SOMETHING IN THE WAY (2013)

8 komentar
Karir seorang Teddy Soeriaatmadja sudah berubah. Dari sutradara yang banyak membuat film mainstream macam "Ruang", "Namaku Dick", hingga "Badai Pasti Berlalu", kini dia lebih banyak melahirkan film indie yang hanya ditayangkan terbatas dalam beberapa festival saja. Menonton karya terbaru Teddy Soeriaatmadja pun jadi pengalaman langka. Teddy pun nampak lebih bebas bereksplorasi dalam ceritanya termasuk dengan menghadirkan tema-teman kontroversial. Setelah "Lovely Man" yang mempertemukan seorang waria dengan puterinya selaku gadis pesantren, "Something in the Way" yang sempat ditayangkan di "Berlin International Film Festival" ini punya sopir taksi hobi masturbasi tapi rajin mengaji yang jatuh cinta dengan seorang PSK. Lagi-lagi Teddy membenturkan sisi religius dengan seksualitas, hingga wajar jika filmnya tak dirilis di jaringan bioskop secara luas demi menghindari kontroversi. FYI, "Lovely Man" sempat mendapatkan protes keras dari FPI dan berujung hanya tayang beberapa hari. 

Ahmad (Reza Rahadian) adalah sopir taksi yang bekerja di malam hari dan banyak menghabiskan siang hari untuk mendengarkan ceramah dalam pengajian. Tapi sepulang kerja, kita bakal menemukan Ahmad yang berbeda jauh dari kesan "anak pesantren". Dia selalu memutar DVD porno untuk kemudian masturbasi yang seolah sudah jadi rutinitas. Demi menguatkan sosok Ahmad yang kecanduan, Teddy berulang kali menunjukkan adegan Ahmad tengah masturbasi dalam berbagai situasi dan lokasi, bahkan di dalam taksinya. Seorang pria yang rajin mengaji tapi hobi masturbasi saja sudah menghadirkan "benturan", ditambah lagi fakta bahwa Ahmad diam-diam menyukai Kinar (Ratu Felisha), tetangganya yang berprofesi sebagai PSK. Namun Ahmad tak memiliki keberanian untuk sekedar menyapa. Interaksi keduanya pun paling jauh hanya disaat Ahmad membantu Kinar membuka pintu kamarnya yang macet, sebelum akhirnya mereka berdua saling bantu "membuka" banyak hal dalam hidup masing-masing.
Dalam penuturannya, Teddy banyak melakukan repetisi. Ahmad masturbasi, diam-diam mengikuti Kinar, interaksi keduanya di depan pintu atau dalam taksi, hingga makan mie instant pun dimunculkan secara berulang-ulang. Tujuannya untuk mewakili siklus kehidupan dua tokoh utamanya yang memang selalu berputar pada hal-hal itu saja. Meski repetitif dan berjalan lambat, filmnya tak pernah membosankan. Teddy tahu kapan waktunya menetap pada satu momen, dan kapan harus bergegas pindah ke destinasi berikutnya. Cakupan pemikiran yang dilontarkan cukup untuk menghadirkan perenungan. Teddy tak pernah coba menyanggah ajaran Islam tentang "wanita yang baik" dan hubungan seks. Dia hanya ingin memaparkan sebuah situasi yang sekilas nampak mustahil karena dianggap "tidak layak" tapi sesungguhnya begitu wajar. Kondisi disaat manusia menjadi manusia yang merasakan cinta, nafsu tapi juga meyakini dengan kuat suatu kepercayaan agama. Akhirnya timbul dilema dalam diri.
Seperti "Lovely Man", Teddy Soeriaatmadja menjadikan pendalaman karakter beserta hubungan yang terjalin diantara mereka sebagai sarana eksplorasi tema. Karakterisasi dimunculkan secara kuat, bukan hanya di permukaan saja. Ahmad sang penyendiri dan kurang baik dalam social skill memberikan kesempatan pada Reza Rahadian untuk memunculkan salah satu performa terbaik sepanjang karirnya. Gerak tubuh dan cara berjalannya quirky, begitu pula cara bicaranya yang penuh keraguan. Ratu Felisha mungkin hanya menjadi Ratu Felisha, tapi tidak ada aktris lain yang lebih cocok dari dia untuk memerankan Kinar. Kinar harus punya sex appeal tinggi supaya penonton percaya akan kemampuannya "menggoda iman" pria seperti Ahmad. Kedua tokoh utama pada akhirnya saling memberikan kebebasan, meski definisi "bebas" berbeda diantara mereka. Jika diperhatikan, baik Ahmad maupun Kinar sama-sama hanya mendapat kebahagiaan yang nyata dari satu sama lain, membuat saya terikat oleh jalinan hubungan mereka. 

Satu-satunya kekurangan yang menghalangi saya untuk lebih menyukai film ini adalah cara yang ditempuh Teddy Soeriaatmadja demi mencapai konklusi. Terlalu dipaksakan untuk sampai kesana hanya gara-gara satu kejadian yang menimpa Ahmad. Tapi konklusi yang dipilih memang sempurna, menguatkan kesan betapa pahit sesungguhnya hidup meski kebahagiaan yang rasanya manis tetap akan berulang kali datang berkunjung. Saat iringan musik berupa petikan gitar sederhana mulai mengalun menjelang ending, perasaan getir bercampur sesak serta merta mencekik saya. Sudah beberapa kali Teddy Soeriaatmadja menyuguhkan romansa dalam film-filmnya, tapi unlikely relationship antara Ahmad dan Kinar adalah yang paling romantis. "Something in the Way" sempat jatuh ke ranah klise disaat Kinar digambarkan sebagai prostitusi yang terpaksa melakukan pekerjaan tersebut karena harus menghidupi anaknya dan terlilit "hutang" pada Pinem (Verdi Solaiman) sang mucikari. Latar belakang macam itu bagai telah menjadi formula standar untuk penulisan karakter seorang prostitusi. Tapi formulaik bukan masalah besar disaat pengemasan narasi dan karakternya mengesankan. 

8 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

nonton dimna mas kayak nya seru film nya...

Rasyidharry mengatakan...

Di JAFF, filmnya Teddy sekarang cuma diputer di festival-festival soalnya

Angga Saputra mengatakan...

kirain nonton di biskop mas...
kalo di festival2 susah buat orang yg tinggal di luar jawa bwt nonton...

Rasyidharry mengatakan...

Sayangnya iya, festival luar Jawa yang cukup besar setauku cuma Balinale

Suryani Gaffar mengatakan...

Ngga bisa di download yah film nya?

Lusty Famela mengatakan...

susah banget ya nyari downloadan filmnya

ridwan vanessa mengatakan...

yang udah dapat link downloadnya tolong di share donk

Stevanus Aditya mengatakan...

iyanih, ditunggu yaa