REVIEW - SEKAWAN LIMO 2: GUNUNG KLAWIH
Mungkin pernyataan ini terkesan bias, tapi saya selalu merasa bahwa bila dilontarkan memakai bahasa daerah, umpatan cenderung terdengar sebagai ungkapan keakraban yang tak jarang menggelitik ketimbang murni hinaan. Itulah mengapa Sekawan Limo 2: Gunung Klawih, yang notabene dipenuhi umpatan, masih menyenangkan diikuti kendati kekacauan penceritaan hadir selaku batu sandungan.
Running joke-nya ada di seputaran muka Benidictus "Beni" Siregar sang "tulang punggung sinema Indonesia" yang kemungkinan bakal muncul dalam (minimal) delapan judul tahun ini. Mengolok-olok tampilan visual sang komedian sudah jadi rutinitas di tiap film, tapi toh mendengar karakter lain memanggilnya "rai codot" tetap terdengar lucu. Setidaknya lebih lucu daripada "muka kelelawar".
Tiga tahun pasca peristiwa di Gunung Madyopuro, Bagas (Bayu Skak), Lenni (Nadya Arina), Andrew (Indra Pramujito), Dicky (Firza Valaza), dan Juna (Benidictus Siregar) si arwah penasaran, kembali berkumpul setelah Andrew sekeluarga mendapat serangan klenik yang mengancam nyawa mereka. Keputusan nekat pun diambil. Mereka harus mendaki Gunung Klawih guna mencari pertolongan dukun setempat yang konon sakti mandraguna.
Sekawan Limo 2: Gunung Klawih adalah film yang serba buru-buru. Progresi cerita melaju bak mobil yang dipacu di jalan bebas hambatan, sedangkan penyuntingannya seolah tak membekali diri dengan kerangka pasti, bukan cuma bergerak cepat, pula luar biasa liar hingga tak jarang memusingkan.
Minimal di paruh awal, ketergesaan tersebut tak sampai meruntuhkan fokus penceritaan. Keluarga Andrew dalam bahaya, Bagas mendapati hubungannya dengan Lenni merenggang akibat ketidakjelasannya dalam menapaki hidup, Dicky pun tengah kesulitan merebut hati putri kekasihnya, tapi babak pertama Sekawan Limo 2 praktis berstatus "filmnya Juna".
Juna menjadi figur sentral yang perspektifnya berfungsi sebagai pintu bagi penonton untuk memasuki alurnya. Bersama Juna, kita pun diajak mengunjungi kerajaan demit, kemudian bertemu Wisang (Joshua Suherman) si kepala keamanan beserta asistennya, Kina (Elsa Japasal), yang menjabarkan bangunan dunia unik dari filmnya.
Bagaimana demit diklasifikasikan dalam beberapa jenis, hingga perbedaan antara mereka dan arwah penasaran macam Juna, seluruhnya membentuk semesta absurd yang senada dengan gaya komedik filmnya. Tatkala banyak horor lokal terlalu malas memikirkan lore, berbekal "seni menertawai memedi" serupa film pertama, naskah buatan Nona Ica justru berani bereksplorasi.
Tentu semuanya dipaparkan dengan tawa. Satu hal yang paling mengagumkan terkait humornya adalah bagaimana jajaran pemain Sekawan Limo 2 seolah tak pernah kehabisan selorohan Bahasa Jawa untuk dilontarkan. Mereka saling sindir, melempar hinaan, yang sekali lagi, lebih memancarkan keguyuban daripada kebencian. Di luar para "sekawan limo", Cak Kartolo dan Ning Tini melahirkan duet maut yang bertukar kata bak berondongan senapan otomatis.
Barulah seiring naskahnya memberi sorotan lebih terhadap karakter selain Juna, kesan berantakan filmnya semakin terasa mengganggu. Daripada berbagi dengan rapi, para protagonisnya saling berebut titik fokus dengan cara yang amat semrawut.
Pun tidak semua karakter punya proses semenarik Juna. Bayu Skak yang juga kembali duduk di kursi sutradara memang (seperti biasa) tampil memadai memerankan lelaki yang meratapi nasib menyedihkan miliknya. Hanya saja, karakter Bagas beserta romantika klisenya bersama Lenni, ditambah selipan cinta segitiga dengan Aruna (Jihane Almira) yang dipaksa masuk di pertengahan durasi, tidaklah seberapa menarik.
Upaya menyulut dampak emosi, termasuk kesulitan Bagas beranjak dari bayangan kesuksesan semu pasca peristiwa di Gunung Madyopuro menjadikannya bintang dunia maya pun gagal dicapai akibat kacaunya aliran penyuntingan. Cara bercerita Sekawan Limo 2: Gunung Klawih sangat tidak nyaman diikuti. Untungnya saya tidak keliru menata ekspektasi. Saya cuma berharap dibuat tertawa, dan filmnya mampu memenuhi itu.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar