HABIBIE & AINUN (2012)

Tidak ada komentar
Di penghujung tahun 2012 tercatat ada dua judul film yang mampu menyedot perhatian penikmat film Indonesia, yaitu 5 cm serta Habibie & Ainun. Kedua film tersebut mampu menggeser posisi The Raid dari daftar film lokal terlaris di 2012. Sampai saat ini tercatat 5 cm sudah mengumpulkan 2,2 juta penonton walaupun bagi saya film garapan Rizal Mantovani ini punya kualitas yang agak mengecewakan dan overrated. Sedangkan Habibie & Ainun yang menjadi debut penyutradaraan Faozan Rizal malah lebih hebat lagi dengan berhasil mengumpulkan 3,1 juta penonton. Dengan begitu film ini berhasil berada di posisi ketiga dibawah Laskar Pelangi dan Ayat-Ayat Cinta sebagai film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak. Filmnya sendiri diangkat dari buku yang ditulis oleh B.J. Habibie, Habibie dan Ainun yang mengisahkan kehidupan cintanya dengan mendiang sang istri Hasri Ainun Habibie yang wafat pada tahun 2010 lalu. Membicarakan film yang mengisahkan kehidupan seseorang yang nyata apalagi tokohnya adalah orang besar pasti tidak akan lepas dari pertanyaan tentang siapa aktor dan aktris yang memerankan tokoh tersebut. Dalam film ini sosok Habibie diperankan oleh Reza Rahadian yang dianggap sebagai aktor Indonesia terbaik saat ini. Sedangkan Ainun diperankan oleh Bunga Citra Lestari yang terakhir bermain film di tahun 2008 lewat Saus Kacang.

Film ini akan menyoroti kisah antara Habibie dan Ainun semenjak pertemuan pertama mereka di masa sekolah, hingga kemudian Habibie bersekolah di Jerman tepatnya mengambil studi teknik penerbangan untuk spesialisasi konstruksi pesawat terbang. Habibie sendiri memang punya mimpi agar suatu hari Indonesia bisa membuat pesawat terbang sendiri. Sampai pada tahun 1962 saat Habibie tengah berada di Bandung ia bertemu lagi dengan Ainun yang sudah tumbuh menjadi wanita cantik. Tidak butuh waktu lama keduanya saling jatuh cinta dan kemudian menikah. Setelah pernikahan, Ainun mengikuti Habibie untuk tinggal di Jerman dimana Habibie melanjutkan studi untuk mengambil gelar doktor. Namun mereka berdua harus hidup dengan penuh kesederhanaan disana. Kemudian film ini akan membawa kita menelusuri kisah dimana Habibie telah menjadi doktor dan diminta pulang ke Indonesia untuk menjadi Menteri Riset dan Teknologi yang pertama, hingga akhirnya bisa mewujudkan mimpinya membuat pesawat dengan tenaga anak negeri Indonesia. Seperti yang kita tahu pada bulan Maret 1998 beliau akhirnya menjadi Wapres dan menjadi Presiden di bulan Mei. Begitu banyak rintangan yang menghalangi namun cinta Habibie dan Ainun tetap bertahan sampai maut memaksa mereka berdua terpisah.

Habibie & Ainun bukan sekedar drama romantis murahan yang mengumbar dramatisasi berlebihan dan berfokus pada mengalirkan air mata penontonnya. Saya selalu muak dengan romansa macam itu yang sedikit-sedikit menampilkan tokohnya menangis seolah mereka orang paling sial seantero jagat raya dan dibumbui kisah cinta dengan romantisme super berlebihan dan begitu norak. Tapi Habibie & Ainun berbeda. Memang ada dramatisasi tapi sedari awal kita sudah tahu bahwa pasangan ini nyata dan begitu pula kisah cinta mereka. Ada rayuan dan kata-kata cinta yang terlontar tapi semuanya bukan sekedar penambah romantisme yang kosong, tapi bentuk ungkapan perasaan saling mencintai antara keduanya yang tulus dan sungguh-sungguh. Ada kemesraan namun tidak disajikan secara berlebihan dan kemesraannya adalah bentuk cinta dan rasa memiliki antara mereka berdua. Ada juga air mata yang mengalir namun air mata tersebut bukan sekedar tempelan untuk membuat penontonnya berlinang air mata tapi sebuah bentuk cinta sejati dimana keduanya merasakan kesedihan yang sama akan kehilangan satu sama lain. Saya begitu menyukai momen romantis film ini yang selalu dieksekusi dengan sederhana namun terasa begitu mengena dan menyentuh. Saya tidak malu mengakui momen akhir disaat Habibie menangis didepan Ainun yang terbaring lemah dan momen dimana Habibie mengungkapkan begitu tidak inginnya ia kehilangan Ainun berhasil membuat saya menangis. Siapa yang tidak?
Saya juga suka bagaimana film ini masih sempat menyinggung konflik lain diluar kisah cinta Habibie dan Ainun semisal bagaimana Habibie meraih kesuksesan di Jerman, pulang ke Indonesia dan mendapat banyak godaan harta dan ada banyak pihak yang membencinya hingga akhirnya ia menjadi Presiden ketiga Republik Indonesia. Semuanya masih sempat diceritakan dengan porsi yang bisa dibilang cukup, karena toh tidak mungkin mengeksplorasi semuanya dalam waktu dua jam. Apalagi film ini pada dasarnya memang lebih berfokus pada kisah cinta Habibie dan Ainun. Saya rasa akan terasa terlalu mencari-cari kesalahan dan keburukan jika ada yang mengkritisi bahwa film ini kurang menyoroti kisah Habibie yang lain semisal di bidang politik. Karena pada dasarnya ini adalah kisah cinta Habibie dan Ainun dengan sempilan kejadian lain yang mempengaruhi kisah cinta mereka. Pada akhirnya film ini sanggup membuat saya percaya bahwa masih ada cinta sejati yang nyata di dunia ini, salah satunya adalah Habibie dan Ainun. Satu lagi poin plus dari presentasi film ini adalah begitu efektifnya selipan humor segar yang mampu memancing tawa penonton.
Eksekusinya yang menyentuh juga didukung oleh kekuatan akting para pemainnya. Reza Rahadian dan BCL sanggup memberikan chemistry yang kuat. Mereka terlihat benar-benar seperti pasangan yang sudah ditakdirkan bersatu dari awal. Keduanya terlihat saling mencintai, saling percaya dan begitu menyayangi satu sama lain. Reza Rahadian sebagai Habibie sanggup bermain dengan begitu baik memerankan sosok B.J. Habibie lengkap dengan segala ciri khasnya mulai dari cara berjalan hingga caara bicara tanpa perlu terasa konyol dan berlebihan. Suara yang ia keluarkan juga cukup mewakili sosok Habibie yang saya kenal. Transformasi sosoknya menjadi tua juga baik dimana berbagai hal seperti gestur, cara berjalan, hingga suara semuanya berubah seiring pertambahan usia. Sedangkan BCL selain berhasil menampilkan chemistry yang baik juga berhail bermain baik sebagai Ainun yang begitu menyayangi sang suami, bahkan disaat sudah terbaring lemah yang dipikirkan masih saja kesehatan sang suami. Untuk pemain lain, bagi saya kemunculan Hanung Bramantyo cukup mencuri perhatian.

Namun Habibie & Ainun belumlah sempurna. Berbagai hal teknis terasa begitu menggangu. Yang pertama adalah make-up yang begitu buruk. Tidak terlihat transofrmasi penuaan di kedua tokohnya. Jika mayoritas orang berkata Reza Rahadian bertambah tua sedangkan BCL tidak saya justru merasa keduanya sama sekali tidak berubah. Sebagai contoh, lihatlah disaat momen Habibie menjadi Presiden. Saat itu usia beliau seharusnya 52 tahun, tapi yang terlihat di film ini seperti pria berusia 40-an awal. Yang menggelikan adalah disaat foto Reza disandingkan dengan foto Pak Harto. Seolah tidak ada usaha untuk membuat Reza Rahadian lebih tua dan lebih mirip dengan Pak Habibie. Hanya memutihkan sedikit rambut dan polesan make-up ala kadarnya, tidak ada usaha lebih. Sedangkan untuk transformasi BCL hanya satu kata yang bisa saya katakan, "Parah". Hal berikutnya yang mengganggu adalah penempatan produk sponsor yang begitu kasar, asal taruh dan menggelikan sekaligus memuakkan. Apakah MD Entertainmet harus selalu melakukan hal ini? Yang terakhir adalah scoring yang terlalu penuh dan seolah dipaksa mengisi semua adegan dramatis. Tidak perlulah semua adegan diisi karena sebenarnya eksekusi dilayarnya sudah cukup baik dalam membangun emosi.

Namun kekurangan dari segi teknis tersebut dapat saya maafkan berkat kisahnya yang begitu menyentuh. Jika Perahu Kertas mampu membuat saya merasakan cinta remaja yang begitu menyenangkan setelah menonton, maka Habibie & Ainun mampu membuat saya ikut merasakan cinta luar biasa yang disalurkan oleh filmnya. Sebuah kisah cinta dewasa yang mampu menerjemahkan arti cinta sejati yang abadi dengan sesungguhnya, tidak seperti film romansa lain yang hanya menjadikan kata cinta sejati sebagai tempelan tak bermakna. Sebuah tearjerker yang tidak berlebihan dalam usahanya membuat penonton berlinang air mata. Cukup dengan memperlihatkan kisah sepasang manusia yang sungguh-sungguh saling mencintai secara tulus maka penonton akan otomatis tersentuh.


Tidak ada komentar :

Posting Komentar