THE CHASER (2008)

5 komentar
Di mata saya K-Movie atau film dari Korea sudah tidak lagi identik dengan film-film melodrama saja, tapi juga dengan film-film bertema balas dendamnya yang ditampilkan dengan berbagai adegan sadis penuh darah. Justru sekarang saya begitu mencintai K-Movie macam I Saw the Devil dan Oldboy. Apa yang membuat film-film itu begitu luar biasa adalah bagaimana para pembuatnya mampu menggabungkan jalinan cerita yang baik dengan konflik yang menegangkan, visual sadis penuh darah yang membuat miris, karakterisasi tokoh yang dalam dengan akting yang baik dari para pemerannya, sampai pada twist yang begitu efektif dan tidak terduga. The Chaser sendiri adalah debut penyutradaraan dari Na Hong-jin yang kelak nantinya dua tahun setelah film ini akan membuat The Yellow Sea. Film ini juga banjir penghargaan seperti pada PIFFF dimana film ini meraih tiga penghargaan yaitu Best Film, Asian Award dan Best Actress bagi Seo Yeong-hee.

Jong Hoo (Kim Yoon-seok) adalah mantan polisi yang setelah dipecat beralih profesi sebagai seorang germo. Sekarang ini dia tengah mengalami sebuah permasalahan dalam bisnisnya tersebut dimana akhir-akhir ini beberapa gadis yang dia kirim untuk menemui klien menghilang satu persatu. Dia mulai curiga ada orang yang menculik mereka lalu menjualnya satu persatu. Tapi tentunya yang dipikirkan Jong Hoo bukanlah keselamatan para gadisnya tapi lebih pada kerugian finansial yang akan dia alami jika ini terus berlanjut. Sampai kemudian saat salah seorang gadisnya yang bernama Kim Mi-jin (Seo Yeong-hee) juga menghilang, Jong Hoo mulai melakukan pencariannya sendiri yang berujung dengan pertemuannya dengan seorang pria bernama Yeong-min (Ha Jung-woo) yang kemudian diketahui sebagai pelaku dibalik menghilangnya gadis-gadis tersebut yang ternyata telah ia bunuh.

Tapi tertangkapnya Yeong-min bukan berarti kasus selesai, karena Jong Hoo masih belum berhasil menemukan Mi-jin. Polisi juga belum bisa menemukan bukti nyata untuk menangkap Yeong-min. Jika dalam 12 jam bukti tersebut tidak diketemukan maka Yeong-min akan bebas. Begitulah The Chaser yang mengenai berpacu dengan waktu. Sekali lagi film ini menunjukkan kepiawaian sineas Korea dalam merangkum berbagai aspek dalam filmnya untuk menghasilkan thriller kelas atas. Cerita ini punya keunikan dimana sang pelaku sudah diketemukan sejak awal, dan bahkan sudah tertangkap. Tapi ironisnya hal itu belum menyelesaikan kasus secara tuntas karena bukti belum ditemukan.  
The Chaser kemudian beralih menjadi kisah pencarian bukti yang seru. Fakta bahwa sang pelaku sudah ditemukan sejak pertengahan film mengingatkan pada I Saw the Devil. Ya, kedua film ini memang lebih mengetengahkan kepada prosesnya, lalu ending adalah sebuah bonus yang diberikan pada kita. Sayangnya The Chaser tidak selalu berhasil mengangkat tensinya hingga tingkat teratas bahkan bagi saya lebih sering gagal meski tensinya tetap menegangkan tapi sangat jarang berhasil sampai pada tingkat teratas. Tentu saja banyak adegan-adegan sadis yang menghiasi dan muncul tidak berlebihan tapi begitu efektif.

Fakta bahwa sang tokoh utama adalah germo yang serakah juga adalah hal yang unik. Tentu saja pada awalnya Jong Hoo bukanlah seorang tokoh yang menimbulkan simpati pentonnya, tapi lama kelamaan perasaan simpati itu mulai terbangun dengan perjalanan yang dia alami. Jong Hoo jelas beda jika dibandingkan Soo-hyun dari I Saw the Devil yang merupakan polisi dengan skill membunuh tingkat tinggi dan adalah sosok orang yang dibutakan dendam dan berdarah dingin. Jong Hoo memang polisi, tapi bukan polisi dengan skill membunuh tapi lebih kearah detektif yang punya kemampuan menyelidiki sebagai andalannya. Dia juga bukan pria berdarah dingin, melainkan sosok pria yang punya emosi meledak-ledak dan bakal lebih kearah "senggol bacok" dibanding menyiksa dengan raut wajah datar dan dingin. Kim Yoon-seok melanjutkan "tradisi" akting para protagonis di film-film revenge Korea yang selalu total dalam berakting dan mendalami karakternya.

Kemudian pada akhirnya kita akan sampai pada hasil akhir yang begitu miris sebagai twist. Proses hingga sampai pada hasil akhir itu begitu menegangkan dan mencekam hingga saat "adegan itu" terjadi kita akan dipaksa melihat dengan miris dan lemas. Sayangnya setelah itu, kisah masih berlanjut dan justru menjadikan ending yang sesungguhnya berasa antiklimaks meskipun cukup seru juga tapi jika dibandingkan dengan "adegan itu", ending film ini tensinya masih kalah. Secara keseluruhan The Chaser sekali lagi menjadi thriller keren dari negeri ginseng walaupun jika dibandingkan dengan I Saw the Devil film ini masih kalah beberapa tingkat, tapi jelas The Chaser adalah sebuah karya yang wajib ditonton.

5 komentar :

  1. Anonim4:38 PM

    keren ini dari pada oldboy n memories of murder

    BalasHapus
    Balasan
    1. memories of murder ceritanya yg bagus, twistnya keren %%

      Hapus
  2. trus motif dia bunuh itu apa ya? apa bener yg dikatan penyidik yg katanya dia impoten? trus kenapa dia pakenya palu dan pahat dan ada bagian diperlihatkan kayu salib, dll. masih sedikit bingung dengan ituu

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya motif dia bunuh gara2 dia impoten jadi dia ga bsa mengeluarkan nafsunya dengan sex alternatifnya dia dapet kepuasan saat dengan ngebunuh

      trus kenapa pakai pahat dan palu karena dia seniman berbakat, dia yg bkin patung om jes yang di bilang pendeta

      Hapus
  3. keren banget nih film , broke my heart to pieces , patah hati saya lihat "adegan itu"

    BalasHapus