REVIEW - BILLIE EILISH - HIT ME HARD AND SOFT: THE TOUR (LIVE IN 3D)

Tidak ada komentar

"Birds of a feather, we should stick together, I know". Sewaktu Billie Eilish melantunkan baris lirik indah dari tembang Birds of a Feather yang jadi penutup konsernya, sekelompok penonton dalam studio turun ke depan layar, bernyanyi, berjingkrak, sembari berangkulan bak bulu-bulu yang terjalin erat kala sang burung mengangkasa. Mereka seperti benar-benar sedang menyaksikan konser secara langsung. Sebuah pengalaman transendental yang hanya bisa dicapai sinema kelas satu. 

Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) merupakan film yang akan membuatmu mengagumi dua sutradaranya: Billie Eilish si musisi muda dengan kekayaan visi yang bukan bintang pop kosong hasil kurasi industri semata, dan James Cameron sang "Dewa Sinema" yang mau berusaha memahami generasi sekarang alih-alih bersikap arogan dengan mengerdilkan mereka. 

Latarnya adalah konser di Manchester (2025) yang jadi bagian Hit Me Hard and Soft: The Tour. Di lagu Chihiro selaku nomor pembuka, Eilish muncul dari dalam sangkar lalu membagikan lirikan tajam khasnya ke arah lautan manusia yang meneriakkan namanya. Cameron menangkap figur sang musisi bagai jagoan laga karismatik yang kerap menghiasi karya-karyanya. 

Cameron jelas mengagumi Eilish. Dia hadir bukan untuk unjuk gigi sebagai pemeran utama, melainkan sosok pendukung yang memfasilitasi upaya si bintang muda merealisasikan visinya. Sebelum konser dimulai, Eilish menjabarkan keinginannya, pula hal apa saja yang hendak ia lakukan di atas panggung, kemudian menutup dengan pertanyaan, "Bisakah kita melakukan itu?" Cameron menjawab santai, "Ya." Jika salah satu sutradara paling jenius berada di pihakmu, kemustahilan bukan lagi sesuatu yang patut dikhawatirkan.

Seiring konser berjalan, kita pun perlahan dibuat menyadari bahwa dua seniman lain era dan medium ini sejatinya tidak seberapa jauh berbeda. Sebagaimana Cameron, Eilish pun gemar mengeksplorasi ragam teknologi yang bisa menyulap konsernya jadi pesta meriah, bahkan saat tengah membawakan lagu-lagu bertempo lambat. 

Tata cahaya dengan warna-warni tajam yang menyesuaikan suasana tiap lagu, pemakaian teknik vocal loops yang mengharuskan puluhan ribu orang dalam Co-op Live untuk membisu sejenak setelah bernyanyi dan berteriak tanpa henti, semua melahirkan pengalaman sensoris yang terasa imersif kala diterjemahkan ke layar perak oleh Cameron.

Format 3D jadi senjata pamungkas guna menggenjot kesan imersif tersebut. Gambarnya memiliki kejernihan serta kedalaman luar biasa, sehingga setiap kali kamera diletakkan dari perspektif penonton, kita akan merasa seperti sungguh-sungguh berdiri di belakang kerumunan manusia tersebut. Sadarkah kalian kalau para anggota band pengiringnya mengenakan baju merah dan biru sebagai simbol efek 3D? 

Sekali waktu kita diajak mengunjungi kondisi di balik panggung untuk mendengarkan obrolan Eilish dan Cameron. Beberapa topik dibicarakan, mulai dari pilihan gaya berpakaian, ambisinya menginspirasi sebagai figur publik perempuan, hingga keinginan membahagiakan para penggemar lewat performanya di atas panggung. Sederhananya, hal-hal yang sudah sering kita temui di banyak film konser. 

Bukan tipikal wawancara yang mengupas ruang intim sang narasumber secara mendalam, tapi bukan masalah, sebab dokumenter Billie Eilish: The World's a Little Blurry (2021) sudah eksis untuk memenuhi tujuan tersebut. Sedangkan Billie Eilish – Hit Me Hard and Soft: The Tour (Live in 3D) lebih mengedepankan spektakel, kendati itu bukan berarti ia mengeliminasi emosi. Hanya saja, daripada berasal dari obrolan, dinamika rasa terbesarnya dihasilkan oleh atmosfer konsernya. 

Memotret reaksi penonton sepanjang konser merupakan praktik lumrah dalam film konser, namun di sini pemandangan tersebut lebih sering ditampilkan. Cameron memakainya selaku  medium observasi seputar budaya generasi muda, yang tak sekalipun terkesan menghakimi. 

Pemujaan terhadap bintang pop bukan dibingkai sebagai obsesi tak sehat, melainkan tali pengaman yang mengentaskan mereka dari titik nadir kehidupan. Pun Cameron enggan memandang aktivitas merekam jalannya konser secara negatif. Bukannya anak-anak muda ini larut dalam jerat teknologi. Begitulah cara mereka menciptakan serta menyimpan kenangan. 

Wajah mereka senantiasa dibanjiri air mata. Setiap lagu mampu menyentuh hati orang yang berbeda-beda, setiap orang pun membawa beragam cerita yang seketika terbayang tiap saya mengamati gurat-gurat rasa di wajah mereka. Tanpa sadar, terjalin koneksi antara dua kelompok penonton (konser dan bioskop) yang terpisah oleh sekat ruang dan waktu. 

Tidak ada komentar :

Comment Page: