CATATAN DODOL CALON DOKTER (2016)

8 komentar
Pasca "Pesantren Impian" yang (surprisingly) buruk, sutradara Ifa Isfansyah merilis film keduanya tahun ini, satu lagi adaptasi novel. Kali ini giliran "Cado Cado" karya Ferdiriva "Riva" Hamzah yang diangkat. Alurnya berkisah tentang suka duka Ferdiriva (Adipati Dolken) sebagai ko-ass bersama teman-temannya, di mana mereka memiliki ciri unik (baca: konyol) masing-masing: Budi (Ali Mensan) si tukang makan, Kresno (Rizky Mocil) yang terobsesi hal mistis, Hani (Albert Halim) dengan Bahasa Inggris kacaunya, Kalay (Amec Aris) sang perayu, Uba (Cindy Valery) si bau ketiak, Cilmil (Rizka Dwi Septiana) yang taat agama, dan terakhir Evi (Tika Bravani) si rajin sekaligus sahabat terdekat Riva. 

Melihat judul serta deskripsi karakter di atas, tidak keliru bila penonton berharap disuguhi kejenakaan berdosis tinggi hasil kekonyolan imaji sang penulis akibat problematika di lingkungan kerja semacam "My Stupid Boss". Adegan pembuka berisi perkenalan satu per satu karakternya memenuhi ekspektasi tersebut. Kemudian seiring bergulirnya durasi plus kemunculan tokoh Vena (Aurellie Moeremans), dosis humor semakin dikurangi, lebih didominasi cinta segitiga Evi-Riva-Vena sambil sesekali mempertanyakan makna profesi dokter yang acapkali bersinggungan dengan hidup-mati pasien. "Catatan Dodol Calon Dokter" bagai enggan disebut "dodol". 
Daripada menyiratkan pesan subtil di balik beragam situasi menggelitik, naskah garapan Ardiansyah Solaiman dan Chadijah Siregar memilih menegaskan batas antara momen drama dengan komedi. Sewaktu komedi menyeruak masuk hanya ada kekonyolan, sebaliknya saat sentuhan drama mengambil sentral, situasi berubah serius total cenderung kelam. Akhirnya balutan komedi lebih terasa sebagai selipan hiburan ketimbang aspek signifikan guna memparodikan kehidupan para ko-ass. Untungnya perpindahan tone terjalin rapi, di mana Ifa pun cermat dalam bertutur, sehingga pergerakan alur amat nyaman dinikmati meski harus rutin berganti warna (drama dan komedi).

Mengorbankan kejenakaan memang patut disayangkan, namun tidak pula sia-sia, sebab jalinan dramanya mampu menghadirkan konflik yang solid nan relatable. Di balik setting dunia kedokteran, sejatinya kisah film ini universal, sebutlah kegamangan akan jurusan kuliah, perselisihan kecil dengan keluarga soal pilihan masa depan, bahkan romansanya terasa dekat sekaligus believable. Poinnya terletak pada karakterisasi kokoh (Evi ambisius, Riva penuh keraguan, Vena manja dan manipulatif). Kenapa hubungan Evi dan Riva merenggang sampai alasan Riva terpikat oleh Vena, semua punya motivasi kuat yang dilatari oleh karakterisasi juga situasi mereka masing-masing.
Tika Bravani jadi penampil paling memikat berkat kemampuannya menjadi seorang gadis yang sesekali manja (in a lovable way) tapi juga ambisius, keras dan berharga diri tinggi. Akting dramatiknya begitu kuat, ekspresi Evi saat sekuat tenaga menahan tangis mendengar tuduhan menyakitkan dari Riva turut meremukkan perasaan saya. Albert Halim konsisten memancing tawa berkat Bahasa Inggirs belepotan yang selalu ia lontarkan penuh kehebohan, dan Rizky Mocil sukses naik kelas setelah sebelum ini kerap dikenal sebagai sosok annoying dalam judul-judul macam "Menculik Miyabi" dan "Dendam Pocong Mupeng". Sayangnya Kalay, Cilmil dan Uba (khususnya Kalay) hadir bak pelengkap tak substansial. 

"Catatan Dodol Calon Dokter" turut memiliki production value kelas wahid, sehingga tiap gambar yang tersaji di layar enak dilihat, tanpa sedikitpun tercipta kesan murahan, termasuk ketiadaan gambar buram meski pada adegan di mana kamera bergerak dinamis. Pada akhirnya "Catatan Dodol Calon Dokter" mungkin tidak mengandung kedodolan seperti harapan  dan perkiraan  banyak pihak, seperti lupa jika komedi pun dapat dimanfaatkan guna menuturkan psan penting. Tapi kemampuannya mengolah paparan drama relatable membuat fakta tersebut sangat layak untuk dimaafkan. 

8 komentar :

Comment Page:
Hendra Siswandi mengatakan...

Adipati memang jagonya peran peran gamang (mungkin didikan Baginda Nayato dulu). Adegan Airin dioperasi dan meninggal bikin over baper .............

Rasyidharry mengatakan...

Didikan Baginda kebanyakan oke lho, tuh Abimana & Indah Permatasari haha

Bagus Pratama Liriyan Putra mengatakan...

Kurang menunjukkan sisi koas nya..terlalu drama cinta cintaan..komedinya tipis aneh dan terlalu tidak masuk akal..teknik kedokterannya banyak yg ngawur..contohnya ketika kompresi pasien kok cepet bgt hentakannya..harusnya lebih menonjolkan sisi koasnya dmn koas yg jarang pulang, pagi pulang pagi, kegiatan belajar yg seabrek dan Aksi aksi koas menghadapi pasien..mungkin emg film indonesia masih berkaca pada dokter dokter di sinetron yg "alakadarnya"..intinya lbih menonjolkan gmn sukses dalam percintaannya dari pada koasnya..

Heru Pramono mengatakan...

Reza Rahadian juga pernah main di filmnya Baginda kan ya?

Rasyidharry mengatakan...

Sayangnya begitu, dan memang itu kekurangan Cado Cado. Tapi bisa dimaklumi karena alasan komersialitas

Rasyidharry mengatakan...

Setahu saya nggak pernah, tapi di awal karirnya Reza sempat main di film macam "Pulau Hantu 2" & "Film Horor"

Heru Pramono mengatakan...

Oh kirain 'Film Horor' yang bikin Nayato soalnya ada Sheila Marcia sama Angie-nya.

Dimas Catur mengatakan...

padahal di bukunya dijelasin loh.. Tapi kalo emang mau plek dengan bukunya akan jadi full of komedi tanpa bisa mengaduk aduk feeling. enta.