THE BABADOOK (2014)

2 komentar
Bagi anak-anak, sebuah bedtime stories seperti apapun ceritanya akan terasa benar-benar nyata. Mereka akan merasa berbagai fantasi yang ada di dalamnya sebagai sebuah kenyataan dalam hidup. Hal yang sama juga terjadi berkaitan dengan kisah-kisah legenda horror sebelum tidur seperti boogeyman yang bersembunyi dalam kamar atau monster-monster lainnya. Sedangkan bagi orang dewasa adalah hal yang kadangkala menyebalkan saat harus meyakinkan pada anak-anak bahwa monster itu tidak nyata supaya mereka tidak selalu merasa ketakutan. Tapi bagaimana jika kisah seram itu memang benar adanya? Konsep itulah yang coba diangkat oleh Jennifer Kent dalam film yang pada awalnya berasal dari film pendek berjudul MONSTER buatannya tahun 2005. Menarik meski sebenarnya bukanlah suatu konsep yang benar-benar baru. Tapi perbedaan The Babadook dengan horor populer garapan Hollywood adalah keputusan Jennifer Kent untuk tidak mengandalkan jump scare dalam meningkatkan tensi dan menghadirkan keseraman. Filmnya dibuka dengan sebuah opening slow motion menarik, menampilkan adegan mimpi yang dialami oleh Amelia (Essie Davis). Amelia kini merupakan orang tua tunggal setelah sang suami, Oskar (Benjamin Winspear) meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan saat mengantar Amelia menuju rumah sakit untuk melahirkan. 

Kecelakaan itu merenggut nyawa Oskar, tapi Amelia selamat begitu pula kandungannya. Putera Amelia bernama Samuel (Noah Wiseman) merupakan seorang anak yang jika dilihat sekilas tidak jauh beda dengan anak-anak kebanyakan. Tapi Samuel punya tingkah laku yang bakal dengan mudah dicap "aneh" dan "menyebalkan" oleh orang-orang di sekitarnya. Dia begitu percaya dengan cerita-cerita monster dan sering menakut-nakuti anak lain, suka membuat senjata yang katanya akan digunakan untuk mengalahkan sang monster, bahkan emosinya sering meledak-ledak. Hal itu jugalah yang membuat kesulitan Amelie semakin besar. Disatu sisi, tentu saja kehidupan sudah merupakan suatu hal yang berat sebagai orang tua tunggal, ditambah lagi trauma atas meninggalnya Oskar masih ia rasakan sampai sekarang. Kelakuan Samuel pun semakin menambah beban dan tekanan yang dirasakan Amelia. Sampai suatu hari Samuel menemukan sebuah buku cerita misterius berjudul Mister Babadook. Tidak seperti buku anak-anak lainnya, buku itu penuh dengan gambar dan narasi menyeramkan tentang Mister Babadook, sosok monster yang mencari mangsa dan tidak akan bisa diusir. Dari situlah awal teror yang dialami Amelia berawal.
Seperti yang saya sebutkan diatas, perbedaan The Babadook dengan horor milik Hollywood kebanyakan adalah tidak bergantungnya film ini terhadap jump scare. Dibuat kaget memang merupakan salah satu keasyikan dalam menonton film horor, tapi banyak yang lupa atau sengaja melupakan bahwa kengerian bukan hanya bersumber dari rasa kaget. Bahkan rasa takut yang sesungguhnya sama sekali berbeda dari sekedar kaget. Rasa takut bersumber dari ketidak nyamanan dan perasaan was-was. Hal itulah yang coba dibangun oleh Jennifer Kent disini dengan lebih berfokus pada bagaimana membangun atmosfer creepy dan menyebarkan berbagai misteri menarik supaya antisipasi penonton berhasil ditingkatkan. Hal ini membuat filmnya berjalan dengan baik. Jika film horor yang mengandalkan jump scare biasanya akan kehilangan daya tarik saat tidak sedang mengageti penontonnya, tidak demikian dengan film ini. Misteri baik tentang sosok Mister Babadook maupun karakter-karakter yang ada membuat alurnya berjalan baik tanpa pernah kehilangan daya tarik. Sosok Mister Babadook sendiri memang tidak terlalu sering muncul, selain karena fokusnya yang lebih pada membangun atmosfer juga nampaknya karena kesadaran Jennifer bahwa sang monster akan terlihat menggelikan jika terlalu sering dan dimunculkan secara jelas.
Berkaitan dengan misteri, memang ada beberapa yang tidak terjawab khususnya tentang siapa sebenarnya sosok Mister Babadook itu. Tapi hal itu sangat bisa dimaklumi karena pendekatan yang cukup realistis pada film ini. Secara logika, bukankah seseorang yang tengah mendapat teror akan lebih dulu berfokus pada menyelamatkan dirinya daripada mencoba mencari tahu tentang sosok monster itu? Selain itu, tidak dieksporasinya sosok Babadook juga merupakan bentuk pemusatan fokus supaya tidak melebar dari eksplorasi karakter Amelia dan Samuel. The Babadook memang banyak berfokus pada eksplorasi karakternya. Coba lucuti segala aspek horor dan monster di dalamnya, maka jadilah film ini sebagai sebuah drama psikogis kelam tentang disfungsi keluarga yang dipicu oleh trauma (Amelia yang perlahan kehilangan kewarasan karena kematian sang suami dan tekanan yang hadir karena sang anak?). Karakternya sendiri tidak hanya berhasil dieksplorasi tapi juga terasa unik. Biasanya, film seperti ini akan membuat saya sebal pada orang-orang skeptikal dimana mereka pada dasarnya tidak disengaja untuk jadi menyebalkan. Tapi film ini tidak. 

Samuel pada awalnya bisa terasa menyebalkan dengan sifatnya, tapi simpati muncul karena rasa sayang terhadap sang ibu dan fakta bahwa omongannya tentang sosok Babadook memang benar adanya. Amelia bisa saja menjadi sosok yang terlalu putih, tapi efek trauma yang ia alami membuatnya tidak seperti itu. Akhirnya kedua karakter utama film ini terasa abu-abu dan jauh lebih menarik. Kemudian bicara soal aspek teknis, saya amat menyukai efek-efek suara disturbing termasuk suara kemunculan Babadook yang begitu menyeramkan dan menyayat telinga. Hal itu semakin memperkuat kesan creepy yang coba dibangun oleh film ini. Pada akhirnya, The Babadook mungkin tidak sampai terasa luar biasa seperti yang saya baca di berbagai macam review, tapi jelas film ini merupakan sajian yang langka dan menarik karena lebih banyak berfokus pada drama psikologis, karakter, misteri dan atmosfer daripada sekedar jump scare murahan yang melelahkan itu.

2 komentar :

Comment Page:
Angga Saputra mengatakan...

saya baru sempat nonton film ini.
Menurut saya hantunya gak tertlalu menyeram kan malah lebih ke arah psikologi kejiwaan sang tokoh.jadi mirip orang sakit jiwa krn trauma dan stess ..dan itu agak menakutkan

Rasyidharry mengatakan...

Betul! Itu yang bikin Babadook serem