REVIEW - THE SHEEP DETECTIVES
Kendati mendapat ulasang sangat positif, The Sheep Detectives tidak bakal berseliweran di musim penghargaan, maupun meraup pendapatan hingga ratusan juta dollar. Tapi suatu hari, entah berapa tahun lagi, akan ada orang yang iseng-iseng menontonnya di layanan OTT atau siaran televisi Minggu pagi, kemudian terhipnotis oleh pesonanya, atau bahkan menjadikan adaptasi novel Three Bags Full karya Leonie Swann ini sebagai "comfort movie" mereka. Tipikal film semacam itu.
Awalnya semua berlangsung damai sebagaimana biasa di kota kecil bernama Denbrook. George Hardy (Hugh Jackman), si gembala yang mengisolasi diri di antara hijaunya padang rumput pinggiran kota, mengabdikan hidup untuk merawat domba-domba miliknya. Makanan serta obat-obatan tak pernah lalai ia berikan, pula afeksi, termasuk kala tiap sore membacakan novel misteri di hadapan para domba yang seolah memperhatikan dengan takzim.
Satu jenis peran yang mampu Hugh Jackman lakoni secara meyakinkan selain jagoan super kekar nan tangguh adalah figur laki-laki penyayang. Kehangatan terpancar dari sorot matanya. Tapi tentu domba-domba tersebut hanya peduli soal mengisi perut dan tak memahami cinta sang gembala bukan?
Salah! Sebagaimana film tentang dunia hewan lain, terungkap kalau domba-domba ini lebih cerdas dari yang manusia tahu. Mendiskusikan cerita whodunit yang George bacakan jadi salah satu hal rutinitas, kendati cuma Lily (Julia Louis-Dreyfus) alias si "domba terpintar di dunia" yang senantiasa berhasil memecahkan misterinya. Tapi semuanya menyayangi George. Sehingga saat suatu pagi tubuh George ditemukan tak lagi bernyawa, Lily dan teman-teman merasa wajib menyibak tirai kebenaran mengenai tragedi itu.
George dibunuh memakai racun. Dari situlah kita diajak semakin jauh berkenalan dengan warga Denbrook lain, dan persis seperti yang bisa diharapkan dari "film Inggris" atau "film whodunit" atau "film whodunit Inggris", The Sheep Detectives punya segudang karakter unik, dengan beberapa yang paling menonjol antara lain Tim (Nicholas Braun) si polisi bodoh, Caleb (Tosin Cole) yang juga seorang gembala, Beth (Hong Chau) si pemilik penginapan, hingga Elliot (Nicholas Galitzine) si reporter yang datang untuk meliput festival kebudayaan.
Tapi yang menjadikan presentasi The Sheep Detectives terasa spesial adalah penokohan penuh warna bagi makhluk dalam peternakan, yang biarpun punya segudang perilaku absurd, eksistensinya nampak nyata berkat perpaduan penulisan dengan kualitas CGI mumpuni.
Domba-domba ini bukan semata karakter komputer tanpa jiwa. Interaksi mereka acap kali menggelitik berkat selipan humor eksentrik khas sinema Britania dalam naskah buatan Craig Mazin, pun secara mengejutkan, terselip hati yang besar di tengah dinamika para hewan berbulu yang konon punya kompleksitas emosi ini. Sehari sebelumnya, saya menonton Gohan yang memperlakukan seekor anjing dengan penuh cinta, dan di sini, Kyle Balda selaku sutradara menaruh sikap serupa terhadap domba.
Alurnya juga mengandung setumpuk pesan yang dapat berguna bagi pembelajaran anak, sekaligus menghadirkan perenungan untuk penonton dewasa: Menelaah konsep kematian yang muncul dari bagaimana para domba percaya jika mereka akan berubah menjadi awan sewaktu hidup telah menemui akhir, proses memberanikan diri menghadapi rasa sakit (para domba digambarkan cenderung memilih menghapus memori mereka bila terjadi peristiwa memilukan), sampai perihal keberagaman yang diwakili oleh diskriminasi yang diterima anak domba apabila lahir di musim dingin alih-alih musim semi seperti rekan-rekannya.
The Sheep Detectives adalah film keluarga yang sempurna. Penonton bakal dengan senang hati memaafkan andai elemen misterinya digarap setengah-setengah. Hebatnya, itu tidak terjadi, sebab filmnya berhasil melahirkan whodunit berkelas. Sepanjang 109 menit, The Sheep Detectives rutin menebar remah-remah misteri, sembari secara aktif melibatkan kita dalam proses investigasi.
Narasi George saat membacakan surat yang sedang ia tulis dipakai mengawali penceritaan. Kepada siapa surat tersebut dialamatkan? Pertanyaan sederhana tersebut merupakan lapisan pertama misterinya, yang akan dikupas secara berkala, untuk kemudian mengungkap misteri-misteri lain yang jauh lebih besar. The Sheep Detectives mungkin bukan "film terhebat tahun ini" tapi ia jelas salah satu yang paling komplet.
REVIEW - THE THINGS YOU KILL
Film dibuka dengan gambar kabur yang baru menemukan fokusnya setelah beberapa detik. Bukan suatu kealpaan teknis. Pemandangan tersebut mengingatkan pada tahap-tahap saat kita membiasakan diri dengan realita sewaktu baru terbangun setelah terlelap, sebab melalui The Things You Kill, Alireza Khatami berniat memaparkan proses individu berjuang untuk lepas dari mimpi buruknya.
Ali (Ekin Koç), seorang profesor bidang literatur, merupakan individu yang dimaksud. Kendati jauh dari derita, terdapat beberapa ganjalan dalam kehidupannya. Pertama, rumah tangga Ali bersama Hazar (Hazar Ergüçlü) belum juga dikaruniai momongan. Kedua, hubungan buruk dengan sang ayah, Hamit (Ercan Kesal), sebab menurut Ali, ia memperlakukan ibunya, Sakine (Güliz Şirinyan), yang sakit-sakitan dengan buruk.
Suatu hari datanglah kabar duka. Sakine meninggal akibat terjatuh di rumah, dan Ali curiga ayahnya bertanggung jawab. Kecurigaan itu ia sembunyikan dari Hazar, namun justru dibagikannya pada Reza (Erkan Kolçak Köstendil), pria yang baru Ali kenal sewaktu tiba-tiba muncul dan melamar sebagai tukang kebun.
Di salah satu kelasnya, Ali mendiskusikan bahwa akar kata Bahasa Arab dari "translate" adalah "rajam" alias "to kill". Aktivitas menerjemahkan tidak lepas dari transformasi. Sebuah kata mengalami transformasi bunyi, bahkan makna, bila melewati alih bahasa. Alireza Khatami menerapkannya ke konteks transformasi manusia, melempar argumen bahwa seseorang perlu "membunuh" (tentunya tidak secara literal) agar dapat berubah.
Ali perlu mengubah dirinya yang sadar atau tidak, tumbuh dengan dibentuk oleh paham patriarki yang menghalangi laki-laki untuk terbangun dari delusi maskulinitas. Alhasil, laki-laki cenderung ogah membuka diri, yang acap kali dipandang sebagai tanda kerapuhan, bahkan di hadapan pasangan. Sebutan "tidak jantan" pun amat ditakuti. Itulah alasan Ali menyembunyikan hasil tes yang mengungkap adanya kelainan di spermanya.
Alireza Khatami dengan teliti menelanjangi betapa beracunnya pemujaan atas maskulinitas. Laki-laki malu bercerita, namun tidak pernah ragu melampiaskan amarah mereka terhadap perempuan. Lucunya, mungkin atas dasar "bro code", Ali begitu gampang berkeluh kelah di depan Reza yang baru saja ia kenal.
Diskusi Ali dan Reza mengawali tahap alurnya bertransformasi membentuk tatanan sureal yang bertindak selaku simbol eksistensi wajah kelam dalam benak manusia. Naskahnya begitu apik mengonstruksi misteri, sehingga teka-tekinya efektif memancing keinginan penonton untuk turut serta menguraikan anomali seputar mimpi buruk yang bersemayam di hati protagonisnya.
Ali takut sekaligus benci pada ayahnya, akibat kenangan buruk semasa kecil. Sewaktu ia akhirnya bersedia mengutarakan kegundahan tersebut, sekali lagi gambar yang tadinya sempat memburam mulai menemukan fokus, menandai keberhasilan si tokoh utama terbangun dari mimpi buruk. Masalahnya, kadang seseorang justru menjadi sesuatu yang ia benci/takuti, apalagi jika melibatkan persoalan pola asuh orang tua. Semakin keras ia menampik, malah semakin mendekat pula hal itu.
Sang sutradara mengarahkan rangkaian penelusuran di atas dengan kerapian luar biasa. Dibuatnya The Things You Kill mencengkeram secara perlahan lewat kepiawaian membangun intensitas tanpa bergantung pada trik-trik murahan. Babak terakhirnya tampil mencekam, saat Khatami menyoroti betapa mengerikannya ketika kita menatap wajah mimpi buruk yang bisa jadi bakal selalu terulang. Tapi toh kita tetap mesti menghadapinya, agar terlepas dari perangkap stagnasi untuk kemudian bertransformasi.
(Klik Film)
REVIEW - WAKE UP DEAD MAN: A KNIVES OUT MYSTERY
Melalui Wake Up Dead Man, seri Knives Out kembali menunjukkan bagaimana whodunit modern semestinya dibuat. Misteri bertempo tinggi sarat kejutan yang kaya akan nuansa bersenang-senang lewat eksplorasi teknis bergaya, karakter penuh warna, pula penceritaan progresif yang punya sesuatu untuk diutarakan alih-alih sekadar parade kejeniusan sesosok detektif sombong.
Kali ini takdir membawa Benoit Blanc (Daniel Craig) mengusut kasus pembunuhan di sebuah paroki pedesaan. Tapi secara berani, Rian Johnson selaku sutradara sekaligus penulis naskah baru memunculkan sang detektif selepas durasi menginjak menit ke-40. Berhiaskan cara-cara jenaka yang terkadang mengingatkan ke gaya bercanda Wes Anderson, kita lebih dulu berkenalan dengan para penghuni paroki.
Jud Duplenticy (Josh O'Connor) adalah mantan petinju yang kini alih profesi menjadi pendeta muda. Dia baru ditugaskan sebagai asisten bagi Monsinyur Jefferson Wicks (Josh Brolin), selaku pemimpin dari paroki yang dinamai Our Lady of Perpetual Fortitude itu. Ada pula Martha Delacroix (Glenn Close), tangan kanan Monsinyur Wicks yang telah mengenalnya sejak kecil.
Segera saja Jud menyadari berbagai keanehan di sana, termasuk perihal khotbah berapi-api sarat pesan kebencian yang tiap minggu Wicks lontarkan. Biarpun cuma segelintir jemaat tersisa, nyatanya mereka amat setia, bahkan bak mengultuskan sang monsinyur.
Para jemaat terdiri atas sekelompok individu menarik: Nat (Jeremy Renner) si dokter yang tenggelam dalam alkohol pasca ditinggalkan istrinya, Vera (Kerry Washington) si pengacara beserta anak angkatnya, Cy (Daryl McCormack) si politikus gagal, Lee (Andrew Scott) yang novelnya tak lagi digandrungi pembaca, dan Simone (Cailee Spaeny) yang terpaksa berhenti menjadi pemain celo akibat cacat fisik.
Setelahnya mayat ditemukan, TKP menyiratkan sebuah kejahatan mustahil, dan atas persetujuan Geraldine (Mila Kunis) selaku polisi setempat, Benoit Blanc pun turun tangan memandu penonton memungut remah-remah petunjuk dalam kereta misteri yang dibawa melaju kencang oleh Rian Johnson. Gerbong-gerbongnya tak pernah kosong, selalu diisi tanda tanya, kejutan, humor, atau momen-momen menyenangkan lain.
Wake Up Dead Man tidak melulu tampil serius, kendati digarap dengan luar biasa serius. Pecinta whodunit akan mudah menangkap setumpuk referensi yang Johnson pakai, tidak terkecuali salah satu karya paling legendaris dari Agatha Christie yang telah mengajarkan banyak pembaca untuk mencurigai siapa saja, termasuk sang narator.
Misteri tetap jadi bahan baku utama, namun Wake Up Dead Man menaburkan bumbu penyedap berupa olahan dinamika Benoit Blanc dan Jud Duplenticy. Sekilas keduanya mewakili kutub berlawanan. Jud selaku pendeta tentunya mengutamakan religiositas, sementara Blanc menolak eksistensi Tuhan. Pada pertemuan pertama keduanya, Johnson memperkenalkan motif visual menarik: cahaya.
Semburat sinar surya menghangatkan paroki melalui sela-sela jendela. Selepas Blanc mengutarakan skeptismenya, cahaya itu secara subtil meredup, lalu pelan-pelan menggelap, sebelum kembali benderang seiring Jud menyampaikan sudut pandangnya perihal spiritualitas.
Motif visual di atas diterapkan dengan lebih gamblang di klimaksnya, yang bukan sekadar ajang pamer deduksi penuh eksposisi, pula puncak dari eksplorasi naskahnya mengenai keimanan. Alhasil, selain Daniel Craig yang masih piawai menyulap presentasi hipotesis jadi monolog memikat, jajaran pelakon lain, khususnya Josh O'Connor dan Glenn Close, turut kebagian kesempatan memamerkan akting emosional mereka.
Wake Up Dead Man bukan hendak mengadu believer dengan non-believer. Sebaliknya, misteri pembunuhan ini merupakan panggung bagi kedua sisi untuk saling melengkapi, dengan mementingkan kebaikan di atas sikap egosentrik yang hanya memedulikan perlombaan tentang "Siapa paling benar?".
(Netflix)
REVIEW - AGAK LAEN: MENYALA PANTIKU!
Di tengah industri yang kerap memperlakukan genrenya bagai entitas kelas dua, Agak Laen: Menyala Pantiku! memberi definisi sejati terhadap istilah "blockbuster comedy". Bukan asal mencanangkan ambisi sampai membuatnya kehilangan identitas, tapi penegas bahwa komedi, di luar tugasnya sebagai spektakel pengocok perut, juga patut digarap secara sungguh-sungguh di segala lini, dari penceritaan hingga artistik.
Tahun lalu film pertamanya mengumpulkan lebih dari 9 juta penonton, dan sejak adegan pembuka berbentuk aksi bombastis, Muhadkly Acho selaku sutradara sekaligus penulis naskah, memastikan profit menggunung itu dimanfaatkan sebaik-baiknya. Perhatikan berbagai pilihan shot di sepanjang durasinya yang mencuatkan kesan "lebih mahal".
Sebagaimana semesta sinema Warkop DKI dahulu bekerja, Menyala Pantiku! tak punya kaitan dengan pendahulunya. Oki Rengga, Boris Bokir, Bene Dion Rajagukguk, dan Indra Jegel masih memerankan versi fiktif diri mereka, namun bukan sebagai pemilik rumah hantu, melainkan detektif kepolisian. Bukan pula detektif kepolisian biasa. Mereka berempat di ambang pemecatan akibat berkali-kali salah menangkap buronan.
Walau berbeda, pondasinya masih serupa film pertama. Kuartet jagoan kita tetap bergelut dengan masalah finansial keluarga, di mana kali ini Boris yang tengah menjalani proses perceraian, menerima tongkat estafet dari Oki untuk dijadikan figur sentral. Komparasi lain dapat ditemukan, yang bisa menciptakan identitas menarik bagi waralaba layar lebar ini, selama tak terjatuh menjadi repetisi di kemudian hari.
Setup-nya memerlukan waktu, tapi daya bunuh komedinya mulai menyala begitu para tokoh utama ditugaskan dalam misi penyamaran ke sebuah panti jompo, yang ditengarai jadi lokasi persembunyian seorang pelaku pembunuhan. Para lansia penghuni hingga jajaran karyawan, tidak ada yang lolos dari kecurigaan.
Ceritanya tidak mendobrak pakem police procedural, namun dipaparkan begitu rapi, menolak terlampau bersikap semau sendiri atas nama komedi, sembari disisipi misteri ringan berbasis aksi tebak-tebakan tentang identitas si pelaku pembunuhan, yang cukup untuk membawa alurnya terus menarik perhatian. Acho terlebih dahulu memastikan hal-hal filmis mendasarnya sudah terpenuhi, barulah kemudian melempar banyolan.
"Ketidakterdugaan" dijadikan prinsip. Apa pun bentuk komedinya, entah permainan kata melalui celotehan jenaka karakternya, maupun humor fisik termasuk sebuah perkelahian gila yang membuat panti milik Linda Rajagukguk (Ghita Bhebhita) semakin "menyala". Agak Laen: Menyala Pantiku! begitu jago mengecoh ekspektasi.
Hebatnya, biarpun film pertamanya sempat mengundang beberapa kontroversi di media sosial (sebuah kepastian tak tertulis yang menandakan suatu film Indonesia telah mengumpulkan banyak penonton), Menyala Pantiku! tetap tidak takut berjalan di "pinggir jurang" kala melontarkan leluconnya. Sebutlah saat lagu balada Terlalu Cinta kepunyaan Lyodra "dirusak" kesenduannya.
Tapi filmnya bukan semata ingin tampil sok liar. Beberapa keberaniannya turut didasari keprihatinan atas berbagai fenomena sosial negeri ini. Ide sinting berlatar musala yang mengkritisi sebegitu mudahnya seseorang mendapat status "ulama besar" hanya karena gaya berpakaian, atau pesan tajam mengenai "ada banyak cara untuk mengabdi" yang dipakai selaku konklusi, menandakan bahwa geng Agak Laen lebih dari sekumpulan orang konyol yang doyan berperilaku tolol.
Klimaks yang nyaris tidak eksis dan membuat saya terkejut filmnya tiba-tiba sudah sampai garis akhir memang mendatangkan sedikit ganjalan, tapi rasanya itu bukan sesuatu yang bakal diambil pusing oleh penonton. Tawa mereka berkali-kali meledak hebat, tepuk tangan pun terdengar bergemuruh mengiri kredit penutup. Agak Laen: Menyala Pantiku! mengingatkan betapa penting peranan film komedi lewat kemampuannya mendatangkan kebahagiaan bagi manusia.
REVIEW - LEGENDA KELAM MALIN KUNDANG
Terkadang dalam misteri, enigma dan ketidaktahuan justru lebih mengikat ketimbang saat kebenaran telah nampak benderang. Itulah mengapa paruh pertama Legenda Kelam Malin Kundang bergulir begitu adiktif, sedangkan paruh keduanya bak sebatas obligasi yang mesti penonton ikuti. Mungkin serupa dengan perasaan waktu kita tetap bertahan di atas kereta hanya karena belum tiba di tujuan, alih-alih sungguhan menikmati perjalanannya.
Kisahnya efektif mengundang keingintahuan, ketika sebagaimana Alif (Rio Dewanto), si pelukis mikro yang menderita amnesia pasca kecelakaan mobil, penonton dibiarkan berkutat dalam ketidakpastian. Alif melupakan banyak hal, dari alasan sang istri, Nadine (Faradina Mufti), terasa menjaga jarak, hingga fakta lebih mendasar seperti wajah sang ibu di kampung.
Komposisi musik gubahan Yudhi Arfani dan Zeke Khaseli dibiarkan terus menggumamkan bunyi-bunyian eksentrik, menciptakan rasa atmosferik ala mimpi buruk, yang sedikit mengingatkan pada bagaimana David Lynch menyusun nuansa karyanya. Adegan pembuka dan beberapa arah pengembangan kisahnya pun menciptakan komparasi dengan Lost Highway, salah satu judul favorit Joko Anwar selaku penulis naskah (bersama Aline Djayasukmana dan Rafki Hidayat), editor, sekaligus produser film ini.
Anomali membesar sejak kedatangan perempuan (Vonny Anggraini lewat salah satu pameran versatilitas terbaik sepanjang karirnya) yang mengaku sebagai Amak dari Alif. Identitasnya tak mampu dikonfirmasi, namun si perempuan tahu segala detail masa lalu Alif, termasuk asal dari luka di dahinya. Naskahnya membentangkan proses penyelidikan yang manjur menjerat atensi, berkat ketepatan mengatur timing antara melempar tanda tanya dan menebar remah-remah petunjuk secara bertahap.
Pengarahan Rafki Hidayat dan Kevin Rahardjo dalam debut mereka pun cukup rapi menangani jalinan misteri yang digulirkan dengan sabar, meski metode keduanya dalam mengeksekusi jumpscare (yang jadi taktik generik naskahnya untuk berkompromi dengan penonton kasual) belum seberapa efektif menggenjot intensitas.
Selain problematika maternal, gesekan rumah tangga Alif dan Nadine turut jadi sorotan. Di sinilah Legenda Malin Kundang mengambil jalan yang enggan ditempuh film Indonesia lain, yakni memposisikan seks sebagai media bagi pasangan meruntuhkan pertengkaran mereka. Seksualitas yang cenderung ditabukan oleh karya lokal arus utama, bukan semata dipandang selaku luapan nafsu, melainkan alat komunikasi cinta.
Di bilik kamar mandi, Alif dan Nadine menelanjangi tubuh serta perasaan masing-masing, sebelum dipungkasi oleh elemen favorit saya dalam tiap naskah buatan Joko: Obrolan. Joko selalu bisa memberi sentuhan menggelitik pada aktivitas karakternya bertukar kata, membuatnya hidup sebagai salah satu menu lezat, daripada sebatas pengisi durasi yang hambar.
Sayang, begitu memasuki fase "menjawab misteri", filmnya beralih bentuk menjadi kompilasi eksposisi. Penonton hanya dibiarkan duduk menanti, sementara pembuat filmnya sibuk sendiri mengungkap satu per satu fakta menggunakan strategi monoton berupa penglihatan yang silih berganti protagonisnya alami.
Faktor kejut (yang rasanya sudah semua penonton nantikan hingga eksistensi twist itu sendiri kehilangan daya kecohnya) di paruh akhir pun tak mendatangkan dampak maksimal, sebab Joko seolah cuma berfokus pada ambisinya menggiring legenda Malin Kundang ke arah sekelam mungkin.
Tapi jika ditilik lebih lanjut, Legenda Malin Kundang tetaplah upaya kreatif mendekonstruksi cerita rakyat menuju bentuk yang lebih relevan. Dia bukan lagi hikayat sarat pesan moral konservatif tentang anak durhaka, tapi pergumulan batin individu yang kesulitan beranjak dari luka lama.
Merantau bukan lagi sekadar perjalanan meninggalkan kampung halaman, juga masa lalu yang terkadang ingin kita habisi akibat rasa sakit dan malu, namun ada kalanya memunculkan rindu sehingga menyulut dilema penuh pilu. Bukan tubuh dari si Malin Kundang modern ini yang membatu, melainkan hatinya yang dipadati rahasia. Mungkin bagi orang-orang seperti Alif, hal tersulit bukanlah menghadapi masa kini, tapi gema yang diperdengarkan masa lalu.
REVIEW - WEAPONS
Film horor identik dengan kegelapan. Penampakan setan di area temaram, lorong-lorong tanpa cahaya, hingga basemen penyimpan rahasia, seolah jadi sentuhan wajib. Weapons karya Zach Cregger yang tiga tahun lalu menghentak dunia horor lewat Barbarian, adalah perwujudan dari identitas tersebut. Sebuah film mengenai kegelapan.
Suatu malam, tepatnya pukul 2:17 dini hari, 17 anak yang semuanya tergabung dalam satu kelas, secara serentak terbangun, keluar dari rumah masing-masing, dan berlari entah ke mana, melintasi jalanan suburban yang seperti digelayuti kegelapan tanpa ujung. Mereka berlari dengan tangan direntangkan, bak menirukan kepak sayap burung yang melayang di angkasa. Apakah karena bocah-bocah ini merasa bebas, atau sebaliknya, kebebasan itu hanya kepalsuan selaku dampak manipulasi?
Ide cerita Weapons sesungguhnya jauh dari kesan baru. Konsep serupa sudah ratusan kali dipakai oleh horor lokal, sehingga saat kelak twist-nya diungkap, rasanya penonton Indonesia takkan seberapa terkejut. Tapi saya selalu percaya bahwa kebaruan cerita bukan poin terpenting. Metode eksekusi memiliki bobot lebih besar. Cerita seusang apa pun bakal terasa segar bila sang sineas membawa pendekatan kreatif dalam eksekusinya.
Weapons memiliki kreativitas itu. Tengok bagaimana alurnya dibagi jadi beberapa segmen. Setiap segmen mengetengahkan sudut pandang karakter yang berbeda: Justine Gandy (Julia Garner), guru dari kelas yang dihuni 17 anak tersebut; Archer Graff (Josh Brolin), ayah dari salah satu anak; Alex Lilly (Cary Christopher), satu-satunya penghuni kelas Justine yang tidak hilang; Paul Morgan (Alden Ehrenreich) si polisi; Anthony (Austin Abrams) si pecandu narkoba sekaligus maling kelas teri; sampai Andrew Marcus (Benedict Wong) si kepala sekolah.
Segmen-segmen di atas tak ubahnya susunan domino yang saling membutuhkan agar bisa menciptakan pergerakan. Cregger begitu jeli mendesain segmennya, di mana masing-masing ditutup oleh cliffhanger yang senantiasa menjaga atensi penonton. Alurnya bergerak secara non-linear sehingga terus mencuatkan tanda tanya, pula tidak takut menyelipkan humor walau mengusung cerita yang cenderung kelam. Lihatlah saat Cregger, yang seperti baru saja menempuh kursus kilat di kelas Quentin Tarantino, memaksa Josh Brolin terlibat baku hantam di babak puncak, yang tak hanya menegangkan, tapi juga sangat menggelitik.
Kembali ke soal kegelapan. Dia mengambil banyak wujud sepanjang 128 menit durasi Weapons. Entah sebagai misteri yang belum kita ketahui jawabannya, rahasia mencengangkan yang karakternya pendam, atau secara literal, yakni kegelapan mencekam di tiap sudut area suburban. Beberapa kali Cregger membiarkan penonton memandang ke satu titik gelap untuk beberapa lama, sebelum membiarkan sosok menyeramkan perlahan keluar dari balik kehampaan.
Jumpscare-nya pun memiliki efek kejut luar biasa, sebab sebelum memasuki paruh akhir, kita tidak punya gambaran sedikit pun terkait sumber ancamannya. Kita tidak tahu hal apa (atau siapa) yang bakal Cregger munculkan di layar. Sewaktu tirai misteri mulai terbuka, dan figur sang villain perlahan terungkap, Cregger tak memerlukan monster atau hantu bermuka rusak untuk menciptakan kengerian. Hanya anomali sederhana. Sesuatu/seseorang yang terlihat familiar sekaligus janggal di waktu bersamaan.
Cregger membiarkan penonton terhanyut dalam kegelapan dunia suburban yang menghipnotis. Filmnya tidak butuh gore dengan kuantitas berlebih agar bisa tampil seru, namun sekalinya mengisi layar, sadisme selalu hadir dengan dampak besar, sebagaimana dibuktikan oleh klimaksnya yang amat memuaskan. Itulah momen saat segala bentuk kegelapan sarat tanda tanya, sepenuhnya tersapu oleh nyala terang dari cahaya.
REVIEW - DENDAM MALAM KELAM
"Edan film iki!", ujar penonton di sebelah saya selepas Dendam Malam Kelam mengungkap salah satu kejutannya. Banyak orang lain akan mengeluarkan respon serupa, yang mana sangat bisa dipahami, tapi remake dari film Spanyol berjudul The Body (2012) ini bukan semata mengandalkan twist, melainkan benar-benar disusun sebagai misteri yang solid dalam bercerita.
Semua berawal saat jenazah Sofia (Marissa Anita) lenyap dari kamar mayat laboratorium forensik. Arya (Bront Palarae), detektif yang bertugas mengusut misteri tersebut dan gemar bersumpah serapah memakai istilah "haram jadah" (entah kapan terakhir kali saya mendengar itu), memanggil suami Sofia, Jefri (Arya Saloka), untuk dimintai keterangan. Tapi ada satu hal yang polisi belum ketahui: Sofia bukan meninggal akibat serangan jantung, melainkan dibunuh oleh Jefri, yang ingin menutupi perselingkuhannya dengan Sarah (Davina Karamoy).
Baik di hadapan Arya ketika ia mengenakan topeng kebohongan, maupun saat tengah seorang diri dan secara bebas menunjukkan wajah aslinya pada penonton, Jefri selalu membantah telah mencuri jenazah mendiang istrinya. Bahkan di beberapa situasi, Arya nampak ketakutan dan begitu putus asa ingin menemukan pelaku sesungguhnya. Benarkah demikian, atau kita tengah menyaksikan sesosok unreliable narrator?
Dendam Malam Kelam memang piawai menyulut tanda tanya, yang berdampak pada terjaganya atensi penonton. Sewaktu tokoh-tokohnya berdebat, seperti saat Dr. Nadia (Putri Ayudya) melempar hipotesis bahwa Sofia mengalami mati suri yang segera dibantah oleh Arya, intensitasnya benar-benar mencuat berkat pengarahan Danial Rifki yang jeli mengolah ketegangan, pula akting para pemainnya.
Bagaimana Jefri bersikap songong sedari awal interogasi sehingga memancing kecurigaan polisi di saat semestinya ia berlaku sebaliknya memang cukup mengganggu, tapi seiring berjalannya waktu, Arya Saloka mampu membangun dinamika kuat bersama Bront Palarae melalui adu argumen keduanya. Di sisi lain, Marissa Anita dengan segala kepercayaan diri yang karakter Sofia miliki, tampil bak magnet berdaya tarik tinggi yang kemunculannya selalu meninggalkan kesan biarpun porsinya cenderung minim.
Tapi hal paling mengesankan dari Dendam Malam Kelam adalah bagaimana naskah adaptasi buatan Danial Rifki tetap mengutamakan kesolidan bertutur alih-alih mengandalkan twist semata. Tirai misterinya tak dibuka hingga akhir durasi, namun alurnya tetap padat sebab naskahnya tahu kapan harus membuka petunjuk baru, kapan harus mengajukan pertanyaan, kapan harus tancap gas, serta kapan harus berhenti sejenak. Penceritaannya rapi, dan twist hanyalah pemanis yang makin melengkapi presentasi.
Satu hal yang agak mengurangi tingkat kerapian kisahnya adalah beberapa pilihan departemen penyuntingan yang layak dipertanyakan, entah berupa transisi kasar, atau bentuk susunan antar adegan yang ada kalanya terasa kacau.
Pilihan sang sutradara terkait musik yang terkesan inkonsisten pun perlu dipertanyakan. Di satu titik, Dendam Malam Kelam terdengar elegan tatkala komposisi buatan Mondo Gascaro yang mengedepankan nuansa noir sedang mendominasi. Tapi di kesempatan lain, terutama saat flashback dramatis tengah terjadi, justru lagu pop mendayu-dayu yang mengiringi.
Mungkin itu cara Danial Rifki berkompromi dengan selera penonton awam Indonesia yang menyukai kesenduan dramatis. Setidaknya pilihan tersebut sempat efektif sewaktu kita diajak menyaksikan momen perkenalan Jefri dan Sofia. Menyakitkan rasanya melihat sesuatu yang diawali dengan keindahan harus diakhiri dengan kepiluan mematikan.
REVIEW - ANGKARA MURKA
Di Angkara Murka, iblis dan dunia mistis bukanlah kekuatan independen yang menebar ancaman atas keinginan sendiri, melainkan sebatas alat yang dipakai oleh manusia berstatus penguasa lalim. Eden Junjung selaku sutradara sekaligus penulis naskah ingin menggambarkan bagaimana manusia bermata hijau jauh lebih jahat dan berbahaya daripada setan bermata merah menyala.
Latarnya adalah sebuah tambang pasir di sekitaran Merapi, di mana para buruh bekerja keras sehari penuh namun hanya menerima bayaran di bawah upah minimum. Didorong keinginan memperbaiki hidup, Jarot (Aksara Dena) mengajak rekannya, Bogel (Alex Suhendra), mencari permata yang konon banyak terkubur di balik sebuah bukit. Jarot pernah menemukan satu buah dan ingin memperoleh lebih banyak. Sejak itu Jarot menghilang secara misterius.
Buruh bernama Komar (Rukman Rosadi) pun menyimpan niat serupa dan mulai mengajak beberapa teman untuk mengikutinya. Di sisi lain, Ambar (Raihaanun), istri Jarot yang kini seorang diri mengurus putra mereka, coba mencari keberadaan sang suami dengan bekerja di tambang pasir tersebut.
Tidak seperti penyakit sederet horor Indonesia (Pabrik Gula dan KKN di Desa Penari misal), Angkara Murka tidak pelit memperlihatkan aktivitas di latarnya. Tambang pasirnya hidup, di mana penonton sering diajak mengamati rutinitas para buruh. Bahkan sangat sering, sampai film ini terjangkit penyakit lain berupa kemonotonan, akibat terlampau berkutat di satu lokasi, dengan situasi yang minim variasi.
Metode bercerita Angkara Murka pun sedikit janggal. Selama 89 menit durasinya, ia menerapkan tempo lambat khas horor alternatif yang enggan secara membabi buta menebar teror, namun di saat bersamaan, progresi narasinya justru terasa buru-buru. Naskahnya lemah dalam membangun transisi, penyutradaraannya kurang piawai menyusun build-up.
Satu departemen yang tak menyisakan keluhan adalah akting. Di luar nama-nama besar seperti Raihaanun (tampil solid walau memerankan karakter dangkal yang oleh naskahnya sebatas diberi penokohan "istri yang mencari suami") dan Rukman Rosadi, jajaran pemeran pendukung yang kebanyakan sudah lama berkecimpung di dunia teater Yogyakarta pun mampu memberikan kesan organik bagi karakter masing-masing.
Saya belum menyebut nama Whani Darmawan, sebab karakter Broto yang ia perankan perlu diberi sorotan khusus. Dialah pemilik lahan yang ditengarai menyimpan berlian, dan baru mengumumkan niatan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Disusun oleh pendekatan over-the-top dari sang aktor, Broto tidak merasa perlu menyembunyikan boroknya. Tatkala Ambar datang mencari Jarot, Broto dengan santainya menjawab, "Bojomu wes digondol demit".
Beberapa kali kita melihat penampakan makhluk misterius bertubuh hitam dengan mata merah menyala menyatroni mereka yang menyusup ke tambang berlian, tapi Broto-lah demit sesungguhnya. Dia tidak segan turun tangan membantai buruh tambangnya, (yang lebih layak disebut budak) tapi dampak paling mematikan yang ia bawa adalah, saat sikap sewenang-wenang dan kesenjangan sosial yang ia tanamkan berujung menciptakan siklus kekerasan yang menjadikan orang-orang lemah saling tikam hanya demi bertahan hidup.
Sungguh sayang, klimaks yang berpotensi melahirkan pertumpahan darah brutal di tengah pertarungan epik kala kaum akar rumput berjuang mendapatkan kesejahteraan mereka, berakhir canggung akibat kurang piawainya pengarahan Eden Junjung terhadap adegan-adegan bertempo tinggi. Setidaknya kita berkesempatan menyaksikan Whani Darmawan bertingkah liar bak makhluk barbar.
REVIEW - TEBUSAN DOSA
Rasanya kata "dosa" sekarang sudah terdengar murah. Apa yang semestinya dihindari, menjadi sesuatu yang begitu jamak dialamatkan terhadap hal-hal remeh sekalipun. Melalui Tebusan Dosa, Yosep Anggi Noen seolah ingin mengembalikan kesakralan kata tersebut. Mengingatkan betapa tidak semestinya manusia dengan gampang menuduhkan dosa kepada sesamanya.
Selepas peristiwa yang belum diungkap, Wening (Happy Salma) memulai hidup baru bersama putrinya, Nirmala (Keiko Ananta), dan sang ibu, Uti Yah (Laksmi Notokusumo), di kota fiktif bernama Majakunan. Suami keduanya, Suleiman (Eduward Manalu), yang dahulu berjanji memperbaiki hidup Wening, hilang pasca serangkaian kekerasan yang ia lakukan.
Tebusan Dosa diawali dengan agak terbata-bata. Alur dalam naskah yang Anggi Noen tulis bersama Alim Sudio terkesan melompat-lompat akibat pergerakan yang terlampau cepat. Pengarahan Anggi Noen di sini seperti berusaha lebih menyesuaikan diri dengan selera pasar, dan ironisnya, pacing lambat penuh kesabaran sebagaimana karya-karya arthouse miliknya bakal mengeliminasi masalah penceritaan di atas.
Tapi seiring waktu penceritaan Tebusan Dosa semakin stabil, terutama setelah kecelakaan yang Wening sekeluarga alami. Uti Yah meninggal di tempat, sedangkan Nirmala secara misterius menghilang. Nirmala diduga telah terseret arus sungai. Ketika pihak kepolisian dan tim SAR dirasa kurang dapat diandalkan, Wening mulai meminta bantuan dari orang-orang di sekelilingnya. Ada Tirta (Putri Marino) si guru renang yang tertarik menjadikan Wening sebagai bintang tamu di siniarnya, juga Tetsuya (Shogen), pria asal Jepang yang mempekerjakan Uti Yah sebagai asisten rumah tangga.
Tebusan Dosa memang bagai sebuah usaha berkompromi dengan pasar, baik oleh Anggi Noen maupun Palari Films selaku rumah produksi. Termasuk perihal elemen horornya, yang bak ditambahkan paksa ke sebuah naskah misteri yang sejatinya telah utuh. Beberapa penampakan dan jumpscare pun akhirnya jadi selipan yang tidak perlu hadir.
Apakah berbagai penampakan itu memang benar terjadi, sebatas representasi rasa bersalah tokoh-tokohnya, atau malah keduanya? Naskahnya kurang mumpuni dalam memainkan tanda tanya tersebut. Belum lagi jika membahas lemahnya Anggi Noen kala mengemas teror. Triknya cenderung murahan, dan didominasi oleh jumpscare berisik berupa kemunculan hantu yang bahkan tidak karakternya sadari. Seolah si hantu hadir hanya untuk meneror penonton alih-alih si protagonis.
Lain cerita jika membicarakan unsur lainnya. Setiap horornya absen, Tebusan Dosa bertransformasi menjadi karya yang sama sekali berbeda. Kualitasnya melonjak seketika. Investigasi misteri yang tersaji rapi serta efektif memancing rasa penasaran, juga drama sarat makna mengenai proses karakternya, saling berkelindan dengan apik.
Seperti telah disinggung di awal tulisan, Anggi Noen membawa perspektif menarik perihal dosa manusia. Seiring rasa frustrasi akibat kesulitan menemukan putrinya, Wening menerima saran Tirta untuk mendatangi dukun bernama Mbah Gowa (Bambang Gundhul), yang kemudian menyuruh Wening untuk menebus dosanya terlebih dahulu.
Tapi benarkah Wening berdosa? Bila benar demikian, apakah dosa Wening sedemikian besar sampai membuatnya kehilangan Nirmala? Ataukah sesuatu yang dianggap "dosa" itu sesungguhnya adalah wujud ketidakadilan perspektif masyarakat, yang punya tendensi menyalahkan perempuan?
Happy Salma tampil kuat menghidupkan sesosok individu yang makin lama makin tersudut, terhimpit di antara keputusasaan, namun menolak mengibarkan bendera putih. Demikian pula Putri Marino, yang seperti biasa mampu memberi ragam warna serta bobot pada situasi dan kalimat "seremeh" apa pun.
Tebusan Dosa turut mengingatkan soal dualisme yang setia menghiasi semesta. Air misalnya, yang dapat menjadi sumber kehidupan, tapi juga berpotensi mematikan. Sama halnya dengan karakter Tirta (namanya juga berarti "air") beserta siniar miliknya, yang bisa merugikan atau menguntungkan tergantung pemanfaatannya. Perihal mistis pun tidak jauh beda. Apakah sekadar teror mengerikan sebagaimana diperlihatkan oleh kebanyakan film horor, atau bagian dari semesta yang memiliki perannya sendiri? Selalu ada dua wajah dalam semua hal di kehidupan.
REVIEW - KABUT BERDURI
Serupa judulnya, karya penyutradaraan terbaru dari Edwin ini adalah sesuatu yang berkabut. Penuh ketidakpastian, mengaburkan fakta, menolak memberi jawaban gampang, tidak hanya terkait misteri pembunuhan yang protagonisnya mesti pecahkan, pula soal hal yang lebih besar dan jahat, yakni sisi kotor negeri ini beserta setumpuk sejarahnya. Belum ada film Indonesia semacam ini, setidaknya di era modern.
Pulau Borneo yang membatasi Indonesia dan Malaysia menjadi panggung serangkaian kematian misterius. Di kasus pertama, ditemukan mayat dengan kepala terpotong. Anehnya, kepala dan tubuh mayat itu berasal dari dua korban berbeda. Sanja (Putri Marino) dikirim dari Jakarta guna membantu penyelidikan.
"Kacamatanya bagus. Cocok untuk Borneo Fashion Week", ucap Ipda Panca Nugraha (Lukman Sardi) menyambut kedatangan Sanja yang bakal jadi bawahannya. Kita segera menyadari bahwa Sanja berada di dunia di mana perempuan dipandang sebelah mata. Semakin kentara saat Panca menyatakan keraguan terhadap pernyataan saksi, hanya karena ia seorang "ABG perempuan".
Minimal Sanja tak bekerja sendiri. Thomas (Yoga Pratama) senantiasa mengulurkan bantuan sebagai figur yang dapat ia percaya. Tapi benarkah? Sebab seiring waktu, naskah buatan Edwin dan Ifan Ismail menegaskan bahwa tidak ada yang sepenuhnya jujur dan bersih di film ini. Selain seksis, dunia milik Kabut Berduri juga merupakan tempat di mana kebenaran sering terdistorsi.
Bukan cuma rapi menyusun misteri (meski melibatkan karakter dan informasi yang tidak sedikit alurnya tak pernah menjadi labirin yang menyesatkan), naskahnya pun piawai menanam petunjuk secara subtil, baik mengenai detail kasus maupun simbol-simbol yang memperkuat bangunan dunianya.
Dunia yang membiarkan para penguasanya "memotong" siapa saja, bahkan merayakannya sembari berdansa. Dunia yang dengan gampang membersihkan borok sejarahnya. Dunia yang bisa mematikan bagi manusianya hanya karena perbedaan "serong ke kiri atau serong ke kanan". Dunia yang menutupi dosa-dosa di atas. Kabut Berduri sejatinya merupakan proses Sanja (dan tentunya penonton) belajar membuka mata supaya bisa melihat kebenaran.
Departemen artistiknya pun patut menerima pujian. Sinematografi garapan Gunnar Nimpuno bersama musik gubahan Abel Huray dan Dave Lumenta bersatu menyusun atmosfer kelam nan mencekik. Efek praktikalnya pun, walau belum bisa dicap "luar biasa", telah mampu menghasilkan pencapaian solid.
Satu yang luar biasa adalah jajaran pemainnya. Yoga Pratama yang kembali bertransformasi bak bunglon, Yudi Ahmad Tajudin sebagai Pak Bujang yang tiap kehadirannya seperti magnet, dan pastinya Putri Marino sebagai detektif tangguh yang berusaha menutupi sisi dalamnya yang lebih rapuh. Putri menjadikan Sanja sebagai sosok yang tidak kaku. Ada kalanya ia bisa bersantai, menikmati tuak, sembari melempar canda bersama Thomas (yang di film arus utama bakal berkembang ke ranah romansa).
Melalui karakter Pak Bujang kita mengenal legenda mengenai Ambong, salah satu pemimpin organisasi komunis bernama Paraku yang konon masih bersemayam di hutan dalam wujud siluman atau hantu. Kabut Berduri mengingatkan pada eksistensi hantu yang menggelayuti negeri ini. Hanya saja, ada sekelompok manusia yang lebih mengerikan sekaligus lebih mematikan dibanding hantu tersebut.
(Netflix)
REVIEW - EXHUMA
Hanya segelintir horor mampu membangkitkan kengerian sekuat Exhuma, yang berbekal "sense of impending doom" miliknya, sukses menghadirkan teror mencekam tanpa harus mengumbar banyak penampakan. Bahkan ketika tidak sedang terjadi peristiwa signifikan di layar, kesan angker tersebar di tiap sudut film buatan Jang Jae-hyun (sutradara + penulis naskah) ini.
"Angker" memang kata yang tepat untuk mendeskripsikan Exhuma. Sewaktu karakternya membawa kita mengunjungi area gunung selaku lokasi sebuah makam, saya sepenuhnya meyakini keangkeran tempat tersebut, walau tiada satu pun hantu menampakkan wujudnya.
Lee Mo-gae bertugas menata kamera. Kebetulan ia melakoni debut di horor legendaris A Tale of Two Sisters (2003), sehingga memproduksi kengerian lewat gambar bukan lagi perkara baru. Di sini, gambar-gambar dari kamera Lee Mo-gae seperti menangkap banyak hal tak kasat mata. Rasanya semakin tidak nyaman ketika musik atmosferik buatan Kim Tae-seong turut melengkapi adegan.
Sepanjang 134 menit durasi Exhuma, sukar menampik perasaan bahwa ada hal buruk bakal terjadi. Bisa jadi para karakternya pun merasakan itu, mengingat mereka bukan orang sembarangan. Hwa-rim (Kim Go-eun) dan Bong-gil (Lee Do-hyun) adalah dua dukun muda yang dimintai bantuan oleh keluarga Korea kaya yang tinggal di Los Angeles, guna membereskan fenomena aneh yang menimpa mereka.
Meski sekilas sederhana, nyatanya kasus tersebut lebih rumit dari perkiraan. Pertolongan dari ahli feng shui bernama Sang-deok (Choi Min-sik), serta Yeong-geun (Yoo Hae-jin) si pengurus pemakaman pun dibutuhkan. Apa yang menyusul berikutnya sebaiknya tidak saya bocorkan. Semakin sedikit kalian tahu mengenai paruh kedua Exhuma, semakin maksimal pula pengalaman menonton yang didapatkan.
Misteri merupakan salah satu kekuatan utama film ini. Pertanyaan sarat kejanggalan rutin ia sebar di hadapan penonton. Selain memancing rasa penasaran, setumpuk tanda tanya tersebut juga efektif memupuk rasa takut. Exhuma mengingatkan betapa ketidaktahuan adalah sumber ketakutan terbesar.
Kim Go-eun dalam peran yang menjauhi citra "gadis baik nan polos" miliknya, juga Choi Min-sik yang seperti biasa membuat "akting" terlihat begitu mudah, mampu mengarahkan emosi filmnya tepat ke penonton. Semakin besar ketakutan dan kekhawatiran keduanya, semakin menegangkan pula Exhuma. Sekali lagi, perasaan tak nyaman berupa firasat buruk akan terjadinya peristiwa mengerikan tidak henti-hentinya menggelayut.
Titik balik Exhuma ditandai oleh sebuah momen yang bisa dideskripsikan sebagai "mencengangkan" dan "menyeramkan". Di situlah terjadi perubahan dari suguhan atmosferik menjadi sesuatu yang lebih brutal. Mungkin paruh akhirnya terkesan kepanjangan hingga filmnya seolah memiliki dua third act, namun di sisi lain, itu memberinya ruang bercerita untuk menyertakan subteks yang membuat Exhuma tampil semakin kaya.
Di balik persoalan mistis dan dunia perdukunan, Jang Jae-hyun menyelipkan kisah mengenai kolonialisme. Bukan selipan asal, sebab jika diperhatikan, Exhuma mempunyai seluruh fase dari proses penjajahan dalam alurnya: Si penjajah datang; terjadilah invasi yang melukai bahkan membunuh banyak warga pribumi; dikuasai rasa takut dan insting bertahan hidup, beberapa warga pun memilih tunduk; sebelum akhirnya rasa takut berubah jadi amarah yang mengobarkan api perlawanan.
Apakah penjajah yang telah enyah merupakan akhir masalah? Sayangnya bukan. Selanjutnya giliran trauma bangsa yang menancapkan kukunya. Entah kapan trauma itu lenyap, tapi Exhuma dengan konklusinya yang secara mengejutkan terasa hangat dan penuh harap, beranggapan bahwa yang terpenting adalah melanjutkan hidup sebaik mungkin sebagai manusia yang merdeka.
REVIEW - DR. CHEON AND THE LOST TALISMAN
Sudah begitu sering saya mengeluhkan soal film horor (terutama produksi tanah air) yang menjadikan elemen klenik sebagai tempelan semata. Tanpa eksplorasi memadai, bahkan ada kalanya memberi dampak nihil bagi keseluruhan cerita. Dr. Cheon and the Lost Talisman menjawab keresahan tersebut, di mana tiap sudutnya membawa penonton menuju petualangan untuk mengenali ragam mistis dunianya.
Mengadaptasi webtoon berjudul Possessed karya Fresh dan Kim Hong-tae, alurnya mengetengahkan tipu daya yang dilakukan Dr. Cheon (Kang Dong-won) bersama asistennya, In-bae (Lee Dong-hwi). Keduanya mengaku sebagai pengusir setan, menipu klisen, lalu mengunggah aksi mereka di YouTube. Lalu datanglah permintaan dari Yoo-kyung (Esom) terkait sang adik yang ia percaya tengah kerasukan setan.
Pertama memasuki desa tempat Yoo-kyung tinggal, kita disambut oleh anomali. Kabut tebal menyelimuti, begitu pula aroma kematian di tiap kediaman warga (bayangkan Silent Hill memindahkan latarnya ke Korea). Kelak terungkap bahwa dalang di balik keanehan tersebut adalah dukun jahat bernama Beom-cheon (Huh Joon-ho), yang memaksa Dr. Cheon berhadapan dengan ancaman mistis sungguhan.
Dilihat dari permukaan, Dr. Cheon and the Lost Talisman nampak bak blockbuster formulaik asal Korea pada umumnya. Sampai naskahnya semakin dalam menyoroti investigasi sang protagonis, dan filmnya pun melompat lebih tinggi. Setiap destinasi yang karakternya singgahi selalu mengandung mistisisme menarik. Bahkan fenomena kesurupan yang sudah jadi santapan rutin film horor pun mampu dijauhkan dari kesan klise.
Bagaimana modus operandi si antagonis guna menebar ancaman, kemudian langkah apa yang protagonisnya tempuh untuk menangkal ancaman tersebut, konsisten berkontribusi pada pembangunan dunianya. Sebuah dunia dengan kultur mistis unik nan beragam.
Keunikan dunianya melahirkan peleburan genre yang amat menghibur. Di kursi penyutradaraan, Kim Seong-sik adalah sineas blockbuster kompeten yang piawai menyusun aksi dengan intensitas yang senantiasa terjaga. Salah satu momen terbaik hadir kala Dr. Cheon dan Yoo-kyung kabur dari kejaran warga desa yang berada di bawah kendali Beom-cheon. Sekuen tersebut merumuskan aksi bernuansa fantasi seru, dengan sedikit aroma folk horror yang dimodifikasi. Sekali lagi, unik. Begitu unik hingga klimaks yang cenderung generik bisa dimaafkan.
Dr. Cheon and the Lost Talisman turut diberkahi ensemble cast yang lengkap. Esom si wanita misterius dan Huh Joon-hoo sebagai dukun keji mewakili wajah serius (dan agak creepy) dari filmnya, Lee Dong-hwi menghidupkan aspek komedik, sedangkan Kang Dong-won hadir di tengah sebagai jagoan karismatik yang menjembatani kedua sisi. Bahkan nama-nama seperti Park Jeong-min, Park Myung-hoon, Lee Jung-eun, Cho Yi-hyun, sampai Jisoo Blackpink dalam kemunculan mereka yang lebih singkat pun sanggup meninggalkan kesan.
REVIEW - SLEEP
Bong Joon-ho menyebut Sleep sebagai "the most unique horror film and the smartest debut film I've seen in 10 years". Wajar saja. Menonton debut penyutradaraan Jason Yu (turut menulis naskah) ini memang ibarat mengunjungi dunia baru yang mengawang-awang. Sebuah limbo.
Mayoritas latarnya berpusat di dalam apartemen, dan terkurung di ruang sempit dapat mengaburkan persepsi ruang dan waktu. Seringkali ia terasa mencekam, tapi ada kalanya kita dibuat tertawa. Alurnya pun membentuk penelusuran mengenai kebenaran (mana kebenaran, mana kepalsuan). Dipenuhi benturan dua sisi yang berlawanan, Sleep mengingatkan kepada perasaan saat sedang ada di antara "terbangun" dan "bermimpi".
Soo-jin (Jung Yu-mi) dan Hyeon-soo (Lee Sun-kyun) tengah menjalani fase bahagia di pernikahan mereka. Soo-jin tengah hamil, sedangkan karir Hyeon-soo di dunia akting mulai menemukan titik terang. Bagi Soo-jin, sang suami adalah aktor terbaik yang pernah ia lihat. Pernyataan tersebut bakal berperan besar seiring bergulirnya cerita.
Masalah timbul tatkala Hyeon-soo mulai tidur sambil berjalan. Semakin lama, kondisinya semakin parah. Awalnya hanya berjalan dan bicara, kini Hyeon-soo juga melukai dirinya sendiri. Apa penyebabnya? Mungkinkah sang suami mendatangkan bahaya bagi bayi mereka? Ketidakpastian itu mengobrak-abrik pikiran Soo-jin, sementara penonton diajak memahami bahwa hilangnya rasa percaya, yang berujung melahirkan prasangka serta ketakutan, merupakan pangkal hancurnya pernikahan.
Sleep menggabungkan beragam genre, dari horor, komedi, misteri, sampai thriller, tapi pada dasarnya ia adalah kisah sederhana seputar pernikahan. Tone-nya terus melompat, karena di mata Jason Yu, begitulah pernikahan dengan segala permasalahannya. Bisa memberi tawa, bisa juga menyulut ketakutan.
Dua karakter utamanya memegang prinsip bahwa problematika rumah tangga seberat apa pun dapat terselesaikan selama mereka terus bersama. Tapi bagaimana sebaiknya "bersama" didefinisikan? Yu menyentil konsep kebersamaan tersebut, yang acap kali hanya dilihat di tataran fisik semata. Bersama, tetapi tidak bersatu.
Ujian terhadap kebersamaan tersebut menguat kala kondisi Hyeon-soo tak kunjung membaik. Soo-jin makin tertekan (memberi ruang bagi Jung Yu-mi menghidupkan proses transormasi bertahap karakternya dengan luar biasa), lalu berasumsi bahwa ada keterlibatan hal mistis. Awalnya dugaan itu terdengar konyol, tapi naskah buatan Yu bagaikan penghasut cerdik. Persepsi kita terus diombang-ambingkan hingga penghujung cerita, yang menyoroti bagaimana ketakutan menciptakan kebohongan dan tindakan-tindakan tak rasional (menjelaskan langkah ekstrim nan absurd yang salah satu karakternya ambil)
Sebagai sutradara, Yu jago mengolah latar sempit. Penggunaan tempo lambatnya menghasilkan atmosfer menghipnotis sarat anomali, yang terasa nyata sekaligus asing di saat bersamaan. Unik. Sleep adalah film yang mesti dialami langsung agar bisa dijabarkan sensasinya.
REVIEW - A HAUNTING IN VENICE
A Haunting in Venice memulai penceritaan saat Hercule Poirot (Kenneth Branagh) bangun dari tidurnya. Sepanjang film pun Poirot melewati proses yang membuatnya "terbangun". Menyadari bahwa bisa jadi ada misteri yang tidak mampu ia pecahkan, sedangkan skeptismenya atas fenomena mistis berpotensi terbantahkan. Sayangnya, tatkala Poirot terbangun, beberapa penonton mungkin saja tertidur.
Mengadaptasi novel Hallowe'en Party karya Agatha Christie, kelemahan utama A Haunting in Venice sangat sederhana sekaligus mendasar: filmnya membosankan. Sekuen pembukanya yang memotret Venesia bak kota mati di pagi hari, dengan kesunyian mencekam serta gambar-gambar cantik nan atmosferik justru jadi puncak pencapaian.
Poirot terpaksa kembali dari masa pensiun saat temannya yang juga seorang novelis misteri, Ariadne Oliver (Tina Fey), mengundangnya ke acara pemanggilan arwah di kediaman Rowena Drake (Kelly Reilly). Si cenayang, Joyce Reynolds (Michelle Yeoh), diminta memanggil arwah Alicia (Rowan Robinson), puteri Rowena yang meninggal secara misterius. Ariadne menantang sang detektif untuk mengungkap apakah ritual tersebut hanya tipuan, ataukah bukti nyata keberadaan hal gaib.
Tentu kita tahu misterinya bakal bermuara ke mana. Kematian akan terjadi, yang sekilas disebabkan oleh kutukan, sebelum akhirnya Poirot menyibak alasan logis di balik segalanya. Tapi A Haunting in Venice bukan sebuah upaya mengerdilkan mistisisme belaka. Selain ambiguitas yang tersisa di konklusi, Poirot pun didorong ke batas kemampuan, hingga membuatnya meragukan seluruh prinsip yang ia pegang. Di depan kamera, Branagh mampu menghidupkan kerapuhan sang detektif yang mempertanyakan puluhan tahun pengalamannya.
Di belakang kamera performa Branagh tidak semulus itu. Dibanding dua film pertama, A Haunting in Venice jelas lebih kecil. Sang sutradara tak lagi dibekali ensemble cast sebesar Murder on the Orient Express (2017) maupun biaya semahal Death on the Nile (2022). Amunisi Branagh untuk mengatrol kualitas naskah buatan Michael Green yang tak pernah benar-benar fasih menerjemahkan misteri Agatha Christie ke layar lebar jauh berkurang.
Keputusan menyuntikkan elemen horor sejatinya tepat. Tidak hanya karena dikenal sebagai "genre hemat", horor memungkinkan penyegaran setidaknya pada departemen artistik. Haris Zambarloukos selaku penata kamera berada di garda terdepan, lewat kemampuannya menangkap suasana mencekam yang tak jarang menyelipkan keindahan di sela-sela kengerian dalam tiap sudut gelap kediaman Rowena.
Tapi sejauh apa gambar cantik bisa menjaga daya sebuah film? Tentu tidak seberapa. Seiring kurang piawainya Branagh menyusun horor melalui deretan jump scare medioker yang "malu-malu", A Haunting in Venice pun semakin melelahkan. Sebuah perjalanan hampa yang sebatas menunggu deduksi final Poirot, yang hadir mendadak tanpa build-up memadai. Klimaksnya tidak bertaring. Ya, jawabannya takkan sulit ditebak oleh para penikmat misteri veteran, namun yang lebih fatal, pengadeganan Branagh minim energi.
Kekurangan di atas rutin mengiringi 103 menit durasinya. Branagh sering memakai close-up sebagai cara menangkap akting pemain secara utuh. Tujuan itu tercapai. Cast-nya bersinar, terutama Michelle Yeoh dan Camille Cottin, tapi kesan monoton sulit dihindari setelah beberapa saat. Pada sekuen pembuka, pacing penuh kesabaran yang Branagh terapkan memang melahirkan atmosfer mencekam, namun semakin jauh kisah bergulir, perlahan kengerian itu lenyap, digantikan oleh rasa kantuk.
REVIEW - LOST IN THE STARS
Lost in the Stars bak film idaman penonton masa kini yang cenderung mengagungkan twist. Setiap pengungkapan fakta selalu diiringi kejutan, yang seiring waktu semakin melibatkan rencana-rencana kompleks nan absurd dari karakternya. Penggila twist bakal bergembira, sedangkan mereka yang mencari substansi mungkin akan garuk-garuk kepala.
Di tengah liburan di sebuah resor di Asia Tenggara, pria asal Cina bernama He Fei (Zhu Yilong) melaporkan istrinya, Li Muzi, yang telah dua minggu hilang, namun tak mendapat respon memuaskan dari polisi. Sampai suatu pagi, He Fei mendapati seorang wanita (Janice Man) muncul dan mengaku sebagai Muzi. He Fei bersikeras wanita itu bukan istrinya, namun semua bukti berkata sebaliknya.
Apakah He Fei jadi korban penipuan? Atau justru kondisi psikis yang terganggu membuat pernyataannya tak bisa dipercaya? Dibantu Chen Mai (Ni Ni) si pengacara tersohor yang selalu memenangkan kasus, He Fei berusaha mengungkap kebenaran sebelum visanya kedaluwarsa.
Terdengar familiar? Wajar saja, sebab Lost in the Stars merupakan adaptasi naskah teater Trap for a Lonely Man karya Robert Thomas, yang sempat beberapa kali diangkat ke medium film, baik secara resmi (Vanishing Act) maupun tidak (Misteri Dilaila). Alfred Hitchcock sempat nyaris membuat versi layar lebarnya, namun urung dilakukan.
Banyak pihak pun menyematkan status Hitchcockian bagi Lost in the Stars. Secara permukaan, sebutan itu tidak keliru mengingat alurnya mengandung beberapa elemen khas Hitchcockian (salah tuduh, misteri soal identitas, dll.). Tapi di ranah esensial film garapan duo sutradara Cui Rui dan Liu Xiang ini amat berbeda.
Jika di tangan Hitchcock plot twist hanyalah satu dari sekian banyak amunisi pembangun intensitas, Lost in the Stars menjadikannya jualan utama. Seolah cerita bergulir, semata hanya sebagai jembatan antar twist, yang takkan terlalu sukar diraba arahnya oleh penonton dengan banyak referensi film misteri.
Tidak perlu repot-repot melibatkan diri dalam misterinya. Cukup tunggu twist yang segera menyusul. Tidak perlu pula memikirkan logika milik barisan twist tersebut, yang semakin lama semakin diisi keabsurdan. Jika bersedia melakukan hal-hal di atas, niscaya kesan konyol filmnya bakal berubah jadi hiburan yang cukup menyenangkan.
Lost in the Stars didesain sebagai hiburan over-the-top yang terasa "besar" di segala lini. Tidak hanya terkait twist. Di beberapa titik ia sempat menyelipkan kejar-kejaran mobil, yang sayangnya punya hasil setengah matang karena kerap berakhir prematur sekaligus mendadak.
Setidaknya, meski tak seberapa sukses mengolah aksi, Cui Rui dan Liu Xiang mampu menjaga filmnya agar tak membosankan walau bergulir sampai 122 menit. Permainan temponya cepat, dinamis, tepat untuk membungkus gaya narasi Lost in the Stars yang mengandalkan twist. Visualnya juga memanjakan mata, khususnya berkat pemakaian The Starry Night sebagai motif visual, entah dengan memasangnya di beberapa properti, atau sebatas membuat warna biru dan kuning mendominasi layar.
Jajaran pemainnya tampil sesuai kebutuhan, dari Zhu Yilong yang sanggup membuat penonton mempertanyakan kondisi psikisnya, hingga Ni Ni yang karismatik. Tidak spesial, tapi sekali lagi, sesuai kebutuhan. Begitu pula keseluruhan Lost in the Stars. Bukan Hitchcockian cerdas, namun sebagai "kompilasi kejutan" yang tak usah dipandang terlampau serius, ia tidaklah mengecewakan.
REVIEW - KNOCK AT THE CABIN
Sepanjang menonton Knock at the Cabin saya terus bertanya-tanya, "Apakah Tuhan di semesta filmnya adalah psikopat?". Sebuah kesan yang makin kuat begitu mencapai akhir. Didorong rasa penasaran, saya pun mencari tahu soal novel The Cabin at the End of the World karya Paul G. Tremblay yang jadi sumber adaptasi. Di situlah saya menyadari M. Night Shyamalan melakukan perubahan besar di babak ketiga, yang memegang peranan penting pada pesan utama yang sang penulis hendak sampaikan.
Bukunya adalah cerita humanis yang mempertanyakan, "Jika Tuhan memang ada, dan tak ubahnya psikopat alih-alih Maha Penyayang, mengapa kita harus tunduk?". Di tangan Shyamalan, kisah provokatif itu berubah jadi lebih "ramah" dengan menyoroti perihal pengorbanan. Knock at the Cabin memang tampak main aman di segala hal.
Seberapa "aman"? Beberapa kematian karakternya terjadi secara off-screen, di mana Shyamalan menyensornya lewat cara membosankan (memindahkan ke establishing shot misal). Jangan lupa, film ini punya rating R.
Tapi Knock at the Cabin dibuka secara menjanjikan. Bocah tujuh tahun bernama Wen (Kristen Cui) tengah berlibur di kabin terpencil bersama dua ayahnya, Eric (Jonathan Groff) dan Andrew (Ben Aldridge), ketika empat orang asing mendatangi mereka. Leonard (Dave Bautista), Sabrina (Nikki Amuka-Bird), Redmond (Rupert Grint), dan Adriane (Abby Quinn), memaksa masuk ke dalam kabin.
Kata "memaksa" sebenarnya kurang tepat. Mereka lebih seperti meminta secara baik-baik. Tujuan keempatnya datang adalah demi mencegah kiamat, lewat pengorbanan yang hanya bisa dilakukan para penghuni kabin. Kita pun melihat bagaimana pihak korban dan pelaku sama-sama dikuasai ketakutan. Sebuah awal unik yang merombak formula khas home invasion. Salah satu karakternya bahkan berkata, "this is not a home invasion".
Subteks religi tersimpan dalam naskah yang Shyamalan tulis bersama Steve Desmond dan Michael Sherman. Perihal "pengorbanan" bakal mengingatkan ke cerita Nabi Ibrahim (komparasi yang makin kuat di versi novel), sedangkan keempat "penyusup" mewakili Four Horsemen of the Apocalypse, yang oleh filmnya disampaikan secara gamblang di babak akhir, seolah menganggap penontonnya terlalu bodoh untuk menangkap simbol tersebut.
Keberhasilan menjauhi formula home invasion di babak pertama makin terasa menyenangkan, sebab seperti biasa Shyamalan masih piawai mengolah misteri. Menonton film buatannya bak memasuki labirin yang tidak pernah kita tahu akan mengarah ke mana. Sayangnya seiring waktu, aliran alur Knock at the Cabin semakin repetitif. Leonard dan kawan-kawan memohon agar cerita mereka tentang "ramalan kiamat" dipercaya, Eric menolak lalu menuding mereka delusional. Begitu seterusnya.
Dinamikanya agak membaik ketika para penyusup sempat meragukan keimanan mereka, namun naskahnya enggan mengolah konflik itu lebih jauh, dan memilih langsung membawa kita kembali pada status quo (empat penyusup yang percaya pada ramalan kiamat vs dua korban yang skeptis).
Elemen dramanya mengandalkan beberapa selipan flashback tentang masa lalu Eric dan Andrew, yang sebagai pasangan gay kerap menerima persekusi, tapi keberadaannya malah berujung memotong bangunan intensitas.
Departemen akting pun tak begitu menonjol. Rupert Grint cukup menyenangkan ditonton, Kristen Cui si aktris cilik di luar dugaan jadi penampil terbaik, tapi nama-nama lain cenderung membosankan. Bukan semata salah cast, sebab penokohan dari naskahnya memang lemah. Misal Leonard yang cuma mengharuskan Bautista berbicara selirih mungkin, atau Eric yang selalu berteriak.
Pasca intensitas babak pertama berlalu, momen paling menarik di film ini adalah tiap kali kita menyaksikan bagaimana dunia pelan-pelan mengalami kehancuran. Terutama sewaktu ramalan terakhir menjadi kenyataan. Di situ Shyamalan membuktikan ia masih jago melukiskan pemandangan aneh nan mengerikan bak mimpi buruk.
Tapi selain itu, hampir semua lini milik Knock at the Cabin, termasuk perubahan konklusi yang berlawanan dengan perspektif bukunya, benar-benar menunjukkan tendensi Hollywood dalam mengubah suatu hal yang berani menjadi produk serba aman dan tak bertaring.
(iTunes US)

.png)

.png)



.png)

%20(1).png)

.png)

%20(1).png)

%20(1).png)

%20(1).png)





%20(1).png)





%20(1).png)

