3 SRIKANDI (2016)

14 komentar
Sering saya mempermasalahkan kegemaran film negeri ini mengeksploitasi guratan drama penceritaan. Saya tahu beberapa pihak gerah akan cap "dramatisasi berlebihan" tapi kenyataannya itu memang jadi penyakit memuakkan yang membodohi penonton lewat tipu daya air mata ketimbang fokus sepenuhnya membangun penuturan solid. Kemudian hadir "3 Srikandi" selaku debut penyutradaraan Iman Brotoseno melalui naskah hasil karyanya bersama Swastika Nohara ("Cahaya dari Timur: Beta Maluku", "Hari ini Pasti Menang") yang berdiri sejajar dengan "Surat dari Praha" dan "Ada Apa dengan Cinta 2" dalam hal elegansi bernarasi, enggan mengkerdilkan otak penonton.

Tiga sosok Srikandi sebagaimana tercantum pada judul adalah Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan) dan Kusuma Wardhani (Tara Basro), atlet panahan yang sukses mempersembahkan medali pertama bagi Indonesia di ajang Olimpiade. Film ini menuturkan persiapan ketiganya berlatih di bawah gemblengan Donald Pandiangan (Reza Rahadian) sang "Robin Hood Indonesia" guna menghadapi Olimpiade tahun 1988 di Seoul, Korea Selatan. Bukan hanya latihan keras, ketiga Srikandi  plus Donald  mesti pula menghadapi bermacam problema personal masing-masing.

Di samping proses latihan Olimpiade, "3 Srikandi" memang dijejali eksposisi kisah tiap individu. Nurfitriyana menghadapi tekanan sang ayah untuk menyelesaikan skripsi dan meninggalkan panahan, serupa Kusuma Wardhani yang oleh ayahnya diharapkan bekerja sebagai PNS. Lilies kerap berselisih dengan sang ibu akibat penolakannya untuk dijodohkan sementara ia sendiri tengah menjalin hubungan dengan Denny (Mario Irwinsyah), seorang atlet pencak silat. Sedangkan Donald setelah bertahun-tahun menghilang masih menyimpan amarah hasil politisasi olahraga yang menyebabkan ia gagal berangkat mewakili Indonesia di cabang panahan Olimpiade Moskow, 1980.
Durasi 122 menit jelas cukup panjang, pun demikian masih kurang cukup merangkum setumpuk penceritaan di atas. Bagai tak ingin membuang waktu, film langsung memacu cepat konflik sedari awal. Terlalu cepat bahkan, menciptakan permasalahan pacing. Seperti tiga Srikandi yang harus berlatih sekejap usai bangun di pagi hari, penonton langsung dihadapkan pada poin utama kisah tanpa diberi waktu membiasakan diri. Iman Brotoseno nampak kewalahan membangun dinamika. Tidak saja di pembuka, thrid act berakhir sunyi, datar, nihil semangat perjuangan membara, nasionalisme, atau ketegangan yang senantiasa mengiringi tatkala menyaksikan atlet bangsa berjuang di suatu turnamen  momen teriakan "Indonesia!" gagal memancing emosi. Keengganan mendramatisir berlebih mungkin adalah pangkal permasalahan, tapi turut merupakan kelebihan babak pertengahannya.

Di paruh itu kercermatan bernarasi serta visi pengadeganan Iman Brotoseno berpadu sempurna dengan naskah solid yang mampu membagi rata eksplorasi setiap sisi plot. Mungkin berbagai konflik keluarga, cinta, hingga idealisme tak menghadirkan impact signifikan dalam tataran rasa, namun cukup memberi pemahaman akan masing-masing karakter. Naskahnya memudahkan saya memahami motivasi mereka, pula mencirikan satu sama lain. Ditambah lagi, saya betah berlama-lama menghabiskan waktu bersama tokoh-tokohnya berkat struktur narasi rapih juga keseimbangan konflik dramatis dan nuansa cheerful  selipan musikal berlatar lagu "Ratu Sejagad" sukses memancing senyum alih-alih cringe-worthy. Kalau mau, Iman Brotoseno punya banyak kesempatan menguras air mata penonton, tapi itu tak ia lakukan. Kembali, dramatic parts dimanfaatkan untuk menguatkan karakter, bukan memanipulasi emosi penonton.
Divisi akting "3 Srikandi" tak diragukan lagi punya kualitas juara. Para cast kuat secara individu, sekaligus saling melengkapi saat bersama, memunculkan interaksi dinamis menyenangkan. Bunga Citra Lestari tetap solid, Tara Basro  serupa di "A Copy of My Mind"  kuat sebagai gadis kampung polos yang mampu nampak lembut tapi bertekad baja. Sebagai Donald Pandiangan, Reza Rahadian hadirkan ketegasan seorang pelatih tanpa harus berusaha terlalu keras menjadi galak. Selalu memuaskan mengamati akting Reza yang konsisten menyertakan detail kecil ekspresi atau gerak tubuh selaku pendukung konteks sebuah situasi. Tujuan pun tersampaikan tanpa harus melalui penghantaran  verbal dan non-verbal  besar.

Tapi kejutan adalah saat penampil terbaik layak disematkan pada Chelsea Islan. There's no doubt that she's such a talented actress, sayang antusiasme (baca: overacting) di penampilan-penampilan sebelumnya kerap mengganggu. Di sini Chelsea masih mempertahankan gaya serupa, hanya saja tepat guna, sesuai dengan tokoh Lies yang sering diposisikan sebagai comic relief. She was enthusiastic, energetic, lovable and funny in almost every scene. Jelas merupakan akting terbaik sepanjang karirnya. 

"3 Srikandi" adalah well-made movie. Production value mumpuni menghasilkan deretan gambar menawan hasil sinematografi garapan Ipung Rachmat Syaiful  landscape pemandangan, slow motion di bawah guyuran hujan  sekaligus tata artistik nuansa 80-an pemikat mata. Secara khusus saya menyukai tata kostum dari Retno Damayanti bagi ketiga Srikandi. Sederhana namun efektif membangun setting waktu. Secara tampilan, "3 Srikandi" mengesankan, tapi lebih penting yakni perhatian teruntuk penceritaan solid daripada eksploitasi kisah inspiratif nan dramatis. Berkat cast-nya, dinamika dimiliki oleh narasi, bukan semata-mata reka ulang sejarah. It should be more thrilling, but "3 Srikandi" is an amazing entertainment.

14 komentar :

Comment Page:
Hendra Siswandi mengatakan...

122 menit yang menyenangkan melihat akting keempat bintang utamanya. Reza (lagi dan lagi) memberi nyawa berbeda dan porsi yang pas pada setiap karakter yang dimainkan, Bunga membuktikan dia bukan hanya "pengganti" Dian Sastro untuk peran Yana, Tara dengan logat dan karakter kuatnya dan Chelsea yang energik dan antusias. Tidak over dramatic (seperti Rudy Habibie) membuat biopic lebih terasa real.

yazuli al amin mengatakan...

2 jam gak terasa lama saat menyaksikan 3 Srikandi mungkin karena 4 karakter yang harus diceritakan satu persatu . jajaran cast yg sangat baik,cerita solid,sinematografi yg memanjakan,
Setiap aktris punya ciri khas jadi jangan judge Chelsea Islan karena akting tangisannya karena saat menangis kita gak bisa mengontrol expresi ,kalau saya sih,saya kan bukan aktor....

Gak sia2 nunggu 7bulan

Uda Isan mengatakan...

Ini tetep film 3 Srikandi kan Mas? Bukan film Reza Rahadian melatih Srikandi?
Baru mau nonton nih

Rasyidharry mengatakan...

Nah itu poinnya. "Tidak over dramatic" :)

Rasyidharry mengatakan...

Wah nggak nge-judge Chelsea karena akting tangisannya. Maksud overacting itu di film-film lain kayak Merry Riana, Tjokroaminoto, etc. Tapi di sini, dia flawless

Rasyidharry mengatakan...

Porsinya balance kok :)

yazuli al amin mengatakan...

Hahaha..bukn kk tpi banyak yang bilang gitu..

Agak terganggu dg gak adanya sub Indonesia saat bahasa daerah , kan gak semua ngerti bahasa daerah dan Inggris.

Angga Saputra mengatakan...

saya juga terkejut dgn akting chelsea islan disni...dan setuju ini akting terbaik dia selama bermain film...

Angga Saputra mengatakan...

menurut sya sisi kekurangan 3 srikandi porsi drama yg lebih banyak dibandingkan bagian pertandingan.dan bagian pertandingan nya kurang tegang menurut sya..

Zulfikar Knight mengatakan...

Akhirnya! 4-star Indonesia movie.

Rasyidharry mengatakan...

Mungkin asumsinya, bahasa daerah yang dipakai masih nggak terlalu kental jadi tanpa sub Indonesia :)

Rasyidharry mengatakan...

Betul, klimaks turnamen flat

Herbal Online Top mengatakan...

yang penting sudah menonton.!


Cara Menghilangkan Kulit Singkayo Secara Alami

Dana Saidana mengatakan...

Overall film ini cukup bagus dalam penggarapannya.

Cuma satu yang agak mengganjal Mas.
Dengan setting tahun 80an, properti yang dipakai seperti mobil, radio, dsb memang sudah sesuai dengan masa itu.
Tapi kesannya malah kita seperti melihat barang-barang usang ya Mas.
(Yang notabene waktu itu barang-barang tersebut harusnya masih baru, minimal bisa kelihatan dari cat atau kilauannya)

Tapi wajar sih, dengan kondisi masa sekarang, pasti sulit untuk mencari properti tahun 80an yang masih baru dan mengkilap.