A COPY OF MY MIND (2016): KEINTIMAN DUA INSAN PINGGIRAN

18 komentar
Film seperti apa yang ada di benak kalian saat mendengar nama Joko Anwar? Thriller? Horor? Penuh darah? Twist ending? Cerita high concept? Menilik tiga film terakhirnya (Kala, Pintu Terlarang, Modus Anomali) memang wajar jika seorang Joko Anwar identik dengan beberapa hal di atas. Lalu hadirlah "A Copy of My Mind", sebuah film yang diniati Joko sebagai time capsule untuk kondisi Indonesia khususnya Jakarta saat ini. Melakukan proses syuting selama delapan hari saja, film ini menjauh dari berbagai unsur tadi. Tidak ada production value mewah, pergerakan kamera yang tidak spektakuler, konsep cerita sederhana yang lekat dengan kehidupan sehari-hari, dan kental balutan romansa. Tapi dibalik semua kesederhanaan itu, "A Copy of My Mind" justru merupakan film terbaik dari Joko Anwar sekaligus persembahannya yang paling personal. Personal, karena ia menumpahkan seluruh perasaannya baik cinta, marah, sedih, gelisah kedalam satu rangkaian cerita.

Ada dua karakter utama film ini; Sari (Tara Basro), seorang pegawai salon kecantikan dan Alek (Chicco Jerikho) pembuat subtitle DVD bajakan. Kelak keduanya bakal menjalin asmara, tapi selama kurang lebih 45 menit pertama mereka belum dipertemukan. Penonton diajak pelan-pelan mengikuti keseharian Sari dan Alek. Mengikuti disini juga bisa bermakna literal, karena cukup sering kamera bergerak di belakang karakter yang tengah berjalan, seolah penonton menjadi hantu tak terlihat yang diam-diam membuntuti mereka. Sari tinggal di kamar kos kecil yang terasa pengap, dan gemar menghabiskan malam sepulang kerja untuk menonton film dari DVD bajakan yang ia beli. Tidak hanya hidupnya sederhana, impiannya pun begitu. Saat ditanya apa cita-citanya, Sari menjawab "punya home theater". Dalam satu adegan Sari duduk menikmati gambar besar dan suara bombastis dari home theater yang tengah dijual. Ekspresi Tara Basro menunjukkan kebahagiaan dari hal sederhana yang terasa mengharukan. Secuil performa subtil yang membuktikan kelayakannya memenangkan FFI beberapa waktu lalu.
Alek tak jauh berbeda dengan Sari. Mendapat uang seadanya dari pekerjaan tanpa nilai prestis tinggi dan tinggal di kos-kosan kecil yang ia dapat secara gratis karena bersedia merawat sang pemilik rumah. Dua tokoh utama ini adalah cerminan kaum pinggiran di tengah megahnya ibukota. Definisi kaum pinggiran disini bukan "hanya" tinggal di tempat kumuh (menjadi setting dominan) atau berstatus ekonomi rendah. Kata "pinggiran" juga berarti mereka memang terpinggirkan, tak terlihat di tengah gegap gempita metropolitan. Mereka berdua bukan sosok yang memiliki peran penting. Jika suatu saat menghilang takkan ada yang mencari atau merasa kehilangan kecuali satu sama lain. Itulah mengapa percintaan keduanya terasa romantis. Dunia serasa milik berdua karena Sari dan Alek memang hanya (sempat) menjalani hidup untuk diri sendiri. Demi menguatkan kesan itu, "A Copy of My Mind" mengambil setting saat kampanye pemilu Presiden mencapai puncak. Beberapa adegan menunjukkan kampanye besar-besaran di sekitar karakternya, tapi mereka tak pernah menunjukkan interest lebih. Karena untuk memikirkan kebahagiaan personal saja pun sulit.
Seperti yang telah disebutkan, ini merupakan persembahan paling personal dari Joko Anwar, dan itu bisa dengan mudah kita rasakan. Joko memendam amarah pada pejabat korup, hal itu ia masukkan disini. Joko gelisah akan kondisi politik, ia curahkan disini. Joko resah akan kesenjangan sosial di masyarakat Jakarta, ia tumpahkan semuanya. Joko jatuh cinta akan film khususnya "film genre", ia paparkan kecintaan itu. Hingga saat ia merasakan cinta begitu besar akan cinta diantara manusia, saya bisa merasakan itu juga. Filmnya memang sederhana baik dari segi teknis maupun narasi, tapi bukankah kejujuran memang identik dengan kesederhanaan? Berkat kejujuran itu berbagai kritik yang dilontarkan tak memaksa masuk ke otak penonton, tapi mengalir alami. Kisahnya tak mencoba muluk. Ada kebencian pada praktik korupsi, tapi Joko tidak melampiaskan itu dengan kisah fantastis saat rakyat kecil menghabisi koruptor (yang akan dieksplorasi lewat "Eksekutor", film Joko berikutnya). Kita rakyat sipil sama dengan Sari dan Alek, tak berkutik di hadapan pemegang kuasa dan uang. Terasa getir dan tragis memang, tapi itulah kenyataan. "A Copy of My Mind" adalah cerminan kenyataan.

Selain faktor realisme, keunggulan lain film ini terletak pada dialog, yang mana juga berpijak kuat pada realita. Beberapa baris dialog memang absurd, mengundang tawa, serta "tidak make sense". Tapi bukankah kenakalan rangkaian kata tidak teratur itu yang menghiasi keseharian kita? Saat kita lebih cenderung melontarkan plesetan macam "gue suka film makhluk campuran gitu kayak buaya sama ikan jadinya bukan" daripada kontemplasi puitis tentang eksistensi yang hiperbolis? Diantara deretan kalimat membumi itu, hadirlah chemistry kuat Chicco Jerikho dan Tara Basro. Interaksi keduanya membuat romansa yang terjalin menjadi believable. Terdapat beberapa adegan seks yang bukan semata-mata eye candy, tapi berfungsi menyampaikan passion kuat serta perasaan cinta satu sama lain. Jadi alangkah menyakitkannya seusai film ini bermesra-mesraan lalu menampar penonton dengan konklusi yang mendefinisikan kehidupan kita sebagai pion-pion yang hanya menjalankan peran masing-masing. Apapun yang terjadi, life goes on. Meninggalkan memori pahit dan manis yang mungkin tak diketahui orang lain kecuali kita sendiri. Sajian yang indah. 

18 komentar :

Comment Page:
Alvi Fadhollah mengatakan...

nonton di mana bang?

Rasyidharry mengatakan...

Screening di JAFF kemaren :)

Alvi Fadhollah mengatakan...

ada kemungkinan di rilis bioskop gak ya?

Rasyidharry mengatakan...

Tayang 11 Februari 2016, tapi kemungkinan dengan beberapa sensor

Fauzy Husni Mubarok mengatakan...

Sayangnya film Indonesia yang bagus malah gak ditanggapi bagus oleh masyarakat Indonesia. Sepi-sepi aja.

Rasyidharry mengatakan...

Untuk "A Copy of My Mind" antusiasme penonton sejauh ini bagus banget, seenggaknya dari dua kali screening (JAFF & FFI) selalu sold out cepet. Semoga bakal begitu juga pas dirilis di bioskop tahun depan :)

Angga Saputra mengatakan...

kayak nya bgus...dri review nya.....ntar mau nonton pas tayang

Rasyidharry mengatakan...

Wajib!
:)

Angga Saputra mengatakan...

iya moga ajh emng bisa tayang di bioskop kesayanga .

sebelum nya terimakasih sdh mereview film yg bgus..:)

Putri Dewi M.R. mengatakan...

"Dunia serasa milik berdua karena Sari dan Alek memang hanya (sempat) menjalani hidup untuk diri sendiri."

Sempat? Akhirnya mereka mati?

Ok, nggak usah dijawab. :D

Rasyidharry mengatakan...

Nah, nonton di bioskop ya biar tahu jawabannya :D

Angga Saputra mengatakan...

hari ini mulai tayang mungkin besok lah bru bisa nonton

Rani Lumban Toruan mengatakan...

udah nonton. tapi baru lebih 'ngeh' setelah baca review ini.. beda ya yg penonton sama movie freak xD

Rasyidharry mengatakan...

Haha saya juga cuman penonton biasa lah

Amelia Budiman mengatakan...

Jadi endingnya si Alek beneran meninggal yaa? Sediiihh.. But overall this is the best indo movie in 2016!!

Rio Aditya mengatakan...

wah berati nih film nggak ada plot twist nya dong?

Rio Aditya mengatakan...

jangan kasih spoiler dong -_-

Alvi Fadhollah mengatakan...

Bisa dibilang film ini yg paling ngetwist di antara film2 joko anwar. siapa yg bisa menebak kalo di pertengahan durasi, film ini berubah menjadi drama thriller. pendekatnnya mirip bnget kayak Hitchcock