Tampilkan postingan dengan label War. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label War. Tampilkan semua postingan

REVIEW - WARFARE

Pertama kali penonton diajak bertemu tentara Amerika di film ini, mereka sedang menonton video aerobik dengan luar biasa bersemangat bak tengah berpesta pora. Itu pula kali terakhir kita melihat semangat mereka. Warfare bukan soal keseruan merenggut nyawa musuh di medan perang, melainkan ketegangan dari upaya mempertahankan nyawa. Ketimbang ode untuk patriotisme, ia lebih seperti elegi sarat penyesalan.

Alex Garland menulis sekaligus menyutradarai filmnya bersama Ray Mendoza, mantan anggota Navy SEALs yang di sini menuturkan pengalamannya kala bertugas di Perang Irak. Pada 19 November 2006, Mendoza (versi film diperankan oleh D'Pharaoh Woon-A-Tai) dan peletonnya dikirim untuk melakukan pengintaian guna mendukung operasi dari korps marinir. 

Di tengah kegelapan malam, Erik (Will Poulter) memimpin pasukannya menuju sebuah rumah yang bakal dijadikan basis pengintaian. Rumah dua tingkat itu dihuni pula oleh dua keluarga sipil. Penghuni lantai atas cuma bisa pasrah menyaksikan tembok rumah dijebol dan diobrak-abrik untuk dijadikan markas sementara. Garland dan Mendoza menolak menutup mata bahwa apa yang pasukan Amerika lakukan adalah penjajahan terhadap orang-orang tak bersalah. 

Dua penerjemah, Farid (Nathan Altai) dan Noor (Donya Hussen), turut serta dalam operasi. Mereka cenderung diperlakukan semena-mena, termasuk diperintahkan untuk menjadi tameng di baris terdepan kala bahaya menghampiri. Tatkala Farid tewas mengenaskan dengan tubuh yang terburai, namanya luput disertakan dalam kelompok "korban jiwa", seolah eksistensinya sama sekali tidak berharga. 

Warfare enggan memberi penokohan mendalam mungkin karena para pembuatnya tidak ingin penonton mengalami bias dalam proses observasi. Tatkala misi mulai berantakan pun kita tidak digiring untuk bersimpati pada penderitaan yang dialami peleton Mendoza. Jikalau muncul simpati, atau minimal rasa pilu menyaksikan luka-luka mengenaskan yang dialami karakternya, itu adalah respon natural kita selaku manusia saat dihadapkan pada tragedi. 

Dipaparkan secara real time sepanjang 95 menit, paruh awalnya menegaskan tujuan Warfare untuk mengedepankan tangkapan realita dan paparan prosedural ketimbang dramatisasi. Realitanya, misi pengintaian bukan aktivitas yang mengasyikkan. Alih-alih terlibat baku tembak seru, si penembak jitu mesti "mematung" selama berjam-jam sembari mencatat situasi. Anggota lain pun disibukkan oleh rutinitas membosankan yang sama. 

Tengok pula saat lesatan peluru mulai memperlihatkan ancamannya. Para Navy SEALs tidak bisa segampang itu melarikan diri. Setumpuk peralatan militer yang tersebar di penjuru rumah wajib dikumpulkan dahulu sebelum dilakukan evakuasi, yang mana meningkatkan risiko ancaman. 

Bertepatan dengan fase di saat karakternya terjebak tak berdaya di dalam rumah, alurnya sempat mengalami stagnasi. Untungnya intensitas senantiasa bisa dijaga oleh duo sutradara, pula departemen tata suara yang begitu efektif mengolah atmosfer mencekam. Dentuman-dentuman bomnya memang terdengar bombastis, tapi teriakan manusia yang tak henti mengiris telinga nyatanya jauh lebih mengguncang. Kemudian saat suara-suara itu akhirnya memudar, bukan patriotisme yang terasa. Hanya ada keheningan yang merekam jejak-jejak penderitaan. 

REVIEW - PERANG KOTA

Sebagaimana judulnya, Perang Kota yang mengadaptasi novel Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis, menampilkan kota (tepatnya Jakarta tahun 1946) yang tengah dikoyak peperangan. Bangunan dibakar, orang-orang pun diburu, bahkan dijagal tanpa kenal ampun. Tapi di balik semua itu, peperangan lain tengah berkecamuk. Perang satu ini tidak kasatmata dan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang mengalaminya, karena ia pecah di dalam hati para penghuni kota tersebut. 

Guru Isa (Chicco Jerikho) adalah pejuang kemerdekaan sekaligus pemain biola handal. Sedangkan istrinya, Fatimah (Ariel Tatum), piawai memainkan piano. Ketika Isa diam-diam menyusun rencana bersama organisasinya guna menghancurkan kekuasaan Belanda, Fatimah berjuang menghidupi anak mereka, Salim (Ar Barrani Lintang), di tengah kondisi perekonomian yang mencekik. 

Naskah buatan sang sutradara, Mouly Surya, langsung menempatkan penonton ke tengah konflik yang memanas. Tanpa intro berkepanjangan atau perkenalan penuh basa-basi. Alhasil latarnya terasa hidup. Kita serasa memasuki dunia yang sudah berjalan sebelum cerita filmnya dimulai, lalu bakal terus berjalan, bahkan seusai proyektor dimatikan dan lampu studio kembali benderang. 

Kali pertama kita menemui Guru Isa, ia sedang diam-diam mencuri buku milik sekolah demi membeli sedikit nasi untuk keluarganya. Kemudian ia mendatangi kediaman sesama pejuang. Hazil (Jerome Kurnia) namanya, putra Kamaruddin (Rukman Rosadi), seorang pejabat yang tidak ragu menjilat pihak penjajah. Di saat bersamaan, Fatimah mesti angkat senjata kala pasukan India mendadak menyerbu warung tempatnya berbelanja. 

Muncul observasi mengenai peran gender yang menarik, tatkala sang istri bertempur di jalur fisik bersenjatakan senapan, sedangkan suaminya memainkan alat musik sembari mengatur taktik. Dinamika itu semakin kompleks kala kita mengetahui bahwa Isa tidak bisa ereksi. Pejuang tanpa rasa takut ini nyatanya sedang mempertanyakan maskulinitasnya, dan Chicco dengan tubuh kekarnya membuat pertanyaan tersebut semakin ironis. 

Tapi Perang Kota bukan perayaan atas maskulinitas. Upaya "mengejar kejantanan" malah seperti dipandang konyol di sini. Pada satu kesempatan, Isa gagal mengeliminasi target akibat senapannya macet, yang turut melambangkan ketidakmampuan si protagonis "menembak" di atas ranjang. 

Mungkin karena itulah, kala garis batas antara hidup dan mati semakin menipis pasca misi lain yang berujung kesuksesan di penghujung cerita, Isa nampak tenang. Dia merasa kejantanannya sudah kembali. Tapi apakah semuanya sepadan? Pasalnya, tanpa Isa sadari, justru Fatimah yang mesti menanggung setumpuk penderitaan. Sang istri yang harus melalui jalan tak ada ujung berupa ketidakpastian di masa depan. 

Musik beraroma noir garapan Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli, juga sinematografi arahan Roy Lolang, mencuatkan keindahan presentasi audiovisual di antara peperangan yang jauh dari kesan cantik. Perang Kota bukanlah suguhan perang bombastis. Bila memerlukan komparasi, ia lebih mengingatkan ke judul-judul seperti Son of Saul (2015) yang mengutamakan studi karakter ketimbang lesatan peluru. 

Rasio aspeknya pun serupa (4:3, berbanding 1.37 : 1 milik Son of Saul), yang bertujuan menggambarkan rasa terkekang yang tiap karakternya alami. Bukan hanya terkurung, perspektif mereka pun menyempit di tengah kalutnya pertikaian yang mengaburkan batas antara perjuangan bela negara dengan kejahatan biasa. 

Misal sewaktu Isa mendapati sekelompok "pejuang" yang membantai seorang perempuan, karena meyakini ia merupakan mata-mata Belanda meski tanpa bukti memadai. Melalui Perang Kota, Mouly Surya coba mengingatkan bahwa aroma memuakkan peperangan acap kali dipakai untuk menyamarkan bau-bau lain yang diciptakan oleh kebusukan manusia. 

REVIEW - CIVIL WAR

Melalui Civil War yang jadi film termahal produksi A24 sampai saat ini (50 juta dollar), Alex Garland bukan sedang menudingkan jari ke pihak tertentu, melainkan Amerika Serikat secara menyeluruh. Dilukiskannya gambaran kemungkinan masa depan, di saat negara yang terpolarisasi berujung meruntuhkan dirinya sendiri. Tidak ada benar atau salah. Hanya kehancuran dan kematian. 

Alkisah perang sipil tengah pecah di Amerika. Garland tak menjabarkan alasan pastinya, sebab penonton cukup memahami satu hal: kebencian mengakar terlampau kuat di sana. Para loyalis pendukung pemerintahan presiden yang telah menjabat selama tiga periode berhadapan dengan beberapa faksi yang tersebar di berbagai daerah. Lee Smith (Kirsten Dunst), si jurnalis perang ternama, turut meliput peperangan tersebut di garis depan. 

Joel (Wagner Moura) dari Reuters, Sammy (Stephen McKinley Henderson) si jurnalis senior The New York Times, dan Jessie (Cailee Spaeny) yang amat mengidolakan Lee, turut serta dalam liputan berbahaya tersebut. 

Terdapat satu poin menarik, di mana keempat karakternya nampak seperti perwujudan sebuah keluarga (ayah, ibu, anak, kakek) yang tengah melakukan road trip. Seiring waktu ikatan di antara mereka menguat, pun di sepanjang perjalanan, masing-masing memperoleh pelajaran berharga. Bedanya, bukan kehidupan yang mereka saksikan, tapi bau busuk kematian. 

Selama 109 menit, Civil War menempatkan karakternya dalam beragam skenario berbahaya, yang masing-masing mewakili gagasan Garland tentang bagaimana rupa suatu negeri yang dikuasai kebencian. Kita tak pernah mengetahui alasan di balik perang sipilnya, dan bisa saja, orang-orang bersenjata yang karakternya temui pun tidak benar-benar memahami, atau telah melupakan alasan tersebut. Mungkin mereka cuma menikmati kebebasan meluapkan amarah dan kebencian atas nama perang. 

Dari situlah kita memahami keresahan Lee, yang diperankan oleh Kirsten Dunst dengan kematangan dan kekokohan hasil gemblengan realita pahit. Berkali-kali ia lolos dari medan perang untuk menginformasikan horor di garis depan lewat foto-fotonya, tapi mengapa peristiwa serupa senantiasa terulang? Apakah profesinya yang konon penuh jasa itu sungguh berdampak? Apakah umat manusia dengan segala hasrat keji mereka memang sudah tak tertolong lagi?  

Dibantu tata suara mumpuni yang bakal membuat penonton merasa diletakkan di tengah baku tembak sungguhan, Garland menyajikan ketegangan lewat keping-keping peristiwa yang protagonisnya alami. Jadilah film perang yang tak kalah mengerikan dibanding horor. 

Ada kengerian yang bersumber dari implikasi mengenai bakal bagaimana kondisi dunia selepas filmnya usai (imajinasi penonton), ada pula kengerian yang berasal dari paparan lebih gamblang tatkala Garland secara efektif memvisualisasikan kondisi perang sipil tersebut. Menonton Civil War seperti menyaksikan cuplikan hari kiamat dengan atmosfer menghantui yang sukar dihapus dari ingatan. 

Satu hal yang agak disayangkan adalah terkait tendensi Garland untuk menjauh dari sudut pandang para jurnalis, menyoroti pusat peperangan secara lebih dekat, guna menghadirkan spektakel yang lebih besar. Hasilnya lebih seru, lebih epik, namun realisme dan keintiman filmnya justru melemah.

Garland memilih jurnalis sebagai protagonis untuk menekankan netralitas Civil War. Bukan berarti sang sineas kurang tegas bersuara. Sebaliknya, poin tersebut membuktikan kalau Garland tidak naif dengan memandang salah satu pihak politik lebih baik dari yang lain. Perjalanan para jurnalisnya merupakan proses menangkap realita secara apa adanya, dan akhirnya realita tersebut cuma menunjukkan potret kematian.

REVIEW - SISU

Era 80-an jadi saksi meledaknya popularitas film aksi bertema one man army. Tidak satu pun bintang laga masa itu melewatkan kesempatan membantai puluhan bahkan ratusan lawan seorang diri di filmografi mereka. Walau sempat meredup, The Raid dan John Wick membangkitkan lagi kejayaan trope itu dengan menawarkan modernisasi. Tapi formula dasarnya tak pernah berubah. Perhatian utama bukan terletak pada penceritaan, melainkan seberapa kreatif (dan gila) cara si jagoan melibas habis para musuh.

Sisu pun demikian. Pencapaian terbesar Jalmari Helander selaku sutradara sekaligus penulis naskah bukan soal melahirkan jalinan cerita kelas satu. Kisahnya setipis kertas. Di tengah Perang Dunia II, ketika pasukan Nazi berusaha mencuri emas milik Aatami Korpi (Jorma Tommila), mereka terkejut kala mendapati si pria tua rupanya adalah one man army legendaris yang reputasinya saja mampu membangkitkan rasa takut musuh. 

Sangat sederhana. Satu kalimat sudah cukup untuk menjabarkan garis besar alurnya. Tapi tidak dengan ide-ide Helander terkait metode si tokoh utama kala beraksi. Di satu kesempatan, Aatami melempar batu ke arah ranjau, meledakkannya, dan menciptakan kepulan asap sebagai perlindungan. Kemudian saat bergulat di bawah air, ia menyayat leher musuh guna mengisap oksigen. 

Pada momen-momen seperti itulah kreativitas Helander tertuang, yang secara bersamaan merupakan cara efektif membangun mitologi si jagoan. Mudah bagi penonton percaya bahwa Aatami adalah prajurit legendaris dengan pengalaman selangit. 

Citra di atas semakin meyakinkan berkat penampilan sang aktor. Tommila bak personifikasi dari kata "wibawa" dan "intimidatif". Pesawat Nazi boleh meraung-raung di udara, namun Aatami hanya duduk diam memerhatikan api unggun. Jangankan takut, mendongak pun tidak. Finlandia membiarkannya bebas berkeliaran di medan perang karena tak kuasa mengendalikan Aatami, Jenderal Nazi takut kepadanya, Rusia memanggilnya "koschei" alias "the immortal", dan saya dibuat meyakini kisah-kisah itu.

Berlatar lanskap Lapland yang terlampau indah sebagai panggung pertumpahan darah (seolah berpesan "Bumi terlalu berharga untuk dirusak oleh peperangan"), Helander menyuguhkan kebrutalan inventif, tidak hanya terkait teknik pembantaian Aatami, juga latarnya yang tersebar luas dari daratan, bawah laut, hingga udara. Klimaksnya cenderung lebih generik, sebelum diakhiri oleh penutup "eksplosif" yang memuaskan. Tidak kalah penting, di antara pameran maskulinitas sang jagoan, Sisu bersedia memberi ruang pembalasan yang layak bagi barisan wanita korban kekejaman para cecunguk Nazi. 

(Catchplay)

REVIEW - ALL QUIET ON THE WESTERN FRONT

Hingga kini, novel All Quiet on the Western Front (1928) karya Erich Maria Remarque telah dua kali diadaptasi ke layar lebar. Versi pertama (1930), yang memenangkan Best Picture di gelaran Oscar ketiga, meski tetap menampilkan beberapa sekuen megah untuk masanya, bukan mengajak kita menyaksikan peperangan, melainkan transformasi manusia-manusia di dalamnya selaku dampak terjun ke medan perang. Kita melihat sebuah "akibat". 

Sebaliknya, versi terbarunya yang jadi perwakilan Jerman di Oscar 2022, walau masih menyoroti transformasi tersebut, lebih menitikberatkan pada horor peperangan yang karakternya saksikan. Kali ini kita melihat sebuah "sebab".  

Sehingga, saat versi 1930 dibuka dengan hegemoni menyambut pengiriman tentara Jerman menuju Perang Dunia I, versi 2022 langsung menyuguhkan tragedi. Kepulan asap menyelimuti alam yang hancur dan tumpukan tubuh tak bernyawa. Bukan soal mana yang lebih baik. Bisa dibilang, keduanya saling melengkapi guna memberikan gambaran utuh. 

Mayat-mayat tadi dikubur secara massal. Seragam mereka dilucuti, dijahit ulang, kemudian diberikan pada prajurit baru. Remaja-remaja yang masih memandang perang sebagai sarana melampiaskan letupan masa muda di balik sampul nasionalisme. Salah satunya Paul (Felix Kammerer).

Diterimanya seragam bekas seorang prajurit Jerman yang gugur. Andai kelak Paul gugur dan perang masih berlanjut, mungkin hal serupa bakal berlanjut. Seolah nyawa mereka sedemikian tak berharga, bisa begitu saja dibuang selama ada pemuda baru yang siap melanjutkan. Bukan melanjutkan perjuangan, tapi lingkaran kematian.

Lingkaran itu terus berputar. Di versi 1930, Paul sempat cuti beberapa hari, lalu mendapati proses cuci otak bertopeng bela negara yang dahulu ia terima, juga terjadi pada junior-juniornya agar mereka bersedia maju perang. Situasi itu dihapus di versi 2022, digantikan oleh pemandangan yang lebih menusuk.

Ditangani oleh Edward Berger, All Quiet on the Western Front memang meningkatkan kebrutalan dibanding pendahulunya. Didukung sumber daya yang jauh lebih mumpuni, Berger melukiskan tragedi yang tak ubahnya neraka dunia. Pertempuran prajurit Jerman melawan tank Prancis adalah salah satu sekuen (anti) perang paling meneror yang pernah saya tonton. Ditambah lagi, musik mencekam gubahan Volker Bertelmann senantiasa mengiringi. 

Di belakang kamera, James Friend selaku sinematografer menghadirkan komparasi ekstrim. Sewaktu baku tembak terjadi, langit kelam hingga tanah berlumpur yang kotor memenuhi layar. Tampaklah wajah kematian. Begitu baku tembak absen, kita disuguhi siraman hangat cahaya matahari dan bentangan rerumputan hijau. Di situlah kehidupan menampakkan diri. Bahkan sewaktu karakternya membicarakan kematian pun, yang kita rasakan malah harapan. Seperti saat Paul membacakan surat dari istri rekannya, Kat (Albrecht Schuch). Versi ini memberi karakter Kat tambahan latar belakang, yang dimanfaatkan oleh Schuch untuk menampilkan akting heartful. 

All Quiet on the Western Front membawa beberapa modifikasi lain, salah satunya penambahan intrik di luar garis depan (tidak ada di versi 1930 maupun novelnya), tatkala Matthias Erzberger (Daniel Brühl) mewakili Jerman untuk mendiskusikan gencatan senjata dengan pihak Prancis. Karakter Erzberger yang merupakan sosok politisi dunia nyata sayangnya memunculkan gangguan. Pertama, penokohannya bak figur penyelamat dari produk arus utama Hollywood, yang berlawanan dengan atmosfer sarat ketidakberdayaan milik filmnya. Kedua, Brühl merupakan nama yang terlampau besar, sehingga menghadirkan distraksi. 

Tap iadanya konflik "di balik layar" itu sendiri bukan kelemahan. Termasuk sorotan bagi Jenderal Friedrichs (David Striesow) yang terobsesi pada perang. "Apa artinya tentara tanpa perang?", ujarnya. Konflik-konflik itu menghapus netralitas sebagaimana versi 1930, yang di opening-nya merasa perlu menyertakan pernyataan bahwa filmnya tidak berniat membela atau menyalahkan pihak mana pun. Sebaliknya, All Quiet on the Western Front versi baru lantang meneriakkan siapa saja pendosa di peperangan ini. Sebuah sajian anti-perang yang efektif. Pada akhirnya, jutaan nyawa yang melayang di medan perang, entah akibat peluru, ledakan bom, tusukan bayonet, atau kecelakaan tragis, semuanya sia-sia. 

(Netflix)

REVIEW - HANSAN: RISING DRAGON

Prekuel film Korea Selatan dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang masa. Satu informasi itu saja sudah cukup membuat semua mata tertuju ke Hansan: Rising Dragon, selaku bagian kedua dari trilogi soal Admiral Yi Sun-sin, yang rencananya bakal ditutup tahun depan lewat Noryang: Sea of Death. Hingga tulisan ini dibuat, filmnya telah mengumpulkan 6,84 juta penonton. Jauh di bawah The Admiral: Roaring Currents (17,6 juta), tapi tetap pencapaian luar biasa (segera masuk daftar 50 besar). 

Sebagaimana disiratkan di akhir The Admiral, kali ini giliran Battle of Hansan Island pada 1592 yang disoroti, di mana pasukan Jepang untuk kali pertama berhadapan dengan kapal kura-kura milik angkatan laut Joseon. "Bokkaisen" alias "monster laut", begitu sebutan julukan bagi kapal yang sanggup menebar ketakutan bagi semua musuhnya itu. 

Tidak demikian dengan Wakisaka (Byun Yo-han), Admiral Jepang yang yakin bakal mengungguli Yi Sun-sin (Park Hae-il) dan pasukannya. Tanpa mengecilkan ancaman kapal kura-kura, posisi Jepang memang di atas angin. Hanyang (sekarang menjadi Seoul) diduduki hanya dalam 15 hari, sedangkan Raja Joseon mulai mempertimbangkan untuk kabur. 

Yi sun-sin sendiri diganggu banyak dilema. Apakah ia mesti menyerang atau bertahan? Strategi macam apa yang bakal dipakai? Apakah kapal kura-kura bakal tetap jadi senjata utama, tatkala tersimpan banyak kelemahan di luar daya hancur luar biasa miliknya? Berlawanan dengan perannya di Decision to Leave, kali ini Park Hae-il tampil kokoh sebagai figur pahlawan legendaris, walau naskah buatan Yun Hong-gi bersama sang sutradara, Kim Han-min, sejatinya kurang berhasil menuliskan penokohan menarik. Terlebih, siapa pun aktornya, bakal sulit menandingi karisma Choi Min-sik (Kim Yoon-seok bakal menerima tongkat estafet di film ketiga).

Di ranah penceritaan, poin terbaik Hansan adalah saat memperlihatkan proses latihan kapal-kapal Joseon. Penonton diajak memahami detail formasi serta strategi yang dirumuskan Yi Sun-sin, sekaligus kesukaran yang dihadapi. Nantinya, sewaktu taktik tersebut diterapkan di medan perang, muncul kepuasan tersendiri begitu terbukti betapa si admiral merupakan ahli strategi jenius. Hansan adalah tentang bagaimana sebuah pemikiran sederhana, andai diterapkan secara tepat dan terstruktur, dapat menciptakan perangkap mematikan tanpa jalan keluar. 

Sayangnya, selain perihal taktik di atas, sampai babak keduanya berakhir (sekitar 75 menit pertama), filmnya cenderung melelahkan diikuti. Terasa betul naskahnya menyimpan segala daya tarik untuk ditumpahkan pada klimaks. Bukan masalah andai dibarengi penuturan solid, tapi bahkan kedua penulisnya gagal menangani berbagai subplot yang ada. 

Romansa dua mata-mata, Lim Jun-young (Ok Taec-yeon) dan Jeong Bo-reum (Kim Hyang-gi) sekadar numpang lewat. Sementara kisah potensial mengenai Junsa (Kim Sung-kyu) selaku prajurit Jepang yang membelot, menyisakan harapan akan adanya ruang eksplorasi lebih. Terutama karena subplot itulah yang akhirnya bertugas merangkum pesan menggugah tentang "pertarungan memperjuangkan kebenaran". 

Terselip ide menarik terkait sudut pandang. Alih-alih Yi Sun-sin, kisahnya justru dibuka oleh kalimat dari mulut Wakisaka, seolah naskahnya hendak memakai sudut pandang si Admiral Jepang. Niatan itu didukung oleh banyaknya porsi pihak Jepang, yang membuat penampilan gemilang Byun Yo-han lebih mendapat sorotan. Tapi inkonsistensi naskah mengaburkan pilihan perspektifnya. Apakah kisah dari kacamata Jepang? Atau epos kepahlawanan konvensional dari sudut pandang Joseon?

Anda mesti bersabar sebelum Hansan: Rising Dragon mencapai jualan utamanya, yakni klimaks berupa naval battle sepanjang 45 menit tanpa henti. Benar bahwa kita sudah pernah melihatnya di The Admiral: Roaring Currents, pun kali ini tiada gimmick bombastis "perang 12 versus 333", namun semua itu tak mengurangi pencapaian Kim Han-min menyuguhkan sekuen pertempuran laut epik. 

Pilihan shot-nya sempurna dalam menangkap detail peperangan. Kapal mana yang melancarkan serangan? Serangan berbentuk apa? Sesekali wide shot diterapkan guna menegaskan kemegahan, sekaligus memberi tahu penonton formasi macam apa yang tengah diterapkan kedua pihak. Klimaksnya menunjukkan kematangan seorang sineas blockbuster, yang semoga kelak turut dibarengi peningkatan pada departemen penceritaan.  

REVIEW - KADET 1947

Para kadet tanpa pengalaman terbang, melaksanakan misi pemboman udara pertama Indonesia. Sebuah premis yang "seksi". Menggoda, karena bisa ditarik menuju banyak aspek. Tontonan perang epik? Bisa. Cerita from-zero-to-hero? Bisa. Kisah pemantik nasionalisme? Jelas bisa. Bahkan mungkin inilah yang paling utama. Bagaimana kecintaan terhadap tanah air mampu menyulut semangat pemuda untuk menantang kemustahilan. 

Rahabi Mandra dan Winaldo Swastia menyutradarai sekaligus menulis naskah film ini, yang ide pembuatannya muncul kala sang produser, Celerina Judisari, membaca artikel Pemboman Udara Pertama Indonesia yang dipublikasikan Historia. Jika artikel tersebut merangkum jalannya misi secara detail, maka Kadet 1947 berusaha mengelaborasi kisah yang melatari peristiwa itu. 

Ada tujuh kadet yang terlibat: Sutardjo Sigit (Bisma Karisma), Mulyono (Kevin Julio), Suharnoko Harbani (Omara Esteghlal), Bambang Saptoadji (Marthino Lio), Sutardjo (Wafda Saifan), Dulrachman (Chicco Kurniawan) dan Kapoet (Fajar Nugra). Tapi nantinya, cuma Sigit, Mulyono, Harbani, Saptoadji, dan Sutardjo yang benar-benar diberi porsi memadai. Sisanya sebatas pelengkap, atau comic relief. 

Mereka bertugas di markas TNI AU Maguwo, dibawah pimpinan Adisucipto (Andri Mashadi), yang nantinya sempat digantikan oleh Halim Perdana Kusuma (Ibnu Jamil) kala ia menjalankan misi ke luar negeri. Di antara ketujuh kadet, Saptoadji paling berhasrat untuk terbang, terlibat langsung di medan pertempuran yang dipicu Agresi Militer I Belanda. Keinginan itu membuatnya kerap terlibat masalah, hingga berkonflik dengan Harbani dan Mulyono. Sedangkan Sigit konsentrasinya terpecah, antara memenuhi impian menjadi pilot, dan kerinduan terhadap sang kekasih, Asih (Givina Lukita), yang kebetulan tinggal di zona berbahaya.

Jika film perang sarat aksi yang anda harapkan, maka bersiaplah kecewa. Berdurasi sekitar 111 menit, baru setelah satu jam filmnya menyuguhkan itu, sewaktu pesawat Belanda membombardir Maguwo. Hanya ada satu baku tembak singkat di antaranya, yang juga jadi sarana menampilkan Jenderal Soedirman (Indra Pacique), melengkapi cameo figur bersejarah selain Soekarno (Ario Bayu). Sisanya lebih menyoroti konflik internal antar kadet, serta sempilan misi yang rasanya merupakan sisi fiktif dari "kisah nyata" ini. 

Bukan masalah, mengingat para protagonisnya memang bukan figur-figur yang (semestinya) berada di garis depan. Masalahnya adalah, tatkala pemboman yang dinanti tiba, eksekusinya justru antiklimaks. Saya paham alasan pembuatnya lebih sering menyorot isi kokpit. Apalagi kalau bukan CGI. Biarpun kualitasnya cukup solid, menambah kuantitas tentu berisiko melahirkan momen-momen CGI yang tampak kasar. 

Tapi silahkan baca artikel Historia. Di situ ada banyak gambaran soal kesulitan para kadet di tengah misi, yang seluruhnya terjadi dalam kokpit. Kesulitan yang terjadi akibat keterbatasan sumber daya, pula minimnya jam terbang. Kadet 1947 mengesampingkan hal-hal yang berpotensi membangun intensitas klaustrofobik itu, lalu menyajikan pemboman yang harusnya jadi jualan utama secara ala kadarnya. Terlalu singkat, terlalu datar.

Padahal saya mengapresiasi bagaimana tim artistik mampu membangun tampilan filmnya dengan meyakinkan. Sebutlah bangkai-bangkai pesawat, hingga kampung tempat tinggal Asih yang terletak di tebing pinggir laut. Begitu juga keputusan Rahabi dan Winaldo, untuk menekan pesan-pesan nasionalisme agar tak berlebihan. Misal saat para kadet menyanyikan lagu Padamu Negeri. Di situ, kedua sutradara memilih menekankan keintiman alih-alih semangat menggebu. Keintiman tujuh pemuda, yang meski hati mereka terbakar api perjuangan, rasa takut akan kematian dan berpisah dengan orang-orang tercinta pastilah menggelayuti.

Paparan dramanya mungkin cenderung setengah matang. Selain Sigit, penokohan kadet-kadet lain kurang kedalaman. Begitu pula beberapa gagasan, termasuk "Apakah memiliki orang tercinta saat perang bakal membebani atau menambah motivasi?", yang sekadar dilontarkan namun tak pernah benar-benar dieksplorasi. Untunglah kedua sutradara sanggup menggulirkan penceritaan dengan baik, nyaman diikuti, lewat permainan tempo yang tepat guna. 

Departemen akting turut berjasa membuat Kadet 1947 layak diberi kesempatan. Marthino dan Bisma memang sempat tersandung pemakaian bahasa yang terlampau modern (sama-sama melontarkan "gitu dong"), namun itu bisa saja kealpaan naskah. Pun mengherankan ketika dua sutradara memilih membiarkannya (terutama adegan Bisma, di mana kamera menyorot langsung wajahnya). Di luar itu, solid. Bisma masih likeable, sementara Marthino membuktikan kepantasan sebagai salah satu "properti terpanas" industri film lokal belakangan ini. Berlawanan dengan Marthino, Kevin Julio adalah sosok underrated. Sejak Sweet 20 (2017) penampilannya selalu memuaskan, tetapi belum juga memperoleh pengakuan semestinya.

REVIEW - QUO VADIS, AIDA?

"Kamu pergi ke mana, Aida?". Begitu terjemahan judulnya. Film ini bertanya, bukan memberi jawaban. Sebab dalam tragedi yang dipresentasikan peraih nominasi Best International Feature Film (perwakilan Bosnia) pada Academy Awards 2021 ini, jawaban itu memang tidak ada. Hanya luka para penyintas yang takkan pernah sembuh, serta sejarah yang cuma bisa diratapi, disesalkan, atau dikutuk, tanpa mungkin diubah. 

Tragedi yang diangkat adalah pembantaian lebih dari 8000 warga Srebrenica (mayoritas pria dewasa dan remaja) pada Juli 1995, kala pecahnya Perang Bosnia. Sutradara/penulis naskah Jasmila Žbanić, yang sebelumnya pernah menuturkan isu pemerkosaan di perang yang sama lewat Grbavica (2006, juga mewakili Bosnia di Oscar meski gagal meraih nominasi), bercerita melalui kacamata Aida (Jasna Đuričić), seorang penerjemah bagi UN.

Kondisi sedang genting. Pasukan Srpska mengambil alih kota Srebrenica, sementara para warganya berlindung di kamp milik UN. Meski sudah diberi ultimatum, pihak Srprska menolak mundur. Tapi Aida percaya, kamp adalah tempat teraman. Bukankah memang demikian? Pasukan Srprska dilarang menyerbu, dan apabila nekat, UN tinggal menyapu bersih mereka dengan serbuan udara bukan? Karena itulah, ketika sang suami dan salah satu puteranya (Aida mempunyai dua putera) dilarang memasuki kamp yang penuh sesak, Aida berjuang keras, berlarian ke sana kemari mencari cara untuk memasukkan mereka. 

Dari situ Žbanić telah membuktikan kualitas penyutradaran (yang membawanya menyabet nominasi Best Director di BAFTA 2021), melalui pembangunan intensitas tinggi, sewaktu menempatkan kamera mengikuti sang protagonis. Terciptalah urgency, yang kerap mengingatkan saya akan Son of Saul (2015). Keduanya sama-sama berlatar kamp tempat genosida dalam sebuah perang, pun sama-sama berhasil menempatkan penonton bak berada di tengah-tengah situasi mencekam itu. 

Tapi sekali lagi, di luar ketiadaan makanan, minuman, maupun toilet, bukankah kamp UN menjamin keselamatan nyawa mereka? Saat itulah tugas Aida selaku penerjemah mengambil peran. Dia mengetahui sedikit demi sedikit informasi, yang semuanya berujung pada kesimpulan, bahwa janji-janji serta harapan yang diberikan kepada warga kemungkinan takkan terpenuhi. 

Ketegangan meningkat, karena ketakutan yang dirasakan karakternya pun bertambah. Di kondisi semacam itu, tiada hal lebih menakutkan ketimbang ketidakpastian, ditambah "terbunuhnya" harapan. Secara bertahap, naskahnya memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang membunuh harapan itu satu demi satu. UN yang tadinya merupakan tempat berlindung mulai tersudut, bahkan bertekuk lutut. Titik balik ada di adegan negosiasi antara Srprska dengan UN dan perwakilan warga. Sewaktu Kolonel Thom Karremans (Johan Heldenbergh) menyalakan rokok bagi Jenderal Ratko Mladić (dibawakan amat intimidatif oleh Boris Isaković) yang kejam, di situ kita makin dihantui ketidakberdayaan.

Perjalanan Aida juga mengingatkan saya pada satu lagi kompetitor di kategori Best International Feature Film, yakni Dear Comrades! asal Rusia (mencapai 15 besar namun gagal mendapat nominasi), yang juga mengisahkan perjuangan seorang ibu menyelamatkan keluarganya di tengah pembantaian, bermodalkan informasi selaku "orang dalam". Andai saat itu Aida diberi pertanyaan, "Quo Vadis?", mungkin ia hanya bakal terdiam sembari menggeleng perlahan. 

Akting Jasna Đuričić berhasil mengikat penonton dalam naik-turun emosi yang tak pernah putus, sebagaimana kemampuan sang sutradara menjaga konsistensi ketegangan selama 102 menit. Satu-satunya penurunan hanya terjadi ketika suatu flashback mengenai kompetisi kecantikan yang dahulu Aida ikuti disuguhkan, itu pun bukannya tanpa maksud (meskipun tak mempengaruhi dampak emosi bila dihilangkan) yakni menggambarkan kerinduannya terhadap masa-masa damai. 

Tidak sulit menebak tragedi yang menanti di belakang, tapi toh bukan berarti shock value-nya melemah. Apalagi tatkala filmnya menyuguhkan epilog yang mencabik-cabik perasaan. Epilog mengenai ketidakadilan, dalam hidup yang terus berjalan beriringan bersama luka yang menolak hilang.


Available on HULU

REVIEW - MONOS

Dalam Monos, yang merupakan perwakilan Kolombia di ajang Oscar awal tahun ini, semuanya misterius. Di mana pastinya cerita berlatar? Siapa para remaja kemarin sore yang menjadi anggota kelompok militer Monos? Apa tujuan pembentukan mereka? Sedang terlibat di perang apakah Monos? Pertanyaan-pertanyaan itu sengaja dibiarkan tanpa jawaban oleh sutradara Alejandro Landes, yang turut menulis naskahnya bersama Alexis Dos Santos, guna menciptakan surealisme. Sebuah tontonan dreamy yang mengedepankan experience ketimbang penceritaan sesuai pola, meski pilihan tersebut tak selalu memperkuat.

Monos bermarkas di area pegunungan dengan dataran yang membentang bak tanpa ujung. Sebuah “negeri di atas awan” yang seperti kampung halaman kisah-kisah mitologi Nordik. Di sanalah para remaja itu mendapat pelatihan militer ketat dari atasan mereka yang dipanggil “The Messenger” (diperankan Wilson Salazar, yang juga mantan gerilyawan), ditugasi menjaga tahanan perang asal Amerika Serikat, yang lagi-lagi tak bernama dan hanya dipanggil “Doctora” (Julianne Nicholson). Kelak tugas tambahan menyusul, yakni merawat sapi sumbangan simpatisan. Sapi itu diberi nama Shakira.

Pun semua anggota Monos cuma kita kenal dengan noms de guerre, alias nama perang masing-masing. Ada Wolf, Bigfoot, Rambo, Lady, Swede, Smurf, sampai Dog. Seolah mereka bukan individu. Hanya bidak yang diglorifikasi lewat status “prajurit”. Bahkan, saat Wolf (Julián Giraldo) dan Lady (Karen Quintero) hendak menjalin romansa, keduanya perlu meminta izin The Messenger. Mereka tidak keberatan, membuktikan betapa patuh bocah-bocah ini.

Kata “keras” mungkin paling tepat menggambarkan kehidupan Monos. Tapi toh mereka menikmatinya. Mereka menikmati memukuli tiap anggota yang berulang tahun sesuai dengan usianya, juga deretan “ritual” gila lain yang bakal membuat pesta terliar sekalipun nampak jinak. Sebagai prajurit, tentu tiap anggota Monos dibekali senapan. Bisa dibayangkan bukan, apa yang akan dilakukan remaja-remaja awal tersebut? Ya, mereka gemar membuang-buang peluru. Hanya tinggal menunggu waktu sampai terjadi bencana.

Benar saja. Dog (Paul Cubides) tidak sengaja menembak mati Shakira, dan itulah awal dari segala rintangan yang semakin lama semakin ekstrim. Rintangan yang memicu terguncangnya psikis. Dan begitu psikis runtuh, ikatan antar personal pun menyusul tak lama kemudian. Teriakan-teriakan penuh nada frustrasi, tatapan yang makin lama makin hampa, pengkhianatan, pemberontakan, aksi saling serang, bahkan saling bunuh, mendominasi paruh kedua Monos.

Disokong sinematografi Jasper Wolf yang melalui perspektif kameranya membuat alam layaknya purgatory, serta musik synth-based garapan Mica Levi (Under the Skin, Jackie), Landes menciptakan suasana atmosferik, yang tak jarang menyentuh ranah psikedelik, termasuk di suatu sekuen sureal kala beberapa karakter memakan jamur yang tumbuh di kotoran sapi. Sementara visual malam harinya, dengan pencahayaan temaram dari api unggun ditambah tubuh manusia-manusia berbalut lumpur, kentara mengambil referensi dari Apocalypse Now (1979), selaku kiblat banyak sineas dalam membuat tuturan mengenai keruntuhan mental manusia berlatar peperangan.

Seperti telah disebut, Landes mengedepankan experience. Saat secara bertahap anggota Manos mulai tenggelam dalam “kegilaan”, fokus Landes adalah membuat penonton turut merasakan, tanpa memberi pemahaman menyeluruh terkait bagaimana karakternya bisa sampai ke titik itu. Sebuah pilihan yang sah, tapi meninggalkan tanda tanya yang mengganggu proses menikmati jalannya film. Alasannya bisa dipahami, namun tidak menutup fakta bahwa Landes melakukan simplifikasi terhadap kompleksitas dinamika psikis, semata demi shock value. Kesan mendadak demi shock value pula yang rasanya melatari pilihan konklusi yang diambil.

Biarpun memiliki lubang, pencapaian Landes, khususnya terkait keberhasilan merangkai barisan momen nightmarish sebagai sutradara, tetap patut diacungi jempol. Secara keseluruhan, Monos adalah pengalaman yang— walaupun jauh dari kesan nyaman dan ringan— takkan mudah dilupakan.


Available on HULU

GREYHOUND (2020)

Selain membintangi, Tom Hanks juga menulis naskah Greyhound, yang didasari novel The Good Shepherd (1955) karya C. S. Forester. Sudah dasarnya seorang aktor hebat, merangkai sendiri tiap kata membuat Hanks mampu memberi bobot emosi kala mengucapkan istilah-istilah teknis yang karakternya pakai guna berkomunikasi di atas kapal. Ada semangat, ada ketakutan, ada kecemasan, ada perasaan bersalah yang menggerogoti hati sang Komandan, tiap menyadari ia takkan mampu menyelamatkan semua nyawa.

Berlatar tahun 1942 di tengah Pertempuran Atlantik, Hanks memerankan Komandan Ernest Krause, yang baru menerima penugasan pertamanya di Perang Dunia II. Misinya adalah memimpin kapal USS Keeling dengan kode nama Greyhound, yang bersama kapal-kapal lain dari Inggris dan Kanada, bertugas mengawal konvoi 37 kapal Sekutu yang membawa berbagai suplai. Lawannya adalah barisan kapal selam milik Jerman, U-boats.

Tiga hari sebelum mencapai tujuan di Liverpool, U-boats mulai melancarkan serangan. Penyutradaraan Aaron Schneider (Get Low) berhasil membangun ketegangan serta aroma bahaya sejak kali pertama radar Greyhound mendeteksi keberadaan musuh. Musik bombastis Blake Neely (King Kong, The Da Vinci Code, Love, Simon) berpadu dengan raungan alarm mencipakan sense of urgency. Timbul kekacauan yang ditata rapi oleh permainan dinamika Schneider, yang memahami kapan mesti menginstruksikan aktornya untuk berteriak atau berbisik, dan kapan sebuah banter harus tersaji cepat atau lambat.

Singkatnya, Greyhound berhasil menghancurkan kapal selam Jerman. Semua kru bersorak. Salah satunya memberi selamat pada Krause atas kesuksesan menghabisi nyawa 50 pasukan lawan. Krause tak terkesan, lalu menjawab singkat, “50 nyawa manusia”. Dari sinilah letak fokus naskah Hanks mulai terlihat. Penonton diajak memahami seberat apa beban di pundak seorang pemimpin kapal perang. Khususnya dilema perihal hidup dan mati. Haruskah dia mengutamakan misi atau menyelamatkan nyawa sebisanya?

Sepanjang pertempuran tanpa henti selama tiga hari, Krause tidak beristirahat, tidak makan, kakinya berdarah-darah akibat terus berdiri beralaskan sepatu. Tidak ada sedetik pun waktu bersantai, sebab setelah satu kemenangan, anak-anak buahnya sudah menanti instruksi berikutnya. Dan sewaktu kesalahan diperbuatnya, Krause dihantui perasaan bersalah.

Pilihan shot Schneider, dibantu penyuntingan dengan timing sempurna, membantu menyiratkan isi hati sang protagonis tanpa memerlukan tuturan verbal. Kamera akan menyorot raut wajah si Komandan, lalu berpindah ke ekspresi bawahannya, yang seolah menghakimi Krause. Entah benar atau tidak, tapi itu yang ia rasakan. Dan penampilan Hanks merealisasikan pergulatan batin tersebut secara nyata, memberi kesan humanis di saat usaha menambah sentuhan personal lewat sekilas informasi mengenai kehidupan romansa Krause berakhir hanya sebagai pernak-pernik sambil lalu, yang sebenarnya tidak perlu.

Greyhound bergulir cukup singkat. Cuma 91 menit. Tidak ada ruang bagi drama di luar peperangan, dan filmnya sendiri tidak ingin berpura-pura menjadi lebih dari itu. Penyuntingan cekatan ditambah permainan pacing mumpuni dari sutradara dalam mengemas pertempuran bombastis di tengah Samudera Atlantik, memadatkan dinamika Greyhound yang memang didesain sebagai suatu sajian singkat tanpa basa-basi. Walau butuh perhatian lebih agar tak tersesat di tengah istilah-istilah asing yang datang silih berganti begitu cepat.


Available on APPLE TV+

DA 5 BLOODS (2020)

That’s one small step for man, one giant leap for mankind”, ucap Neil Armstrong saat menapakkan kaki di bulan. Sang astronot sempat menyatakan ada kesalahan pengutipan terhadap pernyataannya. Bukan “for man”, melainkan “for A man”. Tentu saja koreksi itu tak dipedulikan, sebab kalimat yang keliru itu terkesan lebih megah, lebih menjual sebagai branding terhadap pendaratan di bulan: Sebuah lompatan besar bagi umat manusia. Tapi sebagaimana Spike Lee (Do the Right Thing, BlacKkKlansman) siratkan melalui rangkaian footage selaku sekuen pembuka, lompatan besar macam apa di saat banyak anak-anak masih didera kelaparan?

Lompatan besar macam apa di saat rasisme terus merajalela? Perang Sipil menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Dunia II menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Perang Vietnam menjanjikan kebebasan bagi kulit hitam. Mereka tidak mendapatkannya. Sementara Hollywood sendiri dituding melakukan whitewashing dalam mengemas film perang mereka. Itu pula yang beberapa tahun lalu sempat membuat Spike Lee bersitegang dengan Clint Eastwood setelah perilisan Flags of Our Father dan Letters from Iwo Jima pada 2006. Lee menuding Eastwood menutup mata atas peran prajurit kulit hitam.

Selang 14 tahun, Lee merilis Da 5 Bloods, yang sejatinya merupakan naskah berjudul The Last Tour buatan Danny Bilson dan Paul De Meo, yang rencananya bakal disutradarai Oliver Stone. Bisa ditebak, karakternya berkulit putih. Lee menulis ulang naskahnya bersama Kevin Willmott yang telah menjadi partnernya sejak Chi-Raq (2015), mengubah ras protagonis, menjadikannya film pertama soal Perang Vietnam yang dituturkan lewat kaca mata prajurit kulit hitam.

Bisa ditebak, hasilnya adalah tontonan menghibur sekaligus kritis nan tajam. Siapa lagi yang berani mengolok-olok kepalsuan Rambo selain Spike Lee? Kisahnya sendiri mengetengahkan empat veteran, Paul (Delroy Lindo), Otis (Clarke Peters), Eddie (Norm Lewis), dan Melvin (Isiah Whitlock Jr.), yang kembali ke Vietnam, bukan sebatas untuk reuni, melainkan membawa pulang jenazah pemimpin tim mereka dahulu, Norman (Chadwick Boseman). Nantinya, turut menyusul pula David (Jonathan Majors), putera Paul, yang punya hubungan kurang baik dengan sang ayah.

Tapi ada satu lagi misi rahasia yakni mencari peti berisi emas, yang kelimanya kubur di tengah peperangan. Emas itu sejatinya dipakai oleh pemerintah Amerika Serikat guna membayar jasa penduduk lokal agar mau bertempur di pihak mereka. Tapi pesawat yang membawanya jatuh. Norman meyakinkan rekan-rekannya untuk membawa emas tersebut, sebagai bentuk pelunasan hutang pemerintah Amerika atas tindakan sewenang-wenang mereka terhadap kaum kulit hitam.

Tentu banyak rintangan membentang, tapi yang paling menghantui adalah pergulatan karakternya dengan diri sendiri akibat trauma, dan Da 5 Bloods menyiratkan bahwa trauma itu bermuara pada rasisme. Rasisme oleh siapa? Kulit putih tentunya, yang bertanggung jawab menyebarkan, bahkan mempopulerkan rasisme. Di sebuah kesempatan, warga Vietnam sempat melontarkan kata-kata bernada rasial, yang menurut pengakuan mereka, diajarkan oleh kulit putih.

Keempat protagonisnya menyimpan luka lama, tapi jelas Paul yang paling terdampak. Digerogoti PTSD, ia mengaku selalu ditemui Norman setiap malam. Satu elemen menarik adalah ketika Paul dengan bangga menyatakan memilih Trump, memakai topi MAGA (Make America Great Again), bahkan mendukung pembangunan tembok demi menghalangi masuknya imigran. Ini adalah penokohan kompeks, thought-provoking, mungkin juga membingungkan.

Agar memahaminya, kita perlu memperhatikan konteks, serta ucapan-ucapan dari mulut Paul. Dia merasa selalu dikhianati, baik sebagai kulit hitam yang dijanjikan kebebasan, maupun prajurit, yang disebut “pembunuh anak-anak” sepulangnya ia ke tanah air selepas (dipaksa) bertaruh nyawa. Dia merasa selalu jadi pihak yang kalah. Paul lelah akan semua itu. Sudah terlalu hancur hatinya. Begitu muncul figur yang lantang menyatakan “Aku akan menjadikan kita pemenang”, Paul tergoda oleh bayangan superioritas tersebut. Pilihan yang tentu saja cuma menambah kekalutan hatinya.

Delroy Lindo memerankan Paul dalam tingkat kompleksitas serupa, dengan mata yang senantiasa diwarnai teror, sesekali menjadi pria penyayang, sesekali menjadi pria sedih, lalu di waktu lain menjadi pria penuh ketakutan. Puncaknya ketika Paul mencapai “batas” dan melakukan monolog sembari menatap ke arah kamera, seolah ingin meluapkan segalanya kepada penonton.

Secara berulang, alurnya mengajak kita mundur ke masa lalu mengunjungi medan perang, melalui flashback yang kembali membuktikan bahwa Spike Lee adalah sutradara yang menaruh bobot seimbang kepada gaya dan substansi. Flashback-nya memakai rasio aspek 1.33:1, sementara sinematografer Newton Thomas Sigel (Drive, Bohemian Rhapsody) merekamnya menggunakan format film 16 mm, melahirkan kesan bak newsreel di zaman perang.

Menariknya lagi, flashback-nya tidak memakai riasan, CGI, atau aktor lain untuk memerankan versi muda karakternya. Selain alasan biaya plus ketidaksukaan Lee akan penggunaan lebih dari satu aktor, pilihan ini juga menguatkan kesan bahwa flashback yang kita saksikan adalah memori di kepala karakternya. Bukankah kala kita bermimpi atau membayangkan mengenai masa lalu, secara tidak sadar kita cenderung memvisualisasikan diri kita dari masa kini?

Satu contoh lain perihal keseimbangan Lee bergaya dan bertutur dapat disimak ketika seorang prajurit Vietnam membicarakan soal pembantaian My Lai. Beberapa kali Lee menyelipkan cuplikan foto pembantaian tersebut. Hanya sekilas, hingga agak sulit mencerna gambar apa yang ada di layar. Otomatis, penonton terpancing untuk menajamkan pandangan agar tak melewatkan gambar berikutnya. Dan tepat saat itu dilakukan, Lee memasang foto jenazah seorang bocah yang kepalanya tertembak. Tapi alih-alih berlalu secepat kilat seperti sebelumnya, foto itu bertahan lebih lama, dan berujung efektif menanamkan gambaran memilukan di benak penonton.

Sejak Girl 6 (1996), semua film Spike Lee selalu menembus durasi dua jam, kecuali karya terburuknya, Oldboy (2013). Tidak jarang itu menimbulkan masalah dinamika. Begitu pula Da 5 Bloods, yang andai tak berlangsung selama 154 menit pun, takkan mengurangi kekuatan tuturannya (bahkan menambah) mengenai para veteran yang gemar berucap, “5 bloods don’t die. We multiply”. Familiar dengan kalimat tersebut? Tentu saja. Sebab di negara mana pun, tentang isu apa pun, itulah roh suatu perjuangan.


Available on NETFLIX

1917 (2019)

1917 punya adegan di mana kedua protagonis diperintahkan oleh atasan untuk menembakkan suar selepas melewati no man’s land. Sang atasan, yang telah dikuasai keputusasaan setelah melalui perang tanpa henti yang memakan banyak nyawa, ragu keduanya bakal berhasil. Keraguan tersebut terbantah dan suar pun dilepaskan. Di film lain, reaksi si atasan pasti diperlihatkan, mungkin dibarengi kalimat “Those son of bithces made it” atau semacamnya. Tapi di sini kita bahkan tidak tahu apakah si atasan melihat suar tersebut, sebab sepanjang durasi, kamera tak sekalipun meninggalkan karakter utamanya.

Dikemas dengan trik yang mengesankan seolah filmnya diambil memakai teknik single take, karya terbaru sutradara Sam Mendes (American Beauty, Skyfall, Spectre) ini memang lebih mengedepankan “experience” ketimbang penceritaan beralur konvensional. Tepatnya pengalaman dua prajurit Inggris di tengah medan baku tembak Perang Dunia I. Tujuannya adalah membuat penonton merasakan apa yang keduanya rasakan.

Kedua prajurit itu adalah Kopral Tom Blake (Dean-Charles Chapman) dan Kopral Will Schofield (Geroge MacKay), yang diperintahkan Jenderal Erinmore (Colin Firth) mengirimkan pesan kepada Resimen Devonshire agar menghentikan serangan. Resimen beranggotakan 1.600 orang tersebut awalnya bersiap menyerbu pasukan Jerman yang ditengarai telah mundur dari garis depan. Tapi hasil pengintaian udara menunjukkan bahwa bukannya terpukul mundur, Jerman justru tengah memasang perangkap, memancing pasukan Inggris agar menyerbu. Tom Blake diutus mengemban misi karena dalam resimen itu tergabung pula Letnan Joseph Blake (Richard Madden), kakaknya.

Blake dan Schofield harus menembus tempat-tempat berbahaya di garis depan peperangan, dan kamera Roger Deakins (yang saya yakin akan kembali memenangkan Oscar) selalu mengiringi perjalanan mereka tanpa putus. Setidaknya terksesan demikian, karea jika teliti, anda dapat menemukan beberapa jahitan rapi untuk menyatukan potongan-potongan adegan. Tapi bahkan tanpa penyuntingan pun, hanya dalam sekali pengambilan dan satu kamera, Deakins bisa melakukan apa yang biasanya dilakukan lebih dari sekali.

Contohnya ketika Erinmore memberi pengarahan. Begitu mulus kameranya bergerak guna memindahkan fokus dari Blake dan Schofield ke arah sang Jenderal. Padahal normalnya, adegan seperti ini membutuhkan minimal tiga shot: dua over-the-shoulder shot (sudut pandang tiap karakter yang berinteraksi) plus satu master shot (menangkap semua karakter). Tentu ini mampu dicapai juga berkat penataan mise-en-scène Sam Mendes, yang nantinya mencapai puncak pencapaian pada pertempuran klimaks epic penuh detail kompleks tatkala ratusan tentara beradu di peperangan sebagai latar belakang.

Apakah ini bentuk pamer? Ya, tapi bukan cuma itu. Di balik pencapaian teknis luar biasanya, pilihan gaya ini menyimpan maksud tersendiri. Pertama, 1917 merupakan eksplorasi ruang, baik yang terlihat maupun tak terlihat, yang semuanya bermuara ke satu tujuan: pengalaman nyata. Pada ruang terlihat (tentunya dibarengi konsistensi luar biasa soal kontinuiti), penonton bisa tahu, di sebelah titik A terdapat apa, ada di mana lokasi B, dan seterusnya. Kita pun memahami medan perangnya terdiri atas apa saja, yang otomatis menyulut kekaguman terkait besarnya cakupan set yang dibangun.

Desain produksinya tidak main-main. Di tiap lokasi, bila diperhatikan dengan cermat, anda akan menyadari bahwa Sam Mendes bersama tim artistiknya menaruh perhatian hingga detail terkecil. Mayat bergelimpangan di film perang itu biasa. Menjadi luar biasa ketika mayat yang nyaris sepenuhnya terkubur dan cuma terlihat sebagian kerap ditemui. Sementara eksplorasi ruang tak terlihatnya berfungsi membangun ketegangan.

Penggunaan “single take  yang memposisikan penonton di ruang yang sama dengan karakternya, membuat kita hanya bisa melihat apa yang mereka lihat. Seperti mereka, kita tidak tahu apakah ada jebakan terpasang, apakah ada musuh bersembunyi, dan sebagainya. Tapi penonton dan karakternya sama-sama tahu, di luar sana ada ancaman menanti, memancing sense of impending doom. Kecemasan meningkat, kesan atmosferik menguat. Apalagi sewaktu Mendes beberapa kali menghilangkan musik termasuk ambient.

Walau demikian, ada kalanya musik gubahan Thomas Newman berperan besar. Contohnya saat filmnya mencapai Écoust-Saint-Mein, desa yang telah luluh lantah dibombardir pasukan Jerman. Mengiringi malam kelam yang diterangi suar-suar di langit, mendadak musiknya memperdengarkan orkestra. Mendes menjadikan malam mencekam itu bak opera megah yang memainkan pertunjukan bertemakan garis batas tipis antara hidup dan mati.

Sebagai dua manusia di tengah neraka, MacKay dan Chapman mengerahkan segala daya upaya, menekankan realisme dalam melakoni peran dua prajurit yang tersiksa fisik dan batinnya, sehingga penonton dapat merasakan hal serupa. Di luar mereka berdua, 1917 memberi bonus berupa deretan cameo nama-nama besar. Hanya saja jangan berharap nama-nama tersebut diberi porsi signifikan, atau anda bakal kecewa.

Di permukaan, naskah yang ditulis Mendes bersama Krysty Wilson-Cairns terkesan tipis, karena memang seperti telah disebutkan, 1917 lebih mengarah kepada pengalaman ketimbang penuturan. Satu-satunya kelemahan muncul di sini. Terkadang sebuah ketiadaan diseret terlalu lama, jauh lebih lama dari yang dibutuhkan agar penonton merasakan apa yang Mendes ingin kita rasakan. Filmnya pun sempat melelahkan, namun bukan berarti terkait cerita, tak ada yang coba disampaikan.

1917 menuturkan drama kemanusiaan berlatar peperangan tanpa secara gamblang menyatakan itu. Ketimbang tentang menghilangkan nyawa, ini adalah tentang menyelamatkan nyawa. Dan untuk melakukan itu, para prajurit dituntut berjuang total termasuk mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Ending-nya menegaskan itu. Apabila anda menaruh perhatian lebih, konklusinya takkan mengejutkan. Tapi kejutan bukan poin utamanya, melainkan bagaimana satu momen singkat di penghujung durasi itu seketika menjadikan perjuangan protagonisnya semakin bermakna. 

MIDWAY (2019)

Didedikasikan untuk prajurit Amerika Serikat dan Jepang yang terlibat Pertempuran Midway, film ini punya niat baik, ingin mengangkat perspektif yang adil tanpa menyudutkan pihak mana pun (baca: Jepang). Tidak ada nasionalisme buta, tidak ada kibaran The Stars and Stripes tiap beberapa menit sekali (I’m looking at you Michael Bay), minim antagonisasi, sementara beberapa prajurit berperang karena “tuntutan pekerjaan”, beberapa lainnya didorong hasrat balas dendam. Seharusnya Midway bisa jadi alternatif blockbuster bertema Perang Dunia II.

Tapi ini adalah karya Roland Emmerich, yang beberapa tahun belakangan, lewat Anonymous (2011) dan Stonewall (2015), ingin keluar dari zona nyaman namun berujung kegagalan. Ditulis naskahnya oleh Wes Tooke, seperti judulnya, Midway ibarat usaha Emmerich mengambil jalan tengah dengan tetap menampilkan kehancuran masif bombastis andalannya sembari menguatkan cerita. Poin kedua sayangnya kurang berhasil.

Tokoh sentralnya adalah Letnan Dick Best (Ed Skrein), pilot angkatan laut Amerika Serikat yang dikenal lewat kenekatannya. Dick pun jadi salah satu ujung tombak serangan balik Amerika pasca Jepang membombardir Pearl Harbor, yang turut menewaskan sahabat Dick. Tapi ini bukan kisah Dick seorang. Sepanjang 138 menit durasi, Midway hendak memaparkan peperangan dari beragam sisi. Ada Edwin T. Layton (Patrick Wilson) selaku inteligen pengumpul informasi rahasia Jepang yang bertugas di bawah komando Admiral Chester Nimitz (Woody Harrelson), juga Letnan Kolonel Jimmy Doolittle (Aaron Eckhart) yang memimpin serbuan ke Tokyo (disebut “Serbuan Doolittle”).

Belum lagi membahas nama-nama yang sempat diberi spotlight singkat seperti para prajurit dalam kapal selam atau Bruno Gaido (Nick Jonas) lewat aksi heroiknya menembak jatuh pesawat musuh seorang diri. Jonas merupakan aktor bertalenta. Bukan saja karena mendapat salah satu momen paling badass, keberhasilannya menghidupkan sisi carefree Bruno yang tak takut menantang maut membuat saya berharap karakternya diberi porsi lebih.

Sementara di kubu Jepang, Admiral Isoroku Yamamoto (Etsushi Toyokawa), Rear Admiral Tamon Yamaguchi (Tadanobu Asano), dan Vice Admiral Chuichi Nagumo (Jun Kunimura) diberi porsi lebih. Tapi apakah itu cukup sebagai jalan menyimbangkan sudut pandang? Sayangnya tidak. Mampu menggambarkan prajurit Jepang bukan sebagai pembunuh berdarah dingin, itu betul. Pun filmnya menjadikan tingginya harga diri tentara Jepang untuk melandasi sebuah momen sentimentil yang (diharapkan) menyentuh hati. Tapi itu saja tidak cukup. Berbeda dengan lawannya dari Amerika, kita urung diajak mengunjungi ruang intim prajurit-prajurit Jepang. Mereka masih figur-figur tak bernyawa yang selalu sibuk mengatur strategi. Artinya, Midway gagal menyeimbangkan perspektif.

Mungkin beberapa pembaca ingat bahwa saya bukan penggemar Dunkirk-nya Nolan. Tapi bagaimana naskahnya menata cerita dari beragam sudut pandang supaya seimbang patut dipuji. Emmerich dan Tooke mestinya bisa mengambil contoh soal cara membagi fokus. Metode yang Midway pakai bak sekadar asal menyelipkan, membiarkan tercipta distraksi akibat banyaknya karakter datang dan pergi, termasuk yang substansinya pantas dipertanyakan. Misalnya kehadiran sutradara John Ford (Geoffrey Blake) yang terjebak di baku tembak kala mengambil gambar untuk dokumenter pendek The Battle of Midway (1942). Ford tidak memberi dampak pada sentral cerita sekaligus bakal membingungkan bagi penonton yang asing terhadapnya.

Ketika ceritanya setengah matang, bagaimana Emmerich menyusun peperangan (mayoritas berupa pertempuran udara) justru mengundang decak kagum. Bermodalkan $100 juta, yang menjadikannya salah satu film indie termahal (Emmerich sempat kesulitan mencari dana), tercipta tiga set pieces besar: Serangan ke Pearl Harbor, Serbuan Doolittle, dan tentunya Pertempuran Midway. Di Pearl Harbor, Emmerich menyajikan horor di tengah lautan api, yang tambah mencekam saat adegan sesaat berpindah memperlihatkan seorang bocah yang menyaksikan pertempuran (baca: pembantaian) tersebut dari kejauhan. Sejenak saya merasakan teror yang dialami “orang luar”.

Sedangkan pada Pertempuran Midway selaku puncak, Emmerich mengajak kita memasuki kokpit para dive bomber, khususnya Dick Best, yang berani menukik jauh lebih rendah ke arah target dibanding rekan-rekannya. Serupa pengalaman menaiki roller coaster—hanya saja kali ini dibarengi ledakan dan kepulan asap—Emmerich mampu membuat penontonnya menahan napas, merasakan bagaimana mencekamnya aksi para pilot bertaruh nyawa menghindari hujan peluru, terjun mendekati target sedekat mungkin, dan mesti pintar mengatur timing kapan harus meluncurkan bom untuk kemudian kembali lepas landas di detik-detik terakhir, berharap tidak turut jadi korban ledakan yang ia ciptakan.

Ada paralel antara perjalanan karakternya dengan Emmerich sendiri. Dari seorang pilot sombong, Dick Best tertekan kala ditunjuk memimpin skuadron, dan berhasrat menebus “dosa” karena beberapa anak buahnya tewas. Demikian pula Layton, yang bekerja tanpa henti sampai jarang meluangkan waktu bersama istri akibat dihantui rasa bersalah “membiarkan” Jepang meledakkan Pearl Harbor. Melalui Midway, mungkin Roland Emmerich ingin menebus kegemarannya bertahan di zona nyaman membuat tontonan-tontonan brainless bombastis. Untuk itu, ia belum berhasil. Dan rasanya Emmerich perlu berhenti menebusnya. Pertama, karena hal tersebut bukan kekeliruan, dan kedua, sebagaimana ia buktikan (lagi) di sekuen peperangan film ini, Emmerich adalah ahli di bidang tersebut.