Tampilkan postingan dengan label Reza Rahadian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Reza Rahadian. Tampilkan semua postingan

REVIEW - SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS

Statusnya sebagai film Indonesia pertama pemenang Golden Leopard (film terbaik) di Locarno Film Festival, niscaya memancing berbagai dialog perihal narasinya. Bagaimana persoalan toxic masculinity dan seksualitas dikupas, hingga subteks mengenai orde baru. Apalagi ini film karya Edwin, yang mengadaptasi novel buatan Eka Kurniawan. Ragam interpretasi pasti bermunculan. Tidak salah. Bagus malah. Tapi rasanya satu pencapaian bakal absen diperbincangkan, yakni bahwa Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (punya judul internasional Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash) merupakan film paling menghibur yang dilahirkan Edwin sejauh ini. 

Penyatuan berbagai genre seperti aksi 80-an, eksploitasi, komedi hitam, pula sedikit bumbu supernatural, membuat 114 menit durasinya terasa singkat. Penuh sesak, dan mungkin terlalu banyak hal terjadi, namun di situlah letak kesenangannya. Kapan lagi kita bisa menyaksikan adu kecepatan, bukan antara mobil-mobil mewah hasil modifikasi, melainkan dua truk, yang tentu saja baknya dihiasi lukisan serta tulisan menggelitik. 

Berlatar tahun 1980-an (lokasi tak spesifik, di mana pelat kendaraannya bertuliskan "AK-E" yang merupakan kebalikan dari "EKA"), dikisahkan ada seorang pemuda bernama Ajo Kawir (Marthino Lio) yang begitu gemar berkelahi. Menantang maut seolah jadi rutinitas. Semua dilakukan demi pembuktian maskulinitas, karena dia impoten. Pada era tatkala machismo diagungkan, impotensi tak ubahnya kehilangan harga diri, yang bagi sebagian pria, mungkin lebih buruk dari kematian. Ajo Kawir tidak takut mati. "Hanya orang yang tidak bisa ngaceng yang tidak takut mati", begitu narasinya berbicara. 

Walau berlatar masa lalu, sosok Ajo Kawir (sayangnya) masih relevan sampai sekarang. Tendensi agresivitas laki-laki agar kejantanannya tak dipertanyakan, masih kerap kita jumpai. Entah dengan cara berkelahi, melakukan hal-hal ekstrim, mengumbar sumpah serapah, atau yang paling parah, lewat pelehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. 

Berbagai jalan telah Ajo Kawir tempuh agar "burungnya berdiri", termasuk mengunjungi Mak Jerot (Christine Hakim) demi menjalani pengobatan, namun semua gagal. Situasi mulai berubah sejak pertemuan Ajo Kawir dengan Iteung (Ladya Cheryl), bodyguard seorang pengusaha. Pertemuan perdana mereka berujung baku hantam. Sinematografi yang ditangani Akiko Ashizawa (Tokyo Sonata, Creepy) belum cukup mumpuni membungkus perkelahian, apalagi bagi film yang mengaku terinspirasi oleh film laga Hong Kong. Momen terbaik justru hadir ketika kamera diam, menangkap dua aktornya habis-habisan melakoni koreografi. Totalitas dan fleksibilitas mereka (terutama Ladya Cheryl) patut diacungi jempol. 

Keduanya langsung jatuh cinta. Mungkin ketangguhan Iteung memikat maskulinitas Ajo, sementara Ajo di mata Iteung adalah jagoan. Walau "burung si jagoan" tidak bisa berdiri, Iteung enggan ambil pusing, bahkan mau dinikahi. Tentu ini tak sesederhana "proses menerima kelemahan pasangan dalam romantika". Biarpun naskah buatan Edwin dan Eka telah menyederhanakan novelnya (dalam konteks menekan keabsurdan), masih ada begitu banyak hal terjadi. 

Misi Ajo Kawir menghabisi target dari Paman Gembul (Piet Pagau) yang mewakili aksi aparat melenyapkan orang yang dipandang berbahaya, keberadaan Budi Baik (Reza Rahadian) si penjual obat kuat yang sejak lama menyukai Iteung, kemunculan wanita misterius bernama Jelita (Ratu Felisha dalam riasan yang membuatnya sukar dikenali) di paruh akhir yang menghembuskan napas mistis ke filmnya, dan masih banyak lagi. 

Sekali lagi, alurnya penuh sesak, beberapa momen dapat dipangkas, namun naskah mampu tampil rapi, dan terpenting, terarah. Seliar apa pun subplotnya bergulir, tetap mengerucut pada pokok pahasan tentang machismo. Secara spesifik, machismo yang terbentuk oleh pelestarian kekerasan dalam satu era. Sebuah era di mana para pemegang kuasa di area masing-masing (aparat, guru, presiden) menyalahgunakan kekuatan mereka. Sebuah era di mana "bos besar" melarang rakyat melihat gerhana matahari agar tidak buta, sambil "membutakan mata" atas tirani melalui pengalihan isu serta pelenyapan berbagai pihak. 

Terdapat satu poin yang terasa meleset. Sewaktu naskah meletakkan eksposisi berisi masa lalu karakter, timbul kesan karakter itu terangsang oleh pelecehan yang ia alami semasa kecil. Walau setelah makin banyak tabir terungkap, jelas bahwa kesan tersebut murni akibat timing yang kurang pas, dan filmnya bukan bermaksud meromantisasi pelecehan. 

Ada banyak seksualitas dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Baik dibarengi cinta, semata nafsu, atau wujud kejahatan. Baik dilakukan orang dewasa, maupun anak. Saya sangat mengapresiasi bagaimana Edwin tak menjadikan seks anak sebagai lahan eksploitasi. Tidak ada satu pun seksualitas yang melibatkan karakter bocah tampil gamblang, sehingga menjaga fungsinya selaku penelusuran atas trauma alih-alih sekadar shock value. 

Seksualitas juga jadi materi humor gelap, yang turut bertujuan menyentil maskulinitas. Nakal, playful, tapi bukan bentuk perversi. Dari situ, kritik berhasil disampaikan secara menghibur. Kekerasan zaman (atau bisa kita sebut "rezim") yang mengisi keseharian masyarakat, ibarat siulan-siulan untuk membangkitkan si burung, dan bila seseorang kukuh memuja kekerasan berlandaskan toxic masculinity tersebut, dan cuma mau berpikir memakai "burungnya", alangkah baiknya ia sekalian mati seperti sangkar burung yang tergantung di atas tiang. 

Selain humor dan beberapa aksi, daya pikat juga terletak pada penampilan para pemain. Ladya Cheryl kembali setelah lama absen (terakhir tampil di Flutter Echoes and Notes Concerning Nature yang tayang di JAFF 2015), dan kemampuannya memadukan akting dramatis dan kebolehan melakoni aksi tangan kosong, membuktikan kualitasnya masih sama. Marthino Lio dengan kegelisahan karakternya tidak kalah kuat, meski bagi saya, Reza Rahadian paling mencuri perhatian. 

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memakai gaya bahasa cenderung baku ala film-film Indonesia zaman dulu, dan di antara tiga pemain utama, Reza yang paling mulus menanganinya. Reza bicara, seolah ia memang hidup pada masa itu, pun paling meyakinkan saat berhadapan dengan adegan laga. Rasanya jika memerankan pohon pisang pun ia bakal tetap menarik disaksikan. 

Pada akhirnya, berdiri atau tidaknya burung Ajo Kawir bukan masalah. Bagaimana ia menerima itu adalah yang terpenting. Paruh keduanya membawa Ajo Kawir berubah. Dia tampak lebih damai, karena telah mulai coba berdamai dengan dirinya sendiri. Memaksa burung yang tertidur agar terbangun bisa lebih berbahaya ketimbang membangunkan macan. 


(Digital Screening Toronto International Film Festival)

REVIEW - SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 3

Secara filmis, Surga yang Tak Dirindukan 3 sejatinya agak lebih baik ketimbang film kedua, yang juga superior dibanding film pertama, berkat peralihan fokus dari kisah religi seputar poligami menuju disease porn berbalut drama keluarga. Belum pantas disebut "bagus", namun peningkatan tetaplah peningkatan. Wajib diapresiasi. Selain kehadiran Marsha Timothy menggantikan Raline Shah sebagai Meirose, ketertarikan menonton pun muncul saat Pritagita Arianegara (Salawaku) ditunjuk mengisi kursi penyutradaraan. 

Kita tahu seri Surga yang Tak Dirindukan kental nuansa patriarki, sehingga walau masih berbasis novel buatan Asma Nadia, pun naskahnya masih ditulis Alim Sudio, menarik disimak, bagaimana kehadiran sutradara wanita memberikan pengaruh. Dan memang tampak ada niatan menggeser perspektifnya. Kini giliran Pras (Fedi Nuril) berada di posisi mendiang istri pertamanya, Arini (Laudya Cynthia Bella), kala Ray (Reza Rahadian) kembali ke kehidupan Meirose.

Siapa Ray? Ingat saat di film pertama Meirose yang tengah hamil mencoba bunuh diri akibat ditinggal tanpa kejelasan oleh calon suaminya? Ray adalah pria itu. Ayah kandung Akbar (Ali Fikry). Biarpun Meirose sudah berusaha menyembunyikan itu dari sang suami, toh semua akhirnya terbongkar. Mengira Meirose masih mencintai Ray, amarah Pras memuncak setelah tahu bahwa istrinya pernah berduaan di kamar bersama Ray. Padahal kondisi saat itu, Meirose baru siuman pasca sebuah kecelakaan.

Bukankah Pras berada dalam situasi yang mirip sewaktu menyelamatkan Meirose dahulu? Saya takkan menyebut Surga yang Tak Dirindukan 3 sebagai film yang menggugat kerapuhan maskulinitas (apalagi kala gagasan "istri adalah pelayan suami sang kepala rumah tangga" masih tercium di sana-sini), tapi keputusan menukar sudut pandang, membuktikan filmnya mau berkembang. Warna religi dipertahankan tanpa mencekoki penonton dengan ceramah agama. 

Naskahnya lebih cerdik. Misal ketika Pras mengetahui jika puterinya, Nadia (Zara Leola) tak lagi suka mendongeng sebagaimana Arini, dan memilih membuat video dance di YouTube. Masalah itu bisa saja dibawakan memakai tone konservatif, namun Pras memilih sedikit membuka pikiran, kemudian berujar, "Apa yang kita suka belum tentu baik". Konteksnya mengingatkan, bukan melarang. Dan memang betul, hal yang kita sukai belum tentu baik bagi kita. 

Sayangnya deretan hal dipaksakan tetap jadi batu sandungan. Misalnya keputusan Ray menyembunyikan alasan meninggalkan Meirose, yang jelas sebuah retcon kasar terhadap alur film pertama. Atau kebingungan Pras akibat perusahaannya terlilit utang sebesar 2,5 miliar. Perusahaan macam apa yang terancam gulung tikar gara-gara angka tersebut? Sekecil apa profit margin-nya? Tapi biarlah. Saya takkan mempersoalkan lubang logika, untuk film yang memiliki kalimat epik, "SANDIWARA APA YANG SEDANG KALIAN MAINKAN?!". Kalau saja dirilis luas di bioskop, saya yakin kalimat itu bakal jadi bahan banyak meme.

Terpenting, filmnya watchable. Apabila Hanung membawa film keduanya tampil megah nan dramatis, Pritagita menangani emosinya secara lebih intim, dibantu penampilan solid jajaran pemain. Marsha tahu cara menyeimbangkan keteguhan dengan kelembutan, Zara cukup piawai menangani momen dramatis, sementara Reza, seperti biasa, nyaman disaksikan. Aksen medoknya tak selalu enak didengar, namun setidaknya, Reza memakai pendekatan lebih subtil, alih-alih hiperbolis layaknya banyak aktor lain.

Surga yang Tak Dirindukan 3 juga menjadi installment paling menggelitik melalui sentuhan humor, khususnya berkat dua nama: Dea Panendra dan Zsazsa Utari. Dea menjadi seorang guru berkelakuan konyol, dalam peran comic relief yang biasanya identik dengan Asri Welas (kebetulan nama karakternya pun Welas), sedangkan Zsazsa mencuri perhatian melalui celetukan-celetukannya (that "Kecap Bango" jokes will catch you off guard).

Saya bersedia melupakan segala kekurangan film ini, mengakuinya sebagai suguhan layak tonton, hingga tiba sebuah momen. Momen singkat yang sebenarnya tak perlu ada, atau minimal, bisa dipresentasikan secara berbeda. Momen yang memperlihatkan ketidakpekaan filmnya terhadap isu dengan urgency tinggi, yakni kekerasan dalam rumah tangga, di mana mayoritas pelaku adalah suami. 

Momen tersebut terjadi saat Pras yang bimbang mesti bagaimana menyikapi hubungan Meirose dan Ray, menemui seorang ustaz. Sang ustaz kemudian berpetuah, bahwa menurut Islam, jika istri berselingkuh, suami boleh memberi hukuman, mulai dari mengingatkan, memarahi, bahkan memukul asal tidak berniat melukai. Apa perlunya hal itu disampaikan, bila konfliknya sendiri tak pernah mengarah ke sana? 

Film tidak perlu memberi pesan moral. Tapi film wajib peka terhadap situasi, sebagai bentuk tanggung jawab sosial pembuat karya. Apakah bijak, secara sepintas mencatut ayat yang kerap disalahartikan, tanpa mengolah konteks sekaligus pemaknaannya lebih mendalam? Di masa kegelapan dulu, suami bisa menyiksa bahkan membunuh istri yang dianggap membangkang, sehingga "memukul tanpa niat melukai", sama halnya dengan diperbolehkannya pria mempunyai empat istri, merupakan "jalan tengah" yang harus diambil. Sekarang? Wahai pembuat film, silahkan direnungkan, lalu berusaha pahami, bagaimana perasaan istri korban kekerasan tatkala menyaksikan momen tersebut. 


Available on DISNEY+ HOTSTAR

REVIEW - LAYLA MAJNUN

Film terbaru buatan sutradara Monty Tiwa ini dibuat berdasarkan kisah cinta Layla dan penyair bernama Qays ibn al-Mullawah dari abad ke-7, yang telah diabadikan melalui banyak media, salah satunya puisi Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi yang ditulis pada 1188. Acha Septriasa memerankan Layla, sosok wanita religius, mandiri, sekaligus cerdas. Dia menjalani hidup sesuai keinginannya, baik sebagai pengajar sebuah pondok pesantren, maupun penulis novel. 

Hingga suatu hari, ia dipaksa menjalani perjodohan dengan Ibnu (Baim Wong), teman masa kecilnya sekaligus calon bupati. Awalnya Layla menolak. Selama ini ia begitu vokal menentang perjodohan, khususnya jika itu merenggut kebebasan seorang wanita. Tapi karena sang ibu (Dian Nitami) sudah banyak menerima bantuan dari ayah Ibnu (August Melasz), Layla tak mampu menolak. Selepas kepergiannya selama dua minggu ke Azerbaijan untuk menjadi dosen tamu, Layla bakal langsung menikahi Ibnu. 

Di sanalah Layla bertemu Samir (Reza Rahadian), salah satu mahasiswanya, yang dahulu sempat belajar di Indonesia. Hanya dalam waktu singkat, Layla yang di awal film enggan menikah, seketika jatuh hati kepada Samir. Apakah masuk akal? Pertanyaan itu bakal selalu bisa dimentahkan dengan jawaban, "Bukankah cinta memang tidak logis?", sehingga izinkan saya memodifikasinya sedikit. "Apakah penonton bisa mempercayai cinta keduanya?". 

Naskah buatan Alim Sudio kurang berhasil menciptakan rasa percaya itu. Ya, Samir jatuh hati setelah karya Layla menyembuhkan lukanya (elemen yang bisa ditarik ke gagasan lebih besar, soal kekuatan dari keindahan suatu karya literatur mengobati luka suatu bangsa tanpa memedulikan sekat jarak dan budaya). Tapi bagaimana dengan Layla? Andai tidak ada perjodohan, akankah Layla sebegitu mencintai Samir? Andai perangai Ibnu tak menghasilkan perbandingan "baik vs buruk" yang jomplang, akankah Layla sebegitu mencintai Samir?

Kalau bukan karena performa Reza dan Acha, mungkin Layla Majnun bakal hambar, pula menjemukan. Keduanya membuat saya betah melakoni perjalanan menikmati pemandangan Azerbaijan, yang ditangkap dengan cukup baik oleh Anggi Frisca selaku penata kamera. Acha selaku kuat perihal mengolah emosi, sedangkan Reza kembali membuktikan, kalau tuntutan berbicara menggunakan logat asing (sesekali bahasa setempat juga dipakai) tak mengahalangi ekspresi rasanya.

Ending-nya berusaha menjauhkan film ini dari tragedi yang mengisi kisah aslinya. Bukan semata demi akhir bahagia yang lebih disukai penonton, melainkan wujud pesan dari naskahnya, seputar ikatan keluarga. Gagasan yang menarik, walau lemahnya eksplorasi soal elemen kekeluargaan, membuat keputusan tersebut lebih mudah diapresiasi ketimbang dicintai.


Available on NETFLIX

REVIEW - BENYAMIN BIANG KEROK 2

Terkait Benyamin Biang Kerok (2018), saya termasuk minoritas. Saya tidak menentang, tidak membenci, meski harus diakui, hasilnya jauh dari kata “bagus”. Sangat jauh. Setidaknya ada visi yang jelas, walau apakah visi tersebut cocok diterapkan, patut dipertanyakan. Direncanakan sebagai trilogi, setelah film pertama mendapat respon cenderung negatif, baik perihal ulasan, jumlah penonton (730 ribu tidak sedikit, namun jelas bukan angka yang diharapkan), belum lagi perseteruan hak cipta, kabar perilisan film kedua tak kunjung jelas, sebelum akhirnya tayang di Disney+ Hotstar.

Berbeda dengan pendahulunya, Benyamin Biang Kerok 2 bak produk asal jadi, tanpa arah, yang buru-buru diselesaikan guna mengejar tanggal tayang di streaming platform. Selepas rekap beberapa menit yang tidak banyak membantu akibat kisah film pertamanya kurang meninggalkan kesan, protagonis kita, Pengki (Reza Rahadian), berkata pada penonton, jika petualangannya melawan sindikat mafia pimpinan Said (Qomar) demi menyelamatkan sang pujaan hati, Aida (Delia Husein), bakal lebih seru dari film-film Amerika. Berarti, Hanung bersama trio penulis naskahnya, Bagus Bramanti, Senoaji Julius, dan Hilman Mutasi, masih berniat membuat blockbuster mahal, sarat aksi berteknologi tinggi, juga bertabur CGI.

Tapi itu tidak terlihat. Aksi bisa dihitung jari, sementara CGI, selain kuantitasnya menurun drastis, begitu pula kualitasnya. Ada satu momen yang berpotensi melahirkan hiburan berupa pertarungan absurd, di mana Sabeni (Rano Karno), ayah Pengki, memancarkan laser untuk menghajar habis anak buah Hengki (Hamka Siregar) yang berniat membunuh Pengki, disusul tembakan gelombang dari gitar elektrik Nurlela (Lydia Kandou). Tapi efek visualnya setengah (atau malah seperempat?) matang, yang diperparah oleh kecanggungan pengadeganan Hanung.

Mau dibawa ke mana film ini? Seberapa buru-buru penyelesaiannya? Jangankan pasca-produksi, saya pun mempertanyakan, apakah proses produksi, termasuk pick-up, benar-benar sudah usai jauh-jauh hari? Alurnya sendiri sudah dilukai oleh keputusan memecah cerita. Terasa betul kisah dimulai dari tengah, sehingga tanpa struktur penceritaan layak. Belum lagi, perpindahan antar adegan tidak dijembatani secara mulus, seolah tidak ada stok transisi yang cukup.

Misalnya sewaktu Pengki, Somad (Adjis Doaibu), dan Achie (Aci Resti) hendak pergi ke hutan di Kalimantan menggunakan helikopter, untuk memecahkan misteri harta karun Soekarno, yang diduga jadi incaran utama para mafia. Sayang, helikopter kepunyaan Nyak Mami (Meriam Bellina) tiba-tiba mogok. Lalu Achie berkata, bahwa dia tahu harus berbuat apa. Sejurus kemudian, kita melihat CGI shot yang menampilkan sebuah pesawat di angkasa. Mendadak mereka telah tiba di tujuan. Pesawat siapa itu? Mengapa efek visualnya tampak amat mentah? Bagaimana pula Hengki beserta anak buahnya bisa tahu persis keberadaan ketiganya di tengah hutan keramat?

Paling tidak saya menikmati penampilan para pelakon senior, khususnya Rano Karno dan Lydia Kandou, yang berusaha sekuat tenaga memaksimalkan porsi masing-masing. Reza, bermodalkan kejenakaan gestur serta permainan logat dan warna suaranya pun masih nyaman disaksikan. Satu yang benar-benar mengganggu, terlebih di third act, hanya Aci Resi dengan gerutuan dan rengekan menyebalkan yang tak kunjung berakhir.

Artinya jajaran cast berhasil menyelamatkan film ini bukan? Kata “menyelamatkan” rasanya berlebihan. Paruh akhirnya membuat Benyamin Biang Kerok 2 tidak terselamatkan. Antiklimaks, cuma menampilkan sekelumit aksi singkat berisi serbuan beruang dengan CGI menyedihkan, nomor musikal cringey nan murahan diiringi lagu hip hop, pula konklusi dadakan yang menyisakan banyak subplot tanpa resolusi.

Satu hal paling fatal: rambut Pengki berubah! Itu bukan rambut Pengki, tapi rambut Reza. Pengki beralasan, rambutnya dipotong oleh suku pedalaman. Saya curiga, konklusinya adalah pick-up yang diambil jauh setelah produksi selesai, besar kemungkinan untuk menghapus jembatan menuju film ketiga, yang konon merupakan adaptasi Tarsan Kota (1974). Syukurlah bila memang demikian. Cukup. Berhenti sampai di sini.


Available on DISNEY+ HOTSTAR

TOKO BARANG MANTAN (2020)

Toko Barang Mantan relevan untuk masa sekarang, di mana kata “mantan” dipandang begitu dramatis, sementara keambyaran diagungkan. Kisahnya tentang Tristan (Reza Rahadian) si “mahasiswa abadi” yang rela meninggalkan kuliah demi mengelola Toko Barang Mantan. Seperti namanya, toko ini melayani jual-beli barang-barang kenangan pemberian mantan. Bila sunguh-sungguh ada di dunia nyata, mungkin toko ini sudah viral. Tapi tidak di filmnya. Bahkan Tristan sampai kesulitan membayar sewa gedung.

Kenapa? Mungkin akibat kengototan Tristan untuk tidak berpromosi lewat media sosial. Menurutnya, proses tatap muka antara penjual dan pembeli wajib terjadi, demi pemaknaan mendalam terhadap barangnya. Mungkin juga karena sebagai seseorang yang tidak percaya cinta, bahkan sampai menyebutnya “tai kucing”, Tristan tidak cocok menjalankan bisnis ini. Jadi bagaimana bisa sosok skeptis sekaligus idealis sepertinya terpikir akan konsep tersebut? Konsep yang semestinya hanya dipedulikan oleh mereka yang memuja cinta (terkadang secara berlebihan) beserta segala kenangannya.

Inkonsistensi itulah kelemahan terbesar Toko Barang Mantan. Penceritaan, yang dimotori Viva Westi (Jenderal Soedirman, Koki-Koki Cilik 2) di kursi sutradara dan Titien Wattimena (trilogi Dilan) selaku penulis naskah, memang tak sebegitu solid. Tampak dari beberapa menit awal yang berlangsung cepat cenderung buru-buru, berantakan, dan sulit diikuti. Satu per satu konsumen mengunjungi Tristan dan dua karyawannya, Rio (Iedil Dzuhrie Alaudin) dan Amel (Dea Panendra), guna menjual barang pemberian mantan masing-masing, yang juga memfasilitasi penampilan deretan cameo.

Humor absurd mengiringi kemunculan tiap konsumen, yang sejatinya tidak dibarengi materi dasar kuat, namun setidaknya berhasil memancing senyum berkat penampilan maksimal jajaran cast, di mana mereka tak jarang melakukan improvisasi, yang berjasa memperkuat kesan organik. Nanti saya bakal membahas Reza Rahadian, tapi pertama-tama pujian harus diberikan kepada Dea Panendra, yang sekali lagi melahirkan karakter pendukung memorable. Asyik, sesekali menggelitik, pun berperan menambah bobot emosi kala melakoni adegan dramatis.

Kealamian akting juga memegang kunci dalam presentasi romansa Tristan dan Laras (Marsha Timothy). Laras merupakan mantan Tristan semasa kuliah. Bisa dibilang mantan terindah, sebab hingga kini, Tristan masih menyimpan perasaan. Tapi reuni keduanya dibarengi hal mengejutkan, saat Laras memberikan undangan pernikahan. Dahulu, Laras pergi karena Tristan selalu enggan mengucap kata “cinta”. Sekarang permasalah serupa lagi-lagi jadi penghalang usaha Tristan merebut kembali hati sang mantan.

Penokohan Tristan dan Laura yang sama-sama keras, memproduksi dinamika berupa naik-turun rasa yang amat dibutuhkan sajian romansa. Rasa manis saat keduanya saling menggoda, atau kepedihan sewaktu pertengkaran pecah, semua terasa nyata berkat penampilan Reza dan Marsha yang memang “nyata”. Di satu titik, Tristan mengutarakan kekagumannya atas respon malu-malu Laras. Di situ, Marsha mampu menunjukkan bagaimana seseorang yang sedang jatuh cinta dibuat tersipu mendengar gombalan-gombalan, yang walau ditampik oleh otak, nyatanya membuat hati tidak karuan.

Saya selalu lebih menyukai penampilan Reza di film-film sederhana seperti ini ketimbang transformasi ekstrim yang kerap ia lakukan. Karena seperti sudah sering saya sampaikan di ulasan-ulasan lain, minimal di generasi ini, tidak ada pelakon lain yang sebaik Reza dalam urusan kreativitas mengolah emosi, memainkan intonasi, dan mengeksplorasi ragam aksi-reaksi saat berakting. Natural sekaligus jauh dari monoton.

Viva Westi sadar betul kapasitas kedua pemain utamanya, lalu menggantungkan semua urusan membentuk rasa kepada mereka. Tidak banyak modifikasi atau inovasi di pengadeganan. Kamera lebih sering mengambil posisi close up agar menangkap ekspresi aktor semaksimal mungkin. Dan itu bukan masalah, melainkan keberhasilan memanfaatkan potensi. Satu-satunya kelemahan adalah, begitu konfik memanas meningkat, sutradara terlalu bergantung pada peningkatan intensitas melalui adu teriakan. Tapi itu pun bukan dosa besar. Tidak sebesar dosa mantan yang meninggalkan kita saat sedang sayang-sayangnya.

IMPERFECT (2019)

Setelah Susah Sinyal lalu Milly & Mamet yang merupakan penurunan dibanding dua karya perdananya meski tetep digarap baik, Ernest Prakasa kembali pada performa terbaiknya melalui Imperfect selaku adaptasi novel berjudul sama karya sang istri, Meira Anastasia, yang di sini turut berperan sebagai penulis naskah sekaligus co-director. Membahas persoalan sensitif perihal standar kecantikan, filmnya bijak menyikapi kompleksitas isu tersebut, mengambil lebih dari satu perspektif, mengambil jalan tengah tanpa perlu terkesan main aman dengan tetap menyediakan solusi berupa, “Berusahalah menjadi versi terbaik dirimu”.

Melalui sekuen pembuka yang memperlihatkan sensitivitas bertutur Ernest dan Meira, kita melihat bagaimana sejak kecil, Rara (Jessica Mila) sudah jadi korban body shaming, bahkan oleh sang ibu, Debby (Karina Suwandi) yang di masa mudanya merupakan seorang model. Ketika adiknya, Lulu (Yasmin Napper) banyak dipuji karena paras ayu serta tubuh langsing yang menurun dari Debby, Rara lebih mirip ayahnya, Hendro (Kiki Narendra) yang bertubuh tambun, berkulit gelap, dan berambut ikal. Begitu Hendro meninggal, Rara merasa sendirian, dan cokelat selalu jadi pelarian tiap dibuat kesal oleh komentar pedas atau paksaan diet dari Debby.

Di kantor kondisinya tidak jauh beda. Rara hanya memiliki Fey (Shareefa Daanish), si gadis berpenampilan tomboi serba hitam sebagai teman. Setidaknya keberadaan Dika (Reza Rahadian), si fotografer tampan kekasih Rara, kerap jadi penawar kepahitan. Di depan Dika, Rara bisa menjadi dirinya sendiri yang daripada kesempurnaan fisik, lebih memedulikan kebaikan hati, sebagaimana ia perlihatkan kala secara sukarela mengajar anak-anak asuhan Bu Siska (Asri Welas) yang tinggal di pemukiman kumuh. Sampai peluang meningkatkan karir tiba, ketika bos Rara, Kelvin (Dion Wiyoko) menawarinya kenaikan jabatan, dengan syarat, Rara mau mengubah penampilannya.

Pertama, pemilihan pemain Ernest dan Meira (tentunya berkat jasa casting director pula) patut diacungi jempol. Imperfect menyajikan ensemble cast yang bukan asal ramai, tapi masing-masing nama, sekecil apa pun perannya, sempurna melakoni tiap peran. Di jajaran pendukung, Karina Suwandi bukan semata sosok ibu kejam; Yasmin Napper adalah akrtis muda yang saya pastikan takkan lama lagi mendapat peran utama di film remaja; Boy William seolah ditakdirkan memerankan George, kekasih Lulu sekaligus “selebgram dangkal”; sedangkan Shareefa Daanish  bisa jadi menemukan angin kedua di karirnya melalui kejenakaan yang sebelumnya baru pernah ia perlihatkan di sinetron.

Para pencuri perhatian lainnya adalah Kiky Saputri (sebagai Neti), Zsazsa Utari (sebagai Maria), Aci Resti (sebagai Prita), dan Neneng Wulandari (sebagai Endah), yang jadi ujung tombak elemen humor, menjadikan ini film terlucu Ernest. Tentu pondasinya memang sudah kuat, pun Imperfect memiliki kelucuan yang terasa “paling Ernest” terkait ketajamannya. Dari Yesus hingga jenazah dijadikan materi. Dan kali ini tidak ada kesan acak, sebab kuartet gadis di atas juga merasakan kegelisahan seputar fisik, memberi benang merah kuat dengan konflik utamanya.

Sementara kedua pemain utamanya tidak kalah bersinar. Tidak perlu banyak membahas Reza Rahadian. Pidato sambutan acara kecamatan pun bisa dikemas dinamis dan menarik olehnya. Jessica Mila, yang sepertinya juga menambah beberapa kilogram berat badannya selain memakai fat suit sehingga transformasi karakternya kelak terkesan natural, mampu membuat kita mendukung Rara mencapai impiannya, bahkan sewaktu ia “tersesat” sekalipun. Romansa mereka merupakan kunci. Reza dan Jessica menghadirkan chemistry yang memudahkan kita percaya, bahwa romantika Dika dan Rara adalah ketulusan yang didasari ketertarikan terhadap inner beauty.

Permainan flow Ernest pun meningkat dibanding keempat film sebelumnya. Tidak ada lagi lompatan kasar dan adegan minim signifikansi yang dipaksa masuk di sela-sela penceritaan (sebenarnya masalah ini rutin muncul di film produksi Starvision). Satu-satunya ganjalan adalah lemahnya departemen tata suara yang kerap mengakibatkan kata-kata dari mulut pemain sukar didengar. Pun seperti telah disebut di awal, sensitivitas pengarahan Ernest dan Meira sungguh kuat, yang membantu terciptanya keintiman emosional di adegan berlatar keluarga, pula pemandangan uplifting jelang akhir yang memantapkan status Imperfect kepada perayaan atas kecantikan dalam ketidaksempurnaan.

Imperfect semakin layak diapresiasi atas kedalaman eksplorasi isunya. Benar bahwa mereka yang kerap disebut “buruk rupa” mengalami ketidakadilan, namun bukan berarti keindahan paras otomatis memuluskan hidup pemiliknya. Konflik kakak beradik Rara dan Lulu membuktikan itu. Dari konflik itu pula lahir salah satu kalimat favorit saya di film ini: “Ngapain mikir omongan orang, orangnya aja nggak mikirin omongannya sendiri”. Lugas. Menusuk. Tepat sasaran dalam menyentil kultur toxic media sosial dewasa ini.

Tidak ada yang disalahkan (maupun dibenarkan sepenuhnya) di sini. Debby punya alasan mengkritik Rara, pun bukan kesalahan kala akhirnya memutuskan berubah. Karena itu hidup dia, tubuh dia, hak dia. Menjadi sebuah kesalahan ketika bukan cuma fisik, jati diri ikut diubah secara terpaksa demi beragam tuntutan sosial. Saat itulah selain berat badan, harta-harta berharga (baca: sosok-sosok tercinta) dalam hidup juga hilang.

HABIBIE & AINUN 3 (2019)

Di realita, romantika Habibie dan Ainun akan terus abadi dan menyentuh hati, tapi setelah tujuh tahun lalu Habibie & Ainun jadi fenomena saat mencatatkan sekitar 4,6 juta penonton, lalu disusul empat tahun kemudian oleh pengultusan dengan pendekatan blockbuster bernama Rudy Habibie, harus diakui bahwa di layar lebar, kesakralan kisah cinta ini mulai terkikis. Habibie & Ainun 3 menegaskan itu lewat paparan drama yang kembali digarap mewah, diisi akting-akting kuat, namun dilemahkan oleh ketiadaan jiwa.

Jika Rudy Habibie berfokus pada, well, Rudy Habibie (Reza Rahadian), maka film ketiga ini, yang awalnya berjudul Ainun, menceritakan lebih jauh soal kehidupan Hasri Ainun Besari (Maudy Ayunda) sebelum bersatu dengan pasangan sehidup sematinya. Alurnya dibuka saat suatu malam, di acara kumpul keluarga, Habibie menceritakan sosok mendiang sang istri kepada cucu-cucunya. Teguh Widodo, Orlando Bassi, dan Aktris Handradjasa selaku tim tata rias berhasil memperbaiki kekurangan fatal film pertama terkait menuakan para aktor kala secara meyakinkan menyulap Reza menjadi Habibie di usia senja. Sebagai bentuk kepercayaan diri, Reza sempat dibuat membuka pecinya, sekilas menunjukkan uban serta rambut yang telah menipis.

Tentu performa sang aktor turut membantu, di mana melalui detail gestur tangan juga mimik wajah, kerentaan karakternya mampu ditampakkan oleh Reza. Tapi sebaik apa pun aktingnya, Reza tetap tak kuasa menolong CGI buruk, kala latarnya mundur ke era 1950an. Habibie remaja dihidupkan memakai teknologi de-aging menggelikan, yang gagal menciptakan sinkronisasi antara wajah dengan gerak leher Reza. Bukan cuma terlalu mulus (in a weird way), wajahnya seperti melayang. Beruntung ini film tentang Ainun, sehingga kita takkan sering melihat hasil menyedihkan tersebut.

Ainun bercita-cita menjadi dokter meski sebagai wanita, impian itu kerap dianggap remeh. Bahkan begitu diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, diskriminasi gender terus dirasakan, baik dari olok-olok mahasiswa pria, maupun pandangan sebelah mata sang dosen, Pak Husodo (Arswendi Bening Swara). Jadi apakah naskah buatan Ifan Ismail (The Gift, Ayat-Ayat Cinta 2, Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta) mengusung pesan female empowerment? Benar bahwa filmnya menyimpan sederet momen perlawanan gambling terhadap seksisme, namun sejatinya, ini hanyalah quasi-empowerment.

Contohnya sewaktu Arlis (Aghniny Haque), sahabat Ainun yang terkenal berani melawan penindasan bahkan memukul senior, mengucapkan kalimat “Ini urusan laki-laki”, saat teman dekatnya, Soelarto (Kevin Ardilova), hendak terlibat baku hantam dengan Ahmad (Jefri Nichol), mahasiswa Fakultas Hukum yang berusaha merebut hati Ainun. Sejak kapan cerita empowerment mengasosiasikan perkelahian sebagai “urusan laki-laki”?

Setelahnya, Habibie & Ainun 3 mengambil sudut pandang menarik terkait tujuannya menguatkan percintaan pasangan legendarisnya. Filmnya mengetengahkan bagaimana mereka bisa langgeng, karena masing-masing mampu belajar dari pengalaman dan kesalahan masa lalu, khususnya hubungan Ainun dengan Ahmad. Bahkan karakter Habibie di sini hanya sebatas pendukung. Setidaknya penonton bisa dibuat memahami itu, meski dilakukan memakai cara gampang, yakni memberi Ahmad karakterisasi yang benar-benar berlawanan dengan Habibie.

Dia lebih agresif, jago merayu wanita, gemar berkelahi, selalu mengalihkan pembicaraan sewaktu Ainun menanyakan soal rencana masa depannya, dan ingin keluar dari Indonesia. Tidak diragukan lagi, Jefri adalah jagonya perihal memerankan tokoh berkepribadian seperti itu, dengan tenaga yang menjadi salah satu dinamo utama penggerak filmnya. Setelah Bebas, ini merupakan kali kedua Jefri dan Reza bermain di satu judul tapi tidak berbagi adegan bersama. Saya berharap suatu hari bisa menyaksikan keduanya bertatap muka di layar.

Seperti Rudy Habibie, Hanung Bramantyo kembali menjadi sutradara. Bermodal pengalaman hampir dua dekade, Hanung adalah sutradara yang hafal betul formula tontonan arus utama agar bisa dinikmati penonton sebanyak mungkin. Bagaimana kamera harus diposisikan supaya gambar nyaman dilihat, bagaimana cerita mengalir supaya mudah diikuti, atau kapan musik mesti muncul dan tenggelam demi mendramatisasi peristiwa. Mungkin Hanung sudah melakukan itu secara otomatis. Tapi otomatisasi itu pula yang membuat film ini bak tanpa jiwa. Habibie & Ainun 3 seperti dibuat berdasarkan rumus-rumus pasti ketimbang suatu permainan rasa.

Bakal semakin kosong andai filmnya tak memiliki Maudy Ayunda dengan segala sensibilitasnya yang sanggup membedakan mana “kelembutan” dan mana “kelemahan”, juga Arswendi Bening Swara yang di balik sikap galak serta kata-kata pedasnya, juga menyimpan keteduhan dalam bertutur kata. Habibie & Ainun 3 merupakan film yang digarap secara kompeten, layak tonton, tetapi urung mengulangi pencapaian film pertama, apalagi menangkap elemen terpenting dari kisah yang diangkat, yaitu “rasa”.

JAFF 2019 - ABRACADABRA

Pesulap bernama Lukman (Reza Rahadian) memutuskan pensiun. Di pertunjukkan terakhirnya, ia bertaruh, kalau triknya gagal, maka ia takkan melakukan sulap lagi. Sebuah alasan semata, karena di situ, Lukman memang berniat gagal. Triknya adalah menghilangkan bocah dalam kotak. Alih-alih kotak khusus, ia memakai kotak kayu biasa peninggalan sang ayah, seorang pesulap tersohor yang hilang pasca pensiun. Tapi, saat dibuka, kotak itu kosong. Kekosongan yang juga terasa di hati saya selama menonton Abracadabra.

Berikutnya, orang-orang lain ikut hilang karena kotak tersebut, dan Lukman melakukan perjalanan guna mengembalikan mereka, sembari mencari tahu rahasia di balik kotak kayu bertuliskan “Abracadabra” itu. Perjalanan yang melibatkan kejar-kejaran dengan trio polisi konyol (Butet Kertaradjasa, Ence Bagus, Imam Darto) hingga kemunculan wanita berpenampilan glamor (Salvita Decorte) yang bak berasal dari masa tatkala kabaret Moulin Rouge mencapai puncak kejayaan.

Faozan Rizal (Habibie & Ainun, Say I Love You), selaku sutradara sekaligus penulis naskah, menjadikan film ini taman bermain. Sejak menit-menit awal ketika Lukman mengadakan pertunjukan sementara pesulap-pesulap lain—termasuk Paul Agusta dengan dandanan ala drag queen dan Ismail Basbeth yang bisa melayang—ikut menonton, absurditas sudah terbangun. Ini bukan dunia di mana manusia berperilaku seperti realita, kultur dan teknologi bagai berasal dari dongeng, pun nalar tidak bekerja “sebagaimana mestinya”.

Kreativitas ide liar Faozan Rizal dalam membangun dunia memang menarik, sama menariknya dengan bagaimana sang sutradara, yang lebih dikenal sebagai sinematografer, menjadikan Abracadabra salah satu suguhan visual paling unik serta memanjakan mata dalam perfilman Indonesia. Terkesan quirky dan banyak dihiasi warna pastel, tidak salah bila ingatan langsung tertuju pada karya-karya Wes Anderson, khususnya The Grand Budapest Hotel (2014).

Ragam warna pembungkus latar termasuk kantor polisi berwarna merah muda di tiap sudut, mise-en-scène yang memperhatikan betul presisi penempatan objek termasuk aktor secara detail, pesawat dan mobil mainan yang berjalan di atas sebuah peta untuk menggambarkan perjalanan Lukman, kostum-kostum ala pertunjukan panggung megah, menciptakan pemandangan pemuas mata, yang memperlihatkan apa jadinya kalau perkawinan empat departemen, yaitu penyutradaraan, sinematografi, tata kostum, dan art direction, berlangsung mulus.

Hampir tiap shot bisa di-capture sebagai wallpaper, untuk kemudian diamati terkait luar biasanya Faozan dan tim memperhatikan detail. Visualnya memang menghipnotis. Tapi seperti orang dihipnotis, hati terasa hampa. Ceritanya tenggelam dalam eksperimentasi gambar dan gaya. Padahal sejatinya, kisah Abracadabra sederhana saja. Tentang perjalanan karakternya memahami, mempercayai, lalu akhirnya menerima.

Dikisahkan, kotak milik Lukman terbuat dari kayu Yggdrasil, pohon dari mitologi Norse, yang menghubungkan sembilan dunia. Silahkan cari tahu beberapa kisah soal Yggdrasil dan mitologi Norse secara umum, termasuk tentang konsep waktu yang tidak linear dalam mitologi itu. Anda akan bisa memecahkan garis besar teki-teki Abracadabra. Tapi adanya makna tersirat dan metafora tidak berbanding lurus dengan kualitas penceritaan. Terpenting adalah pengemasannya. Dan di sini, rasa dalam drama kehidupan Lukman lenyap. Bernasib sama adalah kualitas akting Reza Rahadian.

Jangan salah, Reza tidak pernah buruk. Hanya saja, kesan spesial yang kerap mengiringi kemunculannya urung nampak. Dia tak kuasa memperbaiki penokohan membosankan Lukman, seorang pria gloomy di antara dunia sarat keceriaan. Abracadabra mengandung dua sisi yang tak pernah bisa melebur. Tuturan komersil ringan bersenjatakan lelucon receh yang cukup efektif memancing tawa berbenturan dengan kontemplasi kelam. Ketimbang saling mengisi, pertemuan keduanya melahirkan inkonsistensi. Film ini kental pengaruh Wes Anderson, dan sulit tidak berharap Faozan mau sepenuhnya menempuh jalur komedik seperti Anderson.

Proses batin protagonisnya gagal dieksplorasi, sehingga saat akhirnya ia mencapai destinasi, transformasi internalnya kurang meyakinkan. Sungguh saya ingin menyukai Abracadabra, khususnya karena totalitas para pembuatnya melahirkan parade visual luar biasa patut diacungi jempol. Tapi patut disadari bahwa urgensi di industri perfilman kita adalah soal perbikan penulisan naskah, bukan gambar cantik.

TWIVORTIARE (2019)

“Saat bayi kembar siam dipisahkan, mereka akan mempunyai jantung, suhu tubuh, dan organ-organ lain sendiri-sendiri”, begitu kira-kira penjelasan Beno (Reza Rahadian) kepada Alex (Raihaanun). Begitu pula pasangan, atau dalam konteks film ini perceraian suami-istri. Twivortiare, selaku adaptasi novel berjudul sama (plus sebagian kisah Divortiare) karya Ika Natassa, mengupas bagaimana sepasang insan yang saling mencintai berjuang mengatasi perbedaan-perbedaan individual tersebut.

Pastikan anda tak ketinggalan sedikit pun adegan pembuka yang menata pondasi hubungan kedua tokoh utama. Merasa pernikahan mereka telah kehilangan nyawa, Beno dan Alex memutuskan bercerai. Dua tahun berselang, rupanya cinta itu belum padam. Ketika Beno pelan-pelan berusaha merebut lagi hati si mantan istri, Alex kesulitan beranjak pergi walau tengah berpacaran dengan Denny (Denny Sumargo).

Keduanya pun mengikat janji suci untuk kali kedua, berjanji bakal bersikap lebih baik. Alex berjanji akan melatih kesabaran, sementara Beno perlu meluangkan waktu di luar kesibukan sebagai dokter bedah. Tapi tidak ada hubungan tanpa gesekan. Di sini menariknya Twivortiare. Dipandu naskah buatan Alim Sudio (Surga yang tak Dirindukan, Ayat-Ayat Cinta 2) sutradara Benni Setiawan (Sepatu Dahlan, Toba Dreams, Insya Allah Sah), kisahnya bukan menawarkan buaian romantika manis bahwa “semua akan baik-baik saja”. Karena semua tidak akan (selalu) baik-baik saja.

Kita diajak melihat Beno dan Alex bertengkar, berbaikan, bertengkar lagi, berbaikan lagi, begitu seterusnya. Tidak secara asal, sebab segala pertengkaran itu dipicu alasan serupa. Biarpun mencapai pertengahan kesan repetitif gagal dihindari, dari situ, naskahnya berhasil menyuguhkan proses belajar secara bertahap guna saling mengenali, memahami, agar dapat memperbaiki. Pertengkaran jelas berarti masalah, namun bukan musibah, bukan pula bukti ketiadaan cinta.

Twivortiare merupakan cerita cinta berbasis karakter yang mengedepankan pasangan itu sendiri ketimbang elemen-elemen lain. Alhasil, kepiawaian duet penampil utama jadi faktor terpenting. Dan saya berani menyatakan bahwa urusan chemistry, Reza-Raihaanun merupakan kombinasi tanpa tanding. Tidak berlebihan menyebut mereka salah satu pasangan terbaik yang pernah saya saksikan.

Bagaimana interaksi verbal dituturkan begitu dinamis lewat penghantaran kaya variasi ditambah kejelian mengatur tempo hingga bagaimana rasa dihidupkan di layar dalam otentitas luar biasa yang dengan mudah “menulari” penonton, jadi beberapa bukti kehebatan Reza dan Raihaanun mengagkat standar “on-screen couple” ke tingkat lebih tinggi, yang tidak pernah saya bayangkan mampu dicapai film negeri ini.

Sedangkan di jajaran pendukung, Anggika Bolsterli dan Boris Bokir, masing-masing sebagai dua sahabat Alex, Wina dan Ryan, berjasa mencairkan suasana lewat kejenakaan yang sesekali terselip di antara intensitas konflik. Anggika seperti biasa bersenjatakan antusiasme bertenaga, sementara Boris jeli melontarkan kelakar-kelakar singkat namun segar.

Padukan akting Reza dan Raihaanun dengan pengarahan Benni Setiawan yang kembali menemukan sensitivitas sejak Toba Dreams (2015)—sambil sesekali dibarengi lagu manis Kembali ke Awal dari Glenn Fredly—jadilah sajian emosional bahkan sejak menit-menit awal. Benni enggan mencoba macam-macam. Memahami esensi kisah (berbasis karakter) sekaligus kapasitas dua pemeran utamanya, Benni “cuma” berusaha membangun keintiman dua sejoli. Daripada gambar cantik, kamera berfokus untuk sesempurna mungkin menangkap permainan rasa Reza dan Raihaanun. Rasa yang begitu kuat sehingga memancing pertanyaan, “Inikah cinta?”.

MY STUPID BOSS 2 (2019)

Walau kelucuannya fluktuatif, My Stupid Boss (2016)—adaptasi novel berjudul sama karya Chaos@work yang sukses mengumpulkan lebih dari tiga juta penonton—menghembuskan angin segar bagi genre komedi tanah air. Ketika banyak komedi kita kurang memperhatikan tampilan sinematik, saya terkejut mendapati Upi (30 Hari Mencari Cinta, Belenggu, My Generation) dan tim artistiknya amat memperhatikan detail pemilihan warna maupun properti. Belum lagi membahas transformasi ikonik Reza Rahadian.

Memasuki film kedua, kelebihan-kelebihan tadi mampu dipertahankan. Di salah satu kesempatan kita bisa melihat pulpen, kalkulator, sampai kertas diberi warna merah muda yang senada, sementara pencahayaan di set kamar hotel Vietnam tak kalah memanjakan mata. Demikian pula Reza yang mampu mengangkat humor terlemah sekalipun lewat talenta komikal kreatifnya, entah dari gestur maupun percampuran Bahasa Indonesia, Malaysia, Jawa, dan Inggris (semaunya).

Biar begitu, secara natural daya kejut milik keunggulan-keunggulan tersebut jelas memudar. Selaku penulis, Upi memahami risiko itu, lalu memutuskan mengikuti formula sekuel kebanyakan dengan membuat filmnya lebih besar, baik soal kegilaan komedi atau skala cerita. Bukan cuma berlatar di kantor dan Malaysia, karakternya mengajak kita berjalan-jalan menuju Vietnam.

Dipicu kepelitan Bossman (Reza Rahadian) yang menolak membelikan mesin pemotong kayu baru, sebagian besar karyawan pabriknya memutuskan keluar. Sebagai solusi, Bossman membawa Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Chew Kinwah), dan Adrian (Iedil Putra) ke Vietnam guna mencari karyawan baru dengan harga murah dengan bantuan warga lokal bernama Nguyen (Morgan Oey). Secara bersamaan, Bossman pun menghadiri pertemuan pebisnis furnitur se-Asia selaku pembicara. Makhluk macam apa yang mengundang pebisnis gagal seperti dia?

Tentu anda tak perlu repot-repot memikirkan logika semacam itu, karena di sini, Upi menambah absurditas yang sesungguhnya sudah cukup tinggi di film pertama. Seperti pendahulunya, sederet lelucon gagal mendarat tepat sasaran, entah akibat penulisan atau penyutradaraan Upi yang kerap lalai memperhatikan timing melempar kelucuan. Fluktuasinya memang cukup ekstrim. My Stupid Boss 2 bisa begitu datar di satu waktu, lalu luar biasa lucu di kesempatan lain.

Beruntung para pemain tampil total, sehingga kehadiran lelucon hambar pun tak sampai taraf mengganggu. Bukan cuma Reza, Morgan sebagai pria Vietnam berdarah panas, juga kelima anak buah Bossman dengan variasi kepribadian yang makin kuat. Saya suka adegan saat Kerani dikelilingi oleh teman-teman sekantornya. Menangkapnya dengan close up, Upi menjadikan situasi tersebut sebuah pameran akan kepiawaian para pemain memerankan tokoh-tokoh kaya warna. Tapi absurditas terlucu justru ditampilkan dua nama lain, yakni Shahil Shah dan Verdi Solaiman sebagai dua kubu gangster berlawanan yang datang untuk menagih hutang Bossman. Keduanya habis-habisan mengerahkan bakat komedik masing-masing dalam sebuah “pertempuran epic” yang takkan anda duga kemunculannya.

My Stupid Boss 2 bergulir cukup pendek, hannya 96 menit (film pertamanya 108 menit), membuatnya lebih padat dan dinamis, khususnya saat Upi menggulirkan kisahnya dalam kecepatan penuh. Namun, dari segi narasi, My Stupid Boss 2 mempunyai kelemahan serupa pendahulunya, yaitu third act. Jika film pertama memaksakan diri beralih ke drama demi menunjukkan kebaikan terpendam Bossman, kali ini (dengan motif nyaris sama), third act-nya melompat menuju penceritaan berbeda. Walau telah disiratkan sebelumnya, kisah yang mengisi klimaksnya jelas beranjak dari rute yang filmnya tempuh di mayoritas durasi. Beruntung, idenya cukup gila untuk menghadirkan tawa. 

JAFF 2018 - IF THIS IS MY STORY (2018)

Mungkin terdengar berlebihan, tapi karya kedua duo sutradara sekaligus suami-istri Djenar Maesa Ayu dan Kan Lumé pasca hUSh dua tahun lalu ini, secara gaya, mungkin film Indonesia yang paling mengingatkan saya akan judul-judul buatan auteur asal Korea Selatan, Hong Sang-soo (Claire’s Camera, On the Beach at Night Alone, Nobody’s Daughter Haewon). If This is My Story disusun atas rangkaian pembicaraan, dibungkus oleh take panjang statis yang menempatkan penampilan jajaran pemain di garis depan.

Alurnya memiliki tiga babak (empat kalau menghitung epilog): This is His Story, This is Her Story, dan This is Our Story. Apabila Hong gemar menerapkan realita alternatif tiap babak buatan Djenar dan Kan bertempat di satu realita yang dipakai mengutarakan beberapa perspektif mengenai konflik rumah tangga.

Kay (Cornelio Sunny) adalah pembuat film yang karirnya jalan di tempat, dan merasa bahwa sang istri, Dee (Sha Ine Febriyanti) tak menghargai segala usahanya. Sebaliknya, Dee menganggap Kay memanfaatkan warisan harta orang tuanya untuk bermalas-malasan mencari uang. Perspektif dari segmen His adalah, bahwa Dee jadi pihak bermasalah yang senantiasa menyinggung sang suami, walau harus diakui, beberapa problematika memang diakibatkan ketidakmampuan Kay mengatur emosi.

Secara insting, saya lebih terikat pada This is His Story selaku penggambaran tepat sasaran tentang konflik hubungan romantika dari sudut pandang pria. Begitu tepat, babak pertamanya tampil believable pula sesekali mengundang tawa (sebab beberapa penonton mungkin pernah mengalami hal serupa) termasuk kala ekspresi frustrasi eksplosif Sunny bertemu pembawaan tenang cenderung dingin dari Ine, menghasilkan situasi kontras menarik yang bagai refleksi visual hitam-putih film ini.

Satu-satunya elemen mengganggu di paruh awal adalah ketika Kay meluapkan frustrasinya, yang alih-alih mengguncang hati atau memunculkan sindiran menggelitik tentang machismo yang terluka, justru memproduksi kelucuan tak disengaja akibat teriakan cringey nihil getaran rasa milik Sunny.

Babak keduanya (This is Her Story) menampilkan sisi berlawanan, saat kesalahan ada di pundak Kay yang kini banyak diam, sedangkan Dee lebih histerikal. Saya tidak bisa membahas lebih jauh agar menghindari spoiler, juga babak ketiganya yang bertindak sebagai pengungkapan kebenaran (dalam beberapa definisi). Paruh akhirnya diawali dengan menarik berkat selipan twist, juga masuknya Reza Rahadian. Seperti biasa, Reza jadi penampil terbaik, mampu membuat segala macam kalimat terdengar dinamis.

Third act-nya merupakan media presentasi mengenai sudut pandang soal hubungan ideal serta kritik bagi beberapa gagasan menurut para tokoh utama (dan kedua pembuat film). Sayang, sebaik apa pun performa Reza, kesan berlarut-larut gagal dihindarkan ketika If This is My Story mulai keluar jalur. Djenar dan Kan urung mengontrol ambisi mencurahkan seluruh isi hati, menumpahkan materi yang sebenarnya cukup untuk membuat satu film panjang lain. Kekuatan emosi milik konklusi kala monotonitas hitam-putih berganti pemandangan berwarna (pemberian orang lain) pun terlucuti.

Bicara soal kegagalan memaksimalkan emosi, pemakaian kamera statis turut berkontribusi. Kecuali pertengkaran besar jelang akhir babak kedua, kameranya menolak bergerak, bahkan sekedar untuk menerapkan zoom in sekalipun (sebagaimana dilakukan Hong Sang-soo) selaku penekanan intensitas. Alhasil, akting para aktor, khususnya Ine, tidak berhasil ditangkap seutuhnya. Di balik berbagai kekurangan, termasuk aspek teknis seadanya tatkala pada beberapa kesempatan kita bisa melihat noise atau usaha menghapusnya yang justru menciptakan efek aneh dan tidak natural bagi visualnya, If This is My Story tetaplah karya Djenar terbaik bagi saya.

THE GIFT (2018)

Bagi banyak sutradara, mengarahkan Reza Rahadian, Ayushita Nugraha, Diyon Wiyoko, hingga Christine Hakim dalam satu film yang sepertiga bagian akhirnya bertempat di Italia merupakan kemewahan. Namun kita membicarakan Hanung Bramantyo. Baginya, menangani deretan nama besar serta setting luar negeri jadi hal biasa. Menjadi tidak biasa tatkala The Gift membawanya menarik rem dramatisasi, membiarkan musik mengalun secukupnya, dan menekan jumlah sekaligus intensitas tangisan. Rupanya setelah bertahun-tahun menerapkan pemahaman akan formula, Hanung masih menyimpan kepekaan bertutur. 


Berusaha menyelesaikan novel terbarunya, Tiana (Ayushita Nugraha) pindah ke Yogyakarta, menempati kamar kosong yang terletak di kediaman Harun (Reza Rahadian). Mengalami gangguan penglihatan dan masalah personal terkait keluarga membentuk Harun sebagai pribadi yang kurang ramah. Berbeda kondisi fisik, keduanya memiliki kesamaan, sama-sama terbiasa memandang dunia dari dalam kegelapan. Dibantu naskah buatan Ifan Ismail (Habibie & Ainun, Ayat-Ayat Cinta 2), Hanung mempresentasikan percintaan sebagai hasil kecocokan dua insan, membangun romantika dari interaksi yang tersusun atas dialog tajam nan menarik ketimbang eksploitasi momen manis.
Kali ini Hanung turut menggunakan simbolisme yang tersaji subtil nan mulus, bermain-main dengan metafora guna menyoroti sisi gelap serta sifat hubungan manusia. Gembok pemisah kamar Tiana dan Harun melambangkan sekat pembatas dua hati, sementara bahasan soal "penglihatan" yang kental mengisi sepanjang film tak hanya bermakna literal. Apakah Tiana dengan mata yang sempurna mampu melihat lebih jelas dibanding Harun? Ataukah kesempurnaan itu membuatnya terlena, melupakan sensitivitas lain termasuk perasaan? 

Dibekali kebebasan kentara memaksimalkan kualitas penyutradaraan Hanung. Hasil pengadeganannya penuh kreativitas yang memperkuat dinamika. Kamera bergerak lincah pun beberapa kali memanfaatkan pantulan cermin dengan puncak kebolehan menyusun mise-en-scène tersaji pada sebuah pertengkaran Harun dan Tiana, sedangkan karakter Simbok berdiri di kejauhan sambil merespon. Perpindahan rutin flashback ke masa kini pun bergerak rapi, saling menguatkan dan menyokong alih-alih mendistraksi. Tapi poin terbaiknya adalah penyusunan situasi dramatis. 
Musik garapan Charlie Meliala dibiarkan melantun merdu sebagai latar, bukan media manipulasi rasa. Bahkan mayoritas momen terkuat tampil di tengah kesunyian mencekat layaknya tragedi yang menghadang tiba-tiba tanpa bisa kita antisipasi. Penampilan para pemain ikut jadi tonggak. Baik selaku tuna netra maupun ketepatan ekspresi emosi, telah cukup mengingatkan penonton betapa Reza Rahadian merupakan aktor terbaik yang jauh meninggalkan generasinya di level berbeda. Ayushita mengimbangi lewat sensibilitas tinggi, dan bukan sebuah kejutan kala Christine Hakim sanggup merenggut hati walau cuma muncul beberapa menit. 

Sayangnya The Gift menurun saat menyentuh babak akhir, pasca memindahkan setting ke Italia seiring kehadiran Arie (Dion Wiyoko) mewarnai cinta segitiga, kemudian bertransformasi dari drama low-key menuju konflik penuh kebetulan yang bagai hasil kebingungan penulis menyusun konklusi. Belum lagi bumbu kejutan yang diharapkan mencengkeram emosi namun berakhir sebatas shock value akibat kurangnya fase pembangunan. The Gift bukan persembahan terbaik Hanung Bramantyo, tapi cukup menjadi bukti bahwa sang sutradara punya kapasitas lebih dari sekedar meramu tontonan sesuai pakem.