INI KISAH TIGA DARA (2016): FEMINISME DALAM KASIH TIGA SAUDARA

6 komentar
Apa alasan Nia Dinata tidak memajang status remake melainkan "inspired by"? Rasanya bukan demi menghindari perbandingan mengingat hasil restorasi "Tiga Dara" baru tayang belum sampai sebulan sebelum perilisan "Ini Kisah Tiga Dara". Adegan pembuka memperlihatkan tiga bersaudari protagonisnya  Gendis (Shanty Paredes), Ella (Tara Basro), Bebe (Tatyana Akman)  berada dalam taksi, terjebak di tengah kemacetan Jakarta. Berpenampilan layaknya wanita-wanita metropolitan dari kalangan atas, mereka heboh mengeluhkan situasi termasuk keengganan Ella berjalan kaki karena memakai high heels, sebelum memasuki musical sequence pertama, menyoroti perjalanan ketiganya menembus taman kota hingga tiba di rumah menemui Oma (Titiek Puspa). Dari sini intensi Nia mulai terbaca.

Oma sedang resah karena memasuki usia 32 tahun, Gendis si puteri sulung masih belum menemukan jodoh dan lebih gemar menghabiskan waktu memasak sebagai chef di hotel milik sang ayah, Krisna (Ray Sahetapy) yang bertempat di Maumere. Ella merasa iri akan usaha Oma menikahkan kakaknya itu, karena tidak seperti Gendis, Ella tidak terganggu oleh konsep "menikah". Ella sendiri sedang didekati oleh Bima (Reuben Elishama), seorang fotografer. Sedangkan Bebe si bungsu menjalin hubungan dengan seorang tamu hotel asal Inggris, Erick (Richard Kyle). Pada tataran konsep cerita, "Ini Kisah Tiga Dara" nyaris serupa dibanding film original classic-nya, namun di balik itu terdapat perbedaan signifikan yang menghadirkan komparasi kultural menarik.
Nia Dinata mungkin salah satu sineas tanah air yang paling peka sekaligus berani menghantarkan isu mengenai wanita dan itu kembali ia tunjukkan. Naskah tulisan Nia bersama Lucky Kuswandi ingin menyuarakan sisi mandiri para wanita modern, dan sungguh lantang mereka bersuara. Kenapa wanita seolah diwajibkan menikah? Kenapa flirting atau sensualitas/laku seksual wanita dianggap tak bermoral? Gendis, Ella dan Bebe selalu bertindak semau mereka ,menolak mengindahkan batasan berbentuk apapun, ibarat mewakili ungkapan "girls just wanna have fun". Bahkan sosok Oma tak ketinggalan bersenang-senang, bernyanyi, berlenggak-lenggok menikmati hidup. Naskahnya pun sama, enggan bersikap permisif meminimalisir modernisasi atas nama budaya ketimuran.

Seorang teman mengkritisi sikap mengalah "Ini Kisah Tiga Dara" pada modernisasi. Saya bisa membayangkan banyak penonton lain beranggapan serupa, apalagi jika mereka telah menyaksikan "Tiga Dara". Tapi saya rasa ini masalah sudut pandang dalam menyikapi produk masa lampau menggunakan "kacamata" kekinian. Karena bisa jadi 50 tahun lalu, pemberontakan Nunung-Nana-Nenny, adegan ganti baju maupun swimsuit turut menyulut kontroversi. Beberapa poin alur hingga karakter mengambil inspirasi "Tiga Dara", namun usungan pesannya disesuaikan dengan era sekarang plus mendapat suntikan feminisme kental. Itulah mengapa "Ini Kisah Tiga Dara" di-branding sebagai re-imagining daripada remake.
Gendis menghabiskan waktu memasak, tapi bukan di dapur rumah seperti Nunung, melainkan sebagai chef kepala, sebuah bentuk empowerment dan kemampuan wanita mengejar passion. Si bungsu masih usil, ceria dan nekat, hanya saja Bebe lebih "liar" ketimbang Nenny. Dasarnya mereka serupa, hanya nampak berbeda akibat perbedaan zaman. Apakah karena sikapnya Bebe layak disebut "buruk"? Tunggu dulu, sebab justru hanya dia yang bersedia mengajar Bahasa Inggris tanpa bayaran bagi anak-anak sekolah di Maumere. Sayang, karakter Ella terasa underwritten, tanpa eksposisi mendalam selain curhatan mengenai anak tengah yang selalu mengalah pada kakak maupun adiknya. 

Sebagai perenungan kultur maupun lontaran pesan gender, "Ini Kisah Tiga Dara" nyaris tanpa cela, namun tidak begitu dengan musikalnya. Menanggalkan aura melayu, deretan lagunya kental aroma jazz hingga swing. Terdengar elegan, skilful, keren, tapi kurang memorable, bagai berusaha terlampau keras terdengar cool namun berujung kurang bersahabat bagi telinga. Tidak cukup catchy, terbukti ketika filmnya berakhir nyaris tak ada yang menancap di memori. Selain theme song "Kisah Tiga Dara"  lagunya terlanjur ikonik  mungkin hanya "Martriarch" yang berkesan. Permasalahan serupa hadir pada koreografi tari garapan Adela Fauzi. Mengawang tak pasti di antara awkward yet adorable ala "Tiga Dara" dan totalitas gerak mumpuni, tariannya terasa tanggung. 
Untung terdapat akting-akting memukau dari cast, sehingga keringnya adegan musikal cukup tertolong. Titiek Puspa sang legenda adalah scene stealer kala tiap kemunculannya konsisten mengundang senyum, terlebih lewat celetukan-celetukan menggelitik seperti "janidul". Tanpa mengesampingkan Tara Basro dan Tatyana Akman, Shanty adalah bintang paling bersinar. Sewaktu adegan musikal, gerakannya penuh keyakinan  baik tegas atau lembut  memancarkan aura bintang yang menguasai penonton dari atas panggung pertunjukkan. Sebagai contoh sempurna, tengok adegan "Matriarch". Powerful, sensual and elegant at the same time

Kekurangan di porsi musikal jelas fatal mengingat film ini semestinya mampu memainkan dinamika emosi lewat aspek tersebut. Kegagalan merajut musikal memikat berdampak pada datarnya paparan emosi. Once again, it sounds and looks cool  Yudi Datau's cinematography is gorgeous  but it lacks of emotional depth. Tapi sebagaimana film-film Nia Dinata sebelumnya, "Ini Kisah Tiga Dara" kuat dalam berpesan. This modern take of the original classic ended up as one of the coolest movie of the year.

6 komentar :

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. (Komen terus ini orang)
      Barusan tadi nnton mungkin bareng tapi beda kota heheh
      Setuju banget sama review-nya , ...
      Bener pemilihan lagu lagu baru mungkin jadi kurang bisa menikmati . saya merasa Shanti mirip banget sama Adinia Wirasti apalagi expresi pas marah bener gak gitu..

      Hapus
    2. Shanty & Adinia sama-sama bagus munculin ekspresi ketus sih.
      Nggak apa komen terus, bagus hehe

      Hapus
    3. Lebih pantes saudaraan sama Adinia daripada sama anggun haha

      Hapus
  2. It's a good movie. Tapi masih punya beberapa cringeworthy moment.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya iya, apalagi di adegan musikal

      Hapus