THE LIVES OF OTHERS (2006)

Tidak ada komentar
Florian Henckel von Donnersmarck sempat "mengkhianati" harapan saya tahun lalu. Harapan untuk melihat salah satu aktor favorit saya, Johnny Depp bermain dalam film yang punya kualitas bagus disaat dia tidak sedang memerankan karakter aneh. Ya, "The Tourist" garapannya memang cukup mengecewakan padahal selain ada Johnny Depp disana juga ada Angelina Jolie. Saya sendiri menggantungkan harapan tinggi pada film tersebut setelah melihat fakta bahwa sang sutradara sebelum menggarap remake "Anthony Zimmer" tersebut telah sukses menggarap sebuah film yang memenangkan Oscar untuk kategori "Best Foreign Language Film". "The Lives of Others" yang punya judul asli (Jerman) "Das Leben der Adneren" ini memang menuai kesuksesan besar dan melambungkan nama sang sutradara.

Jika biasanya film asal Jerman bercerita tentang Nazi dan Hitler, Florian Henckel von Donnersmarck lebih memilih membuat film yang menyoroti tentang Jerman Timur pada 4-5 tahun sebelum tembok Berlin runtuh. Saat itu disana Stalin yang merupakan kepolisian rahasia di Jerman Timur boleh dibilang sedang menancapkan rezimnya. Saat itu juga yang namanya sadap menyadap jamak dilakukan oleh stalin pada orang-orang yang dianggap dan dicurigai sebagai pemberontak. Gerd Wiesler (Ulrich Muhe) adalah salah satu anggota stalin yang dianggap paling hebat dalam urusan menginterogasi dan misi mata-mata. Dia benar-benar menguasai segala teknik dalam hal-hal itu. Suatu hari dia mendapat misi untuk memata-matai Georg Dreyman (Sebastian Koch) yang merupakan seorang penulis naskah drama teater. Misi yang mempunyai kode "Lazlo" itu dijalankan dengan cara memasang berbagai alat penyadap didalam rumah Georg.
Wiesler akhirnya mulai "memasuki" kehidupan dan keseharian Georg yang tinggal bersama kekasihnya sekaligus aktris yang bermain dalam naskah yang dia tulis, Christa-Maria Sieland (Martina Gedeck). Wiesler pada akhirnya makin dalam memasuki kehidupan Georg bersama Christa dan ikut mengetahui berbagai permasalahan dan interaksi sekaligus perasaan cinta kasih keduanya. Hal itulah yang perlahan merubah Wiesler dari Stalin yang dingin namun kesepian menjadi manusia yang peduli terhadap orang lain walaupun itu harus menyalahi misi yang tengah dia jalani. Pada dasarnya film ini menyatakan bahwa "manusia seperti apapun bisa berubah". Sebuah pesan yang didalam film ini sendiri disanggah oleh salah seorang tokohnya bahwa biar bagaimanapun manusia tidak akan pernah bisa berubah, dan nyatanya justru Wiesler yang dingin tapi kesepian itu pada akhirnya bisa tersentuh perasaannya.
Florian Henckel von Donnersmarck sukses menggabungkan nuansa thriller sekaligus drama psikologis dalam diri Wiesler di film debutnya ini. Untuk thriller-nya film ini memang tidak menjadikan hal tersebut sebagai suguhan utamanya. Karena berbagai thriller dan twist yang ada memang sebenarnya sudah bisa diprediksi beberapa walaupun ada juga yang tidak dapat diprediksi, tapi kemasan terhadap thriller tersebut sangatlah efektif sehingga penonton tidak akan bosan dijejali drama melulu. Berbagai teknik spionase dan sadap menyadap jadi jualan utama untuk thriller-nya. Sangat menarik melihat bagaimana teknik itu dilakukan termasuk saat interogasi. Dengan kata lain kandungan thriller yang ada kental dan efektif tapi tidak sampai menutupi sisi drama yang sebenarnya jadi hal utama yang ingin disampaikan dalam "The Lives of Others" ini.

Dari segi drama sangat menarik melihat 2 tema saling bersinggungan. Yang pertama jelas mengenai seorang Gerd Wiesler yang dingin dan kesepian. Diawal cerita kita memang diperlihatkan sosoknya yang begitu dingin dan sempurna dalam menjalankan berbagai misinya. Tapi lama kelamaan setelah "mendengar" kehidupan Georg, Wiesler mulai menyadari bahwa dia hanyalah pria kesepian yang melakukan hal buruk. Ada beberapa adegan yang sangat saya sukai berkaitan dengan psikologis seorang Wiesler. Adegan disaat dia mendengarkan Georg memainkan musik dalam buku "Sonata for a Good Men" dimana disebutkan bahwa orang buruk/jahat akan lebih "mengena" saat benar-benar mendengarkan musik tersebut lalu disusul adegan air amta Wiesler mengalir dan dia hanya duduk terdiam adalah salah satu adegan keren itu. Ada juga adegan yang buat saya cukup lucu yang terjadi setelah Wiesler mendengar Georg dan Christa sedang berhubungan seks. Yang terakhir tentu saja ending film ini.

"The Lives of Others" adalah film yang lengkap dan seimbang baik itu thriller atapun drama-nya. Film yang sangat pantas berjaya dalam Oscar. Ada 2 hal yang patut disayangkan terjadi setelah film ini rilis. Pertama adalah sekitar setahun setelah film ini rilis, Ulrich Muhe meninggal dunia karena kanker perut. Padahal melihat aktingnya sebagai Wiesler dia berpotensi mendapat peran yang bisa membuatnya mendapat nominasi Oscar di masa depan. Sungguh sebuah kehilangan. Yang kedua adalah, 4 tahun setelah film ini dibuat sang sutradara yang digadang-gadang punya masa depan cerah ini membuat film mengecewakan yang konyolnya mendapat nominasi Golden Globe. Apalagi kalau bukan "The Tourist"


RATING:

Tidak ada komentar :

Posting Komentar