REVIEW - SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS
Statusnya sebagai film Indonesia pertama pemenang Golden Leopard (film terbaik) di Locarno Film Festival, niscaya memancing berbagai dialog perihal narasinya. Bagaimana persoalan toxic masculinity dan seksualitas dikupas, hingga subteks mengenai orde baru. Apalagi ini film karya Edwin, yang mengadaptasi novel buatan Eka Kurniawan. Ragam interpretasi pasti bermunculan. Tidak salah. Bagus malah. Tapi rasanya satu pencapaian bakal absen diperbincangkan, yakni bahwa Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (punya judul internasional Vengeance Is Mine, All Others Pay Cash) merupakan film paling menghibur yang dilahirkan Edwin sejauh ini.
Penyatuan berbagai genre seperti aksi 80-an, eksploitasi, komedi hitam, pula sedikit bumbu supernatural, membuat 114 menit durasinya terasa singkat. Penuh sesak, dan mungkin terlalu banyak hal terjadi, namun di situlah letak kesenangannya. Kapan lagi kita bisa menyaksikan adu kecepatan, bukan antara mobil-mobil mewah hasil modifikasi, melainkan dua truk, yang tentu saja baknya dihiasi lukisan serta tulisan menggelitik.
Berlatar tahun 1980-an (lokasi tak spesifik, di mana pelat kendaraannya bertuliskan "AK-E" yang merupakan kebalikan dari "EKA"), dikisahkan ada seorang pemuda bernama Ajo Kawir (Marthino Lio) yang begitu gemar berkelahi. Menantang maut seolah jadi rutinitas. Semua dilakukan demi pembuktian maskulinitas, karena dia impoten. Pada era tatkala machismo diagungkan, impotensi tak ubahnya kehilangan harga diri, yang bagi sebagian pria, mungkin lebih buruk dari kematian. Ajo Kawir tidak takut mati. "Hanya orang yang tidak bisa ngaceng yang tidak takut mati", begitu narasinya berbicara.
Walau berlatar masa lalu, sosok Ajo Kawir (sayangnya) masih relevan sampai sekarang. Tendensi agresivitas laki-laki agar kejantanannya tak dipertanyakan, masih kerap kita jumpai. Entah dengan cara berkelahi, melakukan hal-hal ekstrim, mengumbar sumpah serapah, atau yang paling parah, lewat pelehan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.
Berbagai jalan telah Ajo Kawir tempuh agar "burungnya berdiri", termasuk mengunjungi Mak Jerot (Christine Hakim) demi menjalani pengobatan, namun semua gagal. Situasi mulai berubah sejak pertemuan Ajo Kawir dengan Iteung (Ladya Cheryl), bodyguard seorang pengusaha. Pertemuan perdana mereka berujung baku hantam. Sinematografi yang ditangani Akiko Ashizawa (Tokyo Sonata, Creepy) belum cukup mumpuni membungkus perkelahian, apalagi bagi film yang mengaku terinspirasi oleh film laga Hong Kong. Momen terbaik justru hadir ketika kamera diam, menangkap dua aktornya habis-habisan melakoni koreografi. Totalitas dan fleksibilitas mereka (terutama Ladya Cheryl) patut diacungi jempol.
Keduanya langsung jatuh cinta. Mungkin ketangguhan Iteung memikat maskulinitas Ajo, sementara Ajo di mata Iteung adalah jagoan. Walau "burung si jagoan" tidak bisa berdiri, Iteung enggan ambil pusing, bahkan mau dinikahi. Tentu ini tak sesederhana "proses menerima kelemahan pasangan dalam romantika". Biarpun naskah buatan Edwin dan Eka telah menyederhanakan novelnya (dalam konteks menekan keabsurdan), masih ada begitu banyak hal terjadi.
Misi Ajo Kawir menghabisi target dari Paman Gembul (Piet Pagau) yang mewakili aksi aparat melenyapkan orang yang dipandang berbahaya, keberadaan Budi Baik (Reza Rahadian) si penjual obat kuat yang sejak lama menyukai Iteung, kemunculan wanita misterius bernama Jelita (Ratu Felisha dalam riasan yang membuatnya sukar dikenali) di paruh akhir yang menghembuskan napas mistis ke filmnya, dan masih banyak lagi.
Sekali lagi, alurnya penuh sesak, beberapa momen dapat dipangkas, namun naskah mampu tampil rapi, dan terpenting, terarah. Seliar apa pun subplotnya bergulir, tetap mengerucut pada pokok pahasan tentang machismo. Secara spesifik, machismo yang terbentuk oleh pelestarian kekerasan dalam satu era. Sebuah era di mana para pemegang kuasa di area masing-masing (aparat, guru, presiden) menyalahgunakan kekuatan mereka. Sebuah era di mana "bos besar" melarang rakyat melihat gerhana matahari agar tidak buta, sambil "membutakan mata" atas tirani melalui pengalihan isu serta pelenyapan berbagai pihak.
Terdapat satu poin yang terasa meleset. Sewaktu naskah meletakkan eksposisi berisi masa lalu karakter, timbul kesan karakter itu terangsang oleh pelecehan yang ia alami semasa kecil. Walau setelah makin banyak tabir terungkap, jelas bahwa kesan tersebut murni akibat timing yang kurang pas, dan filmnya bukan bermaksud meromantisasi pelecehan.
Ada banyak seksualitas dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Baik dibarengi cinta, semata nafsu, atau wujud kejahatan. Baik dilakukan orang dewasa, maupun anak. Saya sangat mengapresiasi bagaimana Edwin tak menjadikan seks anak sebagai lahan eksploitasi. Tidak ada satu pun seksualitas yang melibatkan karakter bocah tampil gamblang, sehingga menjaga fungsinya selaku penelusuran atas trauma alih-alih sekadar shock value.
Seksualitas juga jadi materi humor gelap, yang turut bertujuan menyentil maskulinitas. Nakal, playful, tapi bukan bentuk perversi. Dari situ, kritik berhasil disampaikan secara menghibur. Kekerasan zaman (atau bisa kita sebut "rezim") yang mengisi keseharian masyarakat, ibarat siulan-siulan untuk membangkitkan si burung, dan bila seseorang kukuh memuja kekerasan berlandaskan toxic masculinity tersebut, dan cuma mau berpikir memakai "burungnya", alangkah baiknya ia sekalian mati seperti sangkar burung yang tergantung di atas tiang.
Selain humor dan beberapa aksi, daya pikat juga terletak pada penampilan para pemain. Ladya Cheryl kembali setelah lama absen (terakhir tampil di Flutter Echoes and Notes Concerning Nature yang tayang di JAFF 2015), dan kemampuannya memadukan akting dramatis dan kebolehan melakoni aksi tangan kosong, membuktikan kualitasnya masih sama. Marthino Lio dengan kegelisahan karakternya tidak kalah kuat, meski bagi saya, Reza Rahadian paling mencuri perhatian.
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memakai gaya bahasa cenderung baku ala film-film Indonesia zaman dulu, dan di antara tiga pemain utama, Reza yang paling mulus menanganinya. Reza bicara, seolah ia memang hidup pada masa itu, pun paling meyakinkan saat berhadapan dengan adegan laga. Rasanya jika memerankan pohon pisang pun ia bakal tetap menarik disaksikan.
Pada akhirnya, berdiri atau tidaknya burung Ajo Kawir bukan masalah. Bagaimana ia menerima itu adalah yang terpenting. Paruh keduanya membawa Ajo Kawir berubah. Dia tampak lebih damai, karena telah mulai coba berdamai dengan dirinya sendiri. Memaksa burung yang tertidur agar terbangun bisa lebih berbahaya ketimbang membangunkan macan.
(Digital Screening Toronto International Film Festival)
REVIEW - SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 3
Secara filmis, Surga yang Tak Dirindukan 3 sejatinya agak lebih baik ketimbang film kedua, yang juga superior dibanding film pertama, berkat peralihan fokus dari kisah religi seputar poligami menuju disease porn berbalut drama keluarga. Belum pantas disebut "bagus", namun peningkatan tetaplah peningkatan. Wajib diapresiasi. Selain kehadiran Marsha Timothy menggantikan Raline Shah sebagai Meirose, ketertarikan menonton pun muncul saat Pritagita Arianegara (Salawaku) ditunjuk mengisi kursi penyutradaraan.
Kita tahu seri Surga yang Tak Dirindukan kental nuansa patriarki, sehingga walau masih berbasis novel buatan Asma Nadia, pun naskahnya masih ditulis Alim Sudio, menarik disimak, bagaimana kehadiran sutradara wanita memberikan pengaruh. Dan memang tampak ada niatan menggeser perspektifnya. Kini giliran Pras (Fedi Nuril) berada di posisi mendiang istri pertamanya, Arini (Laudya Cynthia Bella), kala Ray (Reza Rahadian) kembali ke kehidupan Meirose.
Siapa Ray? Ingat saat di film pertama Meirose yang tengah hamil mencoba bunuh diri akibat ditinggal tanpa kejelasan oleh calon suaminya? Ray adalah pria itu. Ayah kandung Akbar (Ali Fikry). Biarpun Meirose sudah berusaha menyembunyikan itu dari sang suami, toh semua akhirnya terbongkar. Mengira Meirose masih mencintai Ray, amarah Pras memuncak setelah tahu bahwa istrinya pernah berduaan di kamar bersama Ray. Padahal kondisi saat itu, Meirose baru siuman pasca sebuah kecelakaan.
Bukankah Pras berada dalam situasi yang mirip sewaktu menyelamatkan Meirose dahulu? Saya takkan menyebut Surga yang Tak Dirindukan 3 sebagai film yang menggugat kerapuhan maskulinitas (apalagi kala gagasan "istri adalah pelayan suami sang kepala rumah tangga" masih tercium di sana-sini), tapi keputusan menukar sudut pandang, membuktikan filmnya mau berkembang. Warna religi dipertahankan tanpa mencekoki penonton dengan ceramah agama.
Naskahnya lebih cerdik. Misal ketika Pras mengetahui jika puterinya, Nadia (Zara Leola) tak lagi suka mendongeng sebagaimana Arini, dan memilih membuat video dance di YouTube. Masalah itu bisa saja dibawakan memakai tone konservatif, namun Pras memilih sedikit membuka pikiran, kemudian berujar, "Apa yang kita suka belum tentu baik". Konteksnya mengingatkan, bukan melarang. Dan memang betul, hal yang kita sukai belum tentu baik bagi kita.
Sayangnya deretan hal dipaksakan tetap jadi batu sandungan. Misalnya keputusan Ray menyembunyikan alasan meninggalkan Meirose, yang jelas sebuah retcon kasar terhadap alur film pertama. Atau kebingungan Pras akibat perusahaannya terlilit utang sebesar 2,5 miliar. Perusahaan macam apa yang terancam gulung tikar gara-gara angka tersebut? Sekecil apa profit margin-nya? Tapi biarlah. Saya takkan mempersoalkan lubang logika, untuk film yang memiliki kalimat epik, "SANDIWARA APA YANG SEDANG KALIAN MAINKAN?!". Kalau saja dirilis luas di bioskop, saya yakin kalimat itu bakal jadi bahan banyak meme.
Terpenting, filmnya watchable. Apabila Hanung membawa film keduanya tampil megah nan dramatis, Pritagita menangani emosinya secara lebih intim, dibantu penampilan solid jajaran pemain. Marsha tahu cara menyeimbangkan keteguhan dengan kelembutan, Zara cukup piawai menangani momen dramatis, sementara Reza, seperti biasa, nyaman disaksikan. Aksen medoknya tak selalu enak didengar, namun setidaknya, Reza memakai pendekatan lebih subtil, alih-alih hiperbolis layaknya banyak aktor lain.
Surga yang Tak Dirindukan 3 juga menjadi installment paling menggelitik melalui sentuhan humor, khususnya berkat dua nama: Dea Panendra dan Zsazsa Utari. Dea menjadi seorang guru berkelakuan konyol, dalam peran comic relief yang biasanya identik dengan Asri Welas (kebetulan nama karakternya pun Welas), sedangkan Zsazsa mencuri perhatian melalui celetukan-celetukannya (that "Kecap Bango" jokes will catch you off guard).
Saya bersedia melupakan segala kekurangan film ini, mengakuinya sebagai suguhan layak tonton, hingga tiba sebuah momen. Momen singkat yang sebenarnya tak perlu ada, atau minimal, bisa dipresentasikan secara berbeda. Momen yang memperlihatkan ketidakpekaan filmnya terhadap isu dengan urgency tinggi, yakni kekerasan dalam rumah tangga, di mana mayoritas pelaku adalah suami.
Momen tersebut terjadi saat Pras yang bimbang mesti bagaimana menyikapi hubungan Meirose dan Ray, menemui seorang ustaz. Sang ustaz kemudian berpetuah, bahwa menurut Islam, jika istri berselingkuh, suami boleh memberi hukuman, mulai dari mengingatkan, memarahi, bahkan memukul asal tidak berniat melukai. Apa perlunya hal itu disampaikan, bila konfliknya sendiri tak pernah mengarah ke sana?
Film tidak perlu memberi pesan moral. Tapi film wajib peka terhadap situasi, sebagai bentuk tanggung jawab sosial pembuat karya. Apakah bijak, secara sepintas mencatut ayat yang kerap disalahartikan, tanpa mengolah konteks sekaligus pemaknaannya lebih mendalam? Di masa kegelapan dulu, suami bisa menyiksa bahkan membunuh istri yang dianggap membangkang, sehingga "memukul tanpa niat melukai", sama halnya dengan diperbolehkannya pria mempunyai empat istri, merupakan "jalan tengah" yang harus diambil. Sekarang? Wahai pembuat film, silahkan direnungkan, lalu berusaha pahami, bagaimana perasaan istri korban kekerasan tatkala menyaksikan momen tersebut.
Available on DISNEY+ HOTSTAR
REVIEW - LAYLA MAJNUN
Film terbaru buatan sutradara Monty Tiwa ini dibuat berdasarkan kisah cinta Layla dan penyair bernama Qays ibn al-Mullawah dari abad ke-7, yang telah diabadikan melalui banyak media, salah satunya puisi Layla and Majnun karya Nizami Ganjavi yang ditulis pada 1188. Acha Septriasa memerankan Layla, sosok wanita religius, mandiri, sekaligus cerdas. Dia menjalani hidup sesuai keinginannya, baik sebagai pengajar sebuah pondok pesantren, maupun penulis novel.
Hingga suatu hari, ia dipaksa menjalani perjodohan dengan Ibnu (Baim Wong), teman masa kecilnya sekaligus calon bupati. Awalnya Layla menolak. Selama ini ia begitu vokal menentang perjodohan, khususnya jika itu merenggut kebebasan seorang wanita. Tapi karena sang ibu (Dian Nitami) sudah banyak menerima bantuan dari ayah Ibnu (August Melasz), Layla tak mampu menolak. Selepas kepergiannya selama dua minggu ke Azerbaijan untuk menjadi dosen tamu, Layla bakal langsung menikahi Ibnu.
Di sanalah Layla bertemu Samir (Reza Rahadian), salah satu mahasiswanya, yang dahulu sempat belajar di Indonesia. Hanya dalam waktu singkat, Layla yang di awal film enggan menikah, seketika jatuh hati kepada Samir. Apakah masuk akal? Pertanyaan itu bakal selalu bisa dimentahkan dengan jawaban, "Bukankah cinta memang tidak logis?", sehingga izinkan saya memodifikasinya sedikit. "Apakah penonton bisa mempercayai cinta keduanya?".
Naskah buatan Alim Sudio kurang berhasil menciptakan rasa percaya itu. Ya, Samir jatuh hati setelah karya Layla menyembuhkan lukanya (elemen yang bisa ditarik ke gagasan lebih besar, soal kekuatan dari keindahan suatu karya literatur mengobati luka suatu bangsa tanpa memedulikan sekat jarak dan budaya). Tapi bagaimana dengan Layla? Andai tidak ada perjodohan, akankah Layla sebegitu mencintai Samir? Andai perangai Ibnu tak menghasilkan perbandingan "baik vs buruk" yang jomplang, akankah Layla sebegitu mencintai Samir?
Kalau bukan karena performa Reza dan Acha, mungkin Layla Majnun bakal hambar, pula menjemukan. Keduanya membuat saya betah melakoni perjalanan menikmati pemandangan Azerbaijan, yang ditangkap dengan cukup baik oleh Anggi Frisca selaku penata kamera. Acha selaku kuat perihal mengolah emosi, sedangkan Reza kembali membuktikan, kalau tuntutan berbicara menggunakan logat asing (sesekali bahasa setempat juga dipakai) tak mengahalangi ekspresi rasanya.
Ending-nya berusaha menjauhkan film ini dari tragedi yang mengisi kisah aslinya. Bukan semata demi akhir bahagia yang lebih disukai penonton, melainkan wujud pesan dari naskahnya, seputar ikatan keluarga. Gagasan yang menarik, walau lemahnya eksplorasi soal elemen kekeluargaan, membuat keputusan tersebut lebih mudah diapresiasi ketimbang dicintai.
Available on NETFLIX
REVIEW - BENYAMIN BIANG KEROK 2
Terkait Benyamin Biang Kerok (2018), saya termasuk minoritas. Saya tidak
menentang, tidak membenci, meski harus diakui, hasilnya jauh dari kata “bagus”.
Sangat jauh. Setidaknya ada visi yang jelas, walau apakah visi tersebut cocok
diterapkan, patut dipertanyakan. Direncanakan sebagai trilogi, setelah film
pertama mendapat respon cenderung negatif, baik perihal ulasan, jumlah penonton
(730 ribu tidak sedikit, namun jelas bukan angka yang diharapkan), belum lagi
perseteruan hak cipta, kabar perilisan film kedua tak kunjung jelas, sebelum
akhirnya tayang di Disney+ Hotstar.
Berbeda dengan pendahulunya, Benyamin Biang Kerok 2 bak produk asal
jadi, tanpa arah, yang buru-buru diselesaikan guna mengejar tanggal tayang di streaming platform. Selepas rekap
beberapa menit yang tidak banyak membantu akibat kisah film pertamanya kurang meninggalkan
kesan, protagonis kita, Pengki (Reza Rahadian), berkata pada penonton, jika petualangannya
melawan sindikat mafia pimpinan Said (Qomar) demi menyelamatkan sang pujaan
hati, Aida (Delia Husein), bakal lebih seru dari film-film Amerika. Berarti,
Hanung bersama trio penulis naskahnya, Bagus Bramanti, Senoaji Julius, dan Hilman
Mutasi, masih berniat membuat blockbuster
mahal, sarat aksi berteknologi tinggi, juga bertabur CGI.
Tapi itu tidak terlihat. Aksi bisa
dihitung jari, sementara CGI, selain
kuantitasnya menurun drastis, begitu pula kualitasnya. Ada satu momen yang
berpotensi melahirkan hiburan berupa pertarungan absurd, di mana Sabeni (Rano
Karno), ayah Pengki, memancarkan laser untuk menghajar habis anak buah Hengki (Hamka
Siregar) yang berniat membunuh Pengki, disusul tembakan gelombang dari gitar
elektrik Nurlela (Lydia Kandou). Tapi efek visualnya setengah (atau malah
seperempat?) matang, yang diperparah oleh kecanggungan pengadeganan Hanung.
Mau dibawa ke mana film ini?
Seberapa buru-buru penyelesaiannya? Jangankan pasca-produksi, saya pun
mempertanyakan, apakah proses produksi, termasuk pick-up, benar-benar sudah usai jauh-jauh hari? Alurnya sendiri
sudah dilukai oleh keputusan memecah cerita. Terasa betul kisah dimulai dari
tengah, sehingga tanpa struktur penceritaan layak. Belum lagi, perpindahan antar
adegan tidak dijembatani secara mulus, seolah tidak ada stok transisi yang
cukup.
Misalnya sewaktu Pengki, Somad (Adjis
Doaibu), dan Achie (Aci Resti) hendak pergi ke hutan di Kalimantan menggunakan
helikopter, untuk memecahkan misteri harta karun Soekarno, yang diduga jadi
incaran utama para mafia. Sayang, helikopter kepunyaan Nyak Mami (Meriam
Bellina) tiba-tiba mogok. Lalu Achie berkata, bahwa dia tahu harus berbuat apa.
Sejurus kemudian, kita melihat CGI shot
yang menampilkan sebuah pesawat di angkasa. Mendadak mereka telah tiba di
tujuan. Pesawat siapa itu? Mengapa efek visualnya tampak amat mentah? Bagaimana
pula Hengki beserta anak buahnya bisa tahu persis keberadaan ketiganya di
tengah hutan keramat?
Paling tidak saya menikmati
penampilan para pelakon senior, khususnya Rano Karno dan Lydia Kandou, yang
berusaha sekuat tenaga memaksimalkan porsi masing-masing. Reza, bermodalkan kejenakaan
gestur serta permainan logat dan warna suaranya pun masih nyaman disaksikan. Satu
yang benar-benar mengganggu, terlebih di third
act, hanya Aci Resi dengan gerutuan dan rengekan menyebalkan yang tak
kunjung berakhir.
Artinya jajaran cast berhasil menyelamatkan film ini bukan? Kata “menyelamatkan” rasanya berlebihan.
Paruh akhirnya membuat Benyamin Biang
Kerok 2 tidak terselamatkan. Antiklimaks, cuma menampilkan sekelumit aksi
singkat berisi serbuan beruang dengan CGI
menyedihkan, nomor musikal cringey nan
murahan diiringi lagu hip hop, pula konklusi dadakan yang menyisakan banyak
subplot tanpa resolusi.
Satu hal paling fatal: rambut
Pengki berubah! Itu bukan rambut Pengki, tapi rambut Reza. Pengki beralasan,
rambutnya dipotong oleh suku pedalaman. Saya curiga, konklusinya adalah pick-up yang diambil jauh setelah
produksi selesai, besar kemungkinan untuk menghapus jembatan menuju film
ketiga, yang konon merupakan adaptasi Tarsan
Kota (1974). Syukurlah bila memang demikian. Cukup. Berhenti sampai di
sini.
Available on DISNEY+ HOTSTAR

























