BATAS (2011)

Tidak ada komentar
Sineas lokal kita sepertinya sedang latah baik itu dalam hal baik dan buruk. Dalam hal buruk, banyak sineas yang latah dengan terus menerus membuat film horror-seks kacrut yang sayangnya justru terus mendulang uang. Sedangkan untuk para sineas yang niat membuat film sebagai karya seni dan bukan hanya pengeruk uang sepertinya juga sedang terjadi latah walaupun latah yang dimaksud disini tidak sepenuhnya dalam konteks yang buruk bahkan bisa dibilang cukup baik. Akhir-akhir ini film yang mengangkat tema suku - suku pedalaman lokal cukup banyak bermunculan. Film-film tersebut biasanya mengeksplorasi keindahan alam serta berbagai macam kebudayaan lokal yang ada di masing-masing daerah. Sepertinya "wabah" ini diawali oleh kesuksesan "Laskar Pelangi" 3 tahun yang lalu. Setelah "Lost in Papua" dan "The Mirror Never Lies" kali ini giliran "Batas" karya sutradara Rudi Soedjarwo yang muncul.

"Batas" menceritakan kedatangan Jaleswari (Marcella Zalianty) ke daerah Borneo di Kalimantan yang juga merupakan perbatasan antara Indonesia dengan Malaysia. Tujuan kedatangan Jaleswari adalah untuk menyelidiki kenapa proyek pendidikan yang diberikan oleh perusahaan tempatnya bekerja tidak pernah berjalan lancar disana dimana guru-guru yang dikirim selalu tidak pernah bertahan lama. Disana Jaleswari dibantu oleh Adeus (Marcell Domits) yang juga seorang guru. Disana Jaleswari juga disambut oleh sang kepala suku, Panglima Adayak (Piet Pagau). Tapi selain menyambut Jales, Panglima juga seakan mengisyaratkan bahwa ada sesuatu misteri di tempat tersebut yang menanti Jaleswari. Apa sebenarnya penyebab kegagalan proyek tersebut? Apa ada hubungannya dengan seorang gadis tidak dikenal yang sedang dalam kondisi shock dan terdiam bernama Ubuh (Ardina Rasti) yang berada dirumah Nawara (Jajan C. Noer)? Misteri juga muncul dari pria bernama Otik (Otiq Pakis) yang awalnya ramah tapi dibalik itu seperti terpendam maksud lain.

Maraknya film berjenis ini punya sisi negatif dan positif. Sisi positifnya adalah banyak budaya dan tempat yang mungkin masih jarang diketahui orang menjadi lebih dikenal lagi. Pemandangan alam indonesia yang kaya itu juga akan lebih terksplorasi. "The Mirror Never Lies" adalah bukti keberhasilan eksplorasi pemandangan alam yang luar biasa indah. "Batas" juga menawarkan hal yang kurang lebih sama walaupun alam yang diperlihatkan tidak se "wah" di "The Mirror Never Lies", tapi berbagai pemandangan hutan khususnya di sepanjang sungai dan setting kampung lokal sudah cukup buat saya. Tapi sisi negatif hal itu juga ada. Bukan tidak mungkin plot yang ada menjadi sangat predictable dan klise. Dan "Batas" terasa mencoba menyajikan hal yang lain untuk mencegah hal itu.

Selain isu pendidikan dan kebudayaan lokal serta mimpi untuk hidup yang lebih baik (standar film sejenis) "Batas" juga mencoba mengangkat tema lain seperti jual beli TKI ilegal yang dipekerjaklan paksa ke Malaysia sampai konflik perbatasan negara yang sedikit disinggung. Bahkan film ini sebenarnya sudah mencoba tampil secara filosofis dilihat dari hubungan antara judul dan jalan cerita. Kata "Batas" disini bisa dikaitkan dengan bagaimana setiap karakter yang ada dalam film ini mencoba mendobrak segala batas dalam kehidupan mereka. Seperti contohnya bagaimana Jales mencoba mendobrak batas disaat dia memutuskan untuk terus memberikan sumbangsih ilmunya walaupun mendapat berbagai ancaman dan bahaya. Untuk hal-hal tersebut film ini layak mendapat acungan jempol.

Tapi rasanya "Batas" terlalu jauh dalam usaha mereka mendobrak batas dalam bercerita sehingga malah kehilangan batasan-batasan yang seharusnya ada dalam usaha mereka memberikan suguhan konflik ddan cerita pada penonton. Usaha tersebut tidak diikuti dengan eksekusi yang maksimal. Konflik yang cukup banyak ditampilkan dan bercabang gagal dimaksimalkan penceritaan serta penyelesaiannya. Padahal durasi diatas 110 menit seharusnya tidaklah kurang. Berbagai cerita yang ada terasa tidak mendapat penjelasan yang memuaskan di akhirnya. Apalagi penyelesaian serta ending yang diberikan terlalu menggampangkan dan malah mengulur-ulur hal yang tidak perlu daripada memaksimalkan durasi yang ada untuk lebih memberikan penjelasan dan pendalaman terhadap berbagai kisah yang ada. Beberapa narasi (maunya) puitis dari tokoh Jaleswari juga sangat mengganggu buat saya.

Dibandingkan eksplorasi keindahan alam dan kebudayaan serta cerita dan konflik yang ada, keunggulan film ini yang paling berhasil malah ada di departemen akting. Aktris dan aktor yang ada hampir semuanya memberikan performa terbaik mereka. Piet Pagau dan Ardina Rasti adalah dua orang terbaik dalam film ini. Piet Pagau benar-benar mampu memperlihatkan sosok kepala suku yang dihormati, ditakuti tapi juga mempunyai permasalahan dan "batas" tersendiri dalam kehidupannya. Tatapan dan gesturnya entah itu disaat menjadi orang bijak ataupun sedang marah sangat efektif dan berhasil membangun emosi karakternya dengan baik. Sedangkan Ardina Rasti tampil tanpa dialog disini. Hanya berbekal ekspresi wajah, dia berhasil dengan sangat luar biasa menghidupkan seorang Ubuh yang kondisinya masih rapuh. Jenis peran yang jarang muncul di perfilman lokal.

Aktor cilik Alifyandra bisa dibilang cukup bagus dalam debut aktingnya ini. Memang masih terasa kaku dan kurang di beberapa bagian tapi cukuplah untuk dikategorikan bagus. Marcella Zalianty yang menjadi sorotan utama juga tidaklah buruk walaupun tertutupi oleh penampilan Piet Pagau dan Ardina Rasti yang lebih baik. Yang kurang mungkin adalah dari Arifin Putra, Jajang C. Noer dan Marcell Domits. Tapi khusus untuk Arifin dan Jajang bukan karena akting buruk tapi lebih karena tokoh mereka tidak diberikan porsi yang lebih. Sedangkan Marcell Domits yang juga seorang debutan masih naik turun performanya walaupun tidak buruk juga.


OVERALL: "Batas" mungkin bukan jajaran film terbaik. Masih sangat banyak kekurangan khususnya pada teknik bercerita. Tapi "Batas" masih merupakan karya yang pantas dapat apresiasi lebih khususnya untuk beberapa pemainnya.

RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar