CIN(T)A (2009)

Tidak ada komentar
Cin(t)a yang dibuat oleh sutradara Sammaria Simanjuntak adalah sebuah film yang sangat jelas bukan film yang sanggup dinikmati semua orang bahkan moviegoers sekalipun. Alasannya jelas terlihat dari banyak aspek yang ditampilkan. Dari cerita saja sudah bisa dibilang kontroversial yaitu mengenai cinta beda Agama dan memunculkan pertanyaan - pertanyaan mengenai maksud perbedaan yang dibuat oleh Tuhan kepada umat-umatNya. Dari gaya penceritaannya juga film ini termasuk unik dan tidak semua orang bisa mengikuti apalagi menikmatinya.

Cina (Sunny Soon) adalah seorang mahasiswa teknik arsitektur berumur 18 tahun yang merupakan keturunan chinesse dan batak. Cina juga adalah seorang penganut agama Kristen. Sedangkan Annisa (Saira Jihan) adalah sosok wanita yang mempunyai latar belakang yang jauh beda dengan Cina. Annisa yang juga mahasiswi teknik arsitektur adalah muslimah, beretnis Jawa, dan bekerja juga sebagai seorang aktris. Selain perbedaan-perbedaan tadi masih banyak juga hal yang membuat Cina dan Annisa sangatlah berbeda seperti Cina adalah mahasiswa pintar dan miskin, sedangkan Annisa bodoh tetapi kaya. Tapi pada dasarnya perbedaan Agama adalah jurang pemisah paling lebar antara mereka berdua.

Mereka yang pada awalnya kurang mengenal bahkan bisa dibilang tidak terlalu suka satu sama lain mulai dekat setelah Cina secara tidak sengaja merusakkan maket milik Annisa lalu kemudian diperbaikinya bahkan mendapatkan hasil yang lebih bagus dari buatan Annisa. Hal itulah yang akhirnya membuat mereka dekat dimana Cina menjadi orang yang membantu Annisa dalam menyelesaikan Tugas Akhir-nya. Sampai lama-kelamaan benih cinta tumbuh diantara mereka berduayang tentunya terhalangi oleh tembok besar byang muncul karena perbedaan keyakinan. Tapi mereka berusaha mencari makna dibalik perbedaan tersebut.
Yang paling bisa diingat dalam film ini jelas rangkaian dialog yang diucapkan oleh Cina dan Annisa yang bagaikan pameran quote tapi tidaklah mengganggu. Jenis dialog film ini mirip-mirip dengan dialog yang dipakai dalam pertunjukkan teater surrealis atau semi surrealis. Memang akhir-akhir ini banyak penulis naskah lokal yang mencoba membuat rangkaian dialog filmnya menjadi sok puitis tapi berakhir dengan kegagalan dan terdengar maksa. Tapi "Cin(t)a" tidak meninggalkan kesan seperti itu karena memang dialognya sebenarnya sederhana tapi mempunyai makna yang dalam yang jika direnungi maka akan terasa kebenarannya.

Dengan tema kontroversial macam ini penonton harus bisa berpikir objektif dan tidak asal mencerna karena bisa jadi mereka akan merasa agama mereka dicela. Saya sendiri cukup berusaha keras karena film ini cukup kritis dalam menyajikan tema percintaan beda agama. Sebuah keberanian yang patut diacungi jempol. Sangat sulit membuat film bertema begini yang netral dan film ini juga tidak lepas dari permasalahan kadang lebih memihak satu sisi agama. Kalau anda bukan tipe orang yang bisa menyikapi film ini dengan objektifitas tingkat tinggi mungkin akan berat memandang film ini sebagai karya seni yang bagus tanpa menyalahkan atau mencela pihak tertentu.

Satuhal yang membuat film ini luar biasa adalah sinematografinya yang begitu indah. Pergantian adegannya mungkin agak susah diikuti jika tidak benar-benar memperhatikan, tapi gambar-gambar yang ditampilkan tidak kalah puitis jika dibandingkan dengan dialognya. Adegan yang kadang ditampilkan hanya satu shot seperti Cina dan Annisa berdiri didepan tulisan ditembok yang berbunyi "Berbuka puasalah pada waktunya" sangatlah efektif dan menarik. Atau adegan yang memperlihatkan Cina memandang Annisa yang sedang berwudhu dengan begitu terpana juga sama uniknya.

Melihat film ini berbagai pertanyaan yang sebelumnya pernah saya pikirkan tapi kemudian terkubur kembali muncul seperti "mengapa Tuhan menciptakan umat-Nya berbeda Agama jika hanya ingin disembah dengan satu cara dalam artian satu agama yang paling benar?" Lalu "bagaimana dengan orang yang terlahir dengan agama yang mungkin bukan agama yang benar dimata Tuhan? Bukankah dia lahir ditentukan oleh Tuhan untuk lahir di keluarga yang menganut agama itu?" Masih banyak juga pertanyaan-pertanyaan lain yang intinya tetap berujung pada pertanyaan mengapa "Tuhan menciptakan manusia untuk terlahir dalam agama yang berbeda-beda?" Sebuah pertanyaan yang mungkin tidak akan terjawab dan muncul memang karena arognasi manusia yang ingin mempertanyakan keputusan Tuhan.


OVERALL: Dibalik kontroversi dan keberanian cerita yang diangkat, Cin(t)a adalah film yang cukup indah dan puitis untuk diikuti dan memiliki romantisme tersendiri baik antar manusianya atau manusia dengan Tuhan.


RATING: 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar