CARRIE (1976)

6 komentar
Sudah begitu banyak novel dari Stephen King yang diadaptasi dalam media film, dan banyak juga dari adaptasi tersebut yang menuai sukses besar baik dari komersil maupun kualitas. Beberapa diantaranya malah menjadi cult classic. Rangkaian adaptasi yang sukses tersebut diawali oleh film garapan Brian De Palma ini. Ya, Carrie adalah film pertama yang merupakan adaptasi dari cerita yang ditulis Stephen King, dimana saat dirilis 36 tahun lalu film ini sukses besar baik dari pendapatannya yang berhasil meraih keuntungan diatas 30 kali lipat dari bujetnya, sampai kualitasnya yang dianggap sebagai salah satu horror terbaik sampai saat ini. Bahkan dua aktrisnya, Sissy Spacek dan Piper Laurie mendapat nominasi Oscar untuk Best Actress dan Best Supporting Actress, dimana hal tersebut cukup jarang diterima oleh aktor dan aktris yang bermain di film horror. Bagi yang belum menonton filmnya juga pasti sudah pernah melihat gambar seoang gadis yang bermandikan darah segar dengan tatapn mata yang mengerikan yang merupakan salah satu adegan paling memorable dalam film ini. Jadi semengerikan apakah Carrie?

Carrie (Sissy Spacek) adalah gadis yang selalu jadi korban bully di sekolahnya. Hal itu disebabkan karena sifatnya yang pemalu dan polos. Bahkan saking polosnya, Carrie begitu ketakutan saat untuk pertama kalinya dia mengeluarkan darah saat haid pertamanya di sekolah yang tentunya membuat Carrie jadi bahan olok-olok teman-teman lainnya yang bisa dibilang tergabung dalam "geng gaul" di sekolah tersebut. Tapi kehidupan Carrie tidak hanya berat di sekolah, karena dirumah dia juga menjalani hidup yang tidak mudah dengan tinggal bersama ibunya (Piper Laurie) yang merupakan seorang ekstrimis agama yang selalu menjejali Carrie dengan ajaran-ajaran agama yang seringkali kelewat batas. Tapi dibalik penderitaannya tersebut tidak ada yang tahu bahwa Carrie punya sebuah kelebihan atau tepatnya kekuatan yang ada diluar batas manusia pada umumnya. Kehidupan Carrie yang menyedihkan dan penuh kesendirian terus berlanjut sampai Tommy Ross (William Katt) yang merupakan salah satu cowok populer mengajak Carrie sebagai teman kencannya di prom. Sebuah prom yang tidak akan berjalan "luar biasa"

Film-film horror jadul khususnya yang rilisan tahun 70an sampai 80an selalu punya ciri khas yang mencolok, yaitu pada bagian scoring. Untuk membangun suasana menegangkan, musik yang dipakai bukan sembarang musik tapi mayoritas selalu memakai musik yang cukup menusuk telinga, dan bagi saya itu adalah sebuah kelebihan yang benar-benar bisa membangun ketegangan sebuah film horror. Dalam Carrie musiknya juga masih menggunakan formula yang sama, di beberapa bagian malah ada iringan musik yang mengingatkan saya pada musik dari film Psycho. Tidak hanya musiknya yang keren, tapi penempatannya dalam sebuah adegan juga pas. Dalam kebanyakan horror jadul termasuk Carrie akan banyak adegan yang awalnya tidak diiringi musik lalu secara tiba-tiba musik menghentak nan menusuk itu masuk dan tentunya membuat penonton kaget dan tensi ketegangan akhirnya meningkat. Sebuah formula menakut-nakuti yang sudah berumur tapi tidak pernah terasa ketinggalan jaman.
Tapi jangan dikira Carrie hanya menampilkan musik tegang dan adegan seram saja, karena justru banyak adegan indah dengan iringan musik-musik orkestra yang mendayu-dayu disini. Lihatlah opening-nya yang begitu indah. Kata "indah" disini bukan hanya merujuk pada banyaknya gadis telanjang pada adegan tersebut, tapi lebih pada pengemasan adegannya yang memang indah dengan musik yang tidak kalah cantik. Dibalut dengan slow motion, adegan tersebut seolah menunjukkan sebuah kesenangan yang terasa begitu ironis karena entah mengapa dalam adegan tersebut saya seolah meraskan bahwa kesenangan dan keindahan yang ditampilkan akan segera menjadi tragedi. Perasaan itu muncul tanpa perlu melihat sinopsisnya tapi cukup dengan saya melihat opening tersebut. Selain itu masih banyak adegan lainnya yang terasa begitu indah termasuk ending-nya yang juga menampilkan apa yang saya tulis di paragraf sebelumnya mengenai pengemasan musik yang bisa tiba-tiba berganti tone.

Carrie memang tidak langsung menyuguhkan adegan-adegan seram ataupun berdarah. Kita baru akan dipertontonkan adegan macam itu pada saat filmnya memasuki 20an menit terakhir yakni saat kisahnya memasuki klimaks. Namun sebelum itu kita akan dibawa untuk menjelajahi detail kehidupan dari Carrie. Kita benar-benar akan dibuat bersimpati dengan segala nasib yang diterima oleh Carrie. Tapi puncaknya adalah saat dia diajak datang ke prom. Sungguh itu adalah momen yang mengharukan saat perlahan kita menyaksikan Carrie yang pemurung perlahan mulai membuka diri dan mulai ceria. Sampai saat momen prom tersebut saya benar-benar terharu melihat raut wajahnya yang gembira. Saya benar-benar ikut merasakan bagaimana momen tersebut sangat berharga dalam hidup gadis tersebut. Tapi disisi lain saya juga cukup miris dan kasihan karena tahu kebahagiaan tersebut tidak akan lama. Yah, kan ini bukan teenage drama yang akan berakhir bahagia dengan tokoh utamanya menjadi gadis yang periang dan mendapat gelar ratu prom. Setelah momen slow motion lagi yang kembali disajikan dengan indah kita baru akan dibawa pada horror yang sesungguhnya yang jadi klimaks film ini.

Bagi saya sendiri momen klimaks yang sering disebut sebagai most disturbing prom scenes in movie history tidak se-disturbing itu dan memang tidak terlalu sadis. Namun itu adalah momen yang cukup menyakitkan jika dilihat dari bagaimana hal tersebut bisa terjadi, bukan dari bagaimana kesadisan yang tercipta. Dari segi akting, Sissy Spacek dan Piper Laurie memang luar biasa. Piper Laurie bisa tampil begitu freak dalam tiap momen yang ia miliki, sedangkan Sissy Spacek mampu membuat kita benar-benar bersimpati pada Carrie. Lihat juga bagaimana perubahan sikapnya dari gadis pemurung, menjadi lebih ceria sebelum akhirnya menjadi sang pencipta tragedi dengan ekspresinya yang sedikit aneh namun mengerikan. Secara keseluruhan Carrie bukanlah film horror terseram, tapi justru ini adalah film horror terindah yang pernah saya lihat. Dengan penggarapan musiknya, efek slow motion yang pas, sampai kedalaman cerita tentang bullying sampai tentang seorang ekstrimis agama mampu membuat saya menyukai film ini.


6 komentar :

Comment Page:
Fariz Razi mengatakan...

Dulu pernah nntn tapi kurang tertarik haha mungkin dulu masih gak ngerti yaa.. kerennya pas bagian prom night itu hahaa

Rasyidharry mengatakan...

Tonton lagi aja, keren kok walaupun horrornya nggak terlalu serem

Nugros C mengatakan...

Akting Piper Laurie mantep bgd disini,,ane malah lbh serem sama Margareth dripda Carrie..^^

taun depan ada remake-nya tuh,ga bgtu suka Chloe Moretz sih,tapi karna Julianne Moore yg jadi Margareth...layak ditunggu deh!

Rasyidharry mengatakan...

Yap, kalo buat masalah menebar Horor si Piper Laurie emang lebih pol. Kalo Sissy Spacek lebih kearah ngambil simpati penontonnya
Hehe menurut saya itu remake yg gak perlu tapi punya cast yg menjanjikan

Treace The Little Lion Man mengatakan...

baru sempet nonton...gila cewek se imut gitu di bully?kaget bgt waktu adegan tangan keluar dari kuburan,,bener bgt musiknya bagus,mendayu2 and memorable (padahal film horor hehehe)..cuma matinya si carry agak aneh menurut gw kyk maksa gitu..

keziarhh mengatakan...

Setuju nih, bukan film horor terseram, tapi film horor terindah :D