THE SALESMAN (2016)

6 komentar
Diceritakan, protagonis dalam "The Salesman" adalah aktor teater yang tengah memainkan naskah "Death of a Salesman" buatan Arthur Miller. Akibat sensor ketat pemerintah Iran, salah satu aktris mesti berpakaian lengkap (jilbab dan coat) walau melakoni adegan telanjang, memancing tawa para aktornya. Di kehidupan nyata, film ini mendapat nominasi Oscar untuk Best Foreign Language Film, namun Asghar Farhadi selaku sutradara sekaligus penulis naskah dilarang hadir akibat kebijakan imigrasi kontroversial Donald Trump (Farhadi kemudian memboikot). Terciptanya paralel antara fantasi dan realita ini semakin menegaskan bahwa kritik yang Farhadi lontarkan lewat karyanya memang relevan.

Tapi intrik sosial-politik bukanlah topik utama "The Salesman", tidak dituturkan gamblang melainkan bangunan latar kuat pembentuk lingkungan tempat tokohnya tinggal yang otomatis mempengaruhi sikap serta pola pikir. Adegan pembuka memperlihatkan apartemen milik pasangan suami istri Emad (Shahab Hosseini) dan Rana (Taraneh Alidoosti) bergetar hebat, perlahan runtuh akibat kegiatan konstruksi di sebelah yang tak hati-hati. Tanpa keduanya maupun penonton sadari, momen itu bak siratan akan rumah tangga mereka yang kelak turut tergoncang dan terancam runtuh. Untungnya, berkat bantuan rekan sesama pemain teater, Babak (Babak Karimi), Emad dan Rana mendapat rumah baru. 
Kemudian mereka mulai mendengar selentingan dari tetangga jika wanita penghuni sebelumnya adalah pelacur yang kerap melayani klien di rumah itu. Sang wanita sendiri menimbulkan masalah saat tak kunjung datang mengambil barang yang masih tertinggal, namun melarang siapa pun menyentuhnya. Menyebalkan, tapi tak meresahkan bagi Emad dan Rana, sampai suatu malam, Rana mendengar bel pintu berbunyi. Mengira sang suami telah pulang, ia membuka pintu begitu saja. Saya takkan mengungkap peristiwa yang menyusul. Dari situlah ketegangan menyeruak, memfasilitasi Asghar Farhadi menyuguhkan pertentangan gender, modern versus traditional, dan gesekan dua pihak terkait trauma. 

Kelebihan Farhadi menulis naskah tampak dari kemampuannya menuturkan isu secara solid tanpa perlu meneriakkannya. Emad dan Rana awalnya terlihat sebagai dua sosok berpikiran terbuka pula modern. Mereka menggemari kesenian, terjun di dunia seni peran. Di pagi hari, Emad adalah guru yang tidak menerapkan teknik mengajar ortodoks, bersedia bercanda bersama murid-murid, menjadikan sensor selaku bahan lelucon. Namun begitu kejadian mengagetkan tersebut menerjang, Emad mulai merasa harga dirinya diserang. Tidak perlu menuding langsung, Farhadi sudah menciptakan pemahaman bagi penonton soal patriarki konservatif di mana istri dianggap barang milik pria saat tindakan Emad cenderung ungkapan kemarahan akibat "kepunyaannya" diinvasi ketimbang demi melindungi Rana.
Keberadaan poin "life imitates art" (dan sebaliknya) bukan hal baru, tetapi Farhadi tidak semata memperlihatkan kemiripan atas dasar kebetulan antara kenyataan dengan pementasan yang dilakoni dua protagonis. Daripada "memalsukan", akting lebih merupakan manifestasi atas keseharian sang pemeran. Kehidupan sehari-hari mempengaruhi interpretasi mereka terhadap tokoh yang diperankan. Selipan pengalaman personal (sengaja maupun tidak) justru bisa menguatkan performa, dan itu nampak di sini, baik ketika Emad meluapkan amarah pada Babak atau tergerusnya hubungan dia dan Rana, serupa karakter mereka di atas panggung. 

Begitu kokohnya presentasi drama "The Salesman", perspektif penonton bakal ditantang, pemikiran kita diprovokasi. Mungkin anda pernah menemui orang terdekat anda paranoid apabila bersinggungan dengan hal yang mengembalikan ingatan akan insiden traumatik. Tentu anda bersimpati, ingin membantu. Tetapi hampir pasti timbul ketidaknyamanan akibat merasa sikap orang itu berlebihan dan sebagainya. Farhadi merangkum konflik serupa dengan presisi sempurna, didukung kemampuan menyulap pertengkaran minim teriakan (berbeda dengan "The Past") jadi gejolak menggetarkan, pula mendorong penonton berpikir pihak mana yang benar. Bukan mustahil ujungnya anda bakal bersimpati atau sebaliknya, menyalahkan mereka berdua.
Baik Shahap Hosseini dan Taraneh Alidoosti cakap memunculkan dua sisi tokoh peranan masing-masing. Setelah memainkan pasangan likeable di awal, transformasi sama-sama dilakukan. Dari pria, suami, dan guru ramah, Hosseini berubah, tampak dikuasai amarah yang senantiasa mengganggu pikirannya dalam segala situasi. Melihat Hosseini, kita dibuat percaya bahwa Emad dapat "meledak" setiap saat. Sementara Alidoosti mengubah Rana yang awalnya ceria dan banyak bicara menjadi penuh kegamangan serta ketakutan. Matanya kosong, menerawang, seolah tak henti menyaksikan kejadian malam itu. Farid Sajadhosseini meski muncul baru di sepertiga akhir nyatanya amat berkesan. Tatapan hampanya memberi dampak luar biasa untuk konklusi cerita.

Sebagaimana beberapa karya lain miliknya, Farhadi menyelipkan misteri yang ambigu karena penonton tak pernah melihat langsung peristiwanya. Layaknya suguhan "Hitchcockian" terbaik, petunjuk dilemparkan dengan subtil guna mempermainkan asumsi penonton, acap kali mengejutkan lewat sederet fakta tersirat yang diungkap melalui dialog, meninggalkan antusiasme pada pencarian jawaban. Memasuki paruh kedua, "The Salesman" menyentuh ranah revenge thriller yang Farhadi bangun tanpa mengikuti formula. Kamera cenderung statis, tempo medium, iringan musik pun minimalis, enggan menggedor jantung. Ketegangan terhampar secara alamiah, bukti seorang Asghar Farhadi tak hanya ahli mengangkat isu, pula master dalam membentuk intensitas di tengah keheningan. 

6 komentar :

  1. saya penggemar film2nya Farhadi dan baru nonton ini juga. Tapi subtitlenya masih jelek banget dan saya ga dapat esensinya. Saya masih ga paham apa motif dari si pria tua menyerang Rana walaaupun itu salah alamat.
    Btw nonton di mana? atau dapat subtitlenya di mana?
    Tapi Separation dan About Elly masih jauh lebih bagus dari ini. Saya sih berharap A Man Called Ove yang menang Oscar tahun ini untuk Foreign Language.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih karena kecemasan & ketakutan dia. Tapi kita juga nggak tahu pasti sebenarnya apa yang terjadi malam itu. Penolakan Rana cerita mancing asumsi kalau lebih dari sekedar "masuk-pukul-kabur".
      Subtitle ada kok di subscene :)

      Hapus
  2. Subtitle saya juga dapat di subscene. Mungkin sudah ada yang update lagi ya? Saya juga agak terganggu dengan beberapa subplot, seperti adegan Emad di Taxi dengan muridnya, makan malam dengan anak kecil, dan kenapa pilihan judulnya The Salesman ? Apa kaitannya dengan The Death of Salesman? Toh drama itu tentang culture di Amerika kan? Saya bisa nangkap maksud-maksud tersembunyi di About Elly atau di The Past. Tapi kali ini saya koq agak gagal paham ya. Sepertinya saya harus tonton ulang dengan subtitle yang lebih baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Scene di taxi itu fungsinya buat presentasi tentang "asumsi", yang nantinya bakal jadi masalah Emad. Scene makan malam selain untuk bangun intensitas & mengungkap fakta juga meyoroti persoalan gender. Tentang judul, karena banyak paralel antara pementasan itu dengan kehidupan tokohnya.

      Hapus
  3. OK thanks, saya sudah ada subtitle yang lebih lengkap, dan akan nonton lagi dengan lebih cermat. Semalam sempat nonton ulang scene penyekapan si Bapak Tua oleh Emad, dan memang dibuat ambigu ya apakah dia benar-benar menyerang Rana atau tidak. Sutradara asal garut ini memang luar biasa. Rasanya belum ada sutradara Indonesia yang bisa mengolah konflik sederhana menjadi luar biasa menarik seperti si Asghar ini. Dulu kita punya Teguh Karya yang punya kejelian setara, meski dalam cara yang berbeda.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia, Farhadi ini selalu hebat memainkan ambiguitas.
      Persamaan Farhadi & Teguh Karya itu sama-sama menghasilkan drama sederhana tapi kuat dengan setting rumah. Sutradara Indonesia masa kini yang punya sensitivitas itu mungkin Angga Sasongko.

      Hapus