REVIEW - SIKSA KUBUR

45 komentar

"Anda akan percaya". Begitulah kalimat yang dipakai untuk memasarkan karya teranyar Joko Anwar ini, yang merujuk pada diskusi soal eksistensi siksa kubur. Beberapa meyakini keberadaannya, tidak sedikit pula yang sanksi. Apakah benar filmnya sekuat itu sampai bisa menggiring penonton memercayai paham tertentu? 

Pastinya protagonis kita tidak percaya. Sita (Faradina Mufti) namanya. Seorang perawat panti jompo. Kakak Sita, Adil (Reza Rahadian), bekerja sebagai pemandi jenazah. Semasa kecil (versi muda masing-masing karakter diperankan oleh Widuri Puteri dan Muzakki Ramdhan dengan kualitas yang tak kalah dibanding senior-senior mereka) keduanya menyaksikan kematian tragis orang tua mereka (Fachri Albar dan Happy Salma) yang jadi korban bom bunuh diri atas nama agama. 

Si pelaku terdorong melakukan aksinya karena sebuah rekaman yang konon berisi teriakan orang-orang yang mendapat siksa di alam kubur. Saya pun teringat pada rekaman serupa yang ramai beredar sekitar 15-20 tahun lalu. Sebagaimana komik Siksa Neraka karya MB. Rahimsyah, rekaman tersebut sempat memancing ketakutan kolektif di hati beberapa anak. 

Saya sendiri, seiring pertambahan usia meyakini bahwa rekaman itu hanya rekayasa. Tapi Sita memberi respon berbeda. Amarah atas kematian orang tua membawanya pada satu misi, yakni membuktikan kalau siksa kubur tidaklah ada, dengan cara masuk ke kuburan seorang pendosa kejam, kemudian merekam kondisi di dalamnya. 

Joko bisa saja menempuh jalan mudah. Buat Sita melihat siksaan brutal di alam kubur, beri dia pelajaran atas skeptismenya terhadap agama. Tujuan berceramah terpenuhi, demikian pula kesukaan penonton atas tontonan sarat gore. Tapi "jalan mudah" berbanding terbalik dengan karakteristik yang selalu dimiliki karya-karya sang sineas, yaitu "ambisius". 

Siksa Kubur merupakan film Joko paling ambisius sejak Pintu Terlarang (2009). Dua jamnya dipenuhi barter antar karakternya mengenai agama serta siksa kubur. Penonton yang mencari horor konvensional mungkin bakal dibuat kewalahan oleh obrolan demi obrolan tersebut, pula tempo penuturannya yang cenderung lambat. 

Celetukan mengenai "buaya berkumis lele" di adegan pembukanya memunculkan kerinduan akan obrolan kasual kreatif nan menggelitik yang bagi saya merupakan keunggulan utama dalam penulisan Joko selama ini, namun obrolan filosofis Siksa Kubur memang efektif mewakili berbagai pertanyaan dan keresahan banyak pihak mengenai topik siksa kubur. 

Salah satunya tatkala Wahyu (Slamet Rahardjo), salah satu penghuni panti jompo tempat Sita bekerja, mempertanyakan mengenai bentuk siksaan yang akan diterima. "Bagaimana dengan para masokhis yang menikmati rasa sakit?", ucapnya. Pertanyaan Wahyu sungguh menantang logika, dan berangkat dari situ, Joko turut menantang formula horor religi Indonesia.

Daripada petuah ahli agama, Siksa Kubur lebih seperti proses spiritual manusia biasa. Joko tidak menempatkan diri di atas penonton. Karena seperti kita, ia pun hanya manusia dengan segudang pertanyaan dan keresahan, yang ia tuangkan melalui medium horor psikologis ala Jacob's Ladder (1990) guna menyoroti sisi gelap individu.

Joko mengajak penontonnya mengingat betapa manusia berbeda-beda. Ketakutan kita berbeda, trauma kita pun berbeda. Setelah memahami konsep tersebut, niscaya anda takkan menganggap film ini begitu pelit menampilkan peristiwa yang ia pakai sebagai judul. Hanya saja, Joko membawa definisi yang berbeda, kreatif, sekaligus humanis bagi istilah "siksa kubur". 

Bukan berarti filmnya tak menyisakan keluhan. Joko kerap tenggelam dalam ambisinya menahan diri untuk tidak menginjak pedal gas sebelum babak akhir, yang acap kali mengurangi kemampuan meneror sebuah adegan. Terutama terkait jumpscare, yang di dua pertiga awal durasi tampil kurang menggigit akibat keengganan berlebihannya untuk tidak membalut diri dengan efek suara menggelegar. 

Seiring waktu, begitu Joko mulai melepaskan diri dari tali kekangnya sendiri, Siksa Kubur semakin menggila. Sebuah adegan yang mempertemukan Christine Hakim dengan mesin cuci bakal jadi salah satu momen paling ikonik dalam horor Indonesia. Tapi tidak ada yang bisa menandingi kengerian milik klimaksnya. 

Diiringi musik score gubahan Aghi Narottama yang mampu mencekik lewat kebolehannya membangun atmosfer, Joko tidak sekadar mengumbar kesadisan, namun benar-benar menebar ketakutan. Rasanya "immersive" merupakan definisi yang paling pas. Daripada kebrutalan yang tengah terjadi, kamera malah lebih banyak menangkap ekspresi karakternya, selaku cara menempatkan penonton di ruang emosi yang sama. 

Tentu pendekatan tersebut memerlukan akting mumpuni dari jajaran pemain. Tidak hanya Faradina Mufti lewat totalitas olah rasa miliknya dan Reza Rahadian dengan kemampuan menghidupkan trauma menusuk hati, tapi seluruh ensemble cast-nya diberi kesempatan bersinar. Tidak berlebihan menyebut Siksa Kubur sebagai salah satu film lokal yang paling berhasil memaksimalkan ensemble cast bertabur bintang. 

Kembali pada pertanyaan awal, apakah Siksa Kubur bisa membuat penontonnya "percaya"? Entahlah kalau terkait siksa kubur itu sendiri. Tapi Joko Anwar jelas membuat saya percaya bahwa formula usang horor religi Indonesia masih sangat bisa dieksplorasi, dan tentunya ditingkatkan kelasnya sebagaimana berhasil ia lakukan di sini. 

45 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

anda akan percaya...saya tidak percaya, ngejelimet siksa dubur

Anonim mengatakan...

ketika Adil (Reza Rahadian) korban sodomi masa kecil (muzakki ramadhan)

Anonim mengatakan...

60% durasi film 117 menit adalah penampakan siksa kubur

Anonim mengatakan...

pocong gemoy

Anonim mengatakan...

Sita Masuk Kubur adalah ending kisah kematian Sita yang terlambat untuk taubat, kehabisan oksigen cuy

Anonim mengatakan...

Easter Egg betebaran di siksa kubur, dari janji bro joni sampai pengabdi ketan

Anonim mengatakan...

Aldi tarik Sita keluar dari kubur adalah momen Aldi sudah tewas di cium ular

Anonim mengatakan...

penonton wajib mandi semua film joko anwar jika mau paham alur siksa kubur

Anonim mengatakan...

slowburn plot twist

Anonim mengatakan...

film penyintas penyimpangan seksual

Anonim mengatakan...

LGBT+ keren ini bjirrr film nya

Anonim mengatakan...

nggak cocok untuk di tonton anak~anak bocil

Anonim mengatakan...

Iya , film nya 17+. Tapi miris bgt pas nonton , banyak yg bawa bocil

Syaeful Basri mengatakan...

adegan mesin cuci paling memorable sih, bisa lah tembus 2 juta kalo jumlah layarnya stabil dalam seminggu kedepan

ibnu mengatakan...

Jangan lupa bahas teori2 nya.. Menarik banget pasti

Anonim mengatakan...

Masih menanti badarawuhi

Anonim mengatakan...

Siksa Kubur Endingnya Bikin Mikir, sampai kebawa tidur

Badarawuhi Endingnya Bikin Lega, Lupa tadi nonton apa

Anonim mengatakan...

penonton suka badarawuhi daripada siksa kubur, pengen lihat adegan mandi fun konak kocak ngocok daripada adegan trigger alarm mumet ndas

Anonim mengatakan...

siksa kubur di gerus layarnya kalah sama badarawuhi, rasio penonton bioskop nggak mau nonton film gimmick pintar, penonton mau nya di takuti recehan

Anonim mengatakan...

hanya 2 film terbaik Indonesia beradu duel pedang di layar bioskop, keren

Dadang Irawan Bin Tumino mengatakan...

Sama pas di ending juga memorable sangat.

feri mengatakan...

jadi, sita itu aslinya udah mati ya waktu ikut dikubur?

MugiwaraWiro mengatakan...

Gokil emang siksa kubur

re mengatakan...

betullll bangettt

re mengatakan...

Iya.Film itu sebenernya terhenti di tengah.Karena selepas sita masuk disamping pak wahyu ,dia metong dan setengah sampai akhir itulah siksa kubur dia,dalam keadaan tdk percaya..dan terakhirnya ada man robbuka..itu jelas di alam barzalh..dan ending banget banget bajwa bu nani masih hidup..

Anonim mengatakan...

Siksa kubur bukan film horor tapi film lawakan. 47 thn hidup fanatik horror indonesia ini yg paling lawak horornya. 2 jam nonton tambah ngantuk. Paling top cuma pemandi jenazah

Anonim mengatakan...

Horor receh ya siksa kubur. Rugi nonton. Ada yg bayarin tiket 10 rb juga ogah. Mending beli seblak

Anonim mengatakan...

Betul juga ya makanya last dia ngajak ke pesir itu!! Wah bru ngehh

Anonim mengatakan...

Kamunya aja yg gak paham kali, emg harus fokus cari poin nilai film ini

Anonim mengatakan...

woi gue nonton dan bayar di bioskop kenapa banyak ganasnya sensor ini film

namanya juga mayat pasti bugil dan itu wajar kecuali film lawak horror recehan

Anonim mengatakan...

Film yang megecewakan, kirain film horor religi kayak siksa neraka, taunya film horor hantu. Mana ada disiksa kubur sampe plot twisnya kemana-mana ketemu hantu. Sebetulnya ceritanya bagus, cuma kecewa sama judulnya aja sih kenapa harus siksa kubur & bawa ayat-ayat segala.

Anonim mengatakan...

anjrittt.. OMG, film nya benar benar sesuai tahapan siksa kubur : sita jelang ajal halunisasi wisata masa lalu dan di siksanya adil akibat cabul sama mayat

bjirrrrr takuttttt

Anonim mengatakan...

cinematic nya joko anwar terkait SEKTE KUDA LAUT dari janji joni sampai siksa kubur semuanya ada benang merah

mantap

Anonim mengatakan...

joko anwar CERDAS✨️✨️✨️✨️✨️

Anonim mengatakan...

jadi nggak sabar tunggu kelanjutan sekte kuda laut di PENGABDI SETAN 3 : ORIGIN

Anonim mengatakan...

Sayang gak nonton di bioskop, semoga cepat rilis di ott.

Anonim mengatakan...

genre joko anwar emang bikin pusing dan itu emang ciri khasnya lebih hebatnya dari awal film pertama di buat sampai film terakhir di buat semuanya ada tali benang merah : sekte kuda laut

Anonim mengatakan...

lebih berasa di bioskop lebih aura ketakutan mencekam

Anonim mengatakan...

woi jangan di sensor woi film nya...kebanyakan sensor

Anonim mengatakan...

bocil bayi sampai balita nonton siksa kubur itu keren orangtuanya

Alfian Bjm mengatakan...

Pengen berkata jujur kalo alurnya membosankan dan hanya seru di ending, tapi takut dikatain sdm rendah...wkwk

Anonim mengatakan...

*“Man rabbuka wan man nabiyyuka wa ma dinuka wa ma imanuka wa ma qiblatuka wa man ikhwanuka?”❓*

🔥

apa yang paling mengerikan setelah kematian

yang paling mengerikan setelah kematian adalah ketakutan kamu yang paling besar

apa ketakutan kamu yang paling besar

ketakutan kamu yang paling besar adalah siksa kubur itu nyata

siksa neraka mungkin masih lama, siksa kubur itu bisa hari ini dan besok

sensasi yang hebat jelang kematian siksa kubur adalah penampakan masa lalu yang bahagia, sedih, bahkan penyesalan yang di takuti

🔥🔥

banyak orang yang mau melewati siksa kubur dengan mati syahid hanya untuk menghindar munkar nakir

apakah orang yang bom bunuh diri tidak di siksa kubur, tidak di tanya munkar nakir

jika orangtua saya mati di bom bunuh diri akibat orang yang percaya agama, bukan setan, maka tidak ada siksa kubur

sebaliknya

jika orangtua saya mati di bom bunuh diri akibat orang yang percaya agama, bukan setan, maka ada siksa kubur, itu konsekwensi~nya

begitu juga

apakah orang yang paling berjasa paling suci paling pandai tidak akan di siksa kubur atau malah sebaliknya di siksa kubur, itu konsekwensi~nya

*anda akan percaya*

🔥🔥🔥

*man robbuka❓*

🔥🔥🔥🔥

berasa lebih siksa kubur nonton di bioskop ke~2x yang ada subtitle/terjemahan bahasa indonesia~nya

tiap film siksa kubur yang di putar di semua bioskop ternyata berbeda~beda :

ada bioskop mayat kelihatan telanjang bulat, di bioskop lain di sensor & di blur

ada bioskop adil yang ngocok mayat, di bioskop lain di sensor habis

tiap bioskop, potongan adegan siksa kubur beda~beda

🔥🔥🔥🔥🔥

Anonim mengatakan...

Man Robbuka

Anonim mengatakan...

3x nonton termasuk yang ada subtitle bahasa indonesia sangat membantu agar paham film nya

Anonim mengatakan...

luar biasa siksa kubur