REVIEW - SUZZANNA: SANTET DOSA DI ATAS DOSA
Tepat sebelum klimaks film ini pecah, Pramuja (diperankan Reza Rahadian yang di dunia nyata cukup vokal menyuarakan keresahan atas isu sosial) menyuarakan penolakan atas penindasan oleh tangan besi penguasa, guna menggerakkan perlawanan warga. Momen itu saja sudah memberi Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa relevansi. Sebuah horor yang mewakili ketakutan terbesar masyarakat Indonesia, yang tidak melulu bersinggungan dengan dunia klenik.
Alkisah, Suzzanna (Luna Maya) beserta seluruh penduduk Desa Karang Setan dipaksa tunduk pada kekuasaan Bisman (Clift Sangra) si juragan bengis yang membuat warga terlilit utang dengan jumlah di luar nalar, sembari menebar ketakutan melalui tindak kekerasan barisan preman miliknya.
Bukannya mereka cuma berdiam diri, tapi bahkan laporan ke pihak berwajib juga tidak kunjung digubris. Segenap warga Karang Setan adalah orang kecil yang tak punya daya untuk melawan. Ayah Suzzanna (El Manik) yang hendak menggagalkan niat Bisman mencalonkan diri sebagai kepala desa berujung tewas disantet, sedangkan ibunya (Yatti Surachman) jadi korban opresi.
Bisman ingin mempersunting Suzzanna. Bukan karena cinta sejati, sebab di satu kesempatan, si juragan mengirim santet yang membuat Suzzanna hilang ingatan sehingga bersedia patuh padanya. Naskah buatan Jujur Prananto, Ferry Lesmana, dan Sunil Soraya memotret kedangkalan akal lelaki bejat yang hanya mendambakan tubuh perempuan tanpa memedulikan jiwanya.
Terciptalah gambaran realita perempuan yang hidup dalam "dunia laki-laki". "Pulangkan suami saya ke Gusti Allah!", pinta seorang istri pada dukun bernama Nyi Gayatri (Djenar Maesa Ayu), kerabat Pramuja yang ditemui si pemuda kala mengunjungi Karang Setan demi memecahkan misteri soal keberadaan ayahnya. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memberi suara serta kuasa bagi perempuan tertindas macam itu, tidak terkecuali Suzzanna, yang akhirnya mempelajari ilmu santet sebagai murid Nyi Gayatri.
Banteng (Budi Bima), Lawu (Iwa K.), dan Kawi (Restu Triandy aka Andy /rif) merupakan tiga anak buah Bisman yang paling kejam. Satu per satu dari mereka pun jadi target balas dendam Suzzanna, yang oleh Azhar Kinoi Lubis selaku sutradara, dipresentasikan lewat rentetan serangan teluh brutal, yang kendati masih cenderung minim variasi, sudah cukup mendatangkan kepuasan bagi para penikmat gore.
Menariknya, film ini tak serta merta menjadikan Suzzanna (baca: perempuan) sebagai makhluk barbar yang mengutamakan otot di atas otak. Sebelum menghabisi penyiksa hidupnya, Suzzanna lebih dulu memecah belah mereka dengan menyulut ketidakpercayaan satu sama lain. Giliran para pemegang kuasa yang merasakan teror dari adu domba. Ketika laki-laki hanya bisa berujar "bunuh, bunuh, bunuh!", perempuan menjadikan mereka pion di atas papan catur yang ia mainkan.
Sayang, selipan momen-momen non-esensial, ditambah beberapa pengadeganan berlarut-larut, membuat durasinya membengkak sampai 135 menit. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa pun sempat tiba di titik saat suguhan audiovisual megah di atas rata-rata horor lokal atau parade santet brutal tak lagi cukup menjaga intensitas.
Humornya juga sempat memunculkan distraksi tatkala terlampau asyik menertawakan "kopi kencing kuda" sehingga menggiring alurnya keluar jalur. Tapi saya mengapresiasi keputusan cerdik menunjuk Azis Gagap guna memerankan salah satu linmas, yang ciri khas lawakannya dimanfaatkan untuk mengeksplorasi kesaktian Suzzanna di luar ragam santet mematikan.
Sebagai Suzzanna, pelototan mata serta senyum janggal Luna Maya kembali berhasil menghidupkan kembali sang Ratu Horor di layar lebar. Begitu mirip, sampai saya mulai mempertanyakan keperluan mengenakan riasan prostetik yang masih membatasi ruang gerak mimik wajah sang aktris. Nilai lebih patut disematkan kepada Reza Rahadian yang memberi filmnya lebih banyak bobot emosional dibanding mayoritas horor Indonesia. Azhar menyadari itu, lalu beberapa kali memakai close-up guna mengeksploitasi (in a good way) performa aktornya.
Ada satu poin penting: film ini menolak menghakimi balas dendam protagonisnya. Benar bahwa Pramuja bertindak selaku penyeimbang moral saat beberapa kali membujuk Suzzanna bertobat, namun ia pun tidak sepenuhnya menyalahkan keputusan si perempuan. Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa memahami betapa karakternya berhak melawan.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar