THE ASSASSINATION OF JESSE JAMES BY THE COWARD ROBERT FORD (2007)

1 komentar
Apakah anda mengenal nama Jesse James? Dia merupakan salah satu sosok paling terkenal pada masa perang sipil Amerika sebagai gerilyawan. Namanya makin tersohor namanya saat mulai beraksi dalam berbagai perampokan bank dan kereta bersama keompoknya yang dikenal sebagai "James-Younger Gangs". Banyak yang menyamakan Jesse dengan Robin Hood karena dia selalu mencuri barang dari orang kaya untuk membagikannya pada rakyat miskin meskipun sebenarnya anggapan ini tidaklah terbukti. Meskipun seorang bandit, Jesse James mendapatkan popularitas layaknya selebritis pada masa itu dan kisahnya pun banyak diangkat dalam berbagai cerita bahkan setelah kematiannya di tangan Robert Ford. pada tahun 1882. Film ini pun seperti judulnya akan mengangkat kisah tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Robert Ford pada Jesse James yang juga mengambil adaptasi dari novel berjudul sama karangan Ron Hansen. Jadi apa yang harapkan dari sebuah film western yang menampilkan sosok salah satu perampok paling terkenal sepanjang masa? Adegan perampokan kereta atau bank yang epic lengkap dengan aksi tembak-menembak yang dilakukan para koboi? Aksi kejar-kejaran diatas kuda dengan kecepatan tinggi? Ekspektasi yang wajar, tapi sutradara Andrew Dominik akan meruntuhkan segala ekspektasi tersebut.

Kisahnya dimulai dengan persiapan yang dilakukan oleh sebuah gang perampok yang dipimpin oleh Jesse James (Brad Pitt) dan kakaknya, Frank James (Sam Shepard) untuk merampok sebuah kereta di daerah Blue Cut, Missouri. Dalam kelompok tersebut terdapat seorang pemuda berusia 19 tahun bernama Robert Ford (Casey Affleck) yang selama ini begitu mengidolakan Jesse James dan mengoleksi semua buku yang menceritakan kehebatan Jesse. Bagi Robert kesempatan ini adalah mimpi yang menjadi nyata dan dia pun muai berusaha mendekati Jesse guna mendapatkan perhatian dari idolanya tersebut. Tapi ternyata dia tidak mendapatkan respon yang diharapkan karena baik Jesse, Frank maupun anggota kelompok yang lain meremehkan Robert. Pada akhirnya perampokan pun berhasil yang ternyata menjadi perampokan terakhir yang dilakukan oleh "James Gangs". Memang gang tersebut bisa dibilang sudah sangat berkurang kekuatannya karena mayoritas anggota aslinya sudah tewas atau ditangkap pihak berwajib. Yang tersisa hanya Frank dan Jesse. Jesse pun akhirnya memilih pulang ke rumahnya di Kansas dan membawa beberapa anggota gang yang lain termasuk Robert untuk tinggal di rumahnya sambil bersembunyi dari kejaran sheriff. Dari situlah ambisi Robert untuk menjadi seperti Jesse semakin besar bahkan perlahan nampak berubah menjadi kebencian setelah Jesse selalu meremehkan dan mengejeknya. Hal inilah yang nantinya akan berujung pada pembunuhan yang ia lakukan terhadap Jesse James, sang idolanya.
Dengan durasi dua setengah jam lebih sedikit, film ini memang sudah terlihat panjang, sepanjang judulnya. Tapi seolah belum cukup, The Assassination of Jesse James tidak hanya punya durasi panjang tapi juga berjalan lambat, sepi dan minim letupan-letupan konflik. Tidak seperti fim bertemakan western kebanyakan, film ini minim menghadirkan adegan baku tembak yang seru. Sebagai gantinya ada beberapa adegan kekerasan seperti peluru yang menembus kepala hingga senapan yang menghancurkan kepala. Tapi kuantitasnya tidak seberapa jika dibandingkan segala kesepian yang mengalun sunyi sepanjang film. Tapi saya tidak pernah merasakan sedikitpun kebosanan sepanjang durasi film ini. Salah satunya berkat sinematografi super indah garapan Roger Deakins. Ya, film ini punya sang master gambar indah Roger Deakins. Hampir semua momen yang muncul begitu memanjakan mata. Entah itu adegan perampokan di malam hari yang memperlihatkan siluet Brad Pitt plus kialauan cahaya kereta yang memberikan kesan misterius, sampai alang-alang gersang di sekitar rumah Jesse James yang selalu disirami sinar matahari. Semuanya terasa indah dan menjadikan film ini terasa begitu puitis. Yep, it's a poetic western. Dilengkapi narasi yang dibacakan Hugh Ross, lengkap sudah film ini bagaikan sebuah visualisasi puisi tentang kehidupan Jesse James dan Robert Ford dengan segala dilema yang mereka hadapi.

Dilema. Film ini memang begitu akrab dengan hal tersebut. Kedua karakter utamanya dipenuhi dilema. Kita akan meihat Jesse yang dalam masa penisun dan pikirannya terus berkecamuk. Dia tidak pernah tenang menjalani hidupnya baik karena dia tidak lagi melakukan perampokan hingga karena rasa takut bahwa akan ada anggota gangnya yang berkhianat dan membocorkan informasi tentang dirinya. Sedangkan dari sisi Robert kita melihat darah muda yang ingin diakui dan akhirnya merasa sakit hati saat sosok yang begitu ia idolakan justru tidak pernah bisa mengakuinya bahkan selalu merendahkannya. Observasi yang dilakukan film ini pun semakin menarik saat saya mulai merasa bahwa Jesse sebenarnya tahu bahwa Robert menyimpan amarah padanya dan berniat untuk membunuhnya. Disisi lain Robert juga curiga bahwa Jesse telah mengetahui niatnya tersebut. Menarik, karena meskipun tidak terlihat konfik yang nyata akibat hal tersebut kita bisa diajak meihat dilema yang berkecamuk dalam pikiran keduanya. Baik dari Robert yang terus cemas atau Jesse yang dari luar terlihat begitu tenang tapi sesungguhnya penuh rasa takut di dalamnya. Inilah salah satu yang paling menarik dari film ini. Meski di permukaan semuanya terlihat sepi dan minim letupan tapi dibalik semua itu saya bisa merasakan adanya gejola yang luar biasa dalam diri masing-masing karakternya. Pada akhirnya saya pun ikut merasakan dilema, kebingungan untuk menentukan kepada siapa seharusnya saya bersimpati.
Akting para pemainnya juga turut memberikan kontribusi besar pada film ini. Tentu kita semua sudah tahu betapa besar kharisma yang dimiliki oleh seorang Brad Pitt. Dia bisa memberikan sebuah intensitas meski hanya diam dan menatap lurus. Sosoknya keren tanpa harus sok keren, berkharisma tanpa harus kehilangan kedalaman karakter, intimidatif tanpa harus dipaksakan menakutkan. Sedangkan Casey Affleck juga sanggup bermain bagus sebagai Robert Ford yang penuh kecanggungan khususnya lewat suara dan gaya bicaranya yang memancarkan ketidak yakinan. Dari dalam dirinya pun saya bisa melihat jelas sebuah amarah dan ambisi besar yang ia pendam. Para pemeran pendukung lainnya juga tidak mengecewakan seperti Sam Rockwell, Jeremy Renner hingga Paul Schneider semuanya bisa mencuri perhatian dengan peran mereka yang tidak sebesar Pitt dan Affleck. 

Pada akhirnya The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford adalah film yang begitu baik. Terasa indah dan puitis sekaligus tragis dan ironis dalam menggambarkan dua sisi yang begitu berlawanan baik saat masih hidup bahkan hingga setelah mereka mati sekalipun. Ironis memang, apalagi mengingat Robert begitu mengidolakan Jesse bahkan sempat membuat daftar tentang berbagai kemiripan yang ia miliki dengan sang idola. Tapi disaat Jesse dielu-elukan sebagai pahlawan dan selebritis bahkan hingga kematiannya, Robert masihlah dianggap sebagai pecundang bahkan hingga setelah ia mati sekalipun. Sungguh ironis. Sempat sedikit terasa terlalu lama pada bagian konklusinya dan sempat membuat tensi filmnya turun untung akhirnya film ditutup dengan memuaskan. Salah satu film paling indah yang pernah saya tonton, bahkan bisa menandingi keindahan serta puitisnya film-fim Terence Mallick.

1 komentar :