THE SOUND OF MUSIC (1965)

12 komentar
(Tulisan ini mengandung SPOILER)
Masihkah perlu review untuk The Sound of Music dibuat ketika hampir semua orang pernah menontonnya dan secara consensus ditasbihkan sebagai salah satu film -tidak hanya musikal- terbaik sepanjang masa? Sebelumnya saya tidak merasa itu perlu, hingga pengalaman menonton untuk ketiga kali merubah keputusan tersebut. Tentu kita semua sepakat bahwa nomor-nomor seperti My Favorite Things, Do-Re-Mi atau The Sound of Music adalah klasik penuh sihir dan mampu membuat siapapun ikut bernyanyi. Memikat pula jajaran cast khususnya Julie Andrews berkat performa energetic-nya. Tapi lebih dari itu, di masa sekarang, film garapan sutradara Robert Wise ini tak hanya sebuah sajian bagus, namun juga penting. 

Kisahnya sederhana, bahkan termasuk cheesy pula predictable. Maria (Julie Andrews) adalah wanita muda dengan impian menjadi biarawati, namun beberapa suster menganggapnya terlalu ceroboh dan kurang menjaga sopan santun. Maria kemudian ditugaskan menjadi pengasuh bagi ketujuh anak Captain von Trapp (Christopher Plummer), mantan anggota angkatan laut Austria yang sepeninggal istrinya jadi bersikap keras pada anak-anaknya, memperlakukan mereka layaknya pasukan militer. Alur sederhana itu turut dipaparkan dalam naskah yang tidak seberapa kuat, di mana perubahan sikap karakter acapkali hadir amat cepat bak tanpa gradasi. Tebukti naskah garapan Ernest Lehman tak termasuk di antara 10 nominasi Oscar milik film ini.
Mungkin akan banyak penonton masa kini menganggap The Sound of Music terlalu naif. Bagaimana tidak? Canda tawa karakternya hadir hanya karena menyanyikan lagu tentang notasi sambil berlarian di padang rumput. Atau kalau mau bicara lebih luas, banyak permasalahan -termasuk perubahan sikap karakter- diselesaikan oleh nyanyian. Pemikiran "hidup tidak sesederhana itu" wajar saja mengisi pikiran beberapa penonton. Justru dari situ pendapat saya mengenai betapa pentingnya film ini pada masa sekarang bermula. Kita sudah terlampau rumit memandang hidup sehingga kebahagiaan pun tak lagi bisa datang lewat hal-hal simple. Kita sudah merasa cerdas, mengutamakan otak demi menyimpulkan baik/buruk suatu film, tapi melupakan rasa dan memandang rendah paparan klise.

Saya dibuat meneteskan air mata saat pertama kali menyaksikan adegan Maria dan ketujuh anak Captain von Trapp bertamasya sambil menyanyikan Do-Re-Mi bersama-sama. Bukan karena adegan itu menyedihkan, tapi sebaliknya, saya tersentuh melihat wajah sumringah aktornya melantunkan lirik-lirik acak yang sejatinya nonsensical. Pemandangan tersebut seketika membawa kebahagiaan. Adegan lain meninggalkan kesan serupa, sebut saja kala Maria mengagumi indahnya pegunungan, bernyanyi mengenai hal-hal favoritnya, atau ungkapan cinta monyet Liesl (Charmian Carr) di bawah guyuran hujan malam hari. Melihat semua itu saya terkesima. Sungguh bahagia tidak sukar didapat asal kita bisa memandang positif kehidupan, menikmatinya, lalu tertawa ditemani orang-orang terkasih.
Terdapat dua aspek penting lain dalam cerita untuk disimak atas kaitannya dengan kondisi dunia sekarang ini. Pertama peran Mother Abbess (Peggy Wood) membantu Maria menemukan kemantapan hatinya. Tiada pernyataan bahwa pilihan mengabdi pada Tuhan sebagai biarawati merupakan keharusan. Satu-satunya pesan adalah "cinta". Dalam suatu adegan, Mother Abbess berkata bahwa cinta antara pria dan wanita juga suci. Rasa cinta kepada Tuhan bukan berarti membuat seseorang bisa membutakan dirinya terhadap cinta akan sesama. Bandingkan dengan kondisi saat ini di mana agama justru kerap menyebarkan pertikaian alih-alih cinta dan perdamaian. 

Aspek kedua berupa hadirnya cengkeraman Nazi di paruh akhir. Kehadiran Nazi merupakan perlambang bagaimana perang menghancurkan kebahagiaan bahkan merusak percintaan yang tadinya tampak begitu manis. Akhirnya kedua aspek itu bersinggungan tatkala di klimaks, para biarawati membantu keluarga von Trapp melarikan diri dari kejaran Nazi. Bahkan dua di antara mereka rela berbuat "dosa" demi menghalangi gerak para tentara. Hal itu menunjukkan bagaimana semestinya para pemeluk agama mengulurkan tangan membantu korban peperangan, bukannya menyulut perang sendiri. 

Memang film ini jauh dari kata sempurna. Seperti yang telah saya ungkapkan, naskahnya kerap terburu-buru di ranah pengembangan karakter. Tapi sudah waktunya kita memandang The Sound of Music lewat perspektif lain. It's a great musical film, namun lebih dari itu juga memiliki esensi penting bagi kehidupan kita dewasa ini. Kali ini saya tidak menyinggung sisi teknis filmnya, karena The Sound of Music tak memerlukan lagi pembahasan perihal itu. Pada era di mana kompleksitas diagungkan dan kebahagiaan serasa begitu mahal, menjadi wajib hukumnya menyimak film ini. Jika anda tak tergoda ikut bernyanyi atau setidaknya menyunggingkan senyum menyaksikan tawa bahagia tokoh-tokohnya, mungkin sudah waktunya mengkhawatirkan kesejahteraan hati anda. If there's a movie that could restores the humanity and spreads the love, 'The Sound of Music' is definitely it. 

12 komentar :

  1. hihi.. aku udah mulai terharu pasti tiap lagu yang anak2nya dateng satu2 ke kamarnya mlm pas ujan petir x"))
    film keluarga sepanjang masaaa x))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo terharu sebenernya dari Liesl pacaran sih haha

      Hapus
    2. haha kalau yang pas Liesl pacaran tuh lebih ke yang sweet gituu xDDD

      Hapus
  2. Ane sebenernya pingin sih liat film2 klasik kayak gini, tapi takutnya bakal ngebosenin :(
    Dan ya, sekarang dikit-dikit ngomongin agama ( apalagi di medsos )pasti ujung-ujungnya jadi Civil War :v , makanya ane males ngomongin agama di medsos ~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh enggak lah, klasik/modern nggak berkorelasi sama kebosanan. Kecuali film hitam putih atau film bisu yang kerasa "berat" kalau belum biasa :)

      Hapus
  3. Kalo dibanding My Fair Lady lebih bagus mana mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama bagusnya sih, personally lebih suka Sound of Music karena tema & lagu-lagunya

      Hapus
  4. Rorypnm kok pamit. Kemana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah kurang tahu. Mungkin kesibukan, atau 1 April hehe

      Hapus
  5. Coba review Annie (1982) gan, yg versi originalnya. Itu juga bagus, ceritanya klise tapi cukup buat saya senyum2 sendiri wkwk

    BalasHapus