REVIEW - ONE BATTLE AFTER ANOTHER
One Battle After Another melukiskan dinamika dunia kita sekarang, di mana pertikaian terus lahir tanpa akhir dan konflik jadi santapan sehari-hari. Sebuah 162 menit penuh kekacauan yang berpotensi jadi bencana sinematik andai bukan ditangani oleh pengarahan jawara seorang Paul Thomas Anderson (PTA), yang merevolusi genre aksi, memberinya ruang emansipasi dari tuntutan menyuguhkan hiburan tanpa isi.
Sekuen pembuka epiknya mengantar kita berkenalan dengan kelompok pejuang revolusi bernama French 75 yang tengah membobol pusat penahanan guna membebaskan para imigran. Sepasang kekasih, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor) dan Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio), termasuk pentolannya.
Kebanyakan sineas akan merasa cukup membuka karyanya dengan misi pembebasan di atas. Protagonis diperkenalkan, keseruannya pun cukup untuk mencengkeram atensi penonton. Tapi PTA bukan "kebanyakan sineas". Pasca misi, musik gubahan Jonny Greenwood, yang sepanjang durasi bereksperimen dengan bunyi-bunyian (khususnya perkusi) layaknya ilmuwan gila, dibiarkan terus mengalir, mengiringi perlawanan demi perlawanan French 75 yang jauh dari kata "usai".
Mengambil inspirasi dari novel Vineland karya Thomas Pynchon, One Battle After Another menangkap wajah rasis Amerika Serikat, di mana sekelompok pemegang kuasa diam-diam bersekutu dengan tujuan "memurnikan ras", sembari menamai diri mereka Christmas Adventurers Club.
Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn) merupakan white supremacist yang berharap dapat bergabung dengan Christmas Adventurers Club. Dialah kepala dari pusat penahanan yang French 75 serang di awal film. Pada penyerbuan tersebut, Perfidia menerobos ke kamar Steven, mempermalukannya, memaksa si kolonel membuat penisnya berdiri di bawah todongan senapan.
Interaksi keduanya menekankan kecerdikan PTA membangun studi karakter. Alih-alih terprovokasi oleh lontaran kata-kata beraroma perlawanan dari Perfidia, Steven sibuk menggigit bibir sambil menahan nafsu. Perfidia pun serupa. Mulutnya menyuarakan revolusi seolah untuk menyembunyikan tatapan matanya yang menyiratkan hasrat diri. Si laki-laki kulit putih yang begitu bangga akan maskulinitas dan rasnya justru ingin tunduk di bawah kaki perempuan kulit hitam, yang di balik segala gembar-gembor revolusinya, hanya ingin merengkuh kepuasan diri.
Itulah awal dari konflik belasan tahun yang bakal melibatkan pengejaran Steven terhadap anggota French 75, tidak terkecuali Bob beserta putrinya, Willa (Chase Infiniti), yang mendapat beberapa uluran bantuan termasuk dari Sergio St. Carlos (Benicio del Toro), pria Meksiko pemilik akademi ninja yang dipanggil "sensei" oleh murid-muridnya. PTA bak mengungkapkan kecintaan atas sinema eksploitasi, dari blaxploitation dengan deretan karakter bernama nyeleneh seperti Junglepussy, hingga nunsploitation.
Skala ceritanya begitu masif, tatkala PTA memberi gambaran bahwa tiap individu mempunyai pertarungan mereka masing-masing. Satu konflik berujung melahirkan konflik lain, ibarat efek domino, hanya saja tiap kejatuhan satu keping domino disertai ledakan penyulut huru-hara.
Bagaimana mungkin cerita sebegini besar nan liar mampu dituturkan tanpa menciptakan kekacauan naratif? PTA mengarahkan kisahnya bagai pembalap formula satu yang memacu mobilnya secepat kilat tanpa pernah kehilangan kendali berbekal refleks level dewa miliknya. One Battle After Another tak mengandung satu pun momen yang terasa percuma, pun secara konsisten menjaga intensitasnya selama hampir tiga jam.
Jajaran pelakonnya tak kalah hebat. DiCaprio tampil konyol tanpa harus menjadi karikatur. Sosok Bob diposisikannya selaku individu biasa yang kehilangan tujuan hidup, lalu beralih ke ganja guna mengisi kekosongan hatinya. Begitu pula Penn kala menghadirkan monster rasis yang ada kalanya amat mengerikan, namun kerapuhan maskulinitasnya tak jarang mengundang tawa. Di tengah keduanya, performa Benicio del Toro membuat saya terpukau oleh ketenangan berwibawa si "ninja Meksiko".
PTA memotret barisan karakternya sebagai manusia biasa melalui naskahnya yang menolak kedangkalan propaganda. Jajaran prajurit revolusi misalnya, yang diperlihatkan berkali-kali membocorkan rahasia kelompok kala berada di bawah ancaman militer. Tiada manusia sempurna di sini. Hebatnya, sang sineas memanusiakan karakternya tanpa terkesan mengerdilkan perlawanan mereka.
Haram hukumnya mengultuskan satu figur dalam perjuangan. Sebuah perjuangan semestinya berorientasi pada gagasan ketimbang sosok yang diidolakan secara berlebih. Pada akhirnya, para pejuang cuma manusia biasa dengan segunung kelemahan, juga memiliki orang-orang tercinta yang dapat dimanfaatkan oleh lawan untuk menyudutkan mereka. Tapi gagasan akan selalu abadi.
Klimaks One Battle After Another membawa penonton mengunjungi area terpencil di tengah padang gurun untuk menyaksikan kejar-kejaran mobil. Di satu titik, PTA menempatkan kita di perspektif mobilnya kala melaju kencang melintasi jalanan naik-turun yang membatasi jarak pandang. PTA bukan hanya memanfaatkan teknologi, pula elemen geografis dalam menyiasati adegan. Jenius! Revolusi tidak disiarkan di televisi, tapi dipancarkan oleh proyektor ke layar perak sinema.
REVIEW - IU CONCERT: THE GOLDEN HOUR
Stadion Olimpiade Seoul, 18 September 2022. Langit senja memancarkan warna jingga. Suasana tenang. Damai. Bahkan saat IU (yang menggelar konser solo kembali setelah tiga tahun) membuka pertunjukan lewat lagu Eight, ia mengawalinya dengan akapela. Muncul perasaan khidmat, nyaris religius.
The Golden Hour memang bukan film konser K-pop biasa. Dia tahu cara bernarasi. Banyak hal patut dirayakan. Sebutlah perayaan 14 tahun karir sang penyanyi, pula fakta bahwa ia merupakan musisi wanita Korea pertama yang menggelar konser di stadion berkapasitas hampir 70 ribu orang tersebut. Tapi sebagaimana prinsip bercerita yang tak langsung melompat ke klimaks, The Golden Hour enggan terburu-buru mengajak penontonnya berpesta.
IU sendiri jeli dalam bercerita. Mungkin karena ia telah banyak menyerap ilmu dari para penutur ulung, termasuk kala membintangi Broker karya Hirokazu Kore-eda. Simak susunan setlist yang kentara memperlihatkan intensinya berbagi kisah.
Kisah seperti apa? Kini ia telah dewasa. Sudah menginjak 30 tahun. Bukan lagi nation's little sister (julukannya di awal karir). Mungkin ia tidak lagi lebih menyukai rambut pendek ketimbang rambut panjang seperti lima tahun lalu. Perubahan itu mendorongnya "meluluskan" lagu Palette, yang selepas konser ini takkan lagi dibawakan.
Selain Palette, Good Day juga dipensiunkan. Agak mengejutkan, sebab inilah lagu yang melambungkan nama IU berkat tarikan "tiga nada tinggi" miliknya. Alasannya? Tingkat kesulitan tinggi dalam Good Day membatasi opsi IU mengutak-atik susunan setlist baru. Dia ingin bebas bereksplorasi. Berapa banyak musisi berani mengesampingkan lagu hit mereka atas nama eksplorasi?
Pencapaian terbesar The Golden Hour yang jarang dimiliki film konser terutama K-pop adalah, ia mampu membawa penonton mengenali identitas si penyanyi. Sekali lagi, filmnya piawai bercerita. Bahkan tiga VCR di sela-sela penampilan bukan sebatas parade visual kosong selaku selingan. Ada kisah menyentuh yang mewakili proses pendewasaan IU dalam mengarungi hidup. Bagaimana My Sea, yang mendukung narasi VCR tersebut dijadikan nomor penutup (en-encore di konser lebih seperti mid-credits scene dalam film) juga bukti bahwa konser ini didesain dengan "bercerita" sebagai intensi utama.
The Golden Hour pun sanggup menjustifikasi eksistensinya di layar lebar, meski telah dirilis dalam format DVD dan Blu-ray, pun beberapa klip dapat ditemukan di YouTube. Film ini bukan "rekaman konser" semata, namun sebuah pengalaman sinematik yang layak dikonsumsi di bioskop. Pilihan shot-nya megah, mendukung beragam momen magis yang IU hadirkan. Strawberry Moon yang dibawakan dari balon udara, sampai Above the Time yang didahului pertunjukan drone memukau jadi dua contoh terbaik.
Tapi serupa IU yang dikenal humanis, The Golden Hour bukan cuma pameran teknologi. Manusia adalah komponen terpenting. Tidak perlu lagi membahas kemampuan bernyanyi IU, maupun kehebatannya menguasai panggung. Jajaran penari, musisi pengiring, juga tim orkestra turut diberi sorotan. Sebuah paket lengkap.
Seusai film, saya meninggalkan bioskop dan mendapati langit senja secara kebetulan juga tengah menampakkan golden hour. Tanpa sadar timbul pemikiran, "Bukankah kita sungguh beruntung bisa hidup di era yang sama dengan Lee Ji-eun?".
REVIEW - SPIDER-MAN: ACROSS THE SPIDER-VERSE
Hampir tiap minggu film bagus bermunculan. Kemudian tiap beberapa bulan, rilis film yang disebut "spesial" dan menjadi calon unggulan di musim penghargaan. Tapi film seperti Spider-Man: Across the Spider-Verse hanya muncul beberapa tahun sekali. Film seperti apa? Masterpiece.
Into the Spider-Verse (2018) mengingatkan adanya potensi tanpa batas, baik dalam animasi sebagai medium, maupun multiverse sebagai pondasi cerita. Across the Spider-Verse mengeksplorasi kebebasan ruang gerak itu secara lebih jauh. Alhasil ia pun memiliki segalanya. Visual indah, cerita emosional, hingga fan service selaku pemanis yang tak mendistraksi.
Kali ini kita memulai perjalanan dari semesta Gwen Stacy (Hailee Steinfeld) untuk mempelajari luka si Spider-Woman, yang selepas kematian Peter Parker, justru jadi target buruan sang ayah dari pihak kepolisian. Sebagaimana disampaikan Peter B. Parker (Jake Johnson), hampir seluruh varian manusia laba-laba dikenal jenaka. Tapi benang merah di antara mereka malah berwujud duka. Selalu ada kehilangan.
Biarpun masih dihiasi ragam visual warna-warni, tone milik Across the Spider-Verse memang cenderung melankolis, lebih kelam dibanding film pertama. Tidak banyak yang dapat memahami pergulatan batin para manusia laba-laba dengan identitas ganda mereka, apalagi saat kehilangan orang tercinta senantiasa mengikuti.
Karena itulah hubungan Gwen dan Miles Morales (Shameik Moore) punya bobot emosi. Bukan pertemanan atau romantika biasa, melainkan proses menemukan sosok yang dapat mengangkat masing-masing individu dari kesepian. Keduanya bertemu lagi saat Gwen mengemban misi rahasia untuk memburu The Spot (Jason Schwartzman), supervillain dengan kemampuan membuka portal melalui noda hitam di tubuhnya, yang kebetulan juga tengah Miles hadapi.
Miles dan Gwen berayun melintasi kota, kemudian duduk berdua di puncak gedung dalam posisi terbalik, sembari mengucapkan kata-kata hangat dari naskah buatan Phil Lord, Christopher Miller, dan David Callaham. Momen tersebut di-animasi-kan dengan cantik, namun "rasa" sesungguhnya berasal dari subteks yang tersimpan. Dua manusia yang menolak terikat gravitasi bumi, justru terikat kuat oleh hati masing-masing.
Oh, tapi bagaimana Gwen bisa mengunjungi semesta Miles? Semua berkat grup bernama Spider-Society ciptaan Miguel O'Hara (Oscar Isaac) yang mengemban misi melindungi multiverse. O'Hara membuat gelang yang memungkinkan anggotanya melintas antar semesta dengan bebas. Tapi mengapa si penyandang nama Spider-Man 2099 nampak begitu membenci Miles? Jawabannya hadir dalam satu dari beberapa twist yang filmnya siapkan.
Across the Spider-Verse memang menyimpan banyak kejutan di balik alur ambisiusnya. Seberapa ambisius? Meski bukan patokan utama, durasi 140 menit miliknya (animasi Hollywood terpanjang sampai saat ini) bisa memberi sedikit gambaran. Elemen multiverse bukan sekadar hiasan atau modus melempar easter eggs (walau tetap ada ruang bagi beberapa fan service yang ampuh memancing sorakan penonton), tapi dijadikan alat bercerita perihal berbagai hal, salah satunya takdir manusia. Akankah kita tunduk begitu saja pada "suratan", ataukah ada jalan yang bisa kita ciptakan?
Bukan protagonisnya saja yang berproses. The Spot mengawali karir kriminalnya sebagai lelucon. Miles menganggapnya "villain of the week" yang dapat dikalahkan di kala senggang. Kekuatannya pun nampak konyol. Tapi seiring waktu, ia pantas disebut sebagai salah satu villain paling mengerikan dalam film Spider-Man, baik animasi atau live-action.
Cantik luar-dalam. Demikianlah Across the Spider-Verse. Visualnya yang sarat variasi bahkan sampai ke hitungan frame (banyak pernak-pernik bersifat "blink-and-you'll-miss-it") turut membawa detail informasi. Misal terkait penokohan, yang salah satunya nampak dari bagaimana Spider-Punk (Daniel Kaluuya) dihidupkan memakai gaya ala visual art subkultur punk.
Begitu pula emosi. Visualnya ikut menyampaikan emosi. Sapuan cat air di semesta Gwen yang nuansanya mengikuti dinamika batin karakter adalah favorit saya. Trio sutradaranya, Joaquim Dos Santos, Kemp Powers, dan Justin K. Thompson, paham betul betapa goresan warna di medium animasi bukan sebatas pamer gaya, namun wujud ekspresi rasa.
Lalu musik gubahan Daniel Pemberton datang untuk menyempurnakan Across the Spider-Verse sebagai sajian audiovisual yang lengkap. Ada momen di babak ketiganya yang tampil mencekam berkat ketepatan isian musik. Karena sama seperti rekan-rekannya di departemen visual, Pemberton menolak terpaku pada satu bentuk. Dibiarkannya nada-nada bergerak mengikuti ke mana rasa berjalan.
Bisakah Beyond the Spider-Verse tahun depan menandingi pencapaian "kakaknya"? Butuh perjuangan ekstra serta hasil luar biasa agar bisa melakukannya. Tapi sekali lagi, seri Spider-Verse adalah soal ketiadaan batasan. Ketika rasa-rasa tadi kembali melebur, mungkin saja Miles bakal terbang lebih tinggi lagi.
REVIEW - EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE
Jika Swiss Army Man (2016) ibarat "film shitpost", maka Everything Everywhere All at Once adalah "film shitpost dengan hati" buatan duo Daniels (Daniel Kwan dan Daniel Scheinert) selaku sutradara. Karya yang bak lahir dari imajinasi tanpa batas seorang bocah, sekaligus sensitivitas jiwa orang dewasa.
Everything Everywhere All at Once cuma bisa dirasakan, pula mustahil dijabarkan. Apalagi jika suatu penjabaran bertujuan untuk menangkap seluruh tuturannya. Sebuah aksi, drama, komedi, fantasi, sekaligus fiksi ilmiah berlatar multiverse. Sebuah kisah marital drama, hubungan ibu-anak, juga perjuangan imigran Asia. Sebuah eksistensialisme soal pencarian makna hidup, sekaligus nihilisme yang menyatakan bahwa "nothing matters".
Semua bermula dari satu hari yang runyam dalam hidup Evelyn (Michelle Yeoh). Usaha penatunya hendak diaudit oleh Deirdre (Jamie Lee Curtis) dari IRS; sang ayah, Gong Gong (James Hong) baru tiba dari Cina; puterinya, Joy (Stephanie Hsu), seorang lesbian dan berusaha membuat Evelyn menerima hubungannya dengan Becky (Tallie Medel); sedangkan sang suami, Waymond (Ke Huy Quan), dirasa tak banyak membantu oleh Evelyn akibat kekonyolan sikapnya.
Bagaimana semua itu berujung pada petualangan menembus multiverse? Biarkan filmnya sendiri yang bicara. The less you know, the better. Naskah garapan Daniels merupakan keliaran tak terkontrol dengan kejutan di tiap sudut, yang sensasinya harus dirasakan langsung.
Pastinya, Evelyn bakal bersinggungan dengan beragam varian dirinya, dari yang normal seperti Evelyn si penyanyi dan si bintang film martial arts (cerminan figur asli Yeoh), hingga versi aneh yang senada dengan gaya absurdist khas Daniels. Fenomena tersebut terjadi berkat konsep "verse jump", yang meski gagasannya rumit, presentasinya mudah dipahami, sebab selain eksposisi verbal, Daniels turut mengandalkan penceritaan visual.
Kali pertama Evelyn menjajal verse jump juga jadi momen perdana film ini memamerkan pencapaian efek spesial mereka (Oscar nomination is a sure thing). Total sekitar 500 special effects shots dipergunakan, ditangani oleh tim berisi lima orang, dengan bujet cuma 25 juta dollar. Efek praktikal dan komputer dipadukan, teknologi StageCraft ala The Mandalorian diterapkan, petualangan liar pun berhasil disajikan.
Setiap kunjungan ke semesta berbeda merupakan jembatan eksplorasi terhadap aneka genre dengan segudang referensi (martial arts, romansa moody khas Wong Kar-wai, animasi, dll.), yang masing-masing tentu membawa suasana berbeda pula. Daniels memakai beberapa rasio guna menekankan perbedaan itu (tepatnya empat rasio aspek).
Penuh? Ya. Kacau? Jelas, tapi bukan kekacauan buruk. Penyuntingan Paul Rogers jadi salah satu departemen paling bersinar. Dibangunnya kesan "berantakan tapi tertata", selaku hasil tubrukan multiverse dalam jumlah tidak terhingga. Pusing rasanya membayangkan pengonsepan di pra-produksi, fase produksi yang melibatkan sebegitu banyak shot, sampai pasca-produksi dengan segudang materi untuk disatukan. This is a never-before-seen achievement (untunglah pengalaman menonton saya untuk film ini pertama terjadi di layar lebar).
Pencapaian yang dapat terjadi karena duo Daniels menolak membatasi imaji, membebaskannya, bak dua anak kecil yang memainkan mainan semau mereka. Tidak ada kekhawatiran bahwa sebuah elemen bakal terlalu konyol untuk "film sungguhan". Lihat metode yang ditempuh karakternya kala melakukan verse jump. Lucu, kreatif, mengejutkan.
Tapi selain imajinasi bocah, Daniels juga membawa kepekaan dewasa. Di balik kegilaan multiverse atau prestasi artistiknya, kekuatan terbesar Everything Everywhere All at Once tersimpan di balik segala keriuhan tersebut.
Petualangan Evelyn didasari formula "the chosen one" klise, di mana ia dipercaya sebagai satu-satunya orang yang mampu menggagalkan upaya entitas misterius bernama Jobu Tupaki untuk menghancurkan multiverse. Tatkala identitas Jobu Tupaki diungkap, arah kisahnya berubah. Skala meluas, namun penelusurannya bergerak memasuki perenungan lebih dalam.
Perenungan yang diwakili secara luar biasa oleh jajaran cast, terutama trio Yeoh-Hsu-Quan. Kembali berakting setelah 20 tahun absen (kesuksesan Crazy Rich Asian menginspirasinya), Quan menampilkan sensitivitas yang mendefinisikan "kekuatan", sementara Hsu mewakili kegundahan yang begitu dekat, saat individu merasa tiada lagi yang berarti dalam hidup.
Telah berkarir selama hampir empat dekade, sulit menyebut mana akting terbaik Yeoh, tapi penampilannya di Everything Everywhere All at Once jelas yang paling lengkap. Sekuen laga, humor, momen emosional, semua dijalani. Belum lagi mempertimbangkan kuantitas adegan yang mesti ia ambil. Sebuah penampilan dari aktris yang menolak duduk nyaman menikmati status sebagai megabintang legendaris. Saya mendukungnya di musim penghargaan nanti.
Everything Everywhere All at Once bukan sebuah pertarungan. Setidaknya bukan pertarungan "baik melawan buruk", melainkan proses memahami. Memahami orang lain. Memahami diri kita. Memahami bahwa mungkin saja tiada hal berarti dalam hidup, atau justru segalanya amat berarti. Memahami bahwa hidup dengan segala posibilitas tanpa batas miliknya memang sukar, bahkan mungkin saja mustahil dipahami. Alih-alih menilai maupun menghakimi, kita cukup menjalani, sembari membuka mata, telinga, dan terpenting, hati.
REVIEW - TOP GUN: MAVERICK
Popularitas Top Gun tidak bisa disangkal. Merupakan film berpendapatan tertinggi sepanjang 1986 (meraup 357 juta dollar, atau sekitar 940 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang), yang konon memicu lonjakan pendaftaran US Navy sampai 500%. Sebuah blockbuster khas 80an yang ringan, menghibur, cheesy, tapi sejujurnya, tidak luar biasa. Sekuelnya, Top Gun: Maverick yang menyusul 36 tahun berselang, adalah spesies berbeda.
Menggantikan mendiang Tony Scott di kursi sutradara, Joseph Kosinski beralih dari parade CGI yang menyusun awal karirnya, dari beberapa iklan berbasis CGI hingga film-film macam Tron: Legacy (2010) dan Oblivion (2013), guna melahirkan salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, yang melebihi pendahulunya di segala lini.
Menit-menit awalnya bak reka ulang film pertama. Serupa, bukan cuma di adegan, pula teks intro yang memperkenalkan apa itu program Top Gun. Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise) pun masih sama. Masih sosok biang masalah, juga masih berstatus kapten. Maverick menghindari peluang naik pangkat agar bisa terus menjadi pilot. Tepatnya pilot uji coba.
Sekuen aerial perdana hadir saat Maverick menguji coba pesawat dengan target mencapai Mach 10 (10 kali kecepatan suara). Di sinilah Kosinski memamerkan sentuhannya. Tentu sekuen tersebut intens dan bombastis. Tapi siapa menduga kalau di beberapa titik ia bakal meminimalkan suara, lalu fokus pada keindahan lanskap langit yang dibelah oleh jejak lesatan jet? Seolah Kosinski mengingatkan bahwa "terbang" merupakan keajaiban bagi umat manusia.
Pada akhir film pertama, Maverick memutuskan bergabung sebagai instruktur Top Gun, yang ternyata cuma berjalan dua bulan. Mengajar bukan panggilan hidupnya. Tatkala teknologi makin berkembang, dan otomatisasi mulai menggeser pilot manusia, masih adakah tempat bagi Maverick?
Jawaban datang setelah Top Gun memanggilanya lagi. Kali ini bukan untuk pelatihan biasa, melainkan persiapan menuju misi berbahaya. Begitu berbahaya, reaksi pertama Maverick adalah, "Tidak semua pilot bakal pulang dengan selamat". Langsung tampak perbedaan mendasar alur dalam naskah buatan Ehren Kruger, Eric Warren Singer, dan Christopher McQurrie dibanding Top Gun. Sejak awal, kita dan karakternya mengetahui keberadaan misi.
Masih dipenuhi latihan (termasuk olahraga di pantai, meski voli digantikan american football, dan tak lagi beraroma homoerotic), namun latihan di Maverick terasa lebih esensial. Penonton dibuat memahami detail strategi, pun semakin jauh latihan berlangsung, semakin meningkat kesulitannya, semakin pula kita merasakan betapa berbahaya misi tersebut. Apalagi saat melalui sekuen luar biasa intens, filmnya menegaskan kalau bahaya tidak hanya berasal dari peluru, rudal, atau radar musuh. Alam bisa sama, atau malah lebih mematikan.
Di ranah penokohan, naskahnya mengembangkan karakter Maverick tanpa harus mengubah jati diri. Masih nekat, penuh percaya diri, tapi lebih bisa meredam ego. Tetap ingin bebas, tapi mulai mendambakan tempat untuk pulang, yang diwakili oleh romansanya dan Penny (Jennifer Connelly), yang namanya sempat disinggung sekilas di film pertama (cara cerdik mengubah love interest si protagonis).
Setelah terbang puluhan tahun, Maverick banyak mendapati kematian sesama pilot, termasuk sahabatnya, Goose (Anthony Edwards). Kematian mereka menyisakan duka di hati para orang tercinta. Tapi siapa yang akan kehilangan Maverick andai ia tiada? Maverick yang selama ini senantiasa "kehilangan", kini berusaha untuk "menemukan".
Salah satunya menemukan kedamaian. Kematian Goose masih belum mampu ia lupakan. Terlebih, putera sang sahabat, Rooster (Miles Teller), tergabung dalam tim yang dilatihnya. Rooster sendiri menyimpan rasa benci terhadap Maverick.
Elemen drama di atas dilakoni Cruise dengan amat baik. Saking seringnya menantang maut, banyak orang lupa bahwa Cruise adalah aktor bagus pemilik tiga nominasi Oscar. Sewaktu Maverick dan Iceman (Val Kilmer) terlibat obrolan soal "merelakan", jangkauan akting dramatik Cruise mencapai titik terbaiknya.
Tapi mari lupakan tetek bengek penceritaan. Semua datang menonton demi dogfight bukan? Saya berani menyebut Top Gun: Maverick memiliki rangkaian dogfight terbaik yang pernah ditampilkan di layar lebar. Lebih megah, lebih kompleks, tapi menariknya, lebih mudah dicerna ketimbang film pertama (siapa melawan siapa, siapa ada di pesawat mana, dll.).
Semua dogfight memukau, tapi third act-nya berada di tingkatan berbeda. Penuh manuver berbahaya serta aerobatics yang mendefinisikan "you won't believe it until you see it". Hell, even after you saw it, you won't believe that those are achievable.
Kuncinya terletak pada efek praktikal. CGI dipakai secukupnya kala benar-benar dibutuhkan. Sedangkan sisanya, kamera milik Claudio Miranda selaku sinematografer, menangkap jet asli yang membelah angkasa. Realisme menguat berkat penempatan kamera di kokpit yang dioperasikan langsung oleh cast (mereka sungguh duduk di kursi penumpang dalam pesawat yang mengudara).
Penceritaannya cenderung klise? Mungkin, tapi rasanya itu bukan perihal yang patut dikeluhkan. Apa perlunya mempermasalahkan keklisean, saat Top Gun: Maverick adalah blockbuster sempurna, dengan jajaran spektakel yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan selipan humornya juga efektif menambah daya hibur. Joseph Kosinski mengembalikan sinema blockbuster ke hakikatnya, yakni sajian yang membuat penonton menyaksikan, kemudian memercayai kemustahilan.
REVIEW - MEMORIA
"Kenapa perlu repot-repot berusaha kalau takdir kita sudah ditentukan?", tanya saya di sebuah diskusi santai dengan seorang kerabat yang juga "ahli" spiritual. Dia menjawab, "Waktu di mata Tuhan tidak linear. Konsep dulu, sekarang, besok, semua itu tidak relevan. Apa yang kita anggap masa depan, di mata-Nya adalah masa kini".
Memoria bukan membahas suratan takdir maupun Tuhan. Tapi karya terbaru Apichatpong Weerasethakul ini, yang akan mewakili Kolombia di gelaran Academy Awards 2022, merekonstruksi persepsi kita tentang waktu. Tentang bagaimana manusia selaku bagian semesta, menyatu dengannya sehingga menciptakan pengalaman kolektif yang melampaui batasan logika.
Di menit-menit awal saya sempat mengeluh, "Wah, Apichatpong tergoda kemapanan". Filmnya masih lambat, masih sunyi, masih didominasi still shot yang bakal dikira freeze frame oleh penonton awam, namun semua tampak lebih "mahal". Latar hutan dan/atau perkampungan Thailand pindah ke perkotaan modern di Bogota. Akting amatir pelakon tak dikenal digantikan kebintangan Tilda Swinton. Kesan naturalistik sarat mistisisme seolah lenyap.
Tapi seiring kita mengikuti usaha Jessica (Tilda Swinton) memecahkan peristiwa misterius yang ia alami, barulah tampak tujuan dari pilihan-pilihan di atas. Suatu malam, Jessica dikejutkan oleh suara dentuman. Orang lain tidak mendengarnya. Apakah ada fenomena tertentu, ataukah isi kepala Jessica yang memang terganggu?
Atas rekomendasi teman, Jessica mengunjungi Hernan (Juan Pablo Urrego), seorang sound mixer, guna mengungkap identitas dentuman yang ia dengar. Di situ fungsi kehadiran Swinton (baca: aktris profesional) terjawab. Apichatpong menempatkan kamera di belakang kedua pemain. Kita cuma melihat punggung Jessica, sementara Hernan memutarkan satu demi satu contoh suara. Sewaktu sampai di suara yang dimaksud, tubuh Jessica sedikit bergetar. Terkejut, terhenyak.
Swinton memperlihatkan bentuk akting subtil, yang cuma bisa ditampilkan bila jiwa dan raga sang pelakon, menyatu dengan sosok peranannya. Saya tersentuh dibuatnya. Jelang akhir, Apichatpong melakukan hal berlawanan. Kamera ditempatkan di depan, menyorot langsung ke arah wajah Swinton yang berlinang air mata. Hasilnya sama kuat. Swinton melebur dengan Jessica, Jessica melebur dengan semesta.
Memoria memang membicarakan peleburan. Kesan modern yang saya sebut di atas juga tidak lepas dari peleburan tersebut. Tatkala manusia melebur dengan semesta, ia melampaui batas-batas ruang, waktu, juga individu. Sekat pemisah untuk hal-hal yang saling berkontradiksi pun lenyap. Alam dengan teknologi, tradisi dengan modernisasi, pula sains dengan kepercayaan/spiritual, yang mendasari "kunjungan" singkat nan aneh narasinya ke ranah sci-fi di babak akhir. Semua menyatu, sehingga lahir harmoni indah layaknya penyatuan beragam instrumen dalam sebuah grup musik.
Memoria adalah peristiwa yang mesti dialami langsung. Reviu seperti apa pun takkan mampu menggambarkannya secara utuh. Sedikit berbeda (jumlah dialog dan keriuhan kota yang sesekali menyeruak, membuatnya terasa paling "bersahabat" dibanding karya lain sang sutradara sejak The Adventure of Iron Pussy), tapi sebagaimana karya Apichatpong biasanya, film ini merupakan presentasi magis, yang akan membuat penonton bertanya, "Apa tengah terjadi sesuatu? Apa semesta sedang berbicara?", tiap angin mendadak berhembus. Tidak ada pengalaman spiritual sekuat Memoria sepanjang tahun ini.
(JAFF 2021)
PARASITE (2019)
AVENGERS: ENDGAME (2019)
IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
LADY BIRD (2017)
THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT
STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)
Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara.






























