REVIEW - MORTAL KOMBAT II
Lebih dari 600 fatality telah hadir dalam lebih dari tiga dekade perjalanan Mortal Kombat. Beberapa keren, beberapa buruk. Ada sadisme, ada pula kekonyolan. Posibilitas tanpa batas guna menghabisi lawan. Di situlah pesona gim satu ini, yang menjauhkannya dari barisan peniru gagal di luar sana. Tapi Mortal Kombat II entah bagaimana memilih bermain terlalu aman dengan mendesain mayoritas eksekusinya secara generik.
Invasi Shao Kahn (Martyn Ford) terhadap Edenia, yang bertindak selaku pembangun latar belakang tragis bagi Kitana (Adeline Rudolph) kala menyaksikan sang ayah, Raja Jerrod (Desmond Chiam), tewas mengenaskan sementara ibunya, Ratu Sindel (Ana Thu Nguyen), terpaksa berlutut di hadapan si kaisar keji, berhasil jadi momen pembuka yang menjanjikan.
Begitu pun kala (AKHIRNYA!) kita dibawa mengunjungi Johnny Cage (Karl Urban), jagoan laga 90-an yang karirnya telah meredup. Di bawah bimbingan Raiden (Tadanobu Asano), bersama Sonya Blade (Jessica McNamee), Liu Kang (Ludi Lin), Jax (Mehcad Brooks), dan Cole Young (Lewis Tan), Cage terpilih sebagai perwakilan Earthrealm dalam turnamen Mortal Kombat.
Setelahnya, naskah buatan Jeremy Slater nyaris secara total meniadakan alur. Tapi toh ini waktunya turnamen berlangsung pasca upaya licik Shang Tsung (Chin Han) melucuti kekuatan Earthrealm di film pertama. Tiada lagi waktu berbasa-basi, yang turut ditegaskan pada keberanian filmnya menghabisi siapa saja. Tidak satu karakter pun terjamin keselamatannya.
Sayang, cara Simon McQuoid selaku sutradara menangani barisan "pertarungan sampai mati" (yang kebanyakan bergulir singkat demi mengatrol kuantitas setinggi mungkin) terlalu ala kadarnya, tanpa koreografi mumpuni, termasuk ketika masing-masing karakter memamerkan special moves mereka yang akhirnya tidak nampak spesial.
Kegagalan paling fatal adalah sempitnya ruang eksplorasi terkait fatality. Tentu saya tidak berharap Liu Kang menjatuhkan mesin arkade, Jax mengubah kakinya jadi seukuran raksasa, atau Quan Chi menarik leher lawan hingga memanjang. Masalahnya, kecuali hantaman palu perang Shao Kahn yang luar biasa brutal, serta sayatan over-the-top dari kipas Kitana di klimaks, filmnya gagal mengeksplorasi opsi selain aksi saling tusuk membosankan.
Alhasil ketiadaan plotnya makin terasa. Film pertama setidaknya masih punya konflik lintas generasi antara klan Shirai Ryu dengan Lin Kuei, yang kali ini masih membara saat Hanzo Hasashi / Scorpion (Hiroyuki Sanada) mendapati musuh bebuyutannya, Bi-Han (Joe Taslim), hidup kembali dengan identitas baru: Noob Saibot.
Sedangkan di Mortal Kombat II, tiap perhentian sewaktu aksinya rehat sejenak, terasa begitu hampa nan membosankan. Dua karakter paling menarik, Kitana dan Johnny Cage, terpaksa mendapati proses mereka menemukan kedamaian hidup dipaparkan dengan luar biasa mentah. Usaha filmnya memancing tawa lewat humor verbal murahan buatan Slater pun berakhir hambar.
Tidak ada yang salah dengan performa jajaran pemainnya. Karl Urban diberkahi karisma selaku penghantar one-liner, kendati naskahnya terlalu bergantung pada celetukan yang kaya akan referensi budaya populer namun miskin kreativitas guna membangun penokohan Johnny Cage. Adeline Rudolph pun berhasil menghidupkan figur prajurit tangguh dengan masa lalu tragis yang mudah penonton dukung kejayaannya.
Ditilik dari permukaan, tokoh-tokohnya tampak luar biasa berkat pilihan estetika yang presisi terkait desain mereka. Lihat bagaimana Baraka (CJ Bloomfield) diinterpretasikan. Mortal Kombat II memang punya kulit yang sempurna, tapi lalai mengasah taringnya supaya tidak tumpul.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar