REVIEW - ALL WISHES COME TRUE!
All Wishes Come True! yang diangkat dari legenda mengenai Eight Immortals merupakan bukti sahih bahwa sinema animasi Cina telah mengokohkan pondasinya. Bukan soal teknologi, melainkan kejelian memanfaatkan sifat tanpa batas dari mediumnya, untuk mengeksplorasi kekayaan cerita rakyatnya yang sarat keajaiban.
Tengok saat kita pertama menjejakkan kaki di Gunung Penglai. Detail animasinya mumpuni, tapi yang paling memukau adalah visi Mu Zhengyang selaku sutradara sekaligus penulis naskah, perihal presentasi keajaiban dunia Penglai.
Entitas ilahi, dan manusia yang berbondong-bondong tiba guna mengungsi dari bencana alam tanpa henti, hidup berdampingan di tengah semesta anakronistis hasil buah pikir Mu Zhengyang. Kadang Penglai nampak sesuai dengan citra kisah-kisah legenda, tapi ada kalanya ia terlihat futuristik (kendaraan bak mobil terbang, terowongan bertabur neon, sistem para dewa mengabulkan doa manusia yang sudah terkomputerisasi).
Dunianya aneh tetapi hidup. Di situlah kita bertemu Lü Dongbin (Li Shaozhe), yang meminta bantuan mantan kakak seperguruannya yang kini alih profesi menjadi pencuri, Zhongli Quan (Chen Hao), guna mencari lentera keramat yang konon dapat menghentikan segala bencana. Lentera tersebut dipercaya ada dalam ruang harta milik dewa.
Nantinya, enam manusia lain bakal turut serta menantang superioritas dewa: He Xiangu (Lidong), Han Xiangzi (disuarakan bergantian oleh Dong Tianyi, Yu Pengli, dan Huang Yushuo seiring proses tumbuh kembangnya), Cao Guojiu (Zhang Yunqi), Lan Caihe (Cao Zhishan), Zhang Guolao (Deng Xiansen), dan Li Tieguai (Guozi Gege). Rencana pencurian lentera dijalankan, sementara delapan makhluk fana tersebut pun berupaya mencuri peluang memperbaiki nasib.
Sayang, rencana rancangan Mu Zhengyang terlampau sederhana untuk bisa melahirkan cerita heist seru. Kedelapan tokoh utamanya melakukan penggalian supaya bisa menerobos ruang harta melalui bawah tanah. Hanya itu. Tanpa misi sampingan yang menuntut kebolehan spesial tiap karakter, tiada pula trik cerdik yang menyulut kekaguman penonton.
Paparan heist-nya amat berlawanan dengan kompleksitas mitologi yang ditawarkan All Wishes Come True!. Ada kalanya kompleksitas itu agak membuat kewalahan, akibat eksposisi verbal serba ngebut yang bak menganggap seluruh penonton sudah mempelajari tiap detail cerita rakyat Cina sampai khatam.
Babak kedua memang jadi titik nadir yang dihadang pelbagai kekurangan, tidak terkecuali soal pendalaman karakter. Di samping Lü Dongbin dan Zhongli Quan, dinamika antara eight immortals luput dikulik secara memadai. Akibatnya, tatkala delapan jagoan kita kembali bersatu pasca sempat hancur selepas hadirnya batu sandungan yang merusak mental mereka, proses penyatuan itu terkesan dipaksakan. Tiada alasan meyakinkan yang membuat penonton percaya bahwa ikatan emosional mereka sudah seerat itu.
Situasi berbalik 180 derajat begitu figur antagonis yang sebelumnya lebih banyak beraksi di balik layar akhirnya diungkap. Saya akan membiarkan sosoknya tetap jadi misteri. Satu yang pasti, bila pemahaman terbesar anda mengenai legenda-legenda Cina berasal dari serial Journey to the West yang populer di era 90-an, eksistensinya bakal menghadirkan kejutan menyenangkan.
Sang antagonis menuntun All Wishes Come True! menuju final bombastis yang memiliki segala elemen wajib sebuah spektakel, dari parade visual epik, gelaran aksi seru yang mendorong para protagonis sampai ke titik batas kemampuan, barisan karakter yang akhirnya sukses mengundang simpati lewat tindakan heroik mereka, juga twist yang secara tidak terduga membuktikan kalau film ini senantiasa mengingat statusnya sebagai sajian heist. Begitu keseruan usai, Mu Zhengyang secara resmi sudah mengabulkan satu permintaan saya: menonton film animasi yang hebat.
REVIEW - CHIIKAWA THE MOVIE: THE SECRET OF THE MERMAID ISLAND
Film ini dibuat berdasarkan manga berjudul sama buatan Nagano (juga duduk selaku penulis naskah), Chiikawa, yang merupakan kependekan dari frasa Jepang, "Nanka Chiisakute Kawaii Yatsu" alias "sesuatu yang kecil dan menggemaskan."
Karena memang tokoh-tokohnya kecil nan menggemaskan. Segudang dagangan pendukung, stiker obrolan, hingga meme berpotensi lahir darinya. Beberapa makhluk mungil ini mampu bicara layaknya manusia, namun ada pula yang hanya mengeluarkan suara-suara imut (termasuk Chiikawa si tokoh utama) serupa Pokémon.
Pembukaannya sarat kepolosan khas kartun bocah yang rutin kalian putar untuk menghentikan kerewelan anak atau adik. Alkisah, Chiikawa beserta kawan-kawannya, Hachiware, Usagi, Momonga, dan Rakko, menerima undangan menyambangi Pulau Mermaid. Mereka dijanjikan santapan lezat, juga upah tinggi bila mampu menuntaskan misi pemberian warga setempat.
Rutinitas awal Chiikawa dkk. di Pulau Mermaid bukanlah suatu petualangan. Mereka menikmati hidangan, bermain-main, bersantai. Mungkin terlalu santai bagi penonton yang haus akan keseruan di layar perak.
Sampai akhirnya kita menemukan alasan mengapa kata "mermaid' disematkan sebagai nama pulau. Sesosok Siren raksasa ditemani dua duyung mungil menampakkan diri di hadapan para protagonisnya, sembari menyanyikan nada-nada lucu disertai lirik mengenai keinginan untuk memakan mereka. Kontradiksi unik film ini pun mulai mengungkap jati dirinya, seiring tersibaknya tirai penutup rentetan rahasia mengerikan pulau tersebut.
Bukan berarti filmnya mendadak bertransformasi jadi kerabat Happy Tree Friends. Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island tetap menjaga keamanannya selaku tontonan semua umur berkat kulit luar yang senantiasa menggemaskan. Visualnya bukan asal cerah, namun dibarengi keputusan cerdik menggambarkan warga Pulau Mermaid sebagai makhluk monokromatik tanpa wajah, guna menghindari sensory overload. Tokoh-tokoh utamanya pun jadi tak perlu berebut sorotan dengan mereka.
Secara visual, hal terdekat dengan "pemandangan dewasa" hanya berasal dari karakter Shimajiro si pemilik restoran sup kerang. Wajahnya nampak galak, tubuh kekarnya pun cuma dibalut selembar apron. Figurnya menonjol di antara makhluk-makhluk menggemaskan lain. Dialah karakter favorit saya di film ini.
Mencapai babak ketiganya, sisi kelam Chiikawa the Movie makin mengental dan membawa penceritaannya menuju tingkatan lebih tinggi. Anak-anak bakal tetap memandangnya sebagai kisah sederhana tentang kebaikan melawan kejahatan, atau jagoan gemas melawan monster seram. Penonton dewasalah yang akan bisa melihat wajah gelap dari ambiguitas moral milik plot twist-nya, yang menunjukkan betapa bentuk cinta satu pihak dapat dipandang sebagai hal keji oleh pihak lain.
Menyusul kemudian adalah momen pesta di depan api unggun yang menguarkan aroma bittersweet perihal konsep "bersama selamanya", sementara lagu Kyou no Hi wa Sayounara (Today is the Time for Goodbye) yang terdengar magis, secara sempurna mewakili perasaan kompleks dari peristiwanya. Akhirnya, Chiikawa the Movie: The Secret of the Mermaid Island pun dipungkasi oleh implikasi kelam mengenai ketakutan terhadap malapetaka yang setia mengintai hidup individu pemilik dosa. Hal-hal di atas tersaji dalam film seputar makhluk-makhluk mungil menggemaskan.
REVIEW - TOY STORY 5
Terdapat momen saat Jessie (Joan Cusack) menatap pemilik pertamanya, Emily, dengan "ekspresi mainan" yang terlihat kosong. Tanpa Emily tahu mainan gadis koboi favoritnya itu memiliki rasa, dan tatapan tersebut sarat akan kasih sayang. Seketika saya berandai-andai, apakah mainan saya semasa kecil dulu juga memberi tatapan serupa. Apakah mereka juga merasa sedih kala kebersamaan kami perlahan tergerus seiring singgahnya teknologi dalam hidup saya?
Bentrokan antara mainan konvensional dengan teknologi bukanlah problematika kemarin sore. Tapi berbeda dengan konsol gim, kapasitas smartphone atau tablet mampu mencakup seluruh aspek di kehidupan anak. Alhasil, ancaman yang dirasakan Jessie, Buzz (Tim Allen), dan para mainan lain berada di titik tertinggi sewaktu Bonnie (Scarlett Spears) diberi hadiah tablet bernama Lilypad "Lily" (Greta Lee) oleh orang tuanya.
Bonnie memerlukan Lily guna terkoneksi dengan teman-teman sebaya yang lebih banyak hidup di dunia maya. Tapi apakah berarti ia tidak lagi memerlukan mainan kesayangannya? Situasi begitu genting, sampai Woody (Tom Hanks) dengan kepala yang mulai membotak mesti kembali untuk mengulurkan bantuan.
Di lain pihak, sesekali kita diajak mengikuti petualangan sekelompok mainan Buzz Lightyear versi baru, pasca kargo yang membawa mereka karam di sebuah pulau kosong. Adegan pembuka yang mengambil latar di pulau tersebut jadi ajang unjuk gigi bagi departemen animasi yang kembali memberi terobosan kualitas. Detail alamnya luar biasa nyata, tidak jarang Toy Story 5 seolah bak hibrida berisi karakter animasi yang eksis di dunia live action.
Saya kembali terpukau saat latarnya beralih ke rumah lama Emily yang kembali dikunjungi oleh Jessie akibat suatu "kecelakaan". Semburat sinar surya yang mempersilakan para mainan menikmati kehangatannya tampak amat indah. Lalu ketika hati mereka dirundung pilu, seisi rumah terlihat kelabu seolah dikuasai mendung. Disokong jajaran tim handal, Andrew Stanton selaku sutradara membuktikan bahwa film animasi sudah makin piawai memanipulasi emosi penonton lewat permainan cahaya.
Singkat cerita, Buzz dan Woody mulai mencari keberadaan Jessie, dan film Toy Story pun kembali menggunakan "misi penyelamatan" selaku alat penggerak cerita. Kebencian protagonisnya terhadap Lilypad si benda modern mengingatkan pada keresahan Woody atas kehadiran Buzz di film pertama, dan nantinya, kecemasan mainan akan fakta bahwa si pemilik kelak bakal tumbuh dewasa, juga mengundang kesamaan dengan pokok bahasan film ketiga.
Dibanding judul-judul sebelumnya, Toy Story 5 memang paling banyak menerapkan pengulangan. Tapi toh dampaknya tidak melemah. Salah satunya karena naskah buatan Andrew Stanton dan Kenna Harris selalu punya cara memukau penonton lewat kreativitas mereka mengeksplorasi bangunan dunianya. Sebuah dunia yang sejatinya begitu kaya, namun tak disadari manusia dengan segala ketidakpedulian mereka akan hal kecil.
Tentunya air mata penonton dewasa masih akan tumpah ruah mendapati trauma berkepanjangan di batin Jessie diberi konklusi, yang dimotori kepekaan luar biasa dalam pengadeganan Stanton. Di situlah kita menyaksikan cinta para mainan kepada sang pemilik akhirnya berbalas, seiring timbulnya kesadaran kalau pendewasaan tidak selalu bersinonim dengan melupakan.
Di luar dugaan, proses yang dilalui Lily tidak kalah menyentuh. Serupa Jessie (dan banyak dari kita yang sudah terlalu kenyang menyantap rasa pahit kehilangan serta kegagalan), Lily mulai mempertanyakan seberapa berharga dirinya. Hati saya patah saat karakter yang awalnya nampak seperti antagonis mengesalkan ini mengambil keputusan ekstrim didorong oleh keputusasaan.
Toy Story 5 memang tidak memprovokasi kita untuk serta merta membenci teknologi. Cepat atau lambat teknologi akan menginvasi hampir seluruh sendi keseharian manusia, dan alih-alih seutuhnya menampik, film ini mengajak kita belajar hidup bersama sembari mencari cara untuk memanfaatkannya secara bijak.
Sedikit disayangkan, babak ketiganya kekurangan presentasi seru guna menguatkan puncak penceritaan. Keputusan menaruh fokus pada proses internal Bonnie menggali keberanian yang terkubur terlampau jauh dalam dirinya bukan berarti tiada kesempatan guna mengatrol kualitas spektakel. Setidaknya ia memberi persembahan spesial berupa salah satu pemandangan paling romantis sepanjang sejarah Toy Story.
Di tengah perjalanan menuruni mal selepas menonton, perhatian saya dan istri tercuri oleh seorang anak yang nampak bersemangat membawa pulang mainan yang baru dibelikan oleh orang tuanya. Seketika kenangan soal mainan masa kecil kembali memenuhi dada. Saya teringat bahwa dahulu aktivitas bermain mendatangkan kebahagiaan yang sedemikian besar, jadi rasanya, mainan-mainan saya pun menyimpan kebahagiaan serupa. Semoga.
REVIEW - GARUDA DI DADAKU
Garuda di Dadaku adalah film anak yang memadai. Selama 78 menit durasinya, para bocah di studio tempat saya menonton berulang kali tergelak, beberapa bahkan turut bersorak ketika sang protagonis memenangkan pertandingan. Tapi apakah ia bakal menyulut ketertarikan mereka terhadap cabang olahraga yang diangkat? Rasanya tidak.
Debut penyutradaraan Ronny Gani yang sudah malang melintang di perfilman dunia sebagai animator (termasuk di banyak judul populer MCU) ini mengambil latar di semesta yang sama dengan versi orisinalnya (2009), saat membuat tokoh utamanya, Putra (Keanu Azka), bercita-cita menjadi pemain sepakbola karena mengidolakan Bayu (Emir Mahira) yang kini telah menjadi andalan timnas.
Supaya lebih bersahabat bagi penonton anak, selain menggeser format presentasi menjadi animasi, naskah buatan Makbul Mubarak dan Sofia Lo menaburkan bumbu fantasi. Diceritakan, para dewa berwujud burung garuda rutin menyambangi dunia manusia (tepatnya Indonesia) guna memilih calon atlet sepakbola berbakat, kemudian memberkatinya dengan beragam keunggulan.
Mitologinya menarik. Garuda di Dadaku mengejawantahkan anekdot soal bagaimana deretan pemain terbaik memperoleh kehebatan mereka karena diberkati dewa sepakbola. Mungkin semasa kecil, Lionel Messi pernah disambangi oleh dewa berbentuk burung rufous hornero.
Hidup Putra yang terancam mesti mengubur cita-cita akibat penyakit asma seketika berubah sejak kehadiran Gaga (Kristo Immanuel), garuda kecil pembawa jersei sakti yang secara ajaib memperbaiki kondisi fisik Putra, pula mengatrol kemampuan olah bolanya.
Tercetuslah ide membentuk tim untuk berlaga di turnamen junior, namun tersisa satu persoalan: Apa jadinya 11 orang di lapangan tanpa pelatih? Datanglah Naya (Quinn Salman), putri seorang pelatih terpandang yang bersedia menggembleng Putra dan teman-temannya. Naya adalah karakter favorit saya. Cerdas, tegas, pun eksistensinya relevan di tengah seksisme yang masih menyelubungi kultur sepakbola modern. Tengok reaksi media sosial kala Marie-Louise Eta ditunjuk menangani tim Union Berlin untuk sementara.
Menarik pula mengamati karakter Ayah (Ibnu Jamil), yang mewanti-wanti supaya Putra tidak memforsir fisiknya, tanpa harus terkesan mengekang kebahagiaan sang anak. Ketimbang memenjarakan mimpi, Ayah memilih membuka ruang diskusi. Kendati utamanya ditujukan bagi penonton anak, Garuda di Dadaku tak lalai mengajak para orang dewasa supaya turut belajar.
Terkait departemen animasi, saya rasa tiada hal signifikan yang layak dikeluhkan. Pergerakannya mulus, pilihan warna cerahnya pun efektif memancing antusiasme bocah. Masalah terletak tiap adegan pertandingan mengambil alih sentral penceritaan. Keseruan di lapangan hijau sama sekali tak nampak akibat eksekusi ala kadarnya.
Muncul pertanyaan. Jika sudah kadung dibumbui unsur fantasi demi menghibur penonton anak, mengapa tidak sekalian menggila? Memakai ragam jurus absurd serupa Captain Tsubasa misal? Lagipula penggunaan entitas dewa garuda sudah jauh lebih absurd dibanding kemunculan alien/mutan di seri Inazuma Eleven, jadi kenapa harus menahan diri? Ataukah keterbatasan biaya menyempitkan ruang eksplorasi?
Tapi jika dipandang selaku cerita sepakbola realis pun, Garuda di Dadaku kekurangan satu elemen esensial, yakni perihal daya tarik cabang olahraga itu sendiri. Bagaimana bisa di dunia nyata, tanpa tendangan-tendangan super, sepakbola terasa seru? Filmnya luput menjawab itu. Apa perlunya membuat Naya membuat tim Putra memainkan tiki-taka kalau detail taktiknya sendiri lalai ditelusuri?
Garuda di Dadaku memang punya banyak pesan bermakna, tapi beberapa di antaranya gagal diutarakan dengan mulus. Contohnya tentang "berusaha dengan kekuatan sendiri." Kelak Putra tidak lagi bergantung pada jersei ajaib pemberian Gaga, namun proses yang ia dan timnya lalui terlampau instan. Tidak sampai sebulan, segerombolan bocah yang awalnya tak memahami aturan sepakbola ini mendadak bertransformasi jadi sehebat Ronaldinho di puncak kejayaannya.
Filmnya mengajarkan supaya menjauhi kecurangan, namun di partai puncak, Gaga yang tidak terlihat di mata orang selain Putra dan rekan-rekannya, merecoki aksi tim lawan. Tapi setidaknya anak-anak akan pulang dengan perasaan senang (dan ini bukan pencapaian yang bisa dianggap remeh). Saya kira itu saja hal yang dirasa penting oleh para pembuat Garuda di Dadaku.
REVIEW - HOPPERS
Benar bahwa sihir Pixar tak lagi semujarab dahulu, kala kualitas "bintang lima" serta kejayaan di Oscar sudah jadi garansi. Hoppers sendiri takkan menyediakan bangunan dunia perhewanan sedetail Finding Nemo maupun karya kebanggaan perusahaan induk mereka, Zootopia, namun film buatan Daniel Chong ini punya pencapaian lain yang tak kalah mengagumkan, yakni eksplorasi genre secara kaya.
Kisahnya diawali oleh prolog berupa montase khas Pixar: Mabel (Piper Curda) si bocah penyendiri yang gagal dipahami oleh lingkungannya, menemukan kebahagiaan dengan menghabiskan waktu bersama sang nenek (Karen Huie) menikmati ekosistem suatu padang rumput penuh hewan. Kita sudah belajar dari Up, bahwa montase tersebut bakal dipungkasi oleh kepergian si nenek. Hubungan kekeluargaan keduanya tak digali seberapa mendalam, tapi menyediakan motivasi memadai bagi aksi protagonisnya.
Sepeninggal nenek, Mabel menjaga perjuangannya tetap hidup lewat perlawanannya terhadap niat Jerry (Jon Hamm), Wali Kota Beaverton, yang hendak meratakan padang rumput tempat beragam spesies tinggal guna membangun jalan bebas hambatan. Masalahnya, terjadi anomali. Tidak satu pun hewan bisa ditemukan di sana, termasuk koloni berang-berang yang eksistensinya begitu esensial bagi ekosistem. Semua mendadak hilang.
Beruntunglah Mabel mengetahui keberadaan teknologi "Hoppers" hasil kreasi profesor biologinya, Dr. Samantha (Kathy Najimy), yang memungkinkan manusia memindahkan kesadaran mereka ke tubuh robot hewan. Sederhananya, seperti Avatar. Mabel sendiri sempat berceloteh mengenai kemiripan itu, sebelum bertindak nekat mentransfer dirinya ke robot berang-berang guna menginvestigasi misteri hilangnya para hewan.
Sampai di titik ini, naskah buatan Jesse Andrews masih serba familiar. Mabel pun menyusup ke koloni hewan, lalu mempelajari dinamika hidup mereka yang melahirkan banyak komedi situasi, termasuk kelakar menggelitik antara beruang dan berang-berang mengenai "aturan kolam" yang sudah diungkap oleh trailernya. Humornya takkan memecah tawa secara luar biasa, tapi cukup untuk memotori daya hibur filmnya.
Terselip satu detail kecil yang menarik. Ketika disimak lewat perspektif manusia, para hewan memiliki mata kecil realistis berwarna hitam. Menggemaskan tapi kosong. Sebaliknya, sewaktu kita diajak memandang hewan melalui perspektif mereka sendiri, mata itu berubah jadi "lebih kartun", konyol, juga kaya emosi. Manusia memang punya tendensi melihat hewan sebagai makhluk imut belaka, bak boneka tanpa nyawa yang bisa diperlakukan semaunya.
Biar demikian, secara keseluruhan, paruh awal Hoppers dipenuhi poin-poin formulaik yang jamak kita temui dalam judul-judul lain, bahkan animasi generik sekalipun. Begitu pula pesan mengenai harmoni alam raya, serta petualangan sepasukan hewan yang bakal memesona bagi penonton semua umur. Sehingga siapa sangka hal-hal itu merupakan gerbang, yang begitu dibuka akan seketika memperluas dunia kecil protagonisnya ke teritori yang tak terbayangkan sebelumnya.
Seiring alurnya mendengungkan alarm pengingat bahwa senjata ciptaan manusia kelak berisiko berbalik menghancurkan kita (amat relevan dengan wajah dunia masa kini yang berada di bibir jurang peperangan), pelan-pelan naskahnya menggiring penonton menyatroni wilayah cerita yang tidak terduga. Transisinya begitu mulus, melebur apik dengan cerita utamanya, hingga bukan mustahil banyak yang melewatkan keliaran eksplorasi genrenya.
Hoppers tidak ragu melangkahkan kaki menuju kekonyolan khas b-movie yang serba hiperbolis. Salah satu adegan kejar-kejarannya menyuguhkan skenario "Apa jadinya kalau Pixar mengadaptasi Sharknado?" Di penghujung babak kedua pun, kala alurnya sejenak memindahkan latar ke laboratorium Dr. Samantha, Daniel Chong secara cerdik menyusun pengadeganan bak sedang mengarahkan horor fiksi ilmiah dari dekade lalu.
Kehangatan milik babak ketiganya menjadi pelengkap. Saya mendapati diri menangisi kebaikan sekelompok makhluk hidup yang bersedia menolong spesies lain yang pernah menyakiti mereka. Mungkin kebaikan semacam itulah yang menunda kehancuran total dunia ini dan membuatnya terus bernyawa.
REVIEW - NOBODY (2025)
Sebelum menonton tidak banyak yang saya tahu tentang Nobody, kecuali status selaku film animasi 2D buatan Cina dengan pendapatan tertinggi, juga alurnya yang mengadaptasi novel Journey to the West. Maka ketika adegan pembukanya menampilkan siluman (disebut "yaoguai") berwujud babi, saya mengasumsikan identitasnya sebagai Zhu Bajie, salah satu murid Biksu Tang Sanzang. Tapi rupanya ia hanya siluman biasa, atau seperti disebut oleh judulnya, "a nobody".
Selain novel legendaris karya Wu Cheng'en, Nobody juga mengambil inspirasi dari serial animasi Yao-Chinese Folktales, tepatnya episode pertama dengan tajuk The Summer of the Little Monster, yang menghadirkan perspektif segar bagi hikayat pencarian kitab suci ke Barat. Alih-alih Sun Wukong dkk., kisahnya dipaparkan melalui sudut pandang pihak luar, yakni gerombolan siluman tanpa nama.
Lelah dijadikan bulan-bulanan siluman kuat, pula merasa tak mampu mengalahkan Sun Wukong agar bisa memakan daging gurunya, Siluman Babi (Ziping Chen) mencetuskan sebuah ide nekat: Menyamar jadi kelompok Biksu Tang, lalu melangsungkan perjalanan ke Barat sendiri supaya memperoleh keabadian.
Di luar Siluman Babi yang otomatis memerankan Zhu Bajie, terkumpul tiga kawanan lain. Siluman Katak (Yang Lu) memerankan Biksu Tang, Siluman Musang (Wenliang Dong) dengan janggut palsu memerankan Sha Wujing, sedangkan Siluman Gorila yang penakut (Cong Liu) memerankan Sun Wukong. Bagaimana mungkin tipuan murahan ini berhasil?
Naskah yang ditulis oleh sang sutradara, Yu Shui, bersama Liu Jia, bermain-main dengan fakta bahwa di abad 7 sampai 10 selaku latar waktu, berita disampaikan dari mulut ke mulut oleh seorang pencerita, sehingga memiliki tingkat akurasi rendah. Tidak ada yang tahu pasti wujud Biksu Tang dan murid-muridnya. Begitu pun protagonis film ini, yang meminta bantuan Siluman Ayam agar melukis interpretasi atas sosok para biksu sakti tersebut, dalam adegan yang dipakai sebagai penghormatan terhadap serial populer Journey to the West rilisan 80-an.
Humornya tidak selalu tepat sasaran, tapi kesediaan melontarkan lelucon bernuansa pop masa kini, seperti penampakan kelompok boy band dalam lukisan Siluman Ayam, hingga sentilan mengenai Sha Wujing yang paling sering terlupakan dibanding "kakak-kakaknya", menawarkan tambahan amunisi dalam upaya filmnya menelurkan modifikasi segar bagi materi aslinya.
Walau mengangkat perspektif unik, Nobody tetap memiliki wajah yang lebih generik terkait penceritaan. Alurnya terdiri atas kumpulan fragmen yang masing-masing mengetengahkan persinggahan kuartet tokoh utamanya, sehingga kerap tampil tak ubahnya serial televisi yang dipindahkan ke layar perak. Mereka akan bertemu siluman, yang entah berambisi memakan daging Biksu Tang, atau mengganggu ketentraman warga desa.
Tapi siapa yang bisa menolak keindahan visualnya? Didukung lebih dari 600 orang tim produksi, animasinya yang mengedepankan gaya ala goresan tinta cair, membantu Yu Shui mempresentasikan karyanya bak visualisasi cerita rakyat. Lanskap dunia cantik miliknya seolah keluar dari lukisan dan karya sastra berusia ribuan tahun.
Indah, hangat, namun tetap memberi ruang untuk sudut-sudut yang lebih kelam. Nobody tidak ragu membuat tokoh-tokoh ceria yang senantiasa menyulut tawa, terperosok ke jurang kegelapan. Khususnya kala mereka dikuasai keputusasaan sebagai sosok "nobody" yang merasa dirinya sekadar sampah tanpa guna, sebelum mencapai babak ketiganya yang empowering, diiringi gelaran aksi dahsyat khas blockbuster kelas satu.
Konon eksistensi yaoguai disebabkan oleh dosa atau karma buruk, yang mengharuskan mereka bereinkarnasi sebagai monster mengerikan. Setibanya di fase konklusi menyentuh, yang senada dengan paham Buddhisme, tak menjadikan kematian selaku akhir, jelas pula ke mana perjalanan empat karakternya bermuara. Nobody bukan kisah mencari kitab suci belaka, melainkan proses purifikasi individu dari dosa maupun hal-hal negatif yang menyelimuti kehidupan.
REVIEW - LESBIAN SPACE PRINCESS
Saira (Shabana Azeez) adalah seorang putri dari planet berisi para lesbian bernama Clitopolis, yang dalam petualangannya mengarungi luar angkasa mesti menghadapi segunung bahaya, termasuk serbuan robot berwujud penis raksasa, yang dikendalikan oleh alien berbentuk penis mini. Lesbian Space Princess karya Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese adalah selebrasi liar sarat kebanggaan atas identitas diri, khususnya lesbianisme.
Biarpun berstatus putri dari dua ratu (Madeleine Sami dan Jordan Raskopoulos) yang begitu dicintai rakyat, Saira justru kerap jadi bahan olok-olok, akibat sikap canggung dan tertutup miliknya. Bahkan Saira belum mampu mengeluarkan kapak labrys selaku simbol kekuatan kaum lesbian. Saira juga baru ditinggalkan oleh Kiki (Bernie Van Tiel), yang berlawanan dengannya, adalah sesosok petualang.
Biarpun cuma berpacaran dua minggu, hati Saira demikian hancur hingga terperosok ke lubang depresi, yang Hobbs dan Varghese pakai untuk melempar parodi bagi adegan "Possibility" dari The Twilight Saga: New Moon (2009). Ketika Kiki diculik oleh sekelompok Straight White Maliens (pilihan nama cerdas!) dalam ambisi mereka menguasai para perempuan lagi, Saira mesti mengesampingkan ketakutannya akan dunia luar, guna melangsungkan misi penyelamatan melintasi sudut-sudut angkasa yang menyeramkan.
Visualisasi semesta Lesbian Space Princess luar biasa kaya. Alih-alih warna hitam konvensional, outline karakternya memakai biru yang lebih cerah. Setiap sisi dunianya tak henti-henti memamerkan keliaran desain yang tak mengenal batasan moralitas maupun kreativitas. Sudahkah saya memberitahu kalau planet Clitopian secara harfiah memiliki bentuk seperti klitoris?
Emma Hough Hobbs dan Leela Varghese mendesain Clitopian dan sekitarnya sebagai ekspresi kebanggaan akan lesbianisme (juga LGBTQ secara general), memposisikannya selaku representasi ruang aman untuk kelompok yang di realita kerap dipresekusi akibat identitas mereka.
Melaju dengan kecepatan tinggi, dibarengi aneka ragam humor nakal nihil kekangan yang acap kali kehadirannya mengecoh ekspektasi, pula barisan lagu gubahan Michael Darren dan Matthew Hadley dengan lirik bak deskripsi menggelitik bagi peristiwa yang tengah nampak di layar, tidak ada ruang bagi rasa bosan untuk merusak daya hibur Lesbian Space Princess.
Menunggangi pesawat bernama Problematic Ship (disuarakan oleh Richard Roxburgh) yang gemar melempar ujaran-ujaran ketinggalan zaman, sempat pula ditemani Williow (Gemma Chua-Tran) si mantan bintang idola gay dengan cara pikir positifnya, Saira melewati perjalanan coming-of-age, yang seiring waktu bukan lagi (hanya) tentang menyelamatkan Kiki, melainkan dirinya sendiri dari ketiadaan self-worth.
(JAFF 2025)
REVIEW - ZOOTOPIA 2
Serupa film pertama, Zootopia 2 punya bangunan dunia kokoh, di mana seluruh elemennya terasa hidup dan berjalan dengan aturan-aturan jelas. Keserakahan antagonisnya bukan sebatas kejahatan tanpa arti, tapi sebagai hewan teritorial, ia memang punya tendensi memperluas wilayah kekuasaan. Kulit luar filmnya memang dibuat over-the-top atas nama hiburan semua umur, namun jiwanya bergerak sebagaimana realita.
Jeda antar kedua film hampir satu dekade (sebuah anomali mengingat Zootopia mengeruk untung besar), tapi alur sekuelnya hanya berjarak seminggu dari konklusi pendahulunya. Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) dan Nick Wilde (Jason Bateman) yang dielu-elukan bak pahlawan kini secara resmi berpartner di ZPD (Zootopia Police Department). Seekor kelinci dan rubah merah pun bersatu.
Nyatanya bukan perkara mudah menjalin relasi lintas spesies. Judy yang terlalu positif dan Nick yang cenderung negatif terus mengalami gesekan, berujung setumpuk kekacauan yang membuat posisi keduanya di kepolisian terancam. Ketimbang menyiasati konflik lewat obrolan hati ke hati, dua jagoan kita memilih menampik adanya masalah, memupuk disfungsi yang patut jadi bahan observasi setiap pasangan.
Naskah buatan Jared Bush (turut menyutradarai bersama Byron Howard) menjaga hubungan dua protagonisnya tetap di ranah platonik. Penonton anak bakal memandangnya sebagai persahabatan biasa, tapi di mata penonton dewasa lah keintiman yang urung berkembang ke arah percintaan ini akan terlihat unik. Isian suara Ginnifer Goodwin dan Jason Bateman yang sarat chemistry makin menguatkan pesona dua karakter utama. Mereka adalah individu yang benar-benar hidup, di tengah dunia yang tak kalah hidup.
Di balik peliknya friksi interpersonal tersebut, Judy dan Nick mesti mengusut kemunculan ular viper bernama Gary (Ke Huy Quan) yang ditengarai mengancam stabilitas kota. Sudah bertahun-tahun sejak ular (atau reptil secara general) yang ditakuti dan dipandang selaku ancaman, menginjak tanah Zootopia, yang seiring waktu akan kita telusuri sejarah kelamnya.
Komponen misteri berlandaskan subgenre komedi buddy cop yang cukup efektif menggamit atensi pun digelar, digerakkan oleh duo sutradaranya dengan tempo tinggi yang terbukti menjaga sisi hiburan filmnya. Humor yang enggan asal konyol, tapi secara cerdik terus merujuk pada mekanisme ekosistem yang telah dibangun pun tampil segar, sementara para pecinta sinema bakal kembali dipuaskan oleh sederet referensi, termasuk penghormatan terhadap salah satu karya Stanley Kubrick di babak ketiganya.
Progresi ceritanya tak pernah keluar dari pakem familiar khas animasi semua umur dalam lingkup arus utama Hollywood, pula tanpa dampak emosi yang manjur mengobrak-abrik perasaan penonton, namun Zootopia 2 adalah spektakel dengan daya pikat yang sukar ditolak. Shakira kembali memerankan Gazelle si diva, lalu membawakan lagu berjudul Zoo yang mudah menempel di kepala sekaligus memancing hentakan kaki. Keseluruhan film ini pun kurang lebih berlangsung demikian.
Sebuah twist telah menanti jelang babak akhir, yang bukan cuma mengejutkan, juga mendukung subteks kisahnya. Zootopia 2 memberi ruang bagi mereka yang merasa tidak pernah diterima, serta dikucilkan baik karena perbedaan fisik maupun perangai. Relevan, biarpun tidak seberapa menyentuh perasaan.
REVIEW - YOUR LETTER
Mengadaptasi manhwa berjudul sama karya Hyeon A Cho, Your Letter adalah film yang memotret aktivitas sederhana seperti meminum teh bunga gemitir (marigold) dan mencari jejak di hutan sebagai fenomena spesial. Dunia, kendati diselimuti ragam keburukan, digambarkan bak semesta magis, dengan kehidupan manusia selaku keajaiban terbesarnya. Indah.
Tapi keindahan tidak sedang dialami protagonisnya, So-ri (Lee Su-hyun), yang terpaksa pindah sekolah dari Seoul ke desa tempat tinggal neneknya, akibat mengalami perundungan. Berawal dari keberanian So-ri menegur para pelaku yang selalu menyiksa teman sekelasnya, ia justru berbalik jadi korban baru.
Berharap membuka lembaran anyar, So-ri justru kesulitan beradaptasi gara-gara trauma yang enggan meninggalkannya. Sampai ia menemukan surat dari siswa misterius bernama Ho-yeon (Min Seung-woo) di laci mejanya, yang menyediakan setumpuk data untuk So-ri mengenai lingkungan sekolah barunya. Semangatnya pun perlahan kembali tersulut.
Surat Ho-yeon bukan cuma satu. Sebuah surat mencantumkan petunjuk soal keberadaan surat berikutnya. Terciptalah misteri menarik bak pencarian harta karun di tengah upaya So-ri menemukan surat-surat itu. Sempat pula So-ri berkenalan dengan Dong-soon (Kim Min-joo), yang diyakini menyimpan informasi mengenai jati diri Ho-yeon.
Di salah satu momen paling berkesan sepanjang filmnya, So-ri mendapati surat Ho-yeon terkubur di bawah batu yang telah terendam dalam kolam. Si gadis tak patah arang, lalu nekat menyelami kolam tersebut. Mungkin bukan surat dari Ho-yeon yang susah payah So-ri cari, melainkan kebahagiaan. Di kursi sutradara, Kim Yong-hwan memang tahu betul cara memupuk rasa secara elegan. Simak saja adegan penutupnya, yang membawa dampak emosi lantang biarpun dihiasi keheningan.
Presentasi Kim Yong-hwan turut diperkuat oleh kecantikan animasi 2D filmnya, yang mengingatkan pada karya-karya Makoto Shinkai. Tentu jangan mengharapkan level setara, tapi perspektif Kim Yong-hwan yang menaruh kekaguman terhadap bentangan alam cukup mengingatkan pada ciri khas sineas Jepang tersebut. Menarik pula menyaksikan kala sesekali animasinya berganti gaya secara ekspresif guna mewakili suasana hati si tokoh utama.
"Berbuatlah baik pada orang lain, maka orang tersebut bakal memberi kebaikan serupa untuk orang berikutnya, begitu seterusnya, hingga tercipta dunia yang lebih baik." Begitulah kurang lebih pesan yang Your Letter harapkan dapat dibaca oleh penontonnya, yang turut menciptakan koneksi dengan isu perundungan yang kondisinya sudah sedemikian gawat di Korea Selatan.
Di luar persoalan surat misteriusnya yang unik, Your Letter, (tanpa mengerdilkan urgensinya yang tetap tinggi), sejatinya belum membawa gebrakan untuk formula cerita bertema perundungan. Caranya membungkus dorongan supaya berani melawan para pelaku pun terkesan naif dan menyederhanakan permasalahan.
Sebagaimana disinggung di awal, alasan So-ri menjadi korban adalah karena perlawanan yang ia berikan. Kala itu, teman-teman sekelasnya enggan membela. Tapi nantinya, karakter lain di latar waktu dan tempat berbeda, melakukan perlawanan serupa namun mendapat dukungan dari teman-temannya. Apa penyebab perbedaan itu? Your Letter luput mengolahnya lebih jauh, seolah menyuruh para korban melawan sembari mengharapkan keberuntungan.
Seiring waktu, semakin banyak problematika yang filmnya kupas, hingga di titik alurnya terasa penuh sesak. Setidaknya kekurangan tersebut didasari oleh niat baik untuk memberi latar belakang yang layak kepada tiga karakter utama, yang untungnya tetap dibiarkan berdinamika dalam lingkup persahabatan tanpa pernah terjatuh dalam keklisean romansa.
REVIEW - MEMOIR OF A SNAIL
"Art comes from joy and pain, but mostly from pain." Begitu kata-kata dari pelukis ternama asal Norwegia, Edvard Munch. Memoir of a Snail ibarat pembuktian dari kutipan tersebut. Mengambil inspirasi dari kisah hidup sang sutradara, Adam Elliot, animasi stop-motion ini tak ubahnya proses katarsis. Ekspresi artistik yang secara bersamaan tampak "jelek" sekaligus cantik, pula terasa menyedihkan sekaligus menghangatkan.
Dunia maupun karakternya tak sejalan dengan keindahan konvensional. Tanpa warna cerah, juga tidak mengenal makhluk-makhluk rupawan yang bak diturunkan dari surga. Semua seperti manifestasi kepiluan pembuatnya, yang diwakili oleh Grace Pudel (Sarah Snook), gadis yang tumbuh di Melbourne era 70-an bersama saudara kembarnya, Gilbert (Kodi Smit-McPhee), dan Percy (Dominique Pinon), ayah mereka yang mengidap paraplegia.
Selama sekitar 95 menit, alurnya bertindak selaku memoar soal Grace, yang dalam tahun-tahun hidupnya seperti bersahabat dengan tragedi. Semua hal yang berpotensi menghancurkan diri individu pernah ia alami, dari kematian orang-orang terdekat, perundungan, kegagalan menjalin hubungan, manipulasi, hingga gangguan kesehatan mental.
Kondisi tersebut membuat Grace tumbuh menjadi manusia yang tertutup. Melankoli menancapkan kukunya di hati Grace, yang turut diwakili oleh iringan musik garapan Elena Kats-Chernin, juga isian suara Sarah Snook. Alhasil, sebagaimana para siput (dan benda bermotif siput) yang dikoleksi dan ia anggap sebagai satu-satunya sahabat, Grace memilih bersembunyi dalam cangkang ciptaannya sendiri. Ada kalanya penderitaan tanpa ujung ini terkesan repetitif, tapi gaya bertutur unik dari Adam Elliot menjauhkannya dari kemonotonan.
"We left her womb, she entered her tomb", ucap Grace mendeskripsikan kematian sang ibu kala melahirkannya dan Gilbert. Memoir of a Snail dihiasi komedi hitam "sakit" yang tak pernah gagal membuat geli, berkat kejelian naskahnya (juga dibuat oleh Elliot) memadukan tragedi dan komedi secara natural, seolah memberi pernyataan bahwa cara terbaik untuk beranjak dari kemalangan adalah menertawakannya.
Konklusinya terkesan agak menyederhanakan permasalahan, terasa pula berasal dari film yang berbeda akibat hadirnya rentetan kebahagian secara tiba-tiba (termasuk twist mengenai seorang hakim). Bukan pilihan naratif yang cerdik, tapi keputusan Elliot bisa dipahami. Dia ingin memberi si protagonis (yang terinspirasi dari dirinya sendiri) sebuah pelukan hangat yang pantas ia dapatkan. Hanya saja, pelukan itu datang terlalu dekat dengan ending sehingga memunculkan kesan dadakan.
Tapi dampak emosinya jelas terasa. Sebuah kehangatan dari proses menyadari, bahwa seliar apa pun turbulensi yang dihadapi, juga sesakit apa pun luka yang diakibatkannya, kelak siklus kehidupan yang terus berputar layaknya spiral di cangkang seekor siput bakal mendatangkan kebahagiaan.
(JWC 2025)
REVIEW - PANJI TENGKORAK
Selepas Jumbo membuktikan kalau animasi punya tempat di hati masyarakat Indonesia dengan memecahkan rekor jumlah penonton, juga terkait kualitas para pelaku industrinya yang pantang dianggap remeh, maka Panji Tengkorak terasa seperti langkah lanjutan yang logis. Daryl Wilson dan tim mengajarkan bahwa animasi bukanlah medium yang hanya diperuntukkan bagi konsumen anak.
Tengok saja penokohan si Panji Tengkorak (Denny Sumargo). Dia adalah antihero yang bersedia mengorbankan keselamatan warga sipil asalkan misinya tercapai. Tentu seiring durasi ia bakal berproses ke arah lebih baik, namun di awal perkenalannya, nurani merupakan omong kosong di mata Panji.
Si protagonis bertransformasi menjadi pendekar ilmu hitam yang tak bisa mati pasca istrinya, Murni (Aisha Nurra Datau), tewas di tangan perompak. Dikuasai api dendam, Panji pun menggali makam Murni, lalu memakai tengkorak mendiang sang istri sebagai topeng. Panji ingin Murni bisa melihat apa yang ia lihat, seolah berharap dapat memberinya kehidupan kedua. Panji memang gila, tapi ia juga memiliki sisi puitis.
Fokus alurnya terletak pada perjalanan Panji bersama Bramantya (Donny Damara), Gantari (Aghniny Haque), dan Kuwuk (Candra Mukti), yang bertujuan merebut kembali sebuah pusaka keramat dari tangan penjahat keji bernama Kalawereng (Tanta Ginting). Ceritanya cenderung tipis. Sebatas mengajak kita melihat si jagoan berkeliaran di hutan, sambil sesekali menumpas para penjahat yang menghalangi jalan.
Setidaknya alur tipis tersebut menyimpan subteks penting seputar ambiguitas moral, bahwasanya, dunia tidak bisa dilihat sebagai perwujudan warna hitam dan putih. Di pertarungan puncak, Panji mengeluarkan aura hitam dari tubuhnya, sedangkan si antagonis memancarkan warna putih.
Tentu perspektif serta simbolisme kompleks di atas belum sepenuhnya bisa dimengerti oleh penonton anak. Belum lagi bila membicarakan gelaran aksinya, yang bukan sekadar mencipratkan darah, pula tak segan menyajikan anggota tubuh yang terpotong. Kebrutalan filmnya turut dibarengi kreativitas. Salah satunya nampak dari kekuatan unik Panji, yang ludahnya mengandung racun hingga sanggup melelehkan tubuh lawan layaknya Xenomorph dari film Alien.
Animasinya memang belum sempurna, terutama soal gerakan karakter yang cenderung patah-patah dan jauh dari kata "mulus". Tapi tengok bagaimana keterbatasan ini berhasil ditutupi oleh daya kreasi tinggi jajaran animator yang melahirkan banyak desain unik nan keren bagi tokoh-tokohnya.
Satu aspek yang juga patut mendapat apresiasi adalah lagu Bunga Terakhir yang dibawakan oleh Isyana Sarasvati dan Iwan Fals. Biarpun pemakaiannya agak berlebihan karena diputar sampai enam kali (termasuk saat menutupi obrolan penting beberapa karakternya), ia tetaplah nomor soulful yang sempurna mewakili gejolak perasaan si pendekar.
Panji Tengkorak memang pencapaian audiovisual. Klimaksnya yang dihiasi gelaran visual mencolok, pengarahan aksi apik dari Daryl Wilson, juga alunan musik yang meminjam nuansa gamelan, jadi puncak performa seluruh departemen, yang bagi saya tidak berlebihan bila disebut "membanggakan".
REVIEW - WARKOP DKI KARTUN
Di film ini, trio Warkop DKI bertarung melawan robot, bahkan berupaya menggagalkan rencana Korea Barat (ini bukan salah tulis) melancarkan serangan nuklir ke Indonesia di tengah pertandingan kualifikasi Piala Dunia. Tapi bagian terbaiknya justru datang dari cerita paling sederhana, yakni tentang investigasi terhadap kasus kebocoran soal ujian nasional.
Masih ada kejar-kejaran over-the-top yang memicu efek domino hingga ke luar angkasa, namun dibanding dua kisah lainnya, segmen yang bertajuk Contek Sana Contek Sini tersebut paling memiliki kedekatan pada realita, yang mana senada dengan sentilan khas humor Warkop DKI sebelum era 90-an, yang mengakar kuat pada keseharian. Walau jangan mengharapkan tingkat kritis yang sama, mengingat animasi ini didesain bagi segala usia.
Total ada tiga segmen, yang disatukan oleh tugas Dono (Wiwid Widyas Prihantoro), Kasino (Farie Judhistira), dan Indro (Mo Sidik) sebagai anggota CHIPS di bawah pimpinan sang komandan (Indro Warkop). Robot Antik bicara soal bagaimana trio jagoan kita membuat robot guna menyelesaikan "wabah paku" di jalan raya, Contek Sana Contek Sini membawa mereka menyamar sebagai siswa SD untuk mengungkap identitas penyebar bocoran jawaban ujian, sedangkan Maju Mundur Offside akan mewakili impian masyarakat Indonesia berlaga di Piala Dunia yang belakangan tengah meninggi.
Warkop DKI Kartun sebelumnya pernah hidup dalam format serial 13 episode yang rilis pada tahun 2021. Sebuah keputusan jitu, mengingat medium animasi membebaskan pembuatnya mengeksekusi ide seabsurd apa pun. Misal sewaktu adegan kejar-kejaran antara trio Warkop dan si robot sejenak berganti wujud menjadi seperti permainan platformer dengan gaya visual piksel.
Daryl Wilson yang sebelumnya menangani versi serial kembali duduk di kursi sutradara, kali ini berduet dengan Rako Prijanto. Beberapa kru yang sempat bekerja bersamanya mengerjakan dua film Si Juki pun turut bergabung. Serupa Si Juki the Movie, Warkop DKI Kartun digambar dengan garis-garis tegas yang membuat visualnya begitu menarik dilihat.
Tapi seperti Si Juki the Movie pula, masalah muncul ketika setiap frame dipaksakan agar selalu mengandung kelucuan, yang justru memberi hasil berlawanan. Perhatikan bagaimana film-film lawas Warkop DKI membiarkan dinamika yang lebih serius mengalir di sela-sela banyolan, sehingga: 1) Begitu tiba saatnya melucu, dampak humornya lebih besar; 2) Bangunan ceritanya tetap kuat.
Contek Sana Contek Sini jadi segmen terbaik pun berkat pondasi yang lebih solid. Mungkin tanpa sadar para penulisnya (total ada lima orang menggarap naskah film ini) bekerja lebih mudah kala mengembangkan lelucon berdasarkan problematika yang cenderung dekat dengan realita. Humornya kreatif, bahkan acap kali mengecoh ekspektasi. Di sini pula filmnya memanfaatkan kepemilikan Falcon Pictures atas deretan kekayaan intelektual terkenal, guna menyelipkan beberapa cameo menggelitik.
Film ini adalah bentuk modernisasi. Warkop DKI bukan lagi hanya milik generasi tua maupun orang dewasa, walau kesan "kekinian" itu agak diganggu oleh kehadiran humor-humor yang terkesan outdated, seperti penggunaan istilah "kids jaman now", tren tongsis, dll., namun kekurangan itu dipicu oleh pandemi yang memaksa proses produksi tertunda sejak 2019 (naskahnya ditulis pada 2018).
Setidaknya masih ada beberapa bentuk modernisasi lain yang layak diapresiasi, dari lagu-lagu ikonik Warkop DKI yang dibuat ulang tanpa menghapus identitasnya, sampai performa para aktor yang terdengar luar biasa mirip dengan trio legendaris yang mereka isi suaranya. Semua itu memastikan bahwa warisan Warkop DKI akan terus lestari dari generasi ke generasi.
REVIEW - ELIO
Belum sampai lima menit film ini bergulir, tangis saya sudah jatuh melihat si protagonis yang wajahnya pun dibasahi air mata. Elio (Yonas Kibreab) namanya, bocah 11 tahun yang tak menangis layaknya "karakter kartun". Hanya setitik air mata mengalir di pipi Elio, sementara hatinya merenungkan kesepian yang menghantui. Mungkin ia sendiri tidak sepenuhnya memahami alasan kepiluannya. Ada kalanya kita berada di kondisi serupa. Kedalaman jiwa manusia memang tak kalah misterius daripada jagat raya.
Sebagaimana karya-karya terbaik Pixar, Elio memahami kompleksitas emosi manusia. Adegan di atas memperlihatkan Elio berbaring di semacam planetarium di kantor bibinya, Olga (Zoe Saldaña), yang tergabung dalam kesatuan angkatan udara. Elio yang sebatang kara sepeninggal kedua orang tuanya, terhipnotis oleh hipotesis bahwa umat manusia tidak seorang diri di alam semesta. Dia berharap alien menculiknya, membawanya pergi ke dunia di mana ia diinginkan oleh para penghuninya.
Kelak harapan itu jadi kenyataan, walau sedikit berbeda dari apa yang Elio imajinasikan, di mana ia malah terjebak di tengah konflik luar angkasa, yang turut membawanya menjalin persahabatan unik dengan makhluk dari Hylurg bernama Glordon (Remy Edgerly). Saya tak menyebutnya "alien", karena bagi Glordon pun Elio merupakan alien. Semua hanya perihal perspektif. Pastinya, mereka sama-sama teralienasi di tempat tinggal masing-masing.
Momen saat Bumi pertama kali disambangi oleh makhluk ekstraterestrial yang menciptakan gangguan bagi beragam benda elektronik serta berjasa menghapus skeptisme dalam diri Olga, memancarkan atmosfer mencekam nan magis khas film bertema "kunjungan alien". Trio sutradaranya, Madeline Sharafian, Domee Shi (Turning Red), dan Adrian Molina (Coco) kentara mengerjakan pekerjaan rumah mereka di adegan tersebut.
Begitu pula Julia Cho, Mark Hammer, dan Mike Jones selaku penulis naskah. Close Encounters of the Third Kind (1977) buatan Steven Spielberg terkenal lewat tagline-nya yang berbunyi "We are not alone", yang hingga kini seolah jadi kalimat wajib dalam film mengenai invasi alien. Elio mengambil kalimat yang bersinonim dengan kengerian itu menjadi sesuatu yang lebih bermakna, dengan menerapkannya dalam perjalanan protagonisnya mengusir rasa sepi.
Sewaktu kisahnya mengajak penonton bertualang menjauhi Bumi, biarpun Elio dan Glordon adalah duo yang mudah dicintai, alurnya sebatas melempar suguhan buddy comedy generik. Luar angkasa dengan segala keanehannya tidak lebih dari pernak-pernik visual yang memikat mata akibat minimnya eksplorasi. Padahal pembangunan dunia kerap jadi keunggulan Pixar. Sebaliknya, Elio mencapai fase terbaik tiap alurnya menjalin koneksi dengan kehidupan di Bumi. Di situlah ia sukses mengawinkan elemen fiksi-ilmiah dan drama humanis dengan apik.
Saya kembali meneteskan air mata di babak ketiga tatkala Elio yang tengah melayang di orbit Bumi akhirnya diyakinkan bahwa ia tidaklah seorang diri. Bagi individu yang sudah terlalu lama terkurung dalam rasa sepi, ucapan "Kamu tidak sendiri" ibarat gaya tarik gravitasi yang menjaganya supaya tak terbang mengawang-awang di ruang hampa bernama "kesendirian".
REVIEW - PREDATOR: KILLER OF KILLERS
Prey (2022) berhasil membangkitkan franchise-nya karena ia memahami esensi film orisinalnya, ketika mengadu sang alien pemburu dengan manusia yang masih mengakrabi sisi hewani yang menstimulus insting bertahan hidup mereka. Predator: Killer of Killers membawa pemahaman serupa, bahkan melipatgandakannya, lalu melahirkan film Predator terbaik sejak Arnold Schwarzenegger memamerkan maskulinitasnya di hutan Val Verde.
Alurnya dibagi menjadi tiga latar waktu, di mana setiap masa memiliki "pembunuhnya" masing-masing. Skandinavia tahun 841 membawa kita mengikuti Ursa (Lindsay LaVanchy) selaku pemimpin para prajurit Viking yang terlibat pertempuran dengan pasukan Krivich. Di Jepang tahun 1609 ada konflik antara Kenji dan Kiyoshi (Louis Ozawa), dua putra seorang samurai yang menempuh jalan hidup berbeda. Kemudian ada kisah tentang Torres (Rick Gonzalez), pilot yang terjun ke Perang Dunia II di tahun 1942.
Format animasi memberi kebebasan eksplorasi bagi sang sutradara, Dan Trachtenberg, mengingat perjalanan menempuh tiga masa niscaya bakal memerlukan biaya luar biasa besar bila dipresentasikan dalam bentuk live action. Menyaksikan visual Predator: Killer of Killers terasa seperti mengunjungi museum berisi lukisan-lukisan yang menangkap jejak kekerasan umat manusia secara indah.
Darah tumpah, anggota tubuh terpotong-potong, kepala terlontar ke angkasa. Semua terjadi kala tiga protagonis kita mesti menyambut kunjungan para Predator. Setiap karakter menghadapi monster yang berbeda sesuai gaya bertarung mereka, yang membuat jalannya cerita tak pernah terasa monoton.
Naskah garapan Micho Robert Rutare sejatinya tak menyediakan jalinan cerita kompleks, tapi kesederhanaan tersebut diolah secara efektif, sehingga durasi yang cenderung singkat (90 menit) tak menghalangi Killer of Killers mengembangkan mitologi franchise-nya. Belum pernah dunia Predator dikembangkan semenarik ini, tanpa harus menggelar eksperimen yang terlalu liar (I'm looking at you 'The Predator').
Segala gelaran aksi film ini tampil begitu badass bukan saja karena penggunaan kekerasannya, tapi juga ketiadaan kesan basa-basi di tiap pertarungan. Tiga protagonisnya tidak perlu dibuat mengerti dan coba menganalisa makhluk apa yang mereka hadapi. Monster? Alien? Mereka tak peduli. Satu hal yang ketiganya pahami betul adalah, mereka mesti membunuh bila tak mau dibunuh.
Babak terbaiknya adalah pertarungan di Jepang, yang mayoritas dipaparkan secara non-verbal. Karakternya tak memerlukan kata-kata dan bicara melalui ayunan katana, yang disajikan dalam rangkaian koreografi kelas satu, yang mendapat manfaat besar dari pemakaian medium animasi dengan segala kebebasannya. Fase Perang Dunia II tampil paling generik layaknya suguhan blockbuster bombastis khas Hollywood, biarpun rentetan pertarungan udaranya tetap digarap dengan kualitas mumpuni.
Predator: Killer of Killers memang kisah soal aksi saling bunuh, namun di sisi lain ia juga tampil bak potret mengenai bagaimana umat manusia sebagai makhluk berakal, menempuh proses untuk meninggalkan kebarbaran mereka, kemudian belajar bahwa balas dendam takkan mendatangkan kedamaian, pun kekerasan bukan selalu menjadi jawaban atas segala permasalahan.
(Disney+)
REVIEW - LOST IN STARLIGHT
Salah satu keunggulan animasi adalah kemampuan meruntuhkan batasan penceritaan. Sebuah medium yang membuka diri pada kebebasan tanpa terikat oleh aturan. Ketika live action memotret realita suatu peristiwa, animasi mengeksplorasi ragam posibilitas cara untuk meluapkan rasa yang tertanam di dalamnya. Lost in Starlight hanya akan menjadi sajian fiksi ilmiah generik bila dipresentasikan sebagai live action, tapi medium animasi membuatnya bisa lebih berekspresi.
Kisahnya berlatar di Korea Selatan tahun 2051, di mana kunjungan ke Mars oleh para astronot bukan lagi lompatan mencengangkan. Han Ji-won selaku sutradara (turut menulis naskahnya bersama Kang Hyun-joo) enggan mengimajinasikan masa depan yang suram. Disusun oleh gaya visual ala Studio Ghibli, ia tampilkan gambaran futuristik indah nan kaya warna. Mungkin inilah dunia yang ingin Han Ji-won tinggali.
Di salah satu sudut kota, nampak beberapa karyawan perusahaan pindahan memakai drone untuk mengangkat barang ke lantai 4. Mesin-mesin di film ini meringankan pekerjaan manusia, namun tak sampai terlampau cerdas hingga berpotensi memberontak layaknya di banyak kisah fiksi ilmiah. Dunia Lost in Starlight tampil futuristik, namun masih menyisakan kedekatan dengan realita. Bukan sebuah utopia yang terlalu sempurna.
Kehidupan protagonisnya pun jauh dari sempurna. Nan-young (Kim Tae-ri) adalah astronot yang berharap dipilih untuk berangkat di ekspedisi ke Mars berikutnya, namun pihak NASA masih meragukan kondisi psikisnya. Pasalnya, pada tahun 2026, ibu Nan-young yang juga seorang astronot, tewas akibat terjangan gempa di Mars.
Di sisi lain ada Jay (Hong Kyung), seorang ahli reparasi yang telah lama mengubur impiannya menjadi musisi. Serupa Nan-young, kebahagiaan Jay juga lenyap di antara bintang-bintang. Tapi bintang bernama takdir pula yang memberi mereka kebahagiaan baru, saat serangkaian kebetulan berjasa mempertemukan, kemudian makin mendekatkan Nan-young dan Jay.
Naskahnya mengambil pendekatan khas romansa Korea arus utama guna menjabarkan kisahnya, di mana tiada kesubtilan dalam presentasi romansa dua tokoh utamanya. Bungkus gaya itu dengan format animasi yang ekspresif, maka hasilnya adalah sebuah "match made in heaven". Han Ji-won mampu melukiskan segala perasaan yang protagonisnya rasakan di tiap interaksi mereka.
Lost in Starlight pun berhasil menghadirkan romansa yang manis, menggemaskan, tak jarang menggelitik, dan terpenting, sangat likeable. Apalagi barisan balada romantis senantiasa mengiringi penceritaannya. Han Ji-won memang memiliki sensitivitas terkait seleksi lagu. Di salah satu adegan, Jay dan Nan-young mampir ke toko musik dan menemukan piringan hitam berisi soundtrack film Once (2007). Sang sutradara memilih kiblat yang tepat.
Konfliknya meninggi begitu Nan-young akhirnya terpilih untuk berangkat ke Mars. Jay selalu mendukungnya, namun di sisi lain ada ketakutan luar biasa andai ekspedisi itu berujung maut sebagaimana yang menimpa ibu Nan-young. Rasanya banyak dari penonton bakal merasa familiar, bahkan bisa jadi pernah bersinggungan dengan situasi dilematis yang serupa.
Emosinya berkulminasi di klimaks cantik sekaligus epik, ketika Han Hi-won memaksimalkan kapasitas mediumnya untuk menyuguhkan perjalanan sureal yang protagonisnya alami. Rintangan meningkat, bahaya meninggi, tapi toh pada akhirnya cinta terlalu kokoh untuk dapat dihancurkan. Di Lost in Starlight, cinta begitu kuat sampai bisa menembus batasan seperti apa pun yang semesta sediakan.
(Netflix)
REVIEW - JUMBO
Ada setumpuk stigma yang mesti dihadapi oleh medium animasi, salah satunya anggapan sebagai "tontonan anak", yang kerap disamakan dengan sebuah hiburan (super) ringan, seolah para bocah tak memiliki kapasitas untuk mencerna suguhan yang lebih "berat". Jumbo terasa spesial karena ia menolak memandang sebelah mata penonton muda, sehingga bersedia menaruh hormat kepada mereka.
Ryan Adriandhy selaku sutradara, bersama Widya Arifianti yang menjadi partnernya dalam menulis naskah, adalah pencerita yang ulung. Keduanya tahu cara mengolah berbagai pokok bahasan berat supaya bisa diterima oleh anak-anak, tanpa harus menganggap mereka bodoh atau menerapkan simplifikasi bagi suatu isu secara berlebihan sampai kehilangan bobotnya.
Ambil contoh soal kondisi keluarga Don (Prince Poetiray), si protagonis yang mendapat julukan "Jumbo" karena berat badannya. Benda paling berharga dalam hidup Don adalah buku dongeng peninggalan orang tuanya (Ariel Noah dan Bunga Citra Lestari), yang pada suatu hari pergi tanpa pernah kembali.
Kita tahu ayah dan ibu Don sudah meninggal. Don sendiri memahami itu, yang tersirat dari ceritanya tentang kondisi jalanan licin pada hari kepergian mereka. Situasi tersebut jelas menyakitkan, tapi Jumbo juga tak ingin memotret kematian sebagai konsep yang sebatas dipandang "menyeramkan" sehingga tak lagi memiliki ruang untuk didiskusikan. Alhasil tak sekalipun kata "mati" yang cenderung memiliki konotasi negatif disebutkan. Apakah kematian jadi kehilangan bobotnya? Tentu tidak.
Kita tetap bisa merasakan luka yang Don rasakan, khususnya rasa sepi yang kerap menghantui. Don kerap mendapat penolakan dari teman sebaya, khususnya Atta (M. Adhiyat) yang gemar melempar ejekan. Untungnya Don masih punya dua sahabat, yakni Nurman (Yusuf Ozkan) dan Mae (Graciella Abigail). Kemudian terjadilah pertemuan dengan gadis cilik misterius bernama Meri (Quinn Salman).
Siapa (atau mungkin lebih tepatnya "apa") sebenarnya Meri? Dia bisa terbang, tembus pandang, tak bisa disentuh, serta memiliki banyak kemampuan ajaib. Meri tidak lain adalah arwah gentayangan. Hantu. Tapi ketimbang digambarkan sebagai sosok mengerikan, Ryan dan tim lebih mengedepankan sisi magis si karakter. Daripada memakai istilah "mati", Meri membahasakan kondisinya sebagai "beristirahat dengan tenang".
Jumbo enggan mengutamakan kengerian dalam presentasinya terkait dunia mistis, karena sebagaimana kematian, hal itu merupakan bagian dari kehidupan. Ketimbang menjebak anak-anak dalam kotak rasa takut sejak dini, bukankah lebih baik menyediakan sudut pandang yang lebih positif bagi mereka?
Elemen mistisnya menyediakan pondasi konflik yang cukup kreatif, sebelum melebarkan eksplorasi menuju isu-isu relevan seperti penggusuran tanah, yang sekali lagi, tak pernah tampil terlalu berat bagi penonton anak berkat kecerdikan pengemasan dari departemen penulisan.
Pencapaian naskahnya tak berhenti di situ. Penokohan Don pun patut dipuji, sebab dari situ, Jumbo membuktikan bahwa pesan baik tak mengharuskan kesempurnaan dalam diri si penyampai pesan. Melalui kekurangan demi kekurangan yang Don punya, kita belajar tentang pentingnya memenuhi janji dan menekan ego. Ketidaksempurnaan Don pun menjadikannya karakter anak kecil yang wajar.
Prince Poetiray yang belum mencapai usia 10 tahun tatkala mengisi suara Don turut berjasa menebalkan kompleksitas karakternya. Bukan cuma terdengar "angelic" saat bernyanyi, Prince juga memiliki jangkauan emosi yang luas dalam isian suaranya. Terkadang ia meledak-ledak penuh tenaga, namun ada kalanya terdengar lirih kala tenggelam dalam suatu pemikiran atau perasaan.
Kualitas Jumbo selaku karya audiovisual pun tidak main-main. Lagu Selalu Ada di Nadimu buatan trio Laleilmanino yang dibawakan oleh Bunga Citra Lestari tak hanya mudah menancap di kepala tapi juga efektif menyentuh hati. Sedangkan level animasinya membuat saya percaya bahwa dari segi kemampuan, sumber daya kita layak diadu dengan negara-negara lain.
Salah satu pemandangan favorit saya hadir saat kita diajak mengunjungi rumah Atta, yang tinggal bersama kakaknya, Acil (Angga Yunanda). Perhatikan bagaimana dinding rumah mereka dipenuhi tambalan-tambalan semen. Bagi saya itu bukti kalau Ryan dan tim menaruh perhatian tinggi pada detail, termasuk tentang ketepatan dalam representasi.
Mereka boleh mengambil inspirasi dari karya luar negeri, baik judul-judul produksi Pixar maupun anime Jepang (saya mencium sedikit kecintaan untuk Akira), tapi Jumbo tetaplah suguhan yang khas Indonesia. "Cerita tidak akan jadi cerita tanpa pendengar", ucap salah satu karakternya. Ryan dan tim telah mendengar cerita dan keluh kesah kita mengenai minimnya animasi Indonesia di bioskop. Sekarang waktunya kita dengarkan cerita yang mereka sampaikan dengan hati dalam Jumbo.
REVIEW - EXORCISM CHRONICLES: THE BEGINNING
Beberapa waktu lalu, bioskop Indonesia menayangkan "film AI" berjudul M Hotel. Kesukaan (kalau tak mau disebut "pemujaan") industri hiburan Korea Selatan terhadap kapasitas kecerdasan buatan memang bukan lagi rahasia. Sangat disayangkan, mengingat di saat bersamaan sineas mereka sanggup melahirkan karya sekelas Exorcism Chronicles: The Beginning. Sebuah animasi yang menurut Kim Dong-chul selaku sutradara, sengaja tak menyertakan AI demi menjaga orisinalitas.
Bagi para pemujanya, AI begitu luar biasa karena bisa menghasilkan hal-hal yang sukar diwujudkan oleh realita. Mereka lupa bahwa "animasi asli" pun demikian. Berbekal talenta manusia, animasi bisa merealisasikan visi yang terlampau sukar ditangani oleh medium live action. Adaptasi dari novel Toemarok karya Lee Woo-hyeok ini adalah satu dari sekian banyak bukti.
Protagonisnya bernama Park Woon-gyu (Choi Han), mantan dokter yang kini banting setir menjadi pendeta. Bukan pendeta biasa, karena berkat kekuatan yang diwariskan Ilahi, ia mampu melakukan pengusiran setan. Termasuk saat Park mesti menghadapi arwah yang merasuk ke tubuh sesama pendeta di awal film.
Exorcism Chronicles: The Beginning langsung menegaskan apa yang hendak ia capai lewat adegan pengusiran setan tersebut. Berlatar Rumah Tuhan, layaknya pahlawan super tanpa jubah maupun topeng, Pendeta Park memamerkan kekuatan yang ia peroleh dari doa-doa yang senantiasa ia panjatkan. Cahaya beraneka warna silih berganti memancarkan diri di tengah kehancuran yang jamak terjadi dalam pertempuran superhero melawan supervillain.
Ketimbang suguhan eksorsisme konvensional, Kim Dong-chul cenderung berambisi melahirkan blockbuster eksplosif ala film superhero. Iblis yang Park hadapi di gereja punya nama Astaroth. Sosoknya dihidupkan oleh desain dengan kreativitas tinggi, seperti malaikat yang jatuh ke jurang kegelapan, sehingga bertransformasi bak monster dari sebuah anime.
Visi yang diusung Kim Dong-chul bakal memerlukan biaya setidaknya puluhan juta dollar bila memakai format live action. Melalui animasi, sang sutradara tak perlu membatasi imajinasi. Visual out of this world miliknya dilukiskan secara cantik di layar, berbekal tata artistik mumpuni yang penciptaannya turut melibatkan talenta asal Indonesia bernama Amabel Emillavta.
Sayangnya naskah buatan Lee Dong-ha gagal mencapai kualitas serupa. Kealpaan departemen penulisannya didasari oleh ketidakmampuan menerjemahkan ambisi besar secara rapi. Sebagaimana nampak di judul, Exorcism Chronicles: The Beginning diniati sebagai awal sebuah franchise. Alurnya banyak melakukan proses penanaman benih untuk modal konflik di sekuel-sekuelnya, sehingga begitu banyak yang mesti dituturkan.
Nantinya, Pendeta Park dimintai bantuan oleh kawan lamanya sekaligus bikso anggota sebuah ordo rahasia, untuk membantu menangani masalah supernatural di kuil. Masalah itu segera tereskalasi, di mana keberlangsungan dunia jadi taruhannya. Di sisi lain ada Lee Hyun-am (Nam Doh-Hyeong), pemuda yang mendapat kekuatan berkat latihan Tai Chi, yang juga tiba di kuil dengan membawa alasan personal.
Tatkala pondasi ceritanya belum benar-benar solid, termasuk penokohan si protagonis yang masih berada di permukaan, kisahnya sudah berambisi mengeksplorasi begitu banyak persoalan. Setiap karakter beserta konflik masing-masing seperti saling berebut sorotan utama, dan akibatnya, justru tak satu pun berhasil digali secara memadai.
Seperti apa detail mitologinya yang berpijak pada kepercayaan agama dan budaya setempat? Bagaimana peran ordo rahasia si biksu dalam tatanan dunia filmnya? Ritual macam apa yang hendak mereka jalankan? Siapa Hyun Seung-hee (Kim Yeon-woo) si gadis yang sempat tanpa sengaja menolong Pendeta Park di sebuah pengusiran setan?
Exorcism Chronicles: The Beginning memang kacau dalam hal bercerita. Tapi sekali lagi, visinya mengagumkan. Peleburan beberapa kepercayaan dalam sampul eksorsisme sebagaimana pernah dilakukan Dark Nuns beberapa bulan lalu, berpadu dengan mitologi mengenai kekuatan super berbasis lima elemen layaknya Avatar: The Last Airbender. Potensi pengembangan film ini sebagai waralaba sinema sungguh tinggi. Tinggal bagaimana kecerdasan alami kepunyaan para manusia di balik film ini terus diberi ruang gerak untuk melaju di tengah terjangan kecerdasan buatan yang penggunaannya acapkali melalaikan kemanusiaan.

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)



%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)

.png)

.png)

.png)



%20(1).png)