AS THE GODS WILL (2014)

11 komentar
Takashi Miike kembali menjadi seorang jenius gila yang tahu caranya bersenang-senang dalam adaptasi manga berjudul Kami-sama no Iu Toori (As the Gods Will) ini. Setelah menghabiskan beberapa tahun terakhir mencari uang untuk makan (Miike mengatakan itu) lewat film-film ringan macam Ninja Kids dan Ace Attorney, memang sudah saatnya ia kembali menjadi Miike yang dicintai banyak orang. Kekerasan penuh darah, situasi absurd yang hadir seenaknya, hingga komedi gelap yang hitam pekat adalah apa saja yang bakal kita temui dalam film ini. As the Gods Will adalah jawaban jika ada seseorang bertanya "kenapa sang sutradara begitu suka mengadaptasi manga?" Jawabannya mudah. Karena dari materi buku komik, Miike bisa menemukan keluasan fantasi yang dengan mudah memfasilitasi keliaran gayanya. Seolah dia menemukan kebebasan mengekspresikan kegilaan komikal yang mengakar kuat dalam jiwanya. 

Bagaikan tidak sabar, Miike sudah menyodorkan boneka Daruma yang bisa bergerak, bicara, bahkan membunuh orang sedari awal film. Sekelompok siswa SMA terkurung dalam kelas tanpa tahu apa-apa dan dipaksa menjalani permainan maut oleh Daruma tersebut. Sebuah permainan tradisional sederhana, dimana ada satu orang berjaga (Daruma) sambil melantunkan sebaris lirik sedangkan pemain lainnya (siswa) harus bergerak mendekatinya tanpa ketahuan. Jika Daruma berbalik dan mendapati ada yang bergerak/bicara, siswa tersebut akan mati. Cara mereka mati pun dikemas sadis tapi komikal. Kepala mereka meledak, tapi tidak hanya darah yang muncrat, melainkan kelereng berwarna merah dalam jumlah besar. Semua itu hanya awal. Awal dari rangkaian permainan tradisional lain yang dimainkan secara mematikan, karena pemenang dari tiap babak akan lanjut ke permainan lain yang lebih sulit dan tentunya lebih berbahaya. Takashi Miike telah membuat Battle Royale versinya lewat film ini.
Mengingatkan pada Battle Royale karena survival games yang hadir tidak hanya menguji kecepatan berpikir, namun juga fisik serta psikologis pesertanya. Ada beberapa momen dimana kepercayaan dan kesetiaan pada teman-teman mereka diuji. Tapi toh As the Gods Will tidak memiliki atau lebih tepatnya tidak berusaha memiliki drama persahabatan menyentuh seperti film yang diperbandingkan. Satu-satunya drama yang mendapat fokus lebih adalah hubungan antara sang karakter utama, Shun Takahata (Sota Fukushi) dengan dua orang teman wanitanya. Mereka adalah Ichika Akimoto (Hirona Yamazaki) yang merupakan teman Shun sedari kecil, dan Shoko Takase (Mio Yuki) yang sempat dekat dengannya saat SMP dulu. Selipan cinta segitiga di tengah kekacauan absurd penuh darah semacam ini memang terdengar menggelikan. Jika dipaksakan dramatis, bukan kesan emosional kuat yang hadir, namun justru kekonyolan dalam konteks negatif. 

Namun tentu saja Miike sadar akan hal tersebut. Dia membiarkan drama itu mengalir seadanya, tidak berusaha melakukan penggalian lebih. Bagaimana pada akhirnya semua itu terasa emosional adalah saat Miike bertransformasi dari orang gila menjadi seorang yang kejam. Dengan kejamnya, ia memanfaatkan tiga aspek: adegan kematian sadis, wajah cantik nan polos dari Mio Yuki, serta kondisi sebatang kara dari Shun. Alhasil setelah semua ini berakhir, saya yang masih merasa sakit akibat "tusukan" mendalam dari Miike dibuat merasakan kehampaan serupa dengan karakternya. Ending yang seharusnya bahagia itu pun jadi terasa kosong (in a positive way) saat penonton dibuat bertanya-tanya "lalu untuk apa berusaha lolos dari semua ini?" 
Sepanjang film, karakternya sering bermonolog dalam hati guna memohon, bertanya, bahkan mengutuk segala tindakan Tuhan. Seperti yang tersurat dalam perkataan Shun, "Tuhan itu tidak ada, jika memang ada maka Dia sangat kejam." Kemudian jika penonton bertanya kenapa, bagaimana dan untuk apa, mungkin Miike dengan santainya bakal menjawab "semuanya sudah merupakan kehendak Tuhan." Mungkin ceritanya merupakan perwujudan cerdas mengenai orang-orang yang merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. Atau bisa saja semua ini hanyalah escapism dari Miike yang tidak mau repot-repot menjelaskan asal muasal makhluk-makhluk aneh pembawa maut tersebut. Karena jika ditanya, toh lagi-lagi ia bisa menjawab "semuanya kehendak Tuhan." Sebenarnya yang manapun tidak masalah, karena keduanya sama-sama berhasil menyuguhkan tontonan menyenangkan. Mungkin pertanyaan di atas akan terjawab oleh sekuelnya kelak jika dibuat.

Dibalik segala kebrutalan dan keabsurdan sureal yang menyenangkan, poin terbaik As the Gods Will adalah permainan-permainan mautnya. Memberikan twist pada game tradisional, menyaring aturannya, lalu mengubahnya menjadi rangkaian permainan mematikan adalah ide yang segar. Setiap permainan mempunyai lawan berbeda, setting berbeda, aturan berbeda, ujian berbeda, dan konsekuensi yang berbeda pula. Hal itu membuat perjalanan film ini tidak pernah membosankan, selalu bergerak dalam kecepatan serta intensitas yang stabil. Ditambah efek CGI yang meski tidak terlalu mahal namun bersinkronisasi sempurna dengan tone "tidak serius" khas seorang Takashi Miike, kesenangan yang dihadirkan film ini pun seolah tak ada habisnya.

Verdict: Brutal, gila, konyol dan secara mengejutkan punya sisi emosional, As the Gods Will akan membuat penontonnya meminta lagi dan lagi. Berkebalikan dengan para korban, kita tidak ingin permainan itu cepat berakhir. 

11 komentar :

Comment Page:
iza anwar mengatakan...

Anda tahu banyak juga ya soal film-film Jepang.

Rasyidharry mengatakan...

Nggak juga sih, tapi filmnya Takashi 'fucking' Miike sayang dilewatin

Abay Abal Akbar mengatakan...

Saya baru nonton nih :O
Intensitas filmnya langsung naik di awal gak pake basa basi. Gore nya cukup bikin ngilu, tapi gak bikin perasaan jijik. Kemasan filmnya fresh banget.
Cuman endingnya aja yang agak "What the?"

Rasyidharry mengatakan...

Endingnya taik dan geje kan? haha

Aditya Limitless mengatakan...

memang dari manganya gk di ceritain siapa yg ngerancang game anj*ng ini.
btw dri segi cerita bagus & menarik,tpi kayakny kurang gore ya,min?
Takashi Miike is the best lah!!!

iza anwar mengatakan...

kalau aku baru nonton ace attorney tok

Rasyidharry mengatakan...

Oh, di second chapter manganya juga tetep nggak diceritain? Bagus lah hehe
Yah, buat ukuran Miike masih termasuk "halus" sih

Rasyidharry mengatakan...

Kalo "the best" si Miike sih era-era Gozu, Audition, Ichi gitu

Aditya Limitless mengatakan...

oh,klo manga Kamisama No iutoori 2 blom liat min.soalny msih on-going.mungkin critany sama tpi dgn permainan yg pasti berbeda,min.

taty baru mengatakan...

aga kebayang2.... setelah selesai nonton... tp endingnya bikin kesel

Adna Rezpektors mengatakan...

min baru nonton ke giniih, tapii maksud kami adalah tuhan maksudnya apa yah gagal paham ane;3