NIGHT MOVES (2013)

Tidak ada komentar
Kenapa Alfred Hitchcock sering memilih menempatkan sosok tidak bersalah dalam situasi yang salah? Menurut saya itu dilakukan supaya penonton bisa lebih bersimpati pada karakternya. Pada intinya sang karakter akan berada dalam situasi yang membuatnya terpojok dan situasi tersebut tida pernah ia duga sebelunya. Tapi tentu saja tidak hanya itu yang dilakukan Hitchcock. Dia juga membuat supaya karakter yang terjebak itu punya kepribadian yang menarik dan menjadi mudah disukai oleh penonton. Kenapa pula Hitchcock begitu doyan merubah tone film secara mendadak di paruh kedua? Hal itu dilakukan supaya efek kejut yang coba dihadirkan mampu lebih efektif dalam mencengkeram penonton (biasanya perubahan tone yang dilakukan adalah dari komedi romantis/drama-komedi menjadi thriller). Kedua hal itu sesungguhnya disadari oleh sutradara Kelly Reichardt dan berusaha ia aplikasikan dalam film terbarunya ini. Tapi rupanya hasil akhir yang didapat tidaklah maksimal karena kedua aspek itu gagal dimaksimalkan dan ketidak cocokkan slow burning thriller macam Night Moves dengan metode tersebut.

Josh (Jesse Eisenberg) dan Dena (Dakota Fanning) adalah dua orang yang tengah dirundung kecemasan tentang kerusakan lingkungan. Hal itulah yang pada akhirnya mendorong mereka untuk bergabung dengan seorang mantan marinir bernama Harmon (Peter Sarsgaard). Hammon sendiri dengan berbekal pengalamanya di kemiliteran berniat merakit bom yang akan digunakan untuk meledakkan sebuah bendungan. Rencana peledakkan itu didasari pemikiran bahwa pembangungan bendungan itu telah merusak dimana salah satu dampaknya adalah banyaknya ikan salmon yang mati. Atas dasar pemikiran itu jugalah Josh dan Dena ikut bergabung dengan Harmon. Mereka bertiga berencana meledakkan bendungan itu di malam hari dengan menggunakan sebuah perahu. Rencana itu akhirnya dieksekusi, bendungan pun berhasil meledak, semua nampak sesuai dengan rencana. Tapi keesokan harinya mereka bertiga mendapat kabar mengejutkan yang sama sekali tidak mereka perkirakan sebelumnya. Sebuah kabar yang membuat masing-masing dari mereka mulai diselimuti kekhawatiran dan rasa takut luar biasa.
Pada pembukaan tulisan ini saya telah menyebut dua aspek yang sering digunakan Alfred Hitchcock untuk membangun tensi dalam film-filmnya, jadi mari bahas satu per satu aspek tersebut dan apa kaitannya dengan film ini. Aspek pertama berkaitan dengan situasi terjepit dan tak terduga yang dialami karakternya. Butuh simpati dari penonton supaya saat karakternya ada dalam kondisi terjepit ketegangan berhasil dibangun. Masalahnya, semua karakter dalam Night Moves sama sekali gagal menggaet simpati saya. Harmon tidak mendapat eksplorasi mendalam. Sedangkan Dena sedikit lebih dalam tapi tidak ada alasan yang membuat saya harus bersimpati padanya meski dia yang terlihat paling tertekan. Sesungguhnya potensi itu ada pada Josh yang memang fokus utama film ini. Tapi Josh pun bukanlah sosok yang likeable. Bagaimana mungkin saya bisa bersimpati pada seseorang yang begitu gegabah menjalankan suatu rencana bodoh, tidak peduli sebaik apapun niatnya. Melakukan perusakan sebagai bentuk protes terhadap rusaknya alam? Saya tahu banyak orang seperti itu diluar sana tapi maaf saja bagi saya itu tindakan bodoh yang penuh ironi. Apalagi hanya menghancurkan satu bendungan lalu berharap ada dampak nyata? Bagi saya itu terlalu naif.
Sosok Josh semakin tidak simpatik dilihat dari karakterisasinya. Untuk kesekian kalinya Jesse Eisenberg memainkan soso canggung dengan gaya bicara yang tergagap. Bukan berarti aktingnya buruk, karena Eisenberg jelas sempurna memerankan karakter semacam itu. Permasalahannya adalah secara pribadi saya mulai jengah dengan karakter macam itu. Sekali atau dua kali masih memukau, tapi setelah berkali-kali karakter tipikal Eisenberg ini jadi menyebalkan. Sosoknya dalam film ini jelas terasa tidak kompeten, canggung dan gegabah. Pada akhirnya saat film ini mulai merubah arahnya dimana masing-masing tokoh mulai bergelut dalam rasa takut dan kecemasan saya tidak bisa dibuat peduli pada mereka. Kemudian lanjut ke aspek kedua adalah perubahan tone yang mendadak di paruh kedua. Salah satu kunci yang selalu membuat Hitchcock berhasil melakukan perubahan itu dengan mulus yaitu adanya sebuah "sengatan" yang hadir secara tidak terduga. Sengatan itu bisa berupa plot twist atau rangkaian adegan menegangkan yang muncul tiba-tiba. Night Moves sayangnya tidak mempunyai itu. Memang ada kejutan, tapi jika dicermati, hal itu sudah bisa kita duga bahkan dari sebelum ledakan terjadi. 

Tidak ada sesuatu yang mendadak muncul di tengah kesunyian film ini. Night Moves memang slow burning thriller yang berjalan amat perlahan, minim letupan dan lebih banyak digerakkan oleh karakternya. Tapi sebuah thriller lambat bukan berarti mengharamkan letupan sebagai penarik fokus penonton. Sebagai contoh lihat film rilisan tahun 2013 lain yang dieksekusi dengan cara serupa, Blue Ruin (review). Walaupun bertempo lambat, film itu tetap punya beberapa letupan dan rangkaian adegan super menegangkan yang sanggup membuat saya terpaku menatap layar. Kelly Reichardt sama sekali tidak berhasil menghadirkan setidaknya satu saja rangkaian adegan dengan tensi tinggi meski berada diantara kesunyian. Hal itulah yang menyebabkan drama-thriller dengan tempo lambat ini semakin terasa membosankan. Sayang sekali, karena sesungguhnya Reichardt sudah berhasil membangun atmosfer kelam yang amat mendukung terciptanya ketegangan demi ketegangan. Night Moves jelas merupakan film yang well-made, tapi sayang terasa kosong baik dari aspek drama yang menyoroti tentang efek domino sebuah perbuatan gegabah dan rasa kecemasan maupun thriller yang amat minim ketegangan.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar