REVIEW - THE THINGS YOU KILL
Film dibuka dengan gambar kabur yang baru menemukan fokusnya setelah beberapa detik. Bukan suatu kealpaan teknis. Pemandangan tersebut mengingatkan pada tahap-tahap saat kita membiasakan diri dengan realita sewaktu baru terbangun setelah terlelap, sebab melalui The Things You Kill, Alireza Khatami berniat memaparkan proses individu berjuang untuk lepas dari mimpi buruknya.
Ali (Ekin Koç), seorang profesor bidang literatur, merupakan individu yang dimaksud. Kendati jauh dari derita, terdapat beberapa ganjalan dalam kehidupannya. Pertama, rumah tangga Ali bersama Hazar (Hazar Ergüçlü) belum juga dikaruniai momongan. Kedua, hubungan buruk dengan sang ayah, Hamit (Ercan Kesal), sebab menurut Ali, ia memperlakukan ibunya, Sakine (Güliz Şirinyan), yang sakit-sakitan dengan buruk.
Suatu hari datanglah kabar duka. Sakine meninggal akibat terjatuh di rumah, dan Ali curiga ayahnya bertanggung jawab. Kecurigaan itu ia sembunyikan dari Hazar, namun justru dibagikannya pada Reza (Erkan Kolçak Köstendil), pria yang baru Ali kenal sewaktu tiba-tiba muncul dan melamar sebagai tukang kebun.
Di salah satu kelasnya, Ali mendiskusikan bahwa akar kata Bahasa Arab dari "translate" adalah "rajam" alias "to kill". Aktivitas menerjemahkan tidak lepas dari transformasi. Sebuah kata mengalami transformasi bunyi, bahkan makna, bila melewati alih bahasa. Alireza Khatami menerapkannya ke konteks transformasi manusia, melempar argumen bahwa seseorang perlu "membunuh" (tentunya tidak secara literal) agar dapat berubah.
Ali perlu mengubah dirinya yang sadar atau tidak, tumbuh dengan dibentuk oleh paham patriarki yang menghalangi laki-laki untuk terbangun dari delusi maskulinitas. Alhasil, laki-laki cenderung ogah membuka diri, yang acap kali dipandang sebagai tanda kerapuhan, bahkan di hadapan pasangan. Sebutan "tidak jantan" pun amat ditakuti. Itulah alasan Ali menyembunyikan hasil tes yang mengungkap adanya kelainan di spermanya.
Alireza Khatami dengan teliti menelanjangi betapa beracunnya pemujaan atas maskulinitas. Laki-laki malu bercerita, namun tidak pernah ragu melampiaskan amarah mereka terhadap perempuan. Lucunya, mungkin atas dasar "bro code", Ali begitu gampang berkeluh kelah di depan Reza yang baru saja ia kenal.
Diskusi Ali dan Reza mengawali tahap alurnya bertransformasi membentuk tatanan sureal yang bertindak selaku simbol eksistensi wajah kelam dalam benak manusia. Naskahnya begitu apik mengonstruksi misteri, sehingga teka-tekinya efektif memancing keinginan penonton untuk turut serta menguraikan anomali seputar mimpi buruk yang bersemayam di hati protagonisnya.
Ali takut sekaligus benci pada ayahnya, akibat kenangan buruk semasa kecil. Sewaktu ia akhirnya bersedia mengutarakan kegundahan tersebut, sekali lagi gambar yang tadinya sempat memburam mulai menemukan fokus, menandai keberhasilan si tokoh utama terbangun dari mimpi buruk. Masalahnya, kadang seseorang justru menjadi sesuatu yang ia benci/takuti, apalagi jika melibatkan persoalan pola asuh orang tua. Semakin keras ia menampik, malah semakin mendekat pula hal itu.
Sang sutradara mengarahkan rangkaian penelusuran di atas dengan kerapian luar biasa. Dibuatnya The Things You Kill mencengkeram secara perlahan lewat kepiawaian membangun intensitas tanpa bergantung pada trik-trik murahan. Babak terakhirnya tampil mencekam, saat Khatami menyoroti betapa mengerikannya ketika kita menatap wajah mimpi buruk yang bisa jadi bakal selalu terulang. Tapi toh kita tetap mesti menghadapinya, agar terlepas dari perangkap stagnasi untuk kemudian bertransformasi.
(Klik Film)

.png)
Tidak ada komentar :
Comment Page:Posting Komentar