REVIEW - KOKUHO
Kikuo muda (Sōya Kurokawa) menyaksikan tubuh ayahnya, seorang bos yakuza, luruh lalu membanjiri hamparan salju dengan darahnya, serupa goresan warna merah melengkapi riasan putih di wajah pelakon kabuki. Kokuho (berarti "harta karun nasional") yang mengadaptasi novel berjudul sama karya Shuichi Yoshida memang membicarakan perihal dualisme kehidupan, di mana dua kutub berseberangan acap kali menciptakan kontradiksi, namun terkadang justru saling melengkapi.
Setelahnya, Kikuo (versi dewasa diperankan Ryo Yoshizawa) tumbuh di bawah asuhan Hanai Hanjiro II (Ken Watanabe) si aktor kabuki ternama. Hanjiro yang pernah terpesona menyaksikan akting Kikuo, memberinya latihan seni peran kabuki bersama dengan putranya, Shunsuke (Ryusei Yokohama). Sama-sama melakoni peran onnagata (aktor laki-laki yang memerankan tokoh perempuan) memudahkan terjalinnya persaudaraan erat di antara keduanya.
Kikuo dan Shunsuke pun mewakili dualisme kehidupan. Kendati berbakat dan berhasrat, mengingat sifat turun-temurun dunia kabuki, ketiadaan ikatan darah dengan sang guru membuat karir Kikuo diyakini takkan mulus. Sebaliknya, Shunsuke si anak kandung yang lebih gemar berpesta ketimbang berkesenian, bak ditakdirkan punya masa depan cerah. Tapi realita tidak sesederhana itu, sebab posisi mereka punya "madu dan racun" masing-masing.
"Cantik" adalah deskripsi sempurna bagi filmnya. Selain departemen rias selaku peraih nominasi Academy Awards, tata artistik yang berjasa menghidupkan latar pementasan kabuki pun demikian memukau. Di kursi sutradara, Lee Sang-il bukan cuma menunjukkan keelokan kulit luar. Keindahan visual jadi ekspresi cintanya terhadap kabuki, membuat Kokuho nampak sebagai upaya melanggengkan cabang kesenian tersebut alih-alih sebatas pameran hampa.
Tengok bagaimana dalam tiap pementasan, sinopsis singkat mengenai cerita yang diangkat selalu dicantumkan. Lee Sang-il ingin penontonnya benar-benar mengerti sehingga mampu meresapi, ketimbang jadi spektator bodoh yang dialienasi. Sang sutradara seolah merindukan era di mana seni masih berupa ekspresi hati daripada sekadar komoditi.
Hari-hari protagonisnya makin mengakrabi pilu begitu seni dalam hatinya mulai diracuni ambisi. Masalah keluarga, carut-marut percintaan, gesekan kepentingan antar pelaku seni, hingga perebutan gelar bergengsi dunia kabuki, senantiasa mengiringi tahun-tahun kehidupan dewasa Kikuo. Sederhananya, hidup Kikuo berantakan.
Tapi di sinilah dualisme Kokuho kembali nampak. Mungkinkah kepahitan realita memang diperlukan guna melahirkan keindahan dunia panggung yang serba pura-pura? Mangiku (Min Tanaka), aktor kabuki senior sekaligus penyandang gelar "kokuho", pernah memperingatkan Kikuo bahwa wajah rupawannya kelak bisa mendatangkan kehancuran.
Selama 175 menit, dinamika Kikuo dan Shunsuke tidak pernah lepas dari dualisme. Kejujuran dan kebohongan, memiliki dan kehilangan, jelita dan buruk rupa, jatuh dan bangun, manis dan pahit, hingga tentunya, realita dan sandiwara yang seringkali malah saling mengisi. Di satu titik, Kikuo berhasil memperoleh puncak kesuksesan, namun selain sayup-sayup tepuk tangan penonton, kita justru melihatnya terduduk seorang diri di balik tirai panggung yang sepi.
Naskah buatan Satoko Okudera menggerakkan alurnya secara agresif, membentangkan kisah lima dekade yang acap kali menghadirkan lompatan waktu. Tidak semua penonton bakal mudah beradaptasi dengan gaya tersebut, tapi di sisi lain, durasi yang mendekati tiga jam dibuatnya terkesan singkat. Rangkaian peristiwa yang Satoko pilih untuk tak munculkan juga merupakan hal-hal yang bisa kita isi sendiri celahnya lewat penalaran sederhana.
Memasuki paruh kedua, kekuatan penceritaannya sempat mengendur seiring beralihnya fokus narasi menuju tetek-bengek dari balik layar kabuki yang tak memiliki daya magis sekuat presentasi di atas panggungnya. Beruntung, Kokuho diberkahi jajaran pelakon yang mendefinisikan "totalitas" dalam seni peran melalui penampilan mereka, untuk menjaga supaya narasinya tetap mengandung bobot.
Khususnya Ryo Yoshizawa lewat kombinasi olah rasa dan raga. Lee Sang-il banyak memakai close-up, membuat kamera menangkap dari dekat tiap sudut tubuh sang aktor yang seluruhnya "berbicara". Simak betapa menggetarkan aktingnya sewaktu Kikuo menggantikan sang guru memainkan kisah The Love Suicides at Sonezaki. Ekspresi yang bak corong emosi, ragam eksplorasi gestur yang mendorong kapasitas fisik sampai ke titik ekstrim, semua menyatu, menubuh dalam diri si "harta karun nasional" yang mengabdikan seumur hidupnya mencari "suatu pemandangan".


Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar