REVIEW - READY OR NOT 2: HERE I COME

1 komentar

Alasan Ready or Not 2: Here I Come punya daya hibur tinggi adalah karena Grace (Samara Weaving) selaku protagonis bak menyikapi pertumpahan darah di sekitarnya sebagai bentuk katarsis untuk meledakkan rasa frustrasi terhadap dunia yang semakin gila. Seolah ia menikmati aktivitas diburu, sama besar dengan orang-orang yang memburunya. 

Pasca peristiwa di Ready or Not (2019), Grace dibawa ke rumah sakit dalam kondisi masih bersimbah darah, sementara alurnya menghabiskan sekitar 10 menit pertama untuk merekap cerita sebelumnya. Kemudian, bukannya memberi pertolongan, polisi justru menjadikan Grace tersangka dalam pembantaian di kediaman Keluarga Le Domas.

Naskahnya enggan berlarut-larut menenggelamkan penonton dalam tetek bengek salah paham membosankan. Nyawa Grace segera jadi incaran lagi, selepas diungkap bahwa Le Domas merupakan bagian dari dewan yang turut diisi oleh enam keluarga lain. Seluruhnya menyembah Mr. Le Bail, dan akibat keberhasilan Grace bertahan hidup dari ritual persembahan, terjadilah kekacauan. Permainan "petak umpet maut" harus kembali digelar, dengan Ursula (Sarah Michelle Gellar) dan Titus (Shawn Hatosy) dari Keluarga Danforth bertindak selaku tuan rumah.

Di luar konsep dunianya yang kentara diperluas memakai cocoklogi dadakan (awalnya ide cerita film ini hendak dikembangkan oleh duo sutradaranya, Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, sebagai karya orisinal di luar semesta Ready or Not) sehingga penuh kesan asal, secara garis besar, sekuel ini masih mengulangi formula pendahulunya. 

Aktivitas petak umpet generik direpetisi oleh naskah buatan Guy Busick dan R. Christopher Murphy, pun tatkala banyak sekuel datang dengan ambisi tampil lebih besar (atau lebih brutal di konteks horor bertema pembunuhan) Ready or Not 2: Here I Come menumpahkan darah dalam kuantitas yang tak jauh beda. 

Hanya saja kali ini Grace tidak sendirian. Sang adik, Faith (Kathryn Newton), yang sudah bertahun-tahun tak ia temui juga ikut terseret. Setiap aksi kejar-kejarannya menginjak pedal rem sejenak, pertengkaran kakak-beradik ini gantian mengisi sorotan utama. 

Jangan mengharapkan eksplorasi mendalam perihal dinamika keluarga disfungsional. Kompleksitas dan substansi tidak eksis dalam kamus waralaba Ready or Not. Sekuelnya ini cuma mengusung satu tujuan, yakni mengulangi formula kemenangan film pertama.....dan ia berhasil. 

Kendati tak seberapa brutal pula sebatas pengulangan pakem, pengarahan bertenaga dari Bettinelli-Olpin dan Gillett mampu menjaga daya hibur petak umpetnya. Enam keluarga elit yang memburu dua protagonisnya sama sekali tidak cakap perihal merenggut nyawa, karena berbeda dengan Grace yang berpengalaman memainkan permainan brutal tersebut, mereka hanya sekelompok orang kaya manja, yang merasa berhak mewarisi segala harta serta kuasa tanpa perlu mengasah kemampuan. Tidak jauh beda dengan situasi dunia nyata. 

Humornya pun bekerja dengan baik. Bettinelli-Olpin dan Gillett tanpa rasa takut mencurahkan semangat penolakan terhadap keseriusan berlebih khas sinema kelas B, dengan acap kali secara sengaja menggandakan kebodohan barisan karakternya, juga kekonyolan situasi yang mereka lalui. Tengok baku hantam ugal-ugalan antara Grace dan Francesca (Maia Jae) yang melibatkan kebutaan temporer akibat semprotan merica.

Lalu ada Samara Weaving. Matanya yang melotot tajam ke arah pusat kegilaan, celetukan sinis dan selera humor gelapnya yang enggan menyisakan ruang bagi kelemahan, hingga bagaimana karakter yang ia perankan sanggup mendorong kapasitas fisiknya sampai ke batas maksimum selepas mengalami beragam luka, menjadikan sang aktris ujung tombak dari semua huru-hara sarat hura-hura ini.

Bukannya sama sekali tidak takut, tapi alih-alih membiarkan dirinya dikerdilkan, Grace memilih menertawakan siksaan yang dialaminya. Memasuki babak ketiga, Samara Weaving meninggikan derajatnya. Bukan lagi scream queen biasa yang dikejar-kejar teror entitas mengerikan, melainkan figur yang menjulang tinggi sembari bertitah dengan teriakan karismatik, bak ratu iblis yang membiarkan dunia luluh lantah oleh api amarahnya. 

1 komentar :

Comment Page:

REVIEW - AYAH, INI ARAHNYA KE MANA, YA?

Tidak ada komentar

Di adaptasi novel berjudul sama karya Khoirul Trian ini, bila ada karakter sedang melakukan sesuatu, bahkan untuk hal sederhana seperti berjalan, jangan harap semua berlangsung mulus. Dia akan terjatuh, mendadak terserang penyakit, atau mengalami musibah eksternal yang entah datang dari mana. Korban kutukan dalam film horor pun rasanya takkan sesial itu. 

Begitulah problem di Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya?, maupun banyak tearjerker lain yang berupaya terlampau keras memeras air mata penonton. Belum sempat kita meresapi dampak emosi suatu peristiwa, filmnya sudah menimpakan kesialan lain pada karakternya, bak dikejar tuntutan memenuhi daftar periksa. 

Sosok ayah yang disebut oleh judulnya bernama Yudi (Dwi Sasono). Dia senantiasa murung, memancarkan ketidakberdayaan, hemat pula dalam berkata-kata. "Diam itu emas" bak jadi pepatah favorit Yudi. Hanya saja, alih-alih sungguhan menghasilkan emas, sikap diamnya cuma membawa cemas. Bagi sang istri, Lia (Unique Priscilla), yang tiap hari dibuatnya kesal, maupun anak-anaknya, Dira (Mawar de Jongh) dan Darin (Rey Bong) yang merindukan kehadiran figur ayah di rumah. 

Sepulang kerja, Yudi membawa gulai yang tak lagi bisa dimakan akibat kemasukan air hujan. Sewaktu gas habis, bukannya menolong Lia mengangkat tabung ke warung, Yudi malah mencetuskan ide cemerlang guna memakai kompor minyak yang sudah tak dipakai sedari pandemi. Telur dadar buatannya pun gosong. Puncaknya, keteledoran Yudi membuat gas yang baru istrinya beli meledak. 

Lia harus menjalani rawat inap di rumah sakit sehingga terpaksa berhenti berjualan soto untuk sementara, Yudi terlilit utang puluhan juta di koperasi, Dira kesulitan mencari kerja, Darin yang sudah tiga bulan terlambat membayar SPP juga kerap terlibat perkelahian di sekolah. Di tengah semua itu, Yudi masih saja duduk diam sambil diiringi bunyi token listrik yang tak mampu ia isi ulang. 

Naskah buatan Kuntz Agus (juga duduk di kursi sutradara) dan Oka Aurora mengharap belas kasih penonton, namun lalai memperlihatkan kualitas positif yang Yudi miliki (dia buruk di segala hal!), kecuali lewat twist di penghujung durasi yang kental aroma romantisasi terhadap "nilai kekeluargaan" usang, dengan menjustifikasi pilihan orang tua mengubur rahasia atas nama "membahagiakan anak". Wahai para orang tua, hidup anak justru bakal makin repot jika kalian kukuh menyembunyikan fakta. 

Di luar kualitas naskah, sejatinya film ini digarap memadai. Kuntz Agus tahu cara mengalirkan alur secara mulus, pengadeganannya pun enggan bersikap murahan ketika ogah mengemis tangis dalam tiap kesempatan. Sedangkan di departemen akting, Unique Priscilla sebagai figur ibu pejuang, Dwi Sasono yang bak mengunjungi kembali karakternya di Budi Pekerti, Mawar de Jongh sebagai individu yang memegang integritas kendati dijerat kemiskinan, hingga Rey Bong sebagai remaja pemberontak, semuanya mengolah rasa dengan solid. 

