NORIKO'S DINNER TABLE (2006)

Tidak ada komentar
Setumpuk pertanyaan dibiarkan oleh Sion Sono tertinggal dalam Suicide Circle. Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak dijawab juga tidak masalah karena esensi utama dari film tersebut sudah tersampaikan tanpa perlu menjawab segala misteri yang ada. Toh sebenarnya akan lebih baik jika kita diberikan posisi yang sama dengan warga Jepang yang ada dalam film dimana mereka juga tidak mengetahui kebenaran dibalik kasus bunuh diri masal yang terjadi. Tapi ternyata Sion Sono bertekad untuk menjadikan film tersebut sebagai awal sebuah trilogi meskipun akhir-akhir ini dia mengatakan akan mengurungkan niat tersebut karena membuat banyaknya kesulitan yang dia alami. Empat tahun setelah film pertama yang "gila" itu muncul Noriko's Dinner Table yang boleh dibilang merupakan prekuel dari Suicide Circle. Namun bukan murni prekuel juga karena film ini juga mempunyai timeline pada saat film pertamanya berlangsung dan setelah film pertama berakhir. Jadi apakah pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab disini?

Noriko adalah gadis berusia 17 tahun yang pendiam tapi didalam hatinya menyimpan tekad yang besar untuk hidup bebas dan keluar dari dunianya yang sempit. Noriko memang sudah lama mendambakan pergi ke Tokyo untuk mencari kehidupan baru yang menurutnya akan lebih berwarna. Tapi sang ayah (Ken Mitsuishi) tidak mengijinkan karena beranggapan bahwa Tokyo berbahaya bagi gadis-gadis remaja. Hingga suatu malam Noriko nekat kabur dari rumah dan pergi ke Tokyo tanpa sedikitpun bekal pengetahuan tentang Tokyo. Untungnya Noriko punya beberapa teman yang ia kenal lewat situs jejaring sosial bernama haikyo.com. Lewat situs tersebut Noriko berkenalan dengan sang admin yang mempunyai nickname "Ueno Station 54". Pemiliknama tersebut ternyata adalah gadis bernama Kumiko (Tsugumi) yang kemudian membantu Noriko hidup di Tokyo. Ternyata Kumiko adalah seorang pemimpin dari sebuah perusahaan jasa sekaligus organisasi, yang mana Noriko akhirnya juga ikut bergabung dengan organisasi tersebut. Ya, organisasi inilah yang akhirnya akan memicu sebuah bunuh diri massal yang merenggut nyawa 54 siswi SMU secara tragis.
Benar-benar sebuah sekuel/prekuel yang memiliki tone jauh berbeda dengan Suicide Circle. Hal ini sangat terasa karena daripada horror sadis seperti film pertama, Noriko's Dinner Table lebih kearah drama yang kelam meski masih diisi berbagai adegan yang menampilkan darah dan adegan-adegan sinting khas Sion Sono. Jika anda adalah orang yang berharap film ini akan brutal seperti film pertama dan anda bukan orang yang menyukai drama anda kemungkinan besar akan kecewa pada film ini. Lalu jika anda adalah orang yang menonton dengan harapan utama untuk mendapatkan jawaban dari berbagai misteri yang ada di Suicide Circle maka anda mungkin juga akan kecewa. Karena daripada menjawab secara langsung pertanyaan dan misteri yang ada, Sion Sono justru memberikan jawabannya dengan masih dibungkus metafora-metafora dan pesan-pesan sosial. Tapi sesungguhnya Sion memberikan beberapa jawaban akan misteri di film pertama. Khususnya yang berkaitan dengan pertanyaan "Apakah Suicide Club benar-benar ada?". Lewat film ini kita akan tahu juga apa yang mendasari kejadian bunuh diri massal di stasiun Shinjuku. Sedangkan untuk jawaban bagi pertanyaan lain Sion Sono tidak memberikannya secara gamblang namun jika kita telaah lebih lanjut jawaban itu ada. Tapi memang beberapa misteri tetap dibiarkan tersimpan.
Seperti film pertamanya, Sion Sono masih punya beberapa hal yang dia singgung dalam film ini. Masih mengenai menghargai kehidupan, lalu ada juga mengenai bagaimana manusia itu bisa move on dari permasalahan yang mereka hadapi, komunikasi yang kurang lancar dalam keluarga, konsep kebahagiaan dan tentunya adalah hal yang berhubungan dengan film pertama juga yaitu bagaimana internet bisa dijadikan media komunikasi yang bermanfaat tapi jika disalahgunakan berpotensi menyebabkan kehebohan massa dan hal-hal yang sifatnya tidak benar. Sungguh miris saat saya mengetahui fakta mengenai keberadaan Suicide Club yang sebenarnya. Dan lagi semua isu sosial tersebut dirangkum dalam durasi yang tidak sebentar, yakni mencapai dua setengah jam. Selain itu temponya juga lambat, kelam dan didominasi oleh narasi yang dibacakan satu persatu tokohnya. Jelas sangat berbeda dengan Suicide Circle dan mungkin akan susah dinikmati oleh mayoritas penontonnya. Tapi menurut saya justru Noriko's Dinner Table adalah pencapaian luar biasa yang akan sulit dicapai oleh sineas Jepang lainnya.

Kelam dan cantik adalah dua hal yang begitu terasa dari film ini. Dirangkum dalam lima chapter, film ini mampu membuat saya merasakan suasana yang kelam tanpa perlu menampilkan adegan sadis. Cukup dengan memaksimalkan karakterisasi tokoh-tokohnya dan mengeksploitasi kisah tentang disfungsi keluarga, penonton sudah dibuat merasakan aura yang kelam dan cukup depresif. Untungnya nuansa kelam itu tidak sampai terasa keterlaluan seperti yang muncul dalam film Jepang lainnya, Norwegian Wood. Noriko's Dinner Table memang kelam tapi kita tidak sampai dibuat gregetan dengan karakternya, namun justru makin tertarik kedalam dunia dan pikiran mereka masing-masing. Untuk adegan gila, film ini masih punya beberapa. Tidak sebrutal Suicide Circle, tapi kegilaannya masih tetap. Tentunya masih sama seperti film pendahulunya, film ini dibalut dengan scoring dan lagu-lagu yang mampu membangun suasana dengan amat baik. Lagu-lagu yang bernada kelam dan miris tersebut juga dipadukan dengan visual yang sama kelam dan cantinya. Noriko's Dinner Table lebih baik jangan dipandang sebagai film yang menjawab Suicide Circle karena Sion Sono sendiri sepertinya tidak membuat film ini untuk menjawab pertanyaan tapi lebih kepada pengembangan universe yang ada dalam filmnya tersebut. Sebuah film yang mampu melangkah lebih jauh lagi dibanding film pertamanya dan masih memiliki konsep yang sama gilanya. Keluarga rental? Keren!


Tidak ada komentar :

Posting Komentar