MONSTER HUNT (2015)

1 komentar
Here's the highest-grossing film in China of all time. Dengan mengumpulkan total pendapatan $384.7 juta, Monster Hunt berhasil menumbangkan raksasa-raksasa blockbuster dari Hollywood macam Furious 7, Avengers: Age of Ultron hingga Jurassic World. Film garapan sutradara Raman Hui ini memang punya formula sempurna untuk melakukan itu. Cerita ringan penuh adegan aksi dan komedi yang kental, serta tentunya polesan CGI yang mendominasi adalah jawabannya. Tapi faktor utama yang membuat penonton China menyerbu film ini adalah karena Monster Hunt merupakan produk dalam negeri. Saat anda mendengar sebuah film negeri sendiri yang mampu menyuguhkan tontonan ala-Hollywood, pastilah rasa penasaran bakal memuncak. Tapi apakah film ini merupakan usaha yang berhasil dan memang layak mencetak angka pendapatan sebesar itu?

Sebelum anda berharap film ini punya kualitas CGI tinggi yang membuat para monsternya serealistis mungkin seperti Jurassic World misalkan, hilangkan dulu ekspektasi tersebut. Para pembuatnya tahu, keterbatasan dana merupakan halangan terbesar untuk menciptakan efek visual realis. Karena itu visualnya sengaja dibuat cartoonish sebuat saja seperti Alice in Wonderland-nya Tim Burton, hanya lebih kasar. Itu keputusan tepat, karena Monster Hunt akhirnya sanggup memberikan hiburan visual penuh warna yang imajinatif. Para monster tidak terlihat menyatu dengan dunia nyata, tapi itu bukan masalah. Karena goal utama dari film ini adalah menyajikan hiburan menyenangkan, tidak peduli meski kesan silly nampak jelas dari sana. Well, Monster Hunt memang sebuah junk food yang makin menyamakan rasa film ini dengan blockbuster dari Hollywood.
Film dibuka oleh narasi tentang legenda para monster yang telah diusir oleh para manusia sehingga harus tinggal di suatu tempat tersembunyi. Monster yang nekat memasuki wilayah manusia akan diburu oleh para Monster Hunter. Hingga suatu hari terjadi perang saudara untuk menggulingkan raja monster. Perang itu membuat banyak monster harus melarikan diri dari kejaran pasukan raja baru, termasuk ratu dari raja lama. Saat itu sang ratu tengah dalam kondisi mengandung, dan otomatis bayi dalam kandungannya ikut menjadi sasaran. Kemudian kita akan bertemu dengan Song Tianyin (Jing Boran), pemuda yang bekerja sebagai tukang jahit sekaligus koki di restoran milik keluarganya. Dengan keseharian seperti itu, wajarlah jika sang nenek (Elaine Jin) menganggap Tianyin sebagai pecundang. Apalagi sang ayah yang dulu membuang Tianyin dikenal sebagai pemburu monster hebat. 


Kita mendapat karakter utama seorang pecundang, dan di lain pihak ada bayi monster yang sedang membutuhkan perlindungan. Formula klasik dari zero-to-hero langsung terasa. Akan berjalan seperti apa dan kearah mana hubungan antara manusia dan monster terbaca jelas. Monster Hunt memang klise, entah caranya membangun hubungan antar-karakter dan eksplorasi individual, penyajian romansa, hingga cara yang ditempuh untuk memancing emosi penonton. Tidak ada kompleksitas dimana terdapat garis batas tebal antara hitam dan putih. Segalanya familiar. Bahkan karakter Tianyin yang digambarkan berkaki pincang dan beberapa monster dengan desain mirip naga jelas mengingatkan pada How to Train Your Dragon. Tidak mengejutkan sebenarnya, mengingat Raman Hui memang banyak berkontribusi dalam film-film DreamWorks termasuk sebagai co-director dalam Shrek the Third.

Tapi apakah klise merupakan hal buruk? Untuk kasus Monster Hunt ini jelas bukan, malah sebaliknya menjadi salah satu kekuatan. Film ini tidak berambisi besar untuk menjadi sajian epic yang cerdas. Menyadari adanya keterbatasan dana, maka secara sengaja CGI untuk para naganya dikemas komikal. Sadar dengan tampilan seperti itu akan sulit bagi penonton menganggap serius filmnya, maka dibuatlah cerita ringan dipenuhi lelucon konyol. Demi hiburan seringan dan selucu mungkin, sangat sulit menemukan satu karakter yang tidak berakhir melakukan tindakan konyol, seperti Huo Xiaolan (Bai Baihe) dan Luo Gang (Jiang Wu) yang awalnya digambarkan sebagai pemburu monster dengan tatapan mata dingin, sebelum akhirnya menjadi konyol pula. Komedinya yang absurd juga efektif memancing tawa. It's funny because it's weird
Sosok bayi monster yang imut dengan tingkah laku menggemaskan memang bintang utama film ini. Sudah bisa dibayangkan keuntungan besar dari merchandise yang didapatkan berkat sosoknya. Tapi diantara karakter manusia, Bai Baihe adalah bintangnya. Karakter Xiaolan melewati tiga fase. Dari pemburu monster yang keras, perlahan menjadi konyol berkat berbagai comic relief, hingga memunculkan sisi manis saat mulai terlibat romansa dengan Tianyin. Baihe sempurna dalam tiga fase tersebut, khususnya saat harus melakoni adegan komedi. Ekspresi dan gesturnya tepat sasaran, membuat Xiaolan tidak hanya lucu, tapi juga likeable. Bersama Jing Boran, ia menjalin love/hate relationship yang menarik. Terasa hidup karena kepribadian mereka bertentangan. Semakin unik karena keduanya bagai bertukar "peran gender". Tianyin lebih berperasaan dengan hobi menjahit dan memasak, sedangkan Xiaolan keras, dingin dan jago bela diri. Keabsurdan komedi Monster Hunt makin tampak saat Tianyin harus mengandung si bayi monster dalam perutnya.

Tidak ada kedalaman emosi pula eksplorasi karakter mendalam. Beberapa karakternya berubah sikap tanpa ada gradasi yang jelas dan perwatakan kuat. Tapi disaat saya tidak pernah ikut merasakan emosi mereka atau terikat oleh ceritanya, Monster Hunt tetap berhasil membuat saya menyukai semua itu. Hanya sekedar menawarkan kesenangan, tapi tidak ada yang salah dengan sebuah kesenangan yang kosong bukan? Jadi kembali pada pertanyaan diawal, "apakah film ini merupakan usaha yang berhasil dan memang layak mencetak angka pendapatan sebesar itu?" Jawabannya "ya". 


1 komentar :

  1. satu kata buat film ini mengemaskan sekaligus lucu :)

    BalasHapus