14 Agt 2012

BICARA SOAL SELERA

Kali ini postingan saya bukan ditujukan untuk me-review sebuah film, melainkan sekedar berbagi pengalaman dan pendapat saya berkaitan dengan selera menonton film. Selama ini saya sempat mendengar beberapa komentar orang-orang di sekitar saya tentang selera mereka dalam menonton film. Tapi diantara komentar-komentar tersebut ada beberapa komentar yang sering membuat saya sedikit risih mendengarnya. Yang pertama adalah sebuah komentar yang saya dengar saat sedang berkumpul dengan beberapa teman saya. Kami yang sedang ngobrol-ngobrol di kamar kost milik saya saat itu sedang mulai menjadikan film sebagai topik pembicaraan. Awalnya kami membicarakan tentang The Avengers yang saat itu tinggal baru tayang sekitar satu mingguan. Saya yang saat itu menjadi satu-satunya diantara kami yang sudah menonton mulai sedikit sharing tentang pendapat saya akan film itu, yah sembari menunjukkan review yang saya tuliskan di blog ini, yah hitung-hitung sedikit pamer sih. Pembicaraan kemudian beralih pada sosok Robert Downey Jr. dimana salah satu diantara teman saya menanyakan film apa saja yang pernah dibintangi Downey Jr. Saya lalu menyebutkan beberapa judul film mulai dari Sherlock Holmes, Trophic Thunder, Zodiac sampai Due Date.

Begitu sampai pada judul Due Date salah seorang teman saya yang lain bertanya "Due Date itu film apaan?" yang langsung saya jawab sebagai film komedi. Kemudian terjadilah percakapan yang kurang lebih seperti ini:

"Oh komedi, kirain drama. Kalo drama sih males nonton!" 
"Loh kenapa males nonton drama?" 
 "Males aja,nggak seru. Lagian masak cowok suka nonton drama"
"Emang udah sering nonton film drama?"
"Ya nggak pernah lah, males amat. Mending nonton film eksyen"

Benarkah pria tidak pantas menonton film seperti ini?
Berhubung saya termasuk orang yang mudah terpancing emosi dan daripada membuat masalah akhirnya saya memilih mengalihkan pembicaraan. Pembicaraan semacam itu sudah sering sekali saya alami, dan mayoritas lawan bicara saya yang menngaku tidak doyan drama karena membosankan ternyata hampir tidak pernah nonton drama dan mengatakan bahwa selera film mereka adalah film action. Terkadang hal ini membuat saya merasa aneh, bagaimana mungkin seseorang bisa menentukan apa selera mereka kalau mereka sendiri belum pernah mencoba hal lain diluar genre film yang mereka sukai tersebut? Sama saja anda mengatakan bahwa bakso lebih enak daripada soto tapi anda tidak pernah makan soto.

Berbagai jenis komentar lain masalah selera yang sempat mengganggu saya salah satunya adalah saat ada salah seorang teman yang mencaci maki Twilight sebagai sebuah film busuk, dan rasanya di seluruh dunia fenomena ini pasti terjadi. Seolah-olah Twilight Saga adalah sebuah franchise terburuk yang pernah ada. Tapi dari beberapa orang yang saya temui yang mengatakan mereka membenci Twilight, ternyata mereka mayoritas belum pernah sekalipun menonton salah satu dari saga tersebut. Jika orang itu mengatakan tidak tertarik maka hal itu bisa dimaklumi, tapi jika ada orang yang sudah mencaci maki film sebelum menontonnya saya rasa itu hanyalah bentuk konformitas saja. 
Apa mereka memang layak dicaci?
Hal yang sama juga berlaku untuk film-film Indonesia. Sekali lagi saya sering menjumpai orang yang dengan semangat mengkritik sineas kita yang menurutnya selalu membuat film sampah yang tidak bermutu dan membuatnya tidak tertarik lagi menonton film lokal. Kemudian saya tanyakan apa dia sudah menonton film-film seperti Pintu Terlarang, Fiksi., Kala, Jermal, Sang Penari dan beberapa judul lainnya, ternyata dia menjawab belum pernah! Pola pikir yang sudah antipati duluan seperti itulah yang turut membuat perfilman kita hancur, bukan semata-mata salah sineasnya. Pola pikir dan selera film penonton lokal juga harus diperbaiki.

Bicara soal selera, dari pengalaman-pengalaman saya diatas menunjukkan bahwa terkadang seseorang merasa menyukai salah satu genre film atau membenci sebuah genre atau film dari negara tertentu (India misalnya) lebih karena mereka menutup mata. Mereka membenci drama karena mereka tidak pernah berusaha untuk menikmatiknya. Mereka membenci film India karena mereka tidak pernah berusaha mencari, begitu juga mereka yang membenci film lokal, kebanyakan karena mereka tidak berusaha mencari berlian yang sebenarnya begitu banyak jumlahnya namun terpendam akibat terlalu banyak orang yang menutup mata mereka akan hal tersebut. Setelah ini saya akan mencoba sedikit sharing tentang pengalaman pribadi saya dalam hal selera film. Hingga awal 2009 lalu saya sama sekali bukanlah orang yang menyukai film. Jangankan nonton di bioskop, untuk menyewa DVD saja saya tidak pernah. Hal tersebut sebenarya dibentuk juga oleh lingkungan dimana sedari kecil hingga SMA saya tinggal di sebuah kota kecil bernama Gombong yang terletak di Jawa Tengah bagian Selatan dimana disana tidak ada satupun bioskop.
Dulu tempat ini begitu asing bagi saya
Untuk menonton bioskop, paling dekat adalah menuju Yogyakarta yang jika menggunakan bus patas maka jarak tempuhnya kurang lebih 3 jam. Dahulu saat saya TK sempat ada namun bioskop itu terbakar habis dan tidak dibangun kembali. Bahkan jika dihitung semenjak saya lahir hingga awal 2009 itu saya pernah menonton bioskop kalau tidak salah baru sebanyak delapan kali (Toy Story, The Lost World: Jurassic Park, Godzilla, Mortal Kombat, Batman&Robin, Pinocchio dan Laskar Pelangi). Saat itu bisa dibilang  FILM BUKANLAH SELERA SAYA.

Sampai kemudian suatu hari saya dan teman-teman saya datang ke tempat rental DVD dan disana saya iseng-iseng meminjam beberapa judul film yang resensinya saya baca di majalah HAI, dimana salah satu judul film tersebut adalah Twilight. Ya, bisa dibilang jalan saya untuk menyukai film dibuka oleh sebuah film aygn sangat dibenci di seluruh dunia. Jujur saat itu saya cukup menyukai Twilight dan menganggap Edward dan Bella adalah pasangan serasi. Berkat Twilight akhirnya saya memilih menghabiskan liburan semester saat itu dengan menyewa kembali beberapa film. Sejak saat itulah saya menjadi seorang anak yang SUKA NONTON. Tapi hanya sebatas itu saja. Film yang saya sewa di rentalan tersebut saya batasi hanya film-film blockbuster dan saya tidak menyewa film drama. Ya, saat itu saya termasuk golongan "Pria pembenci drama". Saya merasa film drama dan romance bukan pilihan bagi seorang anak laki-laki dan terasa membosankan. Saya bisa dibilang anti terhadap film-film yang mendapat nominasi Oscar, karena anggapn saya saat itu film Oscar pastilah film yang berat dan membosankan. Sampai kemudian saya iseng meminjam sebuah drama yang masuk nominasi Oscar, yaitu Up in the Air. Secara mengejutkan film yang dibintangi George Clooney itu mampu membuat saya jatuh cinta. Padahal jika ditilik, film tersebut punya cerita yang amat jauh dari film yang saya akui sebagai selera saya saat itu. Saat itu saya adalah seorang pecinta film macam Transformers dan G.I. Joe yang secara tiba-tiba jatuh cinta pada Up in the Air.
George Clooney changed my life
Semenjak itulah saya tidak lagi anti terhadap film-film Oscar, bahkan saya mulai mencari-cari film pemenang Oscar untuk saya tonton. Saat itu bisa dibilang SELERA SAYA TELAH BERUBAH. Setahun berlalu, saya sudah perlaha menjadi seorang yang SUKA FILM tapi belum seutuhnya. Saat itu saya sudah mulai menulis di blog ini, dan saya masih antipati terhadap film Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir saat itu film Indonesia yang pernah saya tonton cuma Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Nagabonar Jadi 2. Dua film pertama saya tonton murni karena punya hype yang besar, sedangkan film ketiga saya tonton saat diputar di televisi. Sampai di pertengahan 2010 muncul kehebohan saat sebuah film dinilai kafir oleh sebuah perkumpulan Agama yang malas saya sebutkan namanya. Film itu tidak lain adalah ? (Tanda Tanya). Dengan kontroversi yang begitu besar itulah saya memutuskan untuk pertama kalinya mengantri sendirian di bioskop demi menonton film Indonesia, dan hasilnya saya sangat menyukai film itu. Mata saya kembali dibukakan oleh sebuah karya yang berasal dari golongan yang selama ini saya remehkan. Ternyata film lokal masih punya karya yang berkualitas, begitu pikir saya saat itu. Setelah itu saya mulai mencoba mencari-cari film lokal yang katanya bagus dan akhirnya saya sadar bahwa BANYAK FILM INDONESIA YANG KEREN. Sekarang malah salah satu sineas lokal yaitu Joko Anwar adalah satu dari lima sutradara yang karya-karyanya menjadi favorit saya.

Masih banyak lagi sebenarnya film-film yang sedikit demi sedikit membuka mata saya bahwa apapun genre film dan darimana pun asalnya,selalu punya film yang bagus dan layak dinikmati. Saya sendiri sempat kurang bernafsu menonton film Asia, sebelum Confession (Jepang) dan I Saw the Devil (Korea) membuat saya berubah pikiran khususnya terhadap film-film Korea. Berbagai pengalaman tersebut membuat saya tidak pernah lagi menutup mata terhadap satu jenis film tertentu. Mempunyai selera dalam menonton itu wajar. Setiap orang pasti punya genre film yang disukai dan tidak disukai. Seperti saya sendiri paling suka thriller dan jika dilihat dari sutradaranya maka karya-karya dari Christopher Nolan, Quentin Tarantino, Kim Ki-duk hingga Joko Anwar adalah favorit saya. Untuk yang tidak saya suka, saya kurang menyukai genre period drama, walaupun begitu saya tetap selalu mencoba menonton film tersebut jika dirasa berpotensi semisal Jane Eyre ataupun Anna Karenina yang akan rilis tahun ini dan pasti saya tunggu. Pada intinya, pepatah "Tak kenal maka tak sayang" memang benar dan berlaku juga di film. Selera terhadap suatu genre film adalah wajar, tapi janganlah sekali-sekali anti menonton genre film tertentu hanya karena terdengar akan membosankan apalagi jika anda belum pernah mencoba menontonnya lebih jauh lagi.

27 komentar:

  1. Anonim12:13 AM

    waah, cerita hidupnya agak mirip sama saya...
    walaupun saya tetap salah seorang yang membenci twilight dan sudah menonton ke4 filmnya.. breaking dawn lumayan deh...
    dan untuk period drama yang membuka mataku itu atonement... buaguus banget filmnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe kayaknya emang banyak yang punya pengalaman2 diatas
      Kalo benci tapi emang sudah nonton sih emang wajar, yang benci tapi belum nonton itu yang sering ngeselib

      Period drama yg buat saya lumayan ya emang Atonement sama Jane Eyre

      Hapus
    2. wah sama niy, udh nonton twilight tp tetep ga suka jg,, malah makin aneh,, yg suka yg pas pertama kali keluar ajah.

      just sharing dulu jg gw ga suka nonton drama, tp sekarang jd pengennya drama,,
      malah gw skrg suka nonton film yg misterius kalo bs sampe 10 menit terakhir itu film ga ketebak endingnya gmn.. ato alur ceritanya penuh kompleksitas.
      mungkin salah satunya bourne trilogy. kalo kayak gitu genre filmnya apa yah?

      oya, paling ga suka sama horror dan segala bentuknya..

      Hapus
    3. Kalo Bourne itu masuknya sih genre action tapi ada unsur crime sama mystery juga
      Tapi kalo masalah film yang nggak ketebak endingnya (punya twist) nggak terbatas masalah genre. Kalo dulu mungkin film dengan twist ending identik sama horror apa thriller, tapi sekarang film drama juga punya twist, Closer misalnya

      Hapus
  2. Well said brother, well said!!! XD

    #standingOvation

    ---

    Ini gw suka banget. Benar2 keren. Gw kagum. Bro bener banget, sama dengan apa yang ada dipikiran gw.

    "...yah sembari menunjukkan review yang saya tuliskan di blog ini, yah hitung-hitung sedikit pamer sih."
    - Hehe, yg ini kocak bro.

    "...menngaku tidak doyan drama karena membosankan ternyata hampir tidak pernah nonton drama dan mengatakan bahwa selera film mereka adalah film action"
    - Ini nie yg parah. Gw juga sering kok ktemu hal begini. Look, gw jelas penggila film action (absolutely).

    Tapi w dh jajal hampir semua jenis film, n bahkan memang w masih dan terus nonton semua jenis film itu. Termasuk drama. Ya entah dari tv swasta, DVD yg w beli sendiri (atau punya orang), TV series, atau nonton di theater tapi kebetulan (diajak & gratis). Gw tonton apa yg bisa gw tonton.

    And perkara-nya memang gw nggak suka, tapi, gw nggak bisa kan hidup terus2an dengan nonton film jenis sama. Sekali2 w juga butuh sesuatu yg lain.

    Even gw bete' waktu nonton Titanic misalnya, atau Inception bahkan, tapi tetep aja, w butuh mereka. n yes, w harus nonton dulu untuk mengetahui apakah film itu "jelek" atau "bagus" bagi gw.

    Dan, ya memang, film drama membosankan. Ya karna gw sukanya bukan disitu. Tapi untuk bilang w nggak suka genre komedi (misalnya) sedangkan w nggak pernah coba nonton film jenis itu, ya bagaimana?

    "...mencaci maki Twilight sebagai sebuah film busuk,"
    - ini fenomena udah jadi rahasia umum nich bro. Gw, terus terang, nggak demen ma film2 Twilight. Harpot. Ini itulah. Bagi gw jelek. Tapi w bisa ngomong gitu karna w deh nonton n tau kaya gimana film itu.

    Okay Twilight emank jelek bagi gw tapi w tetep nonton karna w suka sama Kristen. XD Tapi liat, mereka mengatakan sesuatu yg bernama kualitas, dan banyak bahkan yg bilang mereka yg nonton Twilight nggak ngerti film.

    Wow. Jujur, mank w nggak suka Twilight series, jelek, jelas, secara selera w, tapi, klo orang suka sama film itu ya mank kenapa, nggak ada yg aneh dgn dirinya, yg ada justru yg bilang kaya gitu yg aneh... ckckck...

    "...Hal yang sama juga berlaku untuk film-film Indonesia"
    - Nah ini juga nich bro, salah satu issue yg w bingung. Film apa hubungan-nya sama ras? Film jelek, atau bagus (even semua subjective), itu apa hubungan-nya sama suku, bangsa, ras, ini itu? Mungkin harusnya mereka ngomong-nya begini, "w nggak suka film2 horor-komedi gitu" daripada "najis w sama film2 INDONESIA / AMERIKA"

    Nggak masuk akal.

    ---

    Tapi, yah, pada akhir-nya, kita cuma bisa mengungkapkan sich bro. Karna mank orang beda2. Selalu kaya gitu. Ada yg ngerti, ada yg nggak ngerti. Nggak mungkin semua orang punya pengetahuan / pengertian yg sama.

    Walau w mank suka aneh klo denger orang ngomong "ah itu cuma jualan action doank, plot-nya nihil" tapi yah, nggak semua ngerti hal yang sama dengan gw. Nggak semua orang ngabisin waktunya untuk neliti film seumur hidup-nya n nemuin teori2 seperti yg w / kita lakuin.

    Jadi, gw sich wajar sama fenomena2 kya gitu, udah nggak aneh. Dan itu semua juga kan cuma film. Bahkan w dulunya pun juga bersal dari orang yg nggak ngerti hal2 kya gitu. bisanya cuma ikut2an kata2 orang doank.

    Hehe... XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha salah satu komen paling panjang yang pernah ada disini nih mantap

      -Yap, emang yang bagus ya orang yang doyan genre tertentu tapi nggak anti sama genre yang lain. Nggak nonton genre lain nggak masalah asal gak usah pake komentar bla bla bla segala kalau belum pernah nonton

      -Soal Twilight juga wajar kalau banyak yang nggak suka karena kualitasnya ya emang medioker. Tapi yang aneh itu yg ngritik tanpa alesan jelas, Twilight Gay lah apalah

      -Yah itu dia, intinya banyak orang mencaci film lokal cuman karena "tren" tapi mereka nggak mau tahu kalau banyaaaaaaak banget film lokal yang keren

      Hehe ya sekali lagi tulisan ini maksudnya cuman buat mengungkapkan isi hati

      Hapus
  3. Untuk drama cuma buat cewe... emang ada apa di film-film drama dipajang di poster nya "UNTUK CEWE"....

    Paling sebel kalo orang -orang beranggepan kalo film Indonesia sutradara nya semuanya ngikut-ngikut film luar..dan paling benci kalo orang menganggap kalo film lokal itu low-class.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe kalem masbro saya juga emosi sama hal-hal begitu tapi tulisan diatas seenggaknya bisa sedikit menyalurkan emosi itu :)

      Hapus
  4. Kalo saya mah kebalikannya, uda antipati duluan ama genre film action.
    Termasuk diantaranya tentu saja film-film om Steven Seagal ama Jason Statham.
    Hehehee.. XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih mending Statham daripada Seagal, seenggaknya masih sedikit lebih berbobot lah hehe

      Hapus
  5. nice story,
    temen ane juga banyak bgt yg pikirannya kaya gitu,
    drama cuma buat cewe-padahal film drama 'barat' kan ga selalu berfokus pada cewe dan cinta2-an, kebanyakan mereka cuma berasumsi klo film drama tuh cinta2-an
    mereka ga ngeh and ga mau tau ada film2 drama berjudul Social Network, King's Speech ,atau Doubt ^^

    Kalo soal Twilight, ane juga nonton yg pertama and biasa aja sih,tapi baru pas New Moon ane liat dan bener2 'sorry to say' ngrasa ni film ga penting bgt sih..hehe

    *btw,ijin tuker link yak----

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari empat film Twilight juga buat saya yg lumayan tu Twilight sama Breaking Dawn sih dan New Moon emang parah
      Oke, udah dipasang linknya :)

      Hapus
  6. wow. just wow.
    finally found someone who wrote about this in a very brief way :)

    kalo lo mulai ngerasa turning point jatuh cinta sama film sejak nonton "Up in The Air", gw sejak nonton "The Social Network". dan kalo gw mencoba merekomendasikan film ini ke temen2 (yg lagi nanya rekomendasi film ke gw) mereka langsung nanya, "genre-nya apa?". gw agak bingung ngejawabnya "hmm... biografi drama gitu deh, tentang facebook. tapi keren lho!". mereka langsung yang "yah, drama gitu ya? nggak ah, yang lain aja."

    mungkin gw harus banyak belajar mengenali genre film satu per satu (atau ada yg pernah nulis tentang ini?)

    bener, bisa jadi masyarakat kita lebih terhibur sama film-film yang memang memanjakan mata dan ceritanya bagus (baca: film-film blockbuster). mereka kurang tertarik nonton film2 yang banyak awardnya. bagi gw sih itu sah-sah aja, selama mereka juga ga mendiskreditkan film-film award itu. i mean, di bioskop sekitar gw, The Artist itu sepi banget yg nonton. The King's Speech juga. apalagi kalo nonton The Tree of Life ya... kalo kata temen gw sih, "nonton film tuh yang nyantai-nyantai aja, jangan yang bikin mikir. kan nonton film itu tujuannya buat hiburan". bisa jadi ada benarnya. tapi kalo filmnya dibikin sekadarnya saja, sekadar nampilin visual effect yang fantastis tapi serba ga jelas disana-sini, apa masih bisa jadi hiburan ya? :D

    i just think that many people need to read this post. great job.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih udah nyempetin baca nulis ini juga karena emang udah bener2 pengen ngelampiasin emosi setelah denger banyak komentar2 diatas hehe

      Yap, emang kita harus berusaha mau ngenalin genre satu per satu, biar cara pandang akan film juga lebih luas

      Kalo komen tentang film tujuannya hiburan nggak salah, karena itu emang salah satu tujuan film, tapi bukan satu-satunya tujuan film karena banyak orang yang mencari lebih banyak dari sekedar hiburan :)

      Hapus
  7. Ada hal yg gue krg setuju dr tulisan d atas. Menurut gue setiap org pnya hak utk ngejudge suatu film itu bagus atau kaga tanpa harus kita menonton fim tersebut. Zaman skr orang kita uda bs menilai film itu bagus dr berbagai sumber. Sebut aja situs imdb.com. Di situs byk bgt orang2 yg menilai suatu film tertentu dr berbagai macam sudut pandang dan berbagai kalangan yg berbeda beda.

    Dan klo bisa gue bilang review yg ada d situ cukup byk yg fanatik. jujur aja sblm gue pengen nonton film yg gue mau, gue selalu sempatkan utk ngeriset film yg bakal gue tonton. Klo emg byk yg bilang ga bagus, gue beralih ke film yg lain. Buat apa kita habisin waktu utk film yg uda byk orang bilang ga bagus.

    Klo masalah genre, memang stiap org pnya selera yg berbeda-beda. Buat gue, semua genre film gue ikutin, dr mulai drama, romance, comedy, thriller, horror, sci-fi, action, adventure, crime, fantasy, bahkan sampai documentary jg gue coba nonton. Lagi pula skrg tuh suatu film ga condong ke satu genre tertentu. Ada film drama romance, drama comedy, comedy fantasy, dll.

    Gue jg trmasuk penyuka film, gue baru aktif nonton sejak tahun 2010, gue mulai suka nonton film ketika gue nonton film memento. Setelah itu gue mulai ngikutin karya Cristhoper Nolan, trs sampai film2 yg dibintangi DiCaprio. Film keluaran lama seperti Apocalypse Now dan film thn 90an kayak Good Will Hunting. Haha gue jd malah cerita di blog orang. Yg penting bicara soal selera, setiap org pnya selera yg berbeda-beda.

    Buat gue, nonton film trmasuk salah satu cara utk menambah wawasan kita selain membaca buku. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa aja seperti itu, tapi pada akhirnya orang itu akan menilai "film itu bagus menurut imdb, atau film itu bagus menurut rotten tomatoes, atau film itu bagus menurut Roger Ebert" sedangkan menurut saya untuk menilai suatu film bagus atau nggak harus dirasakan sendiri sensasinya. Nah hal itu buat saya penting karena dengan begitu seorang penonton bisa membentuk selera menontonnya sendiri tanpa harus dibentuk oleh pendapat orang lain :)

      Hoho no problem, saya malah seneng kalo makin banyak yang berpendapat dan bercerita kisah mereka tentang film disini :D

      Hapus
    2. @Erikson:
      So, yg nentuin kualitas film secara objective tuh siapa ya? IMDb? Rotten? Roger? Luis? Madun? atau siapa? Atau bro sendiri?

      Nggak ada patokan OBJECTIVE dari bagus nggak-nya film. Rotten / IMDb bisa aja ngerate GI JOE atau film2 model horror/slasher dengan rating sampah trus, what?

      Coba, mank apa patokan objective untuk film layak dicap BAGUS atau JELEK?

      Hapus
    3. Hehe biar saya sedikit menengahi dengan pengetahuan terbatas saya akan penilaian bagus/tidaknya sebuah film. Setau saya, kritikus film profesional itu biasanya pakai beberapa aspek buat menilai film sehingga bisa seobjektif mungkin walaupun pada akhirnya yang namanya selera pasti tetap berperan pada penilaian mereka. Kalo masalah sudut pandangnya apa aja saya lupa tapi inget pernah baca di blog mana gitu hehe

      Biasanya hal-hal kayak motif sebab/akibat karakter/adegan dalam suatu film juga bisa dijadikan patokan. Kualitas naskah, akting dan beberapa aspek teknis lain juga bisa dipakai buat menilai sebuah film. Kalau menurut saya, website yang paling mendekati objetif ya Rotten Tomatoes, karena disana reviewernya kritikus2 profesional yang tentunya punya dasar dalam menilai sebuah film. Tapi sekali lagi kayaknya hampir nggak mungkin sebuah film 100% objektif, walaupun 99% pun pasti ada 1% unsur subjektif dalam penilaian tersebut :)

      Hapus
    4. Well said bro.. :D
      #TepukTangan


      Nah, itu problem-nya, tapi yg jelas-nya film itu kan kebagi dalam 3 aspek penting,

      - Faktor KREATIFITAS (Writer: Idea, story, screenplay, storyboard, characterisation, etc.)
      - Aspek TEKNIS (Director: Cinematography, tone, sound, visualisation, acting, etc.)
      - Faktor FINANSIAL (Producer: Budget, gross, marketing, etc.)

      Nah dari ketiga hal diatas, satu2nya yg paling objective cuma faktor finansial. Karna basisnya uang. pure fakta, hasilnya sekian ya sekian.

      Sedangkan faktor teknis yg sebetul-nya bisa kita dapet titik objective-nya tapi itupun pada akhirnya kita nggak akan berhasil karna perbedaan tema dan genre ditiap film. Jadi, akhirnya, tetep 50/50.


      Nah pas di faktor kreatifitas ini, a hundred percent subjective karna basisnya pure ide, cerita yang nggak akan pernah sama atau dapet satu titik objective-nya. Never.

      So, itulah sebab-nya kita nggak bisa ngurutin daftar film terbaik secara objective klo udah nglibatin 2 aspek pertama diatas. ;D

      Hapus
  8. Saya harus memperbanyak teman kaya anda. :D

    Keren bro. Keren sangat.

    Ijin share artikel boleh ga gan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha boleh pakai banget lah
      Makasih pujiannya bro :)

      Hapus
  9. bro, kok komen gw di post Bourne sama yg ini ilang ya? w inget kmaren load page nya udah bener kok.. :|

    #yaach...

    BalasHapus
  10. Lah enggak kok, ini barusan ngecek ada lho

    BalasHapus
  11. well, bueener banget bro..
    koq sama y ama yg gue alamin, hampir 90% sama.
    tahun 2009 gue BUTA soal film, bisa dikatakan BUTA TOTAL masalah film.
    tapi justru film yg buka mata gue pertama kali yaitu STEP UP 2 setelah itu TWILIGHT.
    gue mulAI suka ama film-film mainstream, mumgkin sebagai pemanasan atau tangga pertama gue menuju level selera penilaian sebuah film.
    mata gue terbuka tentang film "oscar" ketika menonton film berjudul The Black Swan-nya Natalie Portman. setelah itu diikuti film Mahakarya The Godfather, disitu gue bener2 MELEK.

    untuk urusan sutradara favorit kita hampir sama bro;
    1. tentu aja Christoper Nolan, film favorit gue Memento sama The Prestige
    2. Quentin Tarantino, si idealis sejati, tentu aja dg Pulp Fiction
    3. David Fincher, Fight Club
    4. Joko Anwar, entah kenapa gue lbih suka Pintu Terlarang daripada Kala, mungkin ekspektasi saya berlebihan untuk film Kala.
    5. om Woody Allen, gue jatuh cinta setelah menonton Midnight in Paris.

    sebenarnya om Spielberg dan om Hanung sutradara hebat namun anggapan saya terlalu Mainstream.

    mungkin suatu saat nanti level selera saya akan lebih berkembang dan semakin MELEK mengenai nilai-nilai esensial sebuah film.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada akhirnya makin berwarna jenis film yang kita tonton emang makin luas selera & cara pandang kita ke film sih hehe

      Setuju tentang Spielberg, bagus sih dia tapi nggak terlalu masuk ke selera saya soalnya terlalu family-oriented

      Hapus
  12. Mas Rasyid ada akun FB? Salam kenal, saya Gugun penggemar baru blog anda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha terharu ada yang bilang penggemar. Ada mas, "Rasyid Rahman Harry" namanya
      Mkasih sudah berkunjung & salam kenal mas Gugun :)

      Hapus