Tampilkan postingan dengan label Luar Biasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luar Biasa. Tampilkan semua postingan

REVIEW - ONE BATTLE AFTER ANOTHER

One Battle After Another melukiskan dinamika dunia kita sekarang, di mana pertikaian terus lahir tanpa akhir dan konflik jadi santapan sehari-hari. Sebuah 162 menit penuh kekacauan yang berpotensi jadi bencana sinematik andai bukan ditangani oleh pengarahan jawara seorang Paul Thomas Anderson (PTA), yang merevolusi genre aksi, memberinya ruang emansipasi dari tuntutan menyuguhkan hiburan tanpa isi. 

Sekuen pembuka epiknya mengantar kita berkenalan dengan kelompok pejuang revolusi bernama French 75 yang tengah membobol pusat penahanan guna membebaskan para imigran. Sepasang kekasih, Perfidia Beverly Hills (Teyana Taylor) dan Bob Ferguson (Leonardo DiCaprio), termasuk pentolannya. 

Kebanyakan sineas akan merasa cukup membuka karyanya dengan misi pembebasan di atas. Protagonis diperkenalkan, keseruannya pun cukup untuk mencengkeram atensi penonton. Tapi PTA bukan "kebanyakan sineas". Pasca misi, musik gubahan Jonny Greenwood, yang sepanjang durasi bereksperimen dengan bunyi-bunyian (khususnya perkusi) layaknya ilmuwan gila, dibiarkan terus mengalir, mengiringi perlawanan demi perlawanan French 75 yang jauh dari kata "usai". 

Mengambil inspirasi dari novel Vineland karya Thomas Pynchon, One Battle After Another menangkap wajah rasis Amerika Serikat, di mana sekelompok pemegang kuasa diam-diam bersekutu dengan tujuan "memurnikan ras", sembari menamai diri mereka Christmas Adventurers Club. 

Kolonel Steven J. Lockjaw (Sean Penn) merupakan white supremacist yang berharap dapat bergabung dengan Christmas Adventurers Club. Dialah kepala dari pusat penahanan yang French 75 serang di awal film. Pada penyerbuan tersebut, Perfidia menerobos ke kamar Steven, mempermalukannya, memaksa si kolonel membuat penisnya berdiri di bawah todongan senapan. 

Interaksi keduanya menekankan kecerdikan PTA membangun studi karakter. Alih-alih terprovokasi oleh lontaran kata-kata beraroma perlawanan dari Perfidia, Steven sibuk menggigit bibir sambil menahan nafsu. Perfidia pun serupa. Mulutnya menyuarakan revolusi seolah untuk menyembunyikan tatapan matanya yang menyiratkan hasrat diri. Si laki-laki kulit putih yang begitu bangga akan maskulinitas dan rasnya justru ingin tunduk di bawah kaki perempuan kulit hitam, yang di balik segala gembar-gembor revolusinya, hanya ingin merengkuh kepuasan diri. 

Itulah awal dari konflik belasan tahun yang bakal melibatkan pengejaran Steven terhadap anggota French 75, tidak terkecuali Bob beserta putrinya, Willa (Chase Infiniti), yang mendapat beberapa uluran bantuan termasuk dari Sergio St. Carlos (Benicio del Toro), pria Meksiko pemilik akademi ninja yang dipanggil "sensei" oleh murid-muridnya. PTA bak mengungkapkan kecintaan atas sinema eksploitasi, dari blaxploitation dengan deretan karakter bernama nyeleneh seperti Junglepussy, hingga nunsploitation. 

Skala ceritanya begitu masif, tatkala PTA memberi gambaran bahwa tiap individu mempunyai pertarungan mereka masing-masing. Satu konflik berujung melahirkan konflik lain, ibarat efek domino, hanya saja tiap kejatuhan satu keping domino disertai ledakan penyulut huru-hara. 

Bagaimana mungkin cerita sebegini besar nan liar mampu dituturkan tanpa menciptakan kekacauan naratif? PTA mengarahkan kisahnya bagai pembalap formula satu yang memacu mobilnya secepat kilat tanpa pernah kehilangan kendali berbekal refleks level dewa miliknya. One Battle After Another tak mengandung satu pun momen yang terasa percuma, pun secara konsisten menjaga intensitasnya selama hampir tiga jam.

Jajaran pelakonnya tak kalah hebat. DiCaprio tampil konyol tanpa harus menjadi karikatur. Sosok Bob diposisikannya selaku individu biasa yang kehilangan tujuan hidup, lalu beralih ke ganja guna mengisi kekosongan hatinya. Begitu pula Penn kala menghadirkan monster rasis yang ada kalanya amat mengerikan, namun kerapuhan maskulinitasnya tak jarang mengundang tawa. Di tengah keduanya, performa Benicio del Toro membuat saya terpukau oleh ketenangan berwibawa si "ninja Meksiko". 

PTA memotret barisan karakternya sebagai manusia biasa melalui naskahnya yang menolak kedangkalan propaganda. Jajaran prajurit revolusi misalnya, yang diperlihatkan berkali-kali membocorkan rahasia kelompok kala berada di bawah ancaman militer. Tiada manusia sempurna di sini. Hebatnya, sang sineas memanusiakan karakternya tanpa terkesan mengerdilkan perlawanan mereka. 

Haram hukumnya mengultuskan satu figur dalam perjuangan. Sebuah perjuangan semestinya berorientasi pada gagasan ketimbang sosok yang diidolakan secara berlebih. Pada akhirnya, para pejuang cuma manusia biasa dengan segunung kelemahan, juga memiliki orang-orang tercinta yang dapat dimanfaatkan oleh lawan untuk menyudutkan mereka. Tapi gagasan akan selalu abadi.  

Klimaks One Battle After Another membawa penonton mengunjungi area terpencil di tengah padang gurun untuk menyaksikan kejar-kejaran mobil. Di satu titik, PTA menempatkan kita di perspektif mobilnya kala melaju kencang melintasi jalanan naik-turun yang membatasi jarak pandang. PTA bukan hanya memanfaatkan teknologi, pula elemen geografis dalam menyiasati adegan. Jenius! Revolusi tidak disiarkan di televisi, tapi dipancarkan oleh proyektor ke layar perak sinema.   

REVIEW - IU CONCERT: THE GOLDEN HOUR

Stadion Olimpiade Seoul, 18 September 2022. Langit senja memancarkan warna jingga. Suasana tenang. Damai. Bahkan saat IU (yang menggelar konser solo kembali setelah tiga tahun) membuka pertunjukan lewat lagu Eight, ia mengawalinya dengan akapela. Muncul perasaan khidmat, nyaris religius. 

The Golden Hour memang bukan film konser K-pop biasa. Dia tahu cara bernarasi. Banyak hal patut dirayakan. Sebutlah perayaan 14 tahun karir sang penyanyi, pula fakta bahwa ia merupakan musisi wanita Korea pertama yang menggelar konser di stadion berkapasitas hampir 70 ribu orang tersebut. Tapi sebagaimana prinsip bercerita yang tak langsung melompat ke klimaks, The Golden Hour enggan terburu-buru mengajak penontonnya berpesta. 

IU sendiri jeli dalam bercerita. Mungkin karena ia telah banyak menyerap ilmu dari para penutur ulung, termasuk kala membintangi Broker karya Hirokazu Kore-eda. Simak susunan setlist yang kentara memperlihatkan intensinya berbagi kisah. 

Kisah seperti apa? Kini ia telah dewasa. Sudah menginjak 30 tahun. Bukan lagi nation's little sister (julukannya di awal karir). Mungkin ia tidak lagi lebih menyukai rambut pendek ketimbang rambut panjang seperti lima tahun lalu. Perubahan itu mendorongnya "meluluskan" lagu Palette, yang selepas konser ini takkan lagi dibawakan. 

Selain Palette, Good Day juga dipensiunkan. Agak mengejutkan, sebab inilah lagu yang melambungkan nama IU berkat tarikan "tiga nada tinggi" miliknya. Alasannya? Tingkat kesulitan tinggi dalam Good Day membatasi opsi IU mengutak-atik susunan setlist baru. Dia ingin bebas bereksplorasi. Berapa banyak musisi berani mengesampingkan lagu hit mereka atas nama eksplorasi? 

Pencapaian terbesar The Golden Hour yang jarang dimiliki film konser terutama K-pop adalah, ia mampu membawa penonton mengenali identitas si penyanyi. Sekali lagi, filmnya piawai bercerita. Bahkan tiga VCR di sela-sela penampilan bukan sebatas parade visual kosong selaku selingan. Ada kisah menyentuh yang mewakili proses pendewasaan IU dalam mengarungi hidup. Bagaimana My Sea, yang mendukung narasi VCR tersebut dijadikan nomor penutup (en-encore di konser lebih seperti mid-credits scene dalam film) juga bukti bahwa konser ini didesain dengan "bercerita" sebagai intensi utama. 

The Golden Hour pun sanggup menjustifikasi eksistensinya di layar lebar, meski telah dirilis dalam format DVD dan Blu-ray, pun beberapa klip dapat ditemukan di YouTube. Film ini bukan "rekaman konser" semata, namun sebuah pengalaman sinematik yang layak dikonsumsi di bioskop. Pilihan shot-nya megah, mendukung beragam momen magis yang IU hadirkan. Strawberry Moon yang dibawakan dari balon udara, sampai Above the Time yang didahului pertunjukan drone memukau jadi dua contoh terbaik. 

Tapi serupa IU yang dikenal humanis, The Golden Hour bukan cuma pameran teknologi. Manusia adalah komponen terpenting. Tidak perlu lagi membahas kemampuan bernyanyi IU, maupun kehebatannya menguasai panggung. Jajaran penari, musisi pengiring, juga tim orkestra turut diberi sorotan. Sebuah paket lengkap. 

Seusai film, saya meninggalkan bioskop dan mendapati langit senja secara kebetulan juga tengah menampakkan golden hour. Tanpa sadar timbul pemikiran, "Bukankah kita sungguh beruntung bisa hidup di era yang sama dengan Lee Ji-eun?".   

REVIEW - SPIDER-MAN: ACROSS THE SPIDER-VERSE

Hampir tiap minggu film bagus bermunculan. Kemudian tiap beberapa bulan, rilis film yang disebut "spesial" dan menjadi calon unggulan di musim penghargaan. Tapi film seperti Spider-Man: Across the Spider-Verse hanya muncul beberapa tahun sekali. Film seperti apa? Masterpiece.

Into the Spider-Verse (2018) mengingatkan adanya potensi tanpa batas, baik dalam animasi sebagai medium, maupun multiverse sebagai pondasi cerita. Across the Spider-Verse mengeksplorasi kebebasan ruang gerak itu secara lebih jauh. Alhasil ia pun memiliki segalanya. Visual indah, cerita emosional, hingga fan service selaku pemanis yang tak mendistraksi.

Kali ini kita memulai perjalanan dari semesta Gwen Stacy (Hailee Steinfeld) untuk mempelajari luka si Spider-Woman, yang selepas kematian Peter Parker, justru jadi target buruan sang ayah dari pihak kepolisian. Sebagaimana disampaikan Peter B. Parker (Jake Johnson), hampir seluruh varian manusia laba-laba dikenal jenaka. Tapi benang merah di antara mereka malah berwujud duka. Selalu ada kehilangan. 

Biarpun masih dihiasi ragam visual warna-warni, tone milik Across the Spider-Verse memang cenderung melankolis, lebih kelam dibanding film pertama. Tidak banyak yang dapat memahami pergulatan batin para manusia laba-laba dengan identitas ganda mereka, apalagi saat kehilangan orang tercinta senantiasa mengikuti. 

Karena itulah hubungan Gwen dan Miles Morales (Shameik Moore) punya bobot emosi. Bukan pertemanan atau romantika biasa, melainkan proses menemukan sosok yang dapat mengangkat masing-masing individu dari kesepian. Keduanya bertemu lagi saat Gwen mengemban misi rahasia untuk memburu The Spot (Jason Schwartzman), supervillain dengan kemampuan membuka portal melalui noda hitam di tubuhnya, yang kebetulan juga tengah Miles hadapi. 

Miles dan Gwen berayun melintasi kota, kemudian duduk berdua di puncak gedung dalam posisi terbalik, sembari mengucapkan kata-kata hangat dari naskah buatan Phil Lord, Christopher Miller, dan David Callaham. Momen tersebut di-animasi-kan dengan cantik, namun "rasa" sesungguhnya berasal dari subteks yang tersimpan. Dua manusia yang menolak terikat gravitasi bumi, justru terikat kuat oleh hati masing-masing. 

Oh, tapi bagaimana Gwen bisa mengunjungi semesta Miles? Semua berkat grup bernama Spider-Society ciptaan Miguel O'Hara (Oscar Isaac) yang mengemban misi melindungi multiverse. O'Hara membuat gelang yang memungkinkan anggotanya melintas antar semesta dengan bebas. Tapi mengapa si penyandang nama Spider-Man 2099 nampak begitu membenci Miles? Jawabannya hadir dalam satu dari beberapa twist yang filmnya siapkan. 

Across the Spider-Verse memang menyimpan banyak kejutan di balik alur ambisiusnya. Seberapa ambisius? Meski bukan patokan utama, durasi 140 menit miliknya (animasi Hollywood terpanjang sampai saat ini) bisa memberi sedikit gambaran. Elemen multiverse bukan sekadar hiasan atau modus melempar easter eggs (walau tetap ada ruang bagi beberapa fan service yang ampuh memancing sorakan penonton), tapi dijadikan alat bercerita perihal berbagai hal, salah satunya takdir manusia. Akankah kita tunduk begitu saja pada "suratan", ataukah ada jalan yang bisa kita ciptakan? 

Bukan protagonisnya saja yang berproses. The Spot mengawali karir kriminalnya sebagai lelucon. Miles menganggapnya "villain of the week" yang dapat dikalahkan di kala senggang. Kekuatannya pun nampak konyol. Tapi seiring waktu, ia pantas disebut sebagai salah satu villain paling mengerikan dalam film Spider-Man, baik animasi atau live-action. 

Cantik luar-dalam. Demikianlah Across the Spider-Verse. Visualnya yang sarat variasi bahkan sampai ke hitungan frame (banyak pernak-pernik bersifat "blink-and-you'll-miss-it") turut membawa detail informasi. Misal terkait penokohan, yang salah satunya nampak dari bagaimana Spider-Punk (Daniel Kaluuya) dihidupkan memakai gaya ala visual art subkultur punk.

Begitu pula emosi. Visualnya ikut menyampaikan emosi. Sapuan cat air di semesta Gwen yang nuansanya mengikuti dinamika batin karakter adalah favorit saya. Trio sutradaranya, Joaquim Dos Santos, Kemp Powers, dan Justin K. Thompson, paham betul betapa goresan warna di medium animasi bukan sebatas pamer gaya, namun wujud ekspresi rasa. 

Lalu musik gubahan Daniel Pemberton datang untuk menyempurnakan Across the Spider-Verse sebagai sajian audiovisual yang lengkap. Ada momen di babak ketiganya yang tampil mencekam berkat ketepatan isian musik. Karena sama seperti rekan-rekannya di departemen visual, Pemberton menolak terpaku pada satu bentuk. Dibiarkannya nada-nada bergerak mengikuti ke mana rasa berjalan. 

Bisakah Beyond the Spider-Verse tahun depan menandingi pencapaian "kakaknya"? Butuh perjuangan ekstra serta hasil luar biasa agar bisa melakukannya. Tapi sekali lagi, seri Spider-Verse adalah soal ketiadaan batasan. Ketika rasa-rasa tadi kembali melebur, mungkin saja Miles bakal terbang lebih tinggi lagi.  

REVIEW - EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE

Jika Swiss Army Man (2016) ibarat "film shitpost", maka Everything Everywhere All at Once adalah "film shitpost dengan hati" buatan duo Daniels (Daniel Kwan dan Daniel Scheinert) selaku sutradara. Karya yang bak lahir dari imajinasi tanpa batas seorang bocah, sekaligus sensitivitas jiwa orang dewasa. 

Everything Everywhere All at Once cuma bisa dirasakan, pula mustahil dijabarkan. Apalagi jika suatu penjabaran bertujuan untuk menangkap seluruh tuturannya. Sebuah aksi, drama, komedi, fantasi, sekaligus fiksi ilmiah berlatar multiverse. Sebuah kisah marital drama, hubungan ibu-anak, juga perjuangan imigran Asia. Sebuah eksistensialisme soal pencarian makna hidup, sekaligus nihilisme yang menyatakan bahwa "nothing matters".

Semua bermula dari satu hari yang runyam dalam hidup Evelyn (Michelle Yeoh). Usaha penatunya hendak diaudit oleh Deirdre (Jamie Lee Curtis) dari IRS; sang ayah, Gong Gong (James Hong) baru tiba dari Cina; puterinya, Joy (Stephanie Hsu), seorang lesbian dan berusaha membuat Evelyn menerima hubungannya dengan Becky (Tallie Medel); sedangkan sang suami, Waymond (Ke Huy Quan), dirasa tak banyak membantu oleh Evelyn akibat kekonyolan sikapnya. 

Bagaimana semua itu berujung pada petualangan menembus multiverse? Biarkan filmnya sendiri yang bicara. The less you know, the better. Naskah garapan Daniels merupakan keliaran tak terkontrol dengan kejutan di tiap sudut, yang sensasinya harus dirasakan langsung. 

Pastinya, Evelyn bakal bersinggungan dengan beragam varian dirinya, dari yang normal seperti Evelyn si penyanyi dan si bintang film martial arts (cerminan figur asli Yeoh), hingga versi aneh yang senada dengan gaya absurdist khas Daniels. Fenomena tersebut terjadi berkat konsep "verse jump", yang meski gagasannya rumit, presentasinya mudah dipahami, sebab selain eksposisi verbal, Daniels turut mengandalkan penceritaan visual. 

Kali pertama Evelyn menjajal verse jump juga jadi momen perdana film ini memamerkan pencapaian efek spesial mereka (Oscar nomination is a sure thing). Total sekitar 500 special effects shots dipergunakan, ditangani oleh tim berisi lima orang, dengan bujet cuma 25 juta dollar. Efek praktikal dan komputer dipadukan, teknologi StageCraft ala The Mandalorian diterapkan, petualangan liar pun berhasil disajikan. 

Setiap kunjungan ke semesta berbeda merupakan jembatan eksplorasi terhadap aneka genre dengan segudang referensi (martial arts, romansa moody khas Wong Kar-wai, animasi, dll.), yang masing-masing tentu membawa suasana berbeda pula. Daniels memakai beberapa rasio guna menekankan perbedaan itu (tepatnya empat rasio aspek). 

Penuh? Ya. Kacau? Jelas, tapi bukan kekacauan buruk. Penyuntingan Paul Rogers jadi salah satu departemen paling bersinar. Dibangunnya kesan "berantakan tapi tertata", selaku hasil tubrukan multiverse dalam jumlah tidak terhingga. Pusing rasanya membayangkan pengonsepan di pra-produksi, fase produksi yang melibatkan sebegitu banyak shot, sampai pasca-produksi dengan segudang materi untuk disatukan. This is a never-before-seen achievement (untunglah pengalaman menonton saya untuk film ini pertama terjadi di layar lebar).   

Pencapaian yang dapat terjadi karena duo Daniels menolak membatasi imaji, membebaskannya, bak dua anak kecil yang memainkan mainan semau mereka. Tidak ada kekhawatiran bahwa sebuah elemen bakal terlalu konyol untuk "film sungguhan". Lihat metode yang ditempuh karakternya kala melakukan verse jump. Lucu, kreatif, mengejutkan. 

Tapi selain imajinasi bocah, Daniels juga membawa kepekaan dewasa. Di balik kegilaan multiverse atau prestasi artistiknya, kekuatan terbesar Everything Everywhere All at Once tersimpan di balik segala keriuhan tersebut. 

Petualangan Evelyn didasari formula "the chosen one" klise, di mana ia dipercaya sebagai satu-satunya orang yang mampu menggagalkan upaya entitas misterius bernama Jobu Tupaki untuk menghancurkan multiverse. Tatkala identitas Jobu Tupaki diungkap, arah kisahnya berubah. Skala meluas, namun penelusurannya bergerak memasuki perenungan lebih dalam. 

Perenungan yang diwakili secara luar biasa oleh jajaran cast, terutama trio Yeoh-Hsu-Quan. Kembali berakting setelah 20 tahun absen (kesuksesan Crazy Rich Asian menginspirasinya), Quan menampilkan sensitivitas yang mendefinisikan "kekuatan", sementara Hsu mewakili kegundahan yang begitu dekat, saat individu merasa tiada lagi yang berarti dalam hidup.

Telah berkarir selama hampir empat dekade, sulit menyebut mana akting terbaik Yeoh, tapi penampilannya di Everything Everywhere All at Once jelas yang paling lengkap. Sekuen laga, humor, momen emosional, semua dijalani. Belum lagi mempertimbangkan kuantitas adegan yang mesti ia ambil. Sebuah penampilan dari aktris yang menolak duduk nyaman menikmati status sebagai megabintang legendaris. Saya mendukungnya di musim penghargaan nanti. 

Everything Everywhere All at Once bukan sebuah pertarungan. Setidaknya bukan pertarungan "baik melawan buruk", melainkan proses memahami. Memahami orang lain. Memahami diri kita. Memahami bahwa mungkin saja tiada hal berarti dalam hidup, atau justru segalanya amat berarti. Memahami bahwa hidup dengan segala posibilitas tanpa batas miliknya memang sukar, bahkan mungkin saja mustahil dipahami. Alih-alih menilai maupun menghakimi, kita cukup menjalani, sembari membuka mata, telinga, dan terpenting, hati. 

REVIEW - TOP GUN: MAVERICK

Popularitas Top Gun tidak bisa disangkal. Merupakan film berpendapatan tertinggi sepanjang 1986 (meraup 357 juta dollar, atau sekitar 940 juta dollar jika dikonversi ke nilai sekarang), yang konon memicu lonjakan pendaftaran US Navy sampai 500%. Sebuah blockbuster khas 80an yang ringan, menghibur, cheesy, tapi sejujurnya, tidak luar biasa. Sekuelnya, Top Gun: Maverick yang menyusul 36 tahun berselang, adalah spesies berbeda. 

Menggantikan mendiang Tony Scott di kursi sutradara, Joseph Kosinski beralih dari parade CGI yang menyusun awal karirnya, dari beberapa iklan berbasis CGI hingga film-film macam Tron: Legacy (2010) dan Oblivion (2013), guna melahirkan salah satu sekuel terbaik sepanjang masa, yang melebihi pendahulunya di segala lini. 

Menit-menit awalnya bak reka ulang film pertama. Serupa, bukan cuma di adegan, pula teks intro yang memperkenalkan apa itu program Top Gun. Pete "Maverick" Mitchell (Tom Cruise) pun masih sama. Masih sosok biang masalah, juga masih berstatus kapten. Maverick menghindari peluang naik pangkat agar bisa terus menjadi pilot. Tepatnya pilot uji coba.

Sekuen aerial perdana hadir saat Maverick menguji coba pesawat dengan target mencapai Mach 10 (10 kali kecepatan suara). Di sinilah Kosinski memamerkan sentuhannya. Tentu sekuen tersebut intens dan bombastis. Tapi siapa menduga kalau di beberapa titik ia bakal meminimalkan suara, lalu fokus pada keindahan lanskap langit yang dibelah oleh jejak lesatan jet? Seolah Kosinski mengingatkan bahwa "terbang" merupakan keajaiban bagi umat manusia. 

Pada akhir film pertama, Maverick memutuskan bergabung sebagai instruktur Top Gun, yang ternyata cuma berjalan dua bulan. Mengajar bukan panggilan hidupnya. Tatkala teknologi makin berkembang, dan otomatisasi mulai menggeser pilot manusia, masih adakah tempat bagi Maverick? 

Jawaban datang setelah Top Gun memanggilanya lagi. Kali ini bukan untuk pelatihan biasa, melainkan persiapan menuju misi berbahaya. Begitu berbahaya, reaksi pertama Maverick adalah, "Tidak semua pilot bakal pulang dengan selamat". Langsung tampak perbedaan mendasar alur dalam naskah buatan Ehren Kruger, Eric Warren Singer, dan Christopher McQurrie dibanding Top Gun. Sejak awal, kita dan karakternya mengetahui keberadaan misi.

Masih dipenuhi latihan (termasuk olahraga di pantai, meski voli digantikan american football, dan tak lagi beraroma homoerotic), namun latihan di Maverick terasa lebih esensial. Penonton dibuat memahami detail strategi, pun semakin jauh latihan berlangsung, semakin meningkat kesulitannya, semakin pula kita merasakan betapa berbahaya misi tersebut. Apalagi saat melalui sekuen luar biasa intens, filmnya menegaskan kalau bahaya tidak hanya berasal dari peluru, rudal, atau radar musuh. Alam bisa sama, atau malah lebih mematikan.

Di ranah penokohan, naskahnya mengembangkan karakter Maverick tanpa harus mengubah jati diri. Masih nekat, penuh percaya diri, tapi lebih bisa meredam ego. Tetap ingin bebas, tapi mulai mendambakan tempat untuk pulang, yang diwakili oleh romansanya dan Penny (Jennifer Connelly), yang namanya sempat disinggung sekilas di film pertama (cara cerdik mengubah love interest si protagonis). 

Setelah terbang puluhan tahun, Maverick banyak mendapati kematian sesama pilot, termasuk sahabatnya, Goose (Anthony Edwards). Kematian mereka menyisakan duka di hati para orang tercinta. Tapi siapa yang akan kehilangan Maverick andai ia tiada? Maverick yang selama ini senantiasa "kehilangan", kini berusaha untuk "menemukan". 

Salah satunya menemukan kedamaian. Kematian Goose masih belum mampu ia lupakan. Terlebih, putera sang sahabat, Rooster (Miles Teller), tergabung dalam tim yang dilatihnya. Rooster sendiri menyimpan rasa benci terhadap Maverick. 

Elemen drama di atas dilakoni Cruise dengan amat baik. Saking seringnya menantang maut, banyak orang lupa bahwa Cruise adalah aktor bagus pemilik tiga nominasi Oscar. Sewaktu Maverick dan Iceman (Val Kilmer) terlibat obrolan soal "merelakan", jangkauan akting dramatik Cruise mencapai titik terbaiknya. 

Tapi mari lupakan tetek bengek penceritaan. Semua datang menonton demi dogfight bukan? Saya berani menyebut Top Gun: Maverick memiliki rangkaian dogfight terbaik yang pernah ditampilkan di layar lebar. Lebih megah, lebih kompleks, tapi menariknya, lebih mudah dicerna ketimbang film pertama (siapa melawan siapa, siapa ada di pesawat mana, dll.). 

Semua dogfight memukau, tapi third act-nya berada di tingkatan berbeda. Penuh manuver berbahaya serta aerobatics yang mendefinisikan "you won't believe it until you see it". Hell, even after you saw it, you won't believe that those are achievable. 

Kuncinya terletak pada efek praktikal. CGI dipakai secukupnya kala benar-benar dibutuhkan. Sedangkan sisanya, kamera milik Claudio Miranda selaku sinematografer, menangkap jet asli yang membelah angkasa. Realisme menguat berkat penempatan kamera di kokpit yang dioperasikan langsung oleh cast (mereka sungguh duduk di kursi penumpang dalam pesawat yang mengudara). 

Penceritaannya cenderung klise? Mungkin, tapi rasanya itu bukan perihal yang patut dikeluhkan. Apa perlunya mempermasalahkan keklisean, saat Top Gun: Maverick adalah blockbuster sempurna, dengan jajaran spektakel yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan selipan humornya juga efektif menambah daya hibur. Joseph Kosinski mengembalikan sinema blockbuster ke hakikatnya, yakni sajian yang membuat penonton menyaksikan, kemudian memercayai kemustahilan. 

REVIEW - MEMORIA

"Kenapa perlu repot-repot berusaha kalau takdir kita sudah ditentukan?", tanya saya di sebuah diskusi santai dengan seorang kerabat yang juga "ahli" spiritual. Dia menjawab, "Waktu di mata Tuhan tidak linear. Konsep dulu, sekarang, besok, semua itu tidak relevan. Apa yang kita anggap masa depan, di mata-Nya adalah masa kini". 

Memoria bukan membahas suratan takdir maupun Tuhan. Tapi karya terbaru Apichatpong Weerasethakul ini, yang akan mewakili Kolombia di gelaran Academy Awards 2022, merekonstruksi persepsi kita tentang waktu. Tentang bagaimana manusia selaku bagian semesta, menyatu dengannya sehingga menciptakan pengalaman kolektif yang melampaui batasan logika.

Di menit-menit awal saya sempat mengeluh, "Wah, Apichatpong tergoda kemapanan". Filmnya masih lambat, masih sunyi, masih didominasi still shot yang bakal dikira freeze frame oleh penonton awam, namun semua tampak lebih "mahal". Latar hutan dan/atau perkampungan Thailand pindah ke perkotaan modern di Bogota. Akting amatir pelakon tak dikenal digantikan kebintangan Tilda Swinton. Kesan naturalistik sarat mistisisme seolah lenyap. 

Tapi seiring kita mengikuti usaha Jessica (Tilda Swinton) memecahkan peristiwa misterius yang ia alami, barulah tampak tujuan dari pilihan-pilihan di atas. Suatu malam, Jessica dikejutkan oleh suara dentuman. Orang lain tidak mendengarnya. Apakah ada fenomena tertentu, ataukah isi kepala Jessica yang memang terganggu? 

Atas rekomendasi teman, Jessica mengunjungi Hernan (Juan Pablo Urrego), seorang sound mixer, guna mengungkap identitas dentuman yang ia dengar. Di situ fungsi kehadiran Swinton (baca: aktris profesional) terjawab. Apichatpong menempatkan kamera di belakang kedua pemain. Kita cuma melihat punggung Jessica, sementara Hernan memutarkan satu demi satu contoh suara. Sewaktu sampai di suara yang dimaksud, tubuh Jessica sedikit bergetar. Terkejut, terhenyak. 

Swinton memperlihatkan bentuk akting subtil, yang cuma bisa ditampilkan bila jiwa dan raga sang pelakon, menyatu dengan sosok peranannya. Saya tersentuh dibuatnya. Jelang akhir, Apichatpong melakukan hal berlawanan. Kamera ditempatkan di depan, menyorot langsung ke arah wajah Swinton yang berlinang air mata. Hasilnya sama kuat. Swinton melebur dengan Jessica, Jessica melebur dengan semesta.

Memoria memang membicarakan peleburan. Kesan modern yang saya sebut di atas juga tidak lepas dari peleburan tersebut. Tatkala manusia melebur dengan semesta, ia melampaui batas-batas ruang, waktu, juga individu. Sekat pemisah untuk hal-hal yang saling berkontradiksi pun lenyap. Alam dengan teknologi, tradisi dengan modernisasi, pula sains dengan kepercayaan/spiritual, yang mendasari "kunjungan" singkat nan aneh narasinya ke ranah sci-fi di babak akhir. Semua menyatu, sehingga lahir harmoni indah layaknya penyatuan beragam instrumen dalam sebuah grup musik.

Memoria adalah peristiwa yang mesti dialami langsung. Reviu seperti apa pun takkan mampu menggambarkannya secara utuh. Sedikit berbeda (jumlah dialog dan keriuhan kota yang sesekali menyeruak, membuatnya terasa paling "bersahabat" dibanding karya lain sang sutradara sejak The Adventure of Iron Pussy), tapi sebagaimana karya Apichatpong biasanya, film ini merupakan presentasi magis, yang akan membuat penonton bertanya, "Apa tengah terjadi sesuatu? Apa semesta sedang berbicara?", tiap angin mendadak berhembus. Tidak ada pengalaman spiritual sekuat Memoria sepanjang tahun ini.

(JAFF 2021)

PARASITE (2019)

Baik perihal cerita maupun gaya, melalui Parasite yang merupakan pemenang Palme d’Or  pertama asal Korea Selatan, Bong Joon-ho (The Host, Memories of Murder, Snowpiercer) telah melangkah ke teritori yang belum terjamah. Teritori ini begitu asing, hingga nyaris mustahil menerka arah guliran cerita menit demi menit serta cara penanganannya. Parasite adalah tragicomedy yang melukiskan betapa hidup memang setragis itu, selucu itu, seironis itu, seaneh itu, dan semengejutkan itu.
  
Sebelum special screening dimulai, penonton diberitahu pesan dari Bong, yang melarang kami membocorkan semua yang terjadi selepas sebuah peristiwa. Menghormati permintaan tersebut, saya hanya bisa menyebutka bahwa peristiwa itu hadir sekitar 15-20 menit pertama durasi. Artinya, Parasite telah menyiapkan kejutan sedari awal.

Serupa pemenang Palme d’Or tahun lalu, Shoplifters, film ini mengangkat kisah soal usaha keluarga kelas bawah bertahan hidup dengan menempuh jalur tidak jujur. Keluarga ini terdiri atas empat orang anggota: Ki-Taek (Song Kang-ho) si ayah, Chung Sook (Jang Hye-jin) si ibu, Ki-woo (Choi Woo-shik) si putera, dan Ki-jung (Park So-dam) si puteri. Mereka tinggal di kediaman semi-basement yang kumuh, menumpang WiFi dari cafe terdekat, merasa kesal kala hampir tiap malam seorang pria pemabuk mengencingi jedela rumah.

Kesempatan memperbaiki penghidupan datang saat Ki-woo mendapat tawaran sebagai tutor pengganti untuk puteri sebuah keluarga kaya. Dari situlah Ki-woo memperoleh akal bulus guna memakmurkan kehidupan keluarganya melalui rencana licik nan cerdik yang menjelaskan mengapa film ini mengusung judul “Parasite”.

Ditulis oleh Bong bersama asistennya saat menggarap Okja, Han Jin-won, naskahnya menuturkan cerita biasa mengenai jarak kelas ekonomi lewat cara tidak biasa. Baik si kaya atau si miskin bukan perlambang kebusukan manusia. Walau menggapai kesempatan mengeruk uang melalui tipu daya, setelahnya, mereka tetap sungguh-sungguh bekerja keras. Sedangkan si kaya bukanlah keluarga disfungsional.

Mengangkat permasalahan serius tidak serta menjadikan Parasite tontonan depresif. Serupa film-film Bong lain, humor tetap mendapat tempat. Bahkan saya percaya inilah film terlucu sang sutradara sejauh ini. Senjata utamanya adalah komedi situasi yang acap kali tak segan mendobrak batas absurditas dan dilengkapi kesempurnaan timing.

Humornya terus menerjang sementara Bong dengan mulus terus membawa filmnya berganti tone bahkan genre. Anda bakal dibuat tertawa, lalu sejurus kemudian ditikam oleh ironi, lalu menjelang akhir babak kedua dikejutkan oleh transformasi Parasite menjadi thriller yang efektif meramu ketegangan berkat kejelian Bong menggerakkan kamera, menyusun mise-en-scène plus timing, sebelum akhirnya bergerak menuju kegilaan berdarah pada klimaks. Bahkan, meski cuma beberapa detik, Parasite sempat menebarkan aroma horor supernatural.

Pun film ini amat memperhatikan build up. Setiap kejutan, setiap hasil dari rentetan peristiwa, tidak pernah muncul tiba-tiba. Penonton dibiarkan meresapi prosesnya, sehingga saat mencapai destinasi, timbul kepuasan yang mudah memancing teriakan juga tepuk tangan. Musik gubahan Jung Jae-il (Okja, Take Point) pun tidak kalah menonjol, membentangkan ragam bentuk dari nomor berbasis piano yanng menghantui (Opening) sampai orkestrasi megah (The Belt of Faith) yang menemani salah satu momen paling “WOW” milik Parasite, tatkala protagonis kita akhirnya berhasil menyukseskan misi mereka.

Sebagai aktor langganan sang sutradara (empat kali berkolaborasi termasuk di sini), Song Kang-ho menegaskan mengapa Bong menjadikannya pelakon favorit. Sebagaimana gaya Bong, Song mampu menebar ranjau komedi sembari diam-diam dan pelan-pelan memupuk tensi dramatis yang siap diletupkan saat dibutuhkan.

Bong Joon-ho ingin penontonnya mennyaksikan jarak kelas ekonomi secara nyata. Bahkan, secara terpisah, ia sempat menempatkan tokoh-tokohnya dalam dua aktivitas serupa namun terjadi pada dua tempat berlawanan (petunjuk: jendela). Poin getir yang ingin ia lontarkan adalah, apa pun kondisinya, biarpun sempat merasakan "kelas" masing-masing (si kaya merendahkan kelasnya, si miskin menikmati peningkatan kasta), si miskin tetaplah miskin, dan si kaya tetaplah kaya. Pasca hujan deras berujung luapan air bah melanda, si kaya bahagia karena cuaca menjadi segar, sedangkan si miskin semakin beraroma busuk.

AVENGERS: ENDGAME (2019)

(JANGAN MEMBUKA KOLOM KOMENTAR KALAU BELUM MENONTON. 
IT'S A WILD JUNGLE FULL OF SPOILERS THERE!)
Merasa Infinity War merupakan keberhasilan mengeksekusi kemustahilan? Tunggu sampai anda menyaksikan sekuelnya. Marvel Cinematic Universe (MCU) adalah soal kesabaran dalam perencanaan. Total 21 film selama hampir 11 tahun dihabiskan demi membangun kisah, yang dibayar lunas lewat kulminasi epik bernama Avengers: Endgame. Hampir seluruh guratan emosi maupun pertarungan masif miliknya, berpijak pada pondasi yang disusun sekian lama. Begitu film usai (kali ini tanpa post-credits scene) wajar saat penonton bertepuk tangan melihat jajaran kredit, khususnya enam anggota “asli” Avengers.

Karena seperti telah dikonfirmasi, salah satu tujuan Endgame adalah memberi penghormatan bagi perjalanan yang telah dilalui Tony Stark (Robert Downey Jr.), Steve Rogers (Chris Evans), Thor (Chris Hemsworth), Bruce Banner (Mark Ruffalo), Natasha Romanoff (Scarlett Johansson), dan Clint Barton (Jeremy Renner). Saya takkan membocorkan sedikit pun poin plot, kecuali bahwa bersama nama-nama lain yang tidak menjadi debu, mereka berusaha memulihkan akibat perbuatan Thanos (Josh Brolin).

Melanjutkan atmosfer konklusi Infinity War, film ini dibuka dengan melankoli. Bahkan dibanding judul keluaran Marvel Studios lain, selama 181 menit durasinya, Endgame punya proporsi drama terbesar, tatkala duo penulis naskah, Christopher Markus dan Stephen McFeely (The Winter Soldier, Civil War, Infinity War), memilih banyak menggulirkan studi karakter, khususnya proses coping jagoan-jagoan kita pasca tragedi jentikkan jari Thanos. Beberapa menolak menyerah, beberapa tenggelam dalam amarah, ada pula yang coba meneruskan langkah.

Hal di atas bukan sebatas pernak-pernik. Di sinilah penanaman benih selama satu dekade menuai hasil. Kita mengenal karakternya, terikat pada mereka, sehingga memahami keputusan serta respon emosional yang muncul. Berkatnya, paparan dramatik Endgame pun menyentuh ranah detail, di mana tiap gestur, ekspresi, juga baris kalimat pendek, menyimpan makna kaya rasa, yang seringkali merujuk pada peristiwa film-film sebelumnya. Dan semuanya mustahil diraih tanpa kegemilangan jajaran pemain.

Chris Evans, Scarlett Johansson, Jeremy Renner, Mark Ruffalo, hingga Karen Gillan membuktikan diri telah melebur dengan sosok peranan masing-masing, sementara kepiawaian memadukan talenta komedi dan dramatik dipamerkan oleh Chris Hemsworth dan Paul Rudd (that “running scene” is really heartbreaking). Tapi bintang utamanya tetap sang maskot: Robert Downey Jr. Melalui performa yang layak diganjar nominasi Oscar, secara meyakinkan ia tunjukkan konflik batin seorang pahlawan yang dihantui kegagalan dan kehilangan. Apabila Infinity War menggiring Tony menuju tantangan fisik dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi Thanos, maka Endgame memberinya ujian psikis terberat.

Ini memang cerita di mana status “pahlawan” para jagoannya diuji, kala pengorbanan mesti dilakukan dan egoisme bukan pilihan. Ketimbang melawan Thanos, Endgame cenderung menonjolkan pertarungan Avengers melawan musuh lain: diri mereka sendiri. Terdengar kelam, namun tak pernah depresif, mengingat jalinan humor tetap dapat ditemukan, yang penempatannya memperhatikan presisi, sehingga alih-alih mendistraksi, kita justru bakal dibuat tertawa sembari meneteskan air mata atau terpaku dalam cengkeraman ketegangan. Menyenangkan pula menyaksikan tokoh-tokoh yang baru bertemu seperti Nebula (Karen Gillan), Rhodey (Don Cheadle) dan Scott Lang (Paul Rudd) saling bertukar interaksi kasual.

Di samping deretan drama humanis, spektakel utama Endgame tetaplah soal mencari jalan “membatalkan” perbuatan Thanos. Beragam teori membanjiri internet. Beberapa jadi kenyataan, namun banyak kejutan masih tersimpan rapat. Akan sulit mempersiapkan hati menyaksikan kecerdikan Markus dan McFeely menyulap petualangan Avengers menjadi penghormatan bagi mereka, dengan membawa kita mengunjungi kumpulan momen (plus sosok) familiar, sementara karakternya coba berdamai dengan permasalahan silam yang belum usai.

Puncaknya adalah pertempuran epik yang menebus perencanaan jangka panjang Marvel Studios. Semua shared universe, tidak peduli dalam media apa pun, bermimpi mencapai titik ini. Russo Bersaudara mengangkangi pencapaian di Infinity War lewat kesuksesan memproduksi salah satu set piece terbesar dan tergila penuh momen fan service, yang berkat tangkapan kamera sang sinematografer langganan, Trent Opaloch, banyak menampilkan heroic money shot. Alhasil, tiap individu memperoleh kesempatan bersinar meski hanya sejenak, termasuk jajaran jagoan wanita. Walau mengharapkan porsi lebih bagi Captain Marvel (Brie Larson), saya bisa memaklumi mengingat Endgame mengutamakan pemberian spotlight untuk keenam anggota asli Avengers.

Belum cukup mendengar pujian? Tunggu sampai anda mendapati keberhasilan Endgame memberi konklusi yang pantas terhadap seluruh konflik personal menahun yang karakternya hadapi, sembari tak lupa menebar petunjuk terkait masa depan. Mungkin anda tak menganggap Avengers: Endgame sempurna, namun jika pulang tanpa merasakan kepuasan, mungkin film blockbuster memang bukan untuk anda.

LADY BIRD (2017)


Ketika akhir tahun lalu meninggalkan Jogja, di malam terakhir saya berkeliling kota, melewati tempat-tempat yang rutin dilewati. Berbagai titik yang selama 7 tahun terkesan biasa, mendadak memancing haru karena keping-keping memori berseliweran. Begitu juga saat mengosongkan barang-barang di kamar. Lady Bird memiliki dua momen tersebut, membuktikan bahwa Greta Gerwig—dalam debut penyutradaraan—mengerti serta mampu memvisualisasikan seperti apa memori akan tempat yang kita cintai. Dalam Lady Bird, adegan mengecat kamar, menutup coretan-coretan lama (masa lalu) dengan warna baru (masa depan), terasa sentimentil.

Bahkan sinematografi garapan Sam Levy dengan tekstur warna grainy-nya terlihat bagai reka ulang memori, impresi yang tak sebegitu menonjol saat menyaksikan filmnya di layar kecil laptop. Mengunjungi Lady Bird untuk kedua kali di layar lebar, baik aspek visual, pacing, baris dialog, emosi, maupun akting, kualitasnya melonjak drastis. Sekitar tiga atau empat kali saya dibuat meneteskan air mata oleh peristiwa-peristiwa yang telah disaksikan sebelumnya, yang mana menegaskan dua poin: 1) Selalu ada hal baru untuk diserap dalam sebuah film, 2) Semua film semestinya ditonton di bioskop, walau bukan blockbuster bombastis.
Walau film itu “cuma” menceritakan gadis SMA dari Sacramento bernama Christine McPherson (Saoirse Ronan) yang tidak puas dengan kehidupannya. Dia menganggap Sacramento menjemukan dan bermimpi melanjutkan kuliah di New York selaku “tempat di mana kebudayaan berada”. Meski sang ibu (Laurie Metcalf) melarang keras karena mengkhawatirkan terorisme pasca tragedi 9/11 (filmnya berlatar tahun 2002) ditambah faktor ekonomi, sang gadis tidak peduli.  Bukan saja soal tempat tinggal, ia pun tidak puas terhadap kedua orang tuanya. Merasa ibunya selalu menentang keinginannya, pula menolak diantar sampai ke sekolah oleh sang ayah (Tracy Letts) karena malu.

Mungkin itu sebabnya ia bersikeras dipanggil Lady Bird. “I gave it to myself. It’s given to me, by me”, demikian ungkapnya. Nama yang aneh, tapi jelas menonjol dan terdengar spesial. Lady Bird memang ingin seluruhnya spesial, termasuk pergaulan, hubungan romansa, juga seks. Kapan pun masanya, begitulah remaja apalagi sewaktu SMA. Ingin jadi yang terkeren, terdepan, pusat segalanya, meski membuatnya harus bersikap egois dan konformis. Lady Bird sempat mendepak sahabatnya, Julie (Beanie Feldstein), demi bergaul bersama Jenna (Odeya Rush), siswi paling populer di sekolah. Pola pikir, kegemaran, hingga cara memandang suster di SMA Katholik tempatnya bersekolah pun ia ubah agar sesuai dengan Jenna.
Gerwig tak hanya memahami memori, juga perilaku remaja di masa pencarian jati diri. Pemahaman itu nampak jelas di naskahnya yang konon bersifat semi-autobiografi. Gerwig pun cerdas merangkai rentetan kalimat menggelitik di antara alurnya yang bergerak dinamis tanpa pernah berlama-lama tertahan di satu titik, tetapi cukup memberi penonton waktu guna mencernanya. Sangat dinamis kombinasi penyutradaraan Gerwig dan penyuntingan gambar Nick Houy, sebagaimana emosi dan sikap tokoh-tokohnya yang kerap berubah cepat, apalagi terkait interaksi Lady Bird dan ibunya. Sekali waktu keduanya bisa bertengkar soal “cara jalan menyeret”, lalu sejurus kemudian kompak mengagumi keindahan sebuah gaun. Atau tiba-tiba melompat dari mobil yang tengah berjalan pasca beradu mulut mengenai mendengarkan lagu.

Gerwig menaruh atensi besar terhadap momen kekeluargaan, mencurahkan segenap rasa guna menyalurkannya pada penonton. Usahanya berhasil, tentu tanpa melupakan jasa jajaran pemain khususnya Saoirse Ronan dan Laurie Metcalf. Alasan saya menyarankan agar mengunjungi Lady Bird lagi di layar lebar salah satunya demi Ronan. Detail aktingnya dapat teramati secara menyeluruh. Caranya berteriak, menatap kagum, berlari, tertawa, bahkan sekedar mengunyah makanan ringan, amat memikat, lucu, namun otentik. Tidak perlu panjang lebar menjabarkan betapa hebat Metcalf. Cukup lihat ekspresinya tatkala menyetir jelang akhir, dan cobalah menahan tangis.

THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI / THE SHAPE OF WATER / LOVING VINCENT

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri dan The Shape of Water akan bersaing ketat di ajang Oscar 2018 nanti, khususnya pada kategori Best Actress di mana Frances McDormand dan Sally Hawkins jadi dua unggulan utama. Sementara keberadaan Coco menyulitkan Loving Vincent berbicara banyak, namun film animasi pertama yang seluruhnya dibuat dengan lukisan ini jelas pantas mendapat perhatian anda.

Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017)
Inilah film di mana sulit bagi kita menebak apa yang akan segera terjadi maupun diutarakan. Sekali waktu misteri pembunuhan merambat. Berikunya giliran drama keluarga, komedi hitam, tragedi, sebelum kembali menyuguhkan misteri. Agama, rasisme, kekerasan oleh polisi, sampai kekejaman militer di negeri orang, semua disinggung. Banyak hal terjadi, kerap melompat antar genre, menyimpan kejutan-kejutan, Three Billboards Outside Ebbing, Missouri nyatanya bergerak rapi, enak diikuti, pula mudah dimengerti berkat skenario cermat Martin McDonagh (In Bruges, Seven Psychopath). Semua diawali kenekatan Mildred Hayes (Frances McDormand) menyewa tiga billboard yang mempertanyakan kapasitas Sheriff Bill Willoughby (Woody Harrelson) dalam mengusut kasus pembunuhan dan pemerkosaan puterinya. Masyarakat bersimpati kepada Mildred, tetapi Bill adalah polisi teladan yang disukai. Beberapa pihak pun menentang tindakan Mildred, termasuk Dixon (Sam Rockwell), polisi rasis yang tak segan memakai kekerasan. Kesenduan Harrelson mampu mencengkeram, sementara arogansi bercampur kebodohan Rockwell, yang bertransformasi jelang akhir, menghibur, mengundang benci untuk kemudian memancing simpati. Namun McDormand adalah pemimpin ensemble-nya. Ekspresi jarang berganti (wajah keras, tatapan tajam), irit gestur, tapi kehadirannya nyata. Bahkan kala mengebor jari seorang pria, mimiknya tidak banyak berubah. McDorman dan Three Billboards Outside Ebbing, Missouri sama-sama brilian, liar, membara, sensitif. Seolah tengah menelusuri labirin dengan beragam gempuran yang mustahil diantisipasi di tiap belokan. Pun ketimbang mencari sang pelaku, McDonagh menekankan proses saling mengobati antara mereka yang dirundung duka. Salah satu film paling komplet selama beberapa tahun terakhir. (5/5)

The Shape of Water (2017)
Terinspirasi dari Creature from the Black Lagoon (1954) yang sempat coba ia remake, Guillermo del Toro mempersembahkan film monster yang enggan ketinggalan menyinggun ragam isu sosial. Rasisme dan homofobia menjadi subteks, praktik segregasi dikritisi. Percintaan beda spesies dalam The Shape of Water merupakan bentuk dukungan del Toro atas kesetaraan. Tokoh utamanya, Elisa Esposito (Sally Hawkins) adalah tunawicara yang tinggal bersama seniman gay (Richard Jenkins), bersahabatan dengan wanita kulit hitam bernama Zelda (Octavia Spencer), jatuh cinta pada monster amfibi (Doug Jones) yang dikurung di laboratorium rahasia tempatnya bekerja. The Shape of Water merupakan usaha mewakili kaum marginal lewat paparan dongeng. Bahkan sejak pertama terdengar, musik gubahan Alexandre Desplat seketika memancarkan sihir fantasi. Di tangan del Toro, keseharian monoton Elisa, dari bangun tidur, masturbasi, menanti bus, sampai bekerja sebagai petugas kebersihan, terlihat bak dunia khayal yang membuai, walau keindahan sesungguhnya baru tampil tatkala del Toro menyelipkan momen musikal hitam-putih layaknya sajian klasik Hollywood yang berguna mengekspresikan isi hati sang tokoh utama. Demikian pula shot terakhirnya yang memadukan sinematografi menawan Dan Laustsen dan sensibilitas sang sutradara menyusun romantisme. Di antara kelembutan penuh rasa del Toro, Sally Hawkins menyeruak. Nihil tuturan verbal, Hawkins menampilkan kemurnian serta ketulusan yang memudahkan guna mencintai sosoknya. Namun kualitas The Shape of Water sayangnya kurang merata. Sewaktu adegan spesial yang del Toro siapkan tengah absen dari layar, naskah tulisannya bersama Vanessa Taylor tidak punya cukup magnet guna menahan antusiasme penonton. (3.5/5)

Loving Vincent (2017)
Kalimat pernyataan sebelum film dimulai menegaskan bahwa Loving Vincent memang lebih mementingkan gaya. Style over substance. Dan memang sulit dipungkiri, goresan cat air ala lukisan Vincent van Gogh menjadikan film ini tiada duanya. Walau sebagaimana teknik visualnya membuat tokoh-tokoh yang ada terkesan artificial, penelusuran alurnya soal kehidupan serta kematian sang pelukis ternama takkan merenggut emosi. Menarik melihat karya-karya macam Sorrowing Old Man atau Young Man with Cornflowers bermanifestasi jadi tokoh-tokoh yang mengisi alur. Ketika seringkali kita mengenal seniman melalui karya ketimbang jati diri personalnya (sudah semestinya begitu), Loving Vincent mengajak mengenal titular character-nya lebih jauh bersamaan dengan usaha Armand Roulin (Douglas Booth) mengantar surat yang Vincent (Robert Gulaczyk) tulis untuk saudaranya, Theo, sebelum ia tewas bunuh diri. Fakta yang tadinya terang benderang di mata Armand perlahan berubah ambigu seiring pertemuannya dengan orang-orang dalam hidup Vincent, membuatnya makin memahami “si pelukis gila”. Skenario buatan Dorota Kobiela, Hugh Welchman, dan Jacek Dehnel kurang mulus memaparkan pergantian sikap Armand. Dari persepsi negatif terhadap Vincent, mendadak ia amat peduli, bahkan rela melalui perjalanan jauh meski ancaman pemecatan menghantui. Misteri seputar kematian (dan kehidupan) Vincent mengundang rasa penasaran, namun lemahnya duo sutradara Dorota Kobiela dan Hugh Welchman menjaga tempo menghalangi efektivitas teka-tekinya mencengkeram atensi. (3.5/5)

STAR WARS: THE LAST JEDI (2017)

Lebih dari satu abad lalu Georges Méliès memperkenalkan sinema fiksi-ilmiah lewat A Trip to the Moon, publik sadar bahwa film bisa lebih dari sekedar cerminan keseharian yang mendominasi masa awal perfilman. Film mampu membuat terpana melalui petualangan kaya imajinasi, pula memancing segala jenis emosi manusia. Itulah pemicu kesuksesan Star Wars dahulu, saat George Lucas mengajak penonton menuju galaksi nun jauh di sana, di mana dunia serta isinya tampak asing dan baru tetapi perasaan dan perjuangan karakternya sama dengan kita. 

Melompat ke 2017, kesan itu masih terjaga. Pertempuran pembuka dahsyat kala pesawat pengebom milik Resistance dimbombardir kapal perang First Order sampai adu tebas lightsaber yang koreografinya makin dinamis akan menahan nafas penonton. Sementara tanah berlapis garam merah di Planet Crait tempat klimaks berlangsung merupakan contoh kesegaran fantasi yang dijaga keberlangsungannya oleh visi Rian Johnson (Brick, Looper). Di tangan Johnson, tidak ada aksi selipan. Semua bak pertunjukan utama penuh kepekaan artistik pun rasa. Seisi bioskop terkesiap ketika kecepatan cahaya yang identik dengan alat melarikan diri dipakai untuk membelah kapal induk raksasa. Teriakan penonton terdengar jelas, karena alih-alih musik menggelegar, Johnson memilih meniadakan suara. 
Deretan peperangan itu ada di luar jangkauan kehidupan nyata, tapi tentu kita pernah disentuh oleh gejolak ambiguitas kebaikan versus keburukan seperti yang dialami Luke (Mark Hamill), kemudian Rey (Daisy Ridley). Luke menganggap eksistensi Jedi dan pihak-pihak lain yang mengaku berada di "sisi putih" justru bertanggungjawab melahirkan "sisi hitam". Sebaliknya, Rey bersikukuh Jedi dibutuhkan demi menghentikan tirani First Order. Rey sendiri dihantui setumpuk masalah batin, dari mencari identitas orang tuanya, hingga mellawan godaan Kylo Ren (Adam Driver) agar beralih ke sisi gelap. 

Snoke (Andy Serkis), pimpinan tertinggi First Order yang kini tidak muncul sebagai hologram raksasa melainkan duduk di singgasana, dalam ruang berdinding merah yang memperlihatkan puncak pencapaian tata artistik The Last Jedi masih menjadi musuh utama. Resistance, di bawah pimpinan Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher) makin tersudut, memaksa Finn (John Boyega), Poe (Oscar Isaac), dan Rose (Kelly Marie Tran) melangsungkan misi diam-diam untuk menyabotase pesawat First Order. 
Kisah maupun problematika personal karakternya semakin kompleks, kuantitas pun bertambah. Bahkan sebelum klimaks, fokus alur sempat terbagi di tiga titik, yang berkat kepiawaian Johnson menulis naskah serta menyusun narasi visual, sanggup terjalin rapi sekaligus memberi porsi merata bagi tiap tokoh, baik itu Vice Admiral Holdo (Laura Dern) sampai Rose si mekanik yang awalnya tampil selaku penyegar suasana sebelum diberi porsi dramatik, termasuk obrolan dengan Finn di beranda kasino yang turut menegaskan kapasitas Johnson menulis dialog penuh makna. 

Banyaknya tokoh dan konflik adalah penyebab durasinya mencapai 152 menit, yang urung terasa lama berkat dinamika konsisten bersumber kekayaan emosi. Kadar humor termasuk penempatannya tepat, khususnya keputusan jitu memanfaatkan talenta komedik Mark Hamill di beberapa kesempatan. Star Wars kerap menyimpan cinta bagi sosok hewan, tak terkecuali The Last Jedi. Mata jadi media "berbicara", dari menggemaskannya Porg atau Falthiers yang seolah bisa menyampaikan pilu dan keramahan. Makhluk aneh yang dapat membuat penonton percaya mereka memiliki jiwa. Ini salah satu alasan trilogi aslinya dicintai sedangkan prekuelnya tidak. 
Namun Johnson tidak lupa bahwa The Last Jedi bercerita mengenai peperangan maut melawan penindas kejam. Selain tawa, kita pun dihantam ketegangan tatkala karakternya menghadapi rintangan berat. Berulang kali The Last Jedi merangsek menuju keputusasaan yang seolah tanpa jalan keluar, kemudian melambungkan kita lewat sederet momen pemancing sorak sorai sarat kejutan. Berbagai twist film ini bukan hanya mencoba mengejutkan, menjadi spesial karena menggambarkan betapa di tengah kekacauan dan pertikaian kompleks, sikap seseorang sulit diduga. 

Bila The Force Awakens mengetengahkan nostalgia, The Last Jedi menatap masa depan sembari menghormati warisan masa lalu. Kental penghormatan tapi tak lupa mengajak melangkah maju. Pula merupakan surat cinta untuk mendiang Carrie Fisher, di mana sebuah adegan indah nan menyentuh menyatakan bahwa dalam dunia tanpa batas Star Wars, maut nampak tak berdaya di hadapan General Leia Organa. Saya memilih mengesampingkan beberapa kelemahan kecil dan memberi Star Wars: The Last Jedi nilai sempurna setelah mengajukan pertanyaan "apa lagi yang saya harapakan?"

COCO (2017)

Rilisan Pixar dikenal atas kemampuan mengobrak-abrik perasaan penonton, tapi aspek yang paling saya kagumi adalah kepintaran membangun dunia imajiner yang tersusun rapi, budaya, serta "tata aturan" berdasarkan pernak-pernik kehidupan di sekitar. Setelah serangga, mainan, makhluk laut, monster, pahlawan super hingga isi otak manusia, Coco kembali membawa Pixar dalam ciri terbaiknya, mengangkat Dia de los Muertos alias Day of the Dead, yakni hari perayaan di Meksiko untuk mengenang arwah leluhur. Oleh duo penulis naskah Adrian Molina dan Matthew Aldrich, hari sakral tersebut jadi sarana menuangkan gagasan sekaligus curahan tentang relasi seseorang dengan keluarganya.

Keluarga merupakan rumah, tempat bernaung di mana anggotanya saling menyokong. Tapi seringkali kita merasa itu hanya konsep kelewat bijak yang jauh dari realita. Miguel (Anthony Gonzalez) berada di kondisi serupa. Baik orang tua maupun sang nenek gemar berceramah soal betapa penting dan berharganya keluarga, namun Miguel berpendapat sebaliknya. Ikatan itu tak dirasakan, khususnya akibat larangan bermain musik yang telah diterapkan turun temurun. Konon, larangan itu bermula setelah kakek buyut Miguel meninggalkan istri dan anaknya demi mengejar karir bermusik. 
Kisah protagonis mengejar mimpi di tengah larangan keluarga, meski bakal selalu relevan jelas amat familiar sehingga rawan repetisi. Tapi konflik itu rupanya sekedar pemicu untuk membuka jalan menuturkan kisah yang jauh lebih segar pula bermakna. Mengetahui bahwa idolanya, Ernesto de la Cruz (Benjamin Bratt) sang musisi paling tersohor merupakan kakek buyutnya sendiri, Miguel memantapkan hati meraih impiannya. Di situlah peristiwa ajaib terjadi. Gitar Ernesto melemparkan Miguel ke dunia orang mati, membawanya bertemu para leluhur yang selama ini cuma ia kenal melalui foto dan warisan cerita. 

Di Land of the Dead yang dihiasi visual menggetarkan dengan kekayaan detail tekstur, kelap-kelip lampu meriah, kilauan kelopak Aztec marigold bertebaran di tanah, dan hewan roh beraneka warna bernama alejibre yang beterbangan, usaha Miguel kembali ke alam manusia dibantu arwah leluhurnya dimulai. Coco pun bergerak menyoroti esensi Dia de los Muertos selaku perenungan koneksi antara manusia hidup dan yang telah tiada, seiring usaha karakter utama memahami makna koneksi dengan keluarga. Berperan memantapkan pondasi dunianya, Molina dan Aldrich cerdas memanfaatkan berbagai elemen Dia de los Muertos, sebutlah foto leluhur di ofrenda (altar persembahan) sebagai kunci presentasi tema.
Seperti setting-nya yang misterius pula kerap mengejutkan Miguel, filmnya menyimpan beberapa kejutan yang menjaga dinamika sambil menambah bobot emosi. Pun terkait dinamika, walau bercerita soal kematian, Coco tetap menawarkan sentuhan komedi supaya tidak terjerembab ke ranah terlampau kelam. Sumber humornya bermacam-macam, mulai anomali tingkah serta anatomi penghuni Land of the Dead yang berwujud tengkorak hingga hal-hal kecil misalnya kemunculan sekilas alejibre kodok. Kebanyakan berkesan absurd, yang mana sesuai dengan keanehan situasi yang Miguel alami. 

Jika anda menjadikan Pixar wahana mencari haru, Coco bakal memuaskan. Dari animasi surgawi yang sempurna melukiskan afterlife sampai kepiawaian Lee Unkrich (Finding Nemo, Toy Story 3, Monsters, Inc.) merangkai adegan yang mencerminkan rasa momen kekeluargaan berharga. Selaras dengan mimpi Miguel, Unkrich memberi peranan penting pada lagu dalam meluapkan emosi. Tatkala nomor Remember Me dilantunkan lembut untuk terakhir kali, di situ seluruh aspek film (senstivitas pengisi suara, musik, detail animasi kerutan wajah Mama Coco) menyatu, sebagaimana keping-keping ceritanya bermuara, menjawab alasan mengapa judul "Coco" dipilih. Coco mengingatkan agar kita menyimpan memori tentang orang-orang tersayang yang sudah pergi sembari meyakini mereka pun mengingat kenangan bersama kita dahulu. Hingga suatu hari kita bersama mereka lagi.