SITI (2014)

Tidak ada komentar
"Untuk siapa kita hidup?" begitu pertanyaan dalam Siti karya Eddie Cahyono. Pertanyaan tersebut memang kerapkali hadir dan kita mulai bertanya-tanya apakah segala perjuangan kita selama ini memang demi kebahagiaan serta keinginan kita atau justru untuk orang lain? Jadi apakah pada akhirnya perjuangan berat itu memang patut untuk terus kita usahakan? Perjuangan itulah yang kini sedang dilakukan oleh Siti, seorang wanita sekaligus ibu dari seorang putera bernama Bagas yang masih SD. Siti terpaksa harus menanggung semua beban ekonomi keluarganya setelah sang suami, Bagus mengalmi kelumpuhan dalam sebuah kecelakaan saat sedang melaut. Di sebuah rumah kecil dekat pantai Parangtritis, Siti hidup bersama suami, anak dan ibu mertuanya. Setiap pagi bersama sang ibu mertua Siti harus berjualan peyek di pantai, meski tentu saja penghasilannya tidak seberapa.

Beban yang harus ditanggung Siti semakin berat karena hutang sebesar lima juta rupiah melilit keluarganya setelah sang suami sempat berhutang untuk mendapatkan sebuah kapal yang pada akhirnya justru hilang di tengah laut. Untuk menambah penghasilan Siti juga bekerja sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan karaoke. Disaat Siti berjuang untuk mendapat uang, sang suami justru marah pada keputusan Siti bekerja di tempat karaoke tersebut dan memilih untuk tidak berbicara dalam waktu lama. Meski merasa kesal dengan tingkah Bagus, Siti tetap tidak tega untuk sekedar marah, meluapkan kekesalannya pada sang suami. Dia pun memilih menanggung semua beban itu sendirian. Ujian pun seolah tidak kunjung berhenti saat tempat karaoke itu terpaksa tutup karena digrebek oleh pihak kepolisian. Dalam situasi teramat berat itulah giliran kesetiaan Siti kepada Bagus diuji dengan kehadiran Gatot, polisi muda tampan yang telah lama menyukai Siti. 
Saya suka kesederhanaan dan kesan minimalis dalam setiap aspek film ini. Lihat saja sisi teknis berhiaskan visual hitam putih, minim scoring, minim pencahayaan, dan pergerakan kamera sederhana berisi banyak adegan statis ataupun long shot sederhana dengan mengikuti pergerakan tokohnya dari satu tempat ke tempat lain. Ceritanya pun sederhana lewat konflik yang tidak lagi baru, seperti perjuangan ibu merawat anak dan menanggung beban ekonomi keluarga sendiri hingga terpaksa melakukan pekerjaan yang sering dianggap "tidak bermoral" sampai suatu ujian kesetiaan. Saya suka kesederhanaannya karena Eddie Cahyono -juga selaku penulis naskah- memanfaatkan semua itu untuk menjadikan Siti sebagai sebuah suguhan membumi, dekat dengan realita. Film ini memperlihatkan banyak kedekatan dengan realita daripada berusaha dramatis atau terlihat indah. Eddie Cahyono lebih memilih mengemas filmnya dengan kumuh, kotor, tapi dekat dengan kenyataan. Interaksi antar-karakter pun dekat dengan keseharian kita, meski hebatnya tetap bisa menghadirkan rangkaian dialog "renyah" pemancing tawa.
Salah satu adegan favorit saya adalah obrolan Siti dengan Sri di pinggir pantai yang berujung pada sebuah "latihan marah". Adegan itu begitu hidup, menggelitik, tapi juga begitu dekat dengan kehidupan nyata, khususnya diantara mereka orang-orang kalangan menengah kebawah. Wajar saja jika salah satu quote paling memorable bagi saya dalam film ini adalah "Asu kowe mas!" Saya selalu suka adegan sunyi berisi pergerakan kamera minim dan suasana tanpa dialog dimana hanya gestur atau ekspresi karakter saja yang ditonjolkan. Momen demikian justru seringkali berhasil menangkap emosi dan kondisi seseorang secara jujur serta nyata. Siti pun banyak menghadirkan adegan semacam itu, meski sayang tidak kesemuanya berhasil memaksimalkan kesan tersirat dari perasaan terpendam karakter. Kemudian jika kembali bicara tentang "realistis", konklusi film ini pun menghadirkan itu. Tidak ada romantisme berlebih atau hal muluk, hanya seorang wanita yang sudah lelah dengan semuanya, dan keputusannya logis terjadi dalam kenyataan.

Dalam sebuah sesi tanya jawab seusai pemutaran Eddie Cahyono sekilas menuturkan kekagumannya pada Ingmar Bergman, dan memang Siti sedikit banyak memancarkan kekaguman itu: gambar hitam putih, plot bertempo lambat dan sunyi, sampai karakter utama wanita. Memang seksualitas "andalan" Bergman tidak menonjol, tapi ada beberapa momen menyinggung hal tersebut, seperti satu kejadian di toilet karaoke. Sedangkan untuk karakter lainnya, film ini berhasil menjadikan mereka semua menjadi sosok "abu-abu" Tidak ada sosok murni jahat, karena mereka punya alasan kuat dalam setiap tindakan yang diambil. Mungkin Siti tidak berhasil memaksimalkan adegan-adegan penuh kesunyiannya dengan keindahan bernama emosi tersirat, tapi film ini tetaplah sajian memuaskan berhiaskan akting kuat, naskah penuh dialog ringan tapi mengena, hingga berbagai aspek sederhana lain yang bersinergi dengan baik menjadi sebuah drama kehidupan tentang manusia (bukan hanya wanita) dan pertanyaan tentang eksistensinya.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar