REVIEW - TUNGGU AKU SUKSES NANTI
Tunggu Aku Sukses Nanti karya Naya Anindita adalah perayaan bagi mereka yang tidak bisa memandang Lebaran sebagai perayaan, akibat keluarga yang semestinya menyediakan sistem pendukung justru ogah merayakan perjuangannya.
Montase tahun-tahun lebaran mengawali observasi kita terhadap hidup Arga (Ardit Erwandha), yang merangkum secara efektif dinamika keluarga besar si protagonis: Ayah dan ibu yang diremehkan akibat kesulitan finansial; sepupu yang gemar memamerkan kesuksesan, tante-tante yang tak pernah kehabisan bahan sindiran, hingga para om yang menjadikan teras sebagai "markas perokok".
Banyak dari kita bakal merasakan familiaritas dari potret tersebut. Dilandasi naskah buatan Evelyn Afnilia, Naya memang sengaja mendesain keluarga Arga bak keluarga kebanyakan masyarakat Indonesia.
Salah satu yang dikedepankan adalah perihal sosok menyebalkan bernama Tante Yuli (Sarah Sechan), dengan segala ocehan tentang belum berhasilnya si ponakan memperoleh pekerjaan. Arga dituding kurang keras berusaha. Pastinya ada "Yuli-Yuli" dalam hidup kita, entah dalam wujud tante juga, om, bude, atau pakde, yang senantiasa hadir membawa sindiran pedas, seolah menghancurkan Lebaran para kerabat dengan menabur luka merupakan misinya.
Arga berambisi membungkam Tante Yuli. Dia pun ingin segera bisa membantu perekonomian keluarga, setelah ayahnya (Ariyo Wahab) kehilangan pekerjaan dan mesti mencari nafkah sebagai ojol, sedangkan usaha warung mie ayam ibunya (Lulu Tobing) tak kunjung berkembang.
Tapi Arga sendiri bukan manusia sempurna, dan karena itulah karakternya terasa dekat. Sebagaimana dikeluhkan Fanny (Fita Anggriani Ilham) dan Wicak (Reza Chandika), dua sahabat yang setia mendengarkan keluh kesahnya, Arga memang kurang cerdik dalam berjuang. Bagaimana tidak? Dia cuma mengirim satu lamaran kerja, hanya karena bingung, apa jadinya bila melamar di banyak tempat dan seluruhnya diterima.
Singkat cerita Arga berhasil diterima bekerja di perusahaan properti. Begitu gaji serta bonus perdananya turun, ia segera mengecek saldo tabungan yang seketika melonjak dari 1,2 juta menjadi 32 juta. Momen tersebut mendapat respon riuh dari penonton. Film ini memang bakal menghasilkan kedekatan ekstra bagi mereka yang rutin memeriksa isi saldo guna mengatur keuangan sehari-hari sampai hafal betul jumlahnya.
Tunggu Aku Sukses Nanti tahu betul pengalaman target penontonnya, kemudian menjadikan itu sebagai bahan memilah skenario kejadian apa saja yang perlu ditampilkan, juga pemandangan yang harus ditangkap oleh kamera untuk memantik dampak emosional (pelukan keluarga misalnya). Terkesan kalkulatif alih-alih menguarkan aroma kebebasan berekspresi? Mungkin, tapi kalkulasinya dilangsungkan dengan cermat.
Departemen aktingnya turut berjasa besar menghantarkan rasa, dari Ardit Erwandha lewat ekspresi sarat pahit-manis realita kaum kelas menengah, Lulu Tobing beserta reaksi harunya kala sang putra sulung membagi gaji pertamanya, hingga Niniek L. Karim sebagai nenek yang diam-diam menangis di balik bahu si cucu kesayangan yang dipeluknya.
Satu hal yang agak disayangkan adalah keputusan filmnya bermain aman kala menjustifikasi perangai buruk anggota keluarga, dengan mengungkapnya sebagai kasih sayang yang disalahartikan. Realitanya tidak semua kerabat menyebalkan menyimpan intensi baik semacam itu. Tapi saya memahami pilihan tersebut. Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film lebaran arus utama yang dituntut mengambil jalan tengah dengan mengamini nilai luhur kekeluargaan, guna merebut hati penonton seluas mungkin.
Tapi saya kesulitan menerima cara naskahnya memaksakan diri melempar konflik terkait pemecatan yang Arga alami. Sebagai aset terbesar yang selalu mendatangkan keuntungan tertinggi, bagaimana mungkin pihak perusahaan begitu saja memercayai fitnah bodoh yang demikian mudah dicari kebenarannya? Resolusi yang ditawarkan di penghujung durasi pun terlampau bergantung pada kebetulan magis, sehingga malah mengkhianati tujuan filmnya melukis realita.
Tunggu Aku Sukses Nanti bukan sebuah karya yang sempurna, tapi tidak ada film yang lebih sempurna untuk ditonton bersama keluarga di tengah suasana Idul Fitri. Tatkala di momen penutupnya Arga menyunggingkan senyum seiring tetesan air matanya membasahi pipi, dada saya pun dibuat sesak oleh kenangan suka-duka dari tahun demi tahun Lebaran bersama keluarga yang tiba-tiba menyeruak.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar