GRINDHOUSE (2007)

3 komentar
Istilah grindhouse berasal dari sebutan kepada bioskop-bioskop di era 70-an yang memutar film-film eksploitasi, dimana film dengan genre tersebut memang jarang mendapat tempat di bioskop umum. Film-film dengan genre eksploitasi juga dikenal sebagai film yang jauh dari kata "nyeni" karena memang film-film tersebut mengekploitasi hal-hal khsus semisal sadisme, seksual sampai ras kulit hitam dalam blaxploitation. Tapi bagaimana jika film dari genre yang sering diidentikkan dengan selera rendahan tersebut dibuat oleh dua sutradara kenamaan, yaitu Robert Rodriguez dan Quentin Tarantino? Robert Rodriguez memang tidak hanya dikenal sebagai sutradara film anak-anak seperti Spy Kids hingga The Adventures of Sharkboy and Lavagirl tapi ia juga pernah membuat film-film seperti El Mariachi yang cukup mendekati tipikal film-film grindhouse. Sedangkan Tarantino sendiri memang terkenal sering mengangkat genre film yang dipandang sebelah mata menjadi sebuah karya luar biasa. Sebut saja blaxploitation dalam Jackie Brown sampai kung-fu dalam Kill Bill. Grindhouse juga dikemas dalam format yang unik dimana dua film Rodriguez dan Tarantino digabung menjadi satu film (double feature) berdurasi 191 menit, dimana format semacam itu sering dipakai dalam film-film grindhouse dahulu.

Setiap sebelum film dimulai, Grindhouse menampilkan fake trailer yang dibuat oleh sutradara ternama mulai dari Machete yang disutradarai Robert Rodriguez, Werewolf Women of the SS buatan Rob Zombie, Don't kaya Edgar Wright dan Thanksgiving karya Eli Roth.  Selain itu untuk versi screening yang ditayangkan di Kanada juga menampilkan trailer Hobo with the Shotgun milik Jason Eisener. Film pertama adalah Planet Terror milik Rodriguez yang mengisahkan seorang penari go-go bernama Cherry Darling (Rose McGowan) yang memilih untuk kabur dan keluar dari pekerjaannya. Di sebuah bar dia bertemu dengan mantan kekasihnya, El Wray (Freddy Rodriguez). Di tempat lain, terjadi sebuah konfrontasi antara sebuah pasukan militer yang dipimpin Lt. Muldoon (Bruce Willis) dengan seorang ilmuwan bernama Dr. Abby (Naveen Andrews). Konfrontasi tersebut berujung pada terlepasnya sebuah gas misterius yang nantinya akan menyebabkan sebuah wabah penyakit misterius yang akan menyebabkan sebuah teror mengerikan di tempat tersebut. Berlanjut ke segmen kedua adalah Death Proof milik Quentin Tarantino yang berkisah di Austin, Texas. Jungle Julia (Sydney Tamiie Politier), seorang DJ radio terkenal disana sedang merayakan ulang tahun bersama dua orang teman wanitanya. Di sebuah bar mereka bertemu dengan seorang pria misterius yang ternyata sudah beberapa lama menguntit mereka. Pria tersebut bernama Stuntman Mike (Kurt Russell) yang tanpa mereka duga akan memberikan teror maut bagi para wanita tersebut.

Meski bissa ditonton secara terpisah, tapi bagi saya pribadi Grindhouse adalah satu kesatuan yang akan terasa maksimal jika disaksikan secara keseluruhan. Anda tetap bisa menikmati Death Proof tanpa menonton Planet Terror terlebih dahulu, begitu juga sebaliknya, tapi kepuasan terbesar akan datang jika anda menyaksikan pertunjukkan 3 jam lebih yang disajikan oleh Tarantino dan Rodriguez ini. Hal ini disebabkan karena Grindhouse tidak hanya mempunyai dua film panjang ini saja tapi juga beberapa fake trailer yang tidak kalah gila dan fitur-fitur unik seperti iklan produk yang muncul sebelum tiap filmnya diputar. Mungkin semua trailer tersebut sudah bisa ditonton di YouTube dan iklan yang ada tidak berhubungan dengan cerita filmnya dan jika boleh dibilang tidak penting. Tapi tetap saja semua hal tersebut adalah aspek-aspek yang saling mengisi dengan begitu sesuai. Singkatnya jika anda ingin merasakan sensasi sesungguhnya seperti saat orang-orang menonton film eksploitasi di bioksop grindhouse pada era 70-an maka menonton sajian ini secara keseluruhan akan jauh lebih memuaskan. Tapi bagaimana dengan kualitas dua film yang menjadi sajian utama disini? Jawabannya adalah memuaskan.
Dalam Planet Terror Robert Rodriguez tahu benar bagaimana cara menghasilkan sebuah film eksploitasi yang penuh kegilaan dengan adegan-adegan sinting super menghibur lengkap dengan karakter yang tidak kalah gila namun memorable. Cerita memang nomor dua, tapi saya sendiri tidak berharap mendapat cerita berbobot saat menonton film ini, kegilaan maksimal yang menghibur adalah apa yang saya harapkan, dan Robert Rodriguez berhasil memenuhi harapan saya tersebut. Pada dasarnya Planet Terror adalah sebuah film zombie, namun Rodriguez dengan sukses memberikan suntikan kegilaan berlipat lipat. Bicara soal action tentu saja ada ledakan, dan bicara soal horror sudah pasti ada begitu banyak darah yang tumpah. Tapi sekali lagi kegilaan Rodriguez membuat semuanya menjadi semakin keren. Berondongan peluru tidak hanya tumpah dari senapa biasa, karena ada sosok Cherry si wanita seksi mantan penari go-go yang bertransformasi menjadi action heroine seksi dengan kaki kanan yang diganti dengan senapan. Bahkan senapan itu bisa menjadi seperti mesin jet yang membuat Cherry sanggup terbang untuk kemudian menghabisi para zombie dengan begitu keren. Jika itu belum cukup masih ada sosok Dr. Dakota Block (Marley Shelton) yang bisa melempar suntikan bius seperti sebuah senjata rahasia. Karakter wanitanya tidak hanya cantik dan seksi tapi juga tidak kalah gila, bahkan ada karakter polisi wanita yang kostumnya hanya setengah badan seperti sebuah bikini.

Zombie-nya unik dan tidak kalah gila, karena tubuh mereka akan meleleh sedikit demi sedikit jika tidak menghirup tabung gas yang merupakan penawar virusnya. Hal itu membuat kita bisa melihat adegan yang menampilkan Quentin Tarantino sebagai salah satu zombie yang mencoba memperkosa Cherry namun alat kelaminnya keburu meleleh duluan. Ada juga Bruce Willis yang bertransformasi menjadi separuh zombie separuh monster menjijikkan. Planet Terror mengingatkan saya akan kegilaan film-film Jepang seperti Machine Girl  ataupun Tokyo Gore Police. Gila, tak berotak tapi sangat menghibur dan keren. Lalu bagaimana dengan Death Proof yang sampai sekarang sering dianggap sebagai film Tarantino yang paling tidak disukai? Filmnya masih sangat Tarantino dimana begitu banyak dialog tempelan yang jadi ciri khasnya sebelum pada akhirnya film sampai pada momen gila yang ditunggu-tunggu. Saya sendiri merupakan pecinta film Tarantino dan menganggap Death Proof bukanlah film yang buruk, hanya saja tidak seperti yang saya harapkan muncul dari film macam Grindhouse. Dari segi certia Tarantino melakukan penyederhanaan yang memang perlu, karena film macam ini tidak perlu naskah cerdas seperti Pulp Fiction.

Ada cukup banyak adegan brutal disini, khususnya saat mobil milik Stuntman Mike menghantam mobil yang berisi empat orang wanita dan menyebabkan kematian sesaat bagi keempat penumpangnya. Adegan tersebut terasa begitu brutal dan penuh momen sadis. Tapi sekali lagi pengemasan Tarantino yang masih berpegang pada formula miliknya yang mengandalkan dialog agak kurang maksimal disini, apalagi dia harus menurunkan tingkat kejeniusan cerita yang jadi kekuatannya. Pada akhirnya Death Proof menjadi agak nanggung, dimana tidak bisa dibilang cerdas seperti film-film Tarantino lain, tapi juga terasa kurang gila untuk film eksploitasi. Untungnya film ini punya salah satu adegan car chase paling keren dan paling menegangkan sepanjang masa. Dengan kecepatan tinggi dua mobil saling kebut dan saling serang. Terdengar biasa? Tunggu sampai anda tahu bahwa di salah satu mobilnya ada karakter Zoe Bell yang bergelantungan di kap mesin. Zoe Bell yang dasarnya merupakan stuntwoman favorit Tarantino (ia menjadi double Uma Thurman di Kill Bill) melakukan adegan stunt tersebut dengan luar biasa. Selain itu ada juga sosok Kurt Russell yang kembali menjadi karakter macho nan badass. Sayang porsi Mary Elizabeth Winstead begitu minim. Pada akhirnya jika berbicara keseluruhan, Grindhouse adalah kegilaan yang sangat menghibur, baik itu dari kedua filmnya sampai fake trailers yang mengiringi film tersebut.


3 komentar :

  1. salah gue juga sih terlalu berharap tinggi terhadap death proof. Baru setengah jam lewat, death proof gue lewatin. Sampai sekarang belum sempet-sempet ngasih kesempatan lebih untuk menyelesaiin film itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wajar sih, yang berharap film cerdasnya Tarantino bakal nggak puas, tapi yang berharap film segila Planet terror juga bakal gitu

      Hapus
  2. Anonim3:37 PM

    dua2 nya jelek death proof ato pun planet terror, death proof bertele2 ga jelas apa motif na, planet terror lebay n komik bgt. cerita dua2 nya jg amburadul. worth ditonton krn nama sutradara na aja.

    BalasHapus