JURASSIC WORLD (2015)

9 komentar
Mulai dari desain "humanoid dinosaur" yang menggelikan sampai teaser trailer dengan CGI buruk seperti adegan Chris Pratt di atas motor sambil dikelilingi para raptor, menunjukkan jalan menuju terealisasinya film keempat Jurassic Park memang tidak mudah. Tentu saja banyak pihak pesimis dengan usaha menghidupkan kembali franchise taman dinosaurus ini, apalagi setelah dua sekuel yang mengecewakan. Alhasil selama sekitar 10 tahun film ini berada di development hell. Jadi alangkah menyenangkannya saat saya mendapati film garapan Colin Trevorrow ini bukan hanya sukses menghormati film aslinya tapi juga mewakili definisi blockbuster sebagai hiburan besar. Taman baru, karakter baru, dinosaurus baru. Semua itu memperlihatkan bahwa tujuan utama Jurassic World adalah soft-reboot meski bertempat 22 tahun setelah film pertama. Meski lebih banyak dinosaurus berukuran raksasa, film ini coba kembali ke dasar: mengembalikan teror ke satu setting taman/pulau. Tidak termakan ambisi untuk langsung hadir dalam lingkup lebih besar, namun memperkenalkan kembali dari awal adalah keputusan tepat.

Filmnya memperlihatkan bagaimana taman wisata Jurassic World telah kembali menjadi tujuan populer banyak orang untuk melihat sosok dinosaurus secara langsung. Namun para pemilik termasuk sang CEO, Simon Masrani (Irrfan Khan) dan operation manager, Claire Dearing (Bryce Dallas Howard) merasa bahwa tempat itu butuh sajian baru. Dalam sebuah dialog yang juga menjadi deskripsi bagi hasrat para penonton filmnya sendiri, Jurassic World butuh dinosaurus yang tidak hanya baru tapi juga lebih besar, lebih ganas, lebih mengerikan. Memang benar, meskipun T-Rex akan selalu menjadi fan favorite, penonton tentu ingin dinosaurus baru yang sesuai dengan deskripsi tersebut. Maka diciptakanlah seekor dino-hibrida bernama Indominus Rex. Tidak hanya lebih besar dan buas, Indominus adalah predator dengan intelegensi tinggi. Dia bisa membuat perangkap, menipu manusia, bahkan mencabut detektor implan yang dipasang dalam tubuhnya. Mesin pembunuh yang satu ini jelas berpotensi memberikan teror yang berbeda, tidak sekedar pengejaran kesana kemari. Setidaknya itu yang terjadi sebelum third act.
Sepertiga akhir film ini memang jatuh menjadi generic movie monster dengan karakter manusia yang berusaha bertahan hidup dari kejaran dinosaurus pembunuh. Tentu saja begitu menggelegar lewat raungan Indominus beserta kehancuran yang ia ciptakan, tapi tidak ada yang spesial dari hal tersebut. Justru dua pertiga awal yang bertugas membangun plot-nya adalah bagian terbaik dari film ini. Memang berjalan dengan tempo lambat, tapi kejelian Colin Trevorrow mengemas semua "perkenalan" tersebut adalah kunci keberhasilan film ini mengikat saya. Perjalanan kembali dikemas layaknya sebuah liburan nostalgia. Penonton baru akan terpikat dengan segala pertunjukkan dinosaurus termasuk sang predator bawah air Mosasaurus. Sedangkan bagi penonton lama, kebahagiaan yang asalnya dari nostalgi masa lalu saat Spielberg pertama kali menghidupkan mimpi masa kecil kita adalah pemikatnya. Terasa begitu emosional pula saat musik tema ikonik garapan John Williams mulai berkumandang. Kita pun diajak berkenalan dengan Owen Grady (Chris Pratt) sang pelatih raptor badass yang punya hubungan "menarik" dengan Claire. 

"Sumber kehidupan" utama pada paruh awal Jurassic World adalah kombinasi sempurna antara humor karakter, horor atmosferik dan sesekali letupan aksi bombastis. Kesan seperti ini juga yang dulu jadi kunci kesuksesan Jurassic Park untuk kemudian dilupakan oleh sekuel-sekuelnya yang hanya ingin tampil lebih besar dan berisik. Kombinasi horor dan komedi yang efektif jelas sulit diciptakan dan merupakan hal langka. Tapi Colin Trevorrow berhasil memunculkan itu. Rating PG-13 memang membatasi kebrutalan aksi para predator, dimana hanya ada satu adegan kematian dengan darah (itupun tidak eksplisit) dan satu kematian tragis yang melibatkan Pteranodon dan Mosasaurus. Tapi horor-nya memang lebih atmosferik daripada brutal. Indominus sudah diperlihatkan sosoknya, tapi momen saat ia berburu dan masuk ke "stealth-mode" terasa mencekam. Trevorrow sanggup membangun antisipasi penonton, menciptakan ketegangan dalam otak kita atas apa yang akan terjadi jika Indominus Rex berhasil mencapai pusat pulau. Suasana seperti itu merupakan bentuk penghormatan Jurassic Wordl terhadap film pertamanya. Termasuk memberikan para raptor sebuah scene intens di tengah hutan layaknya penyerangan mereka di dalam dapur yang klaustrofobik dulu.
Karakter-karakternya memfasilitasi penonton untuk bisa bersimpati pada mereka. Love/hate realtionship antara Owen dan Claire yang dibangun sedari awal sanggup mencuri perhatian. Owen adalah action hero badass sedangkan Claire seorang wanita tangguh (bisa berlari di tengah hutan dengan high heels) yang berusaha memperbaiki segala kesalahannya. Tentu Chris Pratt penuh kharisma, dengan keseriusan pria macho yang cool ditambah penghantaran dialog komedik pada timing sempurna. Begitu pula Bryce Dallas Howard yang menampilkan dua sisi: pimpinan dengan harga diri tinggi diawal dan lovable female lead yang tercipta berkat penghantaran quirky comedi dari sang aktris. Claire bisa saja berakhir sebagai tokoh wanita annoying jika tidak dibawakan dengan tepat, dan sesungguhnya justru dialah hero utama film ini. Gray (Ty Simpkins) dan Zach (Nick Robinson) turut berhasil menghilangkan kekhawatiran saya akan kehadiran karakter anak kecil yang bisa merusak tone. Mereka bukan anak-anak menyebalkan yang hanya bisa mengeluarkan teriakan berisik, tapi kakak beradik dengan hubungan hangat yang saling melindungi.

Bujet $150 juta pun cukup efektif dimaksimalkan guna mengemas efek CGI yang baik. Meski dalam beberapa adegan khususnya yang menampilkan dinosaurus dalam jumlah besar berlarian efeknya nampak kasar, tapi dinosaurus raksasa yang jadi fokus utama plus para raptor terlihat meyakinkan. Sayangnya bujet besar ini pula yang menyebabkan filmnya "lupa diri", merasa bisa menyuguhkan adegan eksplosif besar sehingga membuat third act-nya tidak lagi atmosferik. Tapi tidak bisa dipungkiri hal tersebut memang menghibur. Terlebih klimaksnya yang menampilkan pertarungan antara dinosaurus termasuk kembalinya T-Rex yang sanggup membuat penonton bersorak. Memang terasa super cheesy, apalagi dengan keterlibatan Blue sang pimpinan raptor yang bisa dikendalikan, namun sungguh sebuah guilty pleasure yang sudah seharusnya dihadirkan oleh blockbuster semacam ini. 

Verdict: Kombinasi kuat antara horor demi menghormati materi asli, komedi plus action sebagai daya jual, dan likeable character sebagai pengikat penonton adalah kenapa Jurassic World merupakan contoh bagaimana seharusnya blockbuster franchise itu digarap.

9 komentar :

  1. Ku percaya Bryce Dallas Howard adalah manusia super. Lari sepanjang film pakai high heels itu WOW banget. Super human strength.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang kau bilang dia bukti kebesaran Tuhan kok

      Eh, tapi sempet sekilas ngeliat adegan pake flat shoes emang ganti apa salah liat ya?

      Hapus
    2. Eh, ga tahu juga deh. Tapi apapun sepatunya dia tetaplah ciptaan yang wow.

      Hapus
  2. kenapa setelah insiden di pelm2 sebelumnya..org2 pada masi mau ke pulau itu yah??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kan kayak penonton film yang tetep dateng ke bioskop nonton film2 sekuel jelek padahal udah tahu sebelumnya busuk hehe

      Hapus
  3. Ane mah tetap lebih suka Jurassic Park. Sekeren-kerennya Claire, masih lebih keren Ellie Settler (Laura Dern). Chemistrynya Laura Dern sama Sam Neill juga gak pasaran kayak Howard-Pratt. Tapi emang CGI-nya bangsat (baca: super keren).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetep milih Claire, tapi karena lebih cakep :D

      Hapus
    2. eh gue mau nimbrung. Lo ngerasa ga sih kalo Bryce Dallas Howard itu mirip Mulan Jameela? Apa perasaan gue doang yak.

      Hapus
    3. Anjrit haha nggak mau merhatiin ah ntar beneran jadi mirip

      Hapus