THE KID WITH A BIKE (2011)

1 komentar
Ada banyak sekali karakter dalam film yang terasa menyebalkan khususnya karakter anak-anak, tapi menurut saya hanya ada 2 jenis karakter bocah menyebalkan dalam film. Yang pertama adalah yang sangat menyebalkan tapi dia menyebalkan tanpa dasar yang kuat kenapa dia menyebalkan. Jadi seolah karakter itu memang hanya harus terlihat menyebalkan. Contohnya adalah Dakota Fanning di War of the Worlds dan Jaden Smith di The Day the Earth Stood Still. Tapi ada juga tipe yang menyebalkan tapi sifat menyebalkannya itu punya latar belakang kenapa bisa terbentuk pada diri anak itu. Nah, karakter Cyril yang diperankan Thomas Doret dalam film ini masuk tipe yang kedua.

Cyril yang baru berusia 11 tahun ditinggalkan oleh sang ayah di sebuah panti asuhan. Cyril yang hanya diberitahu akan tinggal sementara waktu disana merasa tidak percaya saat mendapati fakta bahwa ayahnya telah pergi meninggalkannya. Bahkan sang ayah juga telah meninggalkan apartemennya. Tapi yang membuat Cyril paling tidak percaya adalah saat sang ayah menjual sepeda kesayangan Cyril. Padahal selama ini Cyril selalu menghabiskan waktunya mengendarai sepeda tersebut. Lalu Cyril tanpa sengaja bertemu dengan seorang penata rambut bernama Samantha (C├ęcile de France). Samantha ternyata menaruh simpati pada Cyril bahkan dia juga berhasil menemukan sepeda Cyril. Semenjak itu tiap akhir pekan Cyril selalu tinggal bersama Samantha. Tentu bukan hal mudah bagi Samantha menghadapi Cyril yang perilakunya tidak mau diatur dan terkadang "liar". 
Karakter Cyril memang sering menunjukkan perilaku yang sangat menyebalkan dan beberapa kali terasa kelewatan. Tapi saya tidak serta merta membenci Cyril karena kita akan bisa melihat latar belakang kenapa dia bisa berperilaku seperti itu. Seorang anak jadi menyebalkan dan liar ada beberapa sebab. Yang pertama bisa karena faktor bawaan atau keturunan, yang kedua adalah fakotr bentukan lingkungan sekitar. Cyril sendiri masuk yang pertama. Cyril adalah anak yang menyayangi ayahnya, tapi dia dikhianati dan ditelantarkan begitu saja. Bahkan sang ayah menjual benda kesayangannya. Tentu saja hal itu akan berdampak bagi kepribadian sang bocah. Cyril juga terlihat mencari tempat yang bisa menerimanya. 

Ada bagian yang cukup menyentuh saya disaat Cyril menunjukkan senyumnya untuk pertama kali saat bersama dengan Samantha. Lalu Cyril juga terlihat antusias saat diajak bermain futsal bersama temannya setelah sebelumnya hanya memandangi. Hal itu jugalah yang membuat Cyril dengan mudah menuruti perintah Wes (Egon di Mateo) karena dia merasa diterima dan diperlakukan istimewa. Walau saya memahami tapi sulit bagi saya untuk benar-benar bisa bersimpati pada Cyril karena tetap saja berbagai kelakuannya sangat liar dan tidak terkontrol. Meski begitu saya mulai bisa bersimpati saat film mendekati akhir dimana Cyril mulai berubah menjadi lebih baik dan tidak melawan lagi. Bahkan ending filmnya juga menyisakan perasaan haru sekaligus sedikit sesak melihat apa yang diperbuat Cyril.

Film peraih penghargaan "Grand Prix" di Cannes Film  Festival ini memang ceritanya sangat sederhana. Pengemasannya juga sederhana dimana jarang sekali terdengar iringan musik scoring. Tapi kesederhanaan itu ternyata memberikan bekas yang cukup mendalam untuk saya renungkan khususnya mengenai bagaimana menilai segala perilaku orang lain supaya tidak asal menilai dari yang tampak luar saja. Tapi biar bagaimanapun saya tetap merasa karakter Cyril agak terlampau menyebalkan.

RATING:

1 komentar :

  1. suka bgt sama film ini, thomas doret juara banget!

    BalasHapus