendapat proyek lebih baik) bisa memancing senyum.
Pun Guntur Soeharjanto selaku sutradara masih piawai membuat filmnya enak dipandang lewat tata kamera dinamis, serta eksekusi beberapa adegan aksi yang lumayan solid. Meski serupa karya-karya sebelumnya, dramatisasi Guntur acapkali kebablasan. Momen ketika teman-teman sekolah Syera dan Argantara mengetahui pernikahan mereka seharusnya cuma eksis di sinetron. Guntur memang serba berlebih. Serupa pemakaian flashing lights di klimaksnya yang mewarnai layar selama hampir lima menit tanpa peringatan. Jangankan penderita epilepsi, orang sehat seperti saya pun dibuat pusing karenanya.
Segelintir poin plus di atas nampak minor dibanding "dosa" yang film ini perbuat. Terselip satu ironi. Argantara lebih memilih menghabiskan waktu bersama gengnya daripada menemani sang istri yang tengah hamil. Kehamilan itu mengguncang batin Syera. Dua hal tersebut sejatinya amat wajar. Remaja belum siap hamil. Remaja masih ingin berkumpul dengan teman. Argantara meromantisasi nikah muda, beranggapan nikah muda bisa dilakukan selama ada kemauan, namun di saat bersamaan turut menunjukkan kalau fenomena itu memicu masalah yang bisa dihindari andai pernikahan dilangsungkan di usia yang tepat. Film ini membantah argumennya sendiri.
Tahun 2022 menghadirkan kegembiraan bagi industri film tanah air. Di arus utama, keseimbangan antara daya hibur dengan kualitas makin kuat. Di arus samping, beberapa judul mendulang prestasi di festival bergengsi. Ada pula film yang mampu memuncaki worldwide chart di layanan OTT. Di tengah beragam pencapaian tersebut, Argantara malah menutup 2022 dengan mengajak kita mundur beberapa tahun.
REVIEW - ASHIAP MAN
Kalau saya tidak salah hitung, kata "ashiap" muncul 64 kali di sini. Hampir semua pemain kebagian jatah, bahkan seorang Arswendi Bening Swara (one of the lowest points in his highly respectable career). Karena durasi filmnya sekitar 99 menit (tanpa menghitung kredit), artinya catchphrase milik Atta Halilintar itu terdengar tiap 1,5 menit sekali. Entah upaya cuci otak, propaganda, atau bentuk narsistik.
Siapa Ashiap Man? Nama aslinya adalah Zul (Atta Halilintar), yang bercita-cita menjadi superhero karena petuah-petuah dari sang ayah, Ibrahim (Arswendi Bening Swara). Barisan petuah itu akan rutin kita dengar, sebab Ashiap Man nampak getol menceramahi penonton. Bahkan pesan moral bisa tiba-tiba menyela di antara humor. Bayangkan kalian sedang asyik bercanda bersama teman, lalu terlontar umpatan, "Hahaha anjing lo!", dan salah satu teman lain menimpali secara serius, "Astaghfirullah, jangan ngomong kotor, tidak baik".
Berkat Ibrahim pula karir kepahlawanan Zul bermula. Tepatnya saat ia memberi kado ulang tahun bagi sang putera, berupa spanduk pecel lele yang diambil dari warung miliknya, untuk dipakai bak jubah superhero. Ya. SPANDUK PECEL LELE. Bahkan setelah dewasa, Zul masih mengenakan spanduk itu, beraksi menolong warga kampung, dari membawakan galon, sampai terjun ke sungai membersihkan sampah. Sayangnya ada satu sampah yang luput Zul enyahkan. Filmnya sendiri.
Zul punya dua sahabat. Jon (Yudha Keling) dan Diana (Gritte Agatha). Keduanya amat suportif terhadap obsesi Zul menjadi superhero. Sebagai bentuk dukungan, mereka rutin membuat konten YouTube berisi upaya Zul memperoleh kekuatan super. Banyak langkah ditempuh Jon dan Diana. Misal menyuruh Zul berdiri di tengah hujan lebat agar tersambar petir, atau menaruh laba-laba beracun di tubuhnya. Mungkin bagi Atta Halilintar dengan segala lini kehidupannya yang penuh konten, begitulah definisi pertemanan.
Konflik utama filmnya adalah tentang penggusuran. Nico (Rizky Billar) berharap dapat meraih kepercayaan ayahnya, Gersang (Marcellino Lefrandt), dengan menjalankan proyek yang mengharuskan ia menggusur kampung yang ditinggali Zul. Nico pun mengutus DP Man (Samuel Rizal) guna melancarkan penggusuran. Perlawanan diberikan oleh Kiara (Nasya Marcella), mantan pacar Nico sekaligus puteri seorang politikus.
Zul langsung jatuh cinta pada Kiara sejak pertemuan pertama mereka. Padahal bersenjatakan kemampuannya mengangkat galon, Zul sudah lama mencoba merebut hati Aisyah (Aurel Hermansyah) si kembang desa. Tentu kedua gadis tersebut bertekuk lutut di hadapan jubah pecel lele Zul. Bruce Wayne dan Tony Stark silahkan berguru ke Zul.
Ditulis oleh Cassandra Massardi (Get Married 2, Tampan Tailor, Geez & Ann), naskahnya terkesan "pintar tapi bodoh". Bodoh karena memang banyak kebodohan bertebaran, baik soal penceritaan maupun komedi yang kerap melempar guyonan meta dengan tingkat kelucuan mengenaskan. Tapi juga pintar, sebab naskahnya bak mengolok-olok kebodohan di era media sosial secara terselubung. Bagaimana para pembuat konten rela melakukan apa pun supaya viral, hingga masyarakat yang mudah percaya pada hoax. Seolah berkata, "Atta dan penggemarnya itu bodoh". Bisa jadi sang penulis tak berniat melempar sentilan, tapi alangkah baiknya kita bersikap husnuzan.
Oh, saya lupa menyebut kalau Ashiap Man disutradarai sendiri oleh Atta Halilintar, dan ia mengusung pendekatan berbeda, yang tidak berani diambil oleh sutradara film superhero atau aksi mana pun. Atta memilih mengedepankan realisme. Prinsipnya adalah, "jika jajaran pemain tidak mampu beraksi layaknya pahlawan super, maka jangan palsukan palsukan itu memakai trik kamera dan tata koreografi". Alhasil penonton pun yakin bahwa semua karakter di film ini memang tidak bisa berkelahi. Baguslah. Berkelahi itu tidak baik. Kekerasan itu tindakan tercela.
Di jajaran cast, Arswendi Bening Swara merupakan penampil terbaik meski tugasnya sebatas berceramah, Gritte Agatha cukup menghibur, Samuel Rizal tampak ingin segera pulang dari lokasi, sedangkan Rizky Billar menunjukkan tutorial "cara berakting ala sinetron Indosiar".
Ashiap Man turut menampilkan cameo Yayan Ruhian sebagai Mr. Jamet, seorang YouTuber yang dianggap jagoan. Bukan cuma bela diri, kali ini Yayan Ruhian memamerkan kemampuan lain yang belum pernah kita lihat sebelumnya, yaitu memasang pose cute yang bakal membuat para idola Kpop merasa minder. Hanya Ashiap Man yang sanggup menggali sisi lain Yayan Ruhian. Masih merasa ragu untuk menontonnya?
(Prime Video)
REVIEW - RUMAH KALIURANG
Sore tadi saya mendadak teringat video klip yang 10 tahun lalu membuat nafsu makan lenyap. Judulnya Forced Gender Reassignment dari band metal Cattle Decapitation. That's the most disturbing music video I've ever seen even until now. Bodohnya, saya tonton lagi video itu. Penyesalan pun datang belakangan. Tapi sekitar dua jam berselang, muncul penyesalan lebih besar selepas menonton Rumah Kaliurang.
Ditangani oleh Dwi Sasono (ya, Dwi Sasono si aktor) dan Dondy Adrian yang sama-sama melakoni debut penyutradaraan mereka, ini seperti produk latihan yang mestinya dievaluasi secara internal ketimbang dirilis sebagai produk berbayar.
Judulnya merujuk pada villa angker yang terletak di Kaliurang. Keangeran vila itu begitu dikenal, sampai pernah disambangi beberapa pembuat konten mistis. Wisatawan pun banyak yang berfoto-foto karena lokasinya dianggap "Instagrammable". Jadi sebelah mananya yang angker?
Pokoknya, film ini menampilkan lima sahabat: Rani (Shareefa Daanish), Brama (Randy Pangalila), Kinan (Erika Carlina), Aji (Wafda Saifan Lubis), dan Anom (Khiva Iskak). Bagaimana mereka bisa bersahabat? Apakah teman sekolah? Teman kuliah? Teman sejak kecil? Entahlah. Pokoknya sahabat kental!
Komposisi karakternya mencerminkan formula standar horor. Rani si gadis baik-baik, Brama dan Kinan adalah pasangan maksiat, Anom merupakan sosok penakut di kelompoknya, sedangkan Aji.....well, pokoknya sahabat mereka!
Sebagaimana formula standar horor pula, saat mobil mogok, kelimanya berjalan menelusuri hutan sebelum tiba di sebuah rumah kosong. Di rumah itulah terjadi banyak hal aneh. Beberapa hal aneh tersebut di antaranya: suara yang bak direkam langsung memakai mikrofon kamera, mixing timbul tenggelam ala film buatan anak SMA, penyuntingan jumpy, CGI yang gagal menyatu, sampai twist bodoh tatkala Husein M. Atmodjo (Midnight Show, Sekte, Mencuri Raden Saleh) selaku penulis naskah menganggap selipan elemen time loop di penghujung film adalah wujud kepintaran.
Padahal banyak cara lain untuk membuat film ini pintar. Misal membenahi lubang logika. Saya selalu berprinsip bahwa kebodohan dalam horor perlu dimaklumi, selama tidak bersifat kontradiktif. Mengecek sumber suara mengerikan, lari ke jalan buntu, semua itu bisa dimaafkan. Tapi tidak dengan dukun yang menginjak sajen, ilmuwan terpandang namun berotak udang, atau dalam konteks Rumah Kaliurang, barisan orang dewasa yang tanpa ragu menyantap makanan yang (secara misterius) tersaji lengkap di atas meja makan dalam sebuah rumah kosong.
Percayalah masih banyak lubang logika lain, namun menuliskannya di sini cuma membuang waktu. Tapi biarkan saya bertanya, kenapa film ini memakai kata "Kaliurang" di judulnya? Betul, latarnya adalah rumah angker sungguhan di Kaliurang, dan pengambilan gambar dilakukan di sana, tapi dalam semesta filmnya sendiri, Kaliurang luput dibahas. Jangankan soal mitologi atau sejarah, kata "Kaliurang" saja tidak disebut. Andai diubah jadi Rumah Bantul atau Rumah Gejayan pun sama saja.
Memasuki 20 menit terakhir, Rumah Kaliurang tiba-tiba melempar suatu flashback, menjabarkan peristiwa tragis yang dahulu kala (entah pastinya kapan, pokoknya DAHULU KALA!) menimpa. Flashback yang membuat Shareefa Daanish menarikan tarian Jawa diiringi lagu Sepasang Mata Bola. Tidak nyambung? Jelas.
Satu momen ketika secara samar muncul sesosok bayangan di belakang karakternya, tanpa musik atau cue suara apa pun, jadi satu-satunya momen creepy milik Rumah Kaliurang, sementara Shareefa Daanish berusaha sekuat tenaga memberi nyawa, sayangnya film ini tetap gagal terhindar dari status "bencana perfilman" di tengah gencarnya perbaikan kualitas horor tanah air. Mungkin para pembuatnya memang ingin tampil beda. Mantap!
(Bioskop Online)
REVIEW - BLONDE
Norma Jeane alias Marilyn Monroe di Blonde bukanlah manusia, melainkan personifikasi tragedi. Sosoknya tak punya kepribadian, didefinisikan cuma lewat penderitaan demi penderitaan. Bahkan 60 tahun sejak kematiannya, Monroe masih dimanfaatkan sebagai objek untuk memamerkan kehebatan pria.
Pria itu bernama Andrew Dominik, yang melalui naskahnya, mengadaptasi novel berjudul sama karya Joyce Carol Oates. Sebagaimana novelnya, film ini mendramatisasi kehidupan Monroe, membuatnya lebih dekat ke arah imajinasi fiktif ketimbang biografi. Di situlah Dominik, yang juga duduk di kursi sutradara, memperoleh kebebasan guna mengeksploitasi atas nama seni, tanpa dibarengi sensitivitas bahkan secuil simpati.
Digambarkannya Norma Jeane (Ana de Armas) sebagai korban tindakan abusive sang ibu (Julianne Nicholson), yang menderita gangguan mental. Sedangkan sang ayah tak pernah Norma Jeane temui. Pertemuan itu amat didambakan, sampai Norma Jeane memanggil suami-suaminya "daddy". Di realita, Norma Jeane menikah tiga kali, tapi film ini hanya menampilkan suami kedua (Joe DiMaggio, diperankan Bobby Carnavale) dan ketiganya (Arthur Miller, diperankan Adrien Brody).
Kita pun diajak menyaksikan bagaimana Norma Jeane bertransformasi jadi Marilyn Monroe si megabintang Hollywood, yang sekali lagi, melibatkan banyak peristiwa traumatis, khususnya pemerkosaan oleh berbagai pihak, dari eksekutif studio, hingga Presiden Amerika Serikat kala itu, John F. Kennedy (Caspar Phillipson).
Tentu Dominik mengeksploitasi momen-momen tersebut, lewat tangkapan close-up yang makin menguatkan ketidaknyamanan. Jangan tanya berapa kali Ana de Armas mesti tampil telanjang. Itulah fokus nomor satu sang sutradara. Marilyn Monroe harus terlihat sekacau mungkin, tanpa upaya membangun kompleksitas penokohan, apalagi menjalin ikatan emosi antara penonton dengannya.
Dominik tidak memedulikan Marilyn Monroe. Karena seperti pria-pria yang memanfaatkan si bintang, ia hanya berusaha memamerkan kehebatan sebagai seniman. Baik dalam hal pembuktian keberanian mendobrak batas melalui momen-momen disturbing nan vulgar, maupun terkait estetika. Visualnya terus berubah warna, rasio aspeknya rutin berganti, aneka efek pun sering disematkan. Dominik sedang pamer gaya, mengesampingkan subtansi, tak ubahnya mahasiswa film yang mendapat tugas pertamanya.
Blonde jelas dimaksudkan sebagai suguhan artsy. Tapi tujuan itu pun berantakan, saat Dominik menyertakan adegan di mana Monroe yang tengah hamil, berbicara dengan si janin, selaku dampak trauma selepas keguguran beberapa tahun sebelumnya. Begitu pula pemakaian simbol seksual gamblang yang seperti berasal dari komedi seksual, tatkala Monroe dipaksa melayani JFK. Konyol.
Ana de Armas tampil penuh totalitas. Dia bertransformasi, membiarkan hatinya dikuasai penderitaan sosok peranannya. Jika kelak hidup Marilyn Monroe kembali difilmkan, Ana de Armas patut diberi kesempatan lagi. Semoga proyek tersebut jatuh ke tangan yang tepat. Bahwa Marilyn Monroe adalah pengingat akan kelamnya industri perfilman yang sarat tragedi dan penderitaan itu benar adanya. Tapi Marilyn Monroe lebih dari sekadar tumpukan penderitaan. Semua manusia, entah rakyat jelata atau bintang ternama pun demikian. Tatkala karya seni dijadikan kedok untuk merendahkan kemanusiaan semata demi ajang unjuk gigi sang seniman, mungkin sebaiknya karya itu ditiadakan.
(Netflix)
REVIEW - OMA THE DEMONIC
Mengapa jika dibanding genre lain horor kita terkesan stagnan? Pertama karena horor merupakan ladang uang yang bisa mendatangkan untung dengan biaya minim. Fakta yang oleh para pembuat kerap diterjemahkan sebagai "Kalau jelek saja laku kenapa harus bagus?". Kedua, horor bagus memerlukan orang yang bukan cuma "sering menonton", tapi benar-benar passionate terhadap genrenya. Maka tidak heran ketika Joko Anwar dan Timo Tjahjanto selaku horror aficionado berdiri di garis depan.
Joel Fadly nampaknya bukan horror aficionado. Menyaksikan Oma the Demonic, maupun karya sebelumnya, Nightmare Side: Delusional (2019), saya bahkan ragu ia gemar mengulik horor. Tapi ada satu kengerian yang saya rasakan selama menonton. Bukan karena konten filmnya, melainkan dari fakta bahwa ada sineas yang menganggap ini horor bagus. Mendapati industri kita diisi orang-orang seperti itu amatlah mengerikan.
Fiona (Karina Nadila) sering mendapat penglihatan tentang sosok wanita yang menyuruhnya mendatangi rumah Oma (Jajang C. Noer). Fiona belakangan ini jarang berkomunikasi dengan Oma, walau semasa kecil sering menghabiskan waktu bersamanya. Ditemani dua temannya, Luna (Syahra Larez) dan Jeff (Bobby Rizky), ia memutuskan mengunjungi Oma, tanpa tahu misteri mematikan telah menunggu di rumahnya.
Nenek dikenal sebagai figur penyayang dalam keluarga, dan karena itulah sosoknya kerap jadi sumber teror film horor. Bagaimana kalau di balik kebaikannya tersimpan rahasia kelam? Jajang C. Noer cocok memerankan karakter semacam itu, yang mengubah senyum hangat jadi kejanggalan. Sedangkan di beberapa titik, Karina Nadila membuktikan pantas diberi materi yang lebih mumpuni, walau bakat terbesarnya tetaplah di suguhan komedi.
That's it. Cuma mereka saja (sedikit) nilai positif Oma the Demonic. Ketika lima menit sekali filmnya berusaha menakut-nakuti (tentu saja gagal), menggunakan green screen untuk adegan yang seharusnya bisa diambil secara langsung di lokasi, lalu menampilkan monster CGI yang bagai hasil kawin silang antara babi hutan dengan Blanka dari gim Street Fighter yang dibakar sampai gosong, saya langsung sadar sudah menghamburkan uang 35 ribu rupiah.
Salah satu jenis penonton bioskop yang paling saya benci adalah "mas-mas mulut besar otak kerdil". Spesies laki-laki yang agar dianggap pintar oleh pacarnya, terus bicara selama pemutaran, melempar "kritik" dengan nada sok tahu. Kalau menemui spesies macam itu, biasanya akan saya lempari uang receh. Tapi kali ini saya memilih diam. Selain alasan "bulan puasa", sia-sia rasanya membuang tenaga untuk Oma the Demonic. Penonton lain pun tidak mengeluh. Karena mereka sadar sedang jadi saksi sebuah bencana.
Pilihan shot ngawur yang gagal memahami "kenapa sebuah adegan film horor terasa mengerikan", timing berantakan di segala lini (kapan musik masuk, kapan reaction shot diselipkan, bagaimana urutannya, dll.), hingga desain hantu yang bak mengambil inspirasi dari riasan gembel di prank Atta Halilintar, semua bisa ditemukan di sini. Oma the Demonic adalah horor di mana ketimbang mantera atau ritual, karakternya melempar barang guna melawan hantu. Ingin saya berkata, "Mbak, beliau itu hantu, bukan maling". Daripada memakai kekuatan supernatural, si hantu pun malah kelihatan enjoy.
Naskah buatan Anang Pangestu tidak kalah mengenaskan. Kekacauan timeline menghasilkan kerumitan tak perlu di alur, sementara beberapa poin cerita dimasukkan secara tiba-tiba (termasuk soal ibu Fiona, yang diperankan Diah Permatasari dalam cameo menggelikan) tanpa eksplorasi atau dampak emosi.
Sudah pasti ada twist di penghujung durasi. Twist yang memfasilitasi munculnya dialog ajaib antara dua arwah penasaran, saat sama-sama kaget melihat mata mereka berubah warna jadi putih. Tercium semerbak aroma kebusukan sinema.
REVIEW - TUTUGE
Tutuge jelas salah satu horor Indonesia berdurasi terpanjang. Itu alasan saya tertarik menontonnya. Bukan status "menyabet 7 penghargaan di kancah internasional" sebagaimana tertera di akun Instagram resminya (lewat sedikit riset, anda bakal tahu ada di level mana festival-festival tersebut). Ketika banyak horor kita masih terlampau bergantung pada jump scare dengan cerita tipis, apa yang film ini tuturkan selama 141 menit?
Di Yogyakarta, Tutuge cuma tayang di Empire XXI. Saya menonton di jam terakhir (selesai pukul 21:00), dan kebetulan jalan pulang dari bioskop mesti melewati beberapa area rawan klitih yang belakangan makin marak. Tapi otak saya terlalu penuh oleh pertanyaan sampai tidak sempat merasa khawatir. Pertanyaan berupa, "Bagaimana bisa naskah sementah ini jadi produk final?".
Tentu banyak naskah horor yang jauh lebih buruk ketimbang buatan Virlan W. Langgong (juga bertindak selaku sutradara) ini. Tapi apa yang terlihat di layar lebih seperti draft awal yang dipenuhi hal-hal tak perlu. Obrolan, selipan humor, hingga aktivitas sepele yang semestinya dihapus demi memadatkan penceritaan, masih bertebaran di sana-sini.
Sejatinya kisah Tutuge amat sederhana. Ameera (Rania Putrisari), seorang penulis novel misteri ternama, berada di Bali guna mencari inspirasi untuk karya terbarunya. Tapi risetnya gagal menemui hasil. Sampai ia bertemu Ketut (Langlang Buana), putera pemilik villa tempatnya menetap, yang mulai membagi beberapa kepercayaan mistis setempat.
Pertama kali bertemu Ameera, ia sedang berselancar di pantai, dan ada dua informasi yang kita dapat. Pertama pewarnaan gambarnya sungguh menyakiti mata. Virlan yang juga menduduki posisi sinematografer, ingin filmnya tampak artistik. Tapi alih-alih mengkombinasikan penataan cahaya dengan coloring cermat, dia bak asal memasang filter Instagram, tanpa memperhatikan kondisi lokasi dan raw footage. Jauh dari natural. Apalagi ketika matahari bersinar terik di latar outdoor. Rasanya seperti memelototi bohlam dari jarak 10 cm.
Informasi kedua adalah bahwa Ameera seorang indigo. Itu sebabnya saat melihat perangai aneh dari Laras (Imelda Therinne), Ameera langsung sadar wanita itu sedang kesurupan. Sayangnya, Cokro (Rizky Hanggono), suami Laras yang skeptis terhadap hal mistis, tak mengindahkan ucapan Ameera. Cokro percaya, Laras yang sering linglung bahkan lupa jalan pulang, mengidap alzheimer alih-alih kesurupan.
Ameera menolak tinggal diam. Dia kukuh berusaha menolong Laras. Apa cara yang ditempuh? Mencari "ciri-ciri orang kesurupan" di Google. Ya, seorang indigo melakukan itu. Ibarat ada dokter mencari "apa saja gejala flu", atau seorang ustaz googling soal "bacaan salat lima waktu". Itu merupakan pemahaman dasar, dan kalau pun muncul kebingungan, tentu Google bukan sumber jawaban yang bakal dipilih.
Pemandangan seperti itu yang mendominasi 141 menit durasinya. Laras kesurupan, Ameera khawatir, Cokro skeptis, Ketut melempar lawakan. Ketika adik Cokro, Inggit (Givina), datang berkunjung, sumber lawakan bertambah jadi dua orang. Setidaknya Givina (yang juga adik Uus) cukup berbakat menangani komedi. Dialah penampil paling menghibur di sini, meski mendapat materi yang tidak spesial.
Selain repetisi ditambah momen-momen tidak perlu (memakan waktu kalau disebutkan satu per satu), membengkaknya durasi Tutuge turut diakibatkan adegan yang kerap bergulir terlalu lama tanpa ada substansi, misalnya membangun atmosfer atau mengajak penonton mengobservasi detail. Tidak ada. Seolah penyuntingan yang ditangani Ilan Hype cuma "menggabungkan" ketimbang "mengedit".
Tutuge enggan bergantung ke jump scare berisik sehingga menghindarkan penonton dari risiko pecah gendang telinga, namun sekuen teror yang Virlan bangun pun tidak mengandung kengerian maupun ketegangan. Musik serta tata suara, yang mana elemen esensial dalam horor, juga gagal membantu. Bahkan memperburuk keadaan. Tata suaranya buruk cenderung ngawur (cek bagaimana efek "mendengarkan musik" digarap di sini), sedangkan musik seperti dimasukkan tanpa memedulikan timing.
Lupakan fakta bahwa konsep tutuge yang jadi judul luput dieksplorasi, dan baru mendadak diperkenalkan jelang konklusi. Filmnya belum mencapai tingkatan itu. Ibarat memasak nasi goreng, mengolah mitos tutuge adalah proses menambahkan bumbu. Sementara film ini seperti menggoreng beras, lalu menyajikannya dalam porsi menggunung. Kenyang kalau dimakan? Iya. Membawa penyakit juga iya.
REVIEW - VIDKILL
REVIEW - BENYAMIN BIANG KEROK 2
Terkait Benyamin Biang Kerok (2018), saya termasuk minoritas. Saya tidak
menentang, tidak membenci, meski harus diakui, hasilnya jauh dari kata “bagus”.
Sangat jauh. Setidaknya ada visi yang jelas, walau apakah visi tersebut cocok
diterapkan, patut dipertanyakan. Direncanakan sebagai trilogi, setelah film
pertama mendapat respon cenderung negatif, baik perihal ulasan, jumlah penonton
(730 ribu tidak sedikit, namun jelas bukan angka yang diharapkan), belum lagi
perseteruan hak cipta, kabar perilisan film kedua tak kunjung jelas, sebelum
akhirnya tayang di Disney+ Hotstar.
Berbeda dengan pendahulunya, Benyamin Biang Kerok 2 bak produk asal
jadi, tanpa arah, yang buru-buru diselesaikan guna mengejar tanggal tayang di streaming platform. Selepas rekap
beberapa menit yang tidak banyak membantu akibat kisah film pertamanya kurang meninggalkan
kesan, protagonis kita, Pengki (Reza Rahadian), berkata pada penonton, jika petualangannya
melawan sindikat mafia pimpinan Said (Qomar) demi menyelamatkan sang pujaan
hati, Aida (Delia Husein), bakal lebih seru dari film-film Amerika. Berarti,
Hanung bersama trio penulis naskahnya, Bagus Bramanti, Senoaji Julius, dan Hilman
Mutasi, masih berniat membuat blockbuster
mahal, sarat aksi berteknologi tinggi, juga bertabur CGI.
Tapi itu tidak terlihat. Aksi bisa
dihitung jari, sementara CGI, selain
kuantitasnya menurun drastis, begitu pula kualitasnya. Ada satu momen yang
berpotensi melahirkan hiburan berupa pertarungan absurd, di mana Sabeni (Rano
Karno), ayah Pengki, memancarkan laser untuk menghajar habis anak buah Hengki (Hamka
Siregar) yang berniat membunuh Pengki, disusul tembakan gelombang dari gitar
elektrik Nurlela (Lydia Kandou). Tapi efek visualnya setengah (atau malah
seperempat?) matang, yang diperparah oleh kecanggungan pengadeganan Hanung.
Mau dibawa ke mana film ini?
Seberapa buru-buru penyelesaiannya? Jangankan pasca-produksi, saya pun
mempertanyakan, apakah proses produksi, termasuk pick-up, benar-benar sudah usai jauh-jauh hari? Alurnya sendiri
sudah dilukai oleh keputusan memecah cerita. Terasa betul kisah dimulai dari
tengah, sehingga tanpa struktur penceritaan layak. Belum lagi, perpindahan antar
adegan tidak dijembatani secara mulus, seolah tidak ada stok transisi yang
cukup.
Misalnya sewaktu Pengki, Somad (Adjis
Doaibu), dan Achie (Aci Resti) hendak pergi ke hutan di Kalimantan menggunakan
helikopter, untuk memecahkan misteri harta karun Soekarno, yang diduga jadi
incaran utama para mafia. Sayang, helikopter kepunyaan Nyak Mami (Meriam
Bellina) tiba-tiba mogok. Lalu Achie berkata, bahwa dia tahu harus berbuat apa.
Sejurus kemudian, kita melihat CGI shot
yang menampilkan sebuah pesawat di angkasa. Mendadak mereka telah tiba di
tujuan. Pesawat siapa itu? Mengapa efek visualnya tampak amat mentah? Bagaimana
pula Hengki beserta anak buahnya bisa tahu persis keberadaan ketiganya di
tengah hutan keramat?
Paling tidak saya menikmati
penampilan para pelakon senior, khususnya Rano Karno dan Lydia Kandou, yang
berusaha sekuat tenaga memaksimalkan porsi masing-masing. Reza, bermodalkan kejenakaan
gestur serta permainan logat dan warna suaranya pun masih nyaman disaksikan. Satu
yang benar-benar mengganggu, terlebih di third
act, hanya Aci Resi dengan gerutuan dan rengekan menyebalkan yang tak
kunjung berakhir.
Artinya jajaran cast berhasil menyelamatkan film ini bukan? Kata “menyelamatkan” rasanya berlebihan.
Paruh akhirnya membuat Benyamin Biang
Kerok 2 tidak terselamatkan. Antiklimaks, cuma menampilkan sekelumit aksi
singkat berisi serbuan beruang dengan CGI
menyedihkan, nomor musikal cringey nan
murahan diiringi lagu hip hop, pula konklusi dadakan yang menyisakan banyak
subplot tanpa resolusi.
Satu hal paling fatal: rambut
Pengki berubah! Itu bukan rambut Pengki, tapi rambut Reza. Pengki beralasan,
rambutnya dipotong oleh suku pedalaman. Saya curiga, konklusinya adalah pick-up yang diambil jauh setelah
produksi selesai, besar kemungkinan untuk menghapus jembatan menuju film
ketiga, yang konon merupakan adaptasi Tarsan
Kota (1974). Syukurlah bila memang demikian. Cukup. Berhenti sampai di
sini.
Available on DISNEY+ HOTSTAR



.png)

.png)

.png)

.png)





.png)



.jpeg)





