REVIEW - GOHAN
Seperti yang diekspektasikan dari film seputar anjing, Gohan bakal menguras air mata sampai tuntas, tapi ia melakukannya secara "cantik". Alih-alih pesakitan, si anjing dijadikan pembawa harapan. Proses menemukan nurani lebih diutamakan oleh produksi terbaru GDH 559 ini ketimbang tragedi.
Filmnya mendefinisikan peran anjing selaku sahabat manusia dengan menjadikannya saksi penciptaan memori-memori seiring berlalunya guliran waktu. Sepanjang 141 menit durasi, ia memaparkan tiga cerita yang merambah tiga warna genre berbeda, digarap oleh tiga sutradara, serta menampilkan tiga aktor anjing sebagai pemeran utama.
Di kisah pertama, Gohan (diperankan anak anjing bernama Kori) yang masih kecil terlantar di emper 7-Eleven sebelum diselamatkan oleh Hiro (Kitachima Yasushi), seorang insinyur bidang otomotif yang sedang menimbang-nimbang untuk pulang ke Jepang pasca dipaksa pensiun oleh perusahaan tempatnya mengabdi selama 35 tahun. Nama "Gohan" disematkan oleh si kakek.
Dari tiga cerita filmnya, inilah yang paling emosional. Tidak heran, sebab ia digawangi oleh figur paling berpengalaman, yakni Chayanop Boonprakob, yang bermodalkan deretan judul-judul hebat dalam filmografi miliknya, sebutlah SuckSeed (2011), A Gift (2016), Friend Zone (2019), sampai The Red Envelope (2025).
Chayanop enggan membangun melankoli. Dua karakternya dibawa saling menyelamatkan hidup masing-masing daripada digiring meratapi nasib buruk mereka. Pun sesekali muncul selipan humor yang dengan apik mengawinkan dua wajah eksentrik sinema Jepang dan Tailan. Dipandu pengarahan sang sutradara yang menolak buru-buru sementara musik bergaya akustik mengalun lembut, segmen pertamanya hadir bak semilir angin yang mendamaikan.
Kitachima Yasushi menciptakan protagonis yang mudah mencuri hati (bahkan caranya melafalkan nama "Gohan" pun sanggup mengaduk-aduk emosi!) lewat sosok Hiro yang tengah belajar untuk beranjak dari kenangan lama sembari merekam kenangan baru.
Cerita kedua menjejakkan kakinya ke ranah road trip, di mana Gohan dewasa (Meechok) mesti kabur dari tempat penampungan anjing yang memperlakukannya secara kejam. Pelariannya mendapat uluran tangan dari Namcha (Poe Mamhe Thar), migran asal Myanmar yang bekerja tanpa dokumen di penampungan tersebut. Namcha memberinya nama baru: Brownie.
Kendati memaparkan fenomena meresahkan seputar penyalahgunaan penampungan sebagai medium pengeruk uang, segmen garapan Baz Poonpiriya (Bad Genius) ini berujung jadi yang terlemah. Naskahnya luput mengembangkan ketersesatan para protagonisnya jadi sajian bermakna. Kebersamaan Namcha dengan Gohan/Brownie yang secara kuantitas cenderung singkat, gagal ditutupi oleh kualitas presentasi, sehingga terkesan cuma bertugas menjembatani dua cerita yang lebih kuat.
Atta Hemwadee (Not Friends) memungkasi perjalanan Gohan melayari samudra kehidupan lewat sebuah romantika manis. Gohan tua yang kini dipanggil Hima (juga diperankan anjing bernama Hima) kembali hidup terlantar di stasiun Hua Takhe. Dia menggantungkan diri pada makanan pemberian para penumpang, termasuk Jaidee (Tontawan Tantivejakul) dan Pelé (Jinjett Wattanasin), yang pertama kali kita temui tatkala hendak mendaftar ke universitas.
Sang waktu terus bergerak dalam aliran pasti tepat di depan mata kita dan Gohan/Hima. Jaideen dan Pelé mulai berkuliah, benih romansa tumbuh kemudian runtuh, Jaideen menjalani profesi sebagai pramugari selepas lulus, sedangkan Pelé kesulitan menyelesaikan studinya. Bagi dua manusia tersebut kehidupan di dunia nyata baru saja dimulai, tapi ujung jalan sudah nampak dekat di mata Gohan/Hima.
Segmen penutup ini adalah romantika berkualitas khas sinema "Negeri Gajah Putih", yang tidak sekadar mencuatkan rasa manis, pula membawa sayatan yang meninggalkan bilur di hati, sekaligus menawarkan perspektif mendalam terhadap konfliknya, ketika ia menampik justifikasi dan romantisasi atas kesalahan fatal dalam sebuah hubungan. Karakternya berproses bukan semata demi cinta buta, tapi perbaikan atas kualitas diri.
Saya mencintai pilihan konklusinya. Gohan menjauhi pakem generik beserta segala kegemarannya memakai dramatisasi murahan demi menguras air mata penonton. Filmnya tidak tertarik mengeksploitasi dan hanya ingin "mengabadikan" sebagai caranya mencintai.

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar