REVIEW - DANUR: THE LAST CHAPTER

Tidak ada komentar

Tidak ada salah kaprah yang benar-benar parah dalam judul keempat dari waralaba yang telah mengumpulkan lebih dari tujuh juta penonton ini. Danur: The Last Chapter merupakan horor konvensional yang digarap secara kompeten oleh orang-orang dengan bekal pemahaman memadai seputar selera penonton arus utama. "Dosa" terbesarnya adalah stagnasi, di mana kemerosotan kualitas selalu bisa dihindari, namun upaya meningkatkan seperti enggan dilalui. 

Alkisah, pasca peristiwa Sunyaruri (2019), Risa (Prilly Latuconsina) telah menutup mata batinnya. Kini ia hanya PNS biasa tanpa ikatan dengan para makhluk dari "dunia sana", termasuk Peter cs. Sampai suatu ketika, perangai sang adik, Riri (Zee Asadel), yang hari-harinya disibukkan oleh balet, mendadak menjadi janggal. 

Keanehan turut dialami Risa. Kendati kemampuan spesialnya sudah lenyap, ia kembali mendapat beberapa penglihatan. Bedanya, alih-alih sekadar mencium bau danur, Risa ikut merasakan kematian menyakitkan para pemilik ingatan yang disambanginya. 

Konsep di atas memang terdengar segar. Naskah buatan Lele Laila pun memberi dimensi berbeda dalam fenomena kerasukan. Bukan semata wujud keusilan atau kejahatan hantu, tapi upaya mengkomunikasikan rasa sakit yang mengiringi akhir hidup mereka. Jiwa-jiwa yang melayang-layang di "dunia antara" ini perlu wadah guna menampung luka yang urung terobati. 

Masalahnya terletak pada eksekusi repetitif. Risa akan mendapatkan penglihatan, merasakan kematian, lalu tiba-tiba kembali ke realita. Begitu seterusnya. Monoton, walau untuk ukuran Danur yang cenderung jinak, menyaksikan Risa berkali-kali kehilangan nyawa sudah termasuk pemandangan mencengangkan.

Formulanya masih stagnan, di mana 98 menit durasinya diisi kompilasi karakternya mondar-mandir, kemudian dikejutkan oleh penampakan hantu.Naskahnya bersedia menahan diri untuk tidak melempar jumpscare setiap lima menit sekali, tapi modus operandi si hantu dalam meneror korbannya terlampau generik. Mau bagaimana lagi? Memang itulah yang digemari target pasarnya. 

Kali ini giliran Canting (Anya Zen) yang diberi kesempatan beraksi. Dibanding Asih atau Ivanna, Canting dengan desain klise khas "hantu penari Jawa", takkan bertahan lama di ingatan penonton, tapi ada kepuasan tersendiri kala menyaksikan film ini memberi payoff bagi teror yang sudah diperkenalkan sejak Maddah (2018).  

Sebagai judul yang menandai kembalinya suatu waralaba sukses setelah absen tujuh tahun, lengkap dengan subjudul "The Last Chapter", skala penceritaan film ini rasanya terlalu kecil untuk bisa menjustifikasi statusnya selaku babak pamungkas. Daripada klimaks sebuah saga ia lebih seperti cerita pelengkap minim urgensi, biarpun keberanian mengakhiri alurnya secara konklusif layak diapresiasi. 

Mengingat Awi Suryadi duduk lagi di kursi sutradara, tak mengherankan saat Danur: The Last Chapter mau lebih meluangkan usaha menyusun berbagai pilihan shot bergaya. Ciri khas sang sutradara berupa putaran kamera kembali diterapkan, obrolan kasual dipresentasikan lewat perspektif unik (pemanfaatan refleksi di microwave jadi salah satu bentuk kreativitas), sementara crash zoom dimanfaatkan guna menguatkan dramatisasi. 

Efek spesial yang diterapkan sebagai cara memanipulasi tubuh salah satu karakternya di klimaks pun cukup mengundang kekaguman, meski sayangnya momen tersebut diselesaikan secara prematur, serba tergesa-gesa, sebelum ia berhasil menguatkan kapasitas filmnya perihal menggedor jantung penonton. 

Tapi toh segala nilai minus tadi sudah saya duga jauh-jauh hari bakal menghiasi film ini. Danur: The Last Chapter memang tak pernah memberi janji muluk mengenai lonjakan kualitas atau perombakan formula. Dia berangkat dengan misi sederhana, yakni memuaskan hasrat pecinta horor konvensional, dan berhasil melakukannya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: