Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bagus. Tampilkan semua postingan

REVIEW - OPERASI PESTA COPET

Operasi Pesta Copet yang dibidani oleh Edy Khemod selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Rino Sarjono) adalah karya yang lahir dari gairah dan cinta. Khemod yang juga penggebuk drum Seringai, menumpahkan antusiasmenya terhadap dunia musik termasuk rangkaian pertunjukannya dalam kulit film heist. 

Bersama ekspresi cinta, rasa resah pun turut serta. Dua hal tersebut mustahil dipisahkan. Fenomena copet konser, yang kebetulan pernah menghampiri Seringai di Solo, jadi keresahan utama sang sineas di film ini. Protagonisnya, Ijal (Iqbaal Ramadhan), adalah pencopet ulung yang tengah menyasar keriuhan Pesta Pora sebagai panggung teranyar aksi besarnya. 

Ijal tidak sendiri. Tiga anggota tim lain ikut berpartisipasi: Adut (Kristo Immanuel) si sahabat yang juga partner mencopet Ijal, Tia (Zulfa Maharani) si mantan pacar yang sempat terciduk kala melancarkan aksi kriminal bersama, dan Melodi (Kawai Labiba) dengan segala ilmunya terkait dunia perkonseran. 

Seiring proses, istilah-istilah dunia copet (ngambang, ngalih, mutus, nadah, dll.) filmnya ajarkan pada penonton. Begitu pula ragam trik licik mereka, semisal semprotan air cabai yang digunakan Silet (Fauzan Lubis) selaku mentor copet Ijal. Bukan sekadar keseruan yang film ini harap penonton bisa peroleh, pula pelajaran berharga supaya tidak kecolongan di dunia nyata. 

Filmnya berhasil meniti titik tengah yang cukup tricky, kala berupaya mendorong penonton bersimpati pada protagonis, sambil menghindari kesan menjustifikasi tindak kriminalnya. Mereka berempat adalah rakyat kelas bawah, dengan pemukiman kumuh padat penduduk selaku tempat bernaung, yang berkat permainan ambiens mumpuni departemen tata suara (misal teriakan berisik bocah yang terus bersahut-sahutan) bisa dipotret secara meyakinkan.

Operasi Pesta Copet bersedia membuka mata atas kegagalan sistem selaku pangkal kemiskinan yang menghimpit tokoh-tokohnya. Tapi di sisi berlawanan, kesimpulan "tidak ada pilihan lain" yang mereka tarik kala memilih jalan mencopet pun enggan dibenarkan. 

Sedangkan kepedulian kepada karakternya banyak dibangun memakai susunan komedi. Selain menyulut tawa, yang mana berhasil dilakukan, humornya berfungsi mengeratkan hubungan antar karakter, pula karakter dengan penonton. 

Apalagi tiap pelakon menyumbangkan performa maksimal. Iqbaal sebagai jamet yang acap kali berlaku bodoh, Kristo bermodal kejelian menimpali banyolan, Zulfa dengan kepiawaian menggilas porsi drama dan komedi sama baiknya, hingga Kawai yang piawai meniupkan nyawa di momen "seremeh" apa pun. 

Pujian khusus rasanya patut disematkan bagi Fauzan Lubis, vokalis Sisitipsi yang menjalani debut aktingnya di sini. Tutur kata sampai gerak-geriknya sebagai "abang-abangan tongkrongan menyebalkan" adalah wujud kenaturalan yang hanya bisa dipertontonkan seorang penampil sejati. 

Tapi bintang utama pertunjukan ini tetap Edy Khemod. Operasi Pesta Copet kentara dibuat oleh individu yang mencintai sekaligus memahami dunia musik hingga ke organ-organ terdalamnya. Akses mengambil gambar langsung di gelaran Pesta Pora memberi dorongan signifikan atas terciptanya kesan imersif, namun tanpa pemafhuman Khemod perihal situasi apa saja yang mesti ditangkap guna mewakili keseruan konser, keistimewaan di atas bakal percuma. 

Ada kalanya Operasi Pesta Copet tampil bak video klip musisi pop karena selipan pernak-pernik efek visual kaya warna yang sang sutradara pakai, tapi tidak jarang, terutama saat teknik shaky cam diterapkan bahkan di obrolan sederhana, Khemod menyuntikkan energi sehingga filmnya tersaji layaknya video rok progresif beroktan tinggi. Beberapa situasi pun hanya bisa dirumuskan oleh pecinta musik (dan konser). Sebutlah adegan wall of death yang menyulut intensitas secara kreatif.

Terkait babak ketiganya, saya yakin sineas dengan tingkat keilmuan musik yang tak semumpuni Khemod akan mengambil langkah mudah ditebak dengan menggaet nama-nama "kekinian", tapi Khemod dengan cerdik memilih Rhoma Irama. Membawakan 1001 Macam (lagu unik yang mengawinkan dangdut dan rap, lengkap dengan lirik sarat relevansi) sang "Raja Dangdut" bukan sekadar hiasan, tapi figur yang sempurna dengan konteks adegannya.

Pun pada dasarnya, Operasi Pesta Copet merupakan heist yang solid. Tanpa gebrakan baru, tapi semua unsur genrenya sanggup ditangani secara apik. Alur rencana operasi pencopetan karakternya dijabarkan dengan jelas, dari ragam tipu daya mencomot dompet, juga proses mengeluarkan barang curian dari lokasi. Penonton dilibatkan untuk memahami detail setiap langkahnya. 

Subplot terkait luka masa lalu Ijal yang melibatkan sang ibu (Yeyen Lydia) juga untungnya tidak dibuat bermuara menuju resolusi khas drama arus utama sinema Indonesia, yang punya tendensi main aman demi memuaskan semua kalangan. Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan. Anak tidak melulu wajib dipaksa mengalami amnesia tentang kekeliruan orang tua agar bisa menemukan kedamaian. Luka pun bisa usai sambil tetap menolak begitu saja lupa akan dosa masa lalu. 

REVIEW - DEAR YOU

Dear You arahan Lan Hongchun adalah film tentang kesetiaan serta kerinduan terhadap rumah. Baik rumah berwujud bangunan tempat berteduh, pasangan yang mencintai, keluarga yang mengasihi, kawan-kawan serumpun yang senasib, juga tanah air yang mendengar tangisan pertama kita di dunia. 

Semua berawal dari pencarian Hiou-ui (Zheng Runqi) terhadap kakek yang tak pernah dikenalnya. Sang kakek, Den Bhagseng, dipercaya menetap sebagai orang sukses di Tailan, setelah berpuluh-puluh tahun lalu meninggalkan istrinya saat kabur guna menghindari wajib militer di tengah Perang Saudara Tiongkok. Butuh waktu agar bisa menikmati keruwetan perjalanan Hiou-ui, yang kerap terlampau liar menggerakkan alurnya. 

Istri Bhagseng, Sogriu (Wu Shaoqing), menghabiskan puluhan tahun menyeka sisa-sisa kenangan perihal sang suami. Pasalnya, qiaopi (istilah bagi sepucuk surat yang dikirim para diaspora untuk keluarga mereka di Tiongkok, biasanya disertai sejumlah uang) terakhir Bhagseng hanya berisi selembar foto berisi sosoknya bersama seorang perempuan dan beberapa bocah. Hati Sogriu tersayat. Kekasih hidup yang sudah puluhan tahun dinanti kepulangannya telah menemukan "rumah baru". 

Sampai hasil investigasi Hiou-ui mengungkap lembar-lembar masa lalu lain yang sempat terkubur, dan membawa Dear You bertransformasi dari melodrama keluarga berbumbu romansa klise menjadi drama epik tentang upaya merawat ingatan. 

Kilas balik segera mengambil alih. Bhagseng muda (Wang Yantong) kita ikuti rutinitasnya. Penghasilan bulanan pas-pasan sebagai penarik angkong yang semuanya ia kirim guna menghidupi Sogriu dan anak-anaknya, mengharuskan Bhagseng tinggal di gudang kumuh dalam penginapan kepunyaan Zia Lamgi (Li Sitong memerankan versi muda, Usha Seamkhum yang angkat nama lewat How to Make Millions Before Grandma Dies memerankan versi tua), perempuan yang wajahnya tercetak di foto. Kedekatan keduanya segera terjalin.

Qiaopi yang tak pernah absen Bhagseng layangkan tiap bulan mewakili peran Dear You selaku surat cinta untuk surat cinta. Betapa rapuh secarik kertas. Kombinasi cuaca buruk dan nasib sial sudah bisa memusnahkan eksistensinya. Tapi itulah kenapa, sebagaimana memori manusia, surat begitu bermakna. Sifatnya tak selamanya, luar biasa ringkih, namun dapat menghilangkan sekat tebal berbahan baku samudra membasuh kerinduan akan rumah. 

Perjuangan Lamgi dan Bhagseng mencuatkan komparasi menarik. Sebagai anak perempuan, yang dalam dialek Tiochiu disebut "zao-gian" alias "anak yang pergi", Lamgi seolah ditakdirkan meninggalkan rumah untuk mengabdi pada suami. Sedangkan selaku laki-laki, Bhagseng juga dituntut meninggalkan rumah dalam rangka wajib militer. Disatukan benang merah berupa kecintaan pada aneka rupa rumah masing-masing, keduanya melancarkan pemberontakan. 

Penginapan milik Lamgi turut jadi rumah sementara bagi para diaspora Tiochiu (termasuk Bhagseng), yang di sela-sela kerinduan akan rumah, tak henti-hentinya saling menjaga. Sebab di tanah asing, solidaritas tersebut bak pengganti rumah untuk masing-masing dari mereka. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa bermaknanya Dear You di mata orang-orang Tiochiu. Tapi bisa saya pastikan, filmnya efektif perihal memberi pencerahan terkait setumpuk konteks budaya dan politik kepada penonton awam. Dear You berhasil dipresentasikan sedemikian rupa supaya gampang diakses oleh segala kalangan dengan menyisipkan unsur drama keluarga, percintaan, dan tentunya humor.

Komedinya mengedepankan absurditas sarat sentuhan deadpan khas sinema Cina (juga Tailan). Sebagai taktik meniadakan tubrukan tone dengan sisi dramatiknya, para penulis naskah membelah penceritaannya ke dalam dua wajah. Paruh awal kaya akan taburan humor, yang porsinya makin ditekan seiring eksplorasi atas masa lalu Bhagseng diperdalam. Upaya tersebut berhasil, kendati lahir masalah baru: terkadang Dear You terasa bak disusun oleh dua film berbeda. 

Tapi jika yang anda nantikan adalah banjir air mata, tidak perlu khawatir. Dear You adalah ahlinya. Lan Hongchun tidak merasa perlu mengeksploitasi adegan melodrama secara berlebihan. Rasa haru bakal merambat seiring twist-nya, yang kaya akan bobot emosi, mulai mengupas lapisan-lapisan masa lalu sang protagonis, dan kita pun perlahan menyadari kebenaran yang selama puluhan tahun luput dirawat, dan kerinduan terhadap rumah akhirnya disembuhkan oleh kepulangan. 

REVIEW - SPIDER-MAN: BRAND NEW DAY

Brand New Day menjelmakan sosok Spider-Man  (Tom Holland) yang karirnya tengah moncer. Kriminal makin sering diringkusnya, warga New York memujanya, aparat pun sepenuhnya menyuarakan dukungan. Sementara Peter Parker justru makin berkutat dengan sepi. Film ini mengenakan topeng film pahlawan super, tapi di dalam, terkandung kisah soal manusia dewasa yang kepayahan mengatur work-life balance. 

MCU memiliki satu-satunya waralaba Spider-Man yang tumbuh bersama penontonnya. Jika saat menyaksikan Homecoming (2017) kamu, seperti Peter, sedang menggeluti gegap gempita dunia SMA dengan segudang kawan-kawan, maka seperti Peter juga, Brand New Day bakal mewakili realitamu, berupa menyempitnya lingkaran pertemanan. 

Bedanya, kondisi Peter lebih ekstrim. Mantra Doctor Strange menghapus memori seantero dunia terhadapnya, termasuk dari ingatan si sahabat, Ned Leeds (Jacob Batalon), juga kekasihnya, MJ (Zendaya). Di tengah kesendirian tersebut, muncul ancaman baru dari perempuan misterius (Sadie Sink) yang menebar ancaman bagi DODC (Department of Damage Control) dengan bersenjatakan kekuatan merasuki pikiran orang-orang.

Ketika saya menyusun tulisan ini, identitas dari sang perempuan misterius rasanya sudah bukan lagi suatu rahasia. Tapi demi kenyamanan bersama, anonimitas si karakter akan tetap saya pertahankan. Satu yang pasti, Sadie Sink mempersembahkan figur antagonis kompleks, yang bakal memiliki keselarasan dengan generasi sekarang: seorang anak muda yang terluka oleh keserakahan pemerintah. 

Sedangkan Peter masih bergulat dengan silang sengkarut internal dirinya. Selain kegagalan mengatur work-life balance akibat ketiadaan hubungan antar manusia, fisik Peter turut mencuatkan keresahan tersendiri. DNA laba-laba yang selama ini terkendali bak mulai coba mendominasi. Emosinya mudah meletup-letup, indranya menajam, jaring organik pun keluar dari pergelangan tangannya. 

Naskah buatan Chris McKenna dan Erik Sommers menyisipkan metafora dalam fenomena janggal di atas. Apa yang Peter alami jadi perlambang keengganan individu menerima perubahan (baik fisik maupun psikis) yang menemani perjalanan memasuki fase usia dewasa. 

Di sini, pendewasaan disamakan dengan kesediaan mengamini perubahan. Relatable. Kita semua mengalaminya. Hanya saja, patut disayangkan Brand New Day menawarkan resolusi yang terlampau instan bagi problematika tersebut. Tanpa gradasi, pula begitu "ajaib" khas sinema Hollywood arus utama.

Tapi tiada keluhan terkait pengarahan Destin Daniel Cretton yang enggan menggarap porsi drama secara sekenanya. Sang sutradara begitu apik memainkan dinamika antar individu, benar-benar membangun ruang intim bagi dua karakter yang sedang terlibat interaksi alih-alih sekadar membiarkan mereka asal bicara guna mengisi waktu. Tengok caranya mengemas ending yang demikian hangat.

Sudah barang tentu performa Tom Holland memegang peranan besar dalam tersampaikannya elemen dramatik Brand New Day. Semburat senyum simpul bertabur sedikit rasa pahit kala Peter diam-diam mengamati Ned, hingga deburan haru yang seketika menusuk-nusuk hati sang jagoan ketika dekapan sang (mantan) kekasih kembali ia rasakan, hanyalah segelintir contoh mengenai kemampuan si aktor menangani emosi lewat tuturan non-verbal.

Ingar bingar aksinya tidak kalah mengesankan, sekali lagi berkat penyutradaraan Destin Daniel Cretton yang mau bersusah payah menggabungkan efek praktikal dengan komputer. Dibarengi daftar putar mengasyikkan yang ia susun, Cretton membawa kita berayun lincah bersama Spidey, sambil sesekali memamerkan keunggulannya merumuskan money shot. 

Beberapa panel ikonik komik Spider-Man tidak luput Cretton reka ulang (kebanyakan terletak dalam montase pertarungannya melawan beragam lawan di paruh awal) sebagai upaya menyelipkan fanservis yang tidak pernah mencuri sorotan utama dari presentasi cerita. 

Begitu pula humornya, yang berbeda dibanding tabiat buruk MCU beberapa tahun lalu, hadir dalam takaran tepat tanpa pernah menghancurkan keseimbangan tone. Contohnya banter antara Spider-Man dengan Frank Castle / Punisher (Jon Bernthal), yang sebatas bertugas memperkaya varian warna film daripada memaksanya bercampur aduk. 

Segala keunggulan yang saya rangkum di tulisan ini sejatinya bermuara pada satu kesimpulan: Brand New Day merupakan karya yang berhasil mencapai keseimbangan di semua aspek. Itulah mengapa ia layak mendapat cap "terbaik" di antara tetralogi kepunyaan Marvel Studios.

REVIEW - TOY STORY 5

Terdapat momen saat Jessie (Joan Cusack) menatap pemilik pertamanya, Emily, dengan "ekspresi mainan" yang terlihat kosong. Tanpa Emily tahu mainan gadis koboi favoritnya itu memiliki rasa, dan tatapan tersebut sarat akan kasih sayang. Seketika saya berandai-andai, apakah mainan saya semasa kecil dulu juga memberi tatapan serupa. Apakah mereka juga merasa sedih kala kebersamaan kami perlahan tergerus seiring singgahnya teknologi dalam hidup saya?

Bentrokan antara mainan konvensional dengan teknologi bukanlah problematika kemarin sore. Tapi berbeda dengan konsol gim, kapasitas smartphone atau tablet mampu mencakup seluruh aspek di kehidupan anak. Alhasil, ancaman yang dirasakan Jessie, Buzz (Tim Allen), dan para mainan lain berada di titik tertinggi sewaktu Bonnie (Scarlett Spears) diberi hadiah tablet bernama Lilypad "Lily" (Greta Lee) oleh orang tuanya. 

Bonnie memerlukan Lily guna terkoneksi dengan teman-teman sebaya yang lebih banyak hidup di dunia maya. Tapi apakah berarti ia tidak lagi memerlukan mainan kesayangannya? Situasi begitu genting, sampai Woody (Tom Hanks) dengan kepala yang mulai membotak mesti kembali untuk mengulurkan bantuan. 

Di lain pihak, sesekali kita diajak mengikuti petualangan sekelompok mainan Buzz Lightyear versi baru, pasca kargo yang membawa mereka karam di sebuah pulau kosong. Adegan pembuka yang mengambil latar di pulau tersebut jadi ajang unjuk gigi bagi departemen animasi yang kembali memberi terobosan kualitas. Detail alamnya luar biasa nyata, tidak jarang Toy Story 5 seolah bak hibrida berisi karakter animasi yang eksis di dunia live action. 

Saya kembali terpukau saat latarnya beralih ke rumah lama Emily yang kembali dikunjungi oleh Jessie akibat suatu "kecelakaan". Semburat sinar surya yang mempersilakan para mainan menikmati kehangatannya tampak amat indah. Lalu ketika hati mereka dirundung pilu, seisi rumah terlihat kelabu seolah dikuasai mendung. Disokong jajaran tim handal, Andrew Stanton selaku sutradara membuktikan bahwa film animasi sudah makin piawai memanipulasi emosi penonton lewat permainan cahaya.

Singkat cerita, Buzz dan Woody mulai mencari keberadaan Jessie, dan film Toy Story pun kembali menggunakan "misi penyelamatan" selaku alat penggerak cerita. Kebencian protagonisnya terhadap Lilypad si benda modern mengingatkan pada keresahan Woody atas kehadiran Buzz di film pertama, dan nantinya, kecemasan mainan akan fakta bahwa si pemilik kelak bakal tumbuh dewasa, juga mengundang kesamaan dengan pokok bahasan film ketiga. 

Dibanding judul-judul sebelumnya, Toy Story 5 memang paling banyak menerapkan pengulangan. Tapi toh dampaknya tidak melemah. Salah satunya karena naskah buatan Andrew Stanton dan Kenna Harris selalu punya cara memukau penonton lewat kreativitas mereka mengeksplorasi bangunan dunianya. Sebuah dunia yang sejatinya begitu kaya, namun tak disadari manusia dengan segala ketidakpedulian mereka akan hal kecil.

Tentunya air mata penonton dewasa masih akan tumpah ruah mendapati trauma berkepanjangan di batin Jessie diberi konklusi, yang dimotori kepekaan luar biasa dalam pengadeganan Stanton. Di situlah kita menyaksikan cinta para mainan kepada sang pemilik akhirnya berbalas, seiring timbulnya kesadaran kalau pendewasaan tidak selalu bersinonim dengan melupakan.

Di luar dugaan, proses yang dilalui Lily tidak kalah menyentuh. Serupa Jessie (dan banyak dari kita yang sudah terlalu kenyang menyantap rasa pahit kehilangan serta kegagalan), Lily mulai mempertanyakan seberapa berharga dirinya. Hati saya patah saat karakter yang awalnya nampak seperti antagonis mengesalkan ini mengambil keputusan ekstrim didorong oleh keputusasaan. 

Toy Story 5 memang tidak memprovokasi kita untuk serta merta membenci teknologi. Cepat atau lambat teknologi akan menginvasi hampir seluruh sendi keseharian manusia, dan alih-alih seutuhnya menampik, film ini mengajak kita belajar hidup bersama sembari mencari cara untuk memanfaatkannya secara bijak. 

Sedikit disayangkan, babak ketiganya kekurangan presentasi seru guna menguatkan puncak penceritaan. Keputusan menaruh fokus pada proses internal Bonnie menggali keberanian yang terkubur terlampau jauh dalam dirinya bukan berarti tiada kesempatan guna mengatrol kualitas spektakel. Setidaknya ia memberi persembahan spesial berupa salah satu pemandangan paling romantis sepanjang sejarah Toy Story. 

Di tengah perjalanan menuruni mal selepas menonton, perhatian saya dan istri tercuri oleh seorang anak yang nampak bersemangat membawa pulang mainan yang baru dibelikan oleh orang tuanya. Seketika kenangan soal mainan masa kecil kembali memenuhi dada. Saya teringat bahwa dahulu aktivitas bermain mendatangkan kebahagiaan yang sedemikian besar, jadi rasanya, mainan-mainan saya pun menyimpan kebahagiaan serupa. Semoga. 

REVIEW - BACKROOMS

Bersama judul-judul seperti Obsession, Talk to Me, Iron Lung, dan masih banyak lagi, Backrooms mengokohkan era kejayaan horor hasil buah pikir kreatif para "YouTuber filmmakers" yang bermodalkan kecintaan terhadap genrenya serta ambisi tampil beda, berani menjauh dari kekolotan pakem industri. 

Backrooms bermula dari creepypasta internet tentang suatu ruang liminal di luar realita kita, yang kemudian diangkat oleh Kane Parsons selaku sutradara film ini menjadi seri web berjudul sama pada 2022. Bagi generasi lawas materi tersebut mungkin bakal dipandang sebelah mata. "Kurang menjual", "terlalu remeh", "terlalu aneh", "tidak jelas", dan entah kata-kata bernada mengerdilkan apa lagi yang terucap. 

Tapi bagi Parsons, yang baru genap 20 tahun kala proses produksi film panjangnya dimulai, kehampaan Backrooms memberi ruang eksplorasi tanpa dinding pembatas. Latarnya adalah dunia analog era 90-an, di mana rutinitas Clark (Chiwetel Ejiofor), arsitek gagal yang banting setir jadi pemilik toko furnitur yang juga gagal, merupakan sentral dari naskah buatan Will Soodik. 

Bukan cuma karir, pernikahan Clark pun menemui kegagalan. Karenanya ia mencari pertolongan dari terapis bernama Dr. Mary Kline (Renate Reinsve). Reinsve menyuntikkan kedalaman bagi karakter Mary yang turut menyimpan traumanya sendiri, lewat kompleksitas rasa di raut wajahnya yang sempat mendatangkan komentar dari Clark, "Kamu adalah terapis yang tidak jago memasang poker face."

Toko milik Clark yang serba kosong akibat sepi pengunjung sekaligus minim stok barang, menciptakan ruang liminal bahkan sebelum kita dan sang protagonis menemukan backrooms di basemen tokonya. Jika realitanya saja sudah sebegitu hampa dan mengurung, apakah Clark mesti takut terhadap backrooms?

Berbeda dengan cara banyak horor arus utama memperlakukan elemen supernatural, Parsons enggan sebatas menjadikan backrooms selaku medium yang memfasilitasinya melempar teror malas semau sendiri. Ruang liminal tersebut diberi substansi, yakni sebagai manifestasi alam bawah sadar tempat manusia mengubur dalam-dalam beragam hal, yang memungkinkan Parsons menyoroti perihal kenyamanan individu akan kemonotonan, juga proses koping atas luka masa lalu.

Perjalanan mengunjunginya mencuatkan ketidaknyamanan, tidak hanya berkat tata sinematografi arahan Jeremy Cox yang menonjolkan kesan liminal, juga musik atmosferik gubahan Kane Parsons dan Edo Van Breemen yang ampuh memantik kecemasan. Rasa kagum turut hadir seiring kita menyaksikan kepiawaian departemen artistik menyusun kejanggalan kreatif di tiap sudut backrooms yang nampak bak museum instalasi seni absurd.

Pengalaman pertama penonton menyatroni backrooms bersama Clark memang agak berlarut-larut di mana Parsons sendiri bak terhipnotis oleh ruang liminal ciptaannya. Barulah pada kunjungan berikutnya, kala sang protagonis mengajak dua karyawannya, Kat (Lukita Maxwell) dan Bobby (Finn Bennett), kepiawaian Parsons mengolah intensitas semakin kentara, termasuk saat ia jeli memaksimalkan ketegangan khas format mokumenter yang sempat beberapa menit diterapkan secara efektif. 

Selama sekitar 110 menit, Backrooms mengobrak-abrik pakem horor arus utama yang sudah sedemikian melelahkan dengan sentuhan surealismenya, juga alur yang menampik struktur formulaik, sewaktu kedatangan Mary di toko Clark, selain menggerakkan narasi ke arah tak terduga, membuat filmnya seperti memiliki second act ganda. Backrooms tidak sekalipun bersedia patuh pada aturan, dan saya pun semakin antusias menyambut era baru sinema horor ini. 

REVIEW - DISCLOSURE DAY

Jangan keliru berekspektasi, sebab ketimbang film UFO konvensional, Disclosure Day lebih dekat memposisikan dirinya ke arah triler konspirasi berbalut aksi. Steven Spielberg yang untuk kali pertama sejak Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008) kembali berkolaborasi dengan David Koepp selaku penulis naskah, lebih tertarik menyoroti perdebatan mengenai perlu atau tidaknya eksistensi entitas luar angkasa diungkap ke umat manusia alih-alih sebatas terpukau atasnya. 

Filmnya dibuka dengan peristiwa berikut: Daniel (Josh O'Connor) berupaya menyelamatkan kekasihnya, Jane (Eve Hewson), yang diculik gara-gara keputusannya mencuri data rahasia dari Wardex Corporation, perusahaan tempatnya bekerja, yang di bawah pimpinan Noah (Colin Firth), bertugas menutupi bukti keberadaan alien. 

Unik, sebab kita seperti mendadak dipindahkan ke pertengahan sebuah film yang konfliknya telah memanas. Spielberg dan Koepp tidak tertarik berbasa-basi. Kebenaran tentang Alien dan UFO segera ditekankan, dan Daniel nekat bertindak karena merasa publik pantas mendapat suplai fakta tersebut.

Di lain pihak ada Margaret (Emily Blunt), pembaca berita meteorologi televisi yang tiba-tiba sanggup berbicara banyak bahasa. Blunt memberi kompleksitas rasa, sambil menyeimbangkan sisi dramatik dengan bumbu komedik, sebagai individu yang dibuat kewalahan oleh gempuran tiba-tiba dari barisan fakta mencengangkan, yang memang Disclosure Day perlukan selaku spektakel arus utama. 

Di satu titik, Margaret mulai mampu mengintip jauh ke dalam ruang personal orang lain cuma dengan menatap mata mereka. Setiap fenomena aneh itu terjadi, raut wajah Blunt tampak bak wadah bercampurnya berbagai fenomena ruwet dalam hati manusia, di mana keterkejutan berpadu dengan empati. 

Jalan hidup Margaret dan Daniel bakal bertaut seiring anomali yang mereka alami. Hugo (Colman Domingo) yang juga mantan karyawan Wardex menjembatani perkenalan itu. Setiap Hugo muncul, di sekelilingnya senantiasa berlangsung aktivitas konstruksi, yang mana menyediakan remah-remah petunjuk bagi penonton mengenai babak ketiga filmnya yang disimpan rapat-rapat di materi promosi.

Kucing-kucingan pun berlangsung antara Wardex dengan Daniel dan Margaret. Babak pertama dan kedua Disclosure Day memang ibarat satu sekuen kejar-kejaran raksasa. Sesekali kita singgah sejenak di area peristirahatan, sementara tokoh-tokohnya terlibat diskusi yang naskahnya pakai guna mengajukan pertanyaan soal kehidupan ekstraterestrial, baik dari perspektif humanis maupun religi. 

Masalahnya Koepp bukan seorang "provokator" atau penanya kritis. Diskusi yang ia lemparkan sebatas berlangsung di tatanan permukaan, pula acap kali terdengar terlampau naif. Tanda tanya kompleks tentang keimanan pun diberi jawaban sesederhana "memercayai umat manusia".  

Babak ketiganya menyuguhkan payoff memuaskan yang niscaya memantik euforia memabukkan bagi para penggila teori konspirasi. Tapi aroma kenaifan naskahnya sekali lagi menguar. Benarkah di era serumit sekarang, di tengah potensi meletusnya peperangan (Disclosure Day juga mengambil latar saat Perang Dunia III hampir terjadi), pengungkapan akan entitas ekstraterestrial bakal sebegitunya mengubah hidup manusia hingga seisi dunia seolah berhenti berputar? 

Beberapa pihak menyebut Disclosure Day sebagai karya terbaik Spielberg dalam 20 tahun terakhir. Perihal penceritaan saya harus menyatakan ketidaksetujuan, tapi bila yang diperbincangkan adalah kemampuan mengarahkan sang sutradara, maka 145 menit filmnya memang tidak pernah berhenti menyulut decak kagum. 

Disclosure Day ibarat museum berisi pameran "seni menyusun spektakel tingkat tinggi." Saya yakin, tracking shot yang bermuara pada adegan mobil menghunuskan moncongnya ke sebuah rumah, kelak akan melahirkan setumpuk video esai YouTube mengenai kepiawaian Spielberg dan penata sinematografinya, Janusz Kamiński. 

Momen kala Emily Blunt dan Josh O'Connor bergelantungan di tubuh kereta menyediakan bahan studi perihal metode membangun kecemasan lewat situasi berskala besar dalam suguhan blockbuster, sedangkan aktivitas remeh sewaktu Jane melakukan panggilan telepon di suatu restoran jadi contoh bagaimana permainan foreground sederhana berpeluang membangun ketegangan luar biasa jika dibarengi kecerdikan sang sineas mempermainkan asumsi penontonnya. 

Disclosure Day takkan mengubah hidup siapa pun terkait fenomena UFO dan alien. Keabsahannya sebagai karya terbaik Spielberg dalam dua dekade terakhir pun layak diperdebatkan. Tapi di luar sana, saya percaya ada bocah yang bercita-cita menciptakan karya layar lebar, sedang terpana karena baru saja menemukan kitab sucinya. 

REVIEW - NOBODY LOVES KAY

Nobody Loves Kay mengisahkan seorang remaja yang memberanikan diri menempuh jalur hidup di luar arus utama, dengan cara yang juga menampik teknik formulaik khas sinema drama arus utama Indonesia. Bernardus Raka yang melakoni debut penyutradaraan layar lebarnya tahu kapan mesti berkata "cukup" perihal mendramatisasi. 

Alurnya terinspirasi dari perjalanan Kairi, atlet esports asal Filipina untuk permainan Mobile Legends yang kini berkarir bersama tim Onic Esports di Indonesia. Kay (Bima Azriel) selaku protagonis film ini merupakan versi fiktif dirinya, seorang siswa SMA yang terombang-ambing di antara dua pilihan: menuruti harapan orang tuanya yang bekerja sebagai TKI di Arab Saudi supaya fokus menempuh pendidikan, atau mengejar cita-citanya menjadi pemain gim profesional. 

Bersama sahabatnya, Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico), Kay yang sudah tak lagi tertandingi di kampung mereka, senantiasa menghabiskan hari bermain Mobile Legends dengan harapan bakal menggapai status "pro-player" suatu hari nanti. Tentu bukan perkara mudah. Stigma negatif terhadap gim, tekanan ekonomi, serta gesekan di tengah persahabatan membentangkan aral di hadapan Kay. 

Tidak harus menjadi penggila Mobile Legends untuk dapat menikmati Nobody Loves Kay, sebab kata-kata kejam yang kerap Kay dengar, baik dari orang tua, guru, bahkan teman sejawat pun mungkin pernah dialamatkan pada kita yang belum mencicipi gimnya. Permasalahannya dapat diaplikasikan ke konteks lain, dalam hidup para pemburu mimpi yang tak sejalan dengan norma konservatif. 

Dipayungi warna visual yang sesekali meminjam rasa manis nan hangat khas film Thailand, penceritaan dalam naskah buatan Bernardus Raka dan Johanna Wattimena memastikan penonton sepenuhnya peduli akan suka duka protagonisnya, dengan melakukan eksplorasi mendalam terhadap tokoh Kay, yang juga diperankan secara apik oleh Bima Azriel.

Enggan pula filmnya menyembah moralitas dangkal, karena kita juga diajak memahami tokoh-tokoh lain, yang berlawanan dengan Kay, nekat merangkul kegelapan atas nama bertahan hidup. Sebutlah Ido yang mempertaruhkan persahabatannya, hingga tetangga Kay, Abel (Dewa Dayana) beserta rutinitas COD-nya. Baik Rey Bong maupun Dewa Dayana sama-sama berakting ciamik.

Setiap departemen turut memastikan segala lika-liku manusia-manusia di atas tidak tampak dibuat-buat. Bahkan taburan bumbu romansa antara Kay dan Amanda (Aurora Ribero) si bintang kelas pun mengakar kuat pada kesan naturalistik. Sewajarnya murid SMA, mereka belajar seusai kelas berdua, bertukar janji guna berjuang menempuh mimpi bersama, sebelum dibuat merana oleh cara pandang yang tidak senada.

Realisme Nobody Loves Kay amat ditunjang oleh kehati-hatian pembuatnya menangani tuturan verbal. Tokoh-tokohnya baru membicarakan isi hati mereka hanya di titik yang memang memerlukan penekanan lebih, pun dengan diksi yang dipikirkan secara masak-masak oleh para penulis naskah. 

Di film ini, tidak semua rasa yang timbul harus dikatakan, tapi semua kata yang terucap harus bisa dirasakan. Konklusinya pun lepas dari tuntutan arus utama untuk menelanjangi segala peristiwa (yang berujung meningkatkan dampak emosi sekaligus mengenyahkan kesan banal) karena sekali lagi, Bernardus Raka tahu kapan mesti berkata "cukup". 

Penggemar Mobile Legends bakal dipuaskan, bukan semata karena eksistensi gameplay di beberapa kesempatan, tapi terkait bagaimana filmnya memperlakukan dunia kecintaan mereka dengan sedemikian serius, sebagai sebuah skena serba profesional alih-alih gim remeh seperti yang dipercaya orang-orang kolot.

Penonton di sebelah yang sepertinya adalah seorang pecinta Mobile Legends ditinjau dari pemahamannya akan berbagai referensi yang  disisipkan, bertepuk tangan begitu filmnya usai. Saya, yang tidak menangkap satu pun referensi tersebut, juga memberi reaksi serupa, membuktikan bagaimana Nobody Loves Kay mampu merayakan hidup dua manusia yang sama sekali berbeda. 

REVIEW - MONSTER PABRIK RAMBUT

Beberapa orang mungkin bakal menganggap karya terbaru Edwin ini terlampau aneh, tapi bagi saya di situlah pesona Monster Pabrik Rambut. Dituturkannya kisah tentang bagaimana kebusukan sistem dapat menghancurkan manusia, lewat pendekatan yang terasa menentang sistem di balik keseragaman horor, yang berpotensi menghancurkan industri perfilman Indonesia.

Sesuai judulnya, pabrik rambut bernama PT Raga Abadi jadi panggung investigasi Putri (Rachel Amanda kembali menghadirkan protagonis yang mudah disukai) terhadap kematian misterius sang ibu yang bekerja di situ. Segera saja Putri menemukan keanehan, di mana banyak buruh yang kurang tidur akibat terlalu banyak lembur, bertingkah bak orang kesurupan sebelum mengalami kecelakaan kerja. 

Didik Nini Thowok memerankan si pemilik pabrik, perempuan misterius bernama Maryati. Dia bukan satu-satunya karakter yang menegaskan perspektif film ini akan fluiditas gender. Maryati sendiri punya hobi unik memainkan maket pabrik, lengkap dengan figur mini yang mewakili buruhnya. "Rakyat jelata hanyalah boneka mainan bagi para penguasa", mungkin demikian keresahan yang ingin ditumpahkan oleh naskah buatan Edwin, Eka Kurniawan, dan Daishi Matsunaga. 

Nantinya penyelidikan Putri juga melibatkan adiknya, Ida (Lutesha), yang mengikuti langkah sang kakak bekerja di PT Raga Abadi. Lutesha membawakan sosok Ida dengan bersenjatakan presisi luar biasa kala menangani komedi bergaya deadpan. Satu lagi saudara mereka adalah Bona (Iqbaal Ramadhan) yang mempunyai kemampuan aneh.

Karakter Bona sejalan dengan keliaran eksplorasi b-movie era 80-an yang dianut Monster Pabrik Rambut. Bona bisa sesuka hati memutilasi anggota tubuhnya, yang kemudian bisa segera tumbuh lagi. Tatkala Putri dan Ida menerima daun telinga sang adik yang dipotong oleh penagih utang, mereka cuma berujar santai, "Nanti juga tumbuh lagi." Bagi rakyat kecil, terluka adalah perihal biasa. 

Film ini memang berjalan di garis batas. Serupa kelompok sinema yang jadi sumber inspirasinya, Monster Pabrik Rambut tidak takut memenuhi narasinya dengan elemen eksentrik, dari kemampuan spesial Bona hingga keputusan mengganti hantu dengan monster berbentuk...well, rambut. Beberapa adegan kematian pun dipresentasikan secara over-the-top, termasuk saat badan salah satu karakter menggelembung sebelum meledak. 

Biar demikian, relevansi dalam kisahnya, terutama mengenai kegagalan sistem, membuat Monster Pabrik Rambut masih terasa membumi. Asal muasal si monster punya kaitan subtil dengan kegagalan sistem tata kota rancangan pemerintah. Problematika di pabrik pun sama. Alih-alih mengacungkan jari pada perseorangan, Edwin mengarahkan lampu sorot pada sistem yang gagal menyediakan pilihan bagi manusia di dalamnya.

Nantinya segelintir orang akan bangkit untuk menggugat sistem itu, dan di situlah satu-satunya keluhan saya untuk narasi film ini terletak. Perlawanan para buruh, yang sebelumnya berhasil dicuci otak bahkan sampai menggelar "ritual" guna mengucap syukur atas kebaikan Maryati, terkesan hadir secara mendadak, tanpa menyediakan waktu bagi jiwa mereka melewati proses transisi.

Di luar kekurangan tadi, alurnya bergulir dengan apik. Efektivitas misterinya dalam menyulut rasa penasaran seolah jadi bukti bahwa daripada senantiasa bergantung pada kompilasi penampakan hantu guna mengisi guliran durasi, horor lokal juga bisa memiliki sesuatu untuk dipertanyakan dan diresapi. 

Estetika filmnya tidak kalah memuaskan. Monster Pabrik Rambut mengembalikan sesuatu yang semakin jarang dipunyai horor modern, yaitu kesan "kotor". Sewaktu horor masa kini cenderung nampak sangat jernih, film ini mengedepankan visual yang serba kusam (in a good way), sehingga tingkat ketidaknyamanan pun meninggi. Citra yang semakin diperkuat oleh penggunaan efek praktikal, yang melenyapkan kehigienisan ala efek komputer dari deretan adegan sadisnya. 

Di departemen audio, lagu Kepala, Pundak, Kerja Lagi yang dibawakan Sal Priadi (juga berakting secara natural sebagai buruh bernama Rudi) dengan suara "raw" selaku ciri khasnya, sembari diiringi gitar yang digenjreng bak suara derap langkah pasukan militer, terdengar bagai lagu kebangsaan yang dinyanyikan secara patuh oleh barisan buruh di bawah efek hipnotis sang penguasa. 

Ketika horor dalam negeri masih susah (baca: ogah) lepas dari formula melelahkan seperti hantu yang begitu rajin memamerkan wajahnya ke arah penonton, maupun penggunaan lagu beraroma tempo dulu yang makin lama makin kehilangan keangkerannya, Monster Pabrik Rambut datang dan mengacak-acak sistem banal tersebut. 

REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES

Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu. 

Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.

Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan? 

Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu. 

George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan. 

Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni. 

Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba. 

Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya. 

The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.

Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.

REVIEW - GOHAN

Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi. 

Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama. 

Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek. 

Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025). 

Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.

Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru. 

Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie. 

Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.

Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas. 

Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima. 

Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri. 

Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai. 

REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)

"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu. 

Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka. 

Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya. 

Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.

Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat. 

Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.

Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D? 

Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser. 

Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya. 

Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku  medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi. 

Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan. 

Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu. 

REVIEW - PARA PERASUK

Melalui karya terbarunya, Wregas Bhanuteja enggan memandang mistisisme sebagai kekuatan jahat untuk dilawan. Sebaliknya, ia merupakan wadah perlawanan. Daripada ketidaktahuan pembawa ngeri, sifat abstrak dunia mistis dipakai melambangkan ruang bebas tanpa kekangan di mana imaji meruntuhkan batas kemustahilan. 

Para Perasuk bukan film Indonesia pertama yang melakukannya, bahkan di tahun ini. Salah satu segmen The Period of Her, yakni Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani, menawarkan perspektif serupa. Tapi yang membuat Para Perasuk menonjol adalah bagaimana Wregas (menulis naskah bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra) mengekspansi konsep tersebut guna melahirkan dunia magical realism unik.

Latarnya adalah Desa Latas yang sering menggelar "Pesta Sambetan" (penggunaan kata "pesta" menekankan signifikansi acara tersebut). Di sana, peserta yang disebut "pelamun" membiarkan tubuh mereka dirasuki roh yang kehadirannya dibimbing oleh iringan musik anggota sanggar sambetan yang punya julukan "perasuk". 

Bersenjatakan tiupan selompret miliknya, Bayu (Angga Yunanda) bercita-cita jadi perasuk handal di sanggar pusat yang diketuai oleh Guru Asri (Anggun dengan tarikan suara yang seolah sanggup merobohkan dinding pemisah alam). Ketika sanggar pusat mengadakan seleksi, Bayu pun berambisi lolos demi mewujudkan cita-cita tersebut, meski harus bersaing dengan sahabatnya, Pawit (Chicco Kurniawan), juga si rival berat, Ananto (Bryan Domani). 

Persoalan finansial jadi salah satu alasan utama. Bayu meyakini bahwa tambahan uang bakal mengurungkan rencana sang ayah (Indra Birowo) menjual rumah mereka pada Wanaria, korporasi yang berencana mengubah Desa Latas menjadi area perhotelan sehingga menyulut amarah banyak warga. 

Masalahnya, Bayu belum betul-betul menguasai seni sebagai perasuk, yang oleh film ini dipakai sebagai simbol puncak pencerahan manusia setelah sanggup menyatukan jiwa dengan semesta. Perasuk andal dapat membawa kebahagiaan bagi para pelamun yang gundah. Wujud kebahagiaannya beragam, tergantung roh mana yang sedang dikerahkan. 

Momen saat pelamun mencapai kondisi trans kemudian melangkahkan kaki ke alam roh dimanfaatkan oleh Wregas dan tim artistik untuk mengeksekusi ide-ide visual kreatif. Ada kalanya humor absurd menemani perjalanan kita menyatroni alam tersebut. Kombinasi semuanya berjasa meniadakan kesan repetitif saat alurnya berkali-kali mengulangi situasi di mana Bayu gagal menjaga konsentrasi, yang mengakibatkan kekacauan kala sambetan. 

Sedangkan dari sisi pelamun, Laksmi (Maudy Ayunda), yang seketika mencuri hati Bayu, mengambil peran sentral. Sambetan merupakan eskapisme bagi Laksmi dari sebuah trauma. Medium yang memberinya tempat berlindung dari garangnya kepenatan dunia nyata, juga luka-luka yang menolak sirna. Bagi orang-orang seperti Laksmi, sambetan bukanlah parade klenik yang harus ditakuti, melainkan ruang aman yang bisa melindungi.

Tidak bisa makan enak? Roh semut bakal menghadiahkan ilusi sehingga para pelamun merasa mereka sedang menyantap hidangan mewah. Ada pula roh bulus yang melindungi dari rasa sakit, juga roh kutu yang memberi kemampuan melompat luar biasa tinggi bak manusia super, seolah membebaskan pelamun dari belenggu realita. Roh hewan-hewan yang sekilas remeh, dalam aktivitas yang oleh para skeptis jadi sasaran olok-olok, nyatanya ampuh selaku pelipur lara.

Wregas berhasil menenggelamkan dalam semesta magisnya yang menghipnotis, berkat bangunan dunia yang memperhatikan detail secara serius. Dunianya memang sarat keajaiban fantastis, namun subteks di baliknya kaya akan cerminan realis. Pembangunan tamak disentil, begitu pula arogansi manusia ibukota yang terlampau mendewakan logika mereka hingga punya tendensi mengerdilkan paham-paham spiritual. 

Proses Bayu dan Laksmi kelak bakal mendorong mereka jatuh dalam titik nadir, tatkala masing-masing lalai bahwa semenyenangkan apa pun sebuah eskapisme, masih ada kenyataan yang wajib dihadapi. Ambisi mengaburkan mata Bayu, sementara luka tak tertahankan di hati Laksmi membuat aktivitas rekreasional melenceng ke arah adiksi. Lewat akting mereka, Angga Yunanda dan Maudy Ayunda menjembatani emosi antara persoalan dua insan tersebut, dengan penonton yang direpresentasikan realitanya. 

Selepas perjalanan dua protagonisnya mengambil arah yang cenderung kelam, pilihan konklusi Para Perasuk mungkin terkesan naif. Apalagi Wregas (sebagaimana tampak di Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti) punya tendensi menuang banyak pemanis berupa dramatisasi berkadar tinggi di sela presentasi yang cenderung artsy. 

Untungnya pendekatan di atas masih sejalan dengan intensi Para Perasuk, yang ingin mengajak penonton merasakan kebahagiaan sembari menemukan cahaya harapan. Filmnya berhasil mengingatkan tentang betapa budaya mistis negeri ini begitu kaya, sehingga semestinya tidak melulu dipakai menakut-nakuti, tapi juga diresapi sebagai cara menjalin keselarasan antara semesta dengan diri kita sendiri. 

REVIEW - THE DRAMA

Sejauh mana kita bisa menoleransi masa lalu pasangan? Bagaimana kita mesti merespon saat mendadak rahasia kelamnya tersingkap? The Drama karya Kristoffer Borgli mengkaji problematika tersebut, dan bagi saya film ini penting ditonton oleh kalian yang berencana mengucap janji suci untuk menghabiskan seumur hidup bersama sosok tercinta.

Seminggu lagi Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) akan menikah. Seluruh persiapan tengah dimatangkan. Dibantu sahabatnya, Mike (Mamoudou Athie), Charlie menyusun pidato mengenai ragam hal berkesan dalam hubungan mereka, termasuk indahnya pertemuan pertama. 

Emma kebingungan. Supaya menghindari kesamaan topik, ia harus mencari pokok bahasan lain. Peristiwa mana saja yang dapat ditulisnya? Charlie tidak cukup peka guna menyadari kegundahan si calon istri, terus melanjutkan tulisan tanpa membuka ruang diskusi. Egoisme itulah yang kelak jadi bibit ancaman di hubungan keduanya. 

Suatu malam, bersama Mike dan istrinya, Rachel (Alana Haim), dua protagonis kita terlibat obrolan mengenai hal terburuk yang mereka pernah perbuat. Mike menjadikan mantan pacarnya sebagai "tameng" menghadapi serangan anjing. Mendengar itu, forum tertawa. Rachel pernah seharian mengurung anak berkebutuhan khusus dalam lemari. Lagi-lagi semua tertawa. Charlie bercerita soal perundungan secara daring terhadap teman sekelasnya. Sekali lagi forum tidak ambil pusing.

Tapi begitu Emma mengakui rencana melakukan penembakan semasa SMA yang urung ia eksekusi, kecanggungan seketika menyeruak. Amarah Rachel meledak karena sepupunya pernah jadi korban penembakan, sedangkan si calon suami hanya bisa terpana. 

Hari-hari Charlie mulai dihantui asumsi liar. Tindakan-tindakan Emma terdahulu yang sebelumnya nampak remeh kini ia kaitkan dengan psikopati. Rangkaian imajinasi absurd yang dipoles memakai surealisme khas Kristoffer Borgli memenuhi kepalanya. Insekuritas serta rasa tidak percaya sejatinya merupakan reaksi yang wajar muncul pasca terungkapnya sebuah dusta. Selanjutnya tinggal bagaimana proses saling memahami berlangsung.

Borgli menggambarkannya sebagai proses yang luar biasa kacau. Gaya bercerita dan penyuntingannya yang sarat lompatan ekstrim mewakili dinamika psikis protagonisnya yang tengah kalut akibat terus diombang-ambingkan asumsi. Liar, kacau, tapi efektif membuat filmnya tampil bertenaga sekaligus menyenangkan. 

Daya hibur pun The Drama bakal tereskalasi secara signifikan bagi penonton yang cocok dengan humor-humor gelap yang sudah Borgli siapkan. Hal-hal seperti penembakan massal di sekolah, pelecehan, hingga perundungan disentil, tapi The Drama tidak terkesan ofensif karena sang sutradara bukan mengajak penonton menertawakan isu-isu di atas, melainkan kecanggungan kala sederet pokok bahasan tadi gagal diperbincangkan dengan tepat. 

Kecanggungan itu turut disampaikan dengan apik oleh dua pelakon utamanya: Robert Pattinson dengan kekikukan dan ketakpastian dalam tiap sikapnya (mengonfirmasi ketepatan akting sang aktor, saya memiliki teman yang bertutur serta bergestur sama persis dengan Charlie), sementara Zendaya membuat Emma bak nakhoda tangguh yang berjuang menyetir hubungannya agar tidak karam lewat upayanya menepis kecanggungan. 

Tidak semua humornya bekerja maksimal. Momen pidato Charlie di pesta pernikahan selaku klimaks cerita yang bergulir bagai detik-detik menuju kecelakaan mematikan memang menggelitik, pula efektif menyulut kecemasan, namun kebodohan tingkah karakternya cenderung dipaksakan. Charlie memang egois, canggung, senantiasa cemas, tapi filmnya gagal membuat saya percaya ia sanggup berkelakuan SEBODOH ITU.

Ada satu poin luput Borgli soroti. Berdasarkan statistik seputar penembakan massal di Amerika Serikat dari tahun 1982 hingga 2026, 54,7% di antaranya dilakukan oleh kulit putih, sementara persentase pelaku kulit hitam hanya 16,9%. Persoalan ras dalam fenomena memprihatinkan tersebut (Adakah perbedaan penyebab antar ras? Apakah rasisme turut berkontribusi? Apa yang membedakan Emma dengan sejawatnya sampai kepalanya mencetuskan ide gila?) sayangnya tidak film ini telusuri. 

Tapi toh bukan ganjalan besar, sebab The Drama memang memilih untuk lebih fokus pada tahap-tahap yang individu lalui kala memproses realita mengejutkan tentang pasangan (atau teman dan kerabat) yang baru diketahui secara mendadak. Jadi, seberapa jauh bersedia menerima sisi kelam cinta sejatimu?

REVIEW - GHOST IN THE CELL

Ghost in the Cell adalah persembahan yang menunjukkan kepercayaan diri seorang sineas sekaligus bentuk pendewasaan. Bukan dikarenakan hadirnya ketenangan pikir atau kontrol diri. Sebaliknya, kontrol itu justru dienyahkan, sebab sang sineas, setelah bertahun-tahun ditempa proses berkarya, sampai pada kesadaran penuh bahwa sinema tidak terjebak dalam pakem saklek apa pun. 

Joko Anwar merobohkan kurungannya. Enggan memusingkan keruwetan sensor perihal kevulgaran (bahkan sempat menjadikannya candaan), pula secara lantang meneriakkan keresahan terhadap figur-figur bangsa yang polahnya memang semakin meresahkan. 

Penjara sebagai latar pun merupakan pilihan masuk akal. Dikepalai oleh Sapto (Kiki Narendra) dengan Jefry (Bront Palarae) selaku tangan kanan, alih-alih pembinaan, lapas tersebut malah melahirkan lumbung kriminalitas baru. Pelecehan, penghilangan nyawa, hingga bisnis narkoba berjalan bebas. Di kalangan napi, Rendra (Yuhang Ho) si mafia menancapkan kuasanya, dibantu nama-nama seperti Tokek (Aming Sugandhi) dan Bimo (Morgan Oey) yang amat ditakuti. 

Napi yang tak punya kuasa menggantungkan keselamatan mereka di pundak Anggoro (Abimana Aryasatya), figur karismatik yang tidak pandang bulu mengulurkan pertolongan, kendati itu membuatnya dihajar sipir, dijebloskan dalam sel isolasi, atau paling parah, urung diberi remisi. 

Eksistensi perempuan nihil di sini. Beberapa napi diceritakan memiliki istri atau pacar namun wajah mereka tak pernah ditampakkan. Joko bak hendak memotret wajah dunia tanpa perempuan yang bermuara pada kekacauan, sebab pertumpahan darah rutin jadi solusi permasalahan. 

Lalu datanglah Dimas (Endy Arfian) si napi baru. Seorang jurnalis yang dituduh membunuh bosnya secara sadis. Setibanya di lapas, Irfan (Dimas Danang Suryonegoro), salah satu kawan Anggoro, bertugas menangani masa orientasi Dimas, dengan memperkenalkannya pada seluk-beluk penjara. Terpecah dalam kelompok apa saja napi di sana? Siapa yang mesti diwaspadai? Hal-hal semacam itu.

Momen tersebut jadi salah satu medium Joko menumpahkan keluh kesah yang terlampau berisiko bila diutarakan di media sosial. Tidak satu pihak pun luput ia sentil, dari politikus dan koruptor (perlukah dibedakan?) busuk, selebritas bermasalah, kegemaran warganet terhadap keributan, kaum ekstrimis yang mabuk agama, dan masih banyak lagi. Banyak penonton berbagi keresahan serupa, terbukti dari keriuhan di studio tiap film ini melempar sindirannya. Joko memanfaatkan potensi sinema sebagai wadah bersuara secara maksimal.

Nantinya diperkenalkan pula karakter Prakasa (Arswendy Bening Swara), salah satu penghuni blok koruptor yang selnya bakal membuat hotel mewah nampak minim fasilitas. Nama lengkapnya Prakasa Kitabuming. Semasa muda ia adalah aktivis penentang rezim otoriter, yang di salah satu aksinya turun ke jalan, terlihat memiliki rambut agak panjang dan mengenakan kemeja biru. Tidak sulit menerka siapa saja sosok dunia nyata yang karakter Prakasa parodikan. 

Anehnya, pasca kedatangan Dimas, penjara mulai dihadapkan pada serangkaian peristiwa mencekam. Satu demi satu napi ditemukan tewas mengenaskan. Mayat mereka dipotong-potong, lalu disusun layaknya instalasi seni buatan seniman sakit jiwa. Benarkah pelakunya hantu? Apakah masing-masing TKP mewakili simbol tertentu? Tujuh dosa besar mungkin? Atau elemen-elemen penyusun alam (air, api, udara, dll.)?

Teori niscaya akan beredar, yang mana merupakan rutinitas tiap karya terbaru Joko rilis. Tapi semua sebatas spekulasi. Satu hal pasti, kreativitas sang sutradara mencapai puncaknya di sini. Bukan sekadar menggelar parade kekerasan tanpa arti serta cita rasa, Joko seolah menginisiasi pameran seorang seniman yang tak lagi kuasa menahan segala luka batinnya. Unik, menyakitkan, mencengangkan, namun tidak lalai menyulut rasa kagum. 

Terasa betul Joko sedang bersenang-senang. Selain sadisme over-the-top yang mengembalikan ingatan akan betapa menyenangkannya menikmati b-movie (tidak mengejutkan jika Joko termasuk penggemar judul-judul seperti Riki-Oh: The Story of Ricky), humor juga dijadikan amunisi. 

Humornya luar biasa konyol. Karakternya kerap tiba-tiba berkelakuan bodoh di tengah polemik serius, situasi mencekam bisa mendadak banting setir ke arah kejenakaan absurd. Joko meninggalkan tuntutan bermain aman khas arus utama. Kebakuan pola bercerita yang kadang terlalu memuja logika turut dikesampingkan. Kendati penuh momen bodoh, Ghost in the Cell bukan wujud kedunguan, melainkan kebebasan dari kekangan.