Tampilkan postingan dengan label Documentary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Documentary. Tampilkan semua postingan

REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)

"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu. 

Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka. 

Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya. 

Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.

Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat. 

Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.

Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D? 

Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser. 

Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya. 

Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku  medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi. 

Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan. 

Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu. 

REVIEW - KOESROYO: THE LAST MAN STANDING

Ketika The Beatles di masa jaya mereka dirayakan di seluruh dunia, Koes Plus justru dicela oleh Presiden Soekarno dengan sebutan "musik-musikan ngak-ngik-ngok" hingga sempat dipenjara. Ketika puluhan album The Beatles cukup untuk membuat para personelnya hidup mewah hingga akhir hayat dan dianugerahi gelar kebangsawanan, Yok Koeswoyo selaku satu-satunya anggota yang tersisa, hidup sederhana biarpun pernah menelurkan ratusan album (termasuk 23 buah di tahun 1974), pun cuma piagam ala kadarnya yang pernah pemerintah hadiahkan.

Koesroyo: The Last Man Standing karya Linda Ochy mengajak penonton mengunjungi ruang personal Koesroyo alias Yok Koeswoyo, selaku satu-satunya personel Koes Bersaudara yang masih hidup. Tahun ini usianya menginjak 82 tahun. Sekilas tak nampak jejak-jejak bintang populer dari parasnya. Hanya laki-laki lanjut usia berpeci biasa, yang bersama tiap isapan rokoknya bercerita tentang era yang telah lalu. 

Filmnya mengumpulkan beberapa narasumber untuk ikut bertutur. Sari, putri sulungnya, kerap menemani "Yok Koeswoyo sang manusia" merekonstruksi memori di balik setumpuk mahakarya buatannya. Sementara David Tarigan dengan kemampuan berkisah di atas rata-rata yang asyik untuk disimak, membagikan sudut pandang eksternal selaku pengamat musik sekaligus penggemar, mengenai perjalanan karir "Yok Koeswoyo sang megabintang". 

Linda Ochy mengisi filmnya dengan narasumber yang bukan hanya kaya akan informasi, pula piawai bernarasi, sehingga membantu penonton yang berasal dari generasi baru memahami kebesaran subjeknya. Mengutip ucapan H.B. Jassin, sejarawan Hilmar Farid menyamakan dampak Koes Plus dengan Chairil Anwar, yang mampu "bersuara" hanya lewat dua kalimat tatkala pujangga baru memerlukan 200 halaman. 

Kelengkapan arsip, dari koleksi foto, kliping koran, rekaman suara konser, hingga koleksi video lawas makin menguatkan pondasi cerita. Koesroyo: The Last Man Standing memang dokumenter konvensional yang tak melangsungkan eksperimen dalam caranya bernarasi, tapi ia berhasil mengeksekusi hal-hal pokok dengan baik. 

Sayang, ada kalanya alur Koesroyo: The Last Man Standing terasa membingungkan, terutama bagi penonton awam yang belum seberapa mengerti tentang perjalanan karir Koes Bersaudara/Koes Plus, akibat ketiadaan jembatan antar linimasa di beberapa titik. Demikian pula subplot berdaya tarik tinggi (misal perihal Koes Plus yang dijadikan mata-mata pemerintah) yang hanya disinggung secara "malu-malu" sehingga memunculkan rasa penasaran tak terjawab, di saat dokumenter ini mestinya memuaskan dahaga atas tanda tanya semacam itu. 

Kekurangan di atas untungnya berhasil ditambal oleh beberapa situasi menyentuh yang filmnya tangkap. Di awal, Yok Koeswoyo berkata bahwa ia tidak ambil pusing pada status "the last man standing". Baginya, kesendirian ini hanyalah bentuk biasa dari mortalitas manusia yang tak perlu diratapi. Tapi begitu lagu Why Do You Love Me diputar, yang mengembalikan ingatan akan kematian istri pertamanya, Maria Sonya Tulaar, tangis Yok Koeswoyo seketika pecah. 

Koesroyo: The Last Man Standing bukan hanya seputar Yok Koeswoyo sebagai pesohor dunia musik tanah air. Tapi Yok Koeswoyo sebagai manusia biasa, sebagai laki-laki yang kehilangan cinta sejatinya, sebagai ayah yang mensyukuri pendampingan dari putrinya, sebagai rakyat Indonesia, yang biarpun begitu menyerapi serta vokal menyuarakan nasionalisme, justru dibiarkan menua begitu saja oleh negara. 

(FFD 2025)

REVIEW - BLACK BOX DIARIES

Black Box Diaries mendokumentasikan investigasi sang sutradara, Shiori Itō, terhadap kasus pemerkosaan yang menimpanya. Kita melihatnya melangsungkan konferensi pers, di mana untuk kali pertama, Itō mengungkap peristiwa yang menimpanya ke publik. Mayoritas media menyudutkannya, sedangkan publik (banyak di antaranya perempuan) menuduhnya melakukan panjat sosial, bahkan menyebutnya "murahan" hanya gara-gara tak menutup semua kancing di kemeja yang ia kenakan.

Deretan reaksi di atas sudah cukup untuk menjustifikasi eksistensi dokumenter ini, selaku medium bersuara bagi para perempuan yang dibisukan oleh paham seksisme. Apalagi si pelaku, Noriyuki Yamaguchi, adalah jurnalis terpandang sekaligus penulis biografi bagi Shinzo Abe yang kala itu menjabat sebagai perdana menteri, sebelum dibunuh pada tahun 2022. 

Laporan pertama Itō ditolak polisi, dengan alasan minimnya bukti kecuali pernyataannya yang berbasis memori. Polisi baru bertindak pasca Itō menyerahkan rekaman CCTV hotel yang memperlihatkan Yamaguchi membawanya masuk secara paksa, namun pada akhirnya dakwaan tetap dibatalkan. Terdapat indikasi campur tangan petinggi pemerintahan. Jepang memang maju secara infrastruktur, namun caranya menangani kasus perkosaan ternyata masih terbelakang.  

Memakai kamera smartphone, Itō, yang juga seorang jurnalis, merekam kesehariannya. Kita melihatnya menangis, hancur oleh ingatan traumatis yang bisa kapan saja tiba-tiba menerjang, bahkan sempat menimbang-nimbang untuk bunuh diri. Black Box Diaries tidak unggul dalam hal teknis, tidak pula mendobrak pola narasi dokumenter investigatif, namun "kementahan" yang tersaji merupakan sumber kehebatannya. Sebuah perjalanan intim mengarungi realita personal yang coba disangkal oleh suatu negeri. 

Ada kalanya Black Box Diaries terasa sangat menghancurkan. Itō sempat mengajak kita mengintip fotonya semasa kecil sembari bertutur tentang kenangan bersama keluarganya. Sungguh menyakitkan melihat gadis cilik polos di foto tersebut kelak jadi korban kebiadaban laki-laki. Di sisi lain, momen menyentuh tak luput filmnya tangkap. Misal sewaktu beberapa perempuan tua berorasi melontarkan dukungan bagi Itō. Salah satu di antara mereka tidak benar-benar mengingat wajah Itō, namun ia paham betul kalau ada sesama perempuan yang memerlukan dukungan.

Pemerkosaannya terjadi bersamaan dengan mekarnya sakura. Sejak itu Itō tak lagi mampu menikmati cantiknya warna bunga tersebut. Black Box Diaries menunjukkan bagaimana pemerkosaan, atau kasus pelecehan seksual berbentuk apa pun, bisa berdampak menghapuskan keindahan dalam hidup korbannya. 

Tapi Itō menolak selalu menampakkan penderitaan di sini. Dia tetap bercengkerama dengan teman-teman, tertawa bersama, pula bersemangat kala berhasil menentukan judul buku (Black Box) yang ia tulis berdasarkan pengalamannya. Black Box Diaries enggan mendefinisikan si protagonis hanya sebagai "korban pemerkosaan". Shiori Itō tetaplah individu dengan segala kompleksitas warna-warninya yang berhak merasakan kebahagiaan. 

(Klik Film)

REVIEW - JAGAD'E RAMINTEN

Jika membicarakan kapasitas bercerita, dokumenter arahan Nia Dinata ini memang belum sampai taraf luar biasa. Meski demikian, ia berfungsi sebagai sesuatu yang lebih besar daripada sekadar "sinema berkualitas". Jagad'e Raminten memberi ruang aman bagi kaum marginal untuk berkisah secara bebas, sembari membanggakan identitas mereka sebagaimana adanya. 

Sesosok perempuan queer berusia paruh baya dengan dandanan khas Jawa. Mustahil melewatkan figur Raminten yang eksentrik nan ikonik kala menginjakkan kaki di Yogyakarta walau cuma sejenak. Entah sudah berapa banyak pula kenangan manusia pernah terekam di The House of Raminten, rumah makan 24 jam yang mengabadikan namanya. Melalui film ini, giliran kita yang mendengarkan kenangan tentangnya. 

Raminten sejatinya adalah nama karakter dari siaran ketoprak Pengkolan yang diperankan Hamzah Sulaeman, atau yang juga dikenal dengan nama Kanjeng Mas Tumenggung Tanoyo Hamijinindyo, selepas gelar tersebut dianugerahkan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana X. Seorang seniman, pengusaha, hingga abdi dalem keraton. Apa lagi yang belum kita tahu mengenai individu hebat yang baru saja meninggal dunia pada 23 April lalu tersebut? 

Sebagaimana judul filmnya, Nia Dinata mengajak penonton bertualang mengarungi semesta ciptaan Hamzah/Raminten. Sebuah semesta inklusif yang memanusiakan manusia, pula memanusiakan seniman. Salah satu narasumbernya adalah Ratri, anak angkat Hamzah yang paling muda. Tanpa ada keraguan ia sampaikan penerimaan sang ayah (dipanggil "Kanjeng" olehnya dan orang-orang terdekat lain) mengenai orientasi seksualnya sebagai lesbian. 

Inklusivitas itu paling diwakili oleh Raminten Cabaret Show yang diadakan di lantai atas Hamzah Batik, Malioboro. Pertunjukan tersebut banyak melibatkan individu LGBTQ, yang setiap hari Jumat dan Sabtu diberi kesempatan menjadi bintang di atas panggung, biarpun dalam rutinitas sehari-hari, stigma negatif masyarakat terhadap mereka belum juga lenyap. 

Nia Dinata menyusun narasi Jagad'e Raminten melalui wawancara dengan seluruh anggota kabaret. Semua diberi peluang bertutur. Di satu sisi, itu merupakan upaya bersikap adil yang patut dipuji, namun di sisi lain, prinsip "kuantitas di atas kualitas" membuat kisah para narasumber luput digali secara mendalam. Perkenalan kita dengan karakternya pun tak lebih dari sebatas nama (nama panggung mereka ditulis dengan teks besar sebagai penanda pergantian segmen) serta kulit luar, padahal masing-masing membawa cerita yang cukup kaya untuk dijadikan film tersendiri. 

Pergerakan narasinya acap kali begitu kasar, terutama karena tiap segmen bergulir teramat singkat. Akibat keterbatasan waktu pula, jawaban dari pertanyaan "Bagaimana sosok Hamzah di mata kalian?" yang diajukan ke narasumbernya gagal berkembang lebih luas dari sebatas rangkaian puja-puji mengenai kedermawanan yang kerap mendiang lakukan. 

Tapi cerita mengenai kemanusiaan seorang Hamzah Sulaeman beserta semangat inklusivitas miliknya memang tak pernah gagal memancarkan pelukan kehangatan. Terpenting, sebagaimana sosok legendaris yang ia angkat kehidupannya, Jagad'e Raminten, di luar kelemahannya bernarasi, mampu menjalankan peran selaku penyedia ruang aman bagi kaum marginal.

Lesbian, gay, transpuan, cross-dresser hetero beristri, perempuan berjilbab, para laki-laki cis, semua dibiarkan berkisah tanpa larangan. Karena begitulah semesta yang dicita-citakan Hamzah Sulaeman. Sebuah semesta tanpa stigma, tanpa prasangka, pula dipenuhi cinta antar sesama manusia yang diperlakukan sebagaimana mestinya manusia. 

(Artjog 2025)

REVIEW - NO OTHER LAND

"Aku mulai merekam ketika hidup kami mulai berakhir". Di film lain, itu hanya akan menjadi sebuah kalimat yang ditulis dengan indah. Tapi di No Other Land, alih-alih karakter fiktif, untaian kata di atas terucap dari mulut orang sungguhan, yang mendeskripsikan realitanya yang bertransformasi menjadi horor sungguhan. Hasilnya adalah salah satu kalimat paling menyayat hati yang pernah diperdengarkan oleh medium sinema. 

Empat sutradara (Basel Adra, Hamdan Ballal, Yuval Abraham, dan Rachel Szor) bekerja sama membesut dokumenter yang beberapa waktu lalu mencetak kemenangan bersejarah di Academy Awards ini. Di antara mereka, Basel dan Yuval punya peran paling menonjol, sebab keduanya turut berperan sebagai protagonis yang penonton ikuti kisahnya. 

Basel merupakan aktivis muda Palestina yang vokal melawan pengusiran oleh tentara Israel terhadap warga Masafer Yatta yang jadi tempat tinggalnya. Di sisi lain, Yuval adalah jurnalis Israel yang menentang agresi negaranya sendiri. Narasi No Other Land tersusun atas ribuan jam rekaman yang mereka kumpulkan dari 2019 hingga 2023, pula arsip video milik keluarga Basel yang diambil sejak puluhan tahun lalu. 

Tidak ada voice over, tidak ada grafik penjelas, tidak ada wawancara. No Other Land adalah cinéma vérité yang bertujuan memotret realita senyata mungkin. Riyad Mansour selaku duta besar Palestina untuk PBB pernah menyebut serangan Israel pada tanah airnya sebagai "genosida paling terdokumentasi sepanjang sejarah", dan film ini memperkuat pernyataan tersebut.

Penonton seolah dibawa terjun langsung ke medan perang, dan tak ada ruang tersisa bagi keraguan mengenai apa yang nampak di layar untuk menyeruak. Ketika Harun    salah satu tetangga Basel yang berusaha menghalau tentara Israel    ditembak oleh para penjajah, ada kengerian merambat. Ada seorang pria ditembak, coba dibunuh layaknya binatang, tepat di depan mata kita. Bukan reka ulang, bukan adegan artificial. 

Bukan cuma paparan sadisme saja yang meninggalkan kesan besar. Kita sempat diajak mundur beberapa tahun ke masa Basel masih kecil, tepatnya ketika Tony Blair datang mengunjungi sekolah yang dibangun di tengah ancaman pengusiran. Sang mantan perdana menteri cuma berkeliling selama tujuh menit, dan itu sudah cukup membuat Israel menghentikan upaya persekusi. Apa jadinya jika para pemegang kuasa di seluruh dunia bersedia mengerahkan daya upaya mereka secara total guna menolong rakyat Palestina? 

No Other Land mungkin tak memenuhi banyak kaidah filmis, tapi fakta bahwa dokumenter berdurasi 95 menit berhasil dilahirkan tatkala para pembuatnya bertaruh nyawa tiap hari sudah merupakan keajaiban. Mereka tak perlu memusingkan soal pakem. 

Kita pun tidak usah memedulikan tetek bengek di atas. Persoalan teknis tak lagi penting, karena sewaktu pasukan biadab Israel bukan cuma menghancurkan rumah di Masafer Yatta, tapi juga mengambil alat pertukangan dan melucuti peluang membangun kembali, atau saat muncul larangan bagi rakyat Palestina untuk menyetir sebelum akhirnya berpuncak pada dirusaknya sumber air, kita tengah menjadi saksi genosida. 

REVIEW - SUGARCANE

Sugarcane dibuka oleh situasi sunyi di lokasi berdirinya St. Joseph's Mission (1867-1981). Nampak sebuah patung Maria yang dipenuhi bercak berwarna merah darah berdiri di area tersebut, yang secara puitis tetapi tragis, bak menyimbolkan bagaimana di sana agama pernah jadi kedok serangkaian perbuatan kejam. Tempat itu sudah kosong, namun kepiluannya tetap membekas. 

Sebuah sekolah asrama khusus anak-anak Indian juga sempat eksis di situ, yang jadi bagian sistem pendidikan pemerintah Kanada. Sekolah itu bukan wujud kepedulian bagi pribumi, tapi tak ubahnya penjara penuh siksaan serta panggung genosida. Banyak laporan soal tindak kekerasan, pelecehan seksual, juga dugaan pembunuhan karena banyaknya murid tiba-tiba menghilang selama bertahun-tahun, namun pihak berwajib tidak pernah menindaklanjuti. 

Sampai pada tahun 2021, ditemukan ratusan kuburan tak bertanda di area bekas berdirinya sekolah tersebut, yang membangkitkan kembali upaya untuk menguak kebenaran, termasuk oleh duo sutradara Julian Brave NoiseCat dan Emily Kassie melalui film mereka ini. Ayah Julian, Ed Archie Noisecat, juga mantan siswa sekolah tersebut, sekaligus satu dari sekian banyak anak yang lahir dari hasil pemerkosaan oleh para pendeta. 

Pendeta memerkosa siswi, sang siswi hamil, kemudian beberapa bayinya dibakar hidup-hidup. Bayi yang selamat berujung dibuang, atau tumbuh sebagai anak perempuan yang juga menjadi siswi di sekolah tersebut, hanya untuk diperkosa oleh pendeta yang dahulu memerkosa ibu mereka. Kemanusiaan hanyalah dongeng di St. Joseph's Mission. 

Sugarcane turut mengikuti aktivitas beberapa narasumber lain. Salah satunya Charlene Belleau, yang telah sekian lama melakukan investigasi bersama Whitney Spearing, dengan cara mewawancarai para penyintas dan mencari bukti-bukti terkait kebengisan para iblis bertopeng pengikut Tuhan di sekolah tersebut. Setiap kata yang terucap dari mulut para penyintas membawa kengerian, pun tiap lokasi yang dikunjungi merekam luka dan kesedihan. 

Di satu titik, Charlene yang juga seorang penyintas mengunjungi bangunan yang dahulu dijadikan kurungan bagi murid. Nama anak-anak yang pernah dikurung terukir di dinding. Sembari menahan tangis, Charlene bercerita bahwa mereka diberikan nomor, dan alih-alih nama, para siswa dipanggil berdasarkan nomor itu. Menyakitkan. 

Sugarcane tak hanya bertindak selaku penguak kebenaran, pula pengingat betapa peristiwa traumatis bukan sebatas menghancurkan korban, pula orang-orang di sekitarnya, bahkan hingga bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi. Selepas menginjak usia dewasa pun, tendensi bunuh diri para penyintas tetap tinggi. Jikalau bertahan hidup, ada serangan depresi yang menolak pergi. Sebagaimana yang menimpa Ed, hingga ia memutuskan meninggalkan Julian kecil, yang akhirnya ikut terdampak secara emosional. 

Mungkin dokumenter ini berupaya mengisi narasinya dengan terlalu banyak cerita, namun tidak bisa dipungkiri tiap cerita memiliki urgensi dan bobot emosi. Penutupnya terasa inkonklusif, tapi mungkin memang itu yang para sineasnya ingin penonton rasakan. Ketidakpuasan atas belum adanya konklusi pasti juga sesuatu yang mengganggu hati orang-orang Indian di sana. 

Narasumber berikutnya adalah Rick Gilbert, mantan kepala Williams Lake First Nation yang mewakili orang-orang Secwépemc. Meski Rick juga penyintas, ia tetap tak kehilangan kepercayaan pada Katolik. Suatu ketika Paus Fransiskus mengundangnya dan perwakilan Indian lain dari berbagai tempat ke Vatikan. Di hadapan mereka Paus menyampaikan permintaan maaf, sebelum mengakhiri pidato "Bye bye!" yang terdengar (terlampau) ceria. Masalahnya mereka sudah lelah dengan permintaan maaf tanpa aksi nyata. 

(Disney+)

REVIEW - DAUGHTERS

Daughters mengkritisi kebobrokan sistem tanpa harus menyenggolnya secara langsung. Tapi daripada memilih format dokumenter yang memenuhi presentasinya dengan data dan statistik, para pembuatnya justru menerapkan pendekatan intim yang lebih banyak menstimulus hati ketimbang otak. Alhasil, secara tulus dan tanpa rasa terpaksa, penonton turut melempar kritik serupa dengan sendirinya.

Disutradarai oleh Natalie Rae dan Angela Patton, kisahnya berpusat pada program yang Patton ciptakan. "Date with Dad" adalah nama program tersebut. Di situ, para anak perempuan berkesempatan untuk menghadiri pesta dansa bersama ayah mereka yang mendekam dalam penjara. Filmnya menempatkan empat anak sebagai sorotan utama: Aubrey Smith (5 tahun), Santana Stewart (10 tahun), Ja'Ana Crudup (11 tahun), dan Raziah Lewis (15 tahun).

Program ini menjadi spesial karena banyak penjara di Amerika Serikat, termasuk latar filmnya yang terletak di Washington D.C., telah menghapus hak para tahanan untuk menerima kunjungan. Sebagai gantinya, pihak keluarga mesti membeli kredit untuk melakukan panggilan video, dengan harga yang cukup memberatkan banyak kalangan. Ketika instansi hanya memikirkan monetisasi, masyarakat yang tak bersalah pun ikut merugi. 

Filmnya tidak pernah menjabarkan apa saja kejahatan yang dilakukan oleh jajaran subjeknya (walau kita bisa meraba-raba berdasarkan lama hukuman masing-masing), sehingga penonton takkan mengalami bias dalam memandang isunya. Bahwa kepada siapa pun ia ditujukan, sistem yang hanya bertujuan memperkaya pemegang kuasa tanpa peduli kesejahteraan rakyat jelata tidak semestinya dibiarkan eksis.

Nantinya kita diajak melihat proses 10 minggu menuju acara. Para ayah duduk bersama mengikuti kelas parenting, sementara buah hati mereka menjalani rutinitas harian sembari memendam kerinduan. Pola alurnya memang cenderung repetitif (menyoroti kegiatan di luar penjara, lalu berpindah ke dalam, sebelum melompat ke minggu berikutnya dengan urutan yang sama), tapi menarik mengobservasi bagaimana tahanan laki-laki membuka sisi rapuh mereka, sedangkan para anak perempuan justru sebaliknya, mendefinisikan "girl power". 

Ditemani gambar-gambar indah hasil tangkapan kamera Michael "Cambio" Fernandez yang menghadirkan komparasi antara cantiknya dunia luar dengan kesan monoton ruang-ruang sempit penjara, Daughters memotret kegundahan anak-anak perempuannya. Aubrey yang baru pertama kali ditinggalkan oleh sang ayah nampak polos dibandingkan Santana yang ayahnya sudah berulang kali keluar-masuk penjara. Padahal usia mereka cuma terpaut lima tahun. 

Tanpa sang ayah, anak-anak itu terpaksa tumbuh dewasa terlalu cepat. Tanpa sang ayah,  mereka harus menanggung kesedihan. Bahkan Raziah mengaku sempat ingin mengakhiri hidupnya. Daughters adalah tontonan yang hangat sekaligus menyakitkan. Epilognya agak terlalu panjang, tapi di situ pula kita berkesempatan menyaksikan dampak terpecahnya tiap keluarga. Ada momen penting yang terlewat, ada pula rasa cinta yang perlahan ditutupi oleh kelelahan dalam penantian. 

(Netflix)

REVIEW - ALL ACCESS TO ROSSA 25 SHINING YEARS

All Access to Rossa 25 Shining Years bukan dokumenter musik yang cuma mengajak penontonnya berkaraoke meski punya subjek seorang penyanyi ternama dengan puluhan lagu hit. Digarap oleh Ani Ema Susanti, dokumenter ini jeli dalam bercerita sehingga mampu memanusiakan sang diva. 

Dilihat dari tampak luar, ia seperti tiada beda dengan banyak dokumenter lain yang mengambil latar jelang konser seorang musisi. Sebagaimana terpampang di judul, Rossa hendak menggelar konser perayaan 25 tahun karirnya di berbagai kota di Indonesia serta Malaysia. Proses persiapan disoroti, kegiatan latihan direkam, berbagai wawancara pun dilakukan.

Sekali lagi, terdengar formulaik. Sampai sering waktu, ketika pembicaraan berlangsung makin dalam dan mulai menyentuh ranah personal, barulah All Access to Rossa 25 Shining Years menampakkan kekuatan sejatinya sebagai dokumenter yang cerdik dalam menggali subjeknya. 

Rossa nampak mengagumkan di sini, bahkan di mata penonton yang bukan tergolong penggemarnya. Bukan karena ia sempurna. Justru sebaliknya, di balik status diva yang disandang, di luar kreativitas tingkat tinggi yang mendorongnya jadi figur perfeksionis dalam mempersiapkan konser, Rossa di sini digambarkan sebagai manusia biasa. 

Fisiknya lemah. Melihat Rossa pingsan bukan suatu kejanggalan (meski tetap mengkhawatirkan) di mata orang-orang terdekatnya. Naik-turun dalam hal psikis pun kerap ia alami, termasuk saat bercerai dengan Yoyo "Padi". Bagaimana Rossa selalu berhasil bangkit dan konsisten menjaga kualitas karir selama 25 tahun di tengah beragam masalah itulah yang membuatnya mengagumkan. 

All Access to Rossa 25 Shining Years turut memanfaatkan eksplorasi menuju ruang intim Rossa tersebut sebagai cara mengaduk-aduk perasaan penonton, khususnya kala kedekatan hubungan antara sang diva dengan puteranya, Rizky, mengambil sentral penceritaan. 

Sekali lagi, film ini memang piawai dalam melakukan penggalian. Cakupan wawancaranya luas, di mana kita bakal mendengar tuturan dari tim Rossa, keluarganya, teman-teman sesama musisi (Ariel, Afgan Melly Goeslaw, dll.), hingga ART di rumah. Dari situ kita dibuat mengagumi Rossa, terikat secara emosional dengannya, dan akhirnya tiba di momen konser selaku payoff yang memuaskan selepas build-up solid yang berlangsung selama sekitar satu jam. 

Di momen konser itulah tiba waktunya bagi penonton melepaskan hasrat bernyanyi berjamaah. Konser yang bukan sebatas rekaman asal jadi, melainkan sebuah tangkapan estetis dari Ani Ema Susanti dan tim. Tata kamera yang memanjakkan mata, hingga beberapa contoh penyuntingan kreatif (transisi antara adegan latihan dan konser di lagu Masih jadi contoh terbaik), membantu menegaskan bahwa 25 tahun perjalanan Rosa memang layak dirayakan. 

REVIEW - MONISME

Apa jadinya jika kamu mengetahui suatu fakta penting dengan urgensi tinggi untuk disampaikan, namun akibat kuasa suatu pihak, menunjukkan dan mewartakan realita itu secara apa adanya menjadi hal yang mustahil? Kalau pertanyaan tersebut dilontarkan kepada Riar Rizaldi selaku sutradara Monisme, mungkin ia bakal menjawab, "Ciptakan saja realita versimu sendiri". 

Begitulah kekuatan sinema. Dia menyediakan wahana untuk menciptakan apa pun sebebas mungkin. Itu pula yang Riar Rizaldi lakukan kala menuturkan berbagai kisah seputar manusia-manusia di sekeliling Gunung Merapi. Naskah yang memberi kredit pada "orang-orang yang hidup di kaki Gunung Merapi" bercerita dengan semaunya, mengalir tanpa memedulikan garis yang membatasi fiksi dan realita. 

Ada beberapa cerita yang disampaikan, dari rutinitas dua ahli vulkanologi (Rendra Bagus Pamungkas dan Kidung Paramadita), jurnalis (Kidung Paramadita) yang mewawancarai penambang pasir (Rendra Bagus Pamungkas) guna mengungkap praktik korupsi, hingga seorang warga (Rendra Bagus Pamungkas) dengan segala pemujaannya terhadap Merapi. Ya, satu aktor memerankan lebih dari satu peran, bak mewakili ragam perspektif (sains, spiritual, ekonomi) yang disatukan oleh Merapi selaku figur "absolut". 

Di tiap kisah, sekelompok ormas (dipimpin Whani Darmawan) selalu memamerkan kuasa, melakukan persekusi kepada mereka yang coba mengungkap kebenaran, menggambarkan cengkeraman premanisme yang mengakar kuat di Yogyakarta. 

Kondisi di atas, termasuk korupsi di proyek tambang, merupakan realita yang akan sulit diberitakan secara apa adanya (sebagai dokumenter misal). Bayangkan ancaman yang berpotensi diterima dari para pemegang kepentingan. Itulah mengapa Riar Rizaldi membangun dunianya sendiri. Diciptakannya fiksi yang membaurkan batasan realita. Fiksi yang menelanjangi realita. 

Penceritaannya mungkin perlu dipadatkan (durasi 115 menit menghasilkan beberapa momen draggy), pun sebagai film yang ingin mengaburkan batas antara fiksi dan dokumenter, batas itu tidak seberapa kabur (mudah memilah adegan mana yang "direkayasa", mana yang "nyata"), namun pesona Monisme lewat narasinya yang misterius layaknya perjalanan menelusuri tubuh Merapi memang begitu menghipnotis. 

(Bioskop Online)

REVIEW - HARTA TAHTA RAISA

Selepas menonton Harta Tahta Raisa, saya tahu bagaimana masa kecil si penyanyi, perjalanan karir termasuk diskografi lengkapnya, anggota tim yang menyokong karirnya, seperti apa lingkungan kerjanya, persiapan konser tunggalnya tahun lalu, hingga fakta terkait "urban legend" bahwa ia mandi memakai air galon. Dokumenter karya Soleh Solihun ini memang tampil informatif nan lengkap. Saking lengkapnya, ada kesan Soleh terlampau ambisius dalam bercerita.

Proses menuju konser tunggal di Gelora Bung Karno menyatukan berbagai kisah, yang masing-masing mewakili keping kehidupan seorang Raisa Andriana. Beberapa rintangan sempat dihadapi jelang Hari-H. Sebutlah hujan yang mengguyur di tengah gladi, pertandingan timnas yang tiba-tiba digelar di tengah lapangan yang telah mulai ditata, sampai ujian terberat kala puterinya, Zalina, jatuh sakit. 

Ada cukup materi untuk melahirkan dokumenter menggigit berisi persiapan konser, tapi filmnya kesulitan menjaga intensitas karena sering "mampir" di cabang penceritaan lain. Setiap cabang menyimpan potongan fakta yang membantu penonton lebih mengenal sosok Raisa, namun ada kalanya kita singgah terlalu lama di satu titik, sehingga momentum jelang konser tunggal gagal dijaga. 

Tapi jika memandang Harta Tahta Raisa layaknya artikel atau berita yang bertujuan menambah pemahaman mengenai subjeknya, Soleh Solihun membuktikan kalau ia adalah jurnalis yang mumpuni. Secara cerdik ia susun film ini sebagai proses "menengok ke belakang". Momen pertama Raisa bercerita kepada kamera mengambil latar sehari setelah konser, sebab Soleh ingin mengajak penonton melihat lewat kacamata sang diva yang merenungkan perjalanan panjang karirnya. Bagaimana dalam 13 tahun ia bertransformasi dari bernyanyi di depan pengunjung cafe menjadi bernyanyi di atas panggung GBK yang disaksikan 42 ribu orang.

Sebagaimana jurnalis kelas satu, Soleh mengumpulkan banyak narasumber kemudian melakukan penggalian sedalam mungkin. Bersama Adryanto "Boim" Pratomo selaku manajer sekaligus partner bisnis kita mempelajari jatuh bangun karir Raisa, sementara sesi wawancara dengan sang suami, Hamish Daud, menciptakan momen manis yang mampu memunculkan senyum. 

Babak akhir Harta Tahta Raisa tampil cukup emosional. Tatkala Raisa bersimpuh di tengah panggung pada akhir konser, sementara Boim duduk di bawah panggung dengan air mata mengalir deras, di situlah filmnya menghadirkan dampak emosional. Sebuah payoff bagi para individu yang dengan penuh semangat, rela bertempur melawan beragam kesulitan guna mewujudkan sesuatu yang mereka impikan.

Terpenting, sebagai dokumenter, film ini mampu memotret realita mengenai Raisa, yang di balik status diva serta mitos-mitos mengenai dirinya, ternyata hanya manusia biasa. Manusia yang mengkhawatirkan kondisi buah hatinya, manusia yang malu-malu mendengar cerita romantis dari masa lalu, manusia yang bakal merasa gugup bila diharuskan berjalan di depan puluhan ribu penonton.

REVIEW - EKSIL

D.N. Aidit, sekjen Partai Komunis Indonesia (PKI), mampu khatam Al Qur'an sebanyak tiga kali dalam waktu singkat. Bagaimana mungkin? Bukankah PKI merupakan musuh umat beragama? Itulah mengapa Eksil garapan Lola Amaria amat penting disaksikan. Diciptakannya ruang bersuara sebagai cara menyeimbangkan perspektif. Sebuah pengingat, bahwa ada versi lain di luar catatan sejarah resmi yang ditulis oleh penguasa. 

Ada alasan mengapa belum begitu banyak film Indonesia, baik di dalam maupun luar arus utama, yang menjadikan peristiwa G30S tahun 1965 selaku pokok bahasan. Siapa yang berani ambil risiko dituding sebagai pengkhianat negara? Jangankan menyelisik lebih jauh, mengucap nama "PKI" saja sudah cukup memancing perasaan was-was, seolah baru mengatakan hal terlarang. 

Eksil punya bentuk yang cenderung konvensional. Dibanding kebanyakan dokumenter konvensional pun ia tergolong sederhana. Tidak banyak footage pelengkap disertakan, di mana dua jam durasinya didominasi wawancara. Teknisnya boleh sederhana, namun tidak dengan narasi. Perlu keberanian yang tidak sedikit untuk menangkap, kemudian mempertontonkan rekaman kata-kata jujur dari para narasumbernya.

Sesuai judulnya, narasumber Eksil terdiri atas beberapa pria tua, yang sewaktu peristiwa 1965 terjadi tengah menuntut ilmu di luar negeri, lalu tidak bisa pulang ke Indonesia, bahkan kehilangan kewarganegaraan, akibat menolak tunduk pada paksaan Orde Baru. Salah satu eksil menyampaikan keinginan hidup sampai tahun 2020 (produksi dilakukan sekitar tahun 2015). Alasannya? Dia ingin memperingati 100 tahun PKI. Masih meragukan keberanian Lola dan tim? 

Biarpun dikemas sederhana, kesan monoton tak pernah hadir, sebab masing-masing narasumber membawa cerita menarik, yang kebanyakan memilukan. Ada yang merelakan sang istri dinikahi oleh teman sendiri di Indonesia akibat sulitnya kondisi finansial keluarga tertuduh PKI, ada pula yang memilih tak berkeluarga karena merasa  semua orang di sekitarnya adalah mata-mata. Ada yang merindukan pemandangan pedesaan khas Indonesia, ada yang akhirnya berhasil pulang setelah tiga dekade hanya untuk mendapatkan persekusi. 

Jajaran narasumbernya mampu meninggalkan kesan mendalam berkat segala cerita tadi. Kita sebagai penonton dapat dengan mudah mengingat karakter-karakter dalam film yang tengah ditonton, dan secara otomatis, kita sebagai rakyat Indonesia bakal terus mengingat saudara sebangsa yang hidup terbuang. Tidak seharusnya mereka dilupakan. Tidak seharusnya seorang warga negara kehilangan 30 tahun yang membuatnya merasa asing sewaktu kembali menginjakkan kaki di tanah air. 

Pasca deretan drama yang kurang berkesan dalam satu dekade terakhir (Jingga, Labuan Hati, Lima, 6,9 Detik), Eksil mengingatkan lagi mengapa Lola Amaria digadang-gadang sebagai sutradara berbakat ketika dahulu merilis Minggu Pagi di Victoria Park (2010). Footage yang ia tangkap banyak yang mempunyai dampak emosional luar biasa. Misal sebuah prosesi pemakaman di gereja dengan iringan lagu Indonesia Pusaka, hingga lambaian tangan para eksil di penghujung film, yang seolah ingin menyampaikan "Sampai berjumpa lagi suatu hari nanti wahai ibu pertiwi". 

REVIEW - IU CONCERT: THE GOLDEN HOUR

Stadion Olimpiade Seoul, 18 September 2022. Langit senja memancarkan warna jingga. Suasana tenang. Damai. Bahkan saat IU (yang menggelar konser solo kembali setelah tiga tahun) membuka pertunjukan lewat lagu Eight, ia mengawalinya dengan akapela. Muncul perasaan khidmat, nyaris religius. 

The Golden Hour memang bukan film konser K-pop biasa. Dia tahu cara bernarasi. Banyak hal patut dirayakan. Sebutlah perayaan 14 tahun karir sang penyanyi, pula fakta bahwa ia merupakan musisi wanita Korea pertama yang menggelar konser di stadion berkapasitas hampir 70 ribu orang tersebut. Tapi sebagaimana prinsip bercerita yang tak langsung melompat ke klimaks, The Golden Hour enggan terburu-buru mengajak penontonnya berpesta. 

IU sendiri jeli dalam bercerita. Mungkin karena ia telah banyak menyerap ilmu dari para penutur ulung, termasuk kala membintangi Broker karya Hirokazu Kore-eda. Simak susunan setlist yang kentara memperlihatkan intensinya berbagi kisah. 

Kisah seperti apa? Kini ia telah dewasa. Sudah menginjak 30 tahun. Bukan lagi nation's little sister (julukannya di awal karir). Mungkin ia tidak lagi lebih menyukai rambut pendek ketimbang rambut panjang seperti lima tahun lalu. Perubahan itu mendorongnya "meluluskan" lagu Palette, yang selepas konser ini takkan lagi dibawakan. 

Selain Palette, Good Day juga dipensiunkan. Agak mengejutkan, sebab inilah lagu yang melambungkan nama IU berkat tarikan "tiga nada tinggi" miliknya. Alasannya? Tingkat kesulitan tinggi dalam Good Day membatasi opsi IU mengutak-atik susunan setlist baru. Dia ingin bebas bereksplorasi. Berapa banyak musisi berani mengesampingkan lagu hit mereka atas nama eksplorasi? 

Pencapaian terbesar The Golden Hour yang jarang dimiliki film konser terutama K-pop adalah, ia mampu membawa penonton mengenali identitas si penyanyi. Sekali lagi, filmnya piawai bercerita. Bahkan tiga VCR di sela-sela penampilan bukan sebatas parade visual kosong selaku selingan. Ada kisah menyentuh yang mewakili proses pendewasaan IU dalam mengarungi hidup. Bagaimana My Sea, yang mendukung narasi VCR tersebut dijadikan nomor penutup (en-encore di konser lebih seperti mid-credits scene dalam film) juga bukti bahwa konser ini didesain dengan "bercerita" sebagai intensi utama. 

The Golden Hour pun sanggup menjustifikasi eksistensinya di layar lebar, meski telah dirilis dalam format DVD dan Blu-ray, pun beberapa klip dapat ditemukan di YouTube. Film ini bukan "rekaman konser" semata, namun sebuah pengalaman sinematik yang layak dikonsumsi di bioskop. Pilihan shot-nya megah, mendukung beragam momen magis yang IU hadirkan. Strawberry Moon yang dibawakan dari balon udara, sampai Above the Time yang didahului pertunjukan drone memukau jadi dua contoh terbaik. 

Tapi serupa IU yang dikenal humanis, The Golden Hour bukan cuma pameran teknologi. Manusia adalah komponen terpenting. Tidak perlu lagi membahas kemampuan bernyanyi IU, maupun kehebatannya menguasai panggung. Jajaran penari, musisi pengiring, juga tim orkestra turut diberi sorotan. Sebuah paket lengkap. 

Seusai film, saya meninggalkan bioskop dan mendapati langit senja secara kebetulan juga tengah menampakkan golden hour. Tanpa sadar timbul pemikiran, "Bukankah kita sungguh beruntung bisa hidup di era yang sama dengan Lee Ji-eun?".   

REVIEW - PESANTREN

Entah berapa kali saya meneteskan air mata saat menonton Pesantren. Bukan semata karena adegan mengharukan, tapi dokumenter buatan Shalahuddin Siregar (Negeri di Bawah Kabut, Lima) ini merupakan satu dari segelintir film yang mampu menyadarkan betapa kerdilnya saya sebagai manusia. 

Tanpa sadar saya kerap menggeneralisasi pesantren beserta para santri. Kolot, konservatif, menolak terpapar modernisasi, dan deretan stigma negatif lain, khususnya perihal cara mereka menyikapi isu gender. Lalu dibawalah saya mengunjungi pondok pesantren Kebon Jambu yang diisi oleh santri laki-laki dan perempuan. 

Di suatu malam para santri berkumpul guna membicarakan rencana sebuah acara yang hendak digelar di Kebon Jambu. Konon acara itu merupakan kongres ulama perempuan pertama di dunia. Saat itulah untuk pertama kali kita berkenalan dengan Nyai Hj. Masriyah Amva selaku pemilik pondok. Dia berdiri sejenak, kemudian melangkah masuk melewati santri laki-laki. Seketika saf berisi laki-laki itu terbelah, memberi jalan pada seorang perempuan. 

Pemandangan yang sejatinya normal dan sangat sederhana, tapi di saat bersamaan menekankan pokok bahasan utama Pesantren. Benarkah menegakkan ajaran Islam berarti mengamini bahwa derajat laki-laki ada di atas perempuan? Banyak "orang beragama" meyakini hal itu dengan dalih ayat suci. Akibatnya banyak pihak memandang kealiman, dalam hal ini di kalangan Islam, berbanding lurus dengan menjunjung patriarki.

Pesantren membantah anggapan tersebut. Bukan lewat amarah atau protes berapi-api, melainkan ajakan untuk berpikir cerdas. Misal ketika salah satu kiai mengulik ayat yang sering dijadikan "bukti" kalau laki-laki lebih berakal dibanding perempuan. Dibantahnya interpretasi itu melalui perspektif yang memperhatikan konteks sosial suatu masa. 

Kaca mata humanis memang selalu film ini kenakan, baik dalam memandang perihal gender, atau saat memotret kehidupan para santri. Mereka tak hanya digambarkan sebagai "pelajar ilmu agama". Sisi manusiawi mereka, yang tiada beda dengan masyarakat awam pun ditampilkan, dan acap kali memunculkan kehangatan. Nampak sewaktu para santri menelepon keluarga di awal durasi, di mana salah satu dari mereka bertanya pada sang ibu, "Kangene uwis?".  

Shalahuddin Siregar yang turut merangkap sebagai sinematografer piawai menangkap peristiwa-peristiwa semacam itu. Peristiwa yang apabila disaksikan tanpa konteks mungkin terkesan kurang penting, namun berperan besar membangun emosi tatkala disatukan sebagai narasi yang utuh. 

Tapi bukankah keberhasilan itu hanya karena subjek yang dasarnya sudah kuat? Mungkin benar, tapi mengapa tiada sineas lain yang pernah mengangkat kisah ini? Apakah mereka tidak berani? Tidak tahu? Atau menganggapnya tidak penting? Bagi saya, keberanian, kelengkapan informasi melalui riset, serta kesadaran atas isu penting juga wujud kekuatan seniman. Shalahuddin mempunyai poin-poin tersebut. 

Satu-satunya celah Pesantren adalah tidak seluruh protagonis mendapat eksplorasi seimbang. Ada beberapa figur yang diberi sorotan lebih. Bibah si pengajar kesenian, Diding si guru agama, Dika yang mengepalai salah satu kamar di pondok, dan seorang santri yang juga juara kompetisi stand-up comedy bernama Dul Yani. 

Dika hanya muncul sekilas, sedangkan Diding, walau porsinya cukup banyak, luput ditelusuri ruang personalnya. Dul Yani pun sayangnya baru muncul di paruh akhir. Padahal "santri komika" adalah identitas karakter yang menarik. Latar belakangnya juga menyimpan potensi dramatik tinggi, yang mulai kita pelajari sewaktu Dul Yani melontarkan humor gelap tentang sang ibu, yang amat bahagia dan mencintai pekerjaannya di Arab sampai tak pernah pulang menemui puteranya. 

Bibah lain cerita. Dialah karakter paling matang di film ini. Kita tahu impiannya, pula memahami berbagai pergolakan batinnya: anak keluarga miskin yang ingin kuliah, perasaan rendah diri sebagai pengajar kesenian di pesantren yang kurang jago menghafal kitab, dan tentunya, perempuan yang menolak tunduk pada diskriminasi. Bibah mewakili jiwa film ini. Sebuah kisah mengenai individu-individu yang mendambakan kehidupan lebih baik, baik bagi dirinya maupun dunia. 

(Bioskop Online)

REVIEW - RODA-RODA NADA

Terlihat sekelompok grup gerobak dangdut tampil di pinggir jalan-jalan Jakarta. Vokal, gitar, bas, perkusi, tamborin, semua lengkap. Volume pun diset cukup tinggi. Tapi di tengah bising kemacetan ibukota atau suara laju kereta, nada-nada itu acap kali tenggelam. 

Bayusta. Itulah nama grup tersebut, yang dipimpin oleh Ubay. Di usia kepala lima, sudah berpuluh-puluh tahun Ubay bermusik di jalan. Sang istri, Iyus, mengisi posisi vokalis. Beberapa rekan masih bertahan, tapi ada pula yang karirnya makin moncer dan bergabung bersama Soneta milik Rhoma Irama. 

"Dia nggak berkembang", kata Ubay mengomentari kemampuan sang gitaris yang masih bertahan dalam grupnya. Ubay mencintai profesinya. Baginya, grup dangdut keliling yang kini nyaris punah, turut berkontribusi menyebarkan dangdut di kalangan masyarakat menengah ke bawah. Tapi bukan berarti ia mau "gitu-gitu aja". Ubay ingin berkembang. Di situlah terpikir ide untuk merekam album. 

Setelah Balada Bala Sinema (2017) dan Nyanyian Akar Rumput (2018), Yuda Kurniawan kembali menghadirkan dokumenter yang memberi ruang untuk kaum pinggiran agar suara mereka lebih terdengar. Tapi Yuda tidak pernah mengeksploitasi. Baginya kemiskinan (atau bentuk penderitaan apa pun) bukan hal seksi yang bisa diperah demi rekognisi pribadi. Itu pula alasan sang sutradara menghapus momen pertengkaran Ubay dan Iyus (atas permintaan subjek), walau berujung mengurangi dinamika film. Sinema tidak lebih berharga daripada manusia. 

Selama proses merencanakan album, banyak obrolan terjadi di kediaman Ubay. Rumah yang amat sederhana. Bahkan temboknya telah menghitam. Tapi apakah Yuda menjadikan tembok itu sorotan utama? Tidak. Begitu pun saat grup Bayusta memulai proses rekaman mereka di studio ala kadarnya milik Didit. Sebatas ruang kecil dengan peralatan seadanya, termasuk komputer Pentium 4. Kemiskinan sebatas latar. Fokusnya adalah, bagaimana di antara keterbatasan mereka, subjeknya menolak berkecil hati. 

Dan mereka memang tidak perlu berkecil hati. Ubay dan kawan-kawan mungkin bukan orang yang betul-betul melek perihal industri. Meraih ketenaran lewat ajang pencarian bakat dianggap lebih penuh perjuangan ketimbang yang "langsung" masuk dapur rekaman. Tapi mengenai passion terhadap musik, mereka boleh diadu. Poin terbaik Roda-Roda Nada (punya judul internasional The Tone Wheels) selalu muncul kala manusianya berinteraksi membicarakan musik. Para anggota Bayusta adalah subjek yang menarik, sebab obrolan mereka tentang musik cenderung bersifat aplikatif ketimbang teoritis. Penonton bukan disuguhi perspektif ideal atau bahasan textbook membosankan, melainkan realita. 

Sayangnya, Roda-Roda Nada agak bermasalah dalam hal dinamika. Yuda Kurniawan adalah pecinta dangdut klasik. Itu alasannya tertarik membawa kisah Bayusta ke layar lebar. Selain demi mempromosikan karya grup dangdut keliling itu, Yuda pun ingin menuangkan kecintaannya. Kecintaan itu seringkali membuat filmnya bak lupa diri, terhanyut dalam lantunan nada, yang lebih banyak mengisi penceritaan melalui rangkaian montage aksi panggung musisi dangdut daripada dinamika individu. 

Cara Yuda menghadirkan dampak emosi juga tidak selalu sukses. Momen saat Bayusta akhirnya merampungkan album mereka lebih tampak seperti kepalsuan yang dibuat-buat ketimbang realita menggugah. Justru deretan pemandangan sederhana miliknya jauh lebih menyentuh. Misal sewaktu karakternya mendorong gerobak di jalan menanjak. Mereka kelelahan, sampai ada yang rehat sejenak akibat kehabisan napas. Tapi mereka terus tersenyum, menjadikan kelelahan itu sebagai cara bersenda gurau. 

Roda-Roda Nada mungkin bukan karya terbaik seorang Yuda Kurniawan, tapi filmnya meraih pencapaian yang tidak kalah (atau malah lebih) penting dibanding menjadi "mahakarya sinema". Di tengah kebisingan ibukota, ia menjaga agar nada-nada musisi jalanan tidak tenggelam dan terus berputar, bergulir seiring perkembangan zaman. 

(Festival Film Dokumenter 2022)

REVIEW - WRITING WITH FIRE

Sama seperti Indonesia (Ibu Pertiwi), India memakai figur perempuan (Mother India) sebagai personifikasi bangsa. Walau demikian, kenapa di kedua negara perempuan kerap dirampas haknya? Bukankah itu sama artinya merendahkan "tanah kelahiran"? Mungkin justru karena itu. Karena perempuan sebatas diidentikkan dengan "melahirkan". Para perempuan di Writing with Fire menolak kekolotan tersebut. 

Berstatus dokumenter panjang India pertama yang menyabet nominasi Academy Awards, film garapan Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas ini mengangkat kisah orang-orang di balik Khabar Lahariya, satu-satunya surat kabar yang dijalankan oleh perempuan Dalit (kasta terendah di India). 

Saat kita berkenalan dengan jurnalis Khabar Lahariya, reputasi mereka sudah cukup dikenal, setidaknya di Uttar Pradesh tempat kantornya berpusat. Mengingat surat kabar ini berdiri sejak 2002, jauh sebelum Writing with Fire diproduksi, "tugas" mengangkat fase awal itu memang mustahil disertakan. Sebagai gantinya, kita diajak menyaksikan sebuah awal baru, tatkala Khabar Lahariya bertransisi ke media digital.

Bermodalkan smartphone dan kanal YouTube (hingga tulisan ini dibuat, memiliki 561 ribu subscribers dan telah ditonton lebih dari 171 juta kali), modernisasi pun dilakukan. Bukan perkara gampang, mengingat sekali lagi, para jurnalis adalah wanita Dalit, yang jangankan mendapat gelar sarjana, hak mengenyam pendidikan saja dilucuti. Banyak yang bingung perihal mengoperasikan kamera smartphone, ada pula yang kesulitan membaca alfabet. 

Tiga nama jadi sorotan utama. Meera Devi sang chief reporter, Suneeta Prajapati yang khusus memberitakan kriminalitas, dan Shyamkali Devi yang masih hijau. Kita mengikuti ketiganya beraksi di lapangan, dan walau tak diucapkan gamblang, jelas mereka berjuang mewakili suara-suara pihak yang kerap dibungkam, sebutlah korban perkosaan, hingga rakyat kecil yang ditindas mafia tambang. Artinya, risiko dimusuhi jajaran penguasa amatlah besar. 

Dari sini Writing with Fire berhasil membangun kekaguman saya terhadap subjeknya. Mereka bukan sekelompok pejuang idealisme naif yang luput menyadari bahaya profesinya. Pun sempat ada berita soal pembunuhan wartawan wanita senior. Alih-alih mundur, mereka malah melangkah maju, sebagaimana ditunjukkan Suneeta kala dengan tegas mengonfrontasi pria yang menghalangi liputannya. 

Rintangan lain berasal dari internal keluarga. Suami Meera mengutarakan pesimisme terkait masa depan pekerjaan sang istri dan cenderung pasif memberi dukungan, keengganan menikah membuat keluarga Suneeta dipandang buruk oleh lingkungan, sementara Shyamkali memutuskan bercerai pasca jadi korban KDRT. Semasa menikah, si suami sering memaksanya berhenti mewartakan berita, yang direspon Shyamkali dengan jawaban, "Kamu yang akan aku tinggalkan, bukan pekerjaanku". Tanpa sadar saya bertepuk tangan.

Di tengah era yang menambah ragam gaya dokumenter, Sushmit Ghosh dan Rintu Thomas mempertahankan kemasan jurnalistik, yang justru selaras dengan subjeknya. Penceritaannya rapi. Transisi fokus antara karakter berlangsung mulus, dan selama kurang lebih 94 menit, kita mengikuti perkembangan ketiganya setahap demi setahap. Suneeta yang karirnya terus menanjak, juga Shyamkali, yang meski awalnya tertinggal (tak mampu mengoperasikan smartphone, kesulitan memilih sudut pandang berita), belakangan mulai menguasai trik-trik liputan lapangan.

Memasuki paruh akhir, selepas perjalanan yang biarpun berliku cenderung uplifting, muncul beberapa fakta menyakitkan. Bersamanya, mencuat pertanyaan, "Apakah itu wujud kekalahan?". Saya yakin bukan. Kekalahan adalah ketika tiada perlawanan dilakukan, dan barisan perempuan Khabar Lahariya jelas melawan. Melawan dengan tulisan, dengan tutur kata di pemberitaan, sembari membawa nyala api keadilan.

(Klik Film)

REVIEW - CYBER HELL: EXPOSING AN INTERNET HORROR

"It was just seen as another violence case against women", ucap seorang narasumber menyikapi dinginnya reaksi publik atas kasus yang diangkat oleh dokumenter ini. Saking seringnya terjadi, kekerasan seksual terhadap wanita mulai dianggap biasa. Muncul pembiaran. Sebuah kasus dipandang sebagai tambahan data statistik belaka. Seolah lupa, atau bahkan tidak peduli, bahwa satu kasus baru berarti satu lagi hidup manusia di ambang kehancuran. 

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror menyoroti investigasi terhadap kasus Nth Room yang terjadi di Korea Selatan pada tahun 2018-2020. Modus operandinya adalah memeras korban yang dicuri data pribadinya (termasuk foto) lewat metode phishing. Jika tak ingin data itu disebar, korban harus menuruti kemauan pelaku, dari mengambil foto telanjang, hingga merekam video sensual. 

Foto dan video itu lalu dibagikan ke beberapa grup Telegram, yang punya anggota tidak kurang dari 60 ribu orang. Total ada 103 korban, dengan 26 di antaranya masih di bawah umur. Tentu dengan jumlah pelaku sebanyak itu, kemungkinan untuk bertatap muka di dunia nyata amat besar. Alhasil, beberapa korban takut beraktivitas di luar rumah. 

Filmnya mengajak penonton menelusuri detail kasus melalui investigasi berbagai pihak. Jurnalis koran The Hankyoreh yang menerima petunjuk anonim dari surel, sepasang wartawan muda, pembuat acara televisi di SBS dan JTBC, sampai kepolisian. Masing-masing dari mereka turut hadir selaku narasumber.  

Prosesnya jauh dari mulus, akibat tingkat kerahasiaan dan sistem yang dipakai pelaku. Apalagi kala terungkap bahwa ada lebih dari satu pelaku. Bagi yang belum familiar dengan kasusnya, saya akan sedikit memberi penjelasan. Target utamanya adalah Baksa, pengelola grup Doctor's Room di Telegram. Tapi bukan Baksa pelaku pertamanya, melainkan God God, sosok misterius di balik penciptaan Nth Room, yang menginspirasi banyak grup lain termasuk Doctor's Room. 

Kenapa saya merasa perlu menjelaskan hal di atas ketika filmnya sendiri mengupas tentangnya? Di situ masalahnya. Sebagai sutradara, Choi Jin-seong mampu melahirkan dokumenter stylish. Pernak-perniknya kreatif. Google Map dipakai menjabarkan detail lokasi, shot estetis menghiasi layar, sementara animasi jadi cara cerdik mengakali penggambaran situasi agar tak terkesan eksploitatif. Sayangnya, ia bukan pencerita handal. 

Pendekatan bergaya tersebut, ditambah permainan tempo cepat, memang menghasilkan tontonan menghibur, namun runtutan investigasi jadi kurang rapi. Bila belum familiar dengan kasusnya, poin-poin seperti siapa Baksa dan God God, pula kaitan antara mereka, berpotensi membingungkan. 

Sebagai sineas pria, Choi juga luput menaruh simpati kepada para korban yang notabene wanita (pun menyaksikan perkataan jajaran narasumber, sangat kentara perbedaan perspektif pria dan wanita). Tidak adanya narasumber dari pihak korban bukan berarti sisi emosional mereka boleh terlupakan. Cyber Hell lebih tertarik merangkai spektakel ketimbang menyentuh humanisme atau mengulik problem sosial masyarakat yang lebih esensial guna memahami akar persoalan. 

Cyber Hell: Exposing an Internet Horror bisa berbuat lebih, tapi ia tetap penting disimak. Terutama bagi penonton di luar Korea Selatan, minimal dokumenter ini bak pembawa kabar, pemberi informasi mengenai betapa mengerikannya neraka dunia di era internet. Setidaknya informasi itu memberi peluang bagi individu guna melindungi diri, tatkala sistem dan masyarakat masih menolak untuk peduli.  

(Netflix)

REVIEW - THE RESCUE

Saya masih ingat betul bagaimana empat tahun lalu proses penyelamatan 12 bocah dan satu pelatih tim sepakbola junior Wild Boars, yang terjebak selama hampir tiga minggu di gua Tham Luang, menyitar perhatian setiap hari. Ketika akhirnya semua orang berhasil diselamatkan, dunia diingatkan bahwa kemanusiaan sama sekali belum lenyap. 

Itu pula yang coba ditekankan pasutri sutradara, Elizabeth Chai Vasarhelyi dan Jimmy Chin (pembuat dokumenter pemenang Academy Awards, Free Solo), dalam The Rescue. Lebih dari 10 ribu orang dari puluhan negara, dengan beragam latar belakang serta kepercayaan (termasuk skeptisme Barat dan mistisisme Timur yang sempat berbenturan), berkumpul demi satu tujuan. 

Kita takkan mendengar pengalaman para Wild Boars karena hak terkait cerita mereka lebih dulu diamankan Netflix, tapi para pembuat The Rescue mampu memutar otak untuk menyuguhkan kemasan yang kreatif. Kisah para penyelam dikedepankan, kemudian disulap layaknya film team up, di mana mereka digambarkan bak pahlawan (well, they are) yang bersatu membentuk sebuah tim super. 

Tatkala upaya penyelamatan termasuk oleh Navy SEAL Thailand kesulitan menemukan titik terang, dua penyelam gua asal Inggris, John Volanthen dan Rick Stanton pun dihubungi. Mereka bukan militer maupun pasukan khusus. "Hanya" dua pria paruh baya, yang tiap akhir Minggu melakukan hobi berbahaya menyelami gua-gua bawah air. Siapa sangka ketika Navy SEAL kelabakan, mereka justru mampu mengarungi trek gua sepanjang empat kilometer, berenang selama lebih dari dua jam, dan jadi harapan terakhir 13 orang yang terjebak di Tham Luang? 

Terdengar ajaib, pun "keajaiban" memang selalu ditekankan oleh Chin dan Vasarhelyi dalam narasi mereka. Misalnya soal hubungan Stanton dengan Amp, seorang suster asal Thailand yang berlibur ke Inggris. Mereka jatuh cinta, meski hanya bersama sekitar dua minggu, sebelum Amp kembali ke kampung halaman, yang ternyata begitu dekat dengan lokasi kejadian. "Sungguh sebuah kebetulan", kata Amp. Benarkah sebatas kebetulan, atau semesta sedang membukakan jalan? 

Keberhasilan The Rescue menekankan perihal keajaiban itu menjadikannya makin emosional. Ditambah kepiawaian dua sutradara membangun kesan "running out of time (or oxygen?)", intensitas pun terjaga, walau penonton sudah tahu bagaimana semua bakal berakhir. 

Bukan berarti filmnya nihil informasi baru. Didesain seperti team up movie, pengenalan terhadap tiap penyelam pun dilakukan. Penempatan di tengah proses penyelamatan memang kerap sedikit menurunkan tensi narasi, tapi berguna menambah informasi. Terutama fakta bahwa mereka kurang ahli dalam kehidupan sosial, sehingga akrab dengan perundungan. Terlibat di misi ini ibarat justifikasi pilihan mereka mencurahkan waktu menekuni hobi yang dipandang aneh dan "cari mati". 

Kita tahu garis besar peristiwa pula misi penyelamatannya, namun tidak dengan detail di baliknya. The Rescue menyuplai detail itu, memaparkan beberapa intrik sekaligus masalah teknis yang tak sempat disorot media. Adegan reka ulang jadi kunci. Vasarhelyi dan Chin menciptakan adegan reka ulang yang luar biasa meyakinkan. Didukung penyuntingan rapi yang menggabungkannya dengan stock footage, sulit memilah mana reka ulang mana rekaman asli. 

Mempertahankan realisme adalah faktor penting. Kita diajak mengulang kembali perasaan saat kali pertama mengikuti beritanya empat tahun lalu, kali ini secara lebih immersive, seolah dibawa terjun langsung ke lokasi. Ketika semuanya usai, timbul keyakinan bahwa dunia tidak segelap gua tempat bocah-bocah ini terkurung. Setidaknya selama kemanusiaan masih terus menerangi sepanjang jalan. 

(Disney+ Hotstar)