MELANCHOLY IS A MOVEMENT (2015)

7 komentar
Bicara soal misleading trailer, film ini jadi salah satu contoh terbaik. Dari potongan-potongan yang dihadirkan trailer-nya, saya dibuat percaya bahwa ini komedi satir biasa tentang seorang sutradara yang harus melepaskan idealisme karena tuntutan keadaan. Ditambah beberapa potongan jokes yang menggelitik tapi tidak cerdas-cerdas amat, saya hanya berekspektasi dihibur saat film ini mentertawakan berbagai aspek yang disindir. Jadi alangkah terkejutnya saya begitu mendapati Melancholy is a Movement bukan sekedar tontonan satir melainkan dreamlike surreal yang sulit dipecahkan. Sinopsis yang bertebaran tidak salah. Film ini memang bercerita tentang Joko Anwar yang karena tuntutan dana serta kegundahan hati memutuskan membuat film religi. Sinopsis itu benar, bahkan trailer-nya sendiri tidak salah. Tapi bukan cuma itu yang disajikan sutradara sekaligus penulis naskah Richard Oh disini. Saya lupa kalau dia adalah orang yang juga membuat Koper sembilan tahun lalu.

Suasana sunyi, nuansa melankoli, long take dengan kamera steady yang "tidak memperlihatkan apapun", surrealisme layaknya mimpi, saya pun langsung teringat pada karya-karya Apichatpong Weerasethakul. Dingin tapi meditatif. Terksan tanpa jiwa tapi mengalun lembut menghasilkan misteri. Misteri memusingkan berupa mimpi dalam hidup atau kehidupan dalam mimpi. Dalam sebuah adegan, Joko Anwar menyarankan pada Upi yang tengah dipusingkan oleh proses syuting FTV untuk meletakkan kamera statis, mengambil gambar karakternya yang diam tanpa melakukan apapun supaya penonton merasa ada sesuatu yang "deep deep gimana gitu". Persis seperti itu juga yang dilakukan Richard Oh disini. Kita dibiarkan melihat sebuah ruang tengah di malam hari tanpa ada apapun, sedangkan dari kejauhan Joko sedang sibuk di dapur. Adegan semacam itu tidak hanya muncul sekali. Mungkin Richard Oh sedang berusaha memunculkan aura melankolis yang gloomy (dimana itu berhasil). Atau mungkin dia sedang "mempermainkan" para penonton yang berpikir terlalu rumit dalam menyusun interpretasi.
Semua itu masih ditambah rangkaian adegan-adegan lain yang semakin absurd, semakin aneh dan bisa tiba-tiba melompat secara acak ke momen yang tidak terasa linier dengan kejadian sebelumnya. Memang terasa seperti mimpi. Pengemasan layaknya puzzle tak beraturan itu menjadikan Melancholy is a Movement sebagai tontonan segmented. Semakin segmented lagi dengan selentingan-selentingan yang diangkat Richard Oh untuk disindir lewat naskahnya. Beberapa sindiran (dan curhatan) memang universal, tapi banyak yang tidak. Banyak isu bukan merupakan kejadian umum, dan mungkin penonton tidak akan merasakannya jika mereka bukanlah orang yang terjun atau menggemari suatu dunia tertentu. Atau dalam hal ini film khususnya sutradara. Keberadaan sindiran dalam bentuk komedi itu yang membedakan film ini dengan karya-karya Weerasethakul, Winding Refn, Lynch, atau terserah, siapapun itu sutradara dengan film dreamlike surreal kelam. Tentu saja perbandingan yang saya lakukan ini sebatas pada atmosfer serta sedikit gaya, bukan secara menyeluruh.
Film ini nyinyir dengan gaya yang unik. Tapi aspek yang sedikit mengganggu bagi saya berkaitan dengan komedi adalah beberapa lelucon yang terlalu lugas, straight to the point. Sebagai contoh lihat saja guyonan dalam trailer film ini. Tidak mengurangi kualitas film secara signifikan, tapi tidak bersatu sempurna dengan kelamnya "alam mimpi" yang ditampilkan Richard Oh. Biar begitu saya suka dengan apa-apa saja yang disindir oleh film ini. Hal itu menjawab juga pertanyaan kenapa harus Joko Anwar yang menjadi pemeran utama. Jika harus sutradara asli untuk menimbulkan kesan meta, kenapa harus dia? Secara akting tidaklah buruk, tidak juga spesial. Layaknya film-film Weerasethakul, aktor utama dituntut memasang serta pengucapan dialog datar. Tapi di samping itu, jika anda sering mengikuti segala celotehan Joko di akun twitter-nya, anda akan tahu mayoritas  hal dalam film ini sudah sering ia lontarkan. Maka begitu film ini hadir memajang wajahnya sebagai fokus utama, kesan related hadir begitu kuat. Sulit membayangkan sosok (sutradara) lain yang lebih cocok.

Melancholy is a Movement sejatinya dipenuhi curhatan, bahkan bisa jadi berasal dari kehidupan Richard Oh sendiri. Penuh perenungan tentang ganjalan demi ganjalan dalam berkarya serta hubungan seorang sutradara dengan karya tersebut. Aneh, bahkan sangat sederhana jika ditinjau dari segi teknis. Tapi saya suka film seperti ini. Menantang penonton untuk berpikir lebih jauh terlepas benar/salah atau ada/tidaknya suatu interpretasi. Begitu pula alur yang mengalir lambat dan dingin serta beberapa adegan dengan kamera statis yang seolah tidak menampilkan apapun. Saya suka semua itu. Menilai sebuah fim bagus hanya karena berbeda memang terasa amat menggampangkan. Tapi salah satu alasan kenapa Melancholy is a Movement begitu berkesan bagi saya memang karena film dengan bentuk penggarapan seperti ini sudah lama saya impikan hadir dalam perfilman Indonesia. Film macam apa? Dingin, misterius, menggelitik dan pastinya deep deep gimana gitu. Dazed and confused sempurna menggambarkan perasaan penonton pada film ini, terlepas suka atau tidak. Saya pun memaklumi reaksi mereka yang ada di bioskop bersama saya dimana mayoritas tidak segera beranjak meski credit title telah bergulir. 

7 komentar :

Comment Page:
gelap gulita mengatakan...

Yang nonton saat ini hanya 10% terisi dan ada 4 orang keluar theater. Udah setengah jalan film nya dan ga mudeng ini film maksudnya "apa".

Rasyidharry mengatakan...

Waktu saya nonton malah cuma total 5 orang. Well, bukankah menarik waktu otak kita diajak berpikir seperti itu? :)

Heru Sumarsis mengatakan...

Wah, tulisannya dishare di twitter Joko Anwar :D

Rasyidharry mengatakan...

Simbiosis mutualisme :D

Ria Setiawan mengatakan...

Film teraneh

Gus Hasyim Kader NU mengatakan...

Film yang kalau ditonton di bioskop pastilah membuat penonton jenuh dan merasa dikecewakan

Rasyidharry mengatakan...

Nggak "pasti" juga. Tuh saya nggak jenuh dan merasa sangat puas :)