Pada satu kesempatan, Dira mengutarakan minatnya melanjutkan S2 ke Inggris. Ibunya menyampaikan penolakan melalui jawaban, "Mau kuliah apa mau kabur sih?" Dira memang ingin sejenak melepaskan diri dari kepenatan dinamika keluarganya yang seolah lupa cara berkomunikasi. Tidak satu pun ruang berbicara disediakan guna menguraikan masalah yang tiada henti menyerbu mereka. Rasanya di luar sana bakal banyak orang mengamini intensi Dira.

Materi milik Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? memang berpotensi melahirkan kedekatan dengan penonton, baik untuk mereka yang mesti menghadapi keluarga disfungsional, maupun di hati barisan anak yang tak lagi mempunyai figur ayah (momen penutup serta adegan pengiring kreditnya akan terasa menusuk). 

Sayangnya, alih-alih berfokus memperdalam deretan elemen relatable di atas, film ini lebih tertarik menginjeksi sebanyak mungkin kesialan bagi protagonisnya. Banyak yang semestinya tidak perlu terjadi, termasuk konflik puncak di babak ketiga, yang mustahil pecah andai karakternya lebih cekatan menjabarkan kebenaran. 

Naskahnya membungkam kapasitas karakternya berbicara demi memanjangkan permasalahan. Perasaan penonton memang dapat terkoneksi dengan karakter yang dihantui nasib buruk, tapi orang-orang dalam Ayah, Ini Arahnya ke Mana, Ya? menciptakan kesialan mereka sendiri.  

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - THE KING'S WARDEN

Tidak ada komentar

Sewaktu menonton The King's Warden, saya duduk di samping dua perempuan lanjut usia asal Korea, yang sebelum film dimulai, terlibat obrolan panjang. Entah apa yang dibicarakan. Ada sekat bahasa tebal di antara kami. Selang beberapa menit, filmnya mengawali narasi dengan teks mengenai Danjong, raja era Joseon di tahun 1450-an yang diasingkan. Nama yang belum pernah saya dengar sebelumnya. 

Kemudian kita diajak berkenalan dengan Eom Heung-do (Yoo Hae-jin) yang mengepalai sebuah desa miskin di daerah Cheongnyeongpo. Begitu miskin serta lapar rakyatnya, tatkala Heung-do mendengar rumor bahwa suatu desa bakal makmur bila dijadikan tempat pengasingan pejabat negara, dia tidak berpikir dua kali untuk menyabet peluang tersebut. 

Tanpa Heung-do tahu, figur yang hendak diasingkan ke Cheongnyeongpo bukanlah pejabat biasa, melainkan Yi Hong-wi (Park Ji-hoon) alias Pangeran Nosan alias Raja Danjong yang baru saja dikudeta oleh pamannya sendiri. Nosan baru berusia 16 tahun. Kebengisan politik kerajaan yang tak mengenal belas kasih bahkan di antara keluarga telah merenggut semangatnya. Nosan enggan makan, matanya pun hampa, seolah keputusasaan enggan berhenti bertandang. 

Penceritaan sang sutradara, Jang Hang-jun, yang turut menulis naskah bersama Hwang Seong-gu, mengalir dengan mulus. Kisahnya mungkin tak punya cengkeraman intensitas luar biasa maupun "bumbu penyedap" berlebih, tapi penonton dibuat paham betul soal kekisruhan beraroma politis di dalam tembok istana, pula penderitaan rakyat jelata di luar. 

Kita pun mendapat sosok karakter utama menarik dalam diri Eom Heung-do. Terselip ambiguitas moral khas protagonis sinema Korea Selatan. Dia bukan orang suci. Si kepala desa tidak ragu mengakali aturan, menjilat penguasa, pula merumuskan sedikit kebohongan demi mengenyangkan perutnya serta warga desa, yang sudah sekian lama tak diisi semangkuk nasi hangat. Kadang metodenya patut dipertanyakan, namun intensinya tulus. 

Heung-do dan para warga terus menyediakan makanan bagi Nosan, dan si pangeran selalu menolaknya akibat keputusasaan yang sempat memantik niat untuk mengakhiri hidup. Titik balik terjadi kala si raja remaja menolong warga dari serangan harimau. Sayang, dampak emosional momen tersebut dilemahkan oleh pemanfaatan teknologi secara kurang bijak, saat sang sutradara memaksakan diri memunculkan "harimau CGI" dengan gamblang kendati kualitasnya serba terbatas. 

Sejak itulah Nosan mulai bersedia mencicipi masakan warga. Ada poin menarik tatkala Heung-do mempresentasikan masakan tersebut di hadapan Nosan. Berbeda dengan suguhan buatan koki istana yang serba mewah sekaligus mudah diperoleh, di Cheongnyeongpo, masing-masing varian menu didapat dari hasil perjuangan (buah yang susah payah dipetik, ikan yang dipancing memakai trik rumit, dll.) Bukankah makanan buah kerja keras memang lebih lezat? 

Sebagai bentuk balas budi, Nosan mulai rutin mengajak seluruh warga makan bersama, bahkan mengajari baca tulis anak-anak setempat. The King's Warden mengambil latar lebih dari 500 tahun lalu, namun permasalahannya masih relevan hingga kini: figur yang tulus memedulikan rakyat akan selalu coba disingkirkan oleh gerombolan penguasa haus harta. 

Filmnya ditutup oleh konklusi yang luar biasa efektif memeras air mata penonton. Selain karena skenario tragis nan mengharukan di dalamnya, totalitas akting Yoo Hae-jin, yang matanya dipenuhi deburan sakit hati dan oleh sang sutradara diberi sorotan utama, berkontribusi besar memaksimalkan potensi adegan tersebut. 

Saya meneteskan air mata melihatnya, begitu pula dua perempuan Korea di sebelah. Saya tetap tidak mengerti obrolan keduanya sewaktu kredit bergulir, tapi rasanya saya mulai sedikit memahami sekelumit perasaan mereka. Perasaan rakyat biasa yang merindukan kebaikan hati pemimpin negara. Begitu hebat kekuatan sinema, ia mampu meniadakan sekat bahasa juga budaya. 

Tidak ada komentar :

Comment Page:

REVIEW - PROJECT HAIL MARY

5 komentar

Ryland Grace (Ryan Gosling) terbangun di pesawat luar angkasa dalam kondisi amnesia. Dia tidak tahu sudah seberapa jauh dari Bumi, berapa lama ia pergi, pula alasannya berada di sana. Konstelasi bintang yang menyemarakkan langit semesta tidak lagi menyimpan kenangan akan keping-keping identitas dirinya. 

Tapi andai ingatannya tak lenyap pun, rasanya kondisi Grace takkan jauh lebih baik. Di Bumi ia bukanlah siapa-siapa, yang juga tak punya siapa-siapa. Seorang ilmuwan biologi molekuler yang dicap gagal dan terpaksa berkarir sebagai guru. Grace sudah tersesat jauh sebelum luar angkasa mengombang-ambingkannya. Jati dirinya telah lenyap tanpa campur tangan amnesia. 

Alurnya kemudian bergerak bolak-balik antara masa kini (luar angkasa) dan masa lalu (Bumi). Alkisah, matahari perlahan meredup akibat dikonsumsi oleh mikrob bernama "astrophage" yang secara misterius berkembang biak di Venus. Akibatnya, dalam waktu kurang lebih 30 tahun, Bumi diperkirakan bakal mengalami pendinginan global. 

Gabungan negara-negara dunia pun menginisiasi "Project Hail Mary" guna mencari jalan keluar. Grace termasuk salah satu ilmuwan yang terlibat. Bagaimana detail proyek tersebut? Mengapa sebagai ilmuwan Grace malah turut terbang ke luar angkasa? Semakin sedikit kalian tahu perihal detail naskah buatan Drew Goddard, yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Andy Weir, makin baik. 

Di Bumi, kendati dikelilingi banyak manusia selama menjalankan proyek, Grace tetap dikuasai sepi. Sebaliknya, tatkala benar-benar seorang diri di luar angkasa, protagonis kita justru nampak lebih hidup. Sinematografi arahan Greig Fraser menangkap komparasi ironis itu. Latar Bumi terkesan lebih "lega" tetapi warnanya cenderung redup. Sedangkan luar angkasa, walau acap kali terlihat sesak karena banyak mengambil latar dalam pesawat, nyatanya lebih royal perihal menumpahkan warna.

Di kursi sutradara, Phil Lord dan Christopher Miller mengeksplorasi penerapan efek praktikal, dari membangun set sungguhan, memakai jasa puppeteer, hingga pemanfaatan layar LED (bukan berarti tanpa keterlibatan efek komputer), guna melahirkan ragam pemandangan semesta megah yang terkesan magis sekaligus immersive

Pada satu kesempatan, Grace menjelajah keluar pesawat, lalu sekujur tubuhnya dibasuh oleh pancaran cahaya merah yang indah. Grace menikmatinya bak tengah memperoleh berkah. Seolah saat itu angkasa mendengar nyanyian duka Grace, kemudian menghadiahkan keindahan semesta yang masih asing bagi sang ilmuwan. 

Bila membicarakan cerita, sejatinya Project Hail Mary amat sederhana. Bahkan ada kalanya, saat-saat yang Grace habiskan seorang diri di pesawat, entah untuk memecahkan misteri tentang ingatannya, mengakali persoalan teknis, atau sekadar bersantai menikmati berlalunya denting waktu, berlangsung lebih lama dari seharusnya. 

Nantinya Grace bakal bertemu alien berwujud batu yang ia beri nama Rocky (digerakkan oleh lima puppeteers termasuk James Ortiz, yang turut mengisi suaranya), yang mengarungi angkasa menaiki pesawat berukuran masif dengan wujud bak kerangka raksasa, yang kehadirannya seketika menguarkan misteri semesta yang terlampau luas untuk dapat diproses oleh manusia. 

Rocky pun mempunyai wujud abstrak. Tanpa wajah tapi kaya emosi. Penonton diajak menyaksikan langkah demi langkah yang Grace lalui supaya bisa berkomunikasi dengan si alien. Kita dibuat memahami metode yang protagonisnya pakai. Penyertaan elemen saintifik yang cukup kental (meski konon kadarnya tidak sebanyak di novel) memungkinkan penonton menyelami detail masalah serta solusi tiap problematika ilmiahnya. Project Hail Mary enggan memandang penonton sebagai makhluk bodoh, melainkan partner yang terlibat aktif dalam perjalanannya.

Kehadiran Rocky semakin memperkaya sentuhan humor yang tidak pernah malu-malu untuk tampil sebagai sorotan utama. Project Hail Mary memang 156 menit yang ringan, menyenangkan, pula mengandung banyak situasi yang membuat "tantangan tahan tangis" akan sukar dilangsungkan. Terkadang filmnya menuang sakarin terlampau banyak, di mana tiap sudut seolah didesain guna menumpahkan tawa atau air mata , tapi pendekatan tersebut substansial dalam upaya Project Hail Mary membicarakan tentang "harapan".

Semematikan apa pun potensi kehancuran yang Bumi alami, Project Hail Mary menolak mengurung kita dalam sangkar nestapa. Sebaliknya, ia tampil bagai buku petunjuk mengenai cara mengarungi kegelapan dunia tanpa perlu mengorbankan harapan. 

Judulnya merujuk pada jenis umpan panjang dalam american football yang biasanya dianggap sebagai upaya putus asa akibat rasio keberhasilan yang demikian minim. Begitu pun misi yang Grace emban. Tapi di sini, alih-alih diidentikkan dengan pertaruhan berisiko, "ketidakpastian" justru dipakai merepresentasikan kemungkinan tanpa batas. 

Grace tengah mengarungi petualangan yang mengeliminasi batasan. Dia ingin bebas. Ryan Gosling memerankan si tokoh utama dengan kecanggungan yang membuatnya mudah disukai, pula kepiluan yang seketika memancing simpati. Dia tidak berambisi dipuja layaknya pahlawan. Daripada menjadi penyelamat semesta, Grace lebih tertarik melestarikan kebaikan. Tidak ada aksi kepahlawanan yang lebih besar dari itu. 

5 komentar :

Comment Page: