Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Comedy. Tampilkan semua postingan

REVIEW - AGENSI RUMAH TANGGA

Disusun berdasarkan novel berjudul sama karya Almira Bastari, Agensi Rumah Tangga tidak mendompleng tren cerita perihal kemiskinan dan pergulatan kaum kelas menengah. Protagonisnya tak pernah bergelut dengan persoalan piutang maupun atap rumah yang jebol. Film arahan Naya Anindita ini adalah kisah mengenai perempuan dengan privilese yang sudah berdaya, kemudian berupaya memberdayakan perempuan-perempuan lain yang tak seberuntung dirinya. 

Katia (Enzy Storia) nama si tokoh utama. Baru saja ia kehilangan pekerjaan sebagai manajer perusahaan rintisan. Enam bulan sudah ia menganggur, dan si ibu, Titin (Unique Priscilla), sudah merongrong Katia agar mengikuti jejaknya dengan menjadi PNS. 

Karakter Titin cukup menarik. Dia tipikal ibu-ibu yang cerewet tentang keteraturan dalam keseharian, pun lebih memercayai rekomendasi Facebook ketimbang saran anak sendiri. Tapi penokohan Titin lebih dari sekadar "rempong". Dia mampu mengobrol santai sembari menerima candaan putrinya, memberi Unique Priscilla peluang untuk selangkah menjauhi figur "ibu sedih" yang belakangan melekat pada peran-perannya. 

Kembali ke Katia. Kendati lama menganggur, ia masih menyimpan tabungan, punya mobil untuk dijual serta rumah selaku aset pribadi, juga memiliki ibu yang bakal tetap menerima dana pensiun. Di bawah Katia ada berlapis-lapis jaring yang memberinya peluang untuk jatuh berulang kali. Secara naluriah, individu dengan privilese seperti Katia jadi lebih berani mengambil risiko. 

Katia tetap mendaftar ke berbagai perusahaan, bahkan mengikuti tes CPNS sesuai permintaan sang ibu, namun diam-diam, ia mendirikan usaha penyedia jasa pembantu yang diberi nama "Agensi Rumah Tangga". Dibantu mantan ART di rumahnya, Bi Minah (Tike Priatnakusumah), Katia mengumpulkan para perempuan dari desa yang bersedia dipekerjakan di Jakarta. 

Bagaimana Katia mampu mengembangkan bisnisnya tanpa pengalaman? Sahabatnya, Sashi (Fita Anggriani Ilham), datang mengulurkan bantuan berupa jaringan luasnya dengan para pesohor. Alhasil, Kafka (Afgansyah Reza) si penyanyi ternama pun jadi klien pertama. Sekali lagi, privilese berperan besar. Keliru? Tentu tidak, sebab Katia memanfaatkan betul keistimewaan miliknya. 

Pada suatu kunjungan, Katia terkejut mendengar cerita Bi Minah tentang dinamika gender di desanya. Ketika para suami yang jadi korban PHK memilih ongkang-ongkang kaki sambil bermain judi alih-alih meniadakan gengsi dengan mencari nafkah sebagai kuli, para istri mengambil alih posisi. "Perempuan bisa beradaptasi di segala kondisi dan medan, lebih luwes, sehingga mampu mengerjakan apa saja", kurang lebih demikian ucap Bi Minah. 

Disokong pengarahan beraroma power pop (cepat, menyenangkan, ringan) dari Naya Anindita, Agensi Rumah Tangga melebarkan skala penceritaannya melalui setumpuk subplot, yang mayoritas memberi sorotan terhadap suka duka dunia ART. Seorang jadi korban kekerasan, seorang tertusuk rindu akan buah hati di desa, seorang lagi menaruh hati pada majikannya. 

Ada pula cerita mengenai Nisa (Nada Novia), putri Bi Minah yang turut bergabung di perusahaan Katia. Sedari lama Nisa cemburu pada Katia, yang dianggapnya lebih diberi kasih sayang oleh Bi Minah. Problematika ini menarik. Kendati jarang diberi sorotan di layar perak, bisa jadi ia marak menghantui dinamika keluarga ART yang dibebani tugas mengurus buah hati majikan sejak kecil. 

Deretan subplot di atas urung ditelisik secara memadai, beberapa di antaranya juga minim dampak emosi karena mampu segera teratasi lewat solusi instan. Terasa betul bahwa naskah buatan Ayu Anggraini dan Upi Avianto sebatas ingin merekam sebanyak mungkin fenomena daripada menggalinya sedalam mungkin. 

Setidaknya film ini enggan mengambil jalan tengah "populer" kala mesti mengakhiri gesekan antara Katia dan Titin. Agensi Rumah Tangga tetap berpegang teguh pada prinsip modern yang ogah meromantisasi disfungsi dalam hubungan keluarga. Pengakuan atas pengorbanan orang tua bukan berarti mewajibkan anak pasrah membiarkan impiannya disetir. 

Jika menyuguhkan hiburan menyenangkan merupakan gol utama, maka Agensi Rumah Tangga berhasil mencapainya. Aroma dramedi dan romcom 2000-an, yang tampil ringan dengan menggiring permasalahan riil ke arah lebih fantastis pun menguar kuat. Apalagi Naya sangat jeli mengarahkan komedi. Humor berbasis interaksi karakter tampil menggelitik lewat kenaturalannya, sementara banyolan absurd yang turut memamerkan kreativitas naskah bisa dimaksimalkan kekonyolannya. 

Saya selalu menikmati persahabatan Katia-Sashi yang ditunjang oleh kelincahan Enzy Storia dan Fita Anggriani Ilham saling melempar kata-kata jenaka. Tapi faktor esensial komedinya berasal dari barisan pelakon di balik tokoh-tokoh ART. Nama-nama seperti Ummi Quary (bintang tergila film ini), Musdalifah Basri, Neneng Wulandari, Boah Sartika, hingga Priska Baru Segu, jago menangani komedi, yang selain mengundang tawa, berperan pula selaku dinamo penggerak bagi kebersamaan karakternya dalam perjalanan mereka memberdayakan diri.

REVIEW - OPERASI PESTA COPET

Operasi Pesta Copet yang dibidani oleh Edy Khemod selaku sutradara sekaligus penulis naskah (bersama Rino Sarjono) adalah karya yang lahir dari gairah dan cinta. Khemod yang juga penggebuk drum Seringai, menumpahkan antusiasmenya terhadap dunia musik termasuk rangkaian pertunjukannya dalam kulit film heist. 

Bersama ekspresi cinta, rasa resah pun turut serta. Dua hal tersebut mustahil dipisahkan. Fenomena copet konser, yang kebetulan pernah menghampiri Seringai di Solo, jadi keresahan utama sang sineas di film ini. Protagonisnya, Ijal (Iqbaal Ramadhan), adalah pencopet ulung yang tengah menyasar keriuhan Pesta Pora sebagai panggung teranyar aksi besarnya. 

Ijal tidak sendiri. Tiga anggota tim lain ikut berpartisipasi: Adut (Kristo Immanuel) si sahabat yang juga partner mencopet Ijal, Tia (Zulfa Maharani) si mantan pacar yang sempat terciduk kala melancarkan aksi kriminal bersama, dan Melodi (Kawai Labiba) dengan segala ilmunya terkait dunia perkonseran. 

Seiring proses, istilah-istilah dunia copet (ngambang, ngalih, mutus, nadah, dll.) filmnya ajarkan pada penonton. Begitu pula ragam trik licik mereka, semisal semprotan air cabai yang digunakan Silet (Fauzan Lubis) selaku mentor copet Ijal. Bukan sekadar keseruan yang film ini harap penonton bisa peroleh, pula pelajaran berharga supaya tidak kecolongan di dunia nyata. 

Filmnya berhasil meniti titik tengah yang cukup tricky, kala berupaya mendorong penonton bersimpati pada protagonis, sambil menghindari kesan menjustifikasi tindak kriminalnya. Mereka berempat adalah rakyat kelas bawah, dengan pemukiman kumuh padat penduduk selaku tempat bernaung, yang berkat permainan ambiens mumpuni departemen tata suara (misal teriakan berisik bocah yang terus bersahut-sahutan) bisa dipotret secara meyakinkan.

Operasi Pesta Copet bersedia membuka mata atas kegagalan sistem selaku pangkal kemiskinan yang menghimpit tokoh-tokohnya. Tapi di sisi berlawanan, kesimpulan "tidak ada pilihan lain" yang mereka tarik kala memilih jalan mencopet pun enggan dibenarkan. 

Sedangkan kepedulian kepada karakternya banyak dibangun memakai susunan komedi. Selain menyulut tawa, yang mana berhasil dilakukan, humornya berfungsi mengeratkan hubungan antar karakter, pula karakter dengan penonton. 

Apalagi tiap pelakon menyumbangkan performa maksimal. Iqbaal sebagai jamet yang acap kali berlaku bodoh, Kristo bermodal kejelian menimpali banyolan, Zulfa dengan kepiawaian menggilas porsi drama dan komedi sama baiknya, hingga Kawai yang piawai meniupkan nyawa di momen "seremeh" apa pun. 

Pujian khusus rasanya patut disematkan bagi Fauzan Lubis, vokalis Sisitipsi yang menjalani debut aktingnya di sini. Tutur kata sampai gerak-geriknya sebagai "abang-abangan tongkrongan menyebalkan" adalah wujud kenaturalan yang hanya bisa dipertontonkan seorang penampil sejati. 

Tapi bintang utama pertunjukan ini tetap Edy Khemod. Operasi Pesta Copet kentara dibuat oleh individu yang mencintai sekaligus memahami dunia musik hingga ke organ-organ terdalamnya. Akses mengambil gambar langsung di gelaran Pesta Pora memberi dorongan signifikan atas terciptanya kesan imersif, namun tanpa pemafhuman Khemod perihal situasi apa saja yang mesti ditangkap guna mewakili keseruan konser, keistimewaan di atas bakal percuma. 

Ada kalanya Operasi Pesta Copet tampil bak video klip musisi pop karena selipan pernak-pernik efek visual kaya warna yang sang sutradara pakai, tapi tidak jarang, terutama saat teknik shaky cam diterapkan bahkan di obrolan sederhana, Khemod menyuntikkan energi sehingga filmnya tersaji layaknya video rok progresif beroktan tinggi. Beberapa situasi pun hanya bisa dirumuskan oleh pecinta musik (dan konser). Sebutlah adegan wall of death yang menyulut intensitas secara kreatif.

Terkait babak ketiganya, saya yakin sineas dengan tingkat keilmuan musik yang tak semumpuni Khemod akan mengambil langkah mudah ditebak dengan menggaet nama-nama "kekinian", tapi Khemod dengan cerdik memilih Rhoma Irama. Membawakan 1001 Macam (lagu unik yang mengawinkan dangdut dan rap, lengkap dengan lirik sarat relevansi) sang "Raja Dangdut" bukan sekadar hiasan, tapi figur yang sempurna dengan konteks adegannya.

Pun pada dasarnya, Operasi Pesta Copet merupakan heist yang solid. Tanpa gebrakan baru, tapi semua unsur genrenya sanggup ditangani secara apik. Alur rencana operasi pencopetan karakternya dijabarkan dengan jelas, dari ragam tipu daya mencomot dompet, juga proses mengeluarkan barang curian dari lokasi. Penonton dilibatkan untuk memahami detail setiap langkahnya. 

Subplot terkait luka masa lalu Ijal yang melibatkan sang ibu (Yeyen Lydia) juga untungnya tidak dibuat bermuara menuju resolusi khas drama arus utama sinema Indonesia, yang punya tendensi main aman demi memuaskan semua kalangan. Tidak semua kesalahan bisa dimaafkan. Anak tidak melulu wajib dipaksa mengalami amnesia tentang kekeliruan orang tua agar bisa menemukan kedamaian. Luka pun bisa usai sambil tetap menolak begitu saja lupa akan dosa masa lalu. 

REVIEW - KUNG FU SOCCER

Menonton babak pertama Kung Fu Soccer sungguh menyiksa. Tanpa basa-basi, penonton dipaksa seketika masuk ke tengah konflik, yang terasa seperti sekuel dari cerita imajiner. Berbeda dengan caranya menggarap Shaolin Soccer (2001), di sini Stephen Chow hanya memedulikan spektakel, yang untungnya masih bekerja secara efektif. 

Bertindak selaku sekuel spiritual, film ini membuang segala elemen narasi yang membuat Shaolin Soccer demikian dicintai. Ketimbang perlahan menyusun dinamika antar tokoh, Chow langsung menempatkan jajaran protagonisnya di tengah turnamen sepak bola dengan tim yang telah terbentuk. 

Saya ingat betul betapa serunya menyaksikan Sing (Stephen Chow) satu demi satu mengumpulkan kakak-kakak seperguruannya. Di sini, adegan pembukanya sudah menampilkan tim bernama Emei, dengan Shuangshuang (Zhang Xiaofei) dan Yu Long (Dilraba Dilmurat) sebagai pentolan, yang menghebohkan media sosial lewat keikutsertaan mereka dalam turnamen sepakbola perempuan. 

Secara beringas dan sambil lalu, anggota tim lain mulai diperkenalkan: Xu Feng (Lay Zhang) yang jadi mentor Shuangshuang, Xueye (Xue Ye) yang susah diatur, Sangbiao (Hu Yu'an) yang kehilangan rasa percaya diri pasca putus cinta, Ziba (Sisley Choi) si fisioterapis buta, dan masih banyak lagi, yang mayoritas takkan meninggalkan kesan berarti. 

Bagaimana bisa Kung Fu Soccer menyulut kepedulian penonton kepada segerombolan manusia yang kurang kita kenal? Jawabannya "tidak bisa". Sesekali kilas balik seputar masa lalu tokoh-tokohnya diselipkan, namun semuanya terkesan numpang lewat. Chow bukannya sama sekali tidak berusaha membangun penokohan, hanya saja usaha itu bak dilakukan sambil malas-malasan. 

Spektakel, spektakel, spektakel. Itu saja yang film ini pedulikan. Tapi Chow bahkan tidak cukup giat untuk memberi perbedaan unik nan signifikan dalam kemampuan masing-masing anggota Emei, yang mana merupakan amunisi penting untuk menguatkan daya hibur spektakelnya. Shuangshuang punya tendangan super keras. Yu Long punya tendangan melengkung yang super keras. Xueye bisa melompat luar biasa tinggi sebelum melontarkan tendangan super keras. Polanya generik.

Penceritaannya membaik selepas Emei hancur oleh satu kekalahan menohok. Dari situ, naskahnya mulai menerapkan formula zero to hero, yang kendati konvensional terbukti efektif berkat penguasaan Chow akan pakem tersebut, sembari menggiring tokoh-tokohnya dalam proses menemukan kekuatan sekaligus menerima kelemahan mereka. Klise, tapi bergerak dengan ritme yang jauh lebih tertata ketimbang babak pertama yang sangat kacau. 

Seiring membaiknya narasi, Kung Fu Soccer pun menemukan pijakan yang memudahkannya melempar hiburan. Banyolan mo lei tau absurd sarat kejutan khas Chow menemukan pasangan sejatinya dalam diri jajaran pemain film ini. Zhang Xiaofei, Dilraba Dilmurat, Lay Zhang, Hu Yu'an, hingga Sisley Choi membantu penulisan jenaka Chow mencapai potensi maksimalnya. Sederhananya: Kung Fu Soccer luar biasa lucu!

Deretan pertandingan (atau lebih tepat disebut "perkelahian") di atas lapangan hijau pun mampu dibawakan secara menyenangkan, terutama kala babak puncak. Jurus-jurus yang tadinya generik perlahan bertambah daya tariknya seiring batasan logika yang makin ditiadakan (pemain-pemain yang menggabungkan tubuh bak Megazord, kiper yang bisa membikin tubuhnya sekokoh lonceng, lensa kontak dengan kemampuan "hipnotis", dsb.). 

Tim-tim dari beragam negara sempat ditemui Emei: Ada Ehwa dari Korea Selatan dengan "K-beauty" manipulatif yang penuh kepalsuan, Coral dari Australia yang tangguh bak robot, hingga tim dengan dandanan ala ninja dari Jepang, Taiga, dibawah pimpinan Takeru Satoh sebagai pelatih yang gemar berbicara lirih layaknya sosok-sosok misterius khas sinema Negeri Sakura. Stereotipikal? Saya lebih suka menyebutnya "satir pinggir jurang". 

Banyak pula yang mengkritisi buruknya CGI film ini. Saking buruknya, timbul tudingan atas penggunaan AI, yang mana tidak sanggup saya konfirmasi. Andai tudingan itu keliru, kesan murahan dalam efek visualnya bukanlah persoalan berarti, karena ia justru sejalan dengan pendekatan serba bodoh yang Chow pakai. Kung Fu Soccer memang bodoh, dan di situlah letak pesonanya. 

REVIEW - POWER BALLAD

Hal yang saya kagumi dari karya-karya John Carney adalah kemampuan (kalau bisa disebut demikian) memanusiakan musik. Lagu/musik menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu, entah pembuatnya, yang memainkannya, atau sebatas para pendengar yang haus akan asupan rasa. Begitu pula dalam Power Ballad. 

Rick Power (Paul Rudd) adalah musisi Amerika yang kini menetap di Dublin, Irlandia, bersama istri dan putri remajanya. Mimpi menjadi bintang rok pengguncang stadion telah lama (terpaksa) ia kubur, dan demi membayar segala tagihan, banting setir jadi vokalis band pesta pernikahan bernama "The Bride and Groove" pun dilakukan. Sesekali Rick coba membawakan lagu ciptaannya, yang selalu direspon dingin oleh para tamu yang berharap mendengarkan jajaran Top 40. 

"Human jukebox". Demikian sebutan yang disematkan bagi Rick dkk. Tidak bisakah band yang hanya dituntut membawakan nomor-nomor terkenal milik musisi lain punya makna lebih? Bisa! Setidaknya itulah yang hendak diutarakan oleh naskah buatan John Carney dan Peter McDonald. Hanya saja, Rick belum menyadarinya. 

Proses menemukan kesadaran tersebut berawal kala Danny Wilson (Nick Jonas) si mantan anggota boy band ternama berduet dengan Rick di atas panggung selaku tamu kehormatan sebuah pesta pernikahan. Malamnya, ia dan Rick menghabiskan berjam-jam berdua. Rick yang mengenang ambisi masa lalunya, juga Danny yang masih berambisi membuktikan kapasitas sebagai musisi serius, saling berkeluh kesah dalam obrolan dua kawan yang berbagi kesukaan serupa, sembari ditemani berbotol-botol bir serta rokok. 

Carney masih jago mengolah obrolan sederhana dua penggila musik jadi momen asyik penyedot atensi penonton, yang diposisikan bak orang ketiga dalam lingkaran pertemanan singkat dua tokoh utamanya. Tentu mereka bakal mengadakan sesi jamming dadakan di sela-sela obrolan. Rick memberi masukan bagi album baru Danny, pun sebaliknya, Danny diajak menikmati nada-nada gubahan Rick. 

Kemudian dimainkanlah How to Write a Song Without You, yang aslinya ditelurkan oleh otak brilian John Carney dan Gary Clark. Sebuah alunan catchy yang menolak lenyap  dan senyap dari otak saya kendati hari demi hari sudah berlalu. Di semesta filmnya, dikisahkan bahwa Rick belum berhasil menyelesaikan lagu yang seketika mencuri hati Danny tersebut. Malam magis pun berakhir, dan keduanya mesti kembali menempuh kenyataan masing-masing. 

Enam bulan berselang, dan album baru Danny mereguk sukses luar biasa berkat sebuah single yang membuat jiwa jutaan pendengar bertekuk lutut. Judulnya? How to Write a Song Without You. Pencurian karya telah terjadi. Tapi, seberapa pun kerasnya ia meyakinkan keluarga maupun rekan-rekan, Rick kesulitan membuktikan keabsahan tudingan kalau Danny mencuri lagunya. Pasalnya, tidak ada hasil rekaman selaku barang bukti. 

Petualangan Rick menggugat keadilan, disajikan oleh Carney dalam wujud pembauran menyenangkan antara komedi ringan dengan drama sarat rasa sakit. Saya memahami alasan Rick sebegitu terluka, bahkan sampai di titik tercipta kesenjangan dengan keluarganya sendiri. Di mata protagonis kita, tidak hanya sekeping lagu atau potensi banjir harta hasil royalti yang dicuri, namun skenario impian di mana mimpi siang bolongnya menyabet kejayaan di industri musik dapat bertaut dengan realita. 

Tapi sekali lagi, lagu baru menemukan maknanya tatkala ia menjadi bermakna bagi individu. How to Write a Song Without You lebih punya makna mendalam bagi Rick ketimbang Danny. "It's just a nice song" ucap Danny pada kekasihnya, Marcia (Havana Rose Liu), yang kemudian merespon, "But it's real". Masalahnya, makna lagu tersebut tidaklah nyata untuk Danny. 

Power Ballad bukan semata mendiskusikan kompleksitas tangga nada, tapi kisah-kisah di baliknya yang banyak menyertakan rasa-rasa milik manusia. Berpijak pada prinsip tersebut, John Carney menggelar adegan klimaksnya yang luar biasa efektif memorak-porandakan dinding pertahanan emosi penonton. Memanfaatkan daya bunuh tinggi dari korus How to Write a Song Without You, Carney memotret pemandangan indah tatkala sebuah lagu akhirnya memberi makna bagi manusia-manusia yang berkaitan dengannya. 

REVIEW - WARKOP DKI: VIRALIN DOOOONG..!!

Media sosial sempat ramai saat potret mendiang Dono yang berdiri dikelilingi sepasukan tentara sembari mengenakan kaos bertuliskan "We fight for a clean government", disandingkan dengan foto Desta, aktor yang memerankannya di Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sedang berjoget ria di tengah kampanye rezim. Tapi haruskah kita memusingkan sikap politik para pelakon? 

Mungkin tidak bila: 1) Dono tidak vokal menyentil pemerintah, 2) Warkop DKI merupakan grup lawak apolitis, 3) Warkop DKI: Viralin Doooong..!! sama sekali tidak mengangkat isu politis. Ketiga poin di atas tidak terpenuhi. Kendati minim secara kuantitas, tiap humor politis dilontarkan oleh film ini, semuanya keluar dari mulut Desta. Sulit bagi saya ikut tertawa. 

Patut disayangkan, sebab Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memiliki poin yang tidak dipunyai para pendahulunya selaku produk "reborn", yakni penceritaan memadai. Alurnya menyoroti sulitnya trio Dono (Deddy Mahendra Desta), Kasino (Vino G. Bastian), dan Indro (Tora Sudiro) lepas dari jerat kemiskinan. Sampai tercetuslah ide membuat konten di YouTube. Rasa lapar membuat mereka "kebelet viral". 

Tentu dua jam durasinya masih tersusun atas sketsa-sketsa, tapi naskah buatan Theo Arnoldy, Dany Beler (juga selaku konsultan komedi), Daryl Wilson, dan sang sutradara, Herwin Novianto, bisa menjahit seluruhnya secara rapi. Masing-masing sketsa tidak dibiarkan meluber ke segala penjuru, melainkan digiring supaya mengalir ke arah cerita utama. 

Proses penulisannya turut melibatkan tiga figur ternama Tailan, Banjong Pisanthanakun, Thamsatid Charoenrittichai, dan Ter Chantavit Dhanasevi sebagai penggagas ide cerita. Pengaruh mereka baru benar-benar terasa di paruh kedua, tatkala trio protagonisnya nekat membuat konten horor yang melibatkan penggunaan mayat sungguhan. 

Sentuhan horornya tidaklah baru, tapi efektif menjalankan peran sebagai penyegar suasana di sela-sela usaha tiga aktor utamanya untuk terlihat dan terdengar semirip mungkin dengan Warkop DKI orisinal, sembari mengenakan wig bergaris rambut buruk. Kita sudah familiar dengan interpretasi Vino dan Tora dalam dua film reborn pertama, sehingga wajar jika sorotan lebih diarahkan pada Desta. 

Baik cara bicara, permainan raut wajah, sampai olah tubuh dari Desta memang sangat mirip dengan Dono. Mengesankan? Ya, kendati performanya lebih dekat ke arah impression seorang komedian ala sketsa Saturday Night Live ketimbang "akting" sebagaimana ditampakkan Abimana Aryasatya di film pertama. Desta sekadar meniru tampilan luar daripada membuka pintu agar sosok Dono sungguh-sungguh "merasuk" dalam jiwanya. 

Keseluruhan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memang terasa bak impression bagi film-film klasik Warkop DKI. Mirip dari luar, namun kurang perihal kedalaman yang substansial. Para penulisnya jelas sudah khatam menonton semua film Warkop DKI. Terlihat dari kesanggupan mereka memadupadankan serta memodifikasi lelucon, misal ketika memelintir "adegan kap mobil" dari Kesempatan dalam Kesempitan (1985). 

Masalahnya, humor film ini cenderung tak bertaring. Beberapa menggelitik, tapi lebih banyak yang terkesan kekurangan kreativitas. Karya-karya terbaik Warkop DKI di layar lebar senantiasa jeli mencari titik tengah antara kekonyolan ringan dengan kreativitas sarat ketidakterdugaan. Mereka adalah komedian yang paling piawai menyamarkan kejeniusan sebagai kebodohan. 

Begitu pula perihal guyonan beraroma politis yang di sini dilempar secara asal, hanya bersifat performatif dan seolah eksis semata karena Warkop DKI memang gemar mencolek tema tersebut alih-alih didasari keresahan nyata. 

Ada perasaan mengganjal seusai menyaksikan konklusi serba bahagia kepunyaan film ini. Seketika saya teringat sebaris lirik lagu tema serial televisi Warkop DKI yang berbunyi, "Kita nggak pernah sukses." Warkop DKI memang lebih sering mereguk kesialan. Selain demi menunjang kelucuan, ketidaksuksesan mereka kerap dijadikan cara menyentil praktik kecurangan.

Dono, Kasino, dan Indro tidak pernah lolos dari kesialan, yang bak mengakali sistem sebagai cara instan meraup keuntungan, atau tatkala pikiran mesum menguasai otak mereka. Kecurangan dan seksisme selalu dikenai balasan setimpal di film-film Warkop DKI. Maka, ketika Warkop DKI: Viralin Doooong..!! memilih konklusi aman nan bahagia, ia pun gagal mengkritisi kebelet viralnya para manusia modern. 

Di fase epilog, kita disuguhi pemandangan ketika Dono, Kasino, dan Indro memberi tumpangan kepada tiga perempuan berpakaian seksi, lalu mengajak mereka ke pantai sambil berujar, "Ini baru Warkop!" Film-film Warkop DKI adalah representasi era di mana ia lahir. Judul-judul produksi Soraya yang sarat seksisme berlatar pantai memberi cerminan akan masa gelap perfilman Indonesia di era 90-an. Momen penutup tersebut makin menegaskan ketidakmampuan Warkop DKI: Viralin Doooong..!! mewakili zamannya. 

REVIEW - SEKAWAN LIMO 2: GUNUNG KLAWIH

Mungkin pernyataan ini terkesan bias, tapi saya selalu merasa bahwa bila dilontarkan memakai bahasa daerah, umpatan cenderung terdengar sebagai ungkapan keakraban yang tak jarang menggelitik ketimbang murni hinaan. Itulah mengapa Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang notabene dipenuhi umpatan, masih menyenangkan diikuti kendati kekacauan penceritaan hadir selaku batu sandungan. 

Running joke-nya ada di seputaran muka Benidictus "Beni" Siregar sang "tulang punggung sinema Indonesia" yang kemungkinan bakal muncul dalam (minimal) delapan judul tahun ini. Mengolok-olok tampilan visual sang komedian sudah jadi rutinitas di tiap film, tapi toh mendengar karakter lain memanggilnya "rai codot" tetap terdengar lucu. Setidaknya lebih lucu daripada "muka kelelawar". 

Tiga tahun pasca peristiwa di Gunung Madyopuro, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Andrew (Indra Pramujito), Dicky (Firza Valaza), dan Juna (Benidictus Siregar) si arwah penasaran, kembali berkumpul setelah Andrew sekeluarga mendapat serangan klenik yang mengancam nyawa mereka. Keputusan nekat pun diambil. Mereka harus mendaki Gunung Klawih guna mencari pertolongan dukun setempat yang konon sakti mandraguna. 

Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah film yang serba buru-buru. Progresi cerita melaju bak mobil yang dipacu di jalan bebas hambatan, sedangkan penyuntingannya seolah tak membekali diri dengan kerangka pasti, bukan cuma bergerak cepat, pula luar biasa liar hingga tak jarang memusingkan. 

Minimal di paruh awal, ketergesaan tersebut tak sampai meruntuhkan fokus penceritaan. Keluarga Andrew dalam bahaya, Bagas mendapati hubungannya dengan Lenni merenggang akibat ketidakjelasannya dalam menapaki hidup, Dicky pun tengah kesulitan merebut hati putri kekasihnya, tapi babak pertama Sekawan Limo 2 praktis berstatus "filmnya Juna". 

Juna menjadi figur sentral yang perspektifnya berfungsi sebagai pintu bagi penonton untuk memasuki alurnya. Bersama Juna, kita pun diajak mengunjungi kerajaan demit, kemudian bertemu Wisang (Joshua Suherman) si kepala keamanan beserta asistennya, Kina (Elsa Japasal), yang menjabarkan bangunan dunia unik dari filmnya. 

Bagaimana demit diklasifikasikan dalam beberapa jenis, hingga perbedaan antara mereka dan arwah penasaran macam Juna, seluruhnya membentuk semesta absurd yang senada dengan gaya komedik filmnya. Tatkala banyak horor lokal terlalu malas memikirkan lore, berbekal "seni menertawai memedi" serupa film pertama, naskah buatan Nona Ica justru berani bereksplorasi. 

Tentu semuanya dipaparkan dengan tawa. Satu hal yang paling mengagumkan terkait humornya adalah bagaimana jajaran pemain Sekawan Limo 2 seolah tak pernah kehabisan selorohan Bahasa Jawa untuk dilontarkan. Mereka saling sindir, melempar hinaan, yang sekali lagi, lebih memancarkan keguyuban daripada kebencian. Di luar para "sekawan limo", Cak Kartolo dan Ning Tini melahirkan duet maut yang bertukar kata bak berondongan senapan otomatis. 

Barulah seiring naskahnya memberi sorotan lebih terhadap karakter selain Juna, kesan berantakan filmnya semakin terasa mengganggu. Daripada berbagi dengan rapi, para protagonisnya saling berebut titik fokus dengan cara yang amat semrawut. 

Pun tidak semua karakter punya proses semenarik Juna. Bayu Skak yang juga kembali duduk di kursi sutradara memang (seperti biasa) tampil memadai memerankan lelaki yang meratapi nasib menyedihkan miliknya. Hanya saja, karakter Bagas beserta romantika klisenya bersama Lenni, ditambah selipan cinta segitiga dengan Aruna (Jihane Almira) yang dipaksa masuk di pertengahan durasi, tidaklah seberapa menarik. 

Upaya menyulut dampak emosi, termasuk kesulitan Bagas beranjak dari bayangan kesuksesan semu pasca peristiwa di Gunung Madyopuro menjadikannya bintang dunia maya pun gagal dicapai akibat kacaunya aliran penyuntingan. Cara bercerita Sekawan Limo 2: Gunung Klawih sangat tidak nyaman diikuti. Untungnya saya tidak keliru menata ekspektasi. Saya cuma berharap dibuat tertawa, dan filmnya mampu memenuhi itu. 

REVIEW - BUGONIA

Seiring masyarakat yang semakin mengedepankan sifat individualis, saya merasa upaya saling memahami antar individu pun semakin melemah. Tutur kata sesama manusia dipandang bak kebisingan semata, alih-alih petunjuk untuk mengerti jalan pikirannya. 

Itulah kenapa saya mengagumi Bugonia, yang bertindak selaku remake dari film Korea Selatan, Save the Green Planet! (2003). Dia pintar. Bukan karena twist gilanya yang hanyalah bumbu penyedap bagi bahan pokok berupa naskah kuat (ditulis oleh Will Tracy) yang menempatkan penonton di tengah perdebatan dua karakter. Kita diajak memahami mereka, daripada buru-buru menghakimi.  

Michelle Fuller (Emma Stone) dan Teddy Gatz (Jesse Plemons) jadi figur yang saling bentrok. Michelle adalah CEO perusahaan farmasi, sedangkan Teddy si penggila teori konspirasi meyakini kalau perempuan sukses tersebut sejatinya merupakan bagian spesies alien bernama "Andromedans" yang berencana menghancurkan Bumi. Dibantu Don (Aidan Delbis), sepupunya yang autis, Teddy menculik Michelle dengan tujuan memaksanya membatalkan niatan tersebut. Apakah tudingan itu berdasar atau sebatas teori konspirasi liar? 

Jurang kelas yang memisahkan keduanya tidak mungkin lebih lebar lagi. Sewaktu Teddy berolahraga dengan gerakan-gerakan canggung nan ngawur yang ia pelajari sendiri, Michelle membekali diri dengan pelatih pribadi serta teknologi berbiaya tinggi. Jika kediaman Teddy ditampilkan dalam kesemrawutan berhiaskan warna-warna mencolok, sinematografi arahan Robbie Ryan banyak menerapkan wide shot guna menangkap rumah serba teratur kepunyaan dengan sentuhan warnanya yang memudar. 

Harta melimpah, rumah mewah, seluruh tubuh yang terawat. Tanpa harus berasal dari galaksi Andromeda pun, Michelle sudah nampak bagai alien di hadapan Teddy. Tapi jangan buru-buru menghakimi. Bugonia lebih dari sekadar gesekan kelas biasa. Kelak, bentangan lanskap yang mendominasi di paruh awal bakal perlahan dikurangi kuantitasnya, berganti dengan close-up seiring menguatnya intensitas. Kita tidak lagi melihat gambaran luar dan mulai dibawa menelisik lebih jauh ke dalam.

Yorgos Lanthimos adalah sutradara hebat yang paham betul jika ia diberkahi dua aktor hebat. Mengambil gambar dari jarak dekat memungkinkan Emma Stone memainkan gurat-gurat mikro di wajahnya, menghadirkan performa menggelitik sekaligus janggal yang menyedot atensi bak magnet berdaya tarik tinggi. Sementara Jesse Plemons memunculkan dualisme menarik sebagai laki-laki yang omongannya seolah penuh keyakinan tetapi rautnya menguarkan keraguan. 

Baik Michelle maupun Teddy sama-sama bukan figur simpatik, dan memang tidak perlu menjadi demikian. Daripada dipusingkan soal mesti kepada siapa menaruh simpati, kita diajak mengobservasi benturan dua individu yang membawa kebenaran mereka masing-masing. Banyak terjadi aksi saling manipulasi, pun tampuk kekuasaan silih berganti, sementara musik gubahan Jerskin Fendrix terdengar menggelegar untuk menggarisbawahi betapa pentingnya obrolan yang tak ubahnya debat kusir konyol ini.

Dibanding film orisinalnya, Yorgos memilih pendekatan yang cenderung "membisukan" luapan emosi. Terkadang memang sedikit melelahkan, tapi kesabaran penonton untuk mencurahkan perhatian bakal terbayar lunas di babak ketiga. 

Ditemani lantunan sendu lagu Where Have All the Flowers Gone versi Marlene Dietrich, Bugonia menunjukkan rapuhnya manusia dengan mortalitas mereka. Kekayaan maupun kekuasaan tak ada artinya di hadapan akhir dari segalanya. Seketika timbul pertanyaan "nakal" di kepala saya: Apakah kita memang pantas dihukum akibat kegagalan mengasihi dunia, atau Sang Pencipta yang banyak dipuja sejatinya cuma entitas sadis belaka? 


(HBO MAX)

REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES

Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu. 

Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.

Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan? 

Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu. 

George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan. 

Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni. 

Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba. 

Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya. 

The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.

Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.

REVIEW - THE DEVIL WEARS PRADA 2

"Chick flick". Dahulu, istilah (seksis) tersebut kerap disematkan bagi tontonan semacam ini. Film khusus perempuan. Tidakkah laki-laki juga boleh menikmati film tentang setumpuk gaun bermerek yang dikenakan oleh protagonis perempuan seraya ia menavigasi hidup dan karirnya? Serupa pendahulunya dua dekade lalu, The Devil Wears Prada 2 memberkati mata  dengan kecantikannya, pula menyulut tawa serta memenuhi hati lewat perjalanan si tokoh utama. 

Kali pertama penonton bertemu lagi dengan Andy (Anne Hathaway), ia sedang berjalan melintasi keramaian New York. Bagaimana kamera menangkap pergerakannya, seketika mengingatkan pada pemandangan dari film-film pop 90-an dan awal 2000-an. Wajar, sebab David Frankel kembali duduk di kursi sutradara. 

Andy dihadapkan pada fakta bahwa media cetak mulai hilang termakan zaman, tatkala ia dan rekan-rekan jurnalis lain kehilangan pekerjaan secara mendadak. Di saat bersamaan, Runway yang telah beralih ke medium digital, tengah didera skandal yang mengakibatkan kredibilitas Miranda Priestly (Meryl Streep) dipertanyakan. 

Takdir bertaut. Andy direkrut sebagai editor guna mengatrol reputasi perusahaan, bertemu lagi dengan mantan bos yang dulu ia takuti, Nigel (Stanley Tucci) yang masih baik hati, berurusan dengan kekisruhan korporasi, pula bersinggungan dengan Emily (Emily Blunt) yang sekarang memegang jabatan penting di salah satu pendana terbesar Runway: Dior. Saya tersentuh oleh reuni para perempuan (plus seorang lelaki) yang sama-sama berjibaku mengejar karir masing-masing ini. 

Andy kembali ke Runway bukan lagi pesuruh Miranda, melainkan rekan yang nyaris setara. Selain karena kini ia adalah jurnalis ternama, perubahan zaman membuat Miranda bukan lagi figur "tak tersentuh" seperti 20 tahun lalu. Dia mesti menggantung mantelnya sendiri, dilarang menghina bawahan, mendapati keterbatasan biaya, bahkan terpaksa menerima disetir oleh keinginan pihak lain.

Penggambaran tersebut sesuai dengan era yang enggan menjustifikasi eksistensi atasan toksik, tapi di sisi lain, rasanya ada "mistisisme" yang lenyap. Salah satu alasan The Devil Wears Prada begitu ikonik adalah penokohan Miranda yang terpisah amat jauh dari realita manusia biasa, dan keputusan lebih mendekatkannya ke bumi atas nama tuntutan zaman agak melucuti pesona filmnya. 

Sebagai representasi era, perubahan tersebut memang diperlakukan. Era di mana jurnalisme berubah, sementara majalah mode yang dulu sakral kini direduksi menjadi konten yang publik nikmati sambil buang air. Saya merasa ulasan film pun mengalami nasib serupa. Telaah mendalam dianggap tindak berlebihan oleh publik yang lebih menggandrungi pemberian skor atau penghakiman "baik/jelek" secara instan. 

Tapi naskah buatan Aline Brosh McKenna tidak bersikap layaknya makhluk purba yang mengerdilkan paham kekinian sambil mengenang "the good ol' days." Perspektifnya cukup berimbang, dengan mengamini betapa modernisasi, sebagaimana perihal apa pun di dunia ini, punya sisi positif dan negatif. Misal di satu kesempatan saat Andy mendapati stigma buruk yang ia sematkan pada Gen Z dibantah oleh kecerdikan asistennya, Jin Chao (Helen J. Shen). 

Keresahan The Devil Wears Prada 2 terkait modernisasi cenderung dialamatkan pada fenomena hilangnya "keindahan" akibat tuntutan industri yang mengutamakan kuantitas ketimbang kualitas. Film ini ingin melestarikan keindahan seperti desain baju, karya tulis, lukisan, hingga majalah bak kitab suci, maupun seni untuk membuat segala hal tersebut. 

Jadilah dua jam penuh keindahan visual hasil persembahan baju-baju glamornya. Dunia milik kaum jetset yang mewah nan meriah. Di situlah jajaran pelakonnya berperan menginjeksi humanisme. Interaksi antara Anne Hathaway yang masih piawai mencurahkan kecanggungan, Emily Blunt yang membuat tindakan merendahkan orang lain jadi hiburan menyenangkan, dan Stanley Tucci lewat gaya deadpan andalannya, senantiasa membuat senyum saya mengembang. 

Meryl Streep tetaplah Meryl Streep. Master seni peran yang punya segudang cara untuk menyulap kalimat sederhana jadi terdengar memiliki jutaan warna. Terdapat dua peristiwa yang menangkap kelihaiannya mengolah rasa. Pertama sewaktu ia dan Tucci berbagi momen personal, kedua saat Miranda mengakui ketidaksempurnaannya sembari menjabarkan realita mengenai perempuan yang mengorbankan banyak hal demi karir. 

Miranda memang tak ubahnya monster, tapi dia berasal dari era yang menuntut perempuan bekerja dua kali lebih keras dan bersikap dua kali lebih ganas dari laki-laki supaya berkesempatan mereguk sukses. Kini waktunya bagi generasi Andy untuk memastikan bahwa perempuan di industri tidak perlu bertransformasi menjadi "Miranda 2.0" guna mencapai puncak dunia. 

Tentu saya menyadari resolusi konflik yang film ini tawarkan terkesan menggampangkan. Tapi toh saya enggan ambil pusing, sebab realitanya, andai prinsip "women support women" sungguh diterapkan secara tepat, pun perempuan memiliki lebih banyak daya dan kuasa, dunia ini dengan segala badainya memang bakal menjadi lebih gampang diarungi. 

REVIEW - PARA PERASUK

Melalui karya terbarunya, Wregas Bhanuteja enggan memandang mistisisme sebagai kekuatan jahat untuk dilawan. Sebaliknya, ia merupakan wadah perlawanan. Daripada ketidaktahuan pembawa ngeri, sifat abstrak dunia mistis dipakai melambangkan ruang bebas tanpa kekangan di mana imaji meruntuhkan batas kemustahilan. 

Para Perasuk bukan film Indonesia pertama yang melakukannya, bahkan di tahun ini. Salah satu segmen The Period of Her, yakni Serixad Patah Hati karya Linda Andriyani, menawarkan perspektif serupa. Tapi yang membuat Para Perasuk menonjol adalah bagaimana Wregas (menulis naskah bersama Alicia Angelina dan Defi Mahendra) mengekspansi konsep tersebut guna melahirkan dunia magical realism unik.

Latarnya adalah Desa Latas yang sering menggelar "Pesta Sambetan" (penggunaan kata "pesta" menekankan signifikansi acara tersebut). Di sana, peserta yang disebut "pelamun" membiarkan tubuh mereka dirasuki roh yang kehadirannya dibimbing oleh iringan musik anggota sanggar sambetan yang punya julukan "perasuk". 

Bersenjatakan tiupan selompret miliknya, Bayu (Angga Yunanda) bercita-cita jadi perasuk handal di sanggar pusat yang diketuai oleh Guru Asri (Anggun dengan tarikan suara yang seolah sanggup merobohkan dinding pemisah alam). Ketika sanggar pusat mengadakan seleksi, Bayu pun berambisi lolos demi mewujudkan cita-cita tersebut, meski harus bersaing dengan sahabatnya, Pawit (Chicco Kurniawan), juga si rival berat, Ananto (Bryan Domani). 

Persoalan finansial jadi salah satu alasan utama. Bayu meyakini bahwa tambahan uang bakal mengurungkan rencana sang ayah (Indra Birowo) menjual rumah mereka pada Wanaria, korporasi yang berencana mengubah Desa Latas menjadi area perhotelan sehingga menyulut amarah banyak warga. 

Masalahnya, Bayu belum betul-betul menguasai seni sebagai perasuk, yang oleh film ini dipakai sebagai simbol puncak pencerahan manusia setelah sanggup menyatukan jiwa dengan semesta. Perasuk andal dapat membawa kebahagiaan bagi para pelamun yang gundah. Wujud kebahagiaannya beragam, tergantung roh mana yang sedang dikerahkan. 

Momen saat pelamun mencapai kondisi trans kemudian melangkahkan kaki ke alam roh dimanfaatkan oleh Wregas dan tim artistik untuk mengeksekusi ide-ide visual kreatif. Ada kalanya humor absurd menemani perjalanan kita menyatroni alam tersebut. Kombinasi semuanya berjasa meniadakan kesan repetitif saat alurnya berkali-kali mengulangi situasi di mana Bayu gagal menjaga konsentrasi, yang mengakibatkan kekacauan kala sambetan. 

Sedangkan dari sisi pelamun, Laksmi (Maudy Ayunda), yang seketika mencuri hati Bayu, mengambil peran sentral. Sambetan merupakan eskapisme bagi Laksmi dari sebuah trauma. Medium yang memberinya tempat berlindung dari garangnya kepenatan dunia nyata, juga luka-luka yang menolak sirna. Bagi orang-orang seperti Laksmi, sambetan bukanlah parade klenik yang harus ditakuti, melainkan ruang aman yang bisa melindungi.

Tidak bisa makan enak? Roh semut bakal menghadiahkan ilusi sehingga para pelamun merasa mereka sedang menyantap hidangan mewah. Ada pula roh bulus yang melindungi dari rasa sakit, juga roh kutu yang memberi kemampuan melompat luar biasa tinggi bak manusia super, seolah membebaskan pelamun dari belenggu realita. Roh hewan-hewan yang sekilas remeh, dalam aktivitas yang oleh para skeptis jadi sasaran olok-olok, nyatanya ampuh selaku pelipur lara.

Wregas berhasil menenggelamkan dalam semesta magisnya yang menghipnotis, berkat bangunan dunia yang memperhatikan detail secara serius. Dunianya memang sarat keajaiban fantastis, namun subteks di baliknya kaya akan cerminan realis. Pembangunan tamak disentil, begitu pula arogansi manusia ibukota yang terlampau mendewakan logika mereka hingga punya tendensi mengerdilkan paham-paham spiritual. 

Proses Bayu dan Laksmi kelak bakal mendorong mereka jatuh dalam titik nadir, tatkala masing-masing lalai bahwa semenyenangkan apa pun sebuah eskapisme, masih ada kenyataan yang wajib dihadapi. Ambisi mengaburkan mata Bayu, sementara luka tak tertahankan di hati Laksmi membuat aktivitas rekreasional melenceng ke arah adiksi. Lewat akting mereka, Angga Yunanda dan Maudy Ayunda menjembatani emosi antara persoalan dua insan tersebut, dengan penonton yang direpresentasikan realitanya. 

Selepas perjalanan dua protagonisnya mengambil arah yang cenderung kelam, pilihan konklusi Para Perasuk mungkin terkesan naif. Apalagi Wregas (sebagaimana tampak di Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti) punya tendensi menuang banyak pemanis berupa dramatisasi berkadar tinggi di sela presentasi yang cenderung artsy. 

Untungnya pendekatan di atas masih sejalan dengan intensi Para Perasuk, yang ingin mengajak penonton merasakan kebahagiaan sembari menemukan cahaya harapan. Filmnya berhasil mengingatkan tentang betapa budaya mistis negeri ini begitu kaya, sehingga semestinya tidak melulu dipakai menakut-nakuti, tapi juga diresapi sebagai cara menjalin keselarasan antara semesta dengan diri kita sendiri. 

REVIEW - THE DRAMA

Sejauh mana kita bisa menoleransi masa lalu pasangan? Bagaimana kita mesti merespon saat mendadak rahasia kelamnya tersingkap? The Drama karya Kristoffer Borgli mengkaji problematika tersebut, dan bagi saya film ini penting ditonton oleh kalian yang berencana mengucap janji suci untuk menghabiskan seumur hidup bersama sosok tercinta.

Seminggu lagi Emma (Zendaya) dan Charlie (Robert Pattinson) akan menikah. Seluruh persiapan tengah dimatangkan. Dibantu sahabatnya, Mike (Mamoudou Athie), Charlie menyusun pidato mengenai ragam hal berkesan dalam hubungan mereka, termasuk indahnya pertemuan pertama. 

Emma kebingungan. Supaya menghindari kesamaan topik, ia harus mencari pokok bahasan lain. Peristiwa mana saja yang dapat ditulisnya? Charlie tidak cukup peka guna menyadari kegundahan si calon istri, terus melanjutkan tulisan tanpa membuka ruang diskusi. Egoisme itulah yang kelak jadi bibit ancaman di hubungan keduanya. 

Suatu malam, bersama Mike dan istrinya, Rachel (Alana Haim), dua protagonis kita terlibat obrolan mengenai hal terburuk yang mereka pernah perbuat. Mike menjadikan mantan pacarnya sebagai "tameng" menghadapi serangan anjing. Mendengar itu, forum tertawa. Rachel pernah seharian mengurung anak berkebutuhan khusus dalam lemari. Lagi-lagi semua tertawa. Charlie bercerita soal perundungan secara daring terhadap teman sekelasnya. Sekali lagi forum tidak ambil pusing.

Tapi begitu Emma mengakui rencana melakukan penembakan semasa SMA yang urung ia eksekusi, kecanggungan seketika menyeruak. Amarah Rachel meledak karena sepupunya pernah jadi korban penembakan, sedangkan si calon suami hanya bisa terpana. 

Hari-hari Charlie mulai dihantui asumsi liar. Tindakan-tindakan Emma terdahulu yang sebelumnya nampak remeh kini ia kaitkan dengan psikopati. Rangkaian imajinasi absurd yang dipoles memakai surealisme khas Kristoffer Borgli memenuhi kepalanya. Insekuritas serta rasa tidak percaya sejatinya merupakan reaksi yang wajar muncul pasca terungkapnya sebuah dusta. Selanjutnya tinggal bagaimana proses saling memahami berlangsung.

Borgli menggambarkannya sebagai proses yang luar biasa kacau. Gaya bercerita dan penyuntingannya yang sarat lompatan ekstrim mewakili dinamika psikis protagonisnya yang tengah kalut akibat terus diombang-ambingkan asumsi. Liar, kacau, tapi efektif membuat filmnya tampil bertenaga sekaligus menyenangkan. 

Daya hibur pun The Drama bakal tereskalasi secara signifikan bagi penonton yang cocok dengan humor-humor gelap yang sudah Borgli siapkan. Hal-hal seperti penembakan massal di sekolah, pelecehan, hingga perundungan disentil, tapi The Drama tidak terkesan ofensif karena sang sutradara bukan mengajak penonton menertawakan isu-isu di atas, melainkan kecanggungan kala sederet pokok bahasan tadi gagal diperbincangkan dengan tepat. 

Kecanggungan itu turut disampaikan dengan apik oleh dua pelakon utamanya: Robert Pattinson dengan kekikukan dan ketakpastian dalam tiap sikapnya (mengonfirmasi ketepatan akting sang aktor, saya memiliki teman yang bertutur serta bergestur sama persis dengan Charlie), sementara Zendaya membuat Emma bak nakhoda tangguh yang berjuang menyetir hubungannya agar tidak karam lewat upayanya menepis kecanggungan. 

Tidak semua humornya bekerja maksimal. Momen pidato Charlie di pesta pernikahan selaku klimaks cerita yang bergulir bagai detik-detik menuju kecelakaan mematikan memang menggelitik, pula efektif menyulut kecemasan, namun kebodohan tingkah karakternya cenderung dipaksakan. Charlie memang egois, canggung, senantiasa cemas, tapi filmnya gagal membuat saya percaya ia sanggup berkelakuan SEBODOH ITU.

Ada satu poin luput Borgli soroti. Berdasarkan statistik seputar penembakan massal di Amerika Serikat dari tahun 1982 hingga 2026, 54,7% di antaranya dilakukan oleh kulit putih, sementara persentase pelaku kulit hitam hanya 16,9%. Persoalan ras dalam fenomena memprihatinkan tersebut (Adakah perbedaan penyebab antar ras? Apakah rasisme turut berkontribusi? Apa yang membedakan Emma dengan sejawatnya sampai kepalanya mencetuskan ide gila?) sayangnya tidak film ini telusuri. 

Tapi toh bukan ganjalan besar, sebab The Drama memang memilih untuk lebih fokus pada tahap-tahap yang individu lalui kala memproses realita mengejutkan tentang pasangan (atau teman dan kerabat) yang baru diketahui secara mendadak. Jadi, seberapa jauh bersedia menerima sisi kelam cinta sejatimu?

REVIEW - GHOST IN THE CELL

Ghost in the Cell adalah persembahan yang menunjukkan kepercayaan diri seorang sineas sekaligus bentuk pendewasaan. Bukan dikarenakan hadirnya ketenangan pikir atau kontrol diri. Sebaliknya, kontrol itu justru dienyahkan, sebab sang sineas, setelah bertahun-tahun ditempa proses berkarya, sampai pada kesadaran penuh bahwa sinema tidak terjebak dalam pakem saklek apa pun. 

Joko Anwar merobohkan kurungannya. Enggan memusingkan keruwetan sensor perihal kevulgaran (bahkan sempat menjadikannya candaan), pula secara lantang meneriakkan keresahan terhadap figur-figur bangsa yang polahnya memang semakin meresahkan. 

Penjara sebagai latar pun merupakan pilihan masuk akal. Dikepalai oleh Sapto (Kiki Narendra) dengan Jefry (Bront Palarae) selaku tangan kanan, alih-alih pembinaan, lapas tersebut malah melahirkan lumbung kriminalitas baru. Pelecehan, penghilangan nyawa, hingga bisnis narkoba berjalan bebas. Di kalangan napi, Rendra (Yuhang Ho) si mafia menancapkan kuasanya, dibantu nama-nama seperti Tokek (Aming Sugandhi) dan Bimo (Morgan Oey) yang amat ditakuti. 

Napi yang tak punya kuasa menggantungkan keselamatan mereka di pundak Anggoro (Abimana Aryasatya), figur karismatik yang tidak pandang bulu mengulurkan pertolongan, kendati itu membuatnya dihajar sipir, dijebloskan dalam sel isolasi, atau paling parah, urung diberi remisi. 

Eksistensi perempuan nihil di sini. Beberapa napi diceritakan memiliki istri atau pacar namun wajah mereka tak pernah ditampakkan. Joko bak hendak memotret wajah dunia tanpa perempuan yang bermuara pada kekacauan, sebab pertumpahan darah rutin jadi solusi permasalahan. 

Lalu datanglah Dimas (Endy Arfian) si napi baru. Seorang jurnalis yang dituduh membunuh bosnya secara sadis. Setibanya di lapas, Irfan (Dimas Danang Suryonegoro), salah satu kawan Anggoro, bertugas menangani masa orientasi Dimas, dengan memperkenalkannya pada seluk-beluk penjara. Terpecah dalam kelompok apa saja napi di sana? Siapa yang mesti diwaspadai? Hal-hal semacam itu.

Momen tersebut jadi salah satu medium Joko menumpahkan keluh kesah yang terlampau berisiko bila diutarakan di media sosial. Tidak satu pihak pun luput ia sentil, dari politikus dan koruptor (perlukah dibedakan?) busuk, selebritas bermasalah, kegemaran warganet terhadap keributan, kaum ekstrimis yang mabuk agama, dan masih banyak lagi. Banyak penonton berbagi keresahan serupa, terbukti dari keriuhan di studio tiap film ini melempar sindirannya. Joko memanfaatkan potensi sinema sebagai wadah bersuara secara maksimal.

Nantinya diperkenalkan pula karakter Prakasa (Arswendy Bening Swara), salah satu penghuni blok koruptor yang selnya bakal membuat hotel mewah nampak minim fasilitas. Nama lengkapnya Prakasa Kitabuming. Semasa muda ia adalah aktivis penentang rezim otoriter, yang di salah satu aksinya turun ke jalan, terlihat memiliki rambut agak panjang dan mengenakan kemeja biru. Tidak sulit menerka siapa saja sosok dunia nyata yang karakter Prakasa parodikan. 

Anehnya, pasca kedatangan Dimas, penjara mulai dihadapkan pada serangkaian peristiwa mencekam. Satu demi satu napi ditemukan tewas mengenaskan. Mayat mereka dipotong-potong, lalu disusun layaknya instalasi seni buatan seniman sakit jiwa. Benarkah pelakunya hantu? Apakah masing-masing TKP mewakili simbol tertentu? Tujuh dosa besar mungkin? Atau elemen-elemen penyusun alam (air, api, udara, dll.)?

Teori niscaya akan beredar, yang mana merupakan rutinitas tiap karya terbaru Joko rilis. Tapi semua sebatas spekulasi. Satu hal pasti, kreativitas sang sutradara mencapai puncaknya di sini. Bukan sekadar menggelar parade kekerasan tanpa arti serta cita rasa, Joko seolah menginisiasi pameran seorang seniman yang tak lagi kuasa menahan segala luka batinnya. Unik, menyakitkan, mencengangkan, namun tidak lalai menyulut rasa kagum. 

Terasa betul Joko sedang bersenang-senang. Selain sadisme over-the-top yang mengembalikan ingatan akan betapa menyenangkannya menikmati b-movie (tidak mengejutkan jika Joko termasuk penggemar judul-judul seperti Riki-Oh: The Story of Ricky), humor juga dijadikan amunisi. 

Humornya luar biasa konyol. Karakternya kerap tiba-tiba berkelakuan bodoh di tengah polemik serius, situasi mencekam bisa mendadak banting setir ke arah kejenakaan absurd. Joko meninggalkan tuntutan bermain aman khas arus utama. Kebakuan pola bercerita yang kadang terlalu memuja logika turut dikesampingkan. Kendati penuh momen bodoh, Ghost in the Cell bukan wujud kedunguan, melainkan kebebasan dari kekangan.  

REVIEW - READY OR NOT 2: HERE I COME

Alasan Ready or Not 2: Here I Come punya daya hibur tinggi adalah karena Grace (Samara Weaving) selaku protagonis bak menyikapi pertumpahan darah di sekitarnya sebagai bentuk katarsis untuk meledakkan rasa frustrasi terhadap dunia yang semakin gila. Seolah ia menikmati aktivitas diburu, sama besar dengan orang-orang yang memburunya. 

Pasca peristiwa di Ready or Not (2019), Grace dibawa ke rumah sakit dalam kondisi masih bersimbah darah, sementara alurnya menghabiskan sekitar 10 menit pertama untuk merekap cerita sebelumnya. Kemudian, bukannya memberi pertolongan, polisi justru menjadikan Grace tersangka dalam pembantaian di kediaman Keluarga Le Domas.

Naskahnya enggan berlarut-larut menenggelamkan penonton dalam tetek bengek salah paham membosankan. Nyawa Grace segera jadi incaran lagi, selepas diungkap bahwa Le Domas merupakan bagian dari dewan yang turut diisi oleh enam keluarga lain. Seluruhnya menyembah Mr. Le Bail, dan akibat keberhasilan Grace bertahan hidup dari ritual persembahan, terjadilah kekacauan. Permainan "petak umpet maut" harus kembali digelar, dengan Ursula (Sarah Michelle Gellar) dan Titus (Shawn Hatosy) dari Keluarga Danforth bertindak selaku tuan rumah.

Di luar konsep dunianya yang kentara diperluas memakai cocoklogi dadakan (awalnya ide cerita film ini hendak dikembangkan oleh duo sutradaranya, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, sebagai karya orisinal di luar semesta Ready or Not) sehingga penuh kesan asal, secara garis besar, sekuel ini masih mengulangi formula pendahulunya. 

Aktivitas petak umpet generik direpetisi oleh naskah buatan Guy Busick dan R. Christopher Murphy, pun tatkala banyak sekuel datang dengan ambisi tampil lebih besar (atau lebih brutal di konteks horor bertema pembunuhan) Ready or Not 2: Here I Come menumpahkan darah dalam kuantitas yang tak jauh beda. 

Hanya saja kali ini Grace tidak sendirian. Sang adik, Faith (Kathryn Newton), yang sudah bertahun-tahun tak ia temui juga ikut terseret. Setiap aksi kejar-kejarannya menginjak pedal rem sejenak, pertengkaran kakak-beradik ini gantian mengisi sorotan utama. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam perihal dinamika keluarga disfungsional. Kompleksitas dan substansi tidak eksis dalam kamus waralaba Ready or Not. Sekuelnya ini cuma mengusung satu tujuan, yakni mengulangi formula kemenangan film pertama.....dan ia berhasil. 

Kendati tak seberapa brutal pula sebatas pengulangan pakem, pengarahan bertenaga dari Bettinelli-Olpin dan Gillett mampu menjaga daya hibur petak umpetnya. Enam keluarga elit yang memburu dua protagonisnya sama sekali tidak cakap perihal merenggut nyawa, karena berbeda dengan Grace yang berpengalaman memainkan permainan brutal tersebut, mereka hanya sekelompok orang kaya manja, yang merasa berhak mewarisi segala harta serta kuasa tanpa perlu mengasah kemampuan. Tidak jauh beda dengan situasi dunia nyata. 

Humornya pun bekerja dengan baik. Bettinelli-Olpin dan Gillett tanpa rasa takut mencurahkan semangat penolakan terhadap keseriusan berlebih khas sinema kelas B, dengan acap kali secara sengaja menggandakan kebodohan barisan karakternya, juga kekonyolan situasi yang mereka lalui. Tengok baku hantam ugal-ugalan antara Grace dan Francesca (Maia Jae) yang melibatkan kebutaan temporer akibat semprotan merica.

Lalu ada Samara Weaving. Matanya yang melotot tajam ke arah pusat kegilaan, celetukan sinis dan selera humor gelapnya yang enggan menyisakan ruang bagi kelemahan, hingga bagaimana karakter yang ia perankan sanggup mendorong kapasitas fisiknya sampai ke batas maksimum selepas mengalami beragam luka, menjadikan sang aktris ujung tombak dari semua huru-hara sarat hura-hura ini.

Bukannya sama sekali tidak takut, tapi alih-alih membiarkan dirinya dikerdilkan, Grace memilih menertawakan siksaan yang dialaminya. Memasuki babak ketiga, Samara Weaving meninggikan derajatnya. Bukan lagi scream queen biasa yang dikejar-kejar teror entitas mengerikan, melainkan figur yang menjulang tinggi sembari bertitah dengan teriakan karismatik, bak ratu iblis yang membiarkan dunia luluh lantah oleh api amarahnya. 

REVIEW - TUNGGU AKU SUKSES NANTI

Tunggu Aku Sukses Nanti karya Naya Anindita adalah perayaan bagi mereka yang tidak bisa memandang Lebaran sebagai perayaan, akibat keluarga yang semestinya menyediakan sistem pendukung justru ogah merayakan perjuangannya. 

Montase tahun-tahun lebaran mengawali observasi kita terhadap hidup Arga (Ardit Erwandha), yang merangkum secara efektif dinamika keluarga besar si protagonis: Ayah dan ibu yang diremehkan akibat kesulitan finansial; sepupu yang gemar memamerkan kesuksesan, tante-tante yang tak pernah kehabisan bahan sindiran, hingga para om yang menjadikan teras sebagai "markas perokok".

Banyak dari kita bakal merasakan familiaritas dari potret tersebut. Dilandasi naskah buatan Evelyn Afnilia, Naya memang sengaja mendesain keluarga Arga bak keluarga kebanyakan masyarakat Indonesia. 

Salah satu yang dikedepankan adalah perihal sosok menyebalkan bernama Tante Yuli (Sarah Sechan), dengan segala ocehan tentang belum berhasilnya si ponakan memperoleh pekerjaan. Arga dituding kurang keras berusaha. Pastinya ada "Yuli-Yuli" dalam hidup kita, entah dalam wujud tante juga, om, bude, atau pakde, yang senantiasa hadir membawa sindiran pedas, seolah menghancurkan Lebaran para kerabat dengan menabur luka merupakan misinya. 

Arga berambisi membungkam Tante Yuli. Dia pun ingin segera bisa membantu perekonomian keluarga, setelah ayahnya (Ariyo Wahab) kehilangan pekerjaan dan mesti mencari nafkah sebagai ojol, sedangkan usaha warung mie ayam ibunya (Lulu Tobing) tak kunjung berkembang. 

Tapi Arga sendiri bukan manusia sempurna, dan karena itulah karakternya terasa dekat. Sebagaimana dikeluhkan Fanny (Fita Anggriani Ilham) dan Wicak (Reza Chandika), dua sahabat yang setia mendengarkan keluh kesahnya, Arga memang kurang cerdik dalam berjuang. Bagaimana tidak? Dia cuma mengirim satu lamaran kerja, hanya karena bingung, apa jadinya bila melamar di banyak tempat dan seluruhnya diterima. 

Singkat cerita Arga berhasil diterima bekerja di perusahaan properti. Begitu gaji serta bonus perdananya turun, ia segera mengecek saldo tabungan yang seketika melonjak dari 1,2 juta menjadi 32 juta. Momen tersebut mendapat respon riuh dari penonton. Film ini memang bakal menghasilkan kedekatan ekstra bagi mereka yang rutin memeriksa isi saldo guna mengatur keuangan sehari-hari sampai hafal betul jumlahnya. 

Tunggu Aku Sukses Nanti tahu betul pengalaman target penontonnya, kemudian menjadikan itu sebagai bahan memilah skenario kejadian apa saja yang perlu ditampilkan, juga pemandangan yang harus ditangkap oleh kamera untuk memantik dampak emosional (pelukan keluarga misalnya). Terkesan kalkulatif alih-alih menguarkan aroma kebebasan berekspresi? Mungkin, tapi kalkulasinya dilangsungkan dengan cermat. 

Departemen aktingnya turut berjasa besar menghantarkan rasa, dari Ardit Erwandha lewat ekspresi sarat pahit-manis realita kaum kelas menengah, Lulu Tobing beserta reaksi harunya kala sang putra sulung membagi gaji pertamanya, hingga Niniek L. Karim sebagai nenek yang diam-diam menangis di balik bahu si cucu kesayangan yang dipeluknya.

Satu hal yang agak disayangkan adalah keputusan filmnya bermain aman kala menjustifikasi perangai buruk anggota keluarga, dengan mengungkapnya sebagai kasih sayang yang disalahartikan. Realitanya tidak semua kerabat menyebalkan menyimpan intensi baik semacam itu. Tapi saya memahami pilihan tersebut. Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film lebaran arus utama yang dituntut mengambil jalan tengah dengan mengamini nilai luhur kekeluargaan, guna merebut hati penonton seluas mungkin.

Tapi saya kesulitan menerima cara naskahnya memaksakan diri melempar konflik terkait pemecatan yang Arga alami. Sebagai aset terbesar yang selalu mendatangkan keuntungan tertinggi, bagaimana mungkin pihak perusahaan begitu saja memercayai fitnah bodoh yang demikian mudah dicari kebenarannya? Resolusi yang ditawarkan di penghujung durasi pun terlampau bergantung pada kebetulan magis, sehingga malah mengkhianati tujuan filmnya melukis realita.

Tunggu Aku Sukses Nanti bukan sebuah karya yang sempurna, tapi tidak ada film yang lebih sempurna untuk ditonton bersama keluarga di tengah suasana Idul Fitri. Tatkala di momen penutupnya Arga menyunggingkan senyum seiring tetesan air matanya membasahi pipi, dada saya pun dibuat sesak oleh kenangan suka-duka dari tahun demi tahun Lebaran bersama keluarga yang tiba-tiba menyeruak.