REVIEW - VERITY
Lowen Ashleigh (Dakota Johnson), si novelis yang punya mimpi mereguk popularitas, tengah berjalan menuju sebuah rapat saat seorang pria tertabrak mobil hingga darahnya terciprat ke arah protagonis kita. Ketimbang hasil kecelakaan lalu lintas, jumlah darah yang membasahi wajah Lowen, juga kekuatan semburannya, lebih mirip dampak ledakan bom. Berlebihan.
Beruntung ada pria baik hati bernama Jeremy Crawford (Josh Hartnett) yang bersedia meminjamkan kemeja cadangan untuk Lowen. Mereka berganti baju dalam bilik sempit sembari mengadakan sesi curhat dadakan, di mana Lowen dan Jeremy berbagi tragedi memilukan di hidup masing-masing, pada orang asing yang baru dikenal beberapa menit lalu.
Seketika, saya pun siap mengarungi dunia triler erotika bertenaga sarat hiperbola bodoh nan menyenangkan, dari adaptasi novel berjudul sama karya Colleen Hoover yang sempat viral di kalangan booktok ini. Tapi secara mengecewakan, yang berhasil Verity persembahkan cuma perihal kebodohan.
Kelak terungkap bahwa Jeremy adalah klien di rapat yang hendak Lowen hadiri. Jeremy menawari Lowen pekerjaan berbayaran tinggi, yakni membantu sang istri, penulis tenar bernama Verity Crawford (Anne Hathaway), guna menyelesaikan buku terbarunya. Verity baru mengalami kecelakaan, sehingga menyulitkannya memenuhi tenggat waktu perilisan.
Jadilah Lowen menetap sementara di kediaman pasutri Crawford, menyusun bahan tulisan, sambil sesekali menjalin keakraban dengan suami orang yang istrinya tengah terkapar tak berdaya. Panggung bagi pertunjukan opera sabun sudah didirikan secara sempurna.
Di atasnya, dipentaskanlah aksi perselingkuhan nakal, dengan seks jinak serta sensualisme malas berupa deretan adegan mandi dan/atau ganti baju selaku hiasan. Belum lagi sentuhan misteri yang menjanjikan twist mencengangkan, kala Lowen menemukan manuskrip rahasia, yang membuatnya mulai mempertanyakan kesehatan mental Verity.
Semua amunisi yang berpotensi memuaskan dahaga target pasarnya telah tersedia, namun sayang, Michael Showalter selaku sutradara yang terlampau miskin gaya gagal memaksimalkannya. Verity tampil begitu polos, pula begitu lemas untuk sebuah b-movie beraroma opera sabun yang semestinya punya energi berlebih.
Filmnya banyak berkutat pada situasi saat Lowen membaca manuskrip buatan Verity, yang kemudian jadi gerbang pembuka menuju kilas balik. Membosankan, apalagi dengan gaya bertutur "lemah syahwat" dari Showalter. Satu-satunya upaya menggenjot intensitas muncul lewat teknik penyuntingan yang melompat semau sendiri tanpa peduli soal kontinuitas, dan lebih banyak menyuplai disorientasi daripada suntikan tenaga.
Dakota Johnson tampil dengan gaya "minim energi" khasnya (karakter Lowen sendiri mengaku dirinya memiliki "resting bored face"), yang kendati tidak buruk, turut berkontribusi memperparah kelemahan Verity menggenjot intensitas. Sebaliknya, Anne Hathaway dalam kapasitas lebih terbatas justru mampu sedikit memperbaiki keadaan. Momen terungkapnya salah satu twist sanggup tereskalasi daya kejutnya berkat gestur kecil (baca: sedikit gerakan kepala) sang aktris.
Verity mengandung twist berlapis. Lapisan pertamanya cukup cerdik bermain-main dengan prasangka yang otomatis terjalin di benak penonton, karena adanya pemahaman terhadap formula klise dari genre yang diangkat. Kemudian dikupaslah lapisan kedua yang lebih menguarkan aroma kekonyolan, dalam upaya menyoroti bagaimana seorang penulis sanggup memainkan persepsi penikmat karyanya terkait garis batas fiksi dan realita.
Lapisan kedua itulah poin utama yang hendak Verity utarakan. Bukan twist berkualitas, sebab ketimbang secara aktif mengonfrontasi persepsi penonton mengenai "mana fiksi mana fakta", filmnya sekadar menumpahkan poin tersebut secara mendadak di penghujung cerita. Verity terlampau bodoh dan dangkal sebagai eksplorasi mengenai penulisan, namun terlalu jinak selaku spektakel konyol yang bersedia mengeliminasi logika.


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar