REVIEW - BLADES OF THE GUARDIANS
Gurun menjadi panggung kejar-kejaran antara beberapa fraksi prajurit dan sekelompok pendekar dalam misi mereka melindungi sesosok individu penting. Blades of the Guardians ibarat Mad Max: Fury Road yang dipindahkan ke latar Dinasti Sui, di mana alih-alih mobil raksasa dan ledakan bombastis, adaptasi manhua berjudul sama ini dimotori ayunan pedang para pendekar yang mampu menentang gravitasi.
Salah satunya bernama Dao Ma (Wu Jing), seorang pemburu hadiah yang mendapat misi untuk mengawal Zhi Shilang (Sun Yizhou), pemimpin pasukan pemberontak sekaligus "kriminal paling dicari", untuk memasuki daerah Chang'an.
Ada sedikit kejanggalan. Zhi Shilang memakai topeng serta riasan guna menyembunyikan identitas, namun penyamaran itu sudah dihafal oleh prajurit kerajaan yang mengincarnya. Mengapa tidak ia buka saja samaran tersebut? Kenapa pula sang pemimpin besar perlawanan punya tindak-tanduk konyol bak orang tolol? Sebelum kehadiran sekuel yang dapat menyediakan jawaban, semua hal di atas masih merupakan anomali mengganggu.
Seiring perjalanan, Dao Ma bertatap muka dengan ahli bela diri lain. Ada yang bakal memegang peranan besar di alur seperti Ayuya (Chen Lijun) si "Putri Gurun Pasir", Shu (Yu Shi) si pendekar berambut putih, hingga Di Ting (Nicholas Tse) dengan misi rahasianya, namun ada pula yang sekadar numpang lewat. Jet Li sebagai Chang Guiren adalah salah satunya, tapi bukan berarti kemunculannya tak berkesan. Kendati tak selincah masa primanya, sang legenda laga terbukti masih punya karisma luar biasa.
Dao Ma yang selalu membawa seorang anak kecil bernama Xiao Qi (Ju Qianlang) pun memulai perjalanan melintasi gurun, dalam 126 menit yang punya alur tipis sekaligus penuh sesak secara bersamaan. Bisa demikian sebab naskah buatan Chao-Bin Su dan Larry Yang terus menyuplai film dengan permasalahan yang terus datang dan pergi, tanpa pernah mengembangkannya jadi struktur narasi berarti.
Jangan harap merasakan kepedulian terhadap cerita maupun manusia-manusianya, tapi untungnya, Yuen Woo-ping selaku sutradara tahu bagaimana menyusun shot supaya jajaran pendekarnya nampak keren kala beradu jurus. Apalagi Blades of the Guardians diberkahi nama-nama yang memiliki screen presence tinggi. Bukan keselamatan karakternya yang bakal penonton pedulikan, tapi bagaimana cara mereka menghunuskan pedang.
Koreografinya sarat gerak akrobatik memukau sebagaimana mestinya film wuxia kelas satu, pun dengan latar yang menolak tampil monoton. Para jagoannya bertarung di tengah beragam elemen, dari kobaran api, badai pasir, hingga hujan salju. Alih-alih jadi penghalang, hal-hal tersebut justru dijadikan amunisi, membuat mereka bisa mengayunkan pedang yang membara, atau terbang ke arah lawan sambil mengendarai ganasnya badai.
Rangkaian baku sabetnya hadir jauh lebih brutal dari wuxia kebanyakan. Intrik politik kompleks maupun drama humanis menyentuh takkan bisa ditemukan di sini, tapi jika kalian menikmati melihat para pendekar mempermalukan hukum fisika, kemudian memenggal kepala musuh dengan cara menendangnya sekeras mungkin, maka Blades of the Guardians adalah spektakel yang layak dikonsumsi.

%20(1).png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